DESAIN PROGRAM PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE REPRESENTATION
MELALUI COGNITIVE DISSONANCE UNTUK MEREDUKSI MISKONSEPSI KIMIA
Prof. Dr. Hayuni Retno Widarti, M.Si Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
dalam Bidang Ilmu Pendidikan Kimia
pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam disampaikan pada Sidang Terbuka
Senat Akademik Universitas Negeri Malang Tanggal 12 Mei 2022
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MALANG (UM) MEI 2022
DESAIN PROGRAM PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE REPRESENTATION
MELALUI COGNITIVE DISSONANCE UNTUK MEREDUKSI MISKONSEPSI KIMIA
Bismillahirohamanirohim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Yth. Ketua Senat Akademik Universitas Negeri Malang, Bapak Prof. Dr.
Suko Wiyono, S.H., M.Hum.
Yth. Rektor Universitas Negeri Malang, Bapak Prof. Dr. Ah. Rofi’uddin, M.Pd.
Yth. Para Anggota Senat Akademik, Ketua dan para Anggota Komisi Guru Besar Universitas Negeri Malang
Yth. Para Pejabat Struktural Universitas Negeri Malang
Yth. Rekan sejawat dosen, tenaga fungsional, dan mahasiswa Universitas Negeri Malang
Yth. Para tamu undangan dan hadirin yang berbahagia
Mengawali pidato ini, izinkanlah saya menghaturkan puji syukur atas ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita semua dan kami sekeluarga khususnya, sehingga pagi ini kita dapat berbagi kebahagiaan atas rasa syukur itu melalui majelis terhormat ini. Lebih khusus, saya bersyukur, pada hari ini saya masih diberi kesempatan dan kehormatan untuk
memenuhi tradisi akademik yang terpelihara dengan baik di Universitas Negeri Malang, yaitu menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam bidang Pendidikan Kimia di Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Kedua, saya sampaikan rasa terima kasih saya yang mendalam kepada Ketua Senat Akademik Universitas Negeri Malang, Bapak Prof. Suko Wiyono, beserta segenap anggota Senat Akademik dan Komisi Guru Besar, dan Rektor Universitas Negeri Malang, Bapak Prof. Ah. Rofi’uddin serta segenap jajaran pimpinan dan staf yang telah menghantarkan saya untuk mendapatkan kehormatan berdiri di mimbar ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Pidato ini saya beri judul Desain Program Pembelajaran Berbasis Multiple Representation Melalui Cognitive Dissonance Untuk Mereduksi Miskonsepsi Kimia. Judul ini saya ambil dari pengalaman saya dalam penelitian tentang miskonsepsi dan pemahaman konsep materi Kimia peserta didik baik di tingkat level SMA dan Perguruan Tinggi mulai tahun 2016 sampai dengan saat ini, serta saya lanjutkan dengan penelitian pengembangan media pembelajaran berbasis multiple representation dengan mengintegrasikan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran baik secara daring maupun luring dengan melibatkan mahasiswa bimbingan saya.
Hadirin yang berbahagia,
Kimia sebagai cabang ilmu sains tidak lepas dari konsep-konsep abstrak. Ini dirasakan peserta didik kita, bahkan di kalangan mahasiswa.
Abstraksi ilmu kimia ini berdasar pada materi ajar yang tidak tampak secara kasat mata, seperti struktur atom, molekul, dan ion. Semakin spesifik ilmu
yang dipelajari, semakin abstrak ilmu yang diterima (Luxford & Bretz, 2019).
Ilmu kimia lebih sulit dipahami siswa jika dibandingkan dengan ilmu pada bidang lainnya. Kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam memahami ilmu kimia dikarenakan konsep yang ada bersifat kompleks dan untuk menjelaskan fenomenanya banyak yang bersifat abstrak. Selain itu, dalam mempelajari kimia diperlukan pemahaman matematika dan hubungan antar konsep yang benar (Zidny & Eilks, 2020). Pemahaman siswa diawali dari memahami konsep yang sederhana lalu konsep yang lebih kompleks. Di samping itu, siswa harus memahami materi dalam waktu yang relatif singkat menjadikan kimia sebagai salah satu pelajaran di kelas yang sulit bagi siswa (Santos & Arroio, 2016).
Hadirin yang saya muliakan,
Mindset yang tertanam dalam benak siswa bahwa kimia itu sulit menjadikannya enggan untuk belajar kimia. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa kelas 12 terkait materi asam basa sebesar 6,49% siswa yang paham konsep dan sebanyak 36,67%
siswa tidak paham konsep. Pada kelas 11 menunjukkan hasil siswa yang paham konsep sebanyak 24,09% dan siswa yang tidak paham konsep sebanyak 25,61%. Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep kelas 12 dibandingkan dengan kelas 11 karena rendahnya retensi pemahaman konsep yang dimiliki oleh kelas 12. Jangka waktu kelas 12 memahami konsep asam basa dengan mengerjakan tes asam basa sangat lama sedangkan kelas 11 sekitar 1-2 minggu (Widarti et al., 2020). Faktor internal penyebab kesulitan belajar meliputi pemahaman terhadap materi kimia, kemampuan matematika rendah, dan kurangnya motivasi belajar kimia. Faktor eksternal penyebab kesulitan belajar meliputi metode
mengajar yang diterapkan guru, pengaruh negatif teman sebaya, keadaan dan waktu pembelajaran yang kurang kondusif (Yunitasari et al., 2019).
Permasalahan yang terjadi pada materi kimia dapat disebabkan oleh ketidakmampuan siswa melakukan transisi pemahaman di antara representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik sehingga berpotensi menyebabkan pemahaman siswa menjadi tidak tepat dan bahkan cenderung menimbulkan miskonsepsi (Santos & Arroio, 2016).
Salah satu kesulitan siswa dalam mempelajari kimia adalah tidak mampu mengkorelasikan pemahaman dari satu level representasi menuju level representasi lainnya (Farida et al., 2010). Miskonsepsi ini dapat menimbulkan konflik yang muncul ketika siswa merasa ketidakbenaran antara materi dan perilaku seseorang atau bisa disebut dengan cognitive dissonance. Seseorang harus termotivasi untuk mengurangi konflik itu, secara umum dengan mengubah keyakinan seseorang untuk menambahkan semangat belajar (Widarti et al., 2021). Dari uraian tersebut tentang ketiga aspek terkait multiple representation, miskonsepsi, dan cognitive dissonance memiliki peranan dalam proses kegiatan belajar kimia siswa. Oleh karena itu, inovasi pembelajaran perlu dikembangkan untuk mereduksi miskonspsi pada materi kimia.
Multiple Representation Hadirin yang saya muliakan,
Penjelasan fenomena ilmu kimia yang bersifat abstrak berdampak pada banyaknya peserta didik SMA kita yang kurang menyukai ilmu kimia.
Mereka bilang, kimia itu sulit difahami. Hasil riset kami bahwa peserta didik SMA tidak dapat menggambarkan/membayangkan dimensi-dimensi dalam ilmu kimia. Dimensi ini kita sebut sebagai multiple representation.
Multiple representation adalah representasi kimia dari dimensi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik (Gilbert & Treagust, 2009).
Multiple representation menjadi perpaduan antara teks, gambar nyata, atau grafik. Strategi pembelajaran dengan menggunakan multiple representation yakni seseorang yang membaca/memahami teks yang disertai gambar, aktifitas yang dilakukannya yaitu: memilih informasi yang relevan dari teks, membentuk representasi proporsi berdasarkan teks tersebut, dan kemudian mengorganisasi informasi verbal yang diperoleh (Taber, 2013).
Makroskopik menggambarkan fenomena nyata yang dapat diindera manusia, melalui penglihatan, penciuman, dan sentuhan. Submikroskopik menjelaskan fenomena kimia pada tingkat partikulat yang tidak dapat diindera manusia, seperti atom, molekul, dan ion. Simbolik menjelaskan fenomena kimia dengan menggunakan simbol, angka, huruf, ataupun tanda. Memahami multiple representation akan membantu siswa memahami konsep kimia secara utuh (Widarti et al., 2021). Memahami konsep jika tidak dihubungkan dengan multiple representation dengan benar, maka kemungkinan besar akan menimbulkan miskonsepsi (Guzel & Adadan, 2013).
