Tri Budianto1, Rozzaq Alkharim2, Ari Sriantini3, Nyoman Ardiana Listriyawati4
1,2,3,4Program Studi Teknologi Rekayasa Operasi Kapal, Fakultas Vokasi Pelayaran, Universitas Hang Tuah
Abstrak: Peranan alat deteksi kebakaran sangat membantu dalam pencegahan bahaya kebakaran di MV.
Meratus Waingapu, dengan dasar ini penulis merumuskan masalah sejauh mana pengetahuan crew kapal tentang alat deteksi kebakaran dan bagaimanakah perawatan alat deteksi kebakaran di MV. Meratus Waingapu. Dalam penulisan ini, penulis menjabarkan tentang teori-teori yang digunakan dalam pembuatan laporan penelitian dan sebagai landasan untuk memecahkan masalah yang ada dalam proses penelitian, utamanya yang terkait dengan peranan alat deteksi kebakaran, serta teori perawatan alat deteksi kebakaran.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan masalah yang dilakukan penulis selama praktek berlayar di MV. Meratus Waingapu mengenai efektivitas alat deteksi kebakaran ditemukan adanya masalah – masalah dalam peranan alat deteksi kebakaran yang meliputi kurangnya pengetahuan crew kapal tentang alat deteksi kebakaran yang disebabkan karena kurangnya pelaksanaan familiarization crew baru, serta kurang dilaksanakannya safety meeting di kapal, selain itu juga kurangnya perawatan alat deteksi kebakaran.
Kata kunci: efektivitas, deteksi kebakaran
Abstract: The role of fire detection tools is very helpful in preventing fire hazards at MV. Meratus Waingapu, on this basis the author formulates the problem of the extent of the ship crew's knowledge of fire detection tools and how to maintain fire detection equipment at MV. Meratus Waingapu. In writing this research, the writer describes the theories used in making research reports and as a basis for solving problems that exist in the research process, especially those related to the role of fire detection tools, as well as the theory of fire detection equipment maintenance. Based on the results of research and discussion of problems carried out by the author during the sailing practice at MV. Meratus Waingapu regarding the effectiveness of fire detection tools, it was found that there were problems in the role of fire detection tools which included a lack of knowledge of the ship's crew about fire detection tools due to lack of implementation of new crew familiarization and lack of implementation of safety meetings on board besides that there is also a lack of maintenance of fire detection equipment
Keywords: effectiveness, fire detection
Alamat korespondensi:
Tri Budianto, Fakultas Vokasi Pelayaran, Universitas Hang Tuah, Jalan A. R. Hakim 150 Surabaya. e- Mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Menurut International Health Regulations (IHR), 2005, kapal merupakan alternatif yang digunakan sebagai penunjang kegiatan ekspor dan impor suatu negara. Indonesia juga termasuk negara yang menggunakan angkutan laut sebagai sarana untuk mobilisasi penduduk, baik antar pulau maupun antar provinsi. Di atas kapal harus memenuhi standar yang sudah ditetapkan oleh lembaga terkait. Pada saat kapal berlayar, kapal tersebut
haruslah memiliki kelayakan yang sesuai dengan standar IMO, sehingga dapat meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kebakaran, kebocoran. Penanggulangan bahaya kebakaran mengandung arti yang cukup luas dalam hal ini peristiwa kebakaran sudah terjadi, sehingga menimbulkan bahaya terhadap keselamatan jiwa ataupun harta benda. selain diperlukan tindakan untuk mencegah bahaya yang lebih besar (NFPA, 1992). Misalnya menyelamatkan korban yang terancam bahaya, mengamankan harta benda atau
dokumen-dokumen penting, pertolongan pertama terhadap korban yang menderita luka bakar merupakan tindakan yang utama.
Pencegahan bahaya kebakaran merupakan suatu hal yang harus diterapkan di setiap tempat. Adapun kata pencegahan menurut Dedy Sugono (2008:267) adalah mengusahakan agar sesuatu tidak terjadi, hal tersebut apabila diaplikasikan dalam hal pencegahan bahaya kebakaran mengandung pengertian penyalaan api belum ada dan diusahakan agar tidak terjadi penyalaan api.
