Kepala pemerintahan daerah Kabupaten Donggala yang paling lama menjabat pada masa rezim Orde Baru adalah H.Abdul Azis Lamadjido, S.H. Perjalanan panjang perkembangan Kepala Daerah Donggala hingga saat ini pada tahun 2020 dengan instrumen Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 23 Tahun 2014.
Pendahuluan ~ 1
Latar Belakang
Pada tahun yang sama, pemerintahan daerah Tingkat II Donggala dipimpin oleh pemimpin daerah pertama yaitu Intje Naim Daeng Mamangun dengan masa jabatan 1952-1954. Sebagai bupati kepala daerah yang dipilih langsung oleh masyarakat Kabupaten Donggala selama dua periode, Dr.
Rumusan Penelitian
Tujuan Penelitian
Pemerintahan Daerah
Oleh karena itu, tidak berlebihan jika salah satu faktor penentu terjadinya krisis nasional dan berbagai permasalahan yang menimpa bangsa Indonesia bersumber dari lemahnya bidang pengelolaan pemerintahan yang baik (good governance).
Politik Desentralisasi
Keuntungan desentralisasi politik (devolusi) adalah memberikan otoritas politik kepada masyarakat untuk mengawasi pemilu dan mengkritik kebijakan pemerintah daerah (Maddick, 2003). Desentralisasi dalam penggunaan Perancis adalah istilah yang digunakan untuk pengalihan kekuasaan dari pemerintah pusat ke daerah atau otoritas yang secara fungsional terspesialisasi dengan badan hukum terpisah, sedangkan "dekonsentrasi adalah" padanan bahasa Perancis untuk administratif.
Otonomi Daerah
Peningkatan kualitas penyelenggaraan otonomi daerah pada pemerintahan daerah kabupaten dan kota berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah No. 32 Tahun 2004, kemudian mengalami revisi pada beberapa pasal sehingga lahirlah Undang-Undang. Penyelenggaraan otonomi daerah dengan kewenangan politik dapat mengatur daerah itu sendiri beserta masyarakatnya dalam format pembangunan yang bersifat bottom-up.
Pemimpin Lokal
Oleh karena itu, pemimpin tidak dibatasi waktu dan ruang lingkupnya, asalkan dibutuhkan sebagai pemimpin untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, pemimpin daerah yang kita kenal saat ini merupakan pemimpin daerah yang mempunyai tanggung jawab besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Pemilihan Langsung Kepala Daerah dan Otonomi Daerah
Kriteria calon kepala daerah dapat dinilai langsung oleh masyarakat yang akan memilih (Prihatmoko, 2005). Penulisan buku “Dinamika Perkembangan Kepala Daerah pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Donggala”, berperspektif “politik” dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.
Pendahuluan
Namun meskipun setiap daerah di Indonesia telah diberikan kewenangan dan kebebasan untuk melaksanakan tugas otonominya, namun kewenangan daerah tersebut juga dibatasi oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yaitu masalah yang berkaitan dengan bidang politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter. dan urusan fiskal, dan agama 1 Batasan Hal ini tentunya merupakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang baik sejak Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah) hingga Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah). 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa “Urusan mutlak pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) meliputi: Politik luar negeri, per.
Sejarah Otonomi Daerah
- Otonomi Daerah Era Jepang
- Otonomi Daerah Rezim Orde Lama
- Otonomi Daerah Rezim Orde Baru
- Otonomi Daerah Pasca Reformasi
Kebijakan otonomi daerah pada era ini juga didasarkan pada adanya undang-undang baru yaitu Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah (UU No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah). Undang-undang (UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan Tidak Berlakunya Berbagai Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang).
Kebijakan Kepala Daerah
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah meskipun terdapat beberapa ketentuan yang diubah dan/atau ditambah dengan undang-undang tersebut. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ditetapkan untuk memberikan kebebasan yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta asas dan sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kebijakan Kepala Daerah di Indonesia (Pra Reformasi)
- Kajian Terhadap UU No. 1 Tahun 1945
- Kajian terhadap UU No. 22 Tahun 1948
- Kajian Terhadap UU No. 1 Tahun 1957
- Kajian Terhadap UU No. 18 Tahun 1965
- Kajian Terhadap UU No. 5 Tahun 1974
Dalam hal ini ketua daerah sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini adalah Ketua dan anggota Dewan Pemerintahan Daerah.14. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa “Pemerintahan Daerah terdiri atas Presiden Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah”.
Kebijakan Kepala Daerah di Indonesia (Pasca Reformasi)
- Kajian terhadap UU No. 22 Tahun 1999
- Kajian terhadap UU No. 32 Tahun 2004
- Kajian terhadap UU No. 23 Tahun 2014
Secara khusus undang-undang ini mengatur kewajiban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dan otonomi daerah. Dalam hal ini kepala daerah berwenang melakukan pengawasan terhadap arah pemerintahan daerah dan otonomi daerah sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan. Melaksanakan tugas dan wewenang lainnya sesuai dengan peraturan. Sedangkan tugas dan wewenang wakil bupati diatur dalam Pasal 26.
