Memahami adaptasi penduduk terhadap perubahan iklim untuk memenuhi kebutuhan air bersih di pulau-pulau kecil Belitung dan Bintan. Namun pengelolaan air (water governance) belum menjadi prioritas padahal hal ini penting untuk meningkatkan kemampuan adaptasi penduduk terkait pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau-pulau kecil. MEMAHAMI ADAPTASI PENDUDUK TERHADAP PERUBAHAN IKLIM UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AIR BERSIH DI PULAU KECIL BELITUNG DAN BINTAN.
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji upaya adaptasi yang telah dilakukan oleh warga dan pemerintah pulau kecil Belitung dan Bintan. Namun pengelolaan air (water management) belum menjadi prioritas, padahal hal ini penting untuk meningkatkan kemampuan adaptasi penduduk dalam hal pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau-pulau kecil.
JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA
CONFLICTS AND SEGREGATION OF
HOUSING CLUSTER COMMUNITIES AND ITS SURROUNDING
KONFLIK DAN SEGREGASI KLUSTER PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA)
This results in a large differentiation of people's work in the residential cluster. The neighborhood is divided into blocks in a residential cluster and separate from the outside area in the local neighborhood. These empirical facts showed that residents in a residential cluster were more active in their village communities than residents in a local neighborhood.
In Villa Dago Tol Residential, for example, no residents of the local neighborhood were involved in the residents' activities in the housing cluster. In addition, in the residential cluster there is also a female routine activity, such as Koran recitation.
GLOBALISASI MIGRASI DAN PERAN DIASPORA
Suatu Kajian Pustaka
GLOBALIZATION OF MIGRATION AND THE ROLE OF DIASPORA
Lebih dari setengah (58,56 persen) dari para migran ini tinggal dan tinggal di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Amerika Utara, dan negara-negara di Eropa. Sumber data yang sama juga mencatat bahwa sekitar 30,6 persen migran internasional berada di negara-negara Asia, terutama di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pergeseran negara penerima migran terlihat jelas di negara-negara di kawasan Timur Tengah, meskipun secara keseluruhan terjadi peningkatan di hampir semua negara di kawasan tersebut.
Sementara itu, pertumbuhan imigran ke Amerika Serikat sebagai negara tujuan migrasi dari berbagai negara berkembang dan maju meningkat sebesar 90,0 persen, lebih rendah dari Jepang (123,1 persen). Di antara mereka, hampir setengahnya (58,78 juta orang) adalah diaspora yang berasal dari negara-negara OECD. Lebih lanjut, Gambar 6 menunjukkan bahwa diaspora dari negara-negara Eropa (Jerman, Irlandia, Inggris, Italia, Polandia, Prancis, Belanda, Norwegia, dan Swedia) masuk dalam 9 besar dari 15 kelompok diaspora terbesar di Amerika Serikat.
Mencermati data tersebut, persentase diaspora Tionghoa di Amerika Serikat paling rendah dibandingkan dengan diaspora negara-negara Asia lainnya. Migrasi yang terampil dan berpendidikan ini mengalir ke negara-negara industri maju di dunia Barat (seperti Amerika Serikat dan Kanada), Australia dan Selandia Baru (Arjona, 2013 dalam ICD 2014)3. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah diaspora Indonesia dari negara-negara OECD dan Amerika Serikat hanya sedikit dan belum masuk dalam kelompok negara terkait data diaspora yang dipublikasikan.
Pada umumnya mereka bermigrasi ke negara-negara di belahan bumi Barat, seperti Kanada dan Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman negara lain, dukungan kebijakan pemerintah sangat bermanfaat dalam memfasilitasi peran diaspora di negara asalnya. Pengalaman di negara-negara yang berhasil menggunakan diasporanya untuk pembangunan ekonomi, politik, dan sosial adalah pemberian status kewarganegaraan hukum.
DPSIR MODEL AS A TOOL TO ASSES LAND CONVERSION TARIFF POLICY IN YOGYAKARTA
MODEL DPSIR SEBAGAI METODE PENILAIAN KEBIJAKAN KONVERSI LAHAN DI YOGYAKARTA)
The Land Conversion Tariff
8 Year 2009 and Mayor's Decree (PERWAL) Yogyakarta no. 49 The 2008 Land Use Permit regulates in detail the mechanism and tariff for land conversion in Sleman District and Yogyakarta Municipality. An area of at least 100 m2 for the municipality of Yogyakarta and 600 m2 must have a letter of permission to convert the land use to another function. The land change consists of stages: from wet agricultural land (wet rice field) to dry agricultural land and from dry agricultural land to settlement or commercial area.
