YOSANOVA SAVITRY
Deputy CEO, MarkPlus, Inc. ANIZA NURFEBRIANY Manager, MarkPlus, Inc.
ALEXIA WINSLEE
Senior Analyst, MarkPlus, Inc. HANAN SAFIRA
Business Analyst, MarkPlus, Inc.
Understanding
Indonesia’s SMEs Competitiveness
2023
Contents
Introduction to the Study ... 1
Executive Summary ... 1
Recommendation ... 2
SMEs Post Normal Condition ... 3
SMEs Digital Savviness ... 5
Omnichannel Activities ... 6
Social Media Optimization ... 7
SMEs Community Engagement... 9
Business Outlook & Future Orientation ... 9
Methodology ...12
References ... 13
Introduction to the Study
Dua tahun pandemi COVID-19 telah melanda ekonomi nasional, termasuk sektor bisnis/usaha mikro kecil dan menengah. Indonesia memiliki jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terbanyak jika dibandingkan negara di Asia Tenggara lainnya. Meskipun demikian, jumlah yang banyak tidak berbanding lurus dengan daya saing mereka. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait kondisi UMKM dalam masa restrukturasi dan recovery, MarkPlus melakukan survei dengan responden yang menyasar para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Studi ini dilaksanakan untuk mengetahui lebih jauh perspektif pelaku UMKM terkait kebutuhan dan potensi bisnis di masa yang akan datang, serta bagaimana daya saing mereka dalam menghadapi tahun 2023.
Executive Summary
• Lebih dari setengah pelaku UMKM bergerak di bidang makanan dan minuman, dengan perolehan sebesar 61.0% pada riset ini.
• Pada umumnya, pelaku UMKM memiliki kondisi usaha dengan volatilitas tinggi (high volatility), atau dengan kata lain tidak menentu karena tidak memiliki target penjualan.
• Mayoritas pelaku UMKM memanfatkan kegiatan offline dengan berjualan atau menawarkan jasa melalui toko/outlet milik sendiri, sementara kegiatan online dengan menawarkan produk/jasa usaha mereka.
• Dalam mengoptimalisasikan kegiatan usaha mereka, para pelaku UMKM memiliki lebih dari satu akun media sosial. Top 3 media sosial yang digunakan para pelaku UMKM antara lain Instagram dengan persentase 80.5%, WhatsApp 77.9%, serta Facebook 72.7%.
• Lebih dari setengah (57.0%) pelaku UMKM masih belum terafiliasi dalam suatu organisasi atau asosiasi.
• Dalam menghadapi tahun 2023, sepertiga UMKM, dengan persentase sebesar 31.8%, berencana untuk mengembangkan jenis produk/layanan yang dipasarkan dalam usaha mereka.
• Sebagian UMKM, dengan persentase sebesar 42.0%, mengaku masih bingung dalam menentukan arah perkembangan bisnis mereka, terlepas dari keinginan untuk melakukan ekspansi.
Recommendation
• Untuk meningkatkan daya saing, UMKM di Indonesia perlu berfokus pada keberlanjutan model bisnis mereka dengan meninjau kembali strategi dan target bisnis di masa yang akan datang.
• Untuk meninjau kembali strategi bisnis,UMKM dapat melakukan
preliminary analysis berupa pemetaan SWOT maupun analisis risiko (risk analysis) sesuai dengan bidang usaha masing-masing.
• UMKM di Indonesia perlu mengoptimalisasikan teknologi ICT/digital dalam kegiatan bisnis selain aktivitas penjualan dan pemasaran, salah satunya adalah dengan bergabung ke dalam komunitas dan berjejaring lintas bidang (cross-sector) agar pelaku UMKM dapat belajar dan terus
berkembang serta memiliki wawasan bisnis yang tidak terbatas hanya mengenai bidang usaha yang sedang dijalani, tetapi juga wawasan bisnis bidang lainnya.
SMEs Post Normal Condition
Indonesia memasuki tahap restrukturasi setelah COVID-19 melanda perekonomian nasional selama dua tahun terakhir, ditandai oleh percepatan sebesar 3,7% pada akhir tahun 2021 serta dilanjutkan hingga awal tahun 2022 di angka 5% (yoy), bergerak maju menuju peningkatan konsumsi dan investasi. Hal ini menunjukkan kegiatan ekonomi mulai beroperasi kembali walaupun masih dibawah kapasitas normal. Meskipun demikian, operasi kegiatan bisnis hanya berlaku bagi perusahaan-perusahaan besar yang berorientasi kepada ekspor—
mereka berhasil pulih lebih cepat dibandingkan dengan UMKM (The World Bank, 2022).