Salah satu solusi mengatasi miskonsepsi adalah dengan menyesuaikan proses pembelajaran sehingga meningkatkan proses berpikir siswa melalui konflik kognitif, analogi, interaksi pasangan, metakognisi, dan demonstrasi (Linenberger & Bretz, 2012). Miskonsepsi dapat diatasi dengan menggunakan model perkuliahan yang inovatif, misalnya dengan menggunakan berbagai representasi. Beberapa representasi dapat memberikan dampak positif pada kemampuan siswa untuk membangun argumen di kelas. Selain itu, penggunaan beberapa representasi untuk mendukung tugas dapat bertindak sebagai alat pedagogis dalam meningkatkan pembelajaran kimia di sekolah (Guzel & Adadan, 2013).
Hadirin yang saya muliakan,
Level makroskopik memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati fenomena kimia melalui suatu percobaan atau eksperimen.
Siswa dapat melihat perubahan kimia secara langsung dengan melakukan observasi. Level ini menjelaskan fenomena yang nyata dalam pengalamaan sehari-hari. Siswa dapat mengamati perubahan yang terjadi pada sifat materi pembentukan gas, pembentukan endapan, perubahan warna larutan dan pH larutan. Salah satu contoh fenomena pada level makroskopik adalah perubahan kertas lakmus merah akan tetap merah mengandung larutan asam. Pada zat yang mengandung larutan basa yang mengubah kertas lakmus merah menjadi biru (Priyasmika, 2021). Siswa dapat mengamati secara langsung perubahan kertas lakmus yang ada menggunakan mata. Contoh pemahaman konsep level makroskopik disaji pada Gambar 1.
Gambar 1. Kertas Lakmus pada Beberapa Jenis Larutan Secara Makroskopik Sumber: Juniorscience.com (2018)
Representasi submikroskopik menjelaskan mengenai struktur dan proses pada level partikel (atom/molekular) terhadap fenomena makroskopik yang diamati. Penggunaan istilah submikroskopik merujuk pada level yang berukuran lebih kecil dari level nanoskopik yang akan direpresentasikan. Level representasi submikroskopik yang dilandasi teori
partikulat materi digunakan untuk menjelaskan fenomena makroskopik dalam gerakan partikel-partikel, seperti gerakan elektron-elektron, molekul-molekul dan atom-atom (Madden et al., 2011). Entitas submikroskopik tersebut nyata (real), namun terlalu kecil untuk diamati.
Operasi pada level submikroskopik memerlukan kemampuan imajinasi dan visualisasi. Bentuk representasi pada level ini dapat diekspresikan mulai dari yang sederhana hingga menggunakan teknologi komputer, yaitu menggunakan kata-kata (verbal), diagram/gambar, model dua dimensi, model tiga dimensi baik diam maupun bergerak (berupa animasi) (Nieves et al., 2012). Pemahaman kimia di level submikroskopik dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3.
Gambar 2. Reaksi Pelarutan Garam NaCl dalam Air Secara Submikroskopik
(a. padatan NaCl sebelum dilarutkan dalam air, b larutan NaCl) Sumber: docplayer.info (2020)
a b
Gambar 3. Tiga Wujud Air dalam Bentuk Padat, Gas, dan Cair Secara Submikroskopik
Sumber: Brown (2012)
Hadirin yang saya muliakan,
Representasi simbolik yaitu representasi kimia secara kualitatif dan kuantitatif, yaitu rumus kimia, diagram, gambar, persamaan reaksi, stoikiometri dan perhitungan matematik. Representasi simbolik bertindak sebagai bahasa persamaan kimia (the language of chemical equation), sehingga terdapat aturan-aturan (grammatical rules) yang harus diikuti. Level representasi simbolik mencakup semua abstraksi kualitatif yang digunakan untuk menyajikan setiap item pada level submikroskopik (McDermott &
Hand, 2013).
Level simbolik terdiri atas berbagai jenis representasi gambar maupun aljabar. Level simbolik ini dapat menjelaskan persamaan reaksi dari hasil eksperimen. Siswa menuliskan persamaan reaksi sesuai dengan hasil eksperimen yang telah dilakukan (Yuniarti et al., 2019). Pada umumnya pembelajaran kimia yang terjadi saat ini hanya membatasi pada dua level
representasi, yaitu makroskopik dan simbolik. Level makroskopik dipelajari terpisah dari dua level lainnya, sehingga siswa cenderung hanya menghafalkan representasi submikroskopik dan simbolik yang bersifat abstrak (dalam bentuk deskripsi kata-kata) akibatnya tidak mampu untuk membayangkan bagaimana proses dan struktur dari suatu zat yang mengalami reaksi (Priyasmika, 2021). Pemahaman kimia di level simbolik dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Reaksi Pembentukan Asam Sulfat Secara Simbolik Sumber: Hayuni Retno Widarti (2022)
Kajian kimia melibatkan tiga level representasi kimia yaitu level makroskopik, level submikroskopik dan level simbolik. Level makroskopik adalah fenomena kimia yang terlihat nyata menggunakan indra penglihatan (Widarti & Syafruddin, 2022). Multiple representation dalam pembelajaran kimia dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Multiple Representatation dalam Kimia Sumber : Hayuni Retno Widarti (2022)
Hadirin yang saya muliakan,
Beberapa hasil penelitian yang pernah saya lakukan diantaranya adalah: 1) Siswa kelas XI paling banyak mengalami miskonsepsi pada sub- konsep kekuatan asam dan basa dengan persentase 47,50%. Siswa kelas XII, mahasiswa semester II, dan IV paling banyak mengalami miskonsepsi pada sub-konsep pH asam dan pH basa dengan persentase secara berurutan adalah 67,37%; 53,81%;. 2) Tidak terdapat perbedaan kemampuan interkoneksi antara siswa yang memiliki kemampuan awal rendah, sedang, dan tinggi, taraf signifikansi yang diperoleh adalah 0,109.
3) Pemahaman konseptual resonansi pada kelas eksperimen (51,79) lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol (35,00). Selain itu, pemahaman konseptual kelompok siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis multiple representation lebih baik dibandingkan dengan kelompok
kontrol (Rokhim et al., 2020; Sutrisno et al., 2018; Widarti, Qodriyah, et al., 2020).
Sejumlah riset yang kami lakukan secara berkesinambungan, terhadap peranan multiple representation dalam pembelajaran kimia pada tingkat sekolah ataupun universitas, merekomendasikan perlunya pengaitan materi kimia yang bersifat abstrak dengan pendekatan ini. Multiple representation dapat digunakan untuk mendorong siswa membangun pemahaman terhadap situasi secara mendalam dalam pemahaman materi yang saling berkaitan dan komprehensif (Widarti, Nazriati, et al., 2020).
Merespon era distrupsi ini, visualisasi materi perlu ditingkatkan dengan multiple representation. Kuantitas dan konsep-konsep yang bersifat fisik seringkali dapat divisualisasi dan dipahami lebih baik dengan menggunakan representasi konkret.
Miskonsepsi dalam Ilmu Kimia Hadirin yang berbahagia,
Pemahaman konsep secara komprehensif bagi seorang guru adalah mutlak, sebab salah satu transfer ilmu pengetahuan dari guru. Pemahaman konsep yang kurang atau bahkan tidak komprehensif oleh guru akan menjadi bumerang bahkan malapetaka bagi siswa untuk memperoleh ilmu yang benar dan tepat (Pinarbasi, 2007). Pemahaman yang salah, rancu, atau (mungkin) miskonsepsi guru akan berdampak serius pada siswa, menyebabkan pemahaman konsep siswa yang tidak tepat bahkan salah.
