“INTEGRASI SOSIAL KELOMPOK MUSLIM DENGAN KELOMPOK NON MUSLIM DI JORONG JAMBAK JALUR V NAGARI
KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO KABUPATEN PASAMAN BARAT
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
INTEGRASI SOSIAL KELOMPOK MUSLIM DENGAN KELOMPOK NON MUSLIM DI JORONG JAMBAK JALUR V NAGARI
KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO KABUPATEN PASAMAN BARAT”
ARTIKEL
NOPITASARI 12070010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2016
INTEGRASI SOSIAL KELOMPOK MUSLIM DENGAN KELOMPOK NON MUSLIM DI JORONG JAMBAK JALUR V NAGARI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Social Integration Between Muslim Group With Non Muslim Society in Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo of West Pasaman. Essay, Sociology Department,
STKIP PGRI West Sumatera, Padang, 2016.
Oleh:
Nopitasari1, Wahyu Pramono2, Adiyalmon3
* The Sosiology Education Student of STKIP PGRI West Sumatera.
** The Sosiology Staff of Sosiology Education of STKIP PGRI West Sumatera.
ABSTRACT
Indonesia is known as the nation with plural society. In which the society consists of religion, race, ethnic and culture. Society of Jorong group Jambak Jalur V Nagari Koto Baru is a society that has a wide variety of religions, including Islam and Christianity. Despite many differences, but never caused a conflict. In this study aims to describe the muslim social integration with non muslim in Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Nan Duo Luhak District ofm West Pasaman.
The theory used is the theory of integration by Vandoor and Lammers. This study used a qualitative approach with descriptive type. Data collection tools are observation, interviews, and document of the unit of analysis is the group. Model analysis of the data used in this study is Miles and Huberman which consists of three stages: data reduction, data display or data presentation and conclusion.
From the results of this study revealed that the integration between muslim group with the society of non muslims are the process of cooperation, thats is the people who live and work together, and doing social activities such as PKK, training cooking, exercising the volly ball , etc. Where the deplace which make the muslim society with non muslim society to integrate is their educational, economic, cultural and art institutions. Factors that strengthen the muslim society with group non muslims society such as: (a) The equation needs, (b) The agreement or consensus value, (c) The tolerance factor, such as: (1) The freedom of worship, (2) Mutual respect and appreciate.
Key Words: The Muslim Group Social Integration With Non Muslim Group
1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
2 Pembimbing I, staf Pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
3 Pembimbing II, staf pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
NOPITASARI (12070010). “Integrasi Sosial Kelompok Muslim dengan Kelompok Non Muslim di Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman
Barat”. Program Studi Pendidikan Sosiologi, STKIP PGRI Sumatera Barat. Padang. 2016.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat plural. Dimana dalam masyarakat terdiri dari agama, ras, etnis dan budaya. Kelompok Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Baru merupakan kelompok yang memiliki berbagai macam agama, diantaranya adalah agama Islam dan agama Kristen.
Meskipun memiliki perbedaan namun tidak pernah menimbulkan konflik. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan integrasi sosial kelompok muslim dengan kelompok non muslim di Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat.
Teori yang digunakan adalah teori Integrasi oleh Vandoor and Lammers. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Alat pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi dokumen dengan unit analisisnya adalah kelompok. Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model data Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: reduksi data, display data atau penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa integrasi sosial kelompok muslim dengan kelompok non muslim yang membuat kelompok menyatu adalah dalam proses kerjasama, yaitu kelompok yang hidup dengan bergotong-royong, dan melakukan kegiatan-kegiatan sosial lainnya seperti, PKK, pelatihan memasak, latihan olah raga bola volly, dan sebagainya. Dimana wadah yang membuat kelompok muslim dengan kelompok non muslim membaur adalah adanya lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, dan lembaga seni budaya. Faktor yang memperkokoh kelompok muslim dengan kelompok non muslim terlihat seperti: (a) Adanya persamaan kebutuhan, (b) Adanya Kesepakatan atau konsensus nilai, (c) Adanya faktor toleransi, yaitu: (1) Kebebasan dalam beribadah, (2) Saling menghormati dan menghargai
.