Menurut ASEAN Investment Report yang dirilis September 2022, Indonesia memiliki jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terbanyak di kawasan ASEAN. Laporan tersebut mencatat jumlah UMKM di Indonesia pada tahun 2021 mencapai sekitar 65,46 juta unit (Katadata, 2022). Mengetahui hal ini, tantangan UMKM ke depan yang harus diatasi bersama oleh segenap stakeholders antara lain berkaitan dengan inovasi dan teknologi, literasi digital, produktivitas, legalitas atau perizinan, pembiayaan, branding dan pemasaran, sumber daya manusia, standardisasi dan sertifikasi, pemerataan pembinaan, pelatihan, dan fasilitasi, serta basis data tunggal (Kemenko Perekonomian, 2022). Berangkat dari informasi ini, MarkPlus melakukan survei untuk mengetahui lebih jauh perspektif pelaku UMKM terkait kebutuhan dan potensi bisnis di masa yang akan datang.
Grafik 1.0: Bidang UMKM yang dijalani pelaku UMKM di Indonesia
Melalui survei MarkPlus, para pelaku UMKM, baik mereka yang baru menjalani usaha maupun yang sudah lama, mengaku bahwa kondisi bisnis mereka tidak menentu karena tidak memiliki target penjualan. Hal ini menunjukkan kurangnya kapabilitas UMKM dalam melakukan asesmen terkait kondisi bisnis mereka dan memproyeksikan performa bisnis kedepannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun unggul secara kuantitas, UMKM di Indonesia masih memiliki PR untuk meninjau kembali arah dan keberlanjutan bisnis (business sustainability) mereka.
61.0%
9.0%
9.0%
3.0%
3.0%
2.0%
2.0%
2.0%
2.0%
2.0%
1.0%
1.0%
1.0%
1.0%
1.0%
Makanan dan Minuman Tekstil (Kain) dan Pakaian jadi Jasa (transportasi Kayu Pencetakan dan reproduksi media rekaman Farmasi Peralatan listrik Pertanian Kecantikan & Skincare Jasa pendampingan UMKM Kursus digital marketing Fotocopy & ATK Penjualan Pulsa Fanmade Merchandise Lainnya
Bidang UMKM yang dijalani
Grafik 1.1: Kondisi per Lama UMKM mengelola usaha
SMEs Digital Savviness
World Bank mengamati terdapat empat bidang reformasi struktural yang dapat memainkan peranan penting dalam menstimulasi perekonomian Indonesia, dan salah satunya adalah reformasi lingkungan usaha yang mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Reformasi yang dimaksud adalah upaya untuk mendorong penggunaan rekening transaksi untuk perorangan dan rumah tangga, serta dukungan bagi layanan keuangan digital. Kedua poin ini disinyalir dapat mengatasi kendala kritis bagi UMKM (The World Bank, 2022). Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah nasional untuk mendorong peningkatan kinerja UMKM nasional, salah satunya lewat strategi digitalisasi. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mencatat 19 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masuk ke ekosistem digital hingga Mei 2022 (CNN Indonesia, 2022). Guna mencapai berbagai target yang telah ditetapkan oleh pemerintah khususnya dalam rangka mendukung inklusi dan digitalisasi UMKM, perlu adanya dukungan dalam bentuk kerjasama dan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk dari Industri Jasa Keuangan (IJK). Hal ini penting agar UMKM dapat semakin berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian negara (OJK, 2022).
66.7%
16.7% 16.7%
0.0%
55.9%
17.6%
23.5%
2.9%
63.2%
15.8% 15.8%
5.3%
65.7%
14.3%
20.0%
0.0%
Tidak menentu, tergantung kondisi (tidak memiliki
target penjualan)
Dibawah target penjualan
yang sudah saya tentukan Sesuai target penjualan yang
sudah saya tentukan Melebihi target penjualan yang sudah saya tentukan
Kondisi Usaha per Lama Mengelola Usaha
< 1 Tahun 1 –3 Tahun 3 –5 Tahun > 5 Tahun
Omnichannel Activities
Seiring dengan adanya pembatasan kontak langsung selama pandemi, UMKM menyesuaikan model bisnis mereka dengan strategi omnichannel, yaitu dengan mengombinasikan kegiatan offline dan online dalam menjalankan usaha/bisnis mereka. Berdasarkan survei MarkPlus, sebagian (44.0%) pelaku UMKM memanfatkan kegiatan offline dengan berjualan atau menawarkan jasa melalui toko/outlet milik sendiri, kemudian diikuti dengan berjualan menggunakan pedagang perantara (reseller) sebesar 33.0%, serta melakukan aktivitas pemasaran melalui telemarketing dan pemasangan iklan di media cetak/elektronik. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas offline yang dilakukan pelaku UMKM masih berkutat pada aktivitas penjualan dan pemasaran saja.
