• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS.Al-Nur: 26 QS. Al-Furqon: 74 dan QS.Al-Rum: 21)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS.Al-Nur: 26 QS. Al-Furqon: 74 dan QS.Al-Rum: 21)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (AnalisisDeskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

Qurrotul A’yun, Wiwin Ainis Rohtih UniversitasYudhartaPasuruan, East Java, Indonesia

[email protected], [email protected]

ABSTRACT: The main goal from a marriage.is.to.build a happy.family.that.full.of.love. As long as this term family concept explained only in sakinahmawaddah and rahmah, eventhough there’s another thing needs to be noticed that is a process before run the household, after it passed, the next is a process while build a household to be a SakinahMawaddah and rahmah household. Problem’s formulation of this research discuss about the first step in build happy family and how to build a happy family after marriage’s ceremony? The.kind.ofthis.research.is.library.research. The method that is using Tahlili’s method with data analysis that is using descriptive analysis by collecting data and build it, then those collected data is analyzed so that can be obtained a clear and accurate data. The research result shows that there are several process to a happy moslem’s family concept. The first process is pre marriage by praying to Allah and choose a partner in line with what religion suggested. Then, after the ceremony of marriage that is by building a sakinah, mawaddah and rahmah family. Sakinah on this term is characterized with physically and spiritual healthy, and having good enough financial life and harmonious in family relationship.

Mawaddah defined as spaciousness emptiness soul from bad will. In order to create mawaddah it needs a spaciousness to accept all of lackness and advantages from each partner. While rahmah defined as protect, in a relationship it is must to protect, look after and guard each other so that it will create sense of secure in each other.

Keywords: The happy moslem’s family concept, tahlili’s method

PENDAHULUAN/INTRODUCTION

Pernikahan adalah pintu pertama untuk memulai membentuk sebuah keluarga. Perkawinan hal yang sacral dan memiliki tujuan sacral yang tidak dapat dipisahkan dari ketentuan ketentuan agama Islam. Pernikahan menurut pasal 1 undang-undang No 1 tahun 1974 adalah “ikatan emosional antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang memiliki ikatan perkawinan dengan maksud membentuk keluarga yang harmonis berdasarkan sila pertama yaitu ketuhanan yang maha Esa”. Padahal menurut hukum Islam pernikahan adalah akad ijab qobul yang sangat kuat atau mitsaqangalidzan, melaksanakan perintah Allah dan melakukannya termasuk ibadah.1

Di Indonesia sering dikatakan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga ideal. Bahkan ketika mendo’akan pasangan pengantin yang baru menikah masyarakat juga terbiasa mendoakan agar menjadi keluarga yang sakinah mawaddah, rahma. Mereka seakan lupa bahwa sebelum mencapai sakinah tentu ada tahap-tahap yang harus dilalui.

Untuk mencapai keluarga yang sakinah mawaddah dan rahma membutuhkan sebuah proses yang panjang tentu tidak mungkin dalam kehidupan langsung mendapatkan hasil dari tujuan hidup tanpa

1Undang-Undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Surabaya: Arkola, t.t), 2.

Volume 6 Nomor 1 Mei 2021 Volume xxNomorxxDesember 2020

(2)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

adanya sebuah proses. Begitu pula, dengan sebuah keluarga yang sakinah mawaddah dan rahma untuk menuju itu semua awal mula kita harus melalui proses memilih pasangan kemudian setelah membina rumah tangga tak henti-hentinya untuk memanjatkan do’a dalam setiap sujud agar rumah tangga kita diberkahi pasangan dan keturunan yang menyejukkan hati dan memiliki imam yang saleh dan bertakwa.

Sebelum membina rumah tangga kita harus mempunyai konsep gambaran keluarga yang akan kita bina yang akan kita jalani nanti seperti apa. Karena setiap orang pasti mempunyai gambaran seperti apa nanti rumah tangga yang akan dijalaninya. Bagi yang sudah menikah jua tetap menjaga keharmonisan pada keluarga agar pernikahannya tetap langgeng. Selama ini ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan keluarga sakinah baik dalam arti dan lafad yang merujuk pada pembentukan keluarga sakinah adalah surah al- Rum (30):21, di dalam al-Qur’an masih ada ayat-ayat lain yang merujuk pada tahap pembentukan keluarga sakinah yaitu terdapat pada surat al-Nur :26 dan al-Furqon : 74.