Dari sinilah akan terjadi kesalahan fatal atau kegagalan total untuk terjadinya transfer pengetahuan tersebut. Konsep merupakan sentralnya ilmu-pengetahuan (Orgill & Sutherland, 2008). Meskipun kegagalan pemahaman konsep atau pemahaman konsep yang salah (tidak tepat) oleh siswa bukan satu-satunya sumber miskonsepsi, namun tidak bisa dipungkiri bahwa miskonsepsi para siswa juga dapat berasal dari guru.
Miskonspesi dapat terjadi karena prakonsep (preconcepts) dan miskonsepsi dari sekolah (school-made misconecptions) (Soeharto & Csapó, 2021).
Miskonsepsi sebagai akibat prakonsep dibawa oleh peserta didik melalui pengamatan terhadap fenomena kesehariannya. Misalnya, “gas adalah zat yang tidak mempunyai massa” dan “pembakaran adalah sesuatu yang lepas ke udara”. Jadi, miskonsepsi dapat terjadi karena konsep yang dikonstruksi sendiri oleh siswa, dan konsep yang dimilikinya berbeda dengan konsep yang dimiliki guru (Widarti, Qodriyah, et al., 2020).
Sedangkan, school-made misconceptions adalah miskonsepsi yang berkembang atau berasal dari pengajaran (pembelajaran) yang kurang-tepat atau salah (berasal dari guru) dan/atau topik-topik yang sukar (difficult topics).
Misalnya, pada topik kesetimbangan kimia (“konsentrasi reaktan sama dengan konsentrasi produk”), asam lemah (“mempunyai pH 3 atau > 3”), dan reaksi redoks (“selalu melibatkan oksigen”) (Sutrisno et al., 2018). Hal ini juga sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Barke et al. (2009) bahwa pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran yang dilibatkan dalam proses pembelajaran juga dapat menjadi penyebab siswa mengalami miskonsepsi.
Hadirin yang berbahagia,
Miskonsepsi dapat menghambat proses penerimaan dan asimilasi pengetahuan baru dalam diri siswa, sehingga akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran selanjutnya. Miskonsepsi masih menjadi salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah (Kane et al., 2016). Para peneliti miskonsepsi menemukan berbagai hal yang menjadi penyebab miskonsepsi pada siswa. Secara garis besar, miskonsepsi dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti siswa, guru, buku teks, konteks, dan metode mengajar. Banyaknya faktor yang menyebabkan miskonsepsi siswa, menjadikan semakin tidak mudah membantu siswa untuk mengatasi miskonsepsi mereka (Orgill & Sutherland, 2008). Hal
tersebut diperkuat bahwa miskonsepsi berbahaya sebab akan memberikan pemikiran dan rasa yang salah dalam memahami konsep sehingga terjadi hambatan pemahaman antara konsep sebelumnya yang salah dengan konsep baru yang sedang dipelajari (Widarti et al., 2017).
Berdasarkan hal-hal yang telah dideskripsikan di atas, dilakukan survey kepada para guru kimia di wilayah Provinsi Jawa Timur. Mengapa dilakukan kepada para guru? Dengan mempertimbangkan, bahwa miskonsepsi dapat berasal dari guru dan/atau konsep atau topik yang sukar (difficult concepts), maka penguasaan konsep yang benar dan baik (un- misconcepstions) dari para guru diyakini dapat mencegah atau menghindari terjadinya miskonsepsi para siswa. Jika terjadi miskonsepsi selanjutnya dilakukan pembenahan atau pembetulan melalui rekonstruksi konsep dari konsep yang mengalami miskonsepsi menggunakan strategi konflik kognitif dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing atau inkuiri terstruktur (Sutrisno et al., 2018).
Hadirin yang berbahagia,
Salah satu hasil penelitian yang menggambarkan miskonsepsi pada siswa sudah saya lakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi miskonsepsi sebesar 29,8% (kategori rendah). Miskonsepsi teridentifikasi pada 7 konsep materi hidrokarbon, diantaranya: konsep senyawa hidrokarbon (22,1%), kekhasan atom karbon (23,6%), jenis atom karbon (22,9%), struktur dan tata nama senyawa hidrokarbon (24,8%), sifat fisik dan kimia senyawa hidrokarbon (38,7%), isomer (45,1%), dan reaksi senyawa hidrokarbon (31,4%) ( Widarti, Qodriyah, et al., 2020). Adapun persentase dan miskonsepsi yang terjadi pada siswa dalam semua konsep pada materi hidrokarbon ditunjukkan pada Tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Persentase Tingkat Pemahaman Siswa pada Setiap Konsep dalam Materi Hidrokarbon
No Konsep
Kategori Jawaban (%) Paham Kurang
Paham
Tidak
Paham Menebak Miskonsepsi 1. Senyawa
Hidrokarbon
63,4 6,5 3,6 4,4 22,1
2. Kekhasan Atom Karbon
61,8 4,9 3,8 5,9 23,6
3. Jenis Atom Karbon 68,9 3,3 0,5 4,4 22,9 4. Struktur dan nama
tata Senyawa Hidrokarbon
66,2 4,6 2,3 2,1 24,8
5. Sifat Fisik dan Sifat Kimia Senyawa
41,4 8,5 8,1 3,3 38,7
6. Isomer 39,2 5,2 1,3 9,3 54,1
7. Reaksi Senyawa Hidrokarbon
44,4 8,5 1,2 8,1 31,4
Rata - Rata 55 5,9 3,9 5,4 29.9
Tabel 2. Bentuk Miskonsepsi Siswa pada Materi Hidrokarbon
No. Konsep Bentuk Miskonsepsi
1. Senyawa Hidrokarbon
- Senyawai hidrokarbon adalah senyawa yang mengandung unsur C, H, dan O.
- Siswa menganggap bahwa gula yang merupakan senyawa karbon hanya mengandung unsur karbon dan oksigen
2. Kekhasan Atom Karbon
- Ikatan antar atom karbon dalam senyawa karbon dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron merupakan jenis ikatan kovalen koordinasi
3. Jenis Atom Karbon
- Atom C sekunder adalah atom yang mengikat satu CH2. 4. Struktur dan
Tata Nama Senyawa Hidrokarbon
- Senyawa dengan rumus molekul C2H2 atau gas karbida digolongkan dalam deret homolog alkena.
- Penomoran senyawa hidrokarbon yang memiliki ikatan rangkap dimulai dari ujung paling dekat dari cabang atau gugus alkil.
5. Sifat Fisik dan Sifat Kimia Senyawa Hidrokarbon
- Titik didih semakin meningkat seiring dengan bertambahnya cabang alkil dan semakin menurun apabila massa molekul relatif semakin besar.
6. Isomer - Senyawa 1,3-pentadiena merupakan isomer fungsi dari senyawa 1-pentuna karena memiliki rumus molekul sama, namun jumlah gugus fungsional berbeda:
senyawa 1,3- pentadiena memiliki 2 gugus fungsional yaitu ikatan rangkap, sedangkan senyawa 1-pentuna memiliki 1 gugus fungsional yaitu ikatan ganda 3.
7. Reaksi Senyawa Hidrokarbon
- Reaksi eliminasi merubah senyawa yang memiliki ikatan rangkap menjadi senyawa yang tidak memiliki ikatan rangkap.
Selain itu, miskonsepsi bukan hanya terjadi pada siswa tetapi terjadi juga pada calon guru. Dalam penelitian yang pernah saya lakukan sebanyak 39% calon guru kimia memiliki miskonsepsi terkait pertanyaan memberikan penjelasan tentang teori resonansi. Masih banyak calon guru kimia yang menganggap bahwa struktur resonansi berada dalam keseimbangan satu sama lain. Kemungkinan hal ini terjadi karena penggunaan tanda panah (↔) dalam menggambarkan struktur-struktur resonansi suatu molekul organik yang mirip dengan tanda panah yang digunakan dalam reaksi kesetimbangan. Selain itu, beberapa calon guru kimia menganggap bahwa struktur resonansi merupakan dua atau lebih strukur lewis yang memiliki posisi atom dan tatanan elektron berbeda.