Dengan kata lain, para pelaku UMKM masih belum mengeksplorasi kegiatan bisnis lainnya, misalnya seperti mengikuti pameran dagang dan mengekspor produk.
Terlepas dari itu, 12.0% responden juga mengaku hanya menjalankan usaha secara online.
Grafik 2.0: Aktivitas offline UMKM di Indonesia
45.0%
33.0%
21.0%
21.0%
22.0%
7.0%
4.0%
1.0%
1.0%
1.0%
12.0%
Berjualan atau menawarkan jasa melalui toko/outlet milik sendiri
Berjualan menggunakan pedagang perantara (reseller)
Menawarkan produk/jasa melalui telepon (telemarketing)
Melakukan pemasangan iklan di media cetak/elektronik
Menitipkan produk ke toko/minimarket Berjualan menggunakan tim sales milik perusahaan
sendiri
Melakukan ekspor ke luar negeri Word of Mouth Mengikuti pameran dagang Berdiskusi mengenai produk dan pemasaran Tidak ada, hanya berjualan online
Apa saja kegiatan offline yang Anda lakukan dalam menjalankan usaha Anda?
Sebagian besar pelaku UMKM sudah melakukan pemanfaatan media online dalam menjalankan usaha mereka. Pemanfaatan media online sebagian besar dilakukan dengan menawarkan produk/jasa usaha mereka, yaitu dengan persentase sebesar 79.0%, diikuti dengan berjualan melalui marketplace sebesar 33.0% serta pembayaran (QRIS, Sistem Pos/Kasir Online) sebesar 20.0%.
Grafik 2.1: Aktivitas online UMKM di Indonesia
Social Media Optimization
Tidak sedikit media sosial yang mengembangkan fitur untuk mendorong aktivitas bisnis. Survei MarkPlus menunjukkan Top 3 media sosial yang dimiliki UMKM antara lain Instagram, WhatsApp dan Facebook. Instagram menduduki posisi pertama dengan persentase sebesar 80.5%. Platform ini unggul sebagai media usaha/bisnis karena memiliki fitur yang mendukung aktivitas bisnis, terutama fitur Instagram Shopping yang resmi dirilis di Indonesia sejak Oktober 2020 lalu. Selain itu, Instagram juga banyak digunakan sebagai katalog penjualan bagi UMKM karena tampilan feed-nya yang menarik.
WhatsApp menduduki posisi ke-2 dengan persentase 77.9%. Platform ini juga dikenal memiliki fitur yang mendorong aktivitas bisnis bernama WhatsApp for Business. WhatsApp for Business didesain untuk pemilik bisnis kecil dalam mempermudah interaksi antara pelaku usaha dan pelanggan dengan menyediakan fitur-fitur untuk mengautomasi, menyortir, dan membalas pesan dengan cepat.
79.0%
33.0%
20.0%
15.0%
14.0%
10.0%
8.0%
2.3%
Menawarkan produk/jasa melalui media sosial (Facebook
Berjualan melalui marketplace (Shopee Pembayaran (QRIS Administrasi (Pembukuan/ Jurnal Keuangan) Berjualan/promosi melalui website pribadi Produksi (Manajemen Stok) Tidak menerapkan teknologi Menitipkan produk ke toko oleh-oleh
Apa saja kegiatan online yang Anda lakukan dalam menjalankan usaha Anda?
Grafik 2.2: Akun media sosial yang dimiliki UMKM
Jika dilihat berdasarkan usia, Instagram dan WhatsApp memiliki positioning yang cukup unik karena menjangkau pelaku UMKM dari berbagai usia.
Hal ini ditunjukkan dalam perolehan survei MarkPlus dimana kedua platform ini ternyata dimiliki oleh seluruh pelaku UMKM berusia < 17 tahun dan > 56 tahun.
Sementara itu, Facebook lebih diminati oleh pelaku UMKM yang lebih tua, yaitu mereka yang masuk ke dalam golongan 25-40 tahun sebesar 84.4% dan 41-56 tahun sebesar 81.3%.
