EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting
Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:
Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Penyunting:
Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.
Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِAl-Khairat, Pamekasan.
IT Support:
Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK
Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Jl. Bukit Lancaran PP.
Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:
[email protected] Website:
http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik
Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah
1-20 Analisis Hukum Islam terhadap Penjualan Barang Kredit Macet oleh PT Adira Finance Sumenep Masyhuri, Fadhilah Khunaini dan Hairus Saleh 21-55 Tranformasi Pendidikan Agama Perempuan
Pedesaan Madura di Era Digital Tatik Hidayati dan Abdul Halim
56-71 Kontestasi Islam Tradisional dan Pembaruan Pesantren di Indonesia Perspektif Iksan K. Sahri Abdul Wahid dan Nadya
72-104 Pemberian Hadiah dalam Produk Sajadah di BMT NU cabang Saronggi Perspektif Fatwa DSN-MUI No. 86/DSN-MUI/XII/2012 A Washil, Moh Jazuli dan Nur Hidayati
105-125 Etika Komunikasi dan Pemanfaatan Gawai Secara Bijak Perspektif Al-Qur’an
Fairuzah dan Mohammad Afnan
105-125 Disharmonisasi Keluarga dalam Al-Qur’an (Studi Psikologi Terhadap Kisah Keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth)
Fathurrosyid, Abdul Basid dan Ainur Rahmah
Disharmonisasi Keluarga dalam Al-Qur’an (Studi Psikologi Terhadap Kisah Keluarga Nabi Nuh dan
Nabi Luth) Fathurrosyid
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]
Abdul Basid
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]
Ainur Rahmah
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]
Abstrak
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa disharmonisasi kisah keluarga Nabi Nuh tergolong dalam alur progresif. Karena jalinan peristiwanya dimulai dari situation, generating circumstances, rising action, climax, sampai pada tahap denoument.
Sedangkan alur disharmonisasi kisah keluarga Nabi Luth tergolong dalam alur progresif-regresif (campuran). Karena menggabungkan antara plot lurus dan sorot balik. Kedua, adapun faktor yang mempengaruhi disharmonisasi kisah keluarga Nabi Nuh diantaranya adalah: adanya pergulatan psikologi manusia, reservasi budaya dan rasa takut hilangnya dominasi ekonomi. Adapun faktor yang mempengaruhi disharmonisasi kisah keluarga Nabi Luth diantaranya adalah:
adanya pergulatan psikologi manusia dan dorongan fisiologis. Sedangkan apabila dilihat dari kacamata psiko harmoni sebuah keluarga, maka peran Nabi Nuh adalah tergolong kepada type mover dan peran Wa’ilah (istrinya) dan Kan’an (putranya) adalah tergolong kepada type opposer. Demikian halnya dengan Nabi Luth. Type peran Nabi Luth adalah adalah tergolong kepada mover, dan Wahilah (istrinya) adalah tergolong kepada type opposer.
Kata Kunci: disharmonisasi, keluarga, psikologi, Al-Qur’an
Pendahuluan
Firman Allah yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an memiliki dua varian metode yang digunakan untuk
menyampaikan petunjuknya, pertama, direct method/thâriqah mubâsyarah, metode langsung dalam bentuk perintah dan larangan; kedua, undirect method/thâriqah ghaîr mubâsyarah, metode tidak langsung, di antaranya dengan melalui matsal (perumpamaan), ta’rîdl (sindiran) dan kisah.1 Artinya, bahwa pada dasarnya kandungan dalam al-Quran dibagi menjadi dua bagian, pertama berisi konsep-konsep yang disebut ideal-type, dan kedua berisi kisah-kisah sejarah dan amsal-amsal yang disebut arche-type.2 Dalam bagian yang berisi konsep-konsep, Al-Qur’an bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai ajaran Islam. Sedangkan dalam pilihan penggunaan yang berisi kisah-kisah historis karena Al-Qur’an ingin mengajak melakukan perenungan untuk memperoleh wisdom.3 Adapun salah satu kisah historis yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini adalah kisah penghianatan yang dilakukan oleh keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth karena dua alasan.