Kata Kunci: Integrasi Sosial Kelompok Muslim dengan Kelompok Non Muslim
PENDAHULUAN
Plural atau majemuk merupakan satu realitas yang tidak dapat dihindari dari negeri ini, negeri yang besar memiliki kekayaan alam dan budaya, yang mana banyak terdapat berbagai suku-suku, aliran kepercayaan, ras, agama, menjadikan Indonesia disebut sebagai Negeri yang multi dimensi. Hal ini juga yang menjadikan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai dasar falsafah Negara Indonesia. Dalam hidup berbangsa dan bernegara dewasa ini terutama dalam era modern ini, bangsa Indonesia harus memiliki visi serta pandangan hidup yang kuat agar tidak terombang-ambing di tengah-tengah masyarakat yang luas, karena budaya bangsa ini bisa bercampur dengan budaya luar dan dapat mempengaruhi masyarakat itu sendiri, sehingga jika tidak dapat memilah dan memilih yang baik dapat merusak kehidupan masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, bangsa Indonesia harus memiliki rasa
Nasionalisme. Kesadaran akan cinta tanah air sangat dibutuhkan setiap individu masyarakat Indonesia untuk menciptakan bangsa yang harmonis dan menjunjung nilai pancasila, agar dapat mempertahankan nilai solidaritas sosial yang menjadi identitas bangsa Indonesia (Kaelan, 2008:12).
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, tanpa interaksi sosial tak mungkin ada kehidupan bersama.
Bertemunya manusia dengan manusia lain tidak akan menghasilkan pergaulan tanpa adanya interaksi sosial (Soekanto, 2001:67). Terjadinya interaksi sosial akan menghasilkan aktifitas sosial. Pada dasarnya interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktifitas sosial. Salah satu sifat manusia adalah keinginan untuk hidup bersama dengan manusia lainnya. Dalam hidup bersama antara manusia dengan manusia atau manusia dengan kelompok tersebut terjadi
hubungan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui hubungan itu manusia ingin menyampaikan maksud, tujuan dan keinginan masing-masing. Sedangkan untuk mencapai keinginan itu harus diwujudkan dengan tindakan melalui hubungan timbal balik (Basrowi, 2005:138).
Interaksi merupakan yang tidak dapat dihindari atau tolak keberadaanya, mau tidak mau itu terjadi pada siapapun. Interaksi menyangkut berbagai aspek kerukunan umat manusia seperti suku bangsa, adat istiadat. Salah satunya adalah agama, salah satu fungsi agama ialah memupuk tali persaudaraan umat manusia yang tercerai-berai dan memelihara integritas kelompok atau masyarakat agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya dan dengan alam sekitarnya tidak kacau. Seperti yang kita ketahui di Negara Republik Indonesia, terdapat berbagai macam agama. Diantaranya adalah agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Semua penganutnya bebas memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing sesuai dengan Undang-Undang 1945 Pasal 29 Ayat 2 yang berbunyi “Negara menjamin tiap- tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” (Subandi, 2011: 346-347).
Kerukunan sebagai fakta hanya terdapat pada umat pemeluk agama yang sama, sebaliknya pembenturan yang banyak tejadi antar golongan pemeluk agama yang berlainan tidak sedikit menodai lembaran-lembaran sejarah. Keadaan ini tentu saja menjadi penyebab utama adanya saling tuduh dalam kehidupan bermasyarakat yang disebabkan adanya perbedaan iman, disamping itu faktor suku, ras dan perbedaan budaya turut memainkan peran yang tidak kecil (Puspito, 1983:169).