Grafik 2.3: Media sosial yang dimiliki berdasarkan usia pelaku UMKM 80.5% 77.9%
72.7%
23.4%
19.5% 16.9%
3.9% 3.9%
Instagram WhatsApp Facebook TikTok Telegram YouTube LINE Twitter
Dimana saja usaha Anda memiliki akun media
sosial?
SMEs Community Engagement
Menurut National Small Business Association (NSBA), asosiasi bisnis memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk berjejaring dan berbagi informasi dan sumber daya. Meskipun beberapa bisnis yang tergabung dalam asosiasi cenderung menjadi pesaing, mereka masih memiliki kebutuhan dan preferensi tertentu yang sama. Bergabung dengan asosiasi bisnis memberi pemilik bisnis baru informasi kontak bisnis lokal lainnya—dengan demikian mempercepat proses integrasi ke dalam komunitas (Chron, 2021). Grafik 3.0 menunjukkan proporsi UMKM yang bergabung dan yang tidak bergabung dalam suatu komunitas/asosiasi usaha di Indonesia.
Grafik 3.0: Partisipasi UMKM dalam suatu komunitas
Business Outlook & Future Orientation
Terlepas dari tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, banyak usaha kecil hingga menengah (UKM) di seluruh dunia telah menunjukkan ketangguhan dan kapasitas yang luar biasa untuk bertahan pada masa pandemi (HBR, 2019). UMKM yang memiliki visi-misi dan berorientasi masa depan akan belajar untuk menghadapi tantangan-tantangan tidak pasti dengan berfokus untuk membangun ketahanan finansial, kapabilitas organisasi, dan fokus strategis untuk terus berinvestasi dan beradaptasi selama krisis, mempercepat digitalisasi, serta mengatur/ mengefisiensikan operasional mereka (HBR, 2021).
Ya 43%
Tidak 57%
Apakah Anda berpartisipasi dalam suatu
komunitas/asosiasi usaha?
Grafik 4.0: Visi UMKM
Dalam persiapan menghadapi tahun 2023, mayoritas UMKM dengan persentase sebesar 42.0% mengaku masih bingung dalam menentukan arah perkembangan bisnis mereka, meskipun sudah memiliki keinginan untuk melakukan pengembangn. Hal ini menunjukkan UMKM di Indonesia masih membutuhkan strategi bisnis yang jelas untuk tetap resilien dalam menghadapi ketidakpastian kondisi yang akan terjadi pada tahun 2023. Meskipun demikian, 28.0% pelaku UMKM mengaku sudah memiliki arah, tujuan, dan rencana yang jelas dalam menjalankan usaha mereka.
Grafik 4.1 menunjukkan rencana UMKM yang sudah memiliki orientasi masa depan, khususnya terkait visi perkembangan bisnis pada tahun 2023. Top 3 jawaban pelaku UMKM masih berkaitan dengan optimalisasi penjualan (sales optimization), antara lain dengan memperbanyak jenis/produk layanan yang dipasarkan, menambah gerai bisnis/kapasitas produksi, serta mengembangkan jalur penjualan online.
Sementara itu, Grafik 4.2 menunjukkan strategi penerapan inovasi dalam bisnis/usaha yang dijalani pelaku UMKM.
12.0%
42.0%
18.0%
28.0%
Tujuan usaha saya masih berfokus untuk bertahan di pasar
Saya ingin mengembangkan bisnis saya tetapi masih bingung dalam menentukan arah
pengembangannya
Saya sudah memiliki arah/tujuan untuk bisnis saya, tapi masih belum memiliki rencana yang jelas
Saya sudah memiliki arah, tujuan, dan rencana yang jelas dalam bisnis saya
Apakah Anda sudah memiliki visi/tujuan yang jelas
untuk bisnis Anda?
Grafik 4.1: Visi Pengembangan Bisnis UMKM Pada Tahun 2023
Grafik 4.2: Penerapan inovasi dalam UMKM
23.9%
32.9%
19.3%
11.4%
8.0%
1.1%
1.1%
2.3%
Melakukan ekspansi dengan menambah gerai bisnis/kapasitas produksi
Memperbanyak jenis produk/layanan yang dipasarkan
Mengembangkan jalur penjualan online
Berkolaborasi dengan UMK lain
Melakukan ekspor ke luar negeri
Memperbaiki dan mengembangkan usaha saat ini
Menjadi UMKM plasma dengan memberikan manfaat kepada UMKM lain
Tidak ada
Apa saja rencana pengembangan bisnis yang Anda miliki untuk tahun 2023?
