• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of The Effect of Sales Volatility, Cash Flow Volatility and Debt Levels on Profit Persistence

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of The Effect of Sales Volatility, Cash Flow Volatility and Debt Levels on Profit Persistence"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN (P) : 2086-4264 ISSN (E) : 2581-2343

Dewan Redaksi Jurnal Riset Akuntansi & Komputerisasi Akuntansi

Chife in Editor

Nurlaila MC., S.E., M.Acc., Ak., C.A., C.Li., C.Ra

(Universitas Islam 45)

Reviewers

Prof.Dr. M. Nizarul Alim, SE.,M.Si.,CA.

Univeristas Trunojoyo, Madura

Prof. Dr. Hj. Nunuy Nur Afiah, SE.,M.S. Ak.

Univeristas Padjajaran

Dr. Sugiyarti Fatma Laela, M. Buss. Acc.

CMA,

Institut Tazkia

Dr. Icuk Rangga Bawono, SH.,SE.,M.Si.,MH.,Ak.,CA

Univeristas Jendral Soedirman Ahalik,

SE.,Ak.,M.Si.,Ak.,CMA.,CPMA.,CPSA K.,DipIFR.,CPA.,CACP.,ACPA.,CA

Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Editorial Board

Intan Immanuella, SE.,M.SA

(Universitas Katolik Widya Mandala) Vita Aprilina, SE.,M.Si.,AK.,CA Yuha Nadhirah Q., S.E., M.Ak.

(Universitas Islam 45) Ihsan Nasihin, S.Ak., M.Ak.

(Universitas Buana Perjuangan Karawang)

Gafar Hafiz Sagala, S.Pd.,M.Sc Universitas Negeri Medan

Andi Manggala Putra, SE., M.Sc.

Universitas Pembangunan Nasional

"Veteran" Jakarta

Mohammad Iqbal Firdaus

,

SE., M.Ak.

Universitas Negeri Malang Purnama Putra, SE.,M.Si Universitas Islam 45, Indonesia Hadi Mahmudah, SE.,M.Sc Universitas Islam 45, Indonesia

Kantor Redaksi

Gedung D, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam “45” Bekasi. Jl. Cut Meutia No.83 Bekasi. 17113. Telp/fax. (021) 88349033 (Direct); (021) 8808850 (Hunting), Ext. 130:

Fax. (021)8801192

Website: http://jurnal.unismabekasi.ac.id/; Email: [email protected] atau

[email protected]

(2)

73

Pengaruh Volatilitas Penjualan, Volatilitas Arus Kas dan Tingkat Utang Terhadap Persistensi Laba

1 Wendy Salim Saputra

2 Phebyana Margaretha

1,2 Universitas Bunda Mulia

1 [email protected]

2 [email protected] ABSTRAK

Laba merupakan salah satu indikatot penting untuk mengevaluasi performa perusahaan. Informasi laba yang tidak berkualitas tidak akan berguna bagi pengguna laporan keuangan, semakin berkualitas informasi keuntungan yang dihasilkan perusahaan maka informasi tersebut akan semakin memberikan gambaran mengenai keberlanjutan, kondisi keuangan dan performa perusahaan di masa depan. Nilai predictive value akan dimiliki oleh laba yang berkualitas dan didalamnya terdapat aspek mengenai relevansi dalam kualitas fundamental sehingga informasi keuangan dapat dipergunakan dalam memperkirakan nilai di masa mendatang. Persistensi laba dapat menggambarkan pengaruh keuntungan tahun berjalan pada keuntungan masa depan. Dasar perhitungan persistensi laba adalah core earnings. Core Earnings merupakan laba yang relevan dari kegiatan operasional rutin perusahaan dan tidak berasal dari pos transitoris atau pos pendapatan luar biasa. Persistensi laba mencerminkan tingkat pendapatan yang dapat dipertahankan perusahaan di setiap tahun. Bertambah tingginya persistensi laba yang dimiliki perusahaan sehingga bertambah baik perusahaan guna memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh volatilitas arus kas, volatilitas penjualan maupun tingkat utang pada persistensi laba. Penelitian ini selanjutnya akan menggunakan analisis regresi berganda yang terdiri dari uji statistik deskriptifm uji hipotesis dan uji statistik deskriptif. Uji data dibantu dengan menggunakan program SPSS. Hasil pengujian T membuktikan bahwasanya persistensi laba tidak diberikan pengaruh oleh variabel volatilitas penjualan dan tingkat utang sedangkan variabel volatilitas arus kas memberikan pengaruh positif pada persistensi laba.

