• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Universitas Bosowa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Universitas Bosowa"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Serta memberikan edukasi kepada siswa tentang pentingnya penalaran moral dan bahaya bullying, serta dampak yang ditimbulkannya. Setelah membaca penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penalaran moral dan perilaku bullying.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Perilaku Bullying

Penindasan juga berulang seiring berjalannya waktu dan terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dengan kekuasaan yang lebih besar. Bullying dilakukan secara berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah.

Aspek Perilaku Bullying

Perilaku bullying yang dialami korban juga membuat mereka merasa tertekan dan tidak aman. Ketika pelaku sudah melakukan hal tersebut dan menemukan korban yang tepat, maka perilaku bullying akan dilakukan secara berulang-ulang.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Bullying

Penelitian yang dilakukan oleh Dalimunthe, Marjohan & Syahniar (2014) menunjukkan hasil bahwa pola asuh orang tua berdampak terhadap perilaku bullying. Dalam hal ini, tingkat kepercayaan diri menjadi faktor penting dalam mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Bentuk-Bentuk Bullying

American Psychological Association (2015) mendefinisikan harga diri sebagai sejauh mana kualitas dan karakteristik yang dirasakan seseorang. Harga diri mencerminkan gambaran diri individu secara fisik, pandangan mengenai pencapaian, nilai-nilai, dan kesuksesan yang dirasakan, serta tanggapan individu dari orang lain.

Dampak Perilaku Bullying

Anak-anak yang menjadi korban bullying biasanya tidak mempunyai teman, dan jika mempunyai teman, jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Anak-anak yang menjadi korban perundungan merasa terganggu dengan perundungan yang diterimanya dan terkadang memilih untuk tidak bersekolah dengan sengaja.

Penalaran Moral

  • Definisi Penalaran Moral
  • Teori Penalaran Moral Piaget
  • Teori Penalaran Moral Kohlberg
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penalaran Moral

Berdasarkan dua teori penalaran moral yang dikemukakan oleh Piaget dan Kohlberg, maka peneliti memutuskan untuk menggunakan teori tersebut. Faktor-faktor ini berpotensi dianggap lebih tinggi daripada tingkat penalaran moral para anggotanya.

Santri

  • Definisi Santri

Santri wajib menaati peraturan pesantren dan apabila ada pelanggaran akan dikenakan sanksi (Mahfud, 2007). Di pesantren para santri mengikuti jadwal belajar dan beribadah yang telah dirancang dan wajib dilaksanakan oleh para santri.

Santri Dalam Teori Perkembangan

Hasil wawancara yang dilakukan terhadap siswa yang melakukan perilaku bullying menunjukkan bahwa siswa menunjukkan kelemahan dalam penalaran moralnya. Kemampuan penalaran moral merupakan kemampuan individu dalam menggunakan cara berpikir tertentu yang dapat menjelaskan pilihannya. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari & Partini (2015) menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara penalaran moral dengan perilaku prososial pada remaja.

Hasil tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi penalaran moral pada remaja maka semakin tinggi pula tingkat perilaku prososialnya. Lebih lanjut, semakin rendah tingkat penalaran moral pada remaja, maka semakin besar pula kemungkinan remaja tersebut memiliki tingkat perilaku prososial yang rendah. Berdasarkan penjelasan tersebut, menjadi alasan mendasar peneliti ingin mengetahui hubungan pemikiran moral dengan bullying pada kalangan pelajar di kota Makassar.

Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan antara penalaran moral dengan perilaku bullying pada pelajar di Kota Makassar.

Jenis penelitian

Variabel Penelitian

Definisi Variabel

  • Definisi Teoritis
  • Definisi Operasional

Pengertian operasional variabel penelitian adalah pernyataan dari masing-masing variabel yang digunakan atau yang akan diteliti dalam penelitian ini, dengan memperhatikan indikator-indikator yang menyusunnya. Bullying diartikan sebagai tindakan menyimpang yang dilakukan oleh orang yang kuat terhadap orang yang lemah. Penalaran moral diartikan sebagai pemahaman seseorang terhadap jawaban mengapa sesuatu itu dianggap benar atau salah, baik atau buruk, aturan-aturan yang harus diikuti, dan sebagainya, serta berperan sebagai kontrol atas perilaku agar sesuai dengan norma-norma masyarakat.

Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

  • Populasi
  • Sampel
  • Teknik Pengambilan Sampel

Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di Kota Makassar. Azwar (2017) menjelaskan bahwa subjek sampel adalah bagian dari subjek populasi, atau dengan kata lain sampel adalah bagian dari populasi. Noor (2017) menyatakan bahwa sampel terdiri dari sejumlah anggota yang dipilih dari suatu populasi, dan subjeknya adalah anggota sampel dan unsur anggota populasi.