7.0%
39.0%
29.0%
25.0%
Tidak melakukan inovasi, bisnis saya masih fokus bertahan di pasar
Sudah pernah mencoba tapi belum berhasil sesuai harapan
Sudah beberapa kali mencoba dan hasilnya cukup baik
Sering berinovasi dan mendapatkan hasil yang sangat baik
Seberapa efektifkah usaha Anda dalam menerapkan inovasi baru (inovasi seperti promosi baru, produk
baru, cara beroperasi baru, dst.)?
Methodology
Riset ini menggunakan metode kuantitatif dengan mendistribusikan kuesioner secara online pada November – Desember 2022, yaitu dalam acara tahunan MarkPlus berjudul Galang UKM Indonesia (GUKMI) Edisi ke-7 serta melalui berbagai platform media sosial MarkPlus, E-mail serta WhatsApp Blast kepada kontak-kontak yang terdaftar di dalam database MarkPlus.
Jumlah responden dalam studi ini adalah 100, dengan 3.96% berusia < 17 tahun, 10.89% berusia 17-24 tahun, 38.61% berusia 25-40 tahun, 42.57% berusia 41- 56 tahun, dan 3.96% berusia > 56 tahun. Bidang usaha UMKM yang menjadi responden dalam studi ini terdiri dari Makanan dan Minuman 61.0%, Tekstil (Kain) dan Pakaian jadi 9.0%, Kayu 3.0%, Pencetakan dan reproduksi media rekaman 3.0%, Farmasi 2.0%, Peralatan listrik 2.0%, Jasa (transportasi) 9.0%, Pertanian 2.0%, Kursus digital marketing 1.0%, Kecantikan & Skincare 2.0%, Fotocopy & ATK 1.0%, Jasa Pendampingan UMKM 2.0%, Penjualan Pulsa 1.0%, dan Fanmade Merchandise 1.0%. Responden yang mengisi survei umumnya berdomisili di Jawa Tengah dan DIY sebesar 20.0%, Bali, NTB dan NTT sebesar 17.0%, Jabodetabek 14.0%, Sumatra Utara 12.0%, Jawa Timur 11.0%, Jawa Barat dan Banten 9.0%, Kalimantan 7.0%, Sumatra Selatan 5.0%, Sulawesi 4.0% dan Maluku dan Papua 1.0%.
References
Chron (2021). “The Advantages of a Business Association” diakses dari https://smallbusiness.chron.com/reason-join-business-meeting- group-69185.html
CNN Indonesia (2022). “19 Juta Pelaku UMKM Masuk Ekosistem Digital per Mei
2022” diakses dari
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220616172828-92- 809888/19-juta-pelaku-umkm-masuk-ekosistem-digital-per-mei- 2022#:~:text=Jakarta%2C%20CNN%20Indonesia%20%2D%2D,UMKM%
20go%20digital%20di%202024
Harvard Business Review (2021). “Lessons on Resilience for Small and Midsize Businesses” diakses dari https://hbr.org/2021/06/lessons-on- resilience-for-small-and-midsize-businesses
Katadata (2022). “Indonesia Punya UMKM Terbanyak di ASEAN, Bagaimana Daya
Saingnya?” diakses dari
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/10/11/indonesia- punya-umkm-terbanyak-di-asean-bagaimana-daya-saingnya
Kemenko Perekonomian (2022). “Perkembangan UMKM sebagai Critical Engine Perekonomian Nasional Terus Mendapatkan Dukungan Pemerintah”
diakses dari
https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/4593/perkembangan- umkm-sebagai-critical-engine-perekonomian-nasional-terus- mendapatkan-dukungan-pemerintah
OJK (2022). “Peran Industri Jasa Keuangan dalam Mendukung Inklusi dan Digitalisasi UMKM” diakses dari https://www.ojk.go.id/ojk- institute/id/capacitybuilding/upcoming/1220/peran-industri-jasa- keuangan-dalam-mendukung-inklusi-dan-digitalisasi-umkm
The World Bank (2022). “Indonesia Economic Prospects (IEP), Juni 2022:
Pendalaman Keuangan untuk Pertumbuhan yang Lebih Kuat dan
Pemulihan Berkelanjutan” diakses dari
https://www.worldbank.org/in/country/indonesia/publication/indon esia-economic-prospects-iep-june-2022-financial-deepening-for- stronger-growth-and-sustainable-recovery