Pertama, mendiskusikan cikal bakal terjadinya tindak pengkhianatan dalam sebuah keluarga melibatkan kisah keluarga Nabi Adam dan Hawa yang menjadi pelopor utama
1 Abdul Mustaqim, Kisah Al-Qur’an: Hakekat, Makna, dan Nilai- Nilai Pendidikannya, Jurnal Ulumuna, Vol. XV, No. 2 (Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, 2011), 271
2 Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi dan Etika, (Jakarta: Teraju, 2004), 14-15
3 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, (Bandung:
Mizan, 1991), 327
128 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
kisah pengkhianatan yang terjadi dalam sebuah keluarga apabila ditinjau dari studi sebuah hadist.4 Sementara itu, Al-Qur’an juga dengan jelas menampilkan keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth sebagai dua tokoh keluarga yang memerankan kisah pengkhianatanya terhadap kedua Nabi ini. Kedua, konteks penghianatan yang dilakukan oleh kedua keluarga ini dijadikan sebuah perumpamaan atas ketidak amanahan mereka terhadap suami yang ma`shûm. 5 Jelas kedua keluarga ini telah mengkhianati amanat mereka masing-masing dari sisi keharusan sebuah keluarga menjaga kehormatan satu dan lainnya.
Konteks penghianatan yang dilakukan oleh sosok putra dan istri kedua keluarga Nabi ini mengidentifikasikan hubungan sebuah keluarga yang keluar dari makna dan hakikat amanah.
Term amanah dan khianat bertolakbelakang dalam implementasinya pada keberlangsungan sebuah institusi keluarga. Penghianatan kedua keluarga ini berkaitan dengan sifat keabsahan manusiawi, tapi hal itu jelas tidak boleh dilakukan, sebab konotasinya adalah sebuah perjanjian dalam sebuah keluarga. 6 Kontribusi adanya disharmonisasi dalam tatanan sebuah keluarga secara global mempunyai banyak faktor; faktor ekonomi, perbedaan visi dan misi dalam membina
4Ridwan Hasbi, Asal Mula Penghianatan Istri dalam Studi Hadis Misogini, Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender, Vol. 16, No. 2, (Indonesia: UIN Suska Riau, 2017), 205
5 Ibid, 205
6 Ibid, 204
rumah tangga, adanya kemandulan dari salah satu pasangan, rendahnya komunikasi antar anggota keluarga, penerapan ajaran agama, tanggung jawab sesuai peran yang dipegang dalam keluarga, nilai yang dianut dalam perkawinan dan lain sebagainya.7
Terjadinya beberapa klaim dan kecaman terhadap paradigma sosok perempuan yang terus dilihat sebelah mata dan terus memiliki posisi peran di belakang layar melahirkan pandangan bahwa perempuan hanya sebagai sosok yang sub- human sehingga terciptalah ruang diskriminatif bahwa perempuan makhluk lemah, laki-laki makhluk kuat; perempuan emosional dan laki-laki rasional, dan seterusnya8. Sehubungan dengan gambaran diskriminatif perempuan, kedudukan seorang istri bukan hanya sebagai pendamping sosok sentral saja tapi jauh dari itu sebagai penyokong dan bahkan sampai pada tahap tiang penyangggah.9 Sedangkan sosok seorang anak dalam sebuah keluarga adalah sebagai generasi penerus yang di haruskan untuk dapat melanjutkan hal-hal kebaikan yang telah dilakukan oleh generasi pendahulunya. Dengan demikian riset
7 Maria Nona, Hubungan dalam Perkawinan dan Pemaafan dengan Keharmonisan Keluarga, Jurnal Psikology, Vol. 05, (Bandung: Proceeding Pesat, 2013), 6
8 Abu Zaid, Nasr Hamid, Dawair al-Khaûf; Qirâ’ah fî Khitâb al-Mar’ah, (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafî al-‘Arabî, 2000), 5
9 Ridwan Hasbi, Asal Mula..., 203
130 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
ini menjadi penting untuk dilakukan ditinjau dari beberapa persoalan diatas secara totalitas.