The implementation
The land conversion rate was introduced to hinder and further control rapid land use change. The risk of misapplication of the land conversion rates leads to an uncontrolled change of land use in another form. Adji, Marwasta & Nurjani, 2007) conducted a study on the impact of land use change on DIY groundwater, and the result is that land conversion has lowered DIY groundwater levels by 40 cm/year .
Land conversion is also suspected to be one of the reasons for the increase in air temperature in DIY. After the implementation of the land conversion fee, large investors stop the expansion of new housing and businesses. The smaller minimum area required to obtain permission for land conversion is expected to deter these small dwellings.
The existing land conversion rate is calculated on the basis of the land price by the Tax and Customs Administration (NJOP). This price is far below the real market price of the land, resulting in a very low conversion rate. Conversion rate policies introduced as a tool to manage land use change failed to function properly.
Since the implementation of the policy, Sleman Regency, the Regency with very active and rapid land conversion, has shown a decreasing trend of new land conversion. To prevent this, land conversion rate should also be introduced in Bantul Regency as well as Kulon Progo and Gunung Kidul Regency. The following steps should be taken to overcome land use conversion: Smaller minimum area requiring a permit for land conversion, higher land conversion rate, and development of land conversion rate in all Regencies in DIY.
EKOLOGI POLITIK DAN DINAMIKA SOSIO-EKONOMI DI DATARAN TINGGI KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH
POLITICAL ECOLOGY AND SOCIO-ECONOMY DYNAMICS IN UPLAND PEMALANG DISTRICT, CENTRAL JAVA)
Jika laporan di atas menyatakan bahwa konversi ini terjadi terutama di daerah kering dan gundul, maka dataran tinggi merupakan daerah yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Penelitian ini merupakan program Departemen Antropologi UGM untuk memahami pertumbuhan ekonomi baru di dataran tinggi Jawa: Dieng, Pekalongan dan Pemalang. Kondisi topografi kawasan Watukumpul terdiri dari daerah pegunungan dengan ketinggian rata-rata 450-800 meter di atas permukaan laut.
Pendekatan Ekologi Politik telah memberikan banyak wawasan baru tentang populasi dan situasi ekologis di dataran tinggi Jawa, khususnya Watukumpul. Perubahan ekologi melalui masuknya Albania telah mendorong diferensiasi sosial-ekonomi, khususnya sektor lapangan kerja di pedesaan dataran tinggi Pemalang. Dengan demikian, telah terjadi perluasan migrasi penduduk dataran tinggi ke dataran rendah, ke kota-kota, hingga ke luar pulau.
Kajian ini memberikan gambaran yang lebih luas tentang kajian dinamika kependudukan sejalan dengan dinamika kebijakan pengelolaan dataran tinggi dan perekonomian masyarakat setempat. Dinamika akses petani terhadap lahan di dataran tinggi merupakan bagian terpenting dalam pembangunan rumah, perekonomian dan persoalan lain yang lebih luas. Dalam konteks kajian di dataran tinggi Pemalang, penyempitan akses terjadi melalui kebijakan dan gerakan konservasi yang mendorong petani menanam kayu.
Pertimbangan serius lainnya dari penelitian ini adalah introduksi albasia telah membawa perubahan produksi tanaman pangan di dataran tinggi. Saya berpendapat bahwa produksi padi di dataran tinggi Watukumpul akan menurun akibat perluasan areal penanaman pohon albasia, seperti beberapa perhitungan Mr J di atas. Melihat kondisi pertanian di dataran tinggi yang begitu 'suram', target yang dicanangkan pemerintah provinsi di Jawa Tengah terkesan naif.