Selama ini konsep keluarga yang dijabarkan hanya pada sakinah mawaddah dan rahmah padahal ada hal lain yang harus diperhatikan yaitu proses sebelum menjalani rumah tangga setelah proses sebelum menuju rumah tangga dilalui barulah tahap selanjutnya yaitu proses ketika sudah membina mahligai rumah tangga menjadikan perkawinan yang.sakinah mawaddah.dan. rahmah.

Selama ini sudah banyak.tulisan.yang membahas konsep keluarga sakinah yang merujuk hanya pada surah ar-Rum ayat 21 akan tetapi masi belum ada tulisan yang membahas konsep keluarga yang menggabungkan surat al-Nur ayat 26, surat al-Furqon ayat 74 dan al-Rum : 21.

Dengan adanya latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengkaji dan menganalisis surat al-nur ayat 26, surat al-Furqon ayat 74danar-Rum : 21, untuk itu penulis mengambil judul “Konsep Membangun Keluarga Muslim Dalam Al-Qur’an (AnalisisDeskriptifpada Qs. Al-Nur : 26, Qs. Al- Furqon: 74dan Qs. Ar-Rum : 21).”

METODE/METHOD

Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research).

Di mana dalam proses pencarian data tidak perlu terjun kelapangan. Penelitian ini dilakukan dengan cara membaca, menelaah atau mereview dokumen perpustakaan2berupabuku, hasilpenelitian, skripsi, majalah, jurnal dan sebagainya.

Sumber data yang digunakan meliputi, sumber data primer yaitu al-Qur’an sebab penelitian ini masuk dalam kategori tafsir tahlili, dan sumber data sekunder, yang merupakan data pendukung yang memberikan informasi tambahan yang berkaitan dengan masalah penelitian. Data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber kepustakaan atau referensi tentang topik penelitian dalam bentuk buku-buku yang menyangkut mengenai pembahasan penelitian.

Data sekunder yang terdapat dalam penelitian ini yaitu :

2DudungAbdurahman, PengantarMetodePenelitian (Yogyajarta: KurniaKalamSemesta,2003),7.

(3)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21) a. Kitab tafsir Al-Misbah jilid II karya M. Quraish Shihab

b. Tafsir Al-Azhar karya Hamka

c. Buku psikologi keluarga karya Lestari Sri

d. Undang-undang Republik Indonesia tentang perkawinan e. Buku manajemen penelitian karya Suharisimin Arikunto f. Pengantar metode penelitian karya Dudung Abdurrahman g. Buku metodologi penelitian karya Ahmad Rofiq

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tahlili. Tafsir tahlili berarti metode tafsir analitis.3

HASIL DAN PEMBAHASAN/RESULT AND DISCUSSION

Famili merupakan unit terkecil darirakyat yang berfungsi menjadi tempat untuk mewujudkan kehidupan yang rukun, hening, tenteram, dan sejahtera dalam suasana kekeluargaan serta keakraban antar anggota keluarga. Keluarga dalam arti yang sempit adalah orang tua serta anak.Bidang pertama untuk mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Islam adalah keluarga dan mahligai rumah tangga. Rumah adalah sekolah pertama bagi seorang anak, untuk melihat bagaimana ayahnya memiliki rekan kerja, sikap, serta perilaku terhadap istri. Begitu juga relasi bunda dengan ayah.

Untuk mewujudkan konsep membangun keluarga muslim yang bahagia perlu direncanakan sejak tahap pranikah. Ajaran agama Islam begitu lengkap tentang tahap yang harus dilalui oleh pria dan wanita untuk memulai memasuki kehidupan pernikahan. Sebelum memasuki bahtera rumah tangga ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahma, karena sebuah keluarga tentu tidak akan langsung secara praktis menjadi sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahma, akan tetapi ada tahap yang harus dijalankan menuju famili yang bahagia. Tahap dan proses yang dilalui tentu tidak sebentar dan tidak praktis. Salah satu tahap dan proses tadi adalah proses berusaha memilih pasangan yang baik sesuai dengan harapan, sembari memantaskan diri dan memperbaiki diri menjadi versi yang lebih bagus lagi untuk mendapatkan pasangan yang baik yang sesuai dengan harapan.

Dalam memilih pasangan tidak hanya di duniaini tetapi sampai di akhirat. Jangan salah pilih dalam memilih pasangan hidup agar tidak adanya kekhawatiran atau kekecewaan antara satu dengan yang lainnya.

Mengapa memilih pasangan itu menjadi hal penting ? menurut firman Allah dalam QS. Al-Nur : 26

3Suharsimin Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2007) , 234.