Problematika masyarakat sekarang ini bukan saja menyangkut masalah materi, tetapi juga menyangkut masalah- masalah psikologis. Hal ini disebabkan karena semakin modern suatu masyarakat maka semakin bertambah intensitas dan eksistensitas dari berbagai disorganisasi dan disintegrasi sosial masyarakat. 10 Kondisi ini telah mengakibatkan makin disharmonisasi keluarga karena makin banyak keluarga yang jauh dari nilai Agama. Demikian dengan diskursus Al-Qur’an yang ternyata didalamnya juga sarat akan berbagai nuansa psikologi manusia. Hal ini tercermin dari beberapa ayat yang berbicara tentang sifat-sifat dasar manusia, baik itu positif (seperti rasa cinta, optimis) maupun negatif (seperti; suka tergesa-gesa, sering mengeluh, takut mati). Berbagai bentuk prilaku dan proses mental manusia tersebut akan menemukan posisinya yang lebih tepat jika dilihat dalam kisah Al-Qur’an11, yang dalam penelitian ini difokuskan pada kisah disharmonisasi keluarga dalam Al-Qur’an studi psikologi terhadap kisah keluarga Nabi Nuh dan Luth.
10 Abdul Aziz Ahya, Psikologi Agama, Kepribadian Muslim Pancasila, (Bandung: Sinar Baru al-Gesindo, 1995), 112
11 Lenni Lestari, Pendekatan Psikologi Terhadap Kisah Suami-Istri dalam Al-Qur’an, Jurnal Pusat Studi Al-Qur’an (UIN Sunan Kalijaga, 2014), 34
Penelitian ini adalah hendak mengungkap faktor apa yang menyebabkan adanya disharmonisasi dalam keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam Al-Qur’an dengan menggunakan studi psikologi.
Disharmoni Keluarga
Akar kata “disharmoni” merupakan sinonim dari kata harmoni yang secara etimologis, berasal dari kata dis dan harmonic : selaras, harmony: persetujuan, sehingga membentuk kata disharmony yang artinya kepincangan, ketidaksesuaian atau kejanggalan 12 . Kata “disharmonisasi” itu sendiri didefinisikan oleh tiga tokoh ilmuwan terkemuka sebagai berikut:
Pertama, Gunarsa mengemukakan konsep keluarga bahagia adalah apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh minimnya ketegangan, kekecewaan, dan puas terhadap seluruh keadaan 13 . Menurutnya, disharmonisasi merupakan gejala hubungan timbal balik antarindividu yang tidak selaras di lingkungan sosial. Hal itu bisa terjadi dalam
12 Wojowasito dan Poerwadarminto, Kamus Lengkap, (Bandung:
Hasta, 1985), 44.
13Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih, Psikologi Praktis: Anak, Remaja, dan Keluarga, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1991), 209
132 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
struktur sosial masyarakat terutama yang paling kecil tingkatannya, yakni sebuah rumah tangga atau keluarga14.
Kedua, Gerungan berpendapat bahwa keluarga yang harmonis adalah bilamana anggota-anggotanya memiliki interaksi yang baik dan memiliki keutuhan keluarga serta kecocokan antara pasangan sehingga menimbulkan ketenangan15. Definisi ini menurut penulis mengidentifikasikan bahwa keluarga disharmonis merupakan keadaan di mana anggota-anggota dalam struktur keluarga telah gagal dalam memenuhi peran serta kedudukannya, sehingga menyebabkan terjadinya ketidakselarasan dalam menjalankan fungsi-fungsi pada keluarga.
