• Tidak ada hasil yang ditemukan

PASCASARJANA (S2) UIN SUNAN GUNUNG JATI BANDUNG UAS PRODI PBA

N/A
N/A
Say HeLLo

Academic year: 2023

Membagikan "PASCASARJANA (S2) UIN SUNAN GUNUNG JATI BANDUNG UAS PRODI PBA"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

PASCASARJANA (S2) UIN SUNAN GUNUNG JATI BANDUNG UAS PRODI PBA TAHUN AKADEMIK 2022/2023

Nama :Cecep Abdul Muzib F

NIM : 2220090014

Mata Kuliah : Desain Kurikulum B.Arab KLs A & B

Sub : UAS Tasmim

Jawaban:

1. Manhajj (kurikulum/silabus) bahasa Arab yang digunakan di madarasah (MTs atau MA) dalam kurikulum Kemenag Th. 2013 atau Th. 2019 tentang : kurikulum madrasah 2013 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, pada pasal 1-3.

a. Kurikulum berbasis kompetesi : Kurikulum Berbasis Kompetensi sebagai kurikulum baru yang diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi atas keterpurukan dunia pendidikan nasional telah mulai diimplementasikan di beberapa sekolah dan madrasah di Indonesia. Penerapan KBK ini menuntut terjadinya perubahan mendasar dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Perubahan model pembelajaran, dari yang semula berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered), dari pembelajaran yang berbasis content (materi pelajaran) menjadi pembelajaran yang berbasis kompetensi. Demikian juga halnya dalam pembelajaran bahasa Arab di madrasah aliyah, perubahan tersebut setidaknya nampak dalam perilaku mengajar guru yang meliputi langkah-langkah persiapan mengajar, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran.

b. - Silabus Struktural (Structural Syllabus)

Silabus struktural merupakan silabus bahasa yang relatif lama digunakan dalam program pengajaran bahasa, jauh sebelum silabus-silabus bahasa lain muncul pada era modern ini. Silabus itu memanfaatkan butir- butir gramatikal yang membentuk sebuah kae- dah bahasa sebagai pijakan dalam pemilihan dan pengurutan materi pelajaran.

Oleh karena itu, silabus tersebut berisikan daftar butir-butir gramatikal yang diurut berdasarkan tingkat ke- sulitan dan kompleksitasnya, dari materi yang mudah dan sederhana menuju kemateri yang sulit dan kompleks, sehingga membantu siswa secara bertahap menguasai sistem gramatikal bahasa sasaran (Harmer, 2003, h. 296).

Si labus struktural disebut juga dengan silabus gramatikal karena dasar dan landasan pemili- han dan pengurutan materi pelajaran adalah sama, yaitu butir-butir gramatikal bahasaan.

- Silabus Situasional (Situational Sylla bus)

Silabus situasional (situational syllabus) berpandangan bahwa komunikasi dengan ba- hasa selalu terjadi pada konteks sosial yang melatarbelakanginya. Oleh karena itu, pemba- lajaran bahasa akan menjadi lebih bermakna bila selalu dikaitkan dan tidak boleh terlepas dari konteks dimana alat komunikasi ini digu- nakan. Silabus tersebut menjadikan konteks atau situasi di mana bahasa itu digunakan se- bagai pijakan dalam pemilihan danpengurutan bahan pelajaran yang harus disampaikan ke- pada siswa.

Mengenai pentingnya aspek situasi dalam silabus itu Wilkins mengatakan bahwa according to this view language always occurs in a social context and it should not be divorced from its context when it is being taught. The situational syllabus therefore is based upon predictions of thesituasion in which the learn ers are likely to operate through the foreign lan- guage (Wilklins, 1979).

(2)

Perpaduan antara silabus gramatikal dan silabus situasional dapat menghasilkan pendekatan pembelajaran yang komprehensif dan efektif dalam mempelajari bahasa.

Silabus gramatikal cenderung fokus pada pengajaran tata bahasa dan struktur kalimat. Silabus ini biasanya berurutan dari topik yang lebih sederhana ke topik yang lebih kompleks secara gramatikal. Tujuan utama dari silabus gramatikal adalah memastikan bahwa siswa memahami dasar-dasar tata bahasa dan dapat mengaplikasikannya dalam percakapan dan tulisan.