Sedangkan wakil kepala daerah merupakan pendamping kepala daerah dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah juga mengatur tentang tugas, wewenang, kewajiban dan hak bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Melaksanakan tugas dan wewenang bupati apabila bupati sedang menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara; Dan.
Pra dan Pasca Kemerdekaan Negara Indonesia Sebagaimana ketentuan konstitusi yang secara tegas menya
Dengan desentralisasi, pemerintah pusat menyerahkan sebagian urusannya kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri.
Pemerintahan Daerah Kabupaten Donggala (Pra Kemerdekaan)
- Pra Pemeri ntahan Hindia-Belanda
- Zaman Pemerintahan Jepang
- Pemerintahan Daerah Kabupaten Donggala (Pasca Kemerdekaan)
Namun kedatangan Belanda di Kabupaten Donggala dengan tujuan penjajahan ditanggapi dengan semangat perlawanan masyarakat Kabupaten Donggala. Kedatangan Belanda di Kabupaten Donggala bisa dikatakan menyulut semangat perlawanan masyarakat Kabupaten Donggala. Kekalahan dan kekalahan yang dialami bangsa Belanda tidak membuat mereka menyerah dalam perlawanan masyarakat Kabupaten Donggala.
Melalui pola inilah Belanda berhasil melumpuhkan raja. raja di Kabupaten Donggala dan berhasil menduduki wilayah teritorial Kabupaten Donggala sebagai wilayah kekuasaannya. Konsep otonomi daerah kepada Kabupaten Donggala telah diwariskan Belanda jauh sebelum kemerdekaan diraih bangsa Indonesia. Ditinjau dari segi legalitas formal, awal mula pemerintahan daerah di Kabupaten Donggala diawali dengan adanya seorang kepala pemerintahan yang disebut kepala daerah.
Arah Kebijakan Kepala Daerah Kabupaten Donggala: Analisa Yuridis Sejak Tahun 1952
- Arah Kebijakan Kepala Daerah Kabupaten Donggala Sejak Tahun 1952 - 1958: Analisis terhadap UU No
- Arah Kebijakan Kepala Daerah Kabupaten Donggala Sejak Tahun 1958-1966: Analisis terhadap UU No
- Arah Kebijakan Kepala Daerah Kabupaten Donggala Sejak Tahun 1966-1974: Analisis terhadap UU No
- Arah Kebijakan Kepala Daerah Kabupaten Donggala Sejak Tahun 1974-1999: Analisis terhadap UU No
- Arah Kebijakan Kepala Daerah Kabupaten Donggala Sejak Tahun (2014-Sekarang): Analisis terhadap UU
Selain itu, kepala daerah Kabupaten Donggala juga berwenang mengeluarkan kebijakan mengenai proses pelaksanaan kebijakan pemerintah di Kabupaten Donggala. Selain itu, kepala daerah Kabupaten Donggala juga dapat menerbitkan peraturan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, arah kebijakan kepala daerah Kabupaten Donggal saat ini dapat dikatakan masih sebatas instrumen internal.
Arah politik kepala daerah Kabupaten Donggal hanya sebatas perintah dan peraturan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Kabupaten Donggal. Dengan demikian dapat digambarkan bahwa arah kebijakan kepala daerah Kabupaten Donggala pada masa pemberlakuan UU No. Orientasi politik kepala daerah Kabupaten Donggal (2014 sampai sekarang): Analisis undang-undang (2014 sampai sekarang): Analisis undang-undang no.
Kepala Daerah Tingkat II Donggala Zaman Kemerdekaan
Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin daerah tingkat II mempunyai kekuasaan yang besar dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. Undang-undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948 menyebutkan bahwa Kepala Daerah menjadi Ketua Dewan Pemerintahan Daerah sekaligus menjabat sebagai anggota. Merujuk pada Undang-undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948, Kepala Daerah Tingkat II Donggala, Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan sebagai kepala daerah menjadi Ketua Dewan Pemerintahan Daerah sekaligus menjadi anggota Daerah Tingkat II Donggala.
Selaku Kepala Daerah Tingkat II Donggala Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan, berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948, dalam penyelenggaraan pemerintahan mempunyai kewajiban mengawasi kerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Pemerintahan Daerah. Dewan. Pimpinan Kepala Daerah Tingkat II Donggala Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan, Undang-undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948 diganti dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 yang mengatur bahwa Pemerintahan Daerah terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Dewan Pemerintahan Daerah. Firman, Kepala Daerah Tingkat II Donggala Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan, selain situasi politik nasional yang kurang kondusif terhadap pelaksanaan tugas dan kewajibannya sebagai Kepala Daerah, UU tersebut juga dalam keadaan transisi, sehingga pemahaman kontekstual tidak tidak secara komprehensif.