MEMAHAMI ADAPTASI PENDUDUK TERHADAP PERUBAHAN IKLIM UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH
DI PULAU-PULAU KECIL BELITUNG DAN BINTAN
UNDERSTANDING CLIMATE CHANGE ADAPTATION ON WATER FULFILLMENT FOR SMALL ISLANDS POPULATION
IN BELITUNG AND BINTAN)
Hal ini didasarkan pada argumentasi bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih tidak hanya bergantung pada kondisi fisik sumber air, tetapi lebih penting memahami perilaku penduduk dan kelembagaan setempat untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Pasokan air pada sumber air tersebut biasanya tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Tanjung Pandan dan Kota Tanjung Pinang. Pulau-pulau kecil di lokasi penelitian tidak terhubung dengan PDAM, sehingga untuk pulau Bintan dan Belitung, sumber air utama penduduk untuk air minum dan MCK adalah sumur bersama seperti terlihat pada grafik 1 dan 2 di bawah ini.
Pengambilan air dari sumber air lain/pulau lain Cara termudah untuk mengatasi masalah air adalah dengan mengambil air dari tempat lain atau bahkan pulau lain. Tidak perlu membayar air di pulau lain karena pulau dengan sumber air tawar relatif dekat dengan pulau tempat tinggalnya. Di tingkat masyarakat, respon ini terkait dengan upaya peningkatan stok air pada sumber air yang sudah digunakan, yaitu dengan memperdalam sumur.
Di tingkat masyarakat, diupayakan pencarian sumber air baru dengan membangun sumur sebagai sumber air minum. Di sisi pemerintah, seperti halnya di Bintan, diupayakan pencarian sumber air baru untuk sumber air baku PDAM di perkotaan. Biasanya air hujan digunakan sebagai sumber air minum karena air sumur di rumah ini berwarna merah.
Kawasan ini merupakan sumber air bersih bagi warga Desa Ptaling, bahkan saat musim kemarau sumber air ini menjadi sumber air bagi dua desa lainnya. Meski kemarau panjang, mereka masih memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Selat Nasik. Adaptasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih pulau-pulau kecil yang disurvei masih fokus pada adaptasi responsif/reaktif.
PENCIPTAAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF: STRATEGI
PENGURANGAN KEMISKINAN DAN PERLINDUNGAN SUMBER DAYA LAUT (STUDI KASUS KOTA BATAM DAN KABUPATEN PANGKAJENE DAN
KEPULAUAN)
ALTERNATIVE INCOME GENERATING ACTIVITIES: A STRATEGY FOR POVERTY ALLEVIATION AND MARINE RESOURCES PROTECTION
KEPULAUAN DISTRICT)
Oleh karena itu, kegiatan MJU perlu dipastikan tidak berdampak pada degradasi lingkungan di wilayah pesisir (Tobey, 2003). Khusus di pulau-pulau kecil dan pesisir, dana bantuan SPP dapat digunakan untuk kegiatan MPA bagi rumah tangga nelayan, meskipun dialokasikan langsung kepada kelompok perempuan. Menurut Tobey (2004), ada beberapa hal yang mendukung keberhasilan penciptaan dan pemberdayaan kegiatan KKL di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Seperti disebutkan pada bagian sebelumnya, bimbingan dan bantuan teknis diberikan kepada kelompok penerima bantuan modal untuk kegiatan KKL. Pemahaman akan hal tersebut menjadi landasan penting bagi upaya advokasi bagi masyarakat di wilayah pesisir akan pentingnya menciptakan kegiatan KKL. Selain itu, ketersediaan infrastruktur yang dapat mendukung pemasaran produksi kelompok kegiatan KKL di dua kawasan pesisir ini menjadi faktor penting.
Selain kegiatan penangkapan ikan, kegiatan KKL yang berpotensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir adalah industri rumah tangga yaitu pengolahan hasil perikanan. Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang melakukan kegiatan KKL di bidang pertanian, seperti mereka yang bercocok tanam sayuran. Secara konseptual, kegiatan KKL yang diperkenalkan oleh Coremap (serta program lain untuk pengentasan kemiskinan di wilayah pulau dan pesisir) bertujuan untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya laut.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam menghambat pelaksanaan kegiatan KKL adalah opini/penerimaan masyarakat terhadap bantuan yang diberikan. Namun, beberapa gagal mencapai tujuannya, misalnya bisnis KKL yang secara umum berkembang. Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor (pendukung dan penghambat) yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan KKL di lokasi penelitian.