Di sisi lain, silabus situasional lebih menekankan pada konteks penggunaan bahasa dalam situasi kehidupan nyata. Silabus ini melibatkan pembelajaran melalui simulasi situasi nyata, permainan peran, dan latihan praktis lainnya yang menekankan pemahaman dan penggunaan bahasa dalam konteks yang relevan. Tujuan utama dari silabus situasional adalah membantu siswa mengembangkan keterampilan berkomunikasi yang efektif dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.

Dalam perpaduan antara silabus gramatikal dan situasional, siswa akan belajar tata bahasa secara sistematis, tetapi juga akan diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan gramatikal mereka dalam situasi yang nyata. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana perpaduan ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa:

a) Mengajar tata bahasa melalui konteks: Daripada hanya mengajarkan aturan tata bahasa secara terpisah, aturan-aturan tersebut dapat diperkenalkan dalam konteks situasi komunikatif. Misalnya, dalam pengajaran tentang present continuous tense, siswa dapat diajak untuk berpartisipasi dalam permainan peran di mana mereka harus menggambarkan aktivitas yang sedang mereka lakukan saat itu.

b) Latihan berbasis situasi: Setelah siswa mempelajari tata bahasa tertentu, latihan-latihan dapat dirancang berdasarkan situasi yang memerlukan penggunaan tata bahasa tersebut. Misalnya, setelah mempelajari kalimat kondisional, siswa dapat diberikan latihan untuk menyusun kalimat-kalimat kondisional dalam konteks cerita atau dialog yang relevan.

c) Proyek berbasis situasi: Siswa dapat diberikan tugas proyek yang membutuhkan penggunaan tata bahasa yang telah dipelajari dalam situasi nyata. Misalnya, mereka dapat diminta untuk membuat presentasi tentang perjalanan mereka sendiri, yang melibatkan penggunaan berbagai struktur tata bahasa yang relevan.

d) Membaca dan menulis berbasis situasi: Materi bacaan dan tulisan dapat dipilih dengan hati-hati untuk mencerminkan situasi kehidupan nyata. Siswa dapat membaca artikel, cerita, atau dialog yang menggambarkan situasi komunikatif yang berbeda. Selain itu, mereka dapat diminta untuk menulis esai, surat, atau cerita berdasarkan situasi yang telah dipelajari.

Dengan menggabungkan pendekatan gramatikal dan situasional, siswa akan memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh tentang tata bahasa dan kemampuan untuk menggunakannya dalam situasi komunikatif. Hal ini akan membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan berkomunikasi yang lebih baik dan lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa target.

(3)

c. Pengorganisasian materi pelajaran dengan menggunakan perpaduan antara teori cabang dan teori kesatuan dapat memberikan pendekatan yang seimbang dan holistik dalam pembelajaran.

Teori cabang, juga dikenal sebagai pendekatan top-down, berfokus pada pengajaran aspek-aspek umum atau konsep-konsep besar sebelum mendetail ke sub- topik yang lebih spesifik. Pendekatan ini memberikan pemahaman kontekstual yang kuat dan membantu siswa melihat hubungan antara konsep-konsep yang berbeda.

Di sisi lain, teori kesatuan, juga dikenal sebagai pendekatan bottom-up, melibatkan pembelajaran melalui penekanan pada detil dan elemen-elemen yang lebih kecil terlebih dahulu sebelum membangun pemahaman yang lebih menyeluruh.

Pendekatan ini membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan rinci tentang materi pelajaran.

Berikut adalah beberapa strategi untuk menggabungkan teori cabang dan teori kesatuan dalam pengorganisasian materi pelajaran:

a) Pengantar konsep: Mulailah dengan memberikan pengantar konsep-konsep umum atau tema-tema besar yang akan dibahas dalam materi pelajaran. Ini memberikan siswa gambaran tentang topik secara keseluruhan dan membantu mereka memahami konteks di mana sub-topik akan diperkenalkan.

b) Penekanan pada detil: Setelah memberikan pengantar konsep, perhatianlah pada detil dan elemen-elemen yang lebih kecil. Siswa perlu memahami komponen- komponen individu yang membentuk konsep atau topik secara menyeluruh. Ini dapat dilakukan melalui penjelasan rinci, contoh, atau latihan praktis yang membantu siswa memahami dan mengasimilasi detil tersebut.

c) Penggabungan kembali ke konsep utama: Setelah siswa memiliki pemahaman yang solid tentang detil dan elemen-elemen yang lebih kecil, bawa mereka kembali ke konsep utama atau tema-tema besar yang diperkenalkan pada awal pembelajaran.