(4)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

ٌقْزِرَو ٌةَرِفْغَم ْمَُلَ َنوُلوُقَ ي اَِّمِ َنوُءَّرَ بُم َكِئَلوُأ ِتاَبِّيَّطلِل َنوُبِّيَّطلاَو َينِبِّيَّطلِل ُتاَبِّيَّطلاَو ِتاَثيِبَخْلِل َنوُثيِبَْلْاَو َينِثيِبَخْلِل ُتاَثيِبَْلْا ٌ ِرَ

Bahwa salah satu fitrah ilmiah yang berkaitan dengan kedekatan antara dua manusia, terutama kedekatan antara seorang pria dan seorang wanita membutuhkan adanya kesetaraan. Untuk menjalin hubungan antara dua orang insan manusia harus dimulai dari adanya kesetaraan antaradua insan tersebut. Tanpa sebuah kecocokan sebuah hubungan tidak akan bertahan lama karena kedekatan itu lahir dari adanya kecocokan dalam berbagai hal seperti prinsip, perangai, pandangan hidup dan lain-lain.

Sesorang akan tertarik kepada orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya, karena jika ada kecocokan maka insan tersebut akan merasa lebih enjoy berada didekat orang tersebut.4

Dari penafsiran tersebut dalam surat Al-Nur ini berbicara mengenai keserasian antara pasangan, jodoh merupakan cerminan dari diri sendiri seorang yang baik akan bersama seorang yang baik, sebaliknya begitu juga. Jika sesorang menginginkan jodoh yang baik maka harus dimulai dari dirinya sendiri untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Ketika sesorang memiliki hal yang baik tentunya orang yang diincar sebagai pasangan hampir sama dengan kebiasaan dirinya. Ungkapan jodoh merupakan cerminan diri sepertinya sangat logis karena ayat di atas menjelaskan bahwa istri yang baik adalah untuk suami yang baik dan sebaliknya. Seperti contoh yang sangat familiar yaitu Siti Aisyah yang berjodoh dengan baginda Rasulullah menunjukkan bahwa beliau adalah wanita yang memiliki budi pekerti yang santun, baik dan terhormat sehingga Siti Aisyah layak dan patut untuk bersanding berjodoh dan menjadi istri Rasulullah.

Karakteristik dan ciri dalam mencari pasangan yang ideal baik bagi calon suami maupun calon istri sesuai dengan Hadis berikut :

َلاَق ِالله ِدْيَ بُع ْنَع َيْيَيح اَنَ ثَّدَح ٌدَّدَسُم اَنَ ثَّدَح ِِّبَّنلا ِنَع ُهْنَع ُالله َيِضَر َةَرْ يَرُه ِْبَِأ ْنَع ِهْيِبَا ْنَع ِديِعَس ِبَِا ُنْب ُدْيِعَس ِنَِثَّدَح :

َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ٍعَبْرَِلِ ُةَأْرَمْلا ُحَكْنُ ت :

َااَدَي ْ َبِرَت ِنْيِّدلا ِتاَ ِب ْرَفْااَ اَ ِنْيِدِلَو اَِلَ َاَ َو اَ ِبَسَِ َو اَِلَاَمِل : .

“Musaddah memberitahu kami, Yahya memberi tahu kami dari Ubaidillah berkata : Said bin Abu Said memberitahu dari bapaknya dari Abu Hurairah ra. (ia berkata), dari Nabi SAW beliau bersabda:“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka hendaklah engkau memilih (perempuan) yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung”.5

Hadis diatas menjelaskan untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup yang sesuai dengan syariat agama. Akan tetapi dari empat kriteria tersebut bukan berarti yang dianjurkan kepada seorang muslim namun, maksud dari lafad hadis tersebut adalah Rasulullah SAW memberitahukan bahwa empat hal yang menjadi kebiasaan laki-laki dalam memilih perempuan untuk dijadikan istri.

4M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Volume 9 (Jakarta ; Lentera Hati, 2002 ), 315.

5Shahih Bukhari, Juz 7 ( t.k : Maktabah Syamila, t.t), 7.

(5)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

Langkah awal untuk membentuk konsep keluarga muslim yang bahagia setelah akad pernikahan bisa diawali dengan mulai dari kebiasaan sehari-hari yaitu memanjatkan doa disetiap selesai sholat. Di dalam al-Qur’an surah Al-Furqon ayat 74 terdapat sebuah doa yang telah diajarkan kepada manusia agar mencapai keluarga yang sakinah.Di antara doa yang dipanjatkan adalah :

اًماَمِإ َينِقَّتُمْلِل اَنْلَعْجاَو ٍُينْعَأ َةَّرُ ق اَنِتَّيَِّّرُذَو اَنِجاَوْزَأ ْنِم اَنَل ْبَه اَنَّ بَر َنوُلوُقَ ي َنيِ َّلاَو

Dan orang-orang yang berkata: “Ya tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”(QS. Al-Furqon : 74).

