• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJIAN TENGAH SEMESTER ANTROPOLOGI KEHUTANAN

N/A
N/A
21@070 Reza Anggi Riziqo

Academic year: 2023

Membagikan "UJIAN TENGAH SEMESTER ANTROPOLOGI KEHUTANAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

UJIAN TENGAH SEMESTER

Nama : Reza Anggi Riziqo

NIM : 210905070

Mata Kuliah : Antropologi Kehutanan Dosen : Wina Khairina

1. Konsep ekologi politik dan hutan politik

Ekologi politik merupakan konsep kajian dalam ilmu sosial yang berusaha menempatkan faktor “manusia” dan kegiatan politik yang dijalankan oleh manusia tersebut dalam kaitannya dengan permasalahan lingkungan. Jika ditilik melalui kategorisasi pencabangan “paradigma”

ilmu sosial Habermas, ekologi politik termasuk dalam paradigma kritis. Artinya, kajian yang dilakukan dalam ekologi politik berangkat dari permasalahan akan ketimpangan sosial yang terjadi atas pembagian dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak adil. Sifat kajiannya emansipatoris, bertumpu pada kepentingan masyarakat yang telah mengalami dehumanisasi akibat neo-liberalisme di sektor lingkungan dan sumber daya alam.

Afiff (2022) dalam artikel berjudul Antropologi dan Persoalan Perubahan Iklim: Perspektif Kritis Ekologi Politik menyebutkan ekologi politik sebagai alat untuk menjelaskan “masalah ketimpangan yang mempengaruhi relasi antara manusia dengan lingkungannya”. Tiap aktor dipandang memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap lingkungan. Hal ini nampak dari perbedaan kepentingan antara “penjahat lingkungan” (kelindan antara sektor privat dan pejabat pemerintahan) dengan masyarakat lokal terhadap alam lingkungan sehingga menghasilkan pemaknaan dan sikap yang berbeda pula. Afiff (2022) juga menyebutkan relasi-relasi di antara aktor pemangku kuasa telah melahirkan berbagai bentuk kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang berakibat pada wacana perubahan iklim. Katalisasi perubahan iklim terjadi karena parahnya kerusakan lingkungan akibat kebijakan-kebijakan serampangan yang memanjakan sektor privat.

Ekologi politik juga tak terlepas dari konsep hegemony yang dicetuskan oleh seorang tokoh Marxis asal Italia, Antonio Gramsci. Hegemoni merupakan dominasi yang dilakukan oleh

(2)

intelektual-politik guna menguasai sistem sosial. Gramsci (2011) dalam Prison Notebooks menjelaskan bahwasannya “hegemoni” dapat tercipta ketika para politisi menggunakan wacana intelektualitasnya untuk mengontrol segala bentuk aspek kehidupan masyarakat. Bentuk hegemoni termasuk kontrol politik negara terhadap pengelolaan sumber daya alam telah menjadikan masyarakat tempatan tak berdaya dan hanya bisa manut dengan sistem yang telah dikendalikan

Hutan politik merupakan konsep yang digunakan untuk membedah fenomena distribusi hutan berdasarkan sisem “tunjuk” yang dilakukan oleh para pemangku kuasa. Pemangku kuasa merupakan mereka para aktor politisi di suatu sistem negara. Peluso & Vandergeest (2001) dalam Genealogies of the Political Forest and Customary Rights in Indonesia, Malaysia, and Thailand menyebutkan jika politisasi pada hak kepemilikan hutan oleh negara sudah terjadi sejak era kolonialisme Eropa. Kala itu, ketika era kolonialisme, bangsa Eropa memetakan penguasaan hutan di wilayah-wilayah jajahannya serta memberi legitimasi hak penguasaan hutan menjadi miliknya pribadi. Pengklaiman hak penguasaan hutan ini telah meminggirkan hak-hak ulayat yang dimiliki oleh komunitas-komunitas lokal.

Fenomena ini berlanjut pasca runtuhnya era kolonialisme dan negara-negara jajahannya memerdekakan diri. Negara-negara merdeka yang kini dikuasai oleh politisi lokal pun masih melanjutkan politisasi terrhadap hutan. Misalnya di Indonesia, proses nasionalisasi aset oleh orde lama Soekarno berhasil melegitimasi kekuasaan pemerintah republik atas aset yang sebelumnya dimiliki pemerintah Hindia Belanda, termasuk tanah. Semakin diperkeruh pada masa orde baru, ketika Soeharto memetakan kawasan tutupan hutan di seluruh Indonesia menjadi milik negara.