Kerusuhan antar Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA), seringkali terjadi di Negara ini. Masalah disintegrasi dan konflik sosial bernuansa SARA menjadi persoalan aktual yang banyak mendapat perhatian di Indonesia saat ini. Pluralitas yang ada dalam masyarakat dapat juga memicu konflik, seperti yang telah terjadi kekerasan terhadap pengikut aliran Ahmadiyah, yang mana bahwa latar belakang masalah dikatakan sebagai aliran yang
sesat dan menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri, kekerasan seringkali terjadi dengan mengatasnamakan kepentingan agama (kebenaran), ada juga kasus yang terjadi di Ambon Maluku pada tahun 1999-2002. Konflik yang dipicu oleh konflik interpersonal meluas menjadi konflik etnis religius dan menghancurkan tatanan sosial, ekonomi dan politik. Umat Islam dan Umat Kristiani saling berselisih, segregasi ini dipengaruhi oleh agama yang dapat dilihat secara geografis pembagian wilayah kedua komunitas. Umat Islam dan Kristiani menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial antar kedua komunitas dengan konflik yang besar sehingga terjadi kekerasan dan banyak pertumpahan darah (Susan, 2009:146- 149).
Selanjutnya konflik yang terjadi di Kinali, Pasaman Barat. Dimana terjadi konflik terbuka antara masyarakat yang beragama Islam dengan masyarakat yang beragama Kristen.
Antara lain yang terjadi di Bangun Rejo, yaitu penolakan masyarakat terhadap pembangunan Gereja yang berdekatan pada Mesjid pada tahun 1992. Selanjutnya amuk massa yang terjadi pada 19 Juli 2000 di Pasar Tempurung. Peristiwa terakhir ini mulanya diduga juga merupakan konflik antar penganut agama. Namun, kemudian diketahui sebab konflik adalah yang disebabkan oleh antar etnis, yakni etnis pendatang dengan etnis pribumi. Konflik antar agama yang sudah dimulai dari tahun 1992, terjadi lagi pada tahun 2012 dimana ribuan massa yang mengatasnamakan Forum Komunikasi Ormas Islam (FKOI) melakukan demo di halaman kantor Bupati pada tanggal 20 November. Dimana mereka memberikan ultimatum kepada Baharuddin, agar segera menertibkan dan melarang pekerjaan pembangunan perluasan Gereja yang ada di Pasaman Barat. Menurut Alif Syahyan, seorang yang berprofesi sebagai guru SMA yang bertempat tinggal di sekitar daerah Kinali tersebut, berpendapat bahwa konflik ini terjadi karena pendirian Gereja ini tidak memiliki surat izin mendirikan bangunan (IMB). Selain itu, menurut beliau FKOI ini menuntut agar Pasaman Barat bebas dari hiburan-hiburan malam, seperti kafe-kafe minuman keras, tempat bliar dan sebagainya. Untuk mengatasi hal itu, bupati Pasaman Barat segera menindak lanjuti
dengan cara memberi surat peringatan kepada semua Badan Organisasi terkait agar menghentikan pembangunan gereja tersebut.
Lalu, pada tahun 2014 terjadi pembakaran Gereja ST Maria oleh seseorang yang tidak diketahui atau yang tidak dikenal, menurut beliau pembakaran ini sudah direncanakan, sebab sehari sebelum kebakaran ada seseorang yang mengitari Gereja tersebut.