Sampel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh siswa laki-laki dan perempuan, baik yang bersekolah di jenjang Madrasah Aliyah maupun siswa Tahfidz Qur'an. Penentuan jumlah sampel berdasarkan rumus persamaan n ≥ 1 𝛼2.α pada penelitian ini adalah 0,05, sehingga sampel yang akan diteliti berjumlah 400 orang (Abdullah & Sutanto, 2015). Berbagai teknik pengambilan sampel digunakan untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian.

Teknik purposive sampling dipilih peneliti untuk memudahkan pengumpulan data, karena sampel yang akan dipilih memenuhi ciri-ciri tertentu atau memenuhi ciri-ciri yang diinginkan peneliti.

Teknik Pengumpulan Data

  • SkalaPerilaku Bullying
  • Skala Penalaran Moral

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua instrumen berupa skala penelitian yaitu Skala Perilaku Bullying dan Skala Penalaran Moral. PRQ ini merupakan skala yang dikembangkan dari jenis-jenis perilaku bullying yang dikemukakan oleh Rigby dan Slee (1993). Skala perilaku bullying diukur menggunakan skala The Peer Relations Questionnaire (PRQ) yang terdiri dari 20 item.

PRQ merupakan skala yang dibangun berdasarkan bentuk-bentuk perilaku bullying yang dikemukakan oleh Rigby dan Slee (1993). Kombinasi ketiga bentuk perilaku bullying tersebut menghasilkan skor yang mengindikasikan adanya perilaku bullying. Semakin tinggi total skor yang dicapai maka semakin tinggi pula perilaku bullying siswa, begitu pula sebaliknya.

Semakin rendah total skor yang dicapai maka semakin rendah pula perilaku bullying siswa.

Tabel 3.1 Blue Print Skala Perilaku Bullying  No.  Bentuk-Bentuk
Tabel 3.1 Blue Print Skala Perilaku Bullying No. Bentuk-Bentuk

Pengujian Validitas Instrumen

  • Proses Konstruksi Skala
  • Validitas Isi
  • Validitas Konstruk
  • Uji Reliabilitas

UKM skala penalaran moral dalam penelitian ini adalah Ny. Sri Hayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Ny. Meidy, M.Psi., Psikolog, dan Ny. Citra Rahma, M.Psi., Psikolog. UKM yang kedua yaitu Ny. Meidy, M.Psi., Psikolog, berpendapat ada empat item yang perlu direvisi yaitu item 30. Pada skala perilaku bullying, ketiga KMO tersebut sama yaitu Ny. Sri Hayati, M.Psi., Psikolog Ny. Meidy, M.Psi., menilai seluruh item pada skala perilaku bullying dinilai baik.

Ada pula reviewer yang terlibat dalam penelitian ini yaitu Andi Muhammad Yayat Saputra, Firdausyam Al-Iqram, Andi Nadia Sulistianingsi, Humaerah Tasyamila dan Sri Tenri Rahayu. Penilaian yang diberikan oleh lima reviewer pada skala penelitian ini berkaitan dengan cakupan skala, pengenalan skala, dan petunjuk. Reviewer kelima, Sri Tenri Rahayu, menilai ruang lingkup penelitian ini terlihat rapi dan mudah dipahami.

Teknik uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cronbach Alpha.Hasil uji reliabilitas skala perilaku bullying dan penalaran moral sebesar 0,733 dan 0,799.

Tabel  3.3 Hasil  Reliabilitas  Skala Perilaku  Bullying  Cronbach
Tabel 3.3 Hasil Reliabilitas Skala Perilaku Bullying Cronbach's Alpha N of Items

Teknik Analisis Data

  • Analisis Deskriptif
  • Uji Asumsi
  • Uji Hipotesis

Begitu pula jika nilai signifikansi linearitas yang diperoleh lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 (sig > 0,05), maka data dapat dikatakan berdistribusi tidak linier. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap suatu rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan bersifat sementara, karena jawaban yang diberikan hanya berdasarkan teori yang relevan, belum berdasarkan fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Oleh karena itu hipotesis dapat juga dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum merupakan jawaban empiris (Sugiyono, 2018).

Bootstrap test merupakan metode statistik dengan cara mengubah data dari sampel yang diperoleh dan menggandakan data sampel (resampling) untuk memperoleh data baru. Metode bootstrap dapat dijadikan pilihan untuk data yang mempunyai ukuran sampel kecil (Fernandes & Solimun, 2016).