Distribusi hutan dilakukan kepada sektor privat yang didalangi oleh para jenderal TNI. Kuasa politik Soeharto berhasil memberikan konsesi pengelolaan hutan ke kroni-kroninya yang menyebabkan ekstrasi sumber daya alam secara serampangan. UUPA yang telah ada dibuat pasif guna melanggengkan permainan.

Simulakra pun dilanjutkan dengan berbagai kebijakan politis seperti swasembada pangan yang didalamnya termasuk deforestasi jutaan hektar kawasan hutan guna keperluaan proyek pemerintah. Proyek-proyek seperti ini sifatnya non-emansipatoris, artinya mereka tidak memedulikan masyarakat tempatan di sekitar hutan yang sebetulnya secara historis memiliki hak ulayat. Pada masa reformasi yang diiringi oleh kematian rezim Soeharto dan kroni-kroninya,

(3)

perjuangan untuk mengembalikan kuasa hutan kepada masyarakat yang selama ini telah ratusan tahun dirampas mulai digaungkan. Saat ini, kebijakan-kebijakan reforma agraria seperti TORA dan Perhutanan Sosial mulai diterapkan guna mengembalikan hak pengelolaan sumber daya hutan kepada masyarakat yang seharusnya.

2. Bedah kasus

Tambang Emas di Sangihe

Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Ibu kota kabupaten ini adalah Tahuna. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.012,94 km² dan berpenduduk sebanyak 129.609 jiwa (2008) (BPK Sulut, nd). Pulau Sangihe sendiri memiliki luas daratan sebesar 736,98 km2. Kabupaten ini pun menjadi salah satu kabupaten terluar di Indonesia, di mana utara perairan kepulauan Sangihe berbatasan langsung dengan perairan negara Filipina. Selain itu, Sangihe juga dikenal dengan kekayaan serta keindahan sumber daya alamnya. Secara historis, pada tahun 2002, Kabupaten Kepulauan Sangihe dimekarkan (pada saat itu masih Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud) menjadi 2 Kabupaten berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2002, yaitu Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud, dan Kabupaten Kepulauan Talaud. Pemekaran kembali dilakukan di Kabupaten Induk (Kabupaten Sangihe dan Talaud) menjadi Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud, dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO) pada tahun 2007 sesuai Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2007 di Ruang Mapaluse, Kantor Gubernur Sulawesi Utara sekaligus dengan Pelantikan PPS Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Drs. Idrus Mokodompit. Pada tahun 2014, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud mengalami perubahan nama menjadi Kabupaten Kepulauan Sangihe melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014 tentang Perubahan Nama Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud menjadi Kabupaten Kepulauan Sangihe di Provinsi Sulawesi Utara (Wikipedia, 2023).

Sektor-sektor ekonomi yang menjadi sektor basis dalam perekonomian Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Sektor Perdagangan

(4)

besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda, Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, Sektor Real Estate, Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib, Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Sedangkan sektor-sektor non basis adalah sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik dan gas, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang, sektor konstruksi, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyediaan akomodasi makan minum, sektor informasi dan komunikasi, sektor jasa perusahaan, sektor jasa pendidikan, dan sektor jasa lainnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sebagian besar sektor perekonomian yang ada dalam perekonomian wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe bukan merupakan sektor basis (35,2 % sektor basis, 64,8 % sektor non basis) (Mose, 2016).

Kehidupan perekonomian masyarakat Kepulauan Sangihe yang terdiri dari ragam kegiatan ekonomi multisektor serta telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat di sana harus terancam oleh aktivitas pertambangan. Pada tanggal 27 April 1997 PT. Tambang Mas Sangihe (TMS) menandatangani Kontrak Karya (KK) generasi ke-7 dengan pemerintah Indonesia yang berlaku hingga tahun 2027, kesepakatan itu faktanya dapat dua kali diperpanjang selama 10 tahun. Sangihe Gold Corporation, perusahaan asal Kanada memegang saham tertinggi di PT TMS, yaitu sebesar 70%, selanjutnya ada beberapa perusahaan asal Indonesia, yaitu PT Sungai Belayan Sejati yang memegang saham sebesar 10%, PT Sangihe Prima Mineral sebesar 11%, dan PT Sangihe Pratama Mineral sebesar 9%. Sejak tahun 2007 Sangihe Gold Corporation (pemegang saham 70 persen PT. Tambang Mas Sangihe yang dulunya adalah East Mineral Corp) telah mengambil alih pertambangan dan melakukan berbagai kegiatan eksplorasi termasuk pemetaan geologi, pengambilan sampel serpihan batu, survei geofisika, studi petrologi, pembuatan parit dan pengeboran. Blok Sangihe ada karena pada tahun tersebut EAMC dan mitra lokal menerima persetujuan dan izin eksplorasi dari pemerintah, sehingga diberikan KK seluas 42.000 hektare.

