• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PELABELAN P_2⊳F_n AJAIB SUPER DARI GRAF S_m⊳F_n

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of PELABELAN P_2⊳F_n AJAIB SUPER DARI GRAF S_m⊳F_n"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

38

PELABELAN 𝑃2 ⊳ 𝐹𝑛 AJAIB SUPER DARI GRAF π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛

Ganesha Lapenangga Putra1*, Erika Feronika Br Simanungkalit2

1Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, Kupang-NTT, Indonesia

2Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Nusa Cendana, Kupang-NTT, Indonesia

*Penulis Korespondensi : [email protected]

Abstrak

Graf 𝐺 didefinisikan sebagai pasangan terurut himpunan titik dan sisi, dinotasikan dengan 𝐺 = (𝑉, 𝐸). Misalkan 𝐺 = (𝑉, 𝐸) dan 𝐻 = (𝑉′, 𝐸′) suatu graf.

Hasil kali sisir antara graf 𝐺 dan 𝐻, dinotasikan dengan 𝐺 ⊳ 𝐻, yaitu graf yang diperoleh dengan mengambil satu salinan graf 𝐺 dan salinan sebanyak |𝑉| dari graf 𝐻 dan mengidentifikasikan salinan ke-𝑖 dari graf 𝐻 ke titik ke-𝑖 pada graf 𝐺. Misalkan 𝐺 suatu graf terhubung yang memuat selimut-𝐻. Suatu pelabelan 𝐻-ajaib dari graf 𝐺 = (𝑉, 𝐸) adalah suatu fungsi bijektif 𝑓: 𝑉(𝐺) βˆͺ 𝐸(𝐺) β†’ {1,2,3, … , |𝑉(𝐺)| + |𝐸(𝐺)|}, sehingga 𝑓(𝐻′) = βˆ‘π‘£βˆˆπ‘‰β€²π‘“(𝑣)+ βˆ‘π‘’βˆˆπΈβ€²π‘“(𝑒)= π‘˜, untuk semua subgraf 𝐻′ yang isomorfik dengan 𝐻 dengan π‘˜ suatu konstanta.

Selanjutnya, graf 𝐺 disebut 𝐻-ajaib super jika 𝑓(𝑉) = {1,2,3, … , |𝑉(𝐺)|}. Pada jurnal ini, diberikan pelabelan 𝑃2⊳ 𝐹𝑛 ajaib super dari graf π‘†π‘šβŠ³ 𝐹𝑛 dengan metode multi himpunan seimbang.

Kata kunci: Graf, Pelabelan 𝐻-ajaib super, hasil kali sisir, multi himpunan seimbang.

1. PENDAHULUAN

Suatu graf 𝐺 didefinisikan sebagai pasangan terurut himpunan(𝑉, 𝐸) dimana 𝑉adalah himpunan takkosong dari semua titik dan 𝐸 adalah himpunan sisi yang menghubungkan dua titik. Himpunan titik pada graf biasanya dinotasikan dengan 𝑉(𝐺) sedangkan himpunan sisi pada graf adalah 𝐸(𝐺).

Banyaknya titik dan sisi pada graf 𝐺 secara berturut-turut dinotasikan sebagai 𝑉(𝐺) dan 𝐸(𝐺) [1].

Selanjutnya, diberikan definisi hasil ali sisir pada graf. Misalkan graf 𝐺 dan 𝐻 adalah graf terhubung yang memuat π‘œ sebagai salah satu titik pada graf 𝐻.

Hasil kali sisir antara graf 𝐺 dan 𝐻, dinotasikan 𝐺 ⊳ 𝐻, merupakan graf yang diperoleh dengan mengambil satu salinan dari graf 𝐺 dan salinan

(2)

39

sebanyak│𝑉(𝐺)β”‚dari graf 𝐻, kemudian menyatukan titik π‘œ pada graf 𝐻 ke-𝑖 dengan titik ke-𝑖 pada graf 𝐺 [2].

