• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Jurnal Kependudukan Indonesia

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Jurnal Kependudukan Indonesia"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

Nasri Bachtiar, Mora J. Rasbi dan Rahmi Fahmi Memudarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. Artikel keempat berjudul Memudarnya Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Air ditulis oleh Deny Hidayati, peneliti senior dari Pusat Penelitian Kependudukan - LIPI. Lebih lanjut terlihat bahwa kelembagaan lokal dan kelembagaan pengelolaan air tradisional semakin memudar, serta terkikisnya 'rasa' kepemilikan bersama atas sumber daya air.

Pasal terakhir atau keenam menyoroti masalah korupsi dalam akses dan penggunaan sumber daya alam yang dimiliki secara komunal di Indonesia; ditulis oleh Lengga Pradipta. Masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan hidup selaras dengan alam dan lingkungan di sekitarnya. Artikel ini membahas perubahan kearifan lokal sebagai modal sosial dalam pemenuhan kebutuhan air dan sebagai bentuk perlindungan masyarakat terhadap sumber daya air.

Kata kunci: kearifan lokal, masyarakat, pengelolaan sumber daya air, tekanan penduduk, kegiatan ekonomi dan pembangunan.

JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA

DETERMINAN FERTILITAS DI INDONESIA (DETERMINANT OF FERTILITY IN INDONESIA)

Sebaliknya, wanita dengan kelahiran hidup lebih dari dua kali cenderung menurun seiring dengan peningkatan kuintil kekayaannya. Kuintil kekayaan perempuan berhubungan signifikan dengan jumlah kelahiran hidup yang dimilikinya (p-value <0,005). Proporsi wanita dengan 1 sampai 2 kelahiran hidup menurun karena semakin banyak anak yang meninggal.

Dengan nilai p = 0,001, terlihat bahwa jumlah anak yang diinginkan (anak ideal) memiliki hubungan yang bermakna dengan jumlah kelahiran hidup (Tabel 6). Akses terhadap media KB berhubungan signifikan dengan jumlah kelahiran hidup dengan nilai p=0,001. Dengan nilai p = 0,001 menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara wanita yang tidak subur (infertil) dengan jumlah kelahiran hidup yang dimilikinya.

Dengan nilai p = 0,001, hal ini menunjukkan bahwa tempat tinggal mempunyai hubungan yang bermakna dengan jumlah anak lahir hidup (Tabel 11).

Gambar 1. Skema Kerangka Konsep
Gambar 1. Skema Kerangka Konsep

PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP KETIMPANGAN PENDAPATAN TENAGA KERJA DI INDONESIA

THE IMPACT OF EDUCATION ON INCOME INEQUALITY AMONG INDONESIAN WORKERS)

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa karyawan dengan pendidikan yang lebih tinggi akan menerima pendapatan yang tinggi. Namun demikian, ketimpangan pendapatan gender selalu terjadi di pasar tenaga kerja (Rau dan Wazienski dalam Miki dan Yuval, 2011). Martins dan Pereira (2004) melakukan penelitian di 16 negara pada pertengahan 1990-an dan menemukan bahwa pengaruh pendidikan terhadap pendapatan tenaga kerja laki-laki berbeda menurut distribusi pendapatan.

Sedangkan dengan pelatihan yang sama, pendapatan yang diterima pekerja di Papua akan cenderung lebih tinggi. 0,9 menggambarkan kuantil, y menunjukkan pendapatan tenaga kerja per jam (rupiah), pendidikan adalah pendidikan atau lama sekolah (tahun), sedangkan exp berhubungan dengan pengalaman (tahun). Rasio penduduk yang bekerja terhadap penduduk (Employment to Population Ratio atau EPR) dapat digunakan untuk melihat partisipasi kaum muda (15-24 tahun) di pasar tenaga kerja.

Namun jika dikaitkan dengan pendapatan yang diterima, dengan tingkat pendidikan tertinggi yang sama, pendapatan rata-rata laki-laki selalu lebih tinggi dari pendapatan rata-rata perempuan (Tabel 2). Sedangkan pekerja di Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat memiliki pendapatan rata-rata (rata-rata) tertinggi dalam rupiah per jam). Rasio pendapatan yang diterima pekerja pada desil yang berbeda dapat digunakan sebagai ukuran ketimpangan pendapatan.

Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima pekerja di Indonesia sangat beragam dan sangat beragam. Tenaga kerja dengan pendidikan tinggi dianggap memiliki kemampuan yang berbeda (khusus) sehingga penyebaran pendapatan yang diterima akan besar. Analisis inferensial kedua adalah menguji pengaruh pendidikan terhadap ketimpangan pendapatan tenaga kerja antar jenis kelamin.

Perempuan di Indonesia dapat menempuh pendidikan tinggi untuk mengurangi ketimpangan pendapatan gender di pasar tenaga kerja. Berdasarkan data BPS, pada tingkat pendidikan yang sama, penghasilan pekerja laki-laki selalu lebih besar dibandingkan pekerja perempuan.