Jadwal Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Variabel Berdasarkan Tingkat Skor

Nilai minimum yang dinyatakan merupakan nilai terendah yang diperoleh, dan nilai maksimum merupakan nilai tertinggi yang diperoleh dari responden, Berdasarkan hasil tersebut diperoleh nilai mean sebesar 169,69 dan nilai standar deviasi sebesar 13,569. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa terdapat 17 responden yang masuk dalam kategori penilaian sangat tinggi dengan persentase sebesar 4,0%. Selain itu, sebanyak 172 responden berada pada kategorisasi poin sedang dengan persentase 40,7%, dan 99 responden berada pada kategorisasi poin rendah dengan persentase 23,4%.

Nilai minimum yang dimaksud merupakan nilai terendah yang diperoleh dan nilai maksimum merupakan nilai tertinggi yang diperoleh responden. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh nilai rata-rata sebesar 21,67 dan nilai standar deviasi sebesar 4,928. Hasil pengolahan data menunjukkan sebanyak 40 responden berada pada kategori hasil sangat tinggi dengan persentase sebesar 9,5%. Selain itu, sebanyak 151 responden berada pada tingkat kategorisasi skor sedang dengan persentase sebesar 35,7%, dan sebanyak 159 responden berada pada tingkat kategorisasi skor rendah dengan persentase sebesar 37,6%.

Tabel  4.2 Kategorisasi  Penalaran  Moral  pada  Santri  Kategorisasi
Tabel 4.2 Kategorisasi Penalaran Moral pada Santri Kategorisasi

Deskriptif Variabel Berdasarkan Demografi

Selanjutnya, sebanyak 59 responden berada pada tingkat penalaran moral sedang, dan 35 responden berada pada tingkat penalaran moral rendah. Pada suku Makassar terdapat 3 responden dengan tingkat penalaran moral sangat tinggi, kemudian 36 responden dengan tingkat penalaran moral tinggi. Pada suku Flores, 1 orang responden berada pada tingkat penalaran moral yang sangat tinggi, kemudian 12 orang responden berada pada tingkat penalaran moral yang tinggi.

Selanjutnya, 11 responden berada pada tingkat penalaran moral sedang, dan 3 responden berada pada tingkat penalaran moral rendah. Pada suku Flores terdapat 2 responden dengan tingkat perilaku bullying sangat tinggi, kemudian 0 responden dengan tingkat perilaku bullying tinggi. Selain itu, 10 responden berada pada tingkat perilaku bullying sedang, dan 16 responden berada pada tingkat perilaku bullying rendah.

Selanjutnya terdapat 8 responden dengan tingkat perilaku bullying sedang dan 21 responden dengan tingkat perilaku bullying rendah.

Gambar  4.8 Diagram  Tingkat  Penalaran  MoralPada  Santri  Berdasarkan  Kelas      Berdasarkan  hasil  pengolahan  data,  diketahui  bahwa  jumlah  responden  sebanyak  423
Gambar 4.8 Diagram Tingkat Penalaran MoralPada Santri Berdasarkan Kelas Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa jumlah responden sebanyak 423

Uji Linearitas

Selanjutnya terdapat 78 responden dengan perilaku bullying tingkat sedang, 98 responden dengan perilaku bullying tingkat rendah dan terdapat 7 responden dengan perilaku bullying tingkat sangat rendah.

Hasil Uji Hipotesis

Pembahasan

Tingkat perilaku bullying di kalangan pelajar di Kota Makassar sebagian besar berada pada tingkat rendah. Dengan demikian, hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat hubungan antara penalaran moral dengan perilaku bullying pada pelajar di kota Makassar diterima. Hasil yang diperoleh juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara penalaran moral dengan perilaku bullying dikalangan pelajar di kota Makassar.

Hal ini dapat diartikan bahwa semakin rendah penalaran moral maka semakin tinggi pula perilaku bullying dikalangan siswa. Hubungan negatif antara kedua variabel tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi penalaran moral maka semakin rendah perilaku bullying dikalangan siswa. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Basyirudin (2010) juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara penalaran moral dengan perilaku bullying.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa perilaku bullying yang paling dominan dikalangan siswa adalah perilaku bullying verbal. Berdasarkan hasil analisis data diketahui terdapat hubungan antara penalaran moral dengan perilaku bullying pada pelajar di kota Makassar. Hubungan Penalaran Moral Dengan Perilaku Bullying Pada Siswa Kelas Xi Ips Sma 3 Seluma (Studi Korelasi Siswa Sma Negeri 3 Seluma) (Disertasi Doktor Universitas Bengkulu).

Referensi

Dokumen terkait