Pertama, dianugerahkan istri atau pasangan yang menyenangkan hati.Kedua, diberikan anak cucu yang juga menyejukkan hati.Sebagai orang tua tentunya memiliki harapan agar anaknya berilmu, beriman, beragama dan mampu menjalani kehidupan dunia dengan segala rintangannya. Kebahagiaan yang sesungguhnya bagi orang tua yaitu ketika semua cita-cita dan harapan orang tuamenjadi kenyataan. Jika ajalnya telah tiba orang tua akan tenang menutup mata.

Ketiga, setelah berdoa memohon agar dianugerahi istri dan anak keturunan yang menyejukkan mata, maka seorang imam dalam keluarga memohon agar dirinya menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, menjadi panutan yang terdepan menuju Allah. Dengan satu harapan ketakwaan yang dibangun di dalam keluarganya kelak akan mampu mengantarkannya menuju surga Allah karena kebahagiaan yang sejati ialah ketika berhasil membahagiakan keluarganya, berkumpul bersama di dunia dan juga di akhirat kelak di dalam surga-Nya.

Setelah berdoa memohon istri dan anak yang menyejukkan mata untuk membangun keluarga muslim bahagia tahap selanjutnya yaitu membangun keluarga sakinah sesuai dengan surat al-Rum ayat 21:

َنوُرَّكَفَ تَ ي ٍمْوَقِل ٍتَيَّ َلَ َكِلَذ ِفِ َّنِإ ًةَْحَْرَو ًةَّدَوَم ْمُكَنْ يَ ب َلَعَجَو اَ ْ يَلِإ اوُنُكْسَتِل اًجاَوْزَأ ْمُكِسُفْ نَأ ْنِم ْمُكَل َقَلَخ ْنَأ ِهِتَيَّآ ْنِمَو

Menurut pandangan al-Qur’an salah satu tujuan utama sebuah pernikahan adalah untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahma antara suami, istri dan anak-anaknya.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibangun di atas dasar ajaran agama Islam.Adapaun pengertian dari sakinah, mawaddah dan rahmah sebagai berikut :

1. Arti Sakinah

Quraish Shihab mengatakan bahwa kata sakinah.berasal dari kata Arab sin, kaf, dan nun yang berarti “ketenangan”.atau kebalikan dari goncangan dan pergerakan. Bentuk kata yang berbeda terdiri dari ketiga huruf tersebut semuanya mengacu pada di atas.6 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keluarga.sakinah.yaitu.keluarga.yang.hangat, tenang, tentram, bahagia, baik dan sejahtera secara

6M. Qurais Shihab, Pengantin Al-Quran, Kalung Permata Buat Anak-Anakku (Jakarta: Lentera Hati,2010), 80.

(6)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

materil.maupun spiritual. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material secara seimbang, termasuk suasana keharmonisan emosional antar anggota keluarga dengan masyarakat yang selaras.

2. Arti Mawaddah

Dalam membangun keluarga sakinah untuk melengkapinya membutuhkan kehadiran mawaddah dan rahma di tengah-tengah mahligai rumah tangga. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Arti Mawaddah adalah cinta yang bernilai positif.. Menurut Quraish Shihab suatu keluarga yang mawaddah adalah suatu keluarga yang memiliki kelapangan dada, dan kekosongan hati untuk berbuat hal yang tidak dianjurkan oleh agama. Untuk menciptakan mawaddah dalam keluarga dibutuhkan kelapangan jiwa untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan pada pasangan masing- masing.

3. Arti Rahmah

Ikatan dalam hubungan pernikahan selanjutnya yaitu rahmah. Kata rahmah atau rahmat adalah asal kata “rahman” dan “rahim”. Rahmah adalah keadaan psikologis yang muncul di dalam hati karena melihat kelemahan sehinggamemacu orang yang bersangkutan untuk membantunya. Kata lain darirahmahadalah melindugi, dalamberpasangansatusamalainnyaterikat untuk salingmelindugidanmenjaga agar satusama lain merasaaman.7

Rahmah yang sudah tertanam dalam hati seorang pasangan akan mampu menghalau keinginan dan kebutuhan yang berakibat menyakiti hati pasangannya. Semisal seorang suami yang menginginkan kehadiran seorang buah hati yang tak kunjung ada, tetapi istrinya mengalami kemandulan atau kebutuhan seksualnya tidak dapat dipenuhi oleh seorang istri sehingga sang suami menginginkan poligami, tetapi jika menyadari bahkan jika melakukan hal tersebut bisa sangat menyakiti sang istri, maka rahmah yang telah tertanam dan menghiasi dirinyatidak akan melakukannya.

