• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL SURVEY TUGAS PENGANTAR PERANCANGAN KOTA DAN PERMUKIMAN

N/A
N/A
Lauritta pradyani wilandika

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN HASIL SURVEY TUGAS PENGANTAR PERANCANGAN KOTA DAN PERMUKIMAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL SURVEY TUGAS PENGANTAR PERANCANGAN KOTA DAN PERMUKIMAN

NAMA MAHASISWA :

1. Ridafa Dini Yuliantie (03061282025017) 2. Daniel Panjaitan (03061282025025) 3. Melania Sofia Lolita (03061282025028) 4. Lauritta Pradyani Wilandika (03061282025037) 5. Deshinta Aurelia (03061282025049)

6. M. Miftah Al-Ghifari (03061382025063)

DOSEN PENGAMPU : Dr. Ir. Tutur Lussetyowati, M.T.

Dr-Ing. Listen Prima S.T., M. Planning

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2023/2024

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Undang-Undang No 4 Tahun 1992 Pasal 3, Permukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang terstruktur.

Selain itu, kesenjangan pertumbuhan penduduk dan ketersediaan lahan permukiman di Indonesia merupakan masalah yang perlu diperhatikan. Hal ini menciptakan permasalahan permukiman yang cenderung memburuk dan permukiman yang kumuh karena terjadinya kesenjangan antara pertambahan penduduk lebih pesat, upaya penambahan permukiman, dan penambahan fasilitas pelayanan umum. (Hadi Sabari Yunus, 2010). Salah satu kota besar yang dewasa ini semakin berkembang pembangunannya adalah Kota Palembang. Selain berkembangnya pembangunan, pertumbuhan penduduk di kota ini semakin meningkat, hal ini memberikan pengaruh dalam munculnya permukiman kumuh di Kota Palembang. Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni yang ditandai dengan ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kota Palembang, Sumatera Selatan, menyebutkan kawasan kumuh di kota ini hingga Desember 2022 mencapai 1.092 hektare (Ha).

Sebagian besar permukiman kumuh berada di pelataran Sungai Musi. menurut Data Permukiman Kumuh Kota Palembang Tahun 2002 dan 2009 kelurahan 3–4 Ulu, dalam kasus ini dipersempit menjadi kawasan sekitar Lorong Murni 3–4 Ulu, termasuk ke dalam kategori sangat kumuh. Tidak terkontrolnya pembangunan permukiman di area tersebut menyebabkan permukiman menjadi tidak teratur. Kondisi ini kemudian diperburuk lagi dengan tidak tersedianya infrastruktur kota yang memadai dan kurangnya kualitas pendidikan menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan yang berakibat permukiman menjadi kumuh.

Dari berbagai macam permasalahan tadi, menjadikan alasan mengapa dilakukannya

survei ini agar mengetahui bagaimana infrastruktur kota dan kualitas pembangunan di

kawasan sekitar Lorong Murni 3–4 Ulu, Kota Palembang.

(3)

1.2 Kajian Pustaka

a. Permukiman di Tepian Sungai

Berdasarkan UU No 1 Tahun 2011 yang dimaksud kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Menurut Peraturan Pemerintah No.38 tahun 2011 tentang sungai pada pasal 1, dijabarkan sebagai berikut :

a. Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air mulai dari hulu sampai muara dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan

b. Bantaran sungai adalah ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul sebelah dalam yang terletak di kiri dan/atau kanan palung sungai

c. Garis sempadan sungai adalah garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai

Menurut Kirmanto (2005) perumahan di sepanjang sungai mencerminkan keterbatasan lahan yang tersedia di kota, di mana tidak semua memiliki akses ke fasilitas yang memadai dan tinggal di lahan yang sesuai. Karena pada hakikatnya pembangunan perumahan berkelanjutan adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan secara berkelanjutan baik dari segi sosial, ekonomi dan kondisi kualitas lingkungan.

b. Infrastruktur Permukiman

Menurut American Public Works Association (Stone,1974 dalam Kodoatie, R.J.,2005), infrastruktur adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi. Infrastruktur merupakan sistem fisik yang menjadi sarana untuk masyarakat umum sebagai penyedia transportasi, air, bangunan, dan fasilitas publik lainnya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial manusia.