Kata Kunci: Volatilitas Penjualan, Volatilitas Arus Kas, Tingkat Utang, Persistensi Laba ABSTRACT

Profit is an important indicator for evaluating company performance. Poor quality profit information will not be useful for users of financial reports. The more quality the profit information produced by the company, the more the information will provide a picture of the company's sustainability, financial condition and future performance. Predictive value will be possessed by quality profits and in this there are aspects regarding relevance in fundamental quality so that financial information can be used to predict future value. Earnings persistence can describe the effect of current year's earnings on future earnings. The basis for calculating earnings persistence is core earnings. Core Earnings are relevant profits from the company's routine operational activities and do not come from transitory or extraordinary income items. Earnings persistence reflects the level of income that the company can maintain each year. The higher the company's earnings persistence, the better the company is at maintaining the level of income they generate. This research aims to obtain empirical evidence regarding the influence of sales volatility, cash flow volatility and debt levels on earnings persistence. This research will then use multiple regression analysis starting with descriptive statistical testing, classical assumption testing and hypothesis testing. Data testing is assisted by using the SPSS program. The T Test results show that earnings persistence is not influenced by sales volatility variables and debt levels, while the cash flow volatility variable has a positive effect on earnings persistence.

Keywords: Sales Volatility, Cash Flow Volatility, Leverage, Earnings Persistance

(3)

PENDAHULUAN

Earnings atau laba adalah pendapatan yang didapatkan perusahaan setelah dikurangkan dengan segala biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba tersebut.

Laba adalah faktor krusial yang merupakan perhatian para pemangku kepentingan.

Performa perusahaan dapat di nilai dari laba yang dihasilkan. Informasi laba yang tidak berkualitas tidak akan berguna untuk pemakai laporan keuangan, semakin berkualitas informasi keuntungan yang dihasilkan perusahaan maka informasi tersebut akan semakin memberikan gambaran mengenai keberlanjutan, kondisi keuangan dan performa perusahaan di masa depan Schroeder et al., (2020). Nilai predictive value akan dimiliki oleh laba yang berkualitas dan didalamnya terdapat aspek mengenai relevansi dalam kualitas fundamental sehingga informasi keuangan dapat dipergunakan dalam melakukan prediksi nilai di masa mendatang. Persistensi laba bisa menggambarkan pengaruh keuntungan tahun berjalan pada keuntungan masa mendatang. Dasar perhitungan persistensi laba adalah core earnings. Core Earnings merupakan laba yang relevan dari kegiatan operasional rutin perusahaan dan tidak berasal dari pos transitoris atau pos pendapatan luar biasa. Persistensi laba mencerminkan tingkat pendapatan yang dapat dipertahankan perusahaan di setiap tahun. Bertambah tingginya persistensi laba yang dimiliki perusahaan sehingga bertambah baik perusahaan dalam mempertahankan tingkat pendapatan yang dihasilkan mereka.

Beberapa penelitian terkait persistensi laba sudah pernah dilakukan sebelumnya antara lain: Saptiani & Fakhroni (2020) dengan judul penelitian Pengaruh Volatilitas Penjualan, Volatilitas Arus Kas Operasi, dan Utang Terhadap Persistensi Laba hasil dari penelitian ini adalah Volatilitas Penjualan, Volatilitas Arus Kas Operasi, dan Utang tidak berpengaruh terhadap Persistensi Laba. Tuffahati et al., (2020)dengan judul penelitian Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Persistensi Laba, hasil penelitian yang didapat adalah Tin gkat utang berpengaruh positif terhadap persistensi laba, Ukuran Perusahaan dan Volatilitas Penjualan tidak berpengaruh terhadap Persistensi Laba. Ulupui (2020) dengan judul penelitian The Influence of Operating Cycle, Cash Flow Volatility, and Audit Fee on Earnings Persistence (The Indonesian Cases) hasil penelitian yang diperoleh adalah operating cycle berpengaruh terhadap earnings persistence sedangkan cash flow volatility dan audit fee tidak berpengaruh terhadap earnings persistance Lasrya & Ningsih (2020) dengan judul penelitian Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persistensi Laba Pada Perusahaan

(4)

Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013 – 2017, hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Volatilitas Arus Kas dan Tingkat Utang berpengaruh terhadap Persistensi Laba sedangkan variabel Volatilitas Penjualan dan Siklus Operasi tidak berpengaruh terhadap Persistensi Laba.