Selanjutnya di tahun 2017 PT. Tambang Mas Sangihe telah mengusahakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, pada pengerjaan dokumen ini tidak adanya keikutsertaan masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam pengerjaannya yang mana seharusnya masyarakat turut dilibatkan dalam pembuatan Amdal. Di tahun 2021 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

(5)

(ESDM) mengeluarkan surat Keputusan mengenai Persetujuan Peningkatan Tahap Kegiatan Operasi Produksi Kontrak Karya PT. Tambang Mas Sangihe dengan Nomor:

163.k/MB.04.DJB.2021. Keberadaan surat keputusan tersebut memunculkan banyak penolakan dari masyarakat yang daerahnya berada dalam konsesi lahan penambangan PT. Tambang Mas Sangihe (KontraS, 2021).

Kajian Ekologi Politik & Feminisme pada Kasus PT. TMS

Pemerintah dalam konteks kasus ini yaitu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memberi izin konsensi telah berkelindan dengan sektor privat PT Tambang Mas Sangihe. Selain itu, Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara juga turut berperan menjadi aktor tambahan yang melancarkan proses pembuatan Amdal tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Dari sini kita bisa melihat relasi kuasa yang ada pada negara dan berhasil menjalankan praktik hegemoni. Jika dikaitkan dengan ekologi politik, relasi diantara aktor yang menjadi perhatian ekologi politik ini berkaitan dengan akses dan kontrol atas lahan dan sumber- sumber alam untuk berbagai keperluan seperti produksi, konsumsi, konservasi, maupun untuk kebutuhan lainnya (Afiff, 2022). Akses dan kontrol atas sumber daya alam dalam kasus Sangihe dipegang oleh negara yang pada akhirnya mereka dapat mendistribusi hak eksploitasi sumber daya alam kepada PT TMS dengan meminggirkan hak-hak masyarakat.

Tindakan yang dilakukan oleh negara dalam kasus pertambangan di Sangihe pun ternyata jauh lebih bejat dari konsep hegemoni yang disebutkan oleh Gramsci. Menurut Gramsci (2011:118), negara kerap mengganti sistem yuridis jika dirasa dirinya sendiri sudah terkekang oleh sistem tersebut. Dalam konteks kasus ini, kuasa negara yang dijalankan oleh Kementerian ESDM telah memberi izin konsesi pertambangan kepada PT. TMS di Pulau Sangihe, di mana notabennya dalam UU Nomor 1 Tahun 2014, pulau-pulau dengan luas daratan kurang dari 2000 Km2 dikategorikan sebagai pulau kecil itu tidak boleh ditambang. Pulau Sangihe tergolong pulau kecil dengan luas hanya 737 Km2, namun tetap saja dijadikan objek untuk pertambangan.

Terlihat lebih bejat dikarenakan negara di sini mendobrak sistem yang mereka buat tanpa mengganti sistem tersebut guna kepentingan mereka.

Ekologi politik dalam kajian konflik lingkungan disebutkan oleh Afiff (2022) sebagai pergumulan dalam produksi pengetahuan untuk memproduksi kebenaran dan justifikasi

(6)

bertindak. Dalam kasus konflik antara PT. TMS dengan masyarakat tempatan di Sangihe, terdapat justifikasi akan kebenaran yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam menyusun draft Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Mereka menggunakan wacana intelektualitasnya untuk memproduksi produk Amdal tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Artinya, mereka secara sepihak telah mendehumanisasi masyarakat sekitar.

Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) (2021) dalam Laporan Penelitian & Investigasi Kabupaten Kepulauan Sangihe 27 Juni – 1 Juli 2021 telah menyimpulkan berbagai masalah yang terdapat pada konfik ini, yaitu:

1. Penentuan Harga Tanah yang Sewenang-wenang;

2. Pelanggaran terhadap UU nomor 27 tahun 2007 j.o. UU nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau kecil;

3. Dugaan Ketiadaan Dokumen AMDAL;

4. Potensi Pelanggaran HAM seperti: Hilangnya hak atas tempat tinggal, Terancamnya hak atas lingkungan hidup, Potensi Bencana Alam, Terancamnya hak atas pekerjaan yang layak, dan Memburuknya akses terhadap hak atas informasi.