Pada dua soal terkait dengan menentukan struktur resonansi molekul organik jika rumusnya telah diketahui, sebanyak 29% dan 35% calon guru kimia memiliki miskonsepsi. Anggapan bahwa struktur resonansi merupakan dua atau lebih strukur lewis yang memiliki posisi atom dan tatanan elektron berbeda tertanam kuat pada calon guru kimia, sehingga calon guru mengabaikan pilihan jawaban yang benar. Selain itu, anggapan bahwa struktur resonansi adalah struktur yang mengandung atom bermuatan menjadi salah satu penyebab ketidakmampuan responden
dalam mengerjakan soal tersebut. Pada pertanyaan terkait menentukan jumlah struktur resonansi molekul CH3CONH2, hanya ada 18% calon guru kimia yang menjawab dengan benar. Hal ini mengindikasikan pentingnya penggunaan multiple representation dalam konsep resonansi.
Calon guru kimia masih kesulitan dalam menggambarkan struktur molekul organik jika diketahui rumus molekulnya. Salah satu penyebab calon guru kimia mengalami miskonsepsi pada kasus ini adalah ketidakmampuan mereka dalam menggambarkan struktur lewis dari molekul CH3CONH2, seperti terlihat pada contoh jawaban pada Gambar 6 (Widarti et al., 2017).
Gambar 6. Contoh Miskonsepsi Calon Guru pada Soal terkait menentukan jumlah struktur resonansi molekul CH3CONH2
Sumber: Hayuni Retno Widarti (2017)
Terkait tentang konsep perbedaan struktur resonansi dan isomer, ditemukan 12% calon guru kimia mengalami miskonsepsi. Selain itu tentang memprediksi struktur resonansi senyawa organik berdasarkan gerakan elektron berpasangan dengan notasi panah melengkung, terdapat 45% calon guru kimia yang mengalami miskonsepsi. Dalam hal ini tingginya miskonsepsi dikarenakan calon guru kimia tidak memperhatikan muatan formal atom–atom pada struktur resonansi hasil dari perpindahan elektron (Widarti et al., 2017).
Berbagai strategi pembelajaran yang telah saya kembangkan cukup tepat untuk mengurangi miskonsepsi tetapi tidak mampu membuat “zero miskonsepsi”. Hal ini dapat dimengerti karena miskonsepsi dapat bertahan
lama pada siswa dan sulit untuk diubah. Kegiatan tindak lanjut diperlukan untuk memungkinkan pemikiran logis siswa sebagai upaya mengubah miskonsepsi mereka menjadi paham konsep. Salah satu strategi untuk mengantisipasi miskonsepsi yang semakin rumit adalah dengan berdiskusi dan berkomunikasi dengan siswa sebelum memulai pembelajaran untuk mengetahui miskonsepsi yang dialami (Widarti et al., 2016).
Strategi Cognitive Dissonance (Disonansi kognitif) Hadirin yang saya banggakan,
Cognitive dissonance/disonansi kognitif dapat didefinisikan sebagai konflik yang muncul ketika ada ketidakkonsistenan antara keyakinan dan perilaku seseorang, atau antara dua kognisi (Lee et al., 2003). Menurut teori, disonansi kognitif memotivasi seseorang untuk mengurangi konflik, secara umum dengan mengubah keyakinan seseorang. Motivasi mendorong siswa untuk melakukan usaha lebih keras lagi sehingga memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal (Dumanaw et al., 2021).
Cognitive dissonance sebenarnya adalah salah satu strategi untuk menciptakan konflik kognitif. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Lee, et al.
(2003), bahwa cognitive dissonance memiliki aplikasi praktis dalam beberapa bidang, salah satunya bidang pendidikan yang dalam pembelajaran sering disebut dengan konflik kognitif.
Konflik kognitif sebagai persepsi di mana seseorang memperhatikan perbedaan antara struktur kognitif dan lingkungan (informasi eksternal), atau di antara komponen yang berbeda (misalnya, konsepsi, keyakinan, substruktur dan sebagainya) dari struktur kognitif seseorang. Alessandri et al., (2008) berpendapat bahwa ekuilibrasi mungkin mirip dengan disonansi kognitif Festinger atau mekanisme keseimbangan Heider. Penelitian terkait cognitive dissonance juga telah dilakukan oleh Izuma et al., (2010) yang menjelaskan seseorang yang mengalami cognitive dissonance setelah membuat
pilihan sulit antara dua item yang sama-sama disukai, tindakan menolak item favorit menyebabkan perasaan tidak nyaman (cognitive disonance), yang pada akhirnya memotivasi seseorang untuk mengubah pilihannya untuk mencocokkan dengan keputusan sebelumnya (yaitu mengurangi keinginan menolak item).
Hadirin yang saya banggakan,
Penelitian tentang cognitive dissonance dalam kimia melalui berbagai representasi yakni kombinasi representasi mendorong siswa untuk mencoba membuat hubungan antar representasi. Sebagai contoh penelitian ini telah diimplementasikan model multiple representation terkait dengan strategi cognitive dissonance pada pemahaman konsep asam lemah (Baddock & Bucat, 2008). Diharapkan dengan menggunakan metode ini terjadi perubahan pemahaman konsep.
Penelitian dengan mengintegrasikan cognitive dissonance dan multiple representation juga telah saya lakukan. Hasil penelitian yang saya lakukan terkait dengan menghitung konsentrasi titrasi redoks menunjukkan 66%
siswa mengalami miskonsepsi. Sebagian besar mahasiswa menggunakan rumus pengenceran yang seharusnya tidak selalu diperlukan dalam titrasi, tergantung reaksi yang terjadi. Selain itu, mahasiswa juga tidak menuliskan persamaan reaksi, dan salah dalam menghitung jumlah mol KMnO4. Hal ini dimungkinkan karena siswa belum memahami konsep reaksi redoks dengan baik, bahwa pada titrasi redoks jumlah elektron yang terlibat dalam persamaan reaksi berpengaruh dalam penentuan konsentrasi (Widarti et al., 2016). Contoh jawaban mahasiswa dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Contoh Jawaban Miskonsepsi Mahasiswa terkait Menghitung Konsentrasi Titrasi Redoks
Sumber: Hayuni Retno Widarti (2016)
Pada materi menginterpretasikan spesi-spesi ion dan menghitung nilai potensial (E) pada titrasi redoks beberapa mahasiswa masih memiliki miskonsepsi masing-masing sebanyak 23%, 20%, dan 14%. Contoh pertanyaan terkait penentuan spesi dan potensial pada titrasi redoks antara 50 mL 0,100 M Fe2+ (Eo Fe3+/Fe2+ = 0,767 V)dengan larutan 0,100 M Ce4+ (Eo Ce4+/Ce3+ = 1,70 V) terlihat pada kurva titrasi seperti pada Gambar 8.