TINJAUAN PUSTAKA Teori Sinyal (Signaling Theory)

Berdasarkan sinyal yang diberikan perusahaan, pasar dapat memperkirakan posisi ataupun keadaan perusahaan sekarang. Baik buruknya sinyal yang diberikan perusahaan akan mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan. Informasi laba dari perusahaan diyakini dapat memberikan sinyal yang baik bagi pemegang saham. Sinyal yang baik tersebut bisa terlibat berdasarkan laba yang stabil (sustainable) dan bertumbuh yang bisa dilihat berdasarkan laporan keuangan perusahaan.

Persistensi Laba

Persistensi laba adalah ukuran yang mampu mendeskripsikan kesanggupan perusahaan dalam menjaga kestabilan tingkat keuntungan yang didapatkan saat ini hingga dengan masa mendatang Sulastri (2014). Laba yang mempunyai tingkatan persistensi yang baik merupakan keuntungan yang ditentukan oleh aliran kas dan komponen akrual dimana laba tersebut akan memperlihatkan tingkat konsistensi laba dimasa mendatang.

Persistensi laba merupakan suatu indikator dari kualitas laba. Persistansi laba merupakan keuntungan yang dapat menjadi tolak ukur menilai keuntungan dimasa mendatang yang diperoleh perusahaan secara rutin (repetitive) dalam jangka panjang (sustainable).

Volatilitas Penjualan

Penjualan adalah unsur penting dalam kegiatan operasinal perusahaan untuk menghasilkan laba. Volatilitas penjualan memperlihatkan perubahan penjualan suatu perusahaan tiap periode. Volatilitas penjualan yang tinggi dalam sejumlah periode menandakan ada permasalahan juga gangguan terhadap penjualan perusahaan. Apabila tidak ada gangguan dari kondisi ekonomi yang krisis ekonomi, seharusnya tingkatan volatilitas penjualan rendah. Volatilitas penjualan yang berubah-ubah menunjukkan bahwa arus kas yang diperoleh melalui penjualan menjadi tidak pasti, dan dapat mengakibatkan tingginya kesalahan estimasi.

Volatilitas Arus Kas

(5)

Arus kas adalah jumlah uang keluar dan masuk pada sebuah perusahaan. Arus kas berhubungan dengan uang tunai yang dipergunakan untuk bertransaksi. Berlandaskan PSAK Nomor 2 dinyatakan bahwasanya laporan arus kas haruslah dilakukan pelaporan dengan rutin dalam suatu periode dan dibagikan ke 3 kegiatan utama yakni kegiatan investasi, kegiatan pendanaan, kegiatan operasi. Setiap aktivitas dapat memberikan informasi bagi para pemakai laporan keuangan guna mengetahui dan membedakan dampak dari ketiga kegiatan itu pada posisi keuangan perusahaan dan pada setara kas maupun jumlah kas. Arus kas merupakan indikator keuangan yang sangat baik, indikator arus kas ini dinilai lebih baik dibandingkan keuntungan sebab keuntungan mempunyai komponen transitoris. Komponen transitoris mungkinlah timbul karena ada perjanjian utang ataupun kompensasi sebagai salah satu alasan. Maka manajemen harus melakukan manipulasi terhadap laba yang disebebkan adanya perjanjian utang berdasarkan laba akuntansi yang dilaporkan. Komponen transitoris pada laba itulah yang membuat laba mempunyai tingkat persistensi yang kecil (Dechow & Dichev, 2002). Volatilitas arus kas bisa membuktikan ketidakpastian di lingkungan operasi berarti bertambah tingginya volatilitas arus kas sehingga bertambah tingginya ketidak pastian lingkungan operasi.

Tingkat Utang

Utang terbagi menjadi dua kelompok yaitu utang jangka panjang dan utang jangka pendek. Utang jangka pendek merupakan utang yang jatuh tempo dalam waktu maksimal satu tahun, biasanya dipergunakan untuk menambah modal kerja pada siklus operasi normal. Sedangkan utang jangka panjang merupakan sumber pembiayaan yang dipergunakan untuk perluasan usaha dan ekspansi perusahaan dimana perusahaan memerlukan modal yang besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan modal dari ekspansi. Tingkat utang dapat didefinisikan sebagai rasio total utang dibandingkan total aset. Selain menjual saham ke pasar modal, utang merupakan salah satu sumber pendanaan yang dapat di pergunakan perusahaan. Karakter pendanaan yang berasal dari saham adalah tidak adanya pengembalian dan pola pembayaran yang pasti. Sedangkan berbeda dengan modal saham, penggunaan utang jangka pendek maupun jangka panjang memiliki pola pembayaran pasti yang harus dilakukan tanpa memperhatikan kondisi keuangan Perusahaan. Tingkat utang menunjukan besaran kewajiban perusahaan yang harus dibayar kepada pihak lain pada saat jatuh tempo dengan tidak memperhatikan kondisi perusahaan. Semakin tinggi tingkat utang, maka

(6)

manajemen akan semakin berupaya menunjukan kinerja yang baik, hal ini dapat dilihat dari tingginya persistensi laba perusahaan (Kusuma dan Sadjiarto. 2014).