Jambak merupakan salah satu Jorong dari 8 (Delapan) Kejorongan di Nagari Koto Baru, Kabupaten Pasaman Barat, yang masyarakatnya memiliki agama yang berbeda-beda dan saling hidup secara berdampingan. Dimana mata pencaharian utamanya adalah petani. Penduduk di Jorong Jambak Nagari Koto Baru sangat berpegang teguh pada ajaran agama, yang dapat kita lihat pada tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka saling hormat menghormati antar sesama pemeluk dan juga antar umat yang berbeda agama. Kelompok Jorong Jambak Nagari Koto Baru memiliki 4 (empat) macam agama yaitu Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Adapun jumlah penduduk yang beragama Islam tercatat sebanyak 23.169 jiwa dan yang beragama Kristen tercatat sebanyak 2.000 jiwa, sedangkan untuk agama Hindu tercatat hanya 6 jiwa dan penduduk yang beragama Budha tercatat sebanyak 10 jiwa.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1.1
Jumlah Penduduk Menurut Agama di Nagari Koto Baru
No Agama
Jumlah
Total Laki-
laki Perempuan
1 Islam 11.627 11.542 23.169 2 Kristen 1.004 996 2.000
3 Hindu 3 3 6
4 Budha 5 5 10
Jumlah 25.185 Sumber: Kantor Wali Nagari Koto Baru, 2014
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa kelompok yang menganut agama Islam lebih mayoritas dibandingkan kelompok non Islam di Nagari Koto Baru, kelompok non muslim yang peneliti maksud adalah kelompok
yang beragama Kristen. Berdasarkan observasi awal diperoleh dari salah seorang kepala Jorong bahwa di Nagari Koto Baru khususnya di Jorong Jambak Jalur V terdapat 100 KK kelompok muslim dengan jumlah 393 jiwa dengan berbagai etnis yaitu etnis Jawa yang berjumlah 141 orang, etnis Mandailing dengan jumlah 105 orang, etnis Minang dengan jumlah 129 Orang, dan etnis Sunda 18 orang, sedangkan kelompok non muslim berjumlah 60 KK dengan jumlah 120 jiwa, yang memiliki etnis Jawa yang berjumlah 28 orang dan selebihnya adalah etnis Batak yang berjumlah 92 orang.
Kelompok antar agama yang ada di Nagari Koto Baru, khususnya di Jorong Jambak ini hidup secara bersama-sama dalam lingkungan sosial yang memiliki kemampuan untuk hidup dimasyarakat secara harmonis dalam kemajemukan. Akan tetapi sejauh ini tidak ada perpecahan (Konflik) atau kekerasan yang terjadi di dalam kelompok Jambak Jalur V ini. Banyak juga kegiatan yang dilakukan kelompok muslim dengan kelompok non muslim seperti bekerjasama dalam bergotong royong membersihkan lingkungan yang diadakan sekali dalam sebulan. Semua keadaan dimasyarakat tersebut berjalan dengan harmonis, jika dilihat dari latar belakang kondisi masyarakat di Indonesia saat ini banyak terjadi kerusuhan, konflik antar agama, antar paham keagamaan, akan tetapi hal ini tidak terjadi di Jambak Nagari Koto Baru.
Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan integrasi sosial kelompok muslim dengan faktor yang memperkokoh kelompok non muslim di Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat. Sedangkan teori yang digunakan adalah teori integrasi menurut Van Doors dan Lammer.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena dianggap mampu menggambarkan suatu kenyataan atau fenomena yang ada di lapangan dan bisa menjelaskan masalah yang akan diteliti secara mendalam. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif untuk mengungkapkan gambaran yang mendalam dan mendetail. Penelitian kualitatif
antara lain bersifat deskriptif, data yang dikumpulkan lebih banyak berupa kata-kata atau gambar dari pada angka-angka (Moleong, 2013:11).
Informan penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling, maksud Pemilihan informan secara purposive adalah menetapkan kriteria siapa yang layak dijadikan informan penelitian (Sangadji, 2010:188). Orang yang menjadi informan penelitian ini adalah: 1). Tokoh kelompok muslim, 2). Tokoh kelompok non muslim, 3).
Anggota kelompok muslim dan 4). Anggota kelompok non muslim.
Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilakukan di Jorong Jambak Jalur V Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat. Alasan penulis memilih lokasi ini karena lokasi ini berbeda dari lokasi lainnya, kelompok muslim dan non muslim hidup dalam suatu lingkungan yang sama yang memiliki perbedaan agama, tetapi sejauh ini tidak pernah terjadi konflik sehingga saya tertarik untuk melakukan penelitian tentang integrasi sosial kelompok muslim dan non muslim tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Integrasi Sosial
Kelompok yang ada di Nagari Koto Baru merupakan kelompok plural atau majemuk. Baik itu dari segi suku, agama dan lain sebagainya.