Gambar 8. Grafik Titrasi Redoks Sumber: Hayuni Retno Widarti (2016)
Pada bagian menentukan spesi-spesi yang dominan pada penentuan potensial dalam larutan di titik K mahasiswa menjawab bahwa pada titik K (10 mL Ce4+) spesi yang dominan adalah Fe2+ dan Ce4+ karena sebelumnya hanya terdapat Fe2+ saja. Mahasiswa yakin bahwa dalam larutan tidak ada Fe3+ yang terbentuk. Hal ini juga terjadi pada titik M (penambahan 80 mL Ce4+) hanya ada spesi Fe2+ dan Fe3+. Pada hal titik M yang merupakan daerah kurva setelah titik ekivalen spesi-spesi yang dominan dalam penentuan nilai potensial adalah Ce2+ dan Ce4+. Hal yang sama juga terjadi pada titik L (50 mL Ce4+) hanya ada spesi Fe2+, Fe3+, dan Ce2+. Spesi Ce4+sudah habis bereaksi. Pada hal saat titik ekivalen jumlah spesi Fe2+ sama dengan Ce4+. Potensial keduanya identik sehingga spesi- spesi yang dominan dalam larutan pada saat titik ekivalen adalah Fe2+, Fe3+, Ce2+ dan Ce3+. Semua jawaban tersebut berdampak pada perhitungan potensial larutan, dimana mahasiswa tidak menghitung potensial berdasar reaksi yang terjadi dalam larutan tapi hanya menduga dari kurva (Widarti et al., 2016). Contoh jawaban mahasiswa terlihat pada Gambar 9 berikut:
Gambar 9. Contoh Jawaban Miskonsepsi Mahasiswa Pada Titrasi Redoks
Sumber: Hayuni Retno Widarti (2016)
Selain itu, penelitian lain yang saya lakukan yakni bertujuan untuk mengetahui kontribusi pembelajaran berbasis multiple representationmelalui strategi cognitive dissonance dan untuk mengurangi miskonsepsi yang dialami oleh mahasiswa kimia. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas control. Hasil peningkatan N- gain pada kelas eksperimen (68,56%) dibandingkan dengan kelas kontrol (42,42%). Reduksi miskonsepsi yang paling efektif dalam menggurangi kesalahpahaman terjadi di subjek titrasi argentometrik, dari 33,41 % hingga 8,79 %. Hal ini menunjukkan bahwa program pembelajaran berbasis multiple representation melalui cognitive dissonance dapat mereduksi miskonsepis tetapi tidak dapat sepenuhnya menghilangkan miskonsepsi (zero missconception), terutama untuk konsep terkait dengan representasi sub- mikroskopis dan simbolik (Widarti et al., 2021).
Pada tahap akhir kegiatan perkuliahan, mahasiswa diberikan angket yang berisi pernyataan untuk mengidentifikasi tanggapan siswa terhadap perkuliahan yang telah dilakukan (Widarti et al., 2021). Persentase rata-rata hasil angket tanggapan siswa terhadap perkuliahan dengan program pembelajaran berbasis multiple representation melalui cognitive dissonance ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Persentase Tanggapan Siswa Terhadap Pelaksanaan Kuliah Multipel representasi Cognitive Dissonance
No. Aspek yang Diukur Respon (%)
Positif Negatif
1. Multipel representasi 90,39 9,51
2. Cognitive Dissonance 69,35 30,65
3. Konten 95,80 4,20
4. Tugas 88,00 12,00
5. Motivasi 89,70 10,30
Program ini mendapat respon positif dari mahasiswa. Penggunaan program pembelajaran berbasis multiple representation melalui cognitive dissonance, menurut siswa dapat membantu mereka dalam membangun pengetahuan abstrak terutama terkait dengan spesi-spesi ion yang terlibat dalam reaksi, dan persamaan reaksi. Para mahasiswa menyatakan bahwa materi dalam analisis volumetri penting karena berkaitan dengan mata kuliah lain. Tugas diberikan untuk membantu mahasiswa memahami dan memecahkan masalah sehingga mereka sepenuhnya terlibat dalam proses belajar (Widarti et al., 2021).
Hasil penelitian yang telah saya lakukan juga didukung oleh peneliti lain mengenai reduksi miskonsepsi siswa sebelum dan sesudah penerapan pembelajaran dengan menggunakan strategi konflik kognitif pada konsep larutan asam basa. Dari hasil uji menunjukkan bahwa α-value yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya, strategi konflik dapat mereduksi miskonsepsi siswa pada konsep larutan asam basa (Solang et al., 2021).
Desain pembelajaran kimia dengan menggunakan strategi Cognitive Dissonance diharapkan dapat menjadi alternatif solusi yang dapat
“menggelitik” siswa bahwa konsep materi yang dimiliki masih belum tepat.
Strategi ini memiliki beberapa keunggulan seperti (1) meningkatkan pemahaman siswa dalam menggunakan multiple representation, (2) memotivasi siswa, (3) melatih mereka untuk beradaptasi dengan konsep baru, dan (4) mendorong siswa untuk bekerja sama meskipun fakta bahwa strategi ini kurang berhasil sepenuhnya merduksi miskonsepsi (Widarti et al., 2021). Dengan kata lain melalui strategi cognitive dissonance dengan memberikan beberapa pertanyaan dan gambar yang sesuai (multiple representation) dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan rasa ingin tahu terkait konsep yang diberikan, sehingga mempunyai pemahaman yang utuh dan mampu merduksi miskonsepsi.
Hadirin yang saya hormati,
Beberapa penelitan yang terkait pengembangan media pembelajaran barbasis multiple representation dengan mengintegrasikan teknologi juga telah saya lakukan. Sebagai contoh yakni pengembangan media pembelajaran praktikum virtual dengan pendekatan multipel representasi yang telah saya lakukan menunjukkan virtual lab mewakili visualisasi/representasi konsep kimia (termasuk multiple representation), dan persiapan diri peserta didik untuk praktikum menjadi matang. Keunggulan virtual lab yang mampu menampilkan model visual untuk menjangkau konsep dengan representasi hingga pada level submikroskopik yang diharapkan dapat menunjang dan meningkatkan pemahaman konseptual siswa melalui kegiatan praktikum, terutama materi pemisahan kimia (Widiarti et al., 2021). Berikut ini hasil pengembangan aplikasi media pembelajaran terlihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Aplikasi Virtual Lab Berbasis Multipel representasi Sumber: Hayuni Retno Widarti (2021)
Hasil Virtual Lab ini juga telah mengikuti Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) pada tahun 2019 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pada lomba tersebut juga memperoleh juara 3 pada bidang pengembangan media pembelajaran inovatif. Selain itu, juga mengikuti
kompetisi internasional CIVIC (Sabah International Virtual Inovation and Invantion Competition) tahun 2020 di Malaysia. Berikut dokumentasi kegiatan kompetisi terlihat pada Gambar 11 dan Gambar 12.
Gambar 11. Penerimaan Penghargaan saat Lomba LIDM Sumber: Hayuni Retno Widarti (2019)
Gambar 12. Penerimaan Penghargaan saat Lomba CIVIC Sumber: Hayuni Retno Widarti (2020)
Salah satu upaya untuk mengurangi miskonsepsi adalah dengan melakukan inovasi dalam proses pembelajaran dan mengoptimalkan media pembelajaran. Hal ini terlihat pada Tabel 4 menunjukkan beberapa produk media pembelajaran yang telah saya kembangkan dan didaftarkan ke HaKI (produk secara lengkap terlihat pada Lampiran).
Tabel 4. Daftar HaKI Media Pembelajaran
No No Pendaftaran Judul
1 EC00201971728 Bahan Ajar dengan Pendekatan STEM PjBL Berbasis Kontekstual pada Materi Asam dan Basa untuk Siswa Kelas XI SMA/MA
2 EC00201953965 Tes Diagnostik Miskonsepsi Asam Basa Berbasis Multipel Representasi untuk Siswa dan Mahasiswa
3 EC00201985980 “Villa-Chem” Media Virtual Laboratory Kimia Analitik Pada Praktikum Pemisahan Kimia Terintegrasi Android 4 EC00202017976 Bahan Ajar Materi Kromatografi Lapis Tipis Dengan
Model Project Based Learning Berbasis Android Untuk Kompetensi Keahlian Kimia Analisis Di SMK
5 EC00202027433 Video Peraga Argentometri dengan Metode Mohr Berbasis Multiple Representative
6 EC00201985983 Bahan Ajar Flipbook Pada Materi Redoks Dan Elektrokimia Berbasis STEM-PjBL Berbantuan Video Pembelajaran
7 EC00202160821, Aplikasi Laboratorium Virtual Pada Praktikum Analisis Kualitatif Kation Golongan III Dan IV Berbasis Tiga Level Representasi Sebagai Penunjang Praktikum Online 8 EC00202146568 Aplikasi Laboratorium Virtual Praktikum Kimia Analisis
Kualitatif Kation Golongan I Berbasis Tiga Level Representasi Terintegrasi Internet untuk Peserta Didik 9 EC00202144028 Video Peraga Identifikasi Kation Hg22+ Berbasis 3 Level
Representasi
10 EC00202160814 Video Peraga Pemisahan Kation Mg2+ Dari Campuran Kationkation Golongan IV (Ca2+ Dan Sr2+) Berdasarkan Nilai Ksp Berbasis 3 Level Representasi
Hadirin yang saya hormati,
Berdasarkan uraian di atas, di akhir pemaparan tentang desain program pembelajaran berbasis multiple representation melalui cognitive dissonance untuk mereduksi miskonsepsi kimia ini, dapat saya simpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Pembelajaran kimia berbasis multipel representasi dapat menunjang dan meningkatkan pemahaman konseptual siswa sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman konsep secara utuh.