Ketiga, Hendra mendefinisikan keluarga disharmonis adalah kondisi retaknya struktur peran sosial dalam suatu unit keluarga yang disebabkan satu atau beberapa anggota keluarga gagal melalukan kewajiban mereka sebagaimana mestinya16. Pemikiran ini melahirkan pandangan bahwa hubungan antara suami dan isteri atau anak dalam keluarga memiliki interaksi yang interpersonal sebagai bentuk eksistensinya dalam kelompok sosial. Sebuah Keluarga juga memiliki fungsi-fungsi yang harus dipenuhi. Beberapa fungsi tersebut apabila diabaikan
14 Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, (Jakarta: Gunung Mulia, 2004), 210
15 Gerungan, W.A., Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco, 1987), 185
16Hendra, Keluarga Disharmonis Pasti Bisa Diatasi, (Banjarmasin:
Pustaka Cahaya Bangsa, 2008), 255
maka ketidakharmonisan akan muncul di antara sesama anggota keluarga. Selain itu, faktor di luar internal juga turut mendominasi keadan tersebut.
Dari beberapa definisi di atas, disharmonisasi adalah suatu bentuk tidak terjadinya keselarasan secara keseluruhan yang dianggap mempunyai nilai negatif dengan beberapa aspek penilaian. Posisi disharmonis ini berorientasi kepada keluarga yang telah kehilangan esensi dari arti keluarga itu sendiri, karena keluarga yang disharmonis tidak bisa menjalankan fungsinya dengan semestinya. Hal itu bisa dilihat dalam suatu keadaan atau kondisi sebuah keluarga yang terlihat tidak bahagia.
Konsep Psiko Harmoni Keluarga
Penggagas teori ini adalah Prof. David Kantor, penulis menggunakan empat konsep teori type peran pasangan ketika berkonflik yang dirumuskan oleh Kantor ini. Hal ini dilakukan agar dapat membedakan type peran yang dimiliki oleh pasangan suami-istri dalam keluarga. Dengan demikian akan dilakukan kajian psikologi mengenai penelitian ini.
Mover (penggerak); diartikan sebagai yang mengusulkan dan pendorong tindakan. Mover adalah pemimpin alami yang siap untuk membela prinsip-prinsip yang telah diyakini dan berupaya mendorong perubahan. Mover juga dapat memiliki sisi
134 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
bayangan di mana perubahan yang mereka usulkan adalah untuk motif tersembunyi, seperti mendapatkan kekuatan pribadi.
Followers (pengikut); pengikut cenderung mendukung inisiatif dari penggerak. Artinya para pengikut tidak memiliki potensi untuk memulai gerakannya sendiri. Pengikut biasanya cukup berhati-hati karena mereka tidak mau mengambil sikap pribadi pada setiap hal. Mereka hanya cukup bergabung bersama penggerak dan memahaminya.
Opposer (penentang); para penentang lebih konservatif dan secara alami menantang setiap hal untuk perubahan dari penggerak. Pertentangan yang dilakukan oleh penantang dapat bersifat global atau spesifik dalam menantang penggerak.
Mereka tidak berupaya untuk menciptakan perubahannya sendiri, mereka hanya menjadi penentang.
Bystander (pengamat); Bystanders lebih netral daripada pengikut dan lebih suka mengamati apa yang terjadi daripada berkomitmen pada argumen atau posisi apa pun. Ketika mereka merasa nyaman dengan pemahaman mereka, mereka kemudian dapat mengambil tindakan lebih positif. Atau, mereka mungkin hanya memutuskan untuk duduk kembali di peran yang menyaksikan.17
17 Kantor, dkk, Inside the Family: Toward a Theory of Family Process. Harper & Row, Publishers, 1976 (originally published by Jossey- Bass, 1975), 1
Analisis Faktor Disharmonisasi Kisah Keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth
1. Keluarga Nabi Nuh
Pada tahap analisis faktor disharmonisasi kisah keluarga Nabi Nuh, penulis mengalisisnya melalui buku Qishasun an- Nisâ’ fil Qur’anil ‘Adzim karya Jabîr Asysyâl terkait dengan (QS. at- Tahrîm [66]: 10). Hal ini dilakukan karena Al-Qur’an tidak menampilkan secara utuh kisah pengkhianatan yang dilakukan oleh keluarga Nabi Nuh. Dari buku ini penulis menemukan beberapa fakor disharmonisasi yang terjadi dalam keluarga Nabi Nuh. Diantaranya adalah:
a. Pergulatan Psikologi Manusia
Jika kisah ini dipandang dari sudut teori psikoanalisis keperibadian manusia yang terdiri dari tiga potensi yaitu: Id (dorongan-dorongan biologis ), Ego ( kesadaran terhadap realitas kehidupan), Super ego (kesadaran normatif). 18 Dalam ayat yang menjelaskan tentang penolakan putranya terhadap ajakan Nabi Nuh pada (QS. Hud [11]: 43) membuktikan adanya peran dorongan biologis dan egoisitas yang ada dalam dirinya. Maka sifat yang dilakukan oleh istri Nabi Nuh dan putranya yang menolak ajaran Nabi Nuh alamiah dilakukan oleh manusia lainnya. Karena, pada dasarnya dalam diri manusia termotivasi adanya pergulatan
18 Ja’far H, Struktur Kepribadian Manusia ...209-221
136 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
antara perilaku kebaikan dan keburukan, hanya saja daya tarik perilaku keburukan lebih kuat dibandingkan daya tarik perilaku kebaikan.
