Judul kegiatan: Pemeriksaan Pasal 12 ayat (1) dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 tentang Persetujuan Tertulis Komersialisasi Fotografi Potret. Selain itu, ketentuan undang-undang hak cipta juga harus menjangkau pihak-pihak yang dirugikan oleh suatu karya fotografi potret. Undang-undang hak cipta hanya mengatur perlindungan dalam hal komersialisasi fotografi potret, dengan pembatasan komersialisasi untuk tujuan periklanan dan promosi.
Melihat kenyataan tersebut, tentu dapat dibayangkan betapa sulitnya menentukan dan memberikan perlindungan terhadap orang yang dipotret dalam bentuk komersialisasi penggunaan dan penyebaran fotografi potret di Indonesia, jika kerangka hukum dasar perlindungan hak cipta di bidang fotografi potret. komersialisasi fotografi potret masih belum lengkap. Apa definisi dan kriteria yang dapat dijadikan tolok ukur komersialisasi fotografi potret? Bagaimana seharusnya undang-undang hak cipta memberikan perlindungan hukum bagi yang memotret sehubungan dengan komersialisasi fotografi potret? 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dapat memberikan perlindungan maksimal terhadap hak orang yang memotret untuk tujuan komersial.
Dalam hal ini baik fotografer maupun pihak yang membeli hasil potret (foto potret) fotografer tersebut melanggar hak cipta karena komersialisasi foto potret yang terdapat dalam kaos tersebut dilakukan tanpa izin tertulis dari pihak yang difoto, sedangkan penataan potret tersebut merupakan komersialisasi dalam undang-undang no. 28 Tahun 2014 tentang hak cipta hanya dibatasi pada komersialisasi iklan dan papan reklame. Faktanya, peraturan hak cipta di bidang fotografi masih sangat lemah, karena undang-undang hak cipta hanya mengatur perlindungan dalam hal komersialisasi fotografi potret dengan pembatasan komersialisasi iklan dan baliho. Apakah penggunaan foto potret secara komersial untuk tujuan bisnis memerlukan izin tertulis dari orang yang difoto? Distributor kaos yang menjual kaos dengan motif fotografi pada potretnya sesuai dengan UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Permasalahan yang muncul dalam perkara ini terkait dengan isi atau ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang pada intinya melarang penggunaan secara komersial, penyalinan, periklanan, pendistribusian dan/atau pengkomunikasian potret yang dibuat untuk tujuan periklanan. tujuan. atau iklan tanpa persetujuan tertulis dari orang yang difoto atau ahli warisnya.
Beberapa pasal dalam UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mengatur tentang pengaturan hak cipta fotografi potret.
Undang-Undang ini berlaku terhadap
Undang-Undang ini mengatur
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi
Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk atas Ciptaan. mendapatkan manfaat ekonomi
Penjelasan Pasal 12 Ayat 1 Yang dimaksud dengan “tujuan periklanan atau promosi” adalah penerbitan potret antara lain pada iklan, spanduk, baliho, kalender, dan pamflet yang digunakan secara komersial. Ketentuan Pengumuman Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga terhadap Potret, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 12. 1) Hak Cipta adalah suatu benda yang tidak berwujud dan dapat dipindahkan.
Kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai pencipta, yaitu Orang yang namanya
Penggandaan untuk kepentingan pribadi atas Ciptaan yang telah dilakukan Pengumuman hanya dapat dibuat sebanyak 1 (satu) salinan dan dapat
Pengertian Iklan dan Reklame
- Rhenald Kasali (1992). Menjelaskan bahwa iklan secara sederhana ialah sebuah pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan
- Jenis Penelitian
- Pendekatan Penelitian
- Sumber Bahan Hukum
- Metode Pengumpulan Bahan Hukum
- Metode Analisis Bahan Hukum
- kepentingan bisnis dalam dunia usaha
Yang dimaksud dengan pendekatan peraturan perundang-undangan adalah pendekatan yang dilakukan terhadap berbagai ketentuan hukum mengenai hak cipta fotografi potret di Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan pendekatan konseptual adalah pendekatan yang bertujuan untuk memahami konsep hukum dan asas hukum yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan terkait hak cipta fotografi potret di Indonesia. Fotografi potret atau fotografi potret adalah fotografi karakter atau sekelompok orang yang menangkap ekspresi, kepribadian, dan emosi subjek.