Keberagaman tersebut dapat dilihat dengan adanya perbedaan yang jelas berupa agama yang ada di Nagari Koto Baru. Setiap agama memiliki keyakinan yang berbeda-beda menurut kepercayaannya masing-masing sehingga perbedaan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Keberagaman agama yang ada di Nagari Koto Baru berdasarkan dari sumber data wali nagari tahun 2014, kelompok yang beragama Islam berjumlah 23.169 jiwa, kelompok yang beragama Kristen berjumlah 2000 jiwa, kelompok yang beragama Hindu berjumlah 6 jiwa, dan kelompok yang beragama Budha berjumlah 10 jiwa.
Kehidupan beragama antar kelompok muslim dengan kelompok non muslim di Nagari
Koto Baru, khususnya di Jorong Jambak terlihat sangat harmonis atau berjalan dengan sangat baik satu dengan yang lainnya. Kelompok non muslim yang peneliti maksud adalah kelompok yang beragama Kristen. Ini terlihat dengan adanya sikap toleransi, adanya saling tolong menolong, saling menghargai dan saling membantu baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang yang lain. Kelompok muslim dengan kelompok non muslim di Jorong Jambak ini juga saling berinteraksi dengan baik, adanya kerjasama dalam kegiatan sosial yang diadakan di Jorong mereka juga menghadiri dan ikut berpartisipasi, seperti gotong-royong, rapat organisasi kepemudaan dan kegiatan-kegiatan lain seperti PKK, Kegiatan olahraga, kegiatan memasak, dan kegiatan hari besar Nasional dan hari besar keagamaan. Dengan adanya kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan dan diikuti oleh kelompok yang berbeda agama ini dapat berbaur dalam kehidupannya.
Integrasi sosial kelompok muslim dengan kelompok non muslim (kristen) di Jorong Jambak Jalur V, Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat terjadi melalui lembaga-lembaga, yaitu:
1. Lembaga Pendidikan
Menurut para ahli sosiolog, pranata pendidikan dibedakan menjadi dua fungsi yaitu fungsi manifest dan fungsi laten pendidikan.
Fungsi manifest pendidikan berarti melakukan persiapan anggota masyarakat untuk mandiri, mengembangkan potensi tertentu demi kepentingan pribadi atau kolektif ataupun demi kepentingan masyarakat, pelestarian budaya, serta menjadikan individu memiliki keterampilan untuk hidup yang lebih baik.
Selanjutnya fungsi laten pendidikan memiliki maksud untuk pembinaan kemajuan dan menambah pengetahuan. Dimana dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi peranannya untuk masa yang akan datang.
Sekolah merupakan bentuk konkrit dari lembaga pendidikan.
Lembaga pendidikan secara umum memiliki fungsi pokok pendidikan sebagai berikut:
a) Sebagai sarana pelestarian serta pembelajaran budaya bangsa.
b) Sebagai sarana pembentukan karakter yang baik bagi masyarakat.
c) Mempersiapkan tenaga ahli serta profesional yang handal untuk menjawab tantangan masa depan.
d) Sebagai penguatan adaptasi diri dengan lingkungan masyarakat.
Kelompok muslim dengan kelompok non muslim yang membuat mereka membaur adalah dalam lembaga pendidikan, dimana kelompok muslim mau membantu menggajarkan memakai jilbab untuk yang non muslim yang diwajibkan dari sekolah bahwa semua siswa yang perempuan baik muslim maupun non muslim wajib menggunakan jilbab, begitu juga dalam mengerjakan tugas atau PR mereka bersama-sama mengerjakannya dan saling membantu. Dan dalam berteman di sekolah mereka tidak ada memilih-milih dan dengan menggabungkan tempat duduk antara yang muslim dengan yang non muslim membuat mereka membaur antara yang satu dengan yang lainnya.