Berdasarkan Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah terdapat Pedoman Umum Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman Kumuh untuk menilai layak atau tidaknya kawasan yang mendukung aktivitas manusia di lingkungan permukimannya, kriteria umum tersebut antara lain

(4)

a. Status “legalitas” tanah yang tidak sesuai dengan Tata Ruang Wilayah Kota (KTRWK) Pontianak Tahun 2011-2030.

b. Tingkat kepadatan bangunan hunian dalam suatu lingkungan permukiman per satuan hektar.

c. Tingkat kualitas struktur bangunan yang rendah.

d. Tingkat pelayanan air bersih yang terbatas.

e. Kondisi sanitasi lingkungan dan persampahan yang buruk.

f. Kondisi jaringan jalan yang terbatas dengan kualitas yang rendah.

Ada 8 infrastruktur yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu jalan, air bersih, drainase, limbah, persampahan, listrik, telepon dan jaringan internet, dan gas kota.

1.3 Lokasi Survei

Lokasi survei berlokasi di Lorong Murni, 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Lokasi ini merupakan daerah permukiman dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Fokus penelitian ini memiliki luas 55.673 m2 dengan area yang ditandai pada gambar.

Gambar 1. Batas lokasi survei (sumber : Google Earth) 1.4 Lingkup Penulisan

Penulisan ini dibuat untuk mengamati point lingkup ruang yang ada pada lokasi. Dilakukan langkah-langkah untuk mengamati bagaimana kenyataan lingkup ruang lokasi tersebut. Oleh sebab itu penulisan ini mengambil data yang ada pada kenyataan lapangan dengan melakukan survei langsung ke titik lokasi. Titik lokasi yang disurvey hanya dibatasi di lingkup wilayah 3 - 4 ulu yang lingkungan nya terkesan padat dan berada di tepi pinggiran sungai musi. Dari lokasi tersebut lingkup data yang diambil yaitu :

a. survei lingkup ruang kota : penggunaan lahan (Land use), Tata bangunan (Building form), Sirkulasi, ruang terbuka, kegiatan, penandaan, preservasi

(5)

b. survey infra struktur permukiman : Jalan, air bersih, drainase, limbah, persampahan, listrik, telepon dan jaringan internet, dan gas kota

BAB 2

KONDISI DAN PERMASALAHAN RUANG KOTA

2.1 Penggunaan Lahan (Land Use)

Gambar 2. skema land-use sekitar site, hijau = mushola, biru = sekolah (sumber : analisis pribadi, Google Earth)

Pengamatan yang dilakukan di lokasi, dapat dilihat bahwa lahan didominasi oleh rawa dengan kontur yang berbeda-beda dan dapat diamati secara signifikan. Kontur ini menciptakan suatu perbedaan pada bentuk bangunan antar warga sekitar, jika rumah yang berada di kontur lebih rendah dari permukaan air sungai maka akan berbentuk panggung, lalu yang konturnya lebih tinggi dari air sungai maka akan langsung menapak ke tanah. Pemanfaatan dari bentuk rumah ini adalah pada rumah panggung di bawahnya bisa digunakan untuk menyimpan bahan nipah bila dibawah panggungnya kering, namun bila dibawahnya tergenang air maka akan dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan limbah dan drainase rumah.

Rumah yang bentuknya beda satu sama lainnya ini ternyata dihubungkan dengan satu jalur sirkulasi utama. Seluruh bangunan akan berorientasi ke jalan tersebut, hal ini berakibat muncullah pola pemukiman yang linear.