Diskusikan kembali bagaimana semua detil tersebut terhubung dengan konsep utama dan membentuk pemahaman yang lebih menyeluruh.

d) Latihan praktis: Selama proses pembelajaran, berikan latihan-latihan praktis yang menggabungkan konsep-konsep utama dengan detil yang lebih spesifik. Hal ini membantu siswa melihat bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam konteks nyata atau situasi yang relevan.

e) Diskusi reflektif: Setelah menggabungkan teori cabang dan teori kesatuan dalam pembelajaran, dorong siswa untuk melakukan refleksi dan diskusi tentang hubungan antara konsep-konsep yang mereka pelajari. Pertanyaan-pertanyaan berfokus pada pemahaman keseluruhan dan bagaimana detil-detil tersebut saling terkait dapat membantu siswa memperkuat pemahaman mereka.

Dengan menggabungkan pendekatan teori cabang dan teori kesatuan, siswa akan mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan terstruktur tentang materi pelajaran. Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk memahami konsep secara menyeluruh sambil menghargai detil dan elemen-elemen yang membentuk konsep tersebut.

(4)

2. Berikut adalah contoh kurikulum pembelajaran bahasa Arab:

a. Bagi calon perawat atau tenaga medis di rumah sakit di salah satu negara Arab:

1) Tingkat Dasar (Level 1):

 Pengenalan huruf Arab dan sistem penulisan

 Kosakata dasar seputar profesi perawat/tenaga medis

 Pengucapan dan intonasi dasar dalam bahasa Arab

 Kalimat sederhana untuk berkomunikasi dalam konteks medis

 Pengenalan budaya dan kebiasaan dalam konteks perawatan kesehatan di negara Arab

2) Tingkat Menengah (Level 2):

 Perluasan kosakata medis dan frasa umum dalam bahasa Arab

 Keterampilan mendengarkan dan memahami percakapan medis sederhana

 Latihan berbicara untuk berinteraksi dengan pasien dan staf medis

 Pemahaman tata bahasa dan struktur kalimat yang lebih kompleks dalam konteks medis

 Meningkatkan pemahaman tentang budaya dan kebiasaan yang berhubungan dengan perawatan kesehatan di negara Arab

3) Tingkat Lanjutan (Level 3):

 Menguasai kosakata medis yang lebih spesifik dan teknis

 Kemampuan mendengarkan dan memahami percakapan medis yang lebih kompleks

 Berbicara dengan lancar dalam situasi medis yang beragam

 Menguasai tata bahasa yang lebih lanjut dan kemampuan menulis dalam bahasa Arab

 Peningkatan pemahaman tentang keberagaman budaya dan praktik medis dalam konteks Arab

4) Tingkat Mahir (Level 4):

 Keterampilan berbicara dengan fasih dan lancar dalam berbagai konteks medis

 Meningkatkan pemahaman mendengarkan dalam situasi medis yang kompleks

 Kemampuan menulis laporan medis dan dokumen medis dalam bahasa Arab

 Pemahaman yang lebih mendalam tentang aspek budaya yang memengaruhi perawatan kesehatan di negara Arab

 Praktik simulasi situasi medis yang melibatkan penggunaan bahasa Arab secara komprehensif

Penting juga untuk mencantumkan komponen budaya dan etika dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab untuk calon perawat atau tenaga medis. Hal ini akan membantu mereka dalam memahami dan menghormati nilai-nilai dan kebiasaan budaya pasien mereka, serta mengembangkan keterampilan interkultural yang diperlukan dalam konteks medis.

Selain itu, latihan dan simulasi praktis harus menjadi bagian integral dari kurikulum ini untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menggunakan bahasa Arab dalam situasi medis nyata, seperti peran bermain atau studi kasus.

(5)

Penting juga untuk melibatkan materi yang relevan dan konten autentik, seperti teks medis, rekaman audio, dan video medis dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang bahasa Arab dalam konteks perawatan kesehatan.

Kurikulum ini harus didukung dengan penilaian yang tepat, termasuk tes lisan, tulisan, pemahaman mendengarkan, dan interaksi langsung dalam bahasa Arab.

b. Berikut adalah contoh kurikulum pembelajaran bahasa Arab untuk calon peserta didik yang terdiri dari pemuda/mahasiswa Indonesia atau non-Arab, yang belum pernah belajar bahasa Arab, dengan jumlah 10-15 orang per kelompok kelas:

Tingkat Pemula:

1. Pengenalan huruf Arab dan sistem penulisan

- Pembelajaran huruf Arab satu per satu dengan penekanan pada pengucapan yang tepat.