Hal ini diakibatkan oleh terjadinya perseteruan antara nafsu ammarah bi as-sû’ (jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan), nafsu lawwâmah (jiwa yang amat mencela), dan nafsu mutma’innah (jiwa yang tenteram). Dengan demikian perilaku keperibadian seseorang dinilai baik atau tidaknya ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupannya.19
Kisah putra Nabi Nuh membuktikan adanya hal ini.
Karena, akibat ibunya yang menentang terhadap dakwah Nabi Nuh dengan mengatakan Nabi Nuh gila20, putranya pun turut terpengaruh oleh sikap istri Nabi Nuh tersebut.
Hal ini juga turut mengidentifikasikan bahwasanya pengkhianatan dalam sebuah institusi keluarga tidak hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita. Akan tetapi, bisa dilakukan dari semua pihak dalam sebuah keluarga.
b. Dorongan Reservasi Budaya
Penulis mengidentifikasikan bahwa sikap “marah” yang ditunjukkan oleh istri Nabi Nuh berkaitan dengan adanya dorongan reservasi budaya. Karena, pada saat itu masyarakat Arab menolak untuk meninggalkan apa yang
19 Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam...., 377
20 Ibnu Jarîr al-Tabarî, Tafsîr...,453
telah ditradisikan oleh nenek moyang mereka. Demikian dengan istri Nabi Nuh. Secara psikologi, upaya yang dilakukan oleh isti Nabi Nuh yang menghalangi dakwah suaminya adalah untuk mengaktualisasikan kehidupannya.21 c. Rasa Takut akan Kehilangan Dominasi Ekonomi
Penulis memahami bahwa istri Nabi Nuh dilandasi rasa takut akan hilangnya dominasi ekonomi. Dalam artian, dia merasa hidupnya akan terancam apabila dia mengikuti ajaran suaminya. Hal ini dilakukannya akibat rasa kekhawatiran dirinya apabila kehidupan materinya tidak lagi bisa terpenuhi. Karena, dia beranggapan selama masa hidupnya yang memberikan dan mencukupkan rezekinya adalah tuhan-tuhanya (berhala-berhala).22 Oleh sebab itu, dia termotivasi untuk menentang ajaran Nabi Nuh karena rasa takut dan kekhawatirannya.
Pada dasarnya, penulis menilai sikap “marah dan menentang ajaran Nabi Nuh” yang ditunjukkan oleh istrinya adalah untuk memenuhi dorongan dasarnya sebagai manusia. Namun, upaya yang dilakukan istri Nabi Nuh untuk memenuhi dorongan dasar sebagai manusia tersebut tidak mempertimbangkan keseimbangan struktur keperibadian, yaitu Id (dorongan-dorongan biologis ), Ego (
21 Supratinya, Mazhab Ketiga ...,70
22 Jabîr Assyâl,Qishashu an- Nisâ’..., 24
138 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
kesadaran terhadap realitas kehidupan), Super Ego ( kesadaran normatif).