(6)

Sekitar lokasi terdapat beberapa lahan kosong yang dijadikan ruang terbuka multifungsional, lalu fasilitas pendidikan pada taraf SD cukup dekat dari lokasi amatan, taraf SMP cukup jauh sebab diluar dari lokasi dan harus diakses dengan naik angkot, dan terakhir taraf SMA juga jauh dari lokasi dan juga harus diakses dengan naik angkot. Fasilitas Kesehatan cukup untuk standar pedesaan sebab didalam lokasi itu terdapat sebuah puskesmas dan satu posyandu meskipun berada di RW yang berbeda. Fasilitas terakhir adalah Keagamaan yang diwakilkan dengan bangunan Masjid. jaraknya dari lokasi amatan tidak terlalu jauh, namun lokasi paling dekat adalah di daerah paling rendah mendekati sungai musi maka masyarakat di lokasi amatan jarang menggunakan Masjid tersebut.

2.2 Tata Bangunan (Building Form)

Berdasarkan land use yang dilakukan masyarakat sekitar, pola tata bangunan yang terbentuk adalah pola Axialyang mana pemukiman akan mengikuti dan menghadap ke jalan setempat, bangunan rata rata sangat dekat dengan ruas jalan sehingga setiap rumah benar-benar terkoneksi melalui jalan tersebut.

2.3 Sirkulasi

Sirkulasi utama adalah jalan yang menghubungkan antar pemukiman dengan lebar hanya 80 cm saja.

Untuk jumlah pemukiman yang padat, sirkulasi yang minim ini sangat jauh kurang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jalan ini hanya dapat dilalui oleh 1 sepeda motor saja dan ini merupakan

2.4 Ruang Terbuka

Kepadatan pemukiman yang terjadi, ditambah dengan tanah yang merupakan rawa maka sedikit sekali dijumpai ruang terbuka di sekitar lokasi. Ruang terbuka yang ditemui pada lokasi biasanya adalah tanah kepemilikan yang ditinggal sebab empunya tanah bekerja dan tinggal di kota, sehingga tanah seperti itulah yang dimanfaatkan masyarakat untuk menjadi ruang terbuka di tengah sempitnya pemukiman tersebut. Selain dari tanah yang tak bertuan, ruang terbuka juga dapat berupa lapangan.

Namun untuk mengaksesnya harus keluar dari batas lokasi amatan, sebab lapangan ini ada di dataran yang lebih tinggi konturnya dari sungai.

2.5 Kegiatan

(7)

Kegiatan yang biasa terjadi di dalam lokasi amatan adalah menjemur nipah dan menganyamnya.

kegiatan menjemur terjadi di lapangan-lapangan yang susah terendam air sungai, lalu kegiatan menganyam terjadi di pinggir rumah ataupun di bawah kolong panggung rumah.

Kegiatan harian lainnya adalah peribadatan, masyarakat biasa melakukan ibadah/sholat di mushola dikarenakan jenis rumah ibadah ini yang paling dekat dan mudah diakses didalam lokasi amatan.

Terdapat Masjid yang cukup besar, namun untuk mengaksesnya warga sekitar harus pergi ke Daerah Laut. Tempat tersebut adalah lokasi yang sangat dekat dengan sungai musi, sehingga masyarakat sekitar memanggil area tersebut dengan nama Daerah Laut. Masjid ini akan sangat susah diakses bila harus pergi ke area Laut, maka dari itulah kegiatan keagamaan dilakukan di mushola saja.

Selain dari keagamaan, kegiatan seperti peradatan baik pernikahan, kelahiran, maupun kematian biasanya masyarakat menggunakan ruang terbuka yang berupa lahan kosong. Pemanfaatan lahan kosong untuk acara adat ini menurut narasumber sudah dilakukan sejak dahulu, sebab pemukiman sekitar lokasi sangat padat dan tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan besar tanpa adanya lahan kosong. Kegiatan mingguan seperti pengajian ataupun kegiatan arisan ibu-ibu biasa dilakukan di rumah paling tinggi dari air sungai, atau di rumah warga yang berupa panggung.

