PENDAHULUAN
RUMUSAN MASALAH
TUJUAN PENELITIAN
MANFAAT PENELITIAN
TINJAUAN PUSTAKA
LANDASAN TEORI
Menurut M.S Sehwarat dan J.S Narang (2001), pemeliharaan adalah tugas yang dilakukan secara berurutan untuk memelihara atau memperbaiki fasilitas yang ada agar memenuhi standar (sesuai standar fungsional dan). Dari perbedaan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan adalah suatu kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk menjaga agar peralatan dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan standar fungsinya, atau juga kegiatan untuk melakukan perbaikan atau penyesuaian terhadap penggantian yang diperlukan agar tetap mempertahankan kondisi pengoperasian yang memuaskan. produksi sesuai dengan yang direncanakan. alat pemadam api portabel diatur dalam Per-04/Men/1980 tentang persyaratan pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan, berdasarkan sumber tersebut alat pemadam api portabel wajib dirawat dan diperiksa sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu dalam jangka waktu 6 (enam) tahun. bulan dan 12 (dua belas) bulan setelah pemeliharaan dilakukan, tanggal, bulan, dan tahun pemeliharaan harus dicatat pada wadah alat pemadam api ringan tersebut.
Menurut Peraturan 2 Bab II-2 Konvensi SOLAS (Keselamatan Kehidupan di Laut), alat pemadam api portabel adalah alat pemadam kebakaran yang berbentuk tabung silinder, yang karena bentuk dan beratnya kecil, dapat dengan mudah dibawa ke laut. dioperasikan hanya oleh satu pengguna. beruang satu orang yang dirancang untuk mobile, portabel. Volume alat pemadam api portabel yang dibutuhkan tidak lebih dari 13,5 liter dan tidak kurang dari 9 liter pada ruang tamu, ruang servis dan stasiun kendali juga harus dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran. Selain kesiapan alat pemadam api yang baik, proses pemadaman api juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan alat pemadam api tergantung dari jenis apinya, sehingga kebakaran dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan penyebab kebakarannya, berikut adalah klasifikasi kelas kebakaran berdasarkan NFPA (National Fire Protection Associated).
Perawatan alat pemadam api ringan di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no: PER.04/MEN/1980 Tentang persyaratan pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan, Pasal 11 menyatakan bahwa setiap alat pemadam api ringan wajib dilakukan pemeriksaan. 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu: a. Cacat pada alat pemadam api ringan yang ditemukan pada saat pemeriksaan harus segera diperbaiki atau alat harus segera diganti dengan yang tidak cacat.Berikut pemeriksaan alat pemadam api ringan menurut PER.04/MEN/1980. Dengan ketentuan cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas dapat dilakukan dengan cara lain sesuai perkembangan.
15. h) untuk jenis busa cair, kondisi selang harus masih baik. i) lapisan pelindung dan tabung gas bertekanan harus dalam kondisi baik. j) Tabung gas bertekanan harus terisi penuh, tergantung kapasitasnya.
KERANGKA PENELITIAN
Meratus Kupang terlaksana dengan baik, pemeliharaan dilakukan dalam tiga jenis yaitu mingguan, bulanan dan tahunan, sedangkan pemeliharaan berdasarkan PER.04/MEN/1980 dilakukan hanya dua kali dalam setahun yaitu pemeliharaan 6 (enam) bulanan dan tahunan. pemeliharaan sehingga pemeliharaan dilakukan di KM. Meratus kupang sebaiknya ditambah perawatan 6 bulanan, agar alat pemadam api selalu dalam keadaan baik. Adanya awak kapal yang belum paham dengan perawatan alat pemadam kebakaran portable di kapal KM.
Meratus Kupang dan beberapa alat pemadam api ringan sudah tidak layak pakai sehingga harus segera diganti dengan alat pemadam yang baru.
METODE PENELITIAN
- LOKASI PENELITIAN
- JENIS DAN SUMBER DATA
- PEMILIHAN INFORMAN
- TEKNIS ANALISIS DATA
- DATA KECELAKAAN PELAYARAN
- REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA
- KLASIFIKASI API
- KODING WAWANCARA
Meratus Kupang dengan panjang kapal : 128,82 m, GT (Gross Tonnage) : 8170 T, di kapal itulah penulis meneliti upaya pemeliharaan peralatan pemadam kebakaran dan memenuhi syarat untuk menyelesaikan pendidikan. Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penyusunan proposal ini adalah data yang diperoleh penulis melalui observasi langsung dan wawancara. Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara peneliti melakukan observasi langsung terhadap objek penelitian guna mencermati kegiatan yang dilakukan (Riduan, 2004: 104).
Cara tersebut diwujudkan melalui pengamatan langsung terhadap objek, dalam hal ini upaya pemeliharaan dan pencegahan kerusakan alat pemadam kebakaran ringan, serta permasalahan yang sering terjadi dan cara penanggulangannya. Tujuan penulis melakukan observasi adalah untuk memahami pengetahuan upaya penanganan alat pemadam kebakaran portable pada KM. Meratus Kupang selama 12 (dua belas) bulan, sehingga penulis dapat mengetahui pentingnya membawa peralatan api ringan di dalam kapal.
Menurut Sugiyon, data sekunder adalah: “Sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau melalui dokumen.” Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pihak lain, yang diperoleh peneliti secara tidak langsung dari subjek penelitiannya. Kondensasi data mengacu pada proses pemilihan atau pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, dan penggantian data yang terdapat dalam catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen, atau data empiris yang diperoleh. Berdasarkan data yang dimilikinya, peneliti akan mencari data, tema, dan pola apa yang penting, sekaligus membuang data yang dianggap tidak relevan.
Setelah dilakukan pengumpulan data terkait upaya pemeliharaan alat pemadam kebakaran, kerusakan alat pemadam kebakaran, tata cara perawatan dan tata cara pemeliharaan alat pemadam kebakaran di KM. Meratus Kupang, langkah selanjutnya peneliti mengklasifikasikan hasil observasi dan wawancara untuk disajikan dan dibahas lebih detail. Jika tahap kondensasi dan penyajian data sudah dilakukan maka langkah terakhir adalah menarik kesimpulan.
Setelah menyajikan data terkait upaya pemeliharaan peralatan pemadam kebakaran, kerusakan peralatan pemadam kebakaran, prosedur pemeliharaan, dan prosedur pemeliharaan kebakaran. Upaya pemeliharaan peralatan keselamatan alat pemadam api portabel untuk memaksimalkan penggunaan pada saat keadaan darurat di kapal. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia nomor: Per-04/Men/1980 tentang Persyaratan Pemasangan dan Perawatan Alat Pemadam Api Ringan.