Penjualan merupakan aktivitas operasi yang paling utama dalam perusahaan untuk menghasilkan laba. Tingginya tingkat penjualan mencerminkan kinerja perusahaan dalam memasarkan dan menjual produk atau jasa juga tinggi. Investor lebih menyukai tingkat penjualan yang relative stabil atau memiliki volatilitas yang rendah. Volatilitas penjualan yang rendah akan berpengaruh terhadap laba perusahaan dimana volatilitas penjualan yang rendah akan dapat menunjukkan kemampuan laba yang rendah dalam memprediksi aliran kas yang dihasilkan dari penjualan di masa yang akan datang sehingga laba yang dihasilkan lebih persisten. Volatilitas penjualan adalah derajat penyebaran penjualan atau indeks penyebaran distribusi penjualan perusahaan (Dechow dan Dichev, 2002). Volatilitas penjualan mengindikasikan suatu volatilitas lingkungan operasi dan penyimpangan yang lebih besar aproksimasi dan estimasi, dan berkorespondensi dengan kesalahan estimasi yang lebih besar dan kualitas akrual yang rendah (Dechow dan Dichev, 2002). Volatilitas yang rendah dari penjualan akan dapat menunjukkan kemampuan laba dalam memprediksi aliran kas dimasa yang akan datang. Namun jika tingkat volatilitas penjualan tinggi, maka kualitas dari laba tersebut akan rendah, karena laba yang dihasilkan akan mengandung banyak gangguan persepsian (perceived noisee) (Dechow dan Dichev, 2002) Volatilitas penjualan yang memiliki fluktuasi yang tajam membuat prediksi aliran kas yang dihasilkan dari penjualan itu sendiri menjadi kurang pasti bahkan kemungkinan kesalahan prediksi atau kesalahan estimasi sangat tinggi. Aliran kas yang dihasilkan dari aktivitas penjualan akan berujung pada laba perusahaan. Sehingga volatilitas penjualan juga akan berdampak terhadap volatilitas laba itu sendiri. Apabila volatilitas penjualan tinggi maka volatilitas laba juga akan cenderung tinggi sehingga persistensi laba atau kestabilan laba menjadi rendah. Hal itu mengindikasikan bahwa tingkat prediksi laba masa datang menjadi rendah juga.

H1: Pengaruh volatilitas penjualan terhadap persistensi laba

Indikator keuangan yang baik adalah arus kas, indikator arus kas ini dikatakan lebih baik dari pada laba karena laba memiliki komponen transitoris. Komponen transitoris mungkin muncul dikarenakan adanya perjanjian kompensasi atau perjanjian utang yang merupakan salah satu alasannya. Sehingga manajer terpaksa untuk memanipulasi laba

(7)

karena perjanjian utang didasarkan pada laba akuntansi yang dilaporkan. Komponen transitoris dalam laba tersebutlah yang mengakibatkan laba memiliki persistensi yang rendah (Dechow & Dichev, 2002).Volatilitas arus kas dapat menunjukan ketidakpastian dalam lingkungan operasi yang artinya semakin tinggi volatilitas arus kas maka semakin tinggi ketidak pastian lingkungan operasi.

sehingga dapat dikatakan volatilitas arus kas memberikan pengaruh terhadap persistensi laba. Untuk itu arus kas yang stabil dapat digunakan untuk mengukur persistensi laba, dimana arus kas yang digunakan adalah arus kas operasi yang memiliki volatilitas yang rendah. Sangat sulit untuk memprediksi arus kas dimasa depanjika jika arus kas sangat tinggi atau tidak stabil (Dechow & Dichev, 2002).

H2 : Pengaruh volatilitas arus kas terhadap persistensi laba

Manajemen yang memilih utang sebagai alternatif sumber modal dituntut untuk dapat bekerja keras agar penggunaan modal tersebut dapat memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan, sehingga perusahaan dapat berkembang dan mampu membayar utang tersebut kepada kreditor Suwandika & Astika (2013). Perusahaan akan berupaya menunjukkan persistensi laba perusahaan yang tinggi dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik dimata auditor dan investor apabila perusahaan memiliki tingkat utang yang tinggi (Fanani, 2010). Investor cenderung akan lebih berhati- hati dan lebih waspada ketika berinvestasi pada perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi. Investor cenderung akan memiliki pandangan yang lebih baik terhadap perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi bila laba perusahaan tersebut persisten atau sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan berkelanjutan. Semakin tinggi tingkat utang, maka akan semakin besar usaha manajemen untuk memperlihatkan kinerja perusahaan yang baik, ditunjukkan melalui tingginya persistensi laba perusahaan (Kusuma &

Sadjiarto, 2014).