2.6 Penandaan (Signage)

Pada Lorong Murni tidak terdapat penanda jalan (signage) yang menyebabkan sulitnya orang untuk mengetahui nama lorong tersebut. Dibandingkan dengan Lorong Sinteren, terdapat signage seperti gambar di bawah ini. Adapun signageberupa gapura, mushola, sekretariat LSM, dan majelis taklim.

Gambar 3. Signage berupa Gapura, Mushola, Sekretariat, Majelis Taklim (sumber : dokumentasi pribadi, Google Earth)

2.7 Preservasi

Pada beberapa bangunan di sekitar kawasan Lorong Murni, sebagian besar rumah warga yang mendekati area sungai masih menggunakan material kayu dan hampir seluruh rumah bersifat panggung karena menyesuaikan dengan kondisi kawasan tersebut.

(8)

Gambar 4. Beberapa Rumah Panggung yang berlokasi di Lorong Murni dan Lorong Sinteren (sumber : dokumentasi pribadi, Google Earth)

BAB 3

KONDISI DAN PERMASALAHAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN 3.1 Jalan

Lorong Murni berada di dekat Jembatan Musi 6. Akses menuju ke lorong ini terdapat jalan raya selebar ±4 meter. Akses jalan dari awal masuk lorong hingga ujung yang mengarah ke Sungai Musi hanya berkisar ±60 cm dan hanya cukup 1 motor saja. Tidak berbeda dengan Lorong Murni, kondisi jalan setapak Lorong Sinteren pun sama. Jalan setapak ini di bangun dengan jenis jalan beton bertiang karena tanah di Lorong Murni dan Lorong Sinteren adalah jenis tanah rawa. Menurut foto dari hasil survei terdapat penanda bahwa jalan ini dibangun pemerintah dari program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) juga di bantu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat di Lorong Murni maupun Lorong Sinteren yang ikut berpartisipasi.

Gambar 5. Keadaan jalan pada kawasan Lorong Murnidan Lorong Sinteren

(9)

(sumber : dokumentasi pribadi, Google Earth)

3.2 Air Bersih

Rumah-rumah di kawasan Lorong Murni mendapatkan supply air bersih dari PDAM yang diberikan pemerintah baru-baru ini karena sebelumnya masyarakat mendapatkan air bersih dari Sungai Musi yang lalu di olah menjadi air bersih (pemutihan). Akan tetapi, hingga saat ini masih ada beberapa rumah yang masih menggunakan air Sungai Musi untuk menunjang kebutuhan penggunaan air sehari-hari. Di kawasan tersebut juga jarang yang memiliki sumur.

Gambar 6. Meteran PDAM sebagai sumber air bersih warga (sumber : dokumentasi pribadi, Google Earth) 3.3 Drainase

Kawasan Lorong Murni 3-4 Ulu merupakan kawasan yang berdekatan dengan Sungai Musi, sehingga jalur untuk drainase pembuangan langsung di arahkan menuju sungai termasuk limbah rumah tangga (air bekas cucian piring, cucian baju, dan urin) dibuang langsung ke sungai. Akan tetapi, drainase di sekitaran permukiman masyarakat banyak tertumpuk oleh limbah padat (sampah) sehingga jalur air tersumbat dan banyak menciptakan genangan air yang menimbulkan bau cukup menyengat.

(10)

Gambar 7. Drainase pembuangan pada rumah warga menuju ke aliran Sungai Musi (sumber : dokumentasi pribadi, Google Earth)

Gambar 8. Kondisi drainase di selokan jalan setapak pada Lorong Murnidan Lorong Sinteren (sumber : dokumentasi pribadi)

3.4 Limbah

Jenis limbah berdasarkan sumbernya pada lokasi ini berupa jenis limbah rumah tangga.