2. Miskonsepsi pada materi kimia dapat menjangkiti siswa, mahasiswa, serta guru mata pelajaran sehingga dapat menghambat proses penerimaan dan asimilasi pengetahuan baru.
3. Strategi Cognitive Dissonance dapat melatih siswa untuk beradaptasi dengan konsep baru dan meningkatkan motivasi belajar.
4. Program pembelajaran berbasis multiple representation melalui cognitive dissonance dapat mereduksi miskonsepsi kimia tetapi tidak dapat menghilangkan miskonsepsi “zero missconceptition”.
Hadirin yang berbahagia,
Mengakhiri pidato pengukuhan dalam momen yang penuh kebahagiaan ini, perkenankanlah saya menghaturkan rasa syukur yang tidak terhingga ke hadirat Ilahi Rabbi, Allah SWT, atas segala limpahan karunia dan nikmat-Nya untuk saya dan segenap keluarga, sehingga saya diberi anugerah jabatan akademik tertinggi di Universitas Negeri Malang (UM) tercinta ini. Mohon doanya, semoga saya dapat memantaskan diri sekaligus mampu mengemban amanah dan tanggung jawab besar ini dengan sebaiknya-baiknya, khususnya dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi di institusi yang kita banggakan ini.
Penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya, saya sampaikan ke semua pihak, baik secara kelembagaan maupun individual,
secara langsung ataupun tidak langsung, telah mendoakan, membantu dan mewarnai kehidupan akademik dan sosial saya, sekaligus mengantarkan saya pada jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar. Untuk pihak- pihak yang telah berkontribusi dalam karir akademik maupun kehidupan sosial saya sekeluarga, semoga mereka memperoleh limpahan keberkahan, kesehatan, dan kasih sayang dari Allah SWT.
Pada kesempatan ini pula, secara khusus saya sampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Pemerintah Republik Indonesi melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di Bidang Pendidikan Kimia di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang.
2. Rektor Universitas Negeri Malang, Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd, beserta segenap jajaran pimpinan UM, yang telah memberikan banyak dukungan moril dan materiil, khususnya melalui kebijakan dan program riset percepatan Profesor sejak tahun 2019 silam di LP2M UM.
3. Ketua Senat Akademik Universitas Negeri Malang, Bapak Prof. Dr.
H. Sukowiyono, S.H., M.Hum beserta segenap anggota Senat Akademik dan Komisi Guru Besar Universitas Negeri Malang yang telah menghantarkan dan memberi kesempatan kepada saya untuk memperoleh kehormatan berdiri di mimbar ini.
4. Dekan FMIPA Universitas Negeri Malang. Prof Dr. Hadi Suwono, M.Pd, para Wakil Dekan, Ketua dan anggota Senat Akademik FMIPA beserta seluruh tenaga kependidikan yang selalu memotivasi saya dan telah membantu saya dalam proses pengajuan usulan guru besar.
5. Ketua Tim Penilai Jabatan Akademik Dosen UM, Prof. Dr. Arif Hidayat, M.Si beserta anggota tim yang selalu memotivasi saya dan
memberikan alternatif solusi kepada saya selama proses pengajuan usulan guru besar.
6. Ketua Departemen Kimia/Koordinator Program Studi Pendidikan Kimia, Dr. Sumari, M.Si, Sekretaris Departemen Kimia Dr. Sc.
Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc., beserta rekan-rekan ibu bapak dosen dan tenaga kependidikan di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, baik ibu bapak dosen yang masih aktif maupun yang sudah purna, yang selalu memberikan semangat baik akademik maupun non akademik kepada saya sejak saya menjadi dosen di Jurusan Kimia sampai saat ini.
7. Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan untuk seluruh bapak- bapak dosen Kimia yang sudah purna, yaitu Bapak Prof. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D., Prof. Dr. Subandi, M.Si., Prof Srini Murtinah, M.Sc., Drs.
Prayitno, M.Pd., Drs. Dermawan Efendy, M.Pd., Dra. Tri Maryami, M.Pd., Drs. M. Sodiq Ibnu, M.Si., Dr. Fariati, M.Sc., Drs. M. Suaedy, M.Pd., Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si., Dr. Darsono Sigit, M.Pd., Drs. Muhadi serta lainnya yang telah memberikan banyak hal kepada saya selama ini. Juga, ucapan terima kasih untuk Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., Prof. Dr. Fauziatul Fazaroh M.Si, Prof. Sri Rahayu, Ph.D., Dr. Siti Marfuah, M.S., Dr. Sutrisno, M.Si., Drs. I Wayan Dasna Ph.D., Dr. Parlan, M.Si., Dr. Aman Santoso, M.Si., Dr. Ridwan Joharmawan, M.Si., Dr. Yudhi Utomo, M.Si., Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., Dr. Suharti, M.Si., Dr. Muntholib, M.Si., Dr.
Munzil, M.Si., Dr Yahmin, M.Si., Dr. Nazriati, M.Si serta ibu bapak lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih sudah menjadi kolega dalam membangun kapabilitas belajar melalui pembelajaran kimia yang integratif dan bermakna sebagai rekan, saudara bahkan orang tua bagi saya, tempat saya mencurahkan isi hati dan selalu ada di kala suka, duka, bahagia atau sedang mengalami kesusahan.
8. Ibu Bapak tenaga kependidikan di Jurusan Kimia, FMIPA, dan Universitas yang telah banyak membantu saya dalam segala hal sejak saya menjadi dosen pertama kali di UM tahun 1999 sampai sekarang.
9. Semua guru-guru saya sejak saya menjadi siswa TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa di S1 IKIP Malang, S2 UGM dan S3 UPI Bandung yang telah mendidik, membimbing, memberikan ilmu dan mengajari banyak hal kepada saya sehingga saya menjadi insan akademis seperti saat ini.
10. Para mahasiswa di Program Sarjana, Magister, dan Doktor Pendidikan Kimia baik yang saat ini masih aktif maupun yang sudah menjadi alumni yang telah menjadi sumber inspirasi dan membantu saya dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Khususnya kepada mahasiswa bimbingan saya terima kasih atas kerjasamanya selama ini, sukses untuk kalian semua.
Ucapan rasa cinta, syukur, dan terima kasih yang paling spesial dan istimewa, saya haturkan untuk keluarga saya yang selalu ada di hati setiap saat dan selalu mendoakan saya, yaitu:
1. Ucapan terima kasih saya kepada Bapak Ibuku tercinta, Bapak Mustadjab Soefyan (Alm) dan Ibu Mulyati (Alm.) yang saya yakin dalam kerja kerasnya membanting tulang untuk menghidupi keenam anaknya terselip di setiap denyut nadinya do’a-do’a untuk anak-anaknya yang masih kecil waktu itu. Beliau telah membekali anak-anaknya dalam segala hal tentang makna hidup. Sekali lagi terima kasih tak terhingga untuk almarhum Ibu dan Bapakku… semoga tenang dan bahagia di alam sana.