METODE
Efektifitas menurut Ravianto (2014:11), efektivitas ialah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Artinya apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan sesuai dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya, maupun mutunya, maka dapat dikatakan efektif. Alat deteksi kebakaran merupakan sistem pemadaman api tetap, dimana sistem ini diinstalasikan secara permanen yang dapat mendeteksi kejadian awal dari timbulnya bahaya kebakaran, seperti timbulnya asap, panas yang tidak wajar, dan nyala api yang tidak terkendali. Kebakaran diharapkan dapat dipadamkan dengan cepat mengingat dengan adanya alat deteksi kebakaran sehingga mengetahui lokasi dimana terjadi bahaya kebakaran tersebut (Subandrijo, 2011:67).
Alat deteksi kebakaran merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengetahui bahaya kebakaran yang akan terjadi di atas kapal yang diakibatkan oleh asap, api, dan panas.
Alat deteksi bahaya kebakaran ini harus dapat memberikan petunjuk pada kebakaran dan tempat terjadinya kebakaran di setiap ruangan yang
menjadi bagian dari sistem ini dan harus dipusatkan di anjungan atau di stasiun pusat pengawasan. Pusat pengawasan kebakaran itu harus tetap diawasi dan dilengkapi, sehingga setiap tanda bahaya yang dikeluarkan oleh alat-alat deteksi kebakaran itu mudah untuk dapat diterima dengan baik oleh seluruh awak kapal agar selamat dan sehat. Dalam keadaan tertentu, pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran sebagai bagian dari penyelenggaraan dapat dilaksanakan oleh badan usaha dan diawasi oleh Pemerintah. Badan usaha tersebut bertanggung jawab untuk memelihara dan merawat sarana bantu keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai tujuan untuk menghindari atau mengurangi kecelakaan, untuk mengamankan kapal, perlengkapan kerja, serta produk pada muatan. Pada umumnya wajib diketahui sebab-sebab untuk mencegah terjadinya kecelakaan, perlengkapan, dan prosedur kerja di atas kapal. Prosedur dan peringatan bahaya harus dipahami dan diterapkan dengan benar oleh semua awak kapal dalam menjalankan tugasnya.
Sarana Bantu Navigasi Pelayaran, Cara Kerja Smoke Detector dan penempatannya. Berdasarkan jenisnya Smoke Detector terdiri dari 2 jenis, yaitu
Ionisation Smoke Detector yang bekerja berdasarkan tumbukan partikel asap dengan unsur radioaktif di dalam ruang detector (smoke chamber).
Photoelectric Type Smoke Detector (Optical) yang bekerjanya berdasarkan pembiasan cahaya lampu LED di dalam ruang detector karena adanya asap yang masuk dengan kepadatan tertentu.
Smoke Ionisasi cocok untuk mendeteksi asap dari kobaran api yang cepat (fast flaming fires). Tetapi jenis ini lebih mudah terkena false alarm, karena sensitivitasnya yang tinggi. Oleh karena
itu perangkat ini lebih cocok untuk ruang keluarga dan ruangan tidur. Smoke Optical (Photoelectric) lebih baik untuk mendeteksi asap dari kobaran api kecil, sehingga cocok untuk hallway (lorong) dan tempat-tempat yang rata. Jenis ini lebih tahan terhadap false alarm, sehingga dapat diletakkan di dekat dapur.
Memadamkan kebakaran haruslah dilakukan dengan cepat, tepat, dan aman pada setiap kejadian kebakaran. Tindakan awal sangat menentukan berhasilnya proses pemadaman kebakaran, karena pada saat itu api masih kecil dan mudah dikendalikan. Untuk mengetahui secara awal terjadinya kebakaran perlu dilakukan pendeteksian awal bahaya kebakaran tersebut (Suranto, 2003:1).
Api memiliki sifat mengeluarkan panas, asap, dan sinar. Detektor hanya bisa merasakan salah satu sifat api. Oleh karena keterbatasan tersebut detektor diciptakan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu heat detector (alat deteksi panas), smoke detector (alat deteksi asap), dan flame detector (alat deteksi api).
Keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai tujuan untuk menghindari atau mengurangi kecelakaan, untuk mengamankan kapal, perlengkapan kerja, serta produk pada muatan. Pada umumnya wajib diketahui sebab- sebabnya untuk mencegah terjadinya kecelakaan, perlengkapan, dan prosedur kerja di atas kapal. Prosedur dan peringatan bahaya harus dipahami dan diterapkan dengan benar oleh semua awak kapal dalam menjalankan tugasnya.
Dalam buku Badan Diklat Perhubungan (2000:58) menerangkan Ionization Smoke Detector (Alat Deteksi Asap Ionisasi) mendeteksi asap menggunakan elemen radioaktif dan dua elektroda (positif dan negatif).
Api memiliki sifat mengeluarkan panas, asap, dan sinar. Detektor hanya bisa merasakan salah satu sifat api. Oleh karena keterbatasan tersebut detektor diciptakan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu heat detector (alat deteksi panas), smoke detector (alat deteksi asap), dan flame detector (alat deteksi api).
Sebagaimana diketahui, alat deteksi asap dapat memberikan sinyal ke alarm bahaya dengan cara mendeteksi adanya asap yang berasal dari nyala api yang tidak dapat dikendalikan. Alat ini mempunyai kepekaan yang tinggi dan akan memberikan alarm, bila terdapat asap di ruangan tempat alat ini dipasang.
Karena kepekaannya, kadang-kadang disebabkan oleh asap rokok atau asap apa saja alat deteksi ini langsung aktif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada tanggal 18 Agustus 2019, pada saat pelayaran ke Bitung telah terjadi kebakaran kecil di MV. Meratus Waingapu yang berada di workshop kamar mesin merupakan akibat dari percikan api pada saat pengelasan yang mengenai majun atau kain lap yang kemudian berhasil terdeteksi oleh fire detector dan menuju fire control dan diketahui oleh crew kapal. Hal tersebut bukan merupakan kelalaian manusia.
Namun harus tetap diwaspadai dan diperhatikan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali. Sesuai dengan aturan Solas Chapter II-2/9, yaitu fire detection, saat alat ini mendeksi asap, maka alat tersebut akan mengirim signal ke pusat deteksi panel yang ada di anjungan, setelah itu akan terjadi proses bunyi alarm dengan tanda menyala kelap-kelip disertai bunyi detak pada panel alarm detector di anjungan dengan selang waktu 90 detik, maka alarm di setiap kompartemen dek dan di kamar mesin akan berbunyi alarm kebakaran (secara terus menerus/continuous ringing).
Perwira atau Nakhoda saat mengetahui
adanya signal proses terdeteksinya asap kebakaran, langsung melihat pada box panel detektor ruang mana yang terindikasi adanya kebakaran. Alat deteksi kebakaran adalah suatu alat untuk mendeteksi bahaya kebakaran di atas kapal, dan alat ini merupakan salah satu alat untuk menunjang pelayaran.
Peranan alat deteksi kebakaran di MV.
Meratus Waingapu sangatlah penting terutama bagi keselamatan awak kapal, karena alat ini otomatis akan memberikan sinyal, jika akan terjadi bahaya kebakaran di atas kapal.
Mengingat pentingnya peranan alat deteksi kebakaran, maka pengetahuan crew kapal tentang alat deteksi kebakaran dan perawatan terhadap alat deteksi kebakaran di MV. Meratus Waingapu sangat penting.
Mengapa para crew MV.
Meratus Waingapu kurang memahami tentang alat deteksi kebakaran berdasarkan hasil observasi peneliti ketika di kapal, ada beberapa penyebab crew kapal kurang memahami alat deteksi kebakaran di kapal. Penulis melakukan pengamatan dan melakukan beberapa wawancara kepada crew kapal, penulis dapat menguraikan beberapa hal diantaranya
a) Kurangnya pengetahuan crew kapal tentang alat deteksi kebakaran.