Limbah ini dikategorikan lagi menjadi limbah organik dan non organik. Untuk limbah rumah tangga organik dapat berupa sisa makanan, kulit sayuran-buahan dan lainnya. Sedangkan untuk limbah rumah tangga non organik berupa sisa sabun cuci piring, botol bekas, kaleng, dan lainnya. Pada lokasi ini untuk limbah cucian sendiri tiap rumah akan langsung membuang limbah mereka ke tanah melalui saluran pipa, sehingga limbah tersebut dibiarkan meresap ke tanah. Untuk kondisi pengelolaan air kotor pun hanya sebatas dibuang saja sekarang tanpa ada pengolahan lebih lanjut

Gambar 9. Pembuangan limbah langsung ke tanah (sumber : dokumentasi pribadi)

(11)

Gambar 10. Limbah cair yang belum meresap ke tanah (sumber : dokumentasi pribadi)

3.5 Persampahan

Permukiman ini tidak menyediakan tempat sampah untuk dikelola sehingga masyarakat biasanya membakar sampahnya. Namun, ada juga yang menyediakan tempat sampah di depan rumahnya. Jika sudah penuh sampah tersebut dibawa ke depan lorong karena tidak ada petugas sampah yang mengambilnya. Permasalahan yang ada masih ditemukan pada persampahan ini, masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan di selokan ataupun di sudut lorong, sehingga ketika hujan akan menyebabkan banjir dan lingkungan menjadi bau karena sampah tersebut.

Gambar 11. Persampahan yang menumpuk di setiap sudut (sumber : dokumentasi pribadi)

3.6 Listrik

Penggunaan listrik sudah ada di seluruh rumah permukiman lorong ini. Terlihat dari adanya tiang-tiang listrik yang menyebar pada kawasan ini. Untuk penempatan jaringan listrik melakukan sistem berjajar dan menyilang. Untuk kondisi yang menyilang dapat menjadi sebuah permasalahan, apabila ada perbaikan akan menyusahkan petugas, apalagi kondisi penempatan mepet dengan rumah warga yang membuat kabel menjadi menumpuk dan terbelit.

(12)

Gambar 12. Kondisi penempatan listrik pada lokasi (Menyilang, menumpuk, dan di sudut rumah) (sumber : dokumentasi pribadi)

3.7 Telepon dan Jaringan Internet

Telepon kabel sudah jarang digunakan oleh penduduk permukiman. Beberapa masyarakat sudah beralih menggunakan telepon genggam dan menggunakan jaringan internet (wifi) khususnya daerah depan permukiman, namun pada daerah yang dekat sungai sulit untuk menggunakan jaringan itu karena jaringan kabel nya tidak mendukung daerah dekat dengan sungai

Gambar 13. Tidak ada jaringan kabel internet di daerah dekat sungai (sumber : dokumentasi pribadi)

3.8 Gas Kota

Gas kota belum ada pada permukiman ini.

(13)

BAB 4

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 4.1 Kesimpulan

Jalan Murni yang berada di 3-4 Ulu merupakan permukiman tepian Sungai Musi. Lingkungan sekitar permukiman yang dipenuhi oleh rawa, membuat banyak sekali adaptasi yang dihadapi oleh pemukiman Jalan Murni 3-4 Ulu. Dalam segiland use, permukiman di Jalan Murni ini sudah cukup kompleks baik dari pembagian pemukiman, lahan terbuka, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan keagamaan. Land use ini meskipun sudah cukup terpenuhi namun jaraknya cukup jauh, masyarakat sekitar minimal harus keluar lingkup lokasi amatan dengan jalan kaki atau naik angkot.

Segi Zoning, pemukiman di Jalan Murni berisi 90% rumah tinggal sehingga sangat sedikit sekali area-area terbuka. Ruang Terbuka yang ada biasanya merupakan tanah kosong milik warga yang merantau sehingga kegiatan seperti adat pernikahan/meninggal dilakukan di tanah-tanah tersebut. Selain dari segi ruang terbuka, ternyata sirkulasi yang menjadi pembentuk pola pemukiman linear hanya selebar satu orang dewasa atau hanya selebar 80 cm. Dengan lebar tersebut banyak warga yang harus melakukan aktivitas dengan berjalan kaki, dan amat sulit untuk pengunjung yang menggunakan kendaraan motor atau mobil sebab sirkulasi ini tidak bisa memadai untuk dilalui kendaraan.