- Praktek menulis huruf Arab secara manual.

2. Pengucapan dan intonasi dasar dalam bahasa Arab

- Latihan pengucapan bunyi-bunyi Arab dan intonasi kata-kata sederhana.

- Pengenalan dasar tajwid (pengucapan yang benar dalam membaca Al-Qur'an).

3. Kosakata dasar sehari-hari dan kalimat sederhana

- Memperkenalkan kosakata dasar sehari-hari seperti salam, angka, hari, bulan, warna, dan benda-benda umum.

- Berlatih membuat kalimat sederhana menggunakan kosakata tersebut.

4. Struktur dasar kalimat dalam bahasa Arab

- Pembelajaran struktur dasar kalimat seperti subjek, predikat, dan objek.

- Praktek membentuk kalimat sederhana dengan menggunakan struktur tersebut.

5. Pengenalan budaya Arab yang relevan

- Mempelajari beberapa aspek budaya Arab seperti adat istiadat, makanan, dan kebiasaan sehari-hari.

Tingkat Menengah:

1. Perluasan kosakata dan frasa umum dalam bahasa Arab

- Memperkenalkan kosakata dan frasa umum yang lebih luas dalam berbagai konteks, seperti di sekolah, di rumah sakit, atau di toko.

- Berlatih menggunakan kosakata dan frasa tersebut dalam percakapan sederhana.

2. Keterampilan mendengarkan dan memahami percakapan sederhana

- Mendengarkan rekaman percakapan sederhana dalam bahasa Arab dan memahami maknanya.

(6)

- Berlatih merespon percakapan dengan menggunakan kosakata dan frasa yang telah dipelajari.

3. Peningkatan kemampuan berbicara untuk berinteraksi dalam situasi sehari-hari

- Berlatih berbicara dalam situasi sehari-hari seperti memperkenalkan diri, memesan makanan, atau meminta petunjuk arah.

- Simulasi peran untuk mengembangkan keterampilan berbicara dan interaksi sosial.

4. Pemahaman tata bahasa yang lebih lanjut dan struktur kalimat yang lebih kompleks

- Memperdalam pemahaman tentang tata bahasa Arab, termasuk struktur kalimat yang lebih kompleks.

- Berlatih membentuk kalimat dengan menggunakan struktur yang lebih maju.

5. Peningkatan pemahaman tentang budaya Arab dalam konteks sosial dan budaya

- Mempelajari lebih banyak tentang budaya Arab, seperti festival, adat istiadat, seni, dan sastra.

- Diskusi tentang perbedaan dan persamaan budaya antara Indonesia dan Arab.

Tingkat Lanjutan:

1. Menguasai kosakata yang lebih spesifik dan topik yang lebih luas dalam bahasa Arab - Memperluas kosakata dan frasa untuk topik-topik yang lebih spesifik, seperti kesehatan, pendidikan, atau bisnis.

- Berlatih menggunakan kosakata tersebut dalam konteks yang relevan.

2. Kemampuan mendengarkan dan memahami percakapan yang lebih kompleks

- Mendengarkan rekaman percakapan yang lebih kompleks dan memahami maknanya.

- Berlatih merespon dan berinteraksi dengan percakapan yang lebih kompleks.

3. Latihan berbicara dan diskusi untuk berinteraksi dengan lancar

- Melakukan diskusi kelompok tentang topik-topik yang relevan dengan menggunakan bahasa Arab.

- Meningkatkan kemampuan berbicara secara lancar dan alami.

4. Peningkatan pemahaman tata bahasa dan penggunaan kalimat yang lebih canggih

- Memperdalam pemahaman tentang tata bahasa Arab yang lebih rumit, termasuk penggunaan kata kerja dan kata sambung.

- Berlatih membuat kalimat dengan struktur yang lebih canggih dan kompleks.

5. Pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan adat istiadat Arab

- Mempelajari budaya dan adat istiadat Arab dengan lebih mendalam, termasuk sistem nilai, kehidupan sosial, dan agama.

