• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Repository UM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Repository UM"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

RASIONAL DAN TUJUAN MODEL

Rasional

Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Pendidikan Negara), 20 Tahun 2003). Dalam hal peningkatan sikap, akhlak atau budi pekerti, pendidikan agama dijadikan sebagai sarana utama pembinaan karakter pada peserta didik. Dengan demikian, dengan pembelajaran kontekstual, siswa memperoleh hasil yang lebih komprehensif tidak hanya pada tataran kognitif (pemrosesan pikiran), tetapi juga pada tataran afektif (pikiran, hati, perasaan dan karsa) dan tataran psikomotorik (latihan).

Cara lain yang dapat digunakan untuk mengembangkan sikap atau moral siswa adalah keteladanan, kebiasaan, disiplin, motivasi, dan reward-punishment.

Kondisi Pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi Umum

Syarat Pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi Negeri Peran atau tugas mulia MK PAI adalah memajukan keimanan. Situasi yang mirip dengan pembelajaran PAI di UM di atas juga terjadi di Universitas Jambi dan Universitas Negeri Manado, dimana mayoritas pengajar PAI menggunakan metode pembelajaran yang lebih dominan dalam mengembangkan pemahaman keislaman siswa, seperti diskusi, ceramah dan penugasan. Mencermati persoalan pembelajaran PAI dan permasalahan akhlak di kalangan siswa di atas, serta sejalan dengan program penguatan pendidikan karakter yang digalakkan pemerintah sejak tahun 2016 (Penyusun, 2017: iii), maka pembelajaran PAI di UM, Unja dan Unema sangat mendesak dilakukan. dilaksanakan dengan menitikberatkan pada sikap atau akhlak siswa.

Langkah yang dapat dilakukan untuk menjadikan pembelajaran PAI di perguruan tinggi fokus pada pembangunan akhlak adalah dengan merancang model pembelajaran PAI yang dirancang lebih dominan dalam pengembangan moral mahasiswa.

Tujuan Model Pembelajaran

Model pembelajaran observasi partisipatif PAI terdiri dari beberapa komponen yang biasanya dimiliki oleh sebuah model pembelajaran. Tahapan atau sintaks model pembelajaran observasi partisipan meliputi kegiatan di dalam kampus dan di luar kampus. Dalam model pembelajaran ini, mitra belajar merupakan sumber belajar dimana siswa mempelajari karakter spiritual dan sosial.

Pelaksanaan model pembelajaran Observasi Peserta PAI memerlukan perencanaan yang baik agar berjalan dengan lancar dan mencapai hasil yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran dalam model pembelajaran Observasi Partisipatif meliputi tahapan pembelajaran yang tertuang dalam sintaks model pembelajaran yang nomor tujuh. Tahap pertama, orientasi dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada siswa tentang apa, bagaimana dan untuk apa model pembelajaran Participant Observation.

Pada fase sentral model pembelajaran ini, siswa harus mengalami, merasakan dan menghayati profesi mitra belajar. Angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran untuk menilai kepraktisan model pembelajaran diberikan setelah dilakukan uji coba model pembelajaran. Setelah menerapkan model observasi pembelajaran partisipatif, siswa diminta untuk menuliskan pelajaran yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut.

Semua siswa memberikan respon positif terhadap model pembelajaran tersebut, karena siswa merasakan banyak manfaat setelah menerapkan model pembelajaran observasi partisipatif. Di Unja, model pembelajaran observasional partisipatif dilaksanakan oleh 54 mahasiswa dari Program Studi Kedokteran dan Program Studi Psikologi. Setelah melakukan model pembelajaran observasi partisipatif, siswa diminta untuk menuliskan pelajaran atau pelajaran yang mereka dapatkan dari kegiatan tersebut.

Pelaksanaan model pembelajaran observasi partisipatif di Unema diikuti oleh 20 orang mahasiswa dari program studi Pendidikan Kewarganegaraan. Setelah melakukan model pembelajaran observasi partisipatif, siswa diminta untuk menuliskan hikmah atau pelajaran yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Semua siswa memberikan respon positif terhadap model pembelajaran tersebut, karena siswa merasakan banyak manfaat setelah menerapkan model pembelajaran observasi partisipatif.

Tabel sintaks:
Tabel sintaks:

TEORI PENDUKUNG

Teori Belajar Sosial Bandura

Teori Experiential Learning David Kolb

Perangkat pendukung berupa alat penilaian pembelajaran yang terdiri dari a) alat pra pelaksanaan model pembelajaran (angket sikap sosial dan angket syukur), dan b) alat model pembelajaran pasca pelaksanaan (angket sikap sosial, angket syukur, penilaian presentasi bentuk, bentuk refleksi, rencana tindakan dan kesan). Hal ini penting untuk mencegah siswa melaporkan secara tidak akurat, sehingga guru tidak dapat mengetahui secara pasti apa yang siswa lakukan dalam pembelajaran observasi partisipatif. Seluruh tanggapan siswa terhadap uji coba model pembelajaran yang terangkum dalam tabel di atas menunjukkan sikap yang sangat positif terhadap model pembelajaran observasi partisipatif.