2. Lembaga Ekonomi
Lembaga ekonomi muncul ketika orang mulai membutuhkan produk dari masyarakat atau orang lain menyangkut barang-barang kebutuhan pokok. Menurut Jonathan M. Turner (Kolip, 2011: 314) yang dimaksud dengan lembaga ekonomi adalah sekelompok status sosial, norma umum dan peran relatif stabil dan saling berhubungan disekitar pengumpulan sumber-sumber daya produksi dan distribusi barang serta jasa. Fungsi lembaga ekonomi antara lain:
a) Memberi pedoman untuk mendapatkan bahan pangan.
b) Memberi pedoman untuk melakukan pertukaran barang atau barter.
c) Memberi pedoman tentang harga jual beli.
Dalam lembaga ekonomi ini membuat mereka membaur adalah dalam bidang perdagangan dimana kelompok muslim dan non muslim bisa melalukan percakapan-percakapan atau interaksi diantara mereka, dan dalam bidang pertanian yaitu dalam mengolah kebun dimana mereka saling membantu dan menolong dan bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaannya.
3. Lembaga Seni Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan dan seni.
Bahasa, sebagaimana budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaanya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh, budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Budaya menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Di Jorong Jambak dalam lembaga seni budaya yang membuat kelompok muslim dengan kelompok non muslim adalah sebagaian dari kelompok non muslim mau menggunakan seni dan budaya yang dimiliki oleh etnis minang atau jawa, dan ini adalah salah satu yang membuat mereka membaur dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara dalam menggadakan acara-acara tertentu untuk menghargai kelompok lain mereka menggunakan budaya orang minang tersebut. Begitu juga dengan adanya sanggar tari, dimana kelompok muslim maupun non muslim mengikuti semua bentuk tari. Salah satu fungsi lembaga seni budaya inni adalah untuk mempertahankan dan menggembangkan budaya yang ada.
B. Faktor Yang Memperkokoh Integrasi Sosial Kelompok Muslim Dengan Kelompok Non Muslim
Jambak merupakan daerah yang ada di Nagari Koto Baru. Kelompok yang ada disini terdiri dari berbagai macam agama seperti agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha.
Banyaknya perbedaan-perbedaan di Nagari ini tidak menghalangi mereka untuk saling berinteraksi dan hidup saling harmonis dalam masyarakat. Bercampunya masyarakat yang berbeda agama di Jorong Jambak ini tidak
menimbulkan adanya permasalahan- permasalahan dalam masyarakat, tetapi mereka saling terintegrasi dengan harmonis dalam kehidupannya. Adapun faktor yang memperkokoh integrasi sosial kelompok muslim dengan kelompok non muslim ialah:
1. Adanya Persamaan Kebutuhan
Manusia, sebagaimana makhluk hidup lainnya mempunyai kebutuhan ini harus dipenuhi agar manusia ini bisa hidup. Manusia tidak hanya butuh makan, minum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, hiburan, dan sebagainya. Apabila kita mengamati kegiatan manusia yang ada di lingkungan sekitar kita, pasti berkaitan erat dengan macam aktivitas yang mereka lakukan. Jorong Jambak yang mayoritas kelompoknya adalah petani, mereka melakukan kegiatan dari pagi hingga sore hari, seakan-akan tidak mengenal waktu untuk istirahat. Walaupun ada kelompok yang berprofesi sebagai wiraswasta kebanyakan di Jorong Jambak ini memiliki pekerjaan yang rangkap, seperti pagi harinya kelompok non muslim ia bekerja sebagai tukang kredit dan siang harinya ia bekerja sebagai petani, begitu juga kelompok yang memiliki pekerjaan lain.
Dengan adanya kebutuhan atau tuntutan ekonomi juga membuat mereka membaur antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.
Walaupun kelompok di Jorong Jambak ini hidup dalam lingkungan agama yang berbeda, mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan dan manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Sehingga memperkuat hubungan sillaturahmi dan saling mengisi kebutuhan dalam kehidupan mereka.