(7)

Tingkat Mahir:

1. Meningkatkan keterampilan berbicara dengan fasih dan lancar dalam berbagai konteks - Melakukan presentasi dalam bahasa Arab tentang topik-topik tertentu.

- Meningkatkan keterampilan berbicara secara alami dan fasih dalam berbagai situasi.

2. Pemahaman mendalam tentang percakapan dan teks yang kompleks dalam bahasa Arab - Membaca dan memahami teks-teks yang lebih kompleks, seperti artikel, cerita pendek, atau teks ilmiah.

- Meningkatkan kemampuan pemahaman mendalam tentang bahasa Arab.

3. Kemampuan menulis teks yang lebih rumit, seperti esai atau laporan - Berlatih menulis teks yang lebih panjang dan rumit dalam bahasa Arab.

- Mengembangkan keterampilan menulis yang lebih akademik dan terstruktur.

4. Latihan pengucapan dan intonasi yang lebih lanjut

- Meningkatkan pengucapan dan intonasi yang lebih akurat dan alami.

- Latihan khusus untuk meningkatkan kemampuan membedakan bunyi-bunyi Arab yang serupa.

5. Pemahaman mendalam tentang budaya Arab, termasuk adat istiadat, seni, dan sastra

- Mempelajari aspek budaya Arab yang lebih dalam, seperti seni tradisional, sastra klasik, atau festival budaya.

- Diskusi dan penelitian tentang budaya Arab dengan menggunakan bahasa Arab.

Kurikulum ini harus didukung oleh penilaian yang komprehensif, termasuk tes lisan, tes tulisan, pemahaman mendengarkan, dan interaksi langsung dalam bahasa Arab untuk mengevaluasi kemajuan peserta didik.

Selama proses pembelajaran, penting untuk menciptakan suasana yang inklusif dan mendukung agar peserta didik merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar bahasa Arab.

Penggunaan beragam sumber daya seperti buku teks, materi audio, video, dan bahan ajar interaktif juga sangat dianjurkan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.

Selain itu, interaksi dengan penutur asli bahasa Arab atau lingkungan yang menggunakan bahasa Arab dapat menjadi peluang berharga untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab secara praktis dan autentik.

Pastikan bahwa kurikulum ini fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik, dengan mempertimbangkan kecepatan belajar individu serta memberikan dukungan tambahan sesuai kebutuhan.

(8)

c. Dalam Langkah-langkah pembuatan kurikulum untuk calon perawat/tenaga medis di rumah sakit di negara Arab yang saya buat, berikut adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan:

1. Analisis Kebutuhan Peserta Didik:

 Lakukan analisis kebutuhan peserta didik terkait bahasa Arab berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

 Identifikasi kebutuhan akademik atau profesi mereka terhadap bahasa Arab, seperti kemampuan berkomunikasi dengan pasien, membaca dan menulis dokumen medis, atau memahami instruksi dan tindakan medis.

 Tinjau kemampuan bahasa Arab saat ini dan identifikasi area yang perlu diperkuat.

2. Perumusan Tujuan Kompetensi:

 Perumuskan tujuan kognitif, psikomotorik, dan afektif yang spesifik dan terukur.

 Tujuan kognitif berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan tentang bahasa Arab yang relevan dengan profesi perawat/tenaga medis.

 Tujuan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan berbahasa Arab yang praktis, seperti kemampuan berkomunikasi dengan jelas dan efektif, menulis catatan medis, atau melakukan presentasi.

 Tujuan afektif berkaitan dengan sikap dan nilai-nilai yang relevan dalam konteks perawatan kesehatan, seperti empati, penghargaan terhadap keberagaman budaya, atau sikap profesional dalam interaksi dengan pasien.

3. Penentuan Materi Kebahasaan dan Keterampilan Berbahasa:

 Pilih materi kebahasaan yang relevan dengan konteks perawatan kesehatan di rumah sakit, seperti kosakata medis, ungkapan umum dalam interaksi medis, atau teks medis seperti catatan pasien atau instruksi pengobatan.

 Identifikasi keterampilan berbahasa Arab yang perlu dikembangkan, seperti mendengarkan dan memahami percakapan medis, berbicara dengan pasien dan rekan kerja, membaca dan menafsirkan dokumen medis, serta menulis laporan atau catatan medis.

4. Penentuan Pendekatan, Metode, Strategi, Teknik Belajar, dan Media Pengajaran:

 Pilih pendekatan pembelajaran yang sesuai, seperti pendekatan komunikatif yang fokus pada pengembangan keterampilan berbicara dan pemahaman mendengarkan.