Masyarakat Pulau Sangihe pun melakukan berbagai resistensi. Selain gugatan pengadilan, dilakukan juga demonstrasi sebagai bentuk perlawanan. Brosius (2006) mengungkapkan jika masyarakat termarjinal yang menjadi korban dalam konflik pengelolaan sumber daya alam, akan mencari cara yang efektif dan diharapkan dapat dikenali oleh orang luar sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap ketidakadilan. Begitu pun yang dilakukan oleh masyarakat di Pulau Sangihe. Berbagai aksi kampanye penolakan tambang diakomodir oleh mereka dalam gerakan “Save Sangihe Island” atau SSI. Tagline yang digunakan serta aksi-aksi yang masyarakat lakukan dalam gerakan ini gencar dilakukan agar aksi mereka dapat dilihat oleh pihak luar. Serta pesan-pesan yang mereka sampaikan dapat dikenali.

Kampanye yang dilakukan oleh Save Sangihe Island dikoordinatori oleh seorang perempuan bernama Jull Takaliuang. Jull adalah seorang aktivis perempuan dari Selawesi Utara yang terpilih oleh United Nation Development Program (UNDP) menjadi perwakilan Indonesia dalam menerima penghargaan dari N-Peace Award 2015, dalam kategori Untold Stories: Women Transforming their Communities. Ia merupakan perempuan yang lahir pada 31 juli 1969 di desa

(7)

kecil Menggawa, Kecamatan Tamako, Kepulauan Sangihe, Selawesi Utara (ICW, 2015). Selain itu, berbagai aksi yang dilakukan oleh SSI guna menentang pertambangan di Pulau Sangihe juga melibatkan kelompok-kelompok perempuan yang turut serta berdemonstrasi di jalanan.

Elmhirst (2015) menyebutkan Ekologi Politik Feminis (FPE) menekankan politik dan kekuasaan pada skala yang berbeda, tetapi melangkah lebih jauh dalam menyoroti hubungan kekuasaan berbasis gender, dan dalam membuat komitmen eksplisit untuk mengatasi ketidakberuntungan dan ketidaksetaraan gender. Jika dikaitkan dengan Ekologi Politik Feminis (FPE), apa yang dilakukan oleh Jull dan masyarakat perempuan dalam upaya resistensi melawan tambang, juga merupakan bentuk perlawanan terhadap situasi penguasaan sumber daya alam oleh negara dan sektor privat yang semakin membebankan kelompok perempuan. Di mana, kelompok perempuan Sangihe yang juga masih menjalankan aktivitas ekonomi seperti berkebun dan berdagang terpaksa harus dirampas haknya oleh negara. Situasi ini akan semakin menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan semakin membebankan mereka di tengah beban ganda yang mereka pikul, yang mana mereka pun masih harus tetap menjalankan beban domestik mereka dalam rumah tangga.

(8)

Daftar Pustaka

Afiff, S. (2022). Antropologi dan Persoalan Perubahan Iklim: Perspektif Kritis Ekologi Politik. Jurnal Antropologi: Isu-isu Sosial Budaya, 24(1), 109-118.

BPK Sulawesi Utara. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, url:

https://sulut.bpk.go.id/pemerintah-kabupaten-kepulauan-sangihe/. Diakses pada 10 April 2023.

Brosius, P. (2006). Between politics and poetics: Narratives of dispossession in Sarawak, East Malaysia (pp. 281-322). Reimagining Political Ecology. Durham: Duke University Press.

Elmhirst, R. (2015). Feminist political ecology. In The Routledge handbook of political ecology (pp. 519-530). Routledge.

Gramsci, A. (2011). Prison Notebooks Volume 2 (Vol. 2). Columbia University Press.

ICW. (2015). Jull Takaliuang: Berjuang Untuk Keadilan, url:

https://antikorupsi.org/id/article/jull-takaliuang-berjuang-untuk-keadilan/. Diakses pada 10 April 2023.

KontraS. (2021). Laporan Penelitian & Investigasi Kabupaten Kepulauan Sangihe 27 Juni – 1 Juli 2021, url: https://kontras.org/wp-content/uploads/2021/08/Laporan-Investigasi- Kepulauan-Sangihe.pdf. Diakses pada 10 April 2023.

Mose, B., (2016). Analisis potensi perekonomian wilayah kabupaten kepulauan sangihe. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 16(1).

Peluso, N. L., & Vandergeest, P. (2001). Genealogies of the political forest and customary rights in Indonesia, Malaysia, and Thailand. The Journal of Asian Studies, 60(3), 761-812.

(9)

Wikipedia. (2023). Kabupaten Kepulauan Sangihe, url:

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kepulauan_Sangihe/. Diakses pada 10 April 2023.

Referensi

Dokumen terkait