Perkembangan genre fotografi potret tidak lepas dari kelanjutan tradisi potret yang berlangsung pada era pra-fotografi. Dari uraian di atas mengenai pengertian komersialisasi dan juga pengertian fotografi potret, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian atau makna komersialisasi fotografi potret adalah suatu bentuk perdagangan karya kreatif fotografi dengan objek seorang tokoh atau sekelompok orang. . memusatkan perhatian pada wajah seseorang seperti ekspresi, kepribadian dan perasaan subjek untuk diubah menjadi suatu komoditas atau produk yang dapat menghasilkan keuntungan. Jadi secara keseluruhan berdasarkan kesimpulan di atas mengenai pengertian komersialisasi fotografi potret dan juga mengenai pengertian iklan dan komersil, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian dan kriteria komersialisasi fotografi potret adalah bukan untuk tujuan periklanan dan periklanan. tidak. adalah suatu bentuk jual beli karya kreatif fotografi dengan objek seorang tokoh atau sekelompok orang dengan fokus pada wajah orang tersebut seperti ekspresi, kepribadian dan perasaan subjeknya, dijadikan suatu komoditas atau produk yang dapat menghasilkan keuntungan. dihasilkan melalui sarana promosi dengan menggunakan iklan atau baliho untuk memperkenalkan produk atau jasa tersebut agar masyarakat tertarik untuk menjualnya atau memperoleh keuntungan yang besar.
Berkaitan dengan hal tersebut, banyak sekali bermunculan usaha-usaha yang salah satunya adalah usaha pembuatan usaha “Distro Kaos Potret Fotografi” yang merupakan peluang usaha yang sangat menarik dan menguntungkan, karena anak muda saat ini sangat menyukai kaos dengan desain yang menarik. potret idola mereka dan kaos umumnya dipakai sehari-hari untuk semua kalangan. Konsep bisnis yang biasa dilakukan oleh “Distributor Kaos Fotografi Potret” adalah konsep distributor kaos yang menjual kaos dengan desain fotografi potret, serta kaos custom retail atau grosir. Konsep distro ini berbeda karena menawarkan desain khusus fotografi potret wajah yang menarik dan unik.
Sedangkan harga yang ditawarkan oleh "Distro Kaos Portrait Photography" bervariasi dan bersaing, mulai dari Rp 32.000,00 hingga Rp 32.000,00 tergantung model dan desain fotografi potret lengan pendek atau panjang. Berdasarkan ketentuan rumusan pasal UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Pengertian Reklame dan Baliho pada Bab II dari tinjauan pustaka pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fotografer akan mengkomersialkan karyanya. dalam bentuk foto potret, harus disertai persetujuan tertulis dari yang difoto, dengan batasan kepentingan penggunaan komersial (penggandaan, pengumuman, distribusi dan/atau komunikasi potret) atas foto potret yang dihasilkan. terbatas pada penggunaan untuk keperluan periklanan atau billboard saja, termasuk namun tidak terbatas pada pengunggahan potret pada iklan, spanduk, baliho, kalender dan brosur. Artinya komersialisasi, kecuali untuk tujuan periklanan atau papan reklame, tidak memerlukan izin tertulis dari orang yang difoto untuk penggunaan komersial atas foto potret tersebut.
Sedangkan komersialisasi dalam dunia usaha tidak hanya dilakukan untuk kepentingan periklanan atau billboard saja, namun dilakukan untuk kepentingan bisnis, seperti usaha penjualan kaos dengan desain fotografi potret. Tentunya dalam hal ini orang yang difoto harus melepaskan haknya baik secara etika maupun ekonomi atas keuntungan yang diperoleh dari penjualan kaos dengan desain fotografi potret yang menampilkan potret dirinya pada kaos tersebut, karena Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 tidak mewajibkan fotografer untuk melakukan fotografi potret, ia harus meminta persetujuannya jika ia mengkomersialkan karyanya fotografi potret yang bukan untuk keperluan iklan atau papan reklame. Dalam hal ini yang dilakukan oleh fotografer adalah mengkomersialkan karya kreatifnya berupa fotografi potret tanpa izin tertulis dari orang yang dipotret karena bukan untuk tujuan periklanan atau billboard yang sah, dengan kata lain tidak sah. melanggar Undang-Undang Hak Cipta No 28 Tahun 2014.
Jadi, pelaku usaha atau pemilik distro kaos dengan desain foto potret tidak serta merta melanggar Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014, jika foto potret yang dijadikan desain kaos diperoleh atas izin fotografer dan bukan melalui pembajakan atau plagiarisme. Menurut penulis, sebaiknya ditambahkan ketentuan yang lebih luas pada Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Hak Cipta no. 28 Tahun 2014 tentang pentingnya komersialisasi fotografi potret, yang tidak hanya untuk tujuan periklanan atau publisitas, tetapi juga untuk kepentingan dunia usaha, harus ada persetujuan tertulis dari pihak yang terlibat. orang yang difoto juga dilindungi.
Kesimpulan
IDENTITAS DIRI
RIWAYAT PENDIDIKAN No Strata Nama dan Kota
DAFTAR PENELITIAN
18 Pemeriksaan hukum atas catatan kesehatan pemakaman dari sudut pandang hak untuk memperoleh informasi yang benar Pasal 14, par. 1, UU Hak Asasi Manusia. 19 Pemeriksaan hukum protokol kesehatan pemakaman dilihat dari Pasal 3 ayat 3, dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.