Kekurangan selanjutnya dari lokasi amatan adalah kurang signage atau penanda. Lokasi amatan yang berbentuk linear mengikuti arah jalan, sehingga bila orang asing yang ingin datang ke lokasi akan kesulitan bila salah memilih jalan sehingga tidak akan mendapat rumah/fasilitas umum yang ingin dituju. Namun dari segi poin air bersih dan kotor, pemukiman ini sudah cukup baik sebab PAM masih masuk ke sekitar pemukiman namun untuk air kotor sendiri sudah terorganisir dengan septic tank, namun masih sangat sederhana dan belum kompleks.

Penyebaran listrik cukup baik dan merata, namun untuk kabel kabel listrik masih cukup berantakan dan cukup merusak pemandangan rumah-rumah sekitar. Begitu pula dengan jaringan internet, cukup merata namun hanya provider tertentu saja yang benar benar lancar sehingga rata-rata masyarakat sekitar hanya menggunakan provider tersebut.

Permukiman di Jalan Murni setelah diamati ternyata sudah memiliki sistem yang cukup kompleks, namun seperti halnya permukiman tepian sungai lainnya bahwa fasilitas yang ada masih sangat minim dan tidak berkelanjutan. Fasilitas ini hanya untuk masyarakat melakukan aktivitas rutin, tidak lebih dari itu. Sehingga perlu beberapa perubahan dan penambahan agar mendukung kegiatan masyarakat Jalan Murni agar tetap terus berdampingan dan bersahabat dengan sungai sekitarnya.

4.2 Rekomendasi

Dikarenakan terletak di pemukiman padat penduduk maka tinggi pula mobilitas masyarakat.

dari data survei ditempat, sirkulasi masyarakat hanya satu jalur yang berukuran 80cm yang hanya dapat dilalui oleh sepeda motor saja, namun ketika sudah memasuki ke tengah kawasan penduduk jalur sirkulasi bercabang, hal ini sangat membingungkan bagi orang orang datang dari luar yang akan berkunjung ke daerah ini. pemberian nama di setiap gang sangat penting agar orang orang tidak tersesat lagi saat mencari alamat.

(14)

Selain sirkulasi yang kurang masyarakat disini cukup kesusahan untuk memarkirkan kendaraan roda empat baik milik pribadi maupun orang yang berkunjung, ketika ada pesta hajatan mau tidak mau tamu yang mengendarai kendaraan roda empat harus memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan utama lalu kemudian berjalan ke lokasi yang dituju, ruang parkir yang cukup sangat dibutuhkan disni

Sampah salah satu masalah yang ada di wilayah ini, masyarakat di Lorong Murni ini memiliki beberapa cara untuk membuang sampah mereka seperti membakar atau melalui petugas kebersihan ataupun membuangnya secara sembarangan, untuk melalui petugas mereka harus membayar jasa, dan tidak semua masyarakat disini berasal dari kalangan yang mampu. Rekomendasi dari ini adalah pemerintah membuat program untuk bisa mendaur ulang sampah sampah yang dibuang menjadi barang yang bisa mendatangkan keuntungan selain lingkungan yang bersih ekonomi masyarakat disini bisa terbantu.

Hampir keseluruhan rumah di kawasan 3-4 ulu ini sudah aliri aliran listrik, tiang listrik tersebar dimana mana kabel kabel listrik cukup semerawut, ini yang kemudian akan memicu masalah untuk kedepannya, dikarena kan kawasan yang padat penduduk dan belum lagi material kayu mendominasi rumah warga. bahaya konsleting listrik menjadi ancaman di daerah ini perlu adanya penataan yang baik dari pihak berwenang untuk menyelesaikan masalah ini sebelum terlambat.