Dengan mencermati hasil uji-t berpasangan dan analisis deskriptif sikap mahasiswa pada ketiga universitas di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran observasi partisipatif dapat meningkatkan karakter spiritual (khususnya rasa syukur) dan karakter sosial (khususnya empati) mahasiswa. .

KOMPONEN MODEL PEMBELAJARAN

Sintaks Model Pembelajaran

Untuk berperan sebagai mitra belajar, melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh mitra belajar (sebaiknya dari awal proses sampai akhir). Untuk membantu mahasiswa mengidentifikasi dan menemukan rekan belajar yang tepat di sekitar kampus atau di mana mereka tinggal. Carilah mitra belajar di area sekitar kampus atau sekitar rumah, dan konsultasikan dengan dosen bila perlu.

Berkenalan dengan mitra, menyampaikan maksud, menanyakan ketersediaan mitra, dan menyepakati waktu dan metode untuk melakukan observasi partisipatif.

Sistem Sosial

Prinsip Reaksi

Sistem Pendukung

Mitra belajar merupakan syarat utama atau unsur yang diperlukan dalam pelaksanaan model pembelajaran ini, khususnya mitra belajar yang berada di sekitar tempat tinggal mahasiswa. Selain itu, untuk mendukung pelaksanaan model pembelajaran ini diperlukan media pembelajaran berupa LCD proyektor, layar dan laptop.

Dampak Pembelajaran dan Dampak Pengiring

Selain itu, dalam kurun waktu tertentu, mahasiswa dipaksa untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif dengan mitra belajar maupun saat menyampaikan laporan dan refleksi.

Evaluasi Pembelajaran

Model pembelajaran yang telah divalidasi oleh ahli pembelajaran kemudian diujicobakan di 3 PTN yaitu UM, Unja dan Unema. Hasil penghitungan nilai keterlaksanaan model pembelajaran pada uji coba sebanyak tiga kali menunjukkan nilai yang baik. Sedangkan dalam hal cara siswa memperoleh pengetahuan dan mengembangkan nilai-nilai karakter sosial dan religius, model pembelajaran observasi partisipan menggunakan filosofi konstruksi sebagai landasannya.

Pada suatu kesempatan, sekitar dua bulan setelah perkuliahan PAI selesai, seorang dosen PAI dengan model pembelajaran observasi partisipatif bertemu dengan tiga orang mahasiswa.

PETUNJUK PELAKSANAAN MODEL

Perencanaan

Salah satu hal penting yang perlu disiapkan pendidik adalah pemahaman terhadap buku model pembelajaran Participant Observation, khususnya bagian sintaks pembelajaran. Akan lebih baik jika dokumen sintaks pembelajaran dicetak oleh pendidik dan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan model pembelajaran. Semua alat penilaian tersebut mutlak disiapkan oleh pendidik agar model pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain kedua hal tersebut, perlu disediakan fasilitas pembelajaran berupa LCD proyektor, laptop dan speaker serta dicek fungsinya sebelum tahap akhir pembelajaran agar tahap akhir Model Observasi Partisipatif yaitu presentasi dan refleksi dapat terlaksana. dilaksanakan dengan lancar.

Merancang Aktifitas Pembelajaran

Untuk menemukan partner belajar yang tepat, mahasiswa diminta bersabar dan melatih kemampuan komunikasinya agar calon partner belajar bersedia menerima mahasiswa untuk melakukan kerja partner. Pada tahap ketiga, observasi pertama, siswa diminta bersabar dan empati dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan mitra belajar. Untuk memastikan tahapan ini berjalan dengan lancar, mahasiswa disarankan untuk serius menjalankan semua kegiatan kerja/profesi rekanan studi.

Tahap kelima, syukur, dosen memperingatkan mahasiswa untuk mengucapkan terima kasih yang tulus kepada rekan belajarnya karena siap diganggu oleh mahasiswa.

Pedoman Pelaksanaan Penilaian

Kedua tahap tersebut berarti angket skala sikap diberikan sebelum penerapan model pembelajaran dan sesudah penerapan model pembelajaran. Data kuantitatif dianalisis dengan uji T berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata skor antara sebelum dan sesudah dilakukan uji model pembelajaran. Hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan analisis kuantitatif (untuk mengetahui kepraktisan dan keefektifan model pembelajaran), dan analisis kualitatif untuk mengolah data respon siswa menjadi model pembelajaran.

Jawaban siswa dalam survei ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa puas hingga sangat puas dengan model pembelajaran ini.

UJI COBA DAN PEMBAHASAN

Metode Uji Coba

Uji coba dilakukan dengan menggunakan desain penelitian pre-experimental, pre-test-post-test one shot case study. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengikuti program MK PAI di tiga perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia, yaitu Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Jambi (Unja) dan Politeknik Negeri Manado. Mitra belajar adalah orang atau kelompok orang yang terdiri dari pekerja atau profesi yang termasuk kategori status sosial rendah, seperti tukang becak, tukang parkir, pedagang kaki lima atau pedagang koran.