2. Secara khusus ucapan terima kasih saya sampaikan kepada suamiku tercinta Dr. Mahmudi, M.Si (Alm) yang begitu besar dalam mendorong saya untuk menempuh studi S3 dan meraih gelar profesor. Terimakasih sekali lagi suamiku di sela-sela sakitmu masih semangat untuk memberi contoh kepada istri dan anak-anakmu untuk
menempuh ilmu yang tinggi dengan doa-doa di setiap sujudmu di tengah malam hari walaupun dengan tertatih-tatih. Semoga engkau tenang dan bahagia disana akhirnya aku telah bisa dan mampu mewujudkan cita-cita dan harapanmu, dan semoga Allah menempatkanmu di tempat yang mulia disisiNya (mohon Alfatehah untuk beliau), dan juga anak-anakku… Amelia Rizky Retmawati, S.Si, Zaenal Alim Mahmud, S.T.P; Sabilla Halimatus Mahmud, S.T.; dan Natasya Talina Mahmud, S.St., terimakasih atas suportnya dan kemandiriannya selama mama tinggal saat studi di Bandung dan studi papamu di Surabaya kalian hidup sendiri dengan segala kekurangan, keprihatinan dan keterbatasan yang ada, yakin, Allah Maha Segalanya Maha Kaya, Maha Penolong, Maha Adil dan Maha Bijaksana.
Akhirnya semua terlalui dengan selamat, Alhamdulillah. Juga kepada para mantu Adnan Yudha Pratama. S.Ak.; Rizky Tirta Putri Supriyadi, S.T; dan Zainal Arifin, S.St serta cucu-cucuku Arkha, Askha, Zubair dan Abubakr yang aku sayangi, terima kasih untuk semuanya.
3. Terakhir, terima kasih juga saya sampaikan kepada kakak-kakakku Mas Bambang, Mas Karsi, Mbak Ernik, yang mendorong dan membantu membiayai waktu saya menempuh Pendidikan S1, dan mbak Rulik, Mas Arif, serta ponakan-ponakan tercinta atas suport dan doanya. Juga kepada semua saudara ipar, khususnya kepada Prof.
Muhamad Amin, (alm) terimakasih atas suport dan doanya.
Saya pasti tidak mampu membalas semua jasa dan budi baik itu.
Karenanya, saya berdoa semoga Allah SWT melimpahkan imbalan kebaikan yang berlipat ganda untuk semua jasa dan budi baik para guru saya, sahabat-sahabat saya, orang-orang terdekat saya: anak-anak, kakak kandungku, kakak dan adik ipar, semua keponakan dan semua saudara yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, secara khusus juga untuk
almarhum bapak dan ibu, almarhum suami, dan almarhum bapak ibu mertua dan almarhum kakak adik ipar semoga diampuni segala dosanya, diterima amal kebaikkan, dan ditempatkan yang mulia di sisi Allah SWT.
Aamiin yaa rabbal ‘aalamin.
Di akhir pidato ini, perkenankan saya menyampaikan closing statement terkait pembelajaran kimia yang lebih bermakna:
● Mengajar dengan hati, pandai di kemudian hari, serius dalam berusaha menuai berkah sudah pasti…
● Mengitegrasikan Multipel representasi dan Cognitive dissonance dalam program pembelajaran sebagai kaca mata baru siswa memandang kimia yang bersifat abstrak, dan strategi mereduksi miskonsepsi dengan tujuan diperolehnya pemahaman yang utuh
Pesan untuk anak-anakku dan mahasiswaku (mungkin ini bermakna untuk perjalanan hidup kalian):
● Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tinggi tanpa menjatuhkan
● Jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain, dan benar tanpa menyalahkan
● Ojo dumeh, karena di atas langis masih ada langit…
● Hidup ini bukan tentang apa dan berapa yang kita miliki tapi apa dan berapa yang bisa kita nikmati untuk kita gunakan dengan cara yang benar… Apa artinya punya segalanya namun tidak bisa memberikan kita nikmat
● Syukuri apa yang kita miliki .. nikmati apa yang ada, kita tidak usah sibuk dengan milik orang lain… InsyaAllah akan selalu bahagia
Atas perhatian dan perkenan Bapak, Ibu, dan hadirin semua, saya menyampaikan terima kasih. Kurang lebihnya mohon maaf.
Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Daftar Rujukan
Baddock, M., & Bucat, R. (2008). Effectiveness of a classroom chemistry demonstration using the cognitive conflict strategy. International Journal of Science Education, 30(8), 1115–1128. https://doi.org/10.1080/
09500690701528824
Barke, H.-D., Hazari, A., & Yitbarek, S. (2009). Misconceptions in Chemistry.
Springer, 1–198. https://doi.org/10.1007/978-3-540-70989-3
Brown,Theodore L; JR, H. Eugene Lemay; Bursten, Bruce E; Murphy, Catherine J; Woodward, Patrick M (2012). Chemistry the Central Science, 12 ed. USA:
Pearson Education Inc
Chang, R. (2004). Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Jilid 1 edisi 3 (3rd ed.). Erlangga.
Dumanaw, V., Wonorahardjo, S., & Widarti, H. (2021). Application of Model Problem Based Learning Assisted Blended Learning on Cognitive Knowledge of University Students in Analytical Chemistry Instrument. JPP (Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran), 27(2), 73–77. https://doi.org/
10.17977/um047v27i22020p073
Farida, I., Liliasari, L., Widyantoro, D. H., & Sopandi, W. (2010).
Representational Competence’s Profile of Pre-Service Chemistry Teachers in Chemical Problem Solving. 4th International Seminar of Science Education, Bandung, 30.
Gilbert, J. K., & Treagust, D. (2009). Multiple Representations in Chemical Education. International Journal of Science Education, 31(16), 2271–2273.
https://doi.org/10.1080/09500690903211393
Guzel, B. Y., & Adadan, E. (2013). Use of multiple representations in developing preservice chemistry teachers ’ understanding of the structure of matter.
International Journal of Environmental & Science Education, 8(1), 109–130.
Izuma, K., Matsumoto, M., Murayama, K., Samejima, K., Sadato, N., &
Matsumoto, K. (2010). Neural correlates of cognitive dissonance and choice-induced preference change. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 107(51), 22014–22019.
https://doi.org/10.1073/pnas.1011879108
Kane, S. N., Mishra, A., & Dutta, A. K. (2016). Students’ Misconceptions on Titration. Journal of Physics: Conference Series, 755(1). https://doi.org/
10.1088/1742-6596/755/1/011001
Lee, G., Kwon, J., Park, S. S., Kim, J. W., Kwon, H. G., & Park, H. K. (2003).
Development of an instrument for measuring cognitive conflict in
secondary-level science classes. Journal of Research in Science Teaching, 40(6), 585–603. https://doi.org/10.1002/tea.10099
Linenberger, K. J., & Bretz, S. L. (2012). Generating cognitive dissonance in student interviews through multiple representations. Chemistry Education Research and Practice, 13(3), 172–178. https://doi.org/10.1039/c1rp90064a Luxford, C. J., & Bretz, S. L. (2019). Misconception in Chemistry Education and
Practices to Eliminate Them: Literature Analysis. Journal of Education and Training Studies, 7(3), 202. https://doi.org/10.11114/jets.v7i3.3990
Madden, S. P., Jones, L. L., & Rahm, J. (2011). The role of multiple representations in the understanding of ideal gas problems. Chemistry Education Research and Practice, 12(3), 283–293. https://doi.org/10.1039/
C1RP90035H
McDermott, M. A., & Hand, B. (2013). The impact of embedding multiple modes of representation within writing tasks on high school students’
chemistry understanding. Instructional Science, 41(1), 217–246.
https://doi.org/10.1007/s11251-012-9225-6
Nieves, E. L. O., Barreto, R., & Medina, Z. (2012). JCE classroom activity #111:
Redox reactions in three representations. Journal of Chemical Education, 89(5), 643–645. https://doi.org/10.1021/ed100694m
Orgill, M. K., & Sutherland, A. (2008). Undergraduate chemistry students’
perceptions of and misconceptions about buffers and buffer problems.
Chemistry Education Research and Practice, 9(2), 131–143.
https://doi.org/10.1039/b806229n
Pinarbasi, T. (2007). Turkish Undergraduate Students’ Misconceptions on Acids and Bases. Journal of Baltic Science Education, 6(1), 23–34.