Kemudian, konsep Frued inilah yang biasanya dikaitkan dengan konsep nafs, ‘aql, dan qolb. Nafs sejajar dengan id,
‘aql dengan ego sedang qalb dengan super ego.23 Penulis juga menilai bahwa istri Nabi Nuh lebih dominan memerankan kesadaran nafs dan ego tanpa mempertimbangkan peran qolb atau super ego. Hal ini terbukti dengan dirinya yang enggan untuk mendengarkan ajaran dari Nabi Nuh. Padahal sejatinya, dirinya tahu bahwa ajaran suaminya adalah merupakan kebenaran yang tidak bisa diragukan kembali.
d. Psiko Harmoni Keluarga
Berdasarkan teori psiko harmoni type suami istri, penulis memahami bahwa Nabi Nuh adalah termasuk type mover.
Hal ini dapat dilihat dari usaha Nabi Nuh yang mengajak istrinya untuk beriman kepada Allah. Sedangkan istri dan putra Nabi Nuh, adalah type opposer. Dapat tercermin dari sikap istri dan putranya yang enggan untuk mengikuti ajakan Nabi Nuh.
23 A. Khudori Soleh, Konsep Psikologi Al-Farabi, Jurnal, (ttp: tnp, tt), 159
2. Keluarga Nabi Luth
Hal yang sama juga dilakukan oleh penulis ketika menganalisis faktor disharmonisasi yang terjadi terhadap kisah keluarga Nabi Luth. Penulis kembali menggunakan buku Qishasun Nisâ’ fî Qur’anil ‘Adzim terkait dengan (QS. at- Tahrîm [66]: 10). Hal ini kembali dilakukan karena dalam Al- Qur’an sama halnya dengan kisah keluarga Nabi Nuh, pada kisah keluarga Nabi Luth pun juga tidak disebutkan secara detail tentang kisah disharmonisasi yang terjadi dalam keluarga ini. Adapun faktor yang menyebabkan disharmonisasi kisah keluarga Nabi Luth diantaranya adalah:
a. Pergulatan Psikologi Manusia
Apabila kisah ini dikaji dari analisis teori keperibadian manusia yang penulis gunakan, maka dalam memahami perilaku keperibadian manusia Al-Qur’an turut hadir untuk memberikan pemaparan yang proposional. Dalam Al- Qur’an disebutkan juga bahwa dalam diri manusia mengisyaratkan adanya pergulatan psikologis, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi.24
Hal ini terbukti dengan sikap “terperangahnya istri Nabi Luth ketika melihat kepingan emas yang dibawa oleh
24Aat Hidayat, Psikologi ..., 476
140 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
wanita tua yang merayunya”25 sehingga istri Nabi Luth rela membantah ajaran Nabi Luth dan membantu nenek tua yang sengaja merayunya hanya demi beberapa keping emas yang dijanjikan oleh wanita tua itu. Istri Nabi Luth tergoda oleh kesenangan-kesenangan duniawi. Dengan demikian terpengaruhnya istri Nabi Luth oleh wanita tua itu, membuktikan kembali bahwa perilaku keperibadian manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupannya.26
b. Dorongan Fisiologis
Dalam teori psikologi Humanistik, Maslow menilai bahwasanya manusia merupakan makhluk yang baik dan memiliki hak untuk mencapai tingkatan terakhir dari teori kebutuhan yang dia gunakan yakni aktualisasi diri. 27 Dengan demikian penulis menilai bahwa sikap istri Nabi Luth yang menginginkan kehidupan menyenangkan merupakan sifat lahiriah yang timbul dari diri manusia.
Karena dia memiliki hak untuk menentukan tingkat kepuasan kebutuhan yang dia inginkan. Namun apabila tingkat kepuasaan seseorang belum terpenuhi, maka akan menyebabkan problem kejiwaan dan ketimpangan perilaku
25 Jabîr Assyâl,Qishashu an- Nisâ’..., 35
26 Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam...., 377
27 Minderop, Albertine, (Psikologi Sastra: Karya Sastra, ... 48
seseorang.28 Keadaan inilah yang dialami oleh istri Nabi Luth.