Dalam pencegahan bahaya kebakaran di atas kapal pengetahuan tentang peranan alat deteksi kebakaran sangatlah penting untuk menjaga keselamatan dan keamanan diatas kapal. Dalam dunia pelayaran banyak alat-alat yang menunjang untuk keselamatan pelayaran baik untuk awak kapal, kapal dan muatannya. Salah satu alat untuk menunjang keselamatan pelayaran terutama dalam pencegahan terjadinya bahaya kebakaran adalah alat deteksi kebakaran. Alat deteksi kebakaran berfungsi untuk mendeteksi bahaya kebakaran di atas kapal akan tetapi alat
ini tidak diperhatikan secara serius, mungkin dikarenakan alat ini kecil dan menempel di dinding. Berikut ini adalah faktor – faktor penyebab kurangnya pengetahuan awak kapal tentang alat deteksi kebakaran.
b). Kurangnya familiarization crew baru di MV. Meratus Waingapu.
Familiarization sangatlah penting untuk awak kapal yang baru naik kapal, dengan tujuan agar awak kapal baru tersebut mengetahui lokasi – lokasi tempat kerja dan peralatan – peralatan keselamatan di kapal. Pelaksanaan familiarization di MV. Meratus Waingapu untuk awak kapal baru yang kurang dilaksanakan dengan maksimal sangatlah disayangkan utamanya familiarization tentang alat deteksi kebakaran, karena apabila terjadi bahaya kebakaran, awak kapal tidak akan tahu dimana lokasi terjadinya bahaya kebakaran, selain itu juga dapat membahayakan awak kapal itu sendiri karena tidak tahu alur atau jalan untuk keluar dari bahaya kebakaran di atas kapal. Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat awak kapal baru naik kapal kondisi kapal sedang sibuk dan awak kapal lama tidak sempat mengadakan familiarization seluruh tempat di atas kapal kepada awak kapal baru. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan terhadap crew kapal mengenai bagaimana alur dari pencegahan bahaya kebakaran tersebut agar kebakaran yang terjadi tidak meluas. Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap Responden III (Mualim III) tentang bagaimana reaksi alat deteksi kebakaran di atas kapal terhadap pencegahan bahaya kebakaran agar tidak meluas, mengatakan sebagai berikut.
Alat deteksi kebakaran dapat membantu dalam pencegahan bahaya kebakaran karena alat tersebut setelah menerima asap atau panas, maka akan
segera mengirim sinyal ke panel kebakaran dan menyalakan Fire Alarm atau sinyal bahaya kebakaran dan juga dapat diketahui dimana lokasi kebakaran tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian telah diketahui kendala-kendala dalam peranan alat deteksi kebakaran di MV.
Meratus Waingapu. Untuk itu penulis memberikan pembahasan masalah baik dalam pengetahuan crew dan perawatan terhadap alat deteksi kebakaran di MV.
Meratus Waingapu meningkatkan pengetahuan crew tentang alat deteksi kebakaran. Suatu pengetahuan dan kedisiplinan dalam bertanggung jawab terhadap alat deteksi kebakaran sangat menentukan bekerjanya alat tersebut dengan baik. Kedisiplinan dalam bertanggung jawab terhadap alat tersebut dapat diartikan mengenai kedisiplinan dalam perawatan, pengecekan dan pengetesan terhadap alat tersebut.
Dalam buku Badan Diklat Perhubungan (2000:59), menerangkan Photo Smoke Detector (Alat Deteksi Asap Photoelektrik) adalah suatu alat deteksi kebakaran yang menggunakan bahan bersifat Photoelektrik yang sangat peka sekali terhadap cahaya.
Pada umumnya, alat deteksi nyala api dipasang di tempat-tempat yang mempunyai risiko bahaya kebakaran lebih besar dan alarm keaktifan pembakaran yang lebih cepat.
Misalnya di tempat-tempat penyimpanan barang-barang yang berbahaya, cairan-cairan yang mudah menyala dan sebagainya.