2. Adanya Kesepakatan atau Konsensus Nilai
Salah satu yang dilakukan oleh kelompok muslim dengan kelompok non muslim adalah melakukan kesepakatan dengan cara akomodasi.
Menurut Soekanto (2001: 68-70) Akomodasi adalah suatu proses dimana orang atau perorang atau kelompok manusia yang awalnya saling bertentangan kemudian melakukan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan.
Jorong Jambak melakukan akomodasi dengan
cara membuat organisasi kepemudaan, dimana organisasi kepemudaan ini diikuti oleh kelompok muslim dengan kelompok non muslim. Organisasi kepemudaan ini dibentuk bertujuan agar apabila terjadi konflik, akan diselesaikan dalam organisasi ini. Intinya adalah untuk menghindari konflik yang akan terjadi antara kelompok muslim dengan kelompok non muslim.
Organisasi kepemudaan ini dilakukan dalam setiap bulan dan setiap penyambutan acara-acara besar seperti acara-acara keagamaan dan acara Nasional, dimana organisasi ini selain dihadiri oleh pemuda-pemudi organisasi ini juga dihadiri oleh Kepala Jorong, pemuka agama dan ketua keamanan masing-masing agama. Dimana dalam organisasi ini diadakan rapat yang menjadi bagian-bagian yang penting dalam menjaga kehidupan yang harmonis dalam masyarakat. Hal ini dilakukan demi tercapainya kesepakatan bersama dan tidak adanya kesenjangan sosial antar agama di Jorong Jambak, dimana setiap keputusan yang diputuskan secara bersama dengan cara musyawarah antara kelompok muslim dengan kelompok non muslim, dan apapun hasil keputusan yang sudah dimusyawarahkan harus dihargai dan harus dilaksanakan.
Hal-hal yang sudah disepakati oleh kelompok muslim dengan kelompok non muslim adalah tidak boleh melakukan aktivitas menyanyi-nyanyi lewat dari pukul 00.00 wib, menutup kedai tuak atau fakter atau warung minuman keras untuk selamanya, dan tidak boleh melakukan perluasan Gereja maupun memindahkan Gereja di tanah sosial masyarakat.
3. Adanya Faktor Toleransi
Salah satu faktor yang mendorong integrasi dalam kelompok adalah faktor toleransi. Dimana hubungan antara manusia dan agama merupakan hubungan totalitas.
Bagaimanapun manusia tidak bisa dipisahkan dengan agama. Pada dasarnya setiap makhluk sosial walaupun berbeda-beda suku, agama, ras dan golongan akan saling membutuhkan.
Menurut Poerwardarminto (1986:184), toleransi merupakan sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta memperbolehkan suatu pendirian, pendapat,
kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri. Sedangkan secara terminologi, menurut Umar Hasyim (1979:22), toleransi merupakan pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing. Selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat.
Dalam melaksanakan toleransi beragama kita harus mempunyai sikap atau prinsip untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan, yaitu:
a) Kebebasan Beragama
Hak asasi manusia yang paling esensial dalam hidup adalah hak kemerdekaan atau kebebasan untuk berfikir maupun kebebasan untuk berkehendak dan kebebasan dalam memilih kepercayaan atau agama. Sesuai dalam peraturan Undang-Undang Dasar yang disebutkan dalam pasal 29 ayat 2 yang menyatakan “Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing- masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” (Subandi, 2011: 346-347).
Hal ini jelas bahwa negara sendiri menjamin penduduknya dalam memilih dan memeluk agama atau kepercayaannya masing-masing serta menjamin dan melindungi penduduknya di dalam menjalankan peribadatan menurut agama dan kepercayaannya.