Karena keadaan yang demikian, istrinya termotivasi untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat hidupnya lebih baik dan memiliki banyak harta. Yaitu dengan menerima tawaran wanita tua itu untuk melakukan kemungkaran dan berkhianat kepada suaminya. Dengan demikian berdasarkan aspek psikologi, adapun faktor yang mempengaruhi disharmonisasi dalam keluarga Nabi Luth adalah adanya dorongan fisiologis yang dialami oleh istrinya. Istrinya belum merasa puas dengan kehidupan duniawi yang diberikan oleh Nabi Luth.
Dalam memahami kisah istri Nabi Luth ini, penulis menilai serupa dengan istri Nabi Nuh. Bahwa, sikap untuk memenuhui kebutuhan hidupnya merupakan dorongan dasarnya sebagai manusia yang menginginkan kebahagiaan duniawi. Namun, upaya yang dilakukan istri Nabi Luth untuk memenuhi dorongan dasar sebagai manusia tersebut tidak mempertimbangkan keseimbangan struktur kepribadian, yaitu Id (dorongan-dorongan biologis ), Ego ( kesadaran terhadap realitas kehidupan), Super Ego ( kesadaran normatif).
28 Supratinya, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik ...,70
142 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
Kemudian, konsep Frued inilah yang biasanya dikaitkan dengan konsep nafs, ‘aql, dan qolb. Nafs sejajar dengan id,
‘aql dengan ego sedang qalb dengan super ego.29 Penulis juga menilai bahwa istri Nabi Luth lebih dominan memerankan kesadaran nafs dan ego tanpa mempertimbangkan peran qolb atau super ego. Hal ini juga terbukti dengan dirinya yang enggan untuk mendengarkan ajaran dari Nabi Luth. Padahal sejatinya, dirinya tahu bahwa ajaran suaminya adalah merupakan kebenaran yang tidak bisa diragukan kembali.
c. Psiko Harmoni Keluarga
Sedangkan berdasarkan teori psiko harmoni, penulis memahami bahwa Nabi Luth adalah termasuk type mover.
Hal ini dapat dilihat dari usaha Nabi Luth yang mengajak istrinya untuk beriman kepada Allah. Sedangkan Wailah istinya, adalah type opposer. Dapat tercermin dari sikap istrinya yang enggan untuk mengikuti ajakan suaminya.
Simpulan
Sebagai penutup, saya kutipkan terjemahan ayat al- Qur’an untuk mengingatkan kepada kita bahwa apa yang kita ucapkan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, termasuk apa
29 Ibid, 1
yang kita unggah dan kita sebar luaskan semuanya kelak akan ada pertangung jawabannya di hadapan yang Maha Bijaksana, sebab Allah SWT. telah mengingatkan melalui firman-Nya dalam QS. Qaf [50]: 18 “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan, melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”.
Semoga tulisan yang sangat sederhana dan jauh dari sempurna ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca. Ktitik dan saran sangat dibutuhkan demi kesempurnaan tulisan ini. Semoga kita senatiasa mendapakan tuntunan dan hidayah dari Allah SWT.
untuk selalu menjaga etika dalam berkomunikasi dan bertingkah laku.
Daftar Pustaka
Abdushshamad, Muhammad Kamil. Mukjizat ilmiah dalam Al- Qur’an. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2002.
Ghafur, Warsono Abdul. Tafsir Sosial, Mendialogkan Teks dan Konteks. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005
Morgan, Nicola. Life Online. Jakarta: BACA, 2020.
Rahmat, Jalaluddin. Islam Aktual. Jakarta: Mizan, 1996.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbȃh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
144 | JPIK Vol. 5 No.1, Maret 2022: 126-144
Zuhdi, Moh. Komunikasi Politik di Era Virtual, Dinamika Komunikasi dan Media pasca Pemilu Serentak 2019.
Yogyakarta: Buku Litera, 2020.