H3 : Pengaruh tingkat utang terhadap persistensi laba

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian adalah penelitian yang menggunakan jenis data kuantitatif yang didapatkan dari sumber data sekunder. Sumber data penelitian didapatkan melalui Annual Report menjadi objek penelitian melalui website www.idx.co.id. Penelitian berfokus terhadap seluruh perusahaan yang aktif dalam sektor industri manufaktur yang teregistrasi dalam BEI sejak 2018 hingga 2021. Langkah selanjutnya adalah pemilihan sampel melalui metode purposive sampling menggunakan kriteria yaitu; (1) perusahaan

(8)

sektor industri manufaktur yang tercatat di BEI selama tahun 2018 – 2021, dan (2) perusahaan sektor industri manufaktur yang secara kontinu menerbitkan laporan tahunan selama 2018 – 2021.

Penelitian ini selanjutnya akan menggunakan analisis regresi berganda. Proses ini akan dimulai dengan melakukan uji statistik deskriptif, menguji hipotesis, maupun menguji asumsi klasik. Tahapan uji data akan dilaksanakan mempergunakan perangkat lunak statistik SPSS. Penjelasan mengenai pengujian asumsi klasik dan hipotesis akan mengacu pada Ghozali (2018)

Definisi Operasional Persistensi laba

Persistensi laba dalam penelitiaan ini mengguanakan pengukuran persistensi laba yang mengacu (Richardson et al., 2005) pada yaitu:

ROAt = a + ROAt-1 + e Volatilitas Penjualan

Pengukuran volatilitas penjualan dalam penelitian dilandaskan dalam kerangka kerja yang diusulkan (Dechow & Dichev, 2002),yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Volatilitas Penjualan = σ (Penjualan t) Total Aset t Volatilitas Arus Kas

Pengukuran volatilitas arus kas pada penelitian ini mengikuti konsep yang diajukan oleh(Dechow & Dichev, 2002), dapat diuraikan yaitu:

Volatilitas Arus Kas = σ (CFO t) Total Aset t Tingkat Utang

Tingkat utang dalam penelitiaan ini mengguanakan pengukuran tingkat utang yang mengacu pada (Kasiono & Fachrurozie, 2016) sebagai berikut:

Tingkat Utang = Total Utang t

Total Aset t

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Sampel (Objek Penelitian)

Objek yang dijadikan fokus dalam penelitian merupakan entitas yang beroperasi dalam sektor manufaktur dan tercatat di BEI sejak 2018 hingga 2021. Berlandaskan kriteria yang ditentukan guna pemilihan sampel, jumlah perusahaan yang akan diikutsertakan dalam analisis adalah sebanyak 105 data.

Tabel 1

Prosedur Pemilihan Sampel

Kriteria Sampel Perusahaan

1. Perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada tahun

2018-2021 135

2. Perusahaan yang tidak melaporkan laporan keuangan pada

31 Desember (1)

3. Perusahaan yang tidak melaporkan laporan keuangan dalam

mata uang rupiah (29)

Jumlah Perusahaan yang memenuhi kriteria sampel 105 Jumlah data

Data outlier

Data Sampel 83

Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif tujuannya guna memberi deskripsi data yang dipakai pada penelitian. Dalam penelitian, ukuran deskriptif mempergunakan nilai rerata, nilai maksimum dan minimum, standar deviasi dari data yang ada.

Tabel 2 Statistik Deskriptif

PL VP VAK TU

N Valid 83 83 83 83

Missing 0 0 0 0

Mean .105345 .073669 .038823 .254666

Std. Deviation .0264442 .0503317 .0221990 .0938258

Minimum .0430 .0168 .0115 .0665

Maximum .1605 .2341 .0992 .4060

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Variabel persistensi laba menunjukkan nilai paling rendah sebanyak 0,0430 dan nilai paling tinggi mencapai 0,1605. Rerata variabel ini yaitu 0,105345 sedangkan standar deviasi sebanyak 0,0264442. Variabel volatilitas penjualan memiliki nilai minimum sebnyak 0,0168 dan nilai maksimum 0,2341. Rerara variabel ini ini yaitu 0,073669 sedangkan standar deviasi sebanyak 0,0503317. Variabel volatilitas arus kas mempunyai nilai minimum 0,0115

(10)

sedangkan nilai maksimum 0,0992. Rerata dari variabel ini yaitu 0,038823 dan standar deviasi sebesar 0,0221990. Variabel tingkat utang menunjukkan nilai paling rendah sebanyak 0,0665 sedangkan nilai paling tinggi mencapai 0,4060. Rerata variabel ini yaitu 0,254666 sedangkan standar deviasi sebanyak 0,0938258.

Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2018), uji normalitas dijalankan dengan tujuan untuk memeriksa apakah dalam kerangka model regresi, baik variabel tergantung, bebas, ataupun dua- duanya, mengikuti distribusi yang bersifat normal ataupun tidak. Dalam kerangka regresi yang efektif, diharapkan data distribusinya normal ataukah hampir kondisi normal. Hasil dari uji pada konteks pada penelitian bisa diamati dalam tabel 3.

Tabel 3 Hasil Uji Normalitas

Unstandardized Residual

N 83

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Berdasarkan tabel 3, asymptotic significance (2-tailed) menghasilkan nilai 0,200 yang memiliki nilai yang melebihi 0,05 maka bisa diambil kesimpulan data berdistribusi normal.

Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas dipakai guna mengetahui apakah ada keterkaitan signifikan antara variabel bebas dalam model regresi. Sebuah kualitas data penelitian dianggap baik ketika tidak adanya hubungan kuat antar variabel bebas tersebut (Ghozali, 2018). Berikut adalah hasil uji ini yang bisa diamati pada tabel 4.

Tabel 4

Hasil Uji Multikolinieritas Tolerance VIF (Constant)

VP .913 1.095

VAK .879 1.138

TU .960 1.042

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Dalam Tabel 4, terlihat bahwasanya variabel volatilitas penjualan, tingkat utang, volatilitas arus kas bernilai tolerance melebihi 0,1 sedangkan nilai VIF kurang dari 10. Maka bisa disimpulkan tidak ditemukan tanda multikolinieritas pada model regresi.

(11)

Uji Heteroskedastisitas

Uji ini tujuannya guna menilai apakah didalam model regresi adanya variasi residual yang seragam atau tidak seragam antar berbagai observasi. Suatu model regresi dinilai baik apabila tidak ada keberadaan heteroskedastisitas (Ghozali, 2018). Rincian hasil uji ini tertera dalam Tabel 5.

Tabel 5

Hasil Uji Heteroskedastisitas Sig (Constant) .000

VP .829

VAK .274

TU .067

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Pada tabel 5 nilai significance melebihi 0,05, maka bisa diambil kesimpulan terbebas masalah heteroskedastisitas dalam model regresi.

Uji Autokorelasi

Hasil pengujian autokorelasi bisa diamati dalam tabel 6 di bawah:

Tabel 6

Hasil Uji Autokorelasi Sig (Constant) .941

VP .991

VAK .927

TU .993

RES_2 .599

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Berlandaskan tabel 6, hasil uji autokorelasi membuktikan nilai RES 2 melebihi 0,05.

Hal tersebut membuktikan model regresi penelitian terbebas permasalahan autorelasi, maka analisis regresi liniear bagi pengujian hipotesis penelitian ini bisa diteruskan.

Uji Hipotesis

Tabel 7

Hasil Uji Regresi Berganda B (Constant) .083

VP -.052

VAK .363

TU .049

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

(12)

Berlandaskan tabel 7, sehingga hasil persamaan regresi linier berganda yaitu:

PL = 0,083 – 0,052 VP + 0,363 VAK + 0,049 TH + e

Hasil perolehan konstanta adalah 0,083. Ini mengartikan, ketika nilai variabel bebas (seperti volatilitas arus kas, tingkat utang, volatilitas penjualan) merupakan 0, sehingga persistensi laba akan memiliki nilai tetap sebanyak 0,083. Koefisien regresi untuk variabel volatilitas penjualan (VP) merupakan -0,052. Ini mengindikasikan bahwa peningkatan satu unit dalam volatilitas penjualan akan menurunkan sebanyak 0,052 dalam persistensi laba, memiliki asumsi variabel yang lain tetaplah konstan. Koefisien regresi untuk variabel volatilitas arus kas (VAK) yaitu 0,363. Ini berarti bahwasanya tiap naik 1 unit dalam volatilitas arus kas akan menaikkan sebanyak 0,363 dalam persistensi laba, memiliki asumsi variabel yang lain tetaplah konstan. Koefisien regresi untuk variabel tingkat utang (TU) yaitu 0,049. Membuktikan tiap peningkatan 1 unit dalam tingkat utang akan memberikan akibat naik sebanyak 0,049 dalam persistensi laba, memiliki asumsi yang lain tetap konstan.