Priyasmika, R. (2021). the Effect of Multiple Representation- Based Guided Inquiry on Learning Outcomes Reviewed From Scientific. 6(1), 55–66. https://doi.org/
10.30870/educhemia.v6i1.8985
Retno Widarti, H., Permanasari, A., Mulyani, S., Ainur Rokhim, D., & Habiddin, H. (2021). Multiple Representation-Based Learning through Cognitive Dissonance Strategy to Reduce Student’s Misconceptions in Volumetric Analysis. TEM Journal, 10(3), 1263–1273. https://doi.org/10.18421/
tem103-33
Rokhim, D. A., Widarti, H. R., & Fajaroh, F. (2020). Pengembangan Bahan Belajar Flipbook Pada Materi Redoks Dan Elektrokimia Berbasis Pendekatan Stem-Pjbl Berbatuan Video Pembelajaran. Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, 8(2), 234. https://doi.org/10.31800/jtp.kw.v8n2.p234- -250
Santos, V. C., & Arroio, A. (2016). The representational levels: Influences and contributions to research in chemical education. Journal of Turkish Science Education, 13(1), 3–18. https://doi.org/10.12973/tused.10153a
Soeharto, S., & Csapó, B. (2021). Evaluating item difficulty patterns for assessing student misconceptions in science across physics, chemistry, and biology concepts. Heliyon, 7(11). https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2021.e08352 Solang, S. Van, Salimi, Y. K., & Pikoli, M. (2021). Remediasi Miskonsepsi Siswa
pada Konsep Asam dan Basa dengan Menggunakan Strategi Konflik Kognitif di Kelas XII MIA MAN 1 Kota Gorontalo. Jambura Journal of Educational Chemistry, 2(2), 66–73. https://doi.org/10.34312/jjec.v2i2.7196 Sutrisno, S., Muchson, M., Widarti, H. R., & Sulistina, O. (2018). Miskonsepsi
Sifat Keasaman Larutan Garam Para Guru Kimia Dan Rekonstruksi Konseptualnya. J-PEK (Jurnal Pembelajaran Kimia), 3(2), 10–18.
https://doi.org/10.17977/um026v3i22018p010
Taber, K. S. (2013). Three levels of chemistry educational research. Chemistry Education Research and Practice, 14, 151–155. https://doi.org/10.1039/
c3rp90003g
Widarti, H. R., Permanasari, A., & Mulyani, S. (2016). Student misconception on redox titration (A challenge on the course implementation through cognitive dissonance based on the multiple representations). Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 5(1), 56–62. https://doi.org/10.15294/jpii.v5i1.5790
Widarti, Hayuni Retno, Nazriati, & Yunitasari, I. (2020). Understanding of acid- base concept based on multiple representations on cross-class level in senior high school. AIP Conference Proceedings, 2215(April). https://doi.org/
10.1063/5.0000642
Widarti, Hayuni Retno, Permanasari, A., Mulyani, S., Rokhim, D. A., & Habiddin.
(2021). Multiple Representation-Based Learning through Cognitive Dissonance Strategy to Reduce Student’s Misconceptions in Volumetric Analysis. TEM Journal, 10(3), 1263–1273. https://doi.org/10.18421/
TEM103-33
Widarti, Hayuni Retno, Qodriyah, N. R. L., Rokhim, D. A., & Habiddin, H.
(2020). Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Malang Pada Materi Hidrokarbon Menggunakan Instrumen Diagnostik Three Tier. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 14(2), 2642–2651.
Widarti, Hayuni Retno, Retnosari, R., & Marfu’Ah, S. (2017). Misconception of pre-service chemistry teachers about the concept of resonances in organic chemistry course. AIP Conference Proceedings, 1868(August 2017).
https://doi.org/10.1063/1.4995113
Widarti, Hayuni Retno, & Syafruddin, A. B. (2022). Pengembangan Media Pembelajaran Kimia Berbasis Instagram untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Materi Asam Basa dalam Kehidupan Sehari-hari dengan Pendekatan Multirepresentasi. Universitas Negeri Malang.
Widiarti, H. R., Rokhim, D. A., Muchson, M., Budiasih, E., Pratama, R. W., &
Hakim, I. (2021). Developing Integrated Triplet Multi-Representation Virtual Laboratory in Analytic Chemical Materials. International Journal:
Interactive Mobile Technologies, 15(8), 119–135.
Yuniarti, Y., Enawaty, E., & Rasmawan, R. (2019). Pengaruh Penggunaan Buku Ajar dengan Pendekatan Konstruktivistik dan Multi Represesntasi pada Materi Ikatan Kimia. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 8(11).
Yunitasari, I., Widarti, H. R., & Nazriatin. (2019). Miskonsepsi Asam Basa Berbasis Multipel Representasi pada Lintas Jenjang Pendidikan. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian Dan Penemabangan, 4(12), 1635–1642.
Zidny, R., & Eilks, I. (2020). Integrating perspectives from indigenous knowledge and Western science in secondary and higher chemistry learning to contribute to sustainability education. Sustainable Chemistry and Pharmacy, 16(March), 100229. https://doi.org/10.1016/j.scp.2020.100229
CURRICULUM VITAE
A. Identitas Diri
1. Nama Lengkap Prof. Dr. Hayuni Retno Widarti, M.Si.
2. Jenis Kelamin Perempuan (P) 3. Jabatan Fungsional Lektor Kepala
4. NIP 196408051900012001
5. NIDN 0005086412
6. Tempat dan Tanggal Lahir
Ponorogo, 5 Agustus 1964 7. E-mail [email protected] 8. Nomor Telepon/ HP 081232458494
9. Alamat Kantor Jl. Semarang No.5 Malang 10. Nomor Telepon/Fax 0341-567382
11. Alamat Rumah Jl. Telaga Warna C4 Tlogomas Malang, 65144
12. Orcid ID https://orcid.org/0000-0001-5574- 8209
13. Scopus ID 57193870211
14. Publons ID 5093431
15. Web of Science ResearcherID
AGH-7860-2022 16. Lulusan yang Telah
Dihasilkan
S1> 25 orang S2> 5 orang 17. Mata Kuliah yang
diampu
1. Seminar Pendidikan Kimia (S1) 2. Statistika Kependidikan (S1) 3. Dasar-Dasar Kimia Analisis (S1) 4. Pemisahan Kimia dan Analisis
Instrumentasi (S1) 5. Pemisahan Kimia (S1)
6. Praktikum Dasar-Dasar Kimia Analisis (S1)
7. Metodologi Penelitian Kuantitatif (S2)
8. Seminar Usulan Tesis (S2) 9. Wawasan Pendidikan (S3) 10. Evaluasi dan Pengembangan
Program Pendidikan (S3)
B. Riwayat Pendidikan
S1 S2 S3
Nama Perguruan Tinggi
IKIP Negeri Malang
Univ. Gadjah Mada
Univ.
Pendidikan Indonesia Bidang Ilmu Pendidikan
Kimia
Kimia (Kimia Analitik)
Penididikan IPA (P. Kimia) Tahun Masuk-
Lulus
1984-1989 1993-1997 (matrikulasi 1 tahun)
2013-2017 (matrikulasi 1 tahun) Judul Skripsi/
Tesis/Disertasi
Studi Tentang Prestasi Belajar Kimia
Mahasiswa yang Berasal dari SMA Program A-1 dan
Ptogram A-2 di Jurusan
Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Malang Angkatan Tahun 1987- 1988
Analisis Tembaga Dalam Mineral Sulfida Tertentu Melalui
Pemisahan Kromatografi Penukar Kation
Pengembangan program perkuliahan dasar-dasar kimia analitik berbasis multipel representasi melalui cognitive dissonance untuk mengatasi miskonsepsi calon guru kimia Nama
Pembimbing/
Promotor
Prof. Drs.
Sutardi
Dr. Ngatidjo Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si