LAMPIRAN

Berikut transkrip wawancara sistem air bersih dan drainase pada kawasan Keterangan:

Pewawancara: Deshinta (De) dan Ridafa (R) Narasumber: Ibu Rumah Tangga (Ib)

R: “Izin nanyo-nanyo buk. kalo untuk air bersih ni dari sungai atau di kasih oleh pemerintah?”

Ib: “kalo untuk sekarang ni lah di kasih PAM, hampir seluruh rumah disini lah di kasih bantuan. tapi ado beberapo rumah ni masih gunoke pemutihan kan pake kaporit apo cakmano kan”

De: “Berarti rumah-rumah dekat samo sungai tu lah pake PAM jugo bu?”

Ib: “idak kalo itu. rumah-rumah dekat sungai, airnyo pake di sungai tu lah”

R: “kalo pembuangan air bekas rumah tangga cak air cucian, air bekas mandi bu, itu langsung dibuang ke sungai apo ado pipanyo untuk keluar?”

Ib: “langsung dibuang ke sungai kalo air yang cak itu. tapi untuk BAB tu ado septic tanknyo dewek”

De: “Berarti kalo BAB atau buang air itu pake septic tank galo kan bu pembuangannyo?”

Ib: “Iyo kalo rumah arah jalan tu septic tank dewek-dewek, tapi yang tengah ado digabung, nah yang arah sungai tadi langsung tula dibuang kesano”

(15)

Berikut transkrip wawancara tentang limbah, persampahan, listrik, telepon dan jaringan internet, serta gas kota.

Keterangan:

Pewawancara: Lauritta (L), Daniel (D), Miftah (M) Narasumber:

Harni Agustini (H), 19 tahun Yusnitinawati (I), 50 tahun

L: “Yuk, kalau misalkan pembuangan limbah air cucian itu langsung dibuang ke tanahnya atau memang ada saluran lagi gitu? kalo biasa rumah-rumah di sini?”

H: “Kalo rumah disini langsung buang”

L: “Soalnya tadi nengok ada di situ kek ngalir ke tanah kan”

H: “Kebanyakan gitu”

L: ”Oo, gitu ya, terus kalau untuk sampah-sampahnya sendiri disini udah ado pengolahannya dak?

maksudnya kayak dari warga-warga sendiri ada kegiatan untuk mengolah sampahnya atau memang udah dibiarin buang sampah sembarangan?”

D: “Iyo, dibuang bae atau mungkin ado yang ngangkut?”

L: “Atau ado tempat sendiri untuk buang sampah nya gitu?”

H: “Tergantung dari masyarakatnya. Ada yang buang ke tempat sampah, ada yang dibakar”

D: “Tempat sampah di sini dimano, yuk?”

H: “Biasa depan rumah”

D: “Itu ado yang ngangkutnyo dak?”

H: “Oo, itu biasa galak nganter ke depan kali ada angkot”

D, L: “Oo, cak itu ya”

H: “Karno mobil dak bisa masuk ke sini, dak mungkin petugasnya nak ke rumah sikok-sikok dong kan”

D: “Oiya, bener”

(16)

L: “Disini pake telepon itu ngga, kabel gitu?”

H: “telepon genggam? sudah ngga, jarang”

L: “Terus apa namanya, kalo disini warga-warganya ada pemasangan wifi ngga? atau punya internet sendiri?”

H: “Ada ini, depan rumah ini ada wifi, tapi jarang sih kalo yang rumah-rumah di arah laut itu kan susah masuk kabelnyo, jadi ado kawan juga yang rumahnyo deket laut dak biso, soalnyo belibet”

D, L: “hmm”

H: “Nah, arah depan-depan sini masi bisa dipasang wifi”

D: “Tapi kalo kek sinyal-sinyal operator cak itu ado kendala dak?”