Gambar 1. TPAK  di  Indonesia  Berdasarkan  Desil Pengeluaran  Rumah  Tangga  pada  Tahun 2002-2011 (Persen)
Gambar 1. TPAK di Indonesia Berdasarkan Desil Pengeluaran Rumah Tangga pada Tahun 2002-2011 (Persen)

ANALISIS KEMISKINAN ANAK BALITA PADA RUMAH TANGGA DI PROVINSI SUMATERA BARAT

ANALYSIS OF CHILDREN POVERTY IN HOUSEHOLDS IN WEST SUMATERA)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemiskinan anak balita pada rumah tangga di provinsi Sumatera Barat. Ukuran kemiskinan absolut untuk anak juga digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan anak di bawah usia lima tahun. Untuk menganalisis pengaruh karakteristik orang tua dan karakteristik rumah tangga terhadap kemiskinan absolut pada balita digunakan model analisis regresi logistik.

KARAKTERISTIK ORANG TUA DAN RUMAH TANGGA ANAK YANG DISURVEI MISKIN MUTLAK Kemiskinan absolut pada anak balita dapat dipelajari lebih lanjut dengan mengaitkannya dengan karakteristik. Persentase Kemiskinan Absolut Balita Menurut Tingkat Pendidikan Ibu dan Kepala Rumah Tangga di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2013. Persentase Kemiskinan Absolut Balita Berdasarkan Pekerjaan Kepala Rumah Tangga dan Kegiatan Utama Ibu di Provinsi Sumatera Barat, 2013.

Tabel 5 juga menyajikan ciri-ciri kemiskinan absolut anak di bawah usia lima tahun, menurut tingkat kemiskinan rumah tangga tempat tinggal anak di bawah usia lima tahun tersebut. Untuk anak balita, tidak ada perbedaan kemiskinan absolut relatif terhadap kemiskinan rumah tangga dengan anak balita. Artinya tidak ada hubungan antara kemiskinan absolut anak balita dengan kemiskinan rumah tangga.

Persentase balita miskin absolut menurut jumlah balita pada rumah tangga yang memiliki balita di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2013. Perbedaan proporsi kemiskinan absolut balita menurut jumlah balita di rumah tangga tempat tinggal balita terdapat perbedaan yang nyata (tingkat signifikansi 5%) dengan nilai tersebut. Hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah anak balita dalam rumah tangga dengan kemiskinan absolut pada balita.

Semakin rendah tingkat pendidikan kepala rumah tangga, semakin besar kemungkinan anak di bawah usia lima tahun menderita kemiskinan absolut. 74,1 persen balita di Sumatera Barat menderita kemiskinan absolut (terpapar pada dua atau lebih dimensi kebutuhan dasar).

Grafik 1. Persentase Anak Balita yang Mengalami Deprivasi Kebutuhan Dasar di Provinsi Sumatra Barat
Grafik 1. Persentase Anak Balita yang Mengalami Deprivasi Kebutuhan Dasar di Provinsi Sumatra Barat

MEMUDARNYA NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

WANING VALUE OF LOCAL WISDOM IN THE MANAGEMENT OF WATER RESOURCES)

Sayangnya, banyak kearifan masyarakat dalam mengelola sumber daya air di Indonesia yang mengalami pergeseran. Tulisan ini membahas pergeseran nilai kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Kearifan lokal sebagai modal sosial sangat penting dalam pengelolaan sumber daya air di suatu daerah.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal sarat akan makna kebersamaan dan memiliki fungsi sosial dan ekologis yang tinggi dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Kondisi ini terjadi terutama karena sumber daya air semakin terbatas dan sebaliknya kebutuhan air semakin meningkat. Kearifan lokal juga berfungsi sebagai tatanan sosial dalam menjaga keharmonisan hubungan dengan sumber daya air dan lingkungan sekitarnya.

Menurunnya kearifan lokal sangat disayangkan karena kearifan lokal dalam pengelolaan air mengandung nilai konservasi sumber daya. Masyarakat memahami bagaimana mengatur keseimbangan pemanfaatan dan konservasi sumber daya air melalui pelarangan. Kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air idealnya dipraktikkan secara terus menerus, namun tatanan sosial ini seiring dengan perkembangan dan perjalanan waktu menghadapi banyak tantangan sehingga mempengaruhi keberadaannya.

Tekanan penduduk terhadap sumber daya air berkaitan erat dengan peningkatan jumlah dan mobilitas penduduk serta perilaku mereka dalam pengelolaan sumber daya tersebut. Percepatan laju pembangunan di semua sektor telah menyebabkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya air. Pemerintah atas nama pembangunan seringkali mengabaikan kearifan dan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Hal ini sangat disayangkan karena dalam pengelolaan air, kearifan lokal memegang nilai pelestarian sumber daya ini. Nilai kearifan lokal dalam pengelolaan air di Telaga Omang dan Ngloro, Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN PENGUSAHA KECIL DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHANYA DI MASA DEPAN: STUDI KASUS PENGUSAHA

PAKAIAN JADI DI DEPOK

ENTREPRENEURIAL CHARACTERISTICS OF SMALL ENTREPRENEURS AND THEIR BUSINESS DEVELOPMENT STRATEGY IN THE FUTURE: CASE STUDY

OF APPAREL ENTREPRENEURS IN DEPOK)

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kewirausahaan pengusaha kecil sandang di Bulak Timur Kota Depok. Selanjutnya Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden usaha kecil menghadapi kendala dalam menjalankan usahanya. Sedangkan pada karakter kedua yaitu kemandirian persentase responden yang memiliki kemandirian lebih rendah lagi yaitu hanya 43,7%.