 Tentukan metode, strategi, dan teknik belajar yang efektif, seperti simulasi peran, latihan dialog, studi kasus, diskusi kelompok, atau proyek kolaboratif.

 Gunakan berbagai media pengajaran, seperti buku teks, materi audio, video, perangkat lunak pembelajaran bahasa Arab, atau sumber daya online yang relevan dengan konteks perawatan kesehatan.

5. Sistem Penilaian Prestasi Belajar Peserta Didik:

 Tentukan sistem penilaian yang mencakup berbagai aspek kemampuan bahasa Arab, seperti pemahaman kosakata medis, kemampuan berkomunikasi lisan dan tertulis, kemampuan membaca dan menafsirkan teks medis, serta sikap dan profesionalisme dalam interaksi dengan pasien.

(9)

 Gunakan berbagai bentuk penilaian, termasuk tes tertulis, presentasi lisan, studi kasus, simulasi situasional, atau penugasan proyek yang melibatkan penggunaan bahasa Arab dalam konteks perawatan kesehatan.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, kurikulum pembelajaran bahasa Arab untuk calon perawat/tenaga medis di rumah sakit dapat dirancang dengan baik untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

d. Dalam pembuatan kurikulum untuk calon peserta didik yang merupakan pemuda/mahasiswa Indonesia atau non-Arab, dan belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya, berikut adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan :

1. Analisis Kebutuhan Peserta Didik:

 Lakukan analisis kebutuhan peserta didik terhadap bahasa Arab berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

 Identifikasi kebutuhan akademik atau kebutuhan profesi peserta didik terkait bahasa Arab.

 Tinjau tingkat pemahaman dan kemampuan bahasa Arab saat ini serta identifikasi area yang perlu diperkuat.

2. Perumusan Tujuan Kompetensi:

 Perumuskan tujuan kognitif, psikomotorik, dan afektif yang spesifik dan terukur.

 Tujuan kognitif berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan tentang bahasa Arab, seperti memahami struktur kalimat, kosakata dasar, atau tata bahasa.

 Tujuan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan berbahasa Arab yang praktis, seperti kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis.

 Tujuan afektif berkaitan dengan sikap dan motivasi yang positif terhadap pembelajaran bahasa Arab, seperti minat, kepercayaan diri, dan apresiasi terhadap budaya Arab.

3. Penentuan Materi Kebahasaan dan Keterampilan Berbahasa:

 Pilih materi kebahasaan yang relevan untuk pemula, termasuk kosakata dasar, frasa umum, tata bahasa sederhana, dan konteks komunikatif sehari-hari.

 Identifikasi keterampilan berbahasa Arab yang perlu dikembangkan, seperti kemampuan berbicara dalam situasi sehari-hari, mendengarkan dan memahami percakapan sederhana, membaca teks pendek, dan menulis kalimat sederhana.

4. Penentuan Pendekatan, Metode, Strategi, Teknik Belajar, dan Media Pengajaran:

 Pilih pendekatan pembelajaran yang interaktif dan komunikatif, dengan fokus pada pengembangan keterampilan berbahasa Arab.

 Tentukan metode pembelajaran yang sesuai, seperti pembelajaran berbasis tugas, bermain peran, latihan berpasangan, atau diskusi kelompok kecil.

 Gunakan berbagai strategi dan teknik belajar, seperti drill, simulasi situasional, pembelajaran terintegrasi, atau pembelajaran melalui media digital.

 Manfaatkan berbagai media pengajaran, seperti buku teks, materi audio, video, multimedia interaktif, atau sumber daya online yang relevan.

5. Sistem Penilaian Prestasi Belajar Peserta Didik:

(10)

 Tentukan sistem penilaian yang mencakup berbagai aspek kemampuan bahasa Arab, seperti pemahaman kosakata, kemampuan berkomunikasi lisan dan tertulis, kemampuan membaca dan menafsirkan teks sederhana, serta sikap dan motivasi dalam pembelajaran.

 Gunakan berbagai bentuk penilaian, seperti tes tertulis, tes lisan, penugasan proyek, atau penilaian berbasis portofolio.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, kurikulum pembelajaran bahasa Arab untuk calon peserta didik yang belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya dapat dirancang dengan baik untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Referensi

Dokumen terkait