L: “Nah iyo, ada kendala dak?”

H: “Kendala sih sesuai dari kartunyo”

D, L: “Oo”

H: “Kalo di sini yang sinyal lebih kuat tuh smartfren samo telkomsel”

D: “Hmm, oiya, selain itu masi ado kendala-kendala cak itu e?”

H: “Tapi tergantung tempat juga sih hehe”

D: “Oo”

L: “Disini kalo listrik sendiri udah memadain ngga semua rumah atau ada yang kayak ada kendala sama listrik? misalkan dia sering mati lampu atau apa gitu?”

H: “Ini kan beda jalur, misalnya jalur A sama jalur B. Kalau di jalur A hidup, jalur B tetap mati. Cuma beda jalur. Ini depan ini jalur B, kami jalur A misalnya kami hidup, dia (jalur)mati”

L: “Mati gitu?”

H: “Hooh, beda jalur walaupun deketan rumah tapi beda jalur”

M: “Kalo gas cak mano di sini, yuk? membeli?”

H: “Beli, di sini memang. Apo gas yang pake kompor tanpa gas itu?”

M: “Iya, iya”

H: “Itu biasanya untuk(suara tidak terdengar)itu bukan?

M: “Bukan, bukan, gas yang sampe ke rumah itu”

H: “Gas apo itu yo?”

(17)

M: “Apo istilahnya yo?”

H: “Gas yang isi ulang itu bukan?”

M: “Yang ada pipanya dewek, yuk, ke rumah pipanya itu, yang dak make tabung lagi”

H: “Iyo yang diisi ulang itu bukan?”

M: “Idak, idak, jadi dio cak PDAM, yuk”

H: “mmm”

M: “Ngalir ke rumah gasnyo tuh, idak di sini ya?”

H: “Katek”

M: “Berarti tukar-tambah tabung, kalo nambah dak katek”

L: “Kalo ini, untuk pembuangan tinja emang ada septictank sendiri? soalnya kan kami udah pernah tuh dulu survey di Oeng Boentjit, kalo dia malah berapa rumah tuh satu(suara tidak terdengar)

H: “Biasanya yang cak bedeng yang kontrakan itu?”

L: “Iya”

H: “Kalo bedeng kontrakan itu tuh ada yang satu rumah satu septictank, tapi ada yang juga 7 rumah misalkan tapi satu septictank”

L: “Ada di sini?”

H: “Tergantung dari rumahnya”

H: “Kalo daerah laut, cak rumah rakit itu, rumah apung e,(suara tidak terdengar)

L: “Di sini ada?”

H: “Kalo itu jarang, ke laut tapi”

L: “Dia langsung buang ke laut?”

I: “Iya buang ke laut, sampah itu dek”

H: “Dak seluruhnyo”

L: “Sampah juga dibuang ke laut?”

I: “Iyo, kalo kami dibakar di belakang”

L: “Dibakar?”

I: “Ado tanah kosong(di belakang)

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai

Kirmanto, D.2005. “Pembangunan Perumahan Dan Permukiman Yang Berwawasan Lingkungan Strategis Dalam Pencegahan Banjir Di Perkotaan”. [serial online]

http://www.pu.go.id/Ditjen_mukim/ensiklopedia/perumahan/cegahbanj ir.html. [30 November 2005].

Sonda, dkk. 2017. Upaya Penanganan Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan Di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.hal: 287-296.

Edyansyah. 2016. Penataan Infrastruktur Kawasan Permukiman Bantaran Sungai Kapuas Di Kelurahan Banjar Serasan Kecamatan Pontianak Timur.Vol. 16, No. 1. hal 1-13.

Hadi Sabari Yunus. 2010. Metodologi Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Indonesia.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1994 tentang Perumahan dan Pemukiman.

Profil Strategis Penataan/Penanganan Permukiman Kumuh Dalam Kota Palembang

Referensi

Dokumen terkait