Ketiga perguruan tinggi yaitu UM, Unja dan Unema dipilih secara sengaja dengan mempertimbangkan sebaran perguruan tinggi (Jawa, Sumatera dan Sulawesi). Bagian praktik angket model pembelajaran berupa skala likert lima pilihan yang diisi oleh siswa setelah penerapan model pembelajaran. Angket evaluasi siswa berupa skala likert model skala sikap untuk menilai keefektifan model pembelajaran, yang terdiri dari angket pra dan pasca uji coba model pembelajaran.

Data kualitatif yang telah dikumpulkan dilakukan melalui analisis deskriptif kualitatif melalui tiga tahap: kondensasi data, display data dan inferensi (Miles et al., 2014). Nilai thitung yang lebih besar dari nilai tt atau nilai signifikansi (p-value) yang lebih kecil dari alpha sebesar 5% menunjukkan adanya perbedaan rerata yang signifikan antara sebelum dan sesudah pembelajaran.

Hasil Uji Coba dan Analisis

Kita harus mensyukuri apa yang kita miliki karena masih banyak orang yang kurang beruntung. Kita harus mensyukuri apa yang diberikan kepada kita, karena orang lain belum tentu mendapatkannya. Selalu bersyukur atas apa yang kita miliki yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh orang lain.

Selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan karena tidak semua orang sama dengan saya. Bekerja keras untuk mendapatkan apa yang Anda butuhkan tanpa mengharapkan dan memohon belas kasihan orang lain.

Tabel 5.1: nilai sikap mahasiswa pada uji coba di UM
Tabel 5.1: nilai sikap mahasiswa pada uji coba di UM

Pembahasan Hasil Uji Coba

Tiga orang siswa menyatakan puas dengan model pembelajaran observasi partisipatif, banyak manfaat nyata yang mereka peroleh dari model pembelajaran tersebut, dan yang paling mereka ingat dari pembelajaran PAI adalah tugas observasi partisipatif. Dalam model pembelajaran observasional partisipatif PAI ini, terdapat tiga aspek penting yang saling terkait dalam menentukan keberhasilan model tersebut, yaitu: interaksi siswa dengan mitra belajar, kegiatan peran siswa mitra, dan refleksi. Bahkan, siswa yang diminta untuk merefleksikan model pembelajaran observasional kolaboratif umumnya melaporkan bahwa saat ini mereka merasa kurang bersyukur, tidak sabar, kurang menghargai uang dan waktu, dan bertekad untuk menjadi manusia yang lebih menghargai, sabar dan menghargai uang dan waktu.

Hal ini berbeda dengan model pembelajaran PAI berbasis kecerdasan spiritual dan emosional (Sultoni, 2018) yang membangun karakter melalui pembelajaran di kelas. Perbedaan lain dari kedua model pembelajaran ini adalah model observasi partisipatif memakan waktu lama dan membutuhkan tenaga lebih dibandingkan dengan model pendidikan Islam yang berbasis kecerdasan spiritual dan emosional dan hanya membutuhkan waktu sekitar 100 menit. Dibandingkan dengan model teknik klarifikasi nilai (VCT), model observasi partisipatif memiliki perbedaan penting.

Selain model VCT yang dapat dilaksanakan dalam pembelajaran tatap muka satu persatu di dalam kelas, model pembelajaran VCT menggunakan kognisi atau pemikiran untuk mengembangkan karakter yaitu analisis nilai-nilai tertentu dalam pembelajaran, yang diarahkan adalah menarik kesimpulan bahwa nilai-nilai tersebut secara logika baik dan layak dimiliki (Sanjaya, 2006). Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Kecerdasan Spiritual dan Emosional Untuk Meningkatkan Moral Mahasiswa Universitas Negeri Malang”. Wawancara dengan sejumlah dosen PAI UM pada bulan Februari dan Maret 2018, serta wawancara dengan beberapa mahasiswa semester II-, IV dan VI yang menghadiri MK PAI.

Wawancara informal pada Oktober 2019 dengan sejumlah guru dari PAI Unja dan Unema tentang metode pembelajaran yang sering mereka praktikkan di kelas. Wawancara informal pada Oktober 2019 dengan sejumlah guru dari PAI Unja dan Unema tentang sikap Islami siswanya. 7 Saya merasa bersalah kepada orang tua saya jika saya tidak kuliah karena mengikuti kegiatan atau organisasi lain.

5. Seiring berjalannya waktu, saya merasa lebih bisa menghargai orang lain, peristiwa, dan situasi yang muncul dalam hidup saya.

Gambar

Tabel sintaks:
Tabel 5.1: nilai sikap mahasiswa pada uji coba di UM
Tabel 5.3: respon mahasiswa pada uji coba di UM
Tabel 5.4: nilai sikap mahasiswa pada uji coba di Unja
+7

Referensi

Dokumen terkait

selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jember yang telah memberikan ijin penelitian kepada penulis.. Achmad Hasan