Dalam rumah tangga jika didalam hati sepasang suami istri sudah terbentuk rahmah maka semua hal yang terlihat hanya dari tampilan secara fisik tidak mungkin berpengaruh untuk tetap mengikat cinta, karena sudah mau menerima pasangannya dengan segala bentuk kelebihan dan kekurangannya.

Dari uraian penjelasan di atas dapat dipetik kesimpulan bahwa tujuan sebuah pernikahan adalah menjadi keluarga sakinah, yaitu keluarga yang mampu bertahan dari segala gejolak cobaan dalam keluarga, sehingga yang ada adalah hanya kebahagiaan yang diliputi dengan ketenangan dan ketentraman. Agar semua hal tersebut dapat terwujudkan, maka dibutuhkanlah kehadiran mawaddah dan rahmah. Mawaddah yaitu daya tarik terhadaf fisik yang lebih dominan, seperti seorang lelaki yang tertarik pada wanita karena paras yang menawan. Arti rahmah sendiri adalah keadaan mencintai seorang yang

7M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Tematik Atas Berbagai Persoalan Umat (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2013), 277.

(7)

KONSEP MEMBANGUN KELUARGA MUSLIM DALAM.AL-QUR’AN (Analisis Deskriptif QS..Al-Nur:26 QS. Al-Furqon:74 dan.QS..Al-Rum:21)

tidak hanya berdasarkan dari segi fisik tetapi mampu berdamai dengan segala kelebihan dan kekurangan pasangannya .

KESIMPULAN/CONCLUSION

Untuk mencapai konsep membangun keluarga muslim yang bahagia, maka perlu dilakukan perencanaan mulai dari pra pernikahan. Sebelum memasuki bahtera rumah tangga ada beberapa proses yang harus dilalui diantaranya : memilih pasangan namun sebelum memilih pasangan yang baik tentunya kualitas diri kita harus baik terlebih dahulu. Karena jodoh merupakan cerminan diri sendiri.

Kriteria memilih pasangan yang ideal sesuai dengan anjuran Rasulullah yaitu mencari pasangan halal berdasarkan 4 hal yaitu harta, keturunan, kecantikan dan agama yang dimiliki.

Setelah melalui proses pra pernikahan, langkah selanjutnya yaitu konsep membangun keluarga muslim pasca akad dapat dimulai dengan bermunajat kepada Allah agar dianugerahkan istri atau pasangan hidup yang menentramkan hati, diberikan anak keturunan yang juga menyejukkan hati, dan memohon agar dirinya sendiri menjadi imam, menjadi panutan yang terdepan agar dapat menuju langkah selanjutnya, sebuah pernikahan dengan konsep keluarga yang sakinah., mawaddah.dan rahmah.

Sakinah dalam hal ini bisa dilihat dengan memiliki kesehatan fisik, kesehatan mental, dan memiliki kehidupan keuangan yang cukup serta hubungan antar anggota keluarga yang harmonis. Mawaddah sendiri berarti berlegowo dalam segala hal dan membersihkan hati dari sifat buruk. Agar terciptanya mawaddah.dibutuhkan kelapangan jiwa untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan pada pasangan masing.masing. Sedangkan rahmah mempunyai makna mengayomi, dalam suatu hubungan antara satu dengan yang lainnya diwajibkan saling melindungi dan menjaga.agar satu.sama.lain merasa aman.

DAFTAR PUSTAKA/REFERENCES

Abdurahman , Dudung. Pengantar Metode Penelitian.Yogyajarta: Kurnia Kalam Semesta, 2003.

Arikunto, Suharsimin. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

Shahih Bukhari, Juz 7. t.k : Maktabah Syamila, t.t.

Shihab, M. Quraish. Pengantin Al-Quran. Kalung Permata Buat Anak-Anakku. Jakarta: Lentera Hati, 2010.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Volume 9. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat.

Bandung:Mizan, 199

Undang-Undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Surabaya: Arkola.

Referensi

Dokumen terkait