Seperti alat deteksi asap, alat deteksi panas dapat digunakan untuk memberikan peringatan awal adanya bahaya kebakaran. Hanya saja deteksi panas mendeteksi adanya bahaya kebakaran dengan cara perbedaan panas atau temperatur. Alat deteksi ini dapat mendeteksi adanya bahaya kebakaran dengan cara membedakan kenaikan
temperatur yang tajam. Dengan adanya kebakaran suhu ruangan akan naik, suhu ini yang akan terdeteksi. Ada 3 (tiga) macam jenis dengan mengoperasikan peralatan-peralatan elektronik yang mutakhir (teknologi komputer). Dalam hal ini, suatu bahaya kebakaran dapat dideteksi sedini mungkin, baik setelah nyala api yang tidak terkendali maupun waktu masih terjadi perbedaan suhu yang dapat mengarah ke terjadinya bahaya kebakaran. Peralatan-peralatan dengan teknologi mutakhir tersebut dikombinasikan menjadi suatu sistem deteksi awal bahaya api (Early Warning Fire Detection) yang berikut dapat secara otomatis memberikan alarm bahaya atau langsung mengaktifkan alat pemadam.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah didapatkan melalui suatu penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini adalah
a. Pengetahuan crew kapal tentang alat deteksi kebakaran di MV. Meratus Waingapu masih kurang, hal ini disebabkan karena kurangnya familiarization awak kapal baru di MV. Meratus Waingapu yang disebabkan karena kondisi kapal yang sedang sibuk dan kurang maksimalnya familiarization awak kapal lama kepada crew baru serta kurangnya pelaksanaan safety meeting di MV. Meratus Waingapu karena kesibukan pekerjaan di atas kapal.
b. Perawatan alat deteksi kebakaran di MV. Meratus Waingapu masih sangat minim, hal ini disebabkan karena kurangnya koordinasi pihak kapal dengan perusahaan tentang perawatan alat deteksi kebakaran di atas kapal dan kurangnya tanggung jawab
perwira kapal dalam rutinitas perawatan alat deteksi kebakaran.
Peneliti mengajukan beberapa saran menyangkut tentang simpulan yang telah diambil atas permasalahan yang ada, saran-saran yang dapat penulis berikan diantaranya sebagai berikut.
Diupayakan melakukan familiarization terhadap kapal yang baru ditempati termasuk familirisasi terhadap penggunaan semua alat keselamatan yang ada di atas kapal dan posisi serta jenis alat yang digunakan di atas kapal.
Mengupayakan agar faktor yang dapat menghambat kinerja alat deteksi dapat ditanggulangi sedini mungkin, secara rutin melakukan pengecekan secara berkala, dan dilakukan drill semaksimal mungkin.
Meningkatkan tanggung jawab perwira kapal terhadap alat deteksi kebakaran dengan cara melakukan pengecekan secara teratur.
Meningkatkan perawatan alat deteksi kebakaran sebaik mungkin dengan cara meningkatkan koordinasi antara pihak kapal dengan perusahaan dengan baik, sehingga perawatan alat deteksi kebakaran bisa terlaksana dan meningkatkan tanggung jawab perwira kapal terhadap alat deteksi kebakaran dengan cara melakukan pengecekan secara teratur.
Sebaiknya perusahaan harus memiliki SMS (Safety Management System) dan diimplementasikan di atas kapal. Pelaksanaan SMS harus dilaporkan ke perusahaan. Agar komunikasi antara awak kapal dan perusahaan bisa terjalin dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahmat. (2003). Cara Penanganan Dalam Keadaan Darurat. Jakarta:
Dirjen Hubungan Laut
Adam Weintrit. (2013). Safety for Fire Equipment. Biblioteca Nacional de Panama.
Basic Safety Training, Modul-4 (2000):
Keselamatan Dalam Bekerja di Atas Kapal. Dinas Perhubungan.
Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Istopo. (2013). Perlengkapan Kapal Jilid IV. Yayasan CAAIP. Jakarta.
Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta:Graha Ilmu.
Sutiyar Rais, Thamrin; Dage, J. La.
(1994). Kamus Istilah Pelayaran dan Perkapalan. Jakarta:Pustaka Beta.