Meskipun di Jorong Jambak Jalur V ini terdiri dari berbagai berbagai macam agama terlihat bahwa dalam kehidupan mereka tidak ada sikap saling memaksakan kehendaknya untuk masuk atau pindah agama ke agama yang dianutnya. Mereka tetap hidup dalam agamanya masing-masing dengan memegang teguh prinsip kebebasan dalam beragama.
b) Sikap Saling Menghormati dan Menghargai
Etika yang harus dilaksanakan dari sikap toleransi setelah memberikan kebebasan dalam beragama adalah menghormati dan menghargai keragaman dan perbedaan ajaran masing-masing agama yang dianut dalam bentuk
tidak mencela, memaksakan dan bertindak sewenang-wenang dengan pemeluk agama lain.
Di Jorong Jambak ini meskipun mereka terdiri dari berbagai agama yaitu agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha, tetapi mereka tetap menjaga kerukunan antar umat beragama.
Mereka saling menghargai dan menghormati terhadap agama lain. Disini mereka pandai menyesuaikan diri, bergaul dan bersosialisasi.
Meskipun di Jorong Jambak Jalur V terdiri dari berbagai macam kegiatan ritual agama yang dikerjakan dari masing-masing agama, tetapi tidak pernah terjadi gejala ganggu menganggu dalam kegiatan mereka. Mereka sangat saling menghargai perbedaan itu. Meski kelompok disini hidup dengan berbeda agama mereka tetap hidup rukun atau harmonis.
Dari penjelasan diatas terlihat bahwa kelompok muslim dengan kelompok non muslim sangat menjunjung tinggi sikap toleransi, dimana mereka saling menghormati dan saling menghargai dalam kehidupan mereka, baik dari segi ibadah dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing kelompok tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan bahwasanya faktor yang memperkokoh integrasi sosial kelompok muslim dengan kelompok non muslim, yaitu:
a. Adanya Persamaan Kebutuhan.
Dengan adanya persamaan kebutuhan, kelompok berinteraksi dengan baik dan berbaur baik dalam bidang pekerjaan maupun dalam bidang perdagangan.
b. Adanya Kesepakatan atau Konsensus Nilai Adanya kesepakatan yang dibuat dalam kelompok, seperti tidak boleh mendirikan Gereja di tanah soisal, menyanyi-nyanyi lewat dari pukul 00.00 wib, dan harus menutup warung miras dan fakter atau kedai tuak. Semua kesepakatan ini dipatuhi oleh kelompok muslim dengan non muslim, sehingga mereka dapat hidup harmonis dalam menjalankan kehidupannya.
c. Faktor toleransi seperti:
1) Kebebasan dalam beribadah.
2) Saling menghormati dan menghargai.
Saran
Setelah melihat hasil penelitian yang terjadi di lapangan, maka peneliti menyarankan:
a. Diharapkan Kepala pemerintah Jorong Jambak agar lebih memperhatikan, dan mengarahkan lagi kehidupan sosial kelompok muslim dengan non muslim agar dapat terintegrasi dengan baik.
b. Tokoh kelompok muslim dan tokoh kelompok non muslim agar bisa mengarahkan dan memberi masukan- masukan atau memberi ajaran-ajaran yang lebih baik, karena setiap agama pasti mengajarkan kebaikan.
c. Untuk anggota kelompok muslim dengan kelompok non muslim harus menjaga keharmonisan yang terjadi dalam kehidupan yang sekarang, sehingga kedepannya lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Basrowi. 2005. Pengantar Sosiologi. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Hasyim, Umar. 1979. Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai Dasar Menuju Dialog dan Kerukunan Umat Beragama. Surabaya
Kaelan. 2008. Pendidikan Pancasila.
Paradigma: Yogyakarta
Marsudi, Subandi. 2001. Pancasila dan UUD 45 dalam Paradigma Reformasi.
Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
.
Moleong, Lexy. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Puspito, Hendro. 1983. Sosiologi Agama.
Yogyakarta: Kanisius
Sangadji. 2010. Metodologi Penelitian.
Yogyakarta: CV Andi
Soekanto,Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Susan, Novri. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu- isu Konflik Kontemporer. Jakarta:
Kencana.