Karena persentase responden independen yang rendah, maka proporsi responden yang dapat digolongkan individualis tidak terlalu tinggi yaitu hanya 50%. Hal ini merupakan kelemahan para pemilik usaha kecil yang disurvei, yang dapat menghambat upaya memajukan usaha di masa mendatang. Data dari lapangan menunjukkan bahwa persentase responden yang memiliki keinginan berprestasi tinggi adalah 71,9%.

Selanjutnya pada tanda ketiga, ternyata hanya 56,2% responden yang memiliki ketekunan dan keberanian yang tinggi. Sedangkan persentase responden yang memiliki determinasi tinggi dan kerja keras cukup banyak yaitu 68,8%. Data pada grafik 4 menunjukkan persentase responden yang memiliki keberanian tinggi untuk mengambil risiko hanya sebesar 53,1%.

Bagaimana responden mencapai karakteristik kewirausahaan tersebut dapat dilihat pada grafik 5, dimana persentase responden yang memiliki perilaku kepemimpinan yang tinggi hanya sebesar 43,7%. Persentase responden yang memiliki keinginan tinggi untuk bersosialisasi dengan orang lain cukup baik sebesar 78,1%. Namun sangat disayangkan, dari seluruh responden yang diwawancarai hanya 56,2% yang memiliki keinginan besar untuk menerima saran dan kritik.

Hal ini juga dibuktikan lagi dengan rendahnya persentase responden yang memiliki kreativitas tinggi yaitu hanya sebesar 46,9%. Di sisi lain, rendahnya penilaian responden terhadap kualitas originalitas ini juga ditunjukkan oleh rendahnya persentase responden yang memiliki jaringan usaha cabang, yaitu hanya 28,1%.

Tabel 1. Identitas Responden Saat Memulai Usaha (n=32)
Tabel 1. Identitas Responden Saat Memulai Usaha (n=32)

CORRUPTION IN ACCESSING AND UTILIZING THE COMMON PROPERTY RESOURCES IN INDONESIA

KORUPSI DALAM MENGAKSES DAN MENGGUNAKAN SUMBERDAYA ALAM MILIK BERSAMA DI INDONESIA)

Discussing about natural resources also means that we are discussing about common property resources, or most commonly called common pool resources (CPRs). The example of common pool resources includes both natural and man-made systems such as rivers, fields and forests. Regulation or legal reforms serve as a useful prism through which to view some of the continuing dilemmas affecting the overall enterprise of common-pool resource management (Lindsay, 2004).

At the same time, there is a gap between regulations and massive corruption in the resources of the common pool. Corruption in common resources destroys local communities in many forms, social and ecological sustainability or even their living conditions. Moreover, the root of the environmental problem is corruption in the management of common resources, and its purpose is to maintain control over natural resources both economically and politically.

This article began with social and ecological systems as a premise that can lead to good management of common pool resources. In this phase, the analysis begins with an overview of the social ecological systems (SES) framework – in West Pasaman district – and mainly focuses on the management of common pool resources. Finally, the findings and discussion will be summarized with an outline of policy implications and further research on resource pooling in Indonesia.

As mentioned earlier, Common Pool Resources (CPR) are resources in which; (i) consumption by one limits consumption by the other and (ii) it is difficult to exclude people from it. Many scholars tried to find a well-established formula to save the common resources from destruction. In addition, the difficult geographical conditions of common resources are another major obstacle.

The aim of this article is to understand the reasons why corruption affects the regulation of users of common pool resources (CPR) and, more specifically, to explore the socio-environmental systems (SES) in the context of common pool resources. The paper contributes to our theoretical understanding of the relationship between corruption and common resources in two different ways.

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Konsep
Tabel 2 memperlihatkan mayoritas wanita berumur 15- 15-19 tahun dan 20-29 tahun, yaitu masing-masing sebesar 15 persen
Tabel 1. Distribusi  Responden  (Wanita  Usia  Subur 15-49  tahun) Menurut Jumlah Anak Lahir Hidup, SDKI 2012
Tabel 6. Analisis Hubungan Variabel Indeks Kuintil Kekayaan , Jumlah Anak yang Meninggal, Jumlah Anak yang Diinginkan dan Jumlah Anak Lahir Hidup yang Dimiliki, SDKI 2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

This study was conducted to see whether a structured door-knocking strategy as an innovation of interpersonal communication and a special form of approach can increase the effectiveness