Kepala Daerah Intje Naim Daeng Mamangun Masa Jabatan 1952 - 1954
Intje Naim Daeng Mamangun selaku Kepala Daerah Tingkat II Donggala dalam menjalankan kewenangan politik serta tugas dan fungsinya berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948. Kepala Daerah Tingkat II Donggala Intje Naim Daeng Mamangun telah memimpin peme selama kurang lebih dua tahun . Otonomi daerah yang dijalankan Intje Daeng Mamangun sebagai kepala daerah Tingkat II Donggala lebih pada kendali pemerintah pusat.
Terbatasnya kewenangan politik pada pemerintahan daerah yang dipimpin oleh Intje Daeng Mamangun disebabkan oleh dua faktor, yaitu pertama, daerah Tingkat II Donggala baru terbentuk, sehingga plafon dan mekanisme kerja penyelenggaraan pemerintahan daerah di Donggala relatif belum optimal dan efektif. . Kedua, sistem politik rezim orde lama sering mengalami instabilitas politik sehingga membuat Intje Naim Daeng Mamangun kurang efektif dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai kepala daerah. Meskipun demikian, Intje Naim Daeng Mamangun menjadi pemimpin daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah Tingkat II Donggala dan meletakkan landasan serta kerangka Sistem Pemerintahan Daerah Donggala.
Rajawali Muhammad Pusadan Masa Jabatan 1954–1958
- Kewenangan Pemerintahan Daerah
- Kewenangan Politik
Pasalnya, kepemimpinan kepala daerah tingkat dua Donggala Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan selama enam tahun mengabaikan hukum. Berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1944, pada dasarnya kepala daerah tingkat II Donggala, baik Intje Naim Daeng Mamangun maupun Rajawali Muhammad Pusadan mempunyai kewenangan politik. Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948 memberikan kewenangan pemerintahan daerah kepada Kepala Daerah Tingkat II Donggala Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan.
Model dan struktur serta mekanisme tata kelola yang diterapkan oleh Kepala Daerah Tingkat II Donggala Intje Naim Daeng Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan pada masa jabatannya. Peran Intje Naim Mamangun dan Rajawali Muhammad Pusadan sebagai Kepala Daerah Tingkat II Donggala sebagai Pejabat Pusat dan Pejabat Daerah. Pengurus Wilayah Tingkat II Donggala Rajawali Muhammad Pusadan berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 1 Tahun 1957 dalam pelaksanaan tugas pengurusan.
R. Ticoalu 1964–1966
- Pengantar
- Kewenangan Kepala Daerah Dalam Pemerintahan Daerah
- Kewenangan Politik Kepala Daerah Tingkat II Donggala
- Otonomi Daerah Daerah Tingkat II Donggala
Kedudukan kepala daerah tingkat II Donggal menurut undang-undang no. 18 Tahun 1965, Kepala Daerah Tingkat II Donggal merupakan alat pemerintah pusat sekaligus alat pemerintahan daerah. Ketiga kepala daerah tingkat II Donggal tersebut menjalankan tugas dan wewenangnya dalam sistem pemerintahan daerah berdasarkan Undang-undang Pemerintahan Daerah No. 1 Tahun 1957 yang artinya pemerintahan daerah terdiri atas DPRD dan DPD. Ketua dan wakil ketua DPD dipilih oleh anggota DPRD daerah tingkat II Donggala.
Sebagaimana telah disampaikan, bersama Kepala Daerah Tingkat II Donggala di bawah pimpinan Bidin D. Ticoalu selaku kepala daerah, ia juga tergabung dalam Dewan Pemerintahan Daerah Tingkat II Donggala yang menyelenggarakan pemerintahan daerah. KEWENANGAN POLITIK DAN OTONOMI DAERAH PEMIMPIN DAERAH TINGKAT II DONGGALA UNDANG NO. 18 TAHUN 1965.
Abdul Aziz Lamadjido, S.H (1966–1979)
- Pendahuluan
- Eksistensi Kepala Daerah Tingkat II Donggala H.Abdul Aziz Lamadjido, S.H
- Kewanangan Politik Kepala Daerah H.Abdul Aziz Lamadjido,S.H
- Kepala Daerah Tingkat II Dongala dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
- Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan Otonomi Daerah
- Kewenangan Politik Kepala Daerah Tingkat II Donggala
- Pangantar
- Kewengan Politik Kepala Daerah Donggala H.N
- Pelaksanaan Pemerintahan Daerah
- Kepala Daerah dan Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Kab. Donggala
- Transisi Kepemimpinan Politik Kepala Daerah Kab. Donggala
- Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
- Kewenangan Politik Kepala Daerah dan Otonomi Daerah
Penyelenggaraan pemerintahan daerah di Daerah Tingkat II Donggala, Kepala Daerah dan DPRD merupakan Pemerintah Daerah Tingkat II Donggala. Namun demikian, peran dan kewenangan politik serta otonomi Daerah Tingkat II Donggala di bawah kepemimpinan Bupati, Kepala Daerah Dr. Hasil Pemilihan Kepala Daerah Tingkat II Donggala diserahkan DPRD Donggala kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur.
KEWENANGAN POLITIK DAN OTONOMI DAERAH KEPALA DAERAH PADA PEMERINTAHAN DAERAH TINGKAT II UNDANG-UNDANG DONGGALA NO.