Uji Koefisien Determinasi (R2)

Analisis Adjusted R-square memperlihatkan proporsi persentase variabel tergantung yang bisa diterangkan variabel independennya. Rentang nilai Adjusted R-square berada diantara nol dan satu. Semakin mendekati satu, semakin baik potensi variabel bebas untuk menerangkan variasi pada variabel tergantung. Sedangkan, bertambah rendah rendah nilai Adjusted R-square, bertambah terbatas potensi variabel bebas untuk menerangkan variasi pada variabel tergantung.

Tabel 8

Hasil Analisis Adjusted R-square Adjusted R Square

.061

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Seperti yang terlihat pada tabel 8 nilai adjusted R-square yaitu 0,061. Hal tersebut mengartikan bahwasanya 6,1% dari variasi dalam nilai perusahaan bisa diterangkan variasi dalam variabel bebas seperti volatilitas arus kas, tingkat utang,volatilitas.

Sedangkan 93,9% dari variasi yang tersisa dalam nilai perusahaan diterangkan oleh faktor lainnya yang tidak dimasukkan pada model penelitian ini.

Uji F

Berdasarkan statistik, hasil pengujian F bisa diamati dalam tabel 9 di bawah:

(13)

Tabel 9 Hasil Uji F Model F Sig.

Regression 2.774 .047 Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Dari hasil pengujian F yang tertera pada Tabel 9, diperoleh nilai sig sebanyak 0,047.

Karena nilai sig di bawah 0,05, membuktikan bahwasanya model tersebut sesuai dengan data. Maka bisa diambil kesimpulan data penelitian ini layak guna dipakai.

Uji t

Uji ini dilakukan guna mengidentifikasi pengaruh individual variabel bebas pada variabel tergantung (Ghozali, 2018). Terdapat pengaruh individual variabel independen pada tergantung bila nilai nilai sig di bawah nilai alpha 0,05. Sebaliknya, bila nilai sig melebihi 0,05, maka variabel bebas tidak mempunyai dampak individual yang signifikan pada variabel tergantung. Rincian hasil pengujian T bisa ditemukan dalam tabel 10 berikut:

Tabel 10 Hasil Uji t

Sig (Constant) .000

VP .377

VAK .009

TU .113

Sumber: Pengolahan data SPSS 25

Hasil analisis variabel volatilitas penjualan menunjukkan tingkatan signifikan sebesar 0,377, yang melebihi nilai 0,05. Koefisien regresi untuk variabel ini adalah -0,052.

Dari hasil penelitian bisa diambil kesimpulan persistensi laba tidak diberikan pengaruh oleh variabel volatilitas penjualan. Berdasarkan hasil analisis variabel volatilitas arus kas dengan tingkat signifikansi sebesar 0,009, Koefisien regresi untuk variabel ini adalah 0.363 dapat dinyatakan bahwasanya persistensi laba diberikan pengaruh oleh variabel volatilitas arus kas dengan arah positif. Hasil analisis variabel tingkat utang menunjukkan tingkatan signifikan sebanyak 0,113 yang melebihi nilai 0,05. Koefisien regresi bagi variabel ini adalah 0,049. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya persistensi laba tidak diberikan pengaruh oleh variabel tingkat utang.

Berdasarkan hasil pengujian parsial untuk variabel pertama yaitu volatilitas penjualan diperoleh kesimpulan bahwa volatilitas penjualan tidak berpengaruh terhadap persistensi laba hal ini disebabkan besar atau kecilnya volatilitas penjualan tidak

(14)

mempengaruhi persistensi laba hal tersebut dikarenakan setiap penjualan yang terjadi akan diikuti oleh adanya beban atas penjualan tersebut sehingga berapapun tingkat penjualan yang terjadi akan menghasilkan tingkat persistensi laba yang sama.

Untuk variabel kedua yaitu volatilitas arus kas di peroleh kesimpulan bahwa volatilitas arus kas berpengaruh terhadap persistensi laba hal ini disebabkan volatilitas arus kas yang meningkat menunjukan tingginya perubahan arus kas yang diterima.

Apabila penerimaan arus kas meningkat maka perusahaan dapat membiayai aktivitas operasional secara baik maka perusahaan akan lebih mudah mengoptimalkan laba kegiatan operasionalnya dengan baik sehingga perusahaan akan lebih mudah untuk mengoptimalkan keuntungan dan menjaga persistensi labanya.

Sedangkan untuk variabel ketiga yaitu tingkat utang diperoleh kesimpulan bahwa tingkat utang tidak berpengaruh terhadap persistensi laba, hasil penelitian sesuai teori stewardship. Berlandaskan teori stewardship manajer akan memiliki perilaku selaras kepentingan bersama. Maka tinggi rendahnya tingkat utang sebuah perusahaan tidak akan memberikan pengaruh pada kenaikan ataupun penurunan keuntungan perusahaan, sebab manajer perusahaan memiliki kecenderungan melaksanakan kinerja yang serupa dengan tingkatan utang yang rendah dan tinggi.

KESIMPULAN

Kesimpulan

Penelitian tujuannya guna mengetahui faktor yang bisa memberikan pengaruh pada persistensi laba. Berdasarkan analisis yang sudah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini variabel persistensi laba tidak diberikan pengaruh oleh volatilasi penjualan dan tingkat utang. Namun, variabel volatilitas arus kas mempunyai pengaruh dengan arah positif pada persistensi laba.

DAFTAR PUSTAKA

Dechow, P. M., & Dichev, I. D. (2002). The quality of accruals and earnings: The role of

accrual estimation errors. Accounting Review.

https://doi.org/10.2308/accr.2002.77.s-1.35

Fanani, Z. (2010). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU PERSISTENSI LABA. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Indonesia. https://doi.org/10.21002/jaki.2010.06

(15)

Firda Luqyana Tuffahati, Etty Gurendrawati, & Indah Muliasari. (2020). Faktor - faktor yang Mempengaruhi Persistensi Laba. Jurnal Akuntansi, Perpajakan Dan Auditing.

https://doi.org/10.21009/japa.0102.01

Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS-Imam Ghozali- 2018. In Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Kasiono, D., & Fachrurozie. (2016). Determinan Persistensi Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bei. Accounting Analysis Journal.

Kusuma, B., & Sadjiarto, R. A. (2014). Analisa Pengaruh Volatilitas Arus Kas , Volatilitas Penjualan , Tingkat Hutang , Book Tax Gap , dan Tata Kelola Perusahaan Terhadap Persistensi Laba. Tax & Accounting Review.

Lasrya, E., & Ningsih, O. (2020). ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSISTENSI LABA PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013 – 2017. Research in Accounting Journal (RAJ). https://doi.org/10.37385/raj.v1i1.31

Richardson, S. A., Sloan, R. G., Soliman, M. T., & Tuna, I. (2005). Accrual reliability, earnings persistence and stock prices. Journal of Accounting and Economics.

https://doi.org/10.1016/j.jacceco.2005.04.005

Saptiani, A. D., & Fakhroni, Z. (2020). Pengaruh Volatilitas Penjualan, Volatilitas Arus Kas Operasi, dan Hutang Terhadap Persistensi Laba. Jurnal ASET (Akuntansi Riset).

https://doi.org/10.17509/jaset.v12i1.23570

Schroeder, R. G., Clark, M. W., & Cathey, J. M. (2020). Financial Accounting Theory and Analysis Text and Cases Thirteenth Edition. In United States: John Wiley & Sons Inc.

SULASTRI, D. A. (2014). PENGARUH VOLATILITAS ARUS KAS, VOLATILITAS PENJUALAN, BESARAN AKRUAL DAN TINGKAT HUTANG TERHADAP PERSISTENSI LABA (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2009-2012). Jurnal Akuntansi.

Suwandika, I. M. A., & Astika, I. B. P. (2013). PENGARUH PERBEDAAN LABA AKUNTANSI, LABA FISKAL, TINGKAT HUTANG PADA PERSISTENSI LABA. E- Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.

Ulupui, I. gusti ketut agung. (2020). The Influence of Operating Cycle, Cash Flow Volatility, and Audit Fee on Earnings Persistence (The Indonesian Cases). SRIWIJAYA INTERNATIONAL JOURNAL OF DYNAMIC ECONOMICS AND BUSINESS.

https://doi.org/10.29259/sijdeb.v4i1.1-20

Referensi

Dokumen terkait

Cox proportional hazards analysis of post-biopsy death-censored graft survival, according to individual histological parameters in the last biopsy after 1 year N=341, in univariate and

Using Augmented Reality technology to improve English language learning by identifying objects around us Nafisah Endahati a, 1*, Setia Wardani b,2 a,b Universitas PGRI Yogyakarta,