Suatu graf 𝐺 = (𝑉, 𝐸) dikatakan memuat selimut 𝐻 jika untuk setiap sisi pada graf 𝐺 termuat pada suatu subgraf yang isomorfik terhadap 𝐻 [3]. Selanjutnya graf 𝐺 yang memuat selimut-𝐻 dikatakan 𝐻-ajaib jika terdapat fungsi bijektif 𝑓: 𝑉 βˆͺ 𝐸 β†’ {1, 2, . . . , |𝑉| + |𝐸|} sehingga untuk setiap subgraf 𝐻′ dari 𝐺 yang isomorfik dengan 𝐻 berlaku 𝑓(𝐻′) = βˆ‘(π‘£βˆˆπ‘‰) 𝑓(𝑣)+ βˆ‘(e∈E)𝑓(𝑒) = π‘˜ dengan π‘˜ adalah bilangan ajaib [2].

Selanjutnya, graf 𝐺 disebut 𝐻-ajaib super jika 𝑓(𝑉) = {1, 2, . . . , |𝑉|} [3].

Nirmalasari Wijaya, Ryan dan Kalinowski [4] membuktikan bahwa untuk 𝑛 ganjil dan sebarang π‘˜, graf kembang api πΉπ‘˜,𝑛 merupakan graf 𝐹2,𝑛-ajaib super.

Selanjutnya, Maryati, Salman, dan Baskoro [5] telah mengkarakterisasi semua graf 𝐺 sehingga gabungan terpisah dari graf 𝐺 merupakan graf 𝐺- ajaib super.

Mereka juga telah membuktikan bilangan ajaib untuk gabungan dari graf lintasan, yakni π‘šπ‘ƒπ‘› untuk sebarang π‘š dan 𝑛. Melanjutkan hasil yang sudah ada, maka penulis hendak memaparkan hasil mengenai pelabelan 𝑃2⊳ 𝐹𝑛 ajaib super dari graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛.

2. MULTI HIMPUNAN SEIMBANG

Multi himpunan merupakan modifikasi himpunan yang mengijinkan unsur yang sama muncul lebih dari satu kali [6]. Berikut diberikan notasi-notasi yang digunakan terkait multi himpunan.

βˆ‘π‘‹ = βˆ‘π‘₯βˆˆπ‘‹π‘₯

[𝑝, π‘ž] = {π‘₯ | 𝑝 ≀ π‘₯ ≀ π‘ž, π‘₯ ∈ β„€} (2.1) {𝑝} ⊎ {𝑝, π‘ž} = {𝑝, 𝑝, π‘ž}

4{𝑝, π‘ž, π‘Ÿ, 𝑠} = {𝑝, 𝑝, 𝑝, 𝑝, π‘ž, π‘ž, π‘ž, π‘ž, π‘Ÿ, π‘Ÿ, π‘Ÿ, π‘Ÿ, 𝑠, 𝑠, 𝑠, 𝑠}

Suatu multi himpunan 𝑋 dikatakan π‘š-seimbang jika terdapat himpunan 𝑋1, 𝑋2, … π‘‹π‘š yang merupakan subhimpunan 𝑋 dan untuk setiap π‘˜ ∈ [1, π‘š]

berlaku

|π‘‹π‘˜| =|𝑋|

π‘š

βˆ‘π‘‹π‘˜ =βˆ‘π‘‹

π‘š (2.2)

βŠŽπ‘˜=1π‘š π‘‹π‘˜= 𝑋

π‘‹π‘˜ disebut subhimpunan seimbang dari 𝑋 [6]. Berikut diberikan lema terkait multi himpunan seimbang.

Lema 2.1.1 Diberikan

m n , οƒŽ N

,

m ο‚³ 3

. Jika

n

ganjil dan 𝑦 genap maka 𝑋 = (π‘š βˆ’ 1) {{1} ⊎ (π‘š βˆ’ 1){βŠŽπ‘¦=23π‘›βˆ’1[𝑦(π‘š + 1), 𝑦(π‘š + 1) + 1]}} ⊎ [1,3π‘šπ‘› + 3𝑛 + π‘š]

merupakan multi himpunan π‘š- seimbang.

(3)

40 Bukti:

Pertama, untuk setiap π‘˜ ∈ [1, π‘š] bentuk

π‘‹π‘˜ = {

𝑓(π‘π‘˜), 𝑓(π‘Ž1), 𝑓(π‘Žπ‘˜+1), 𝑓(𝑐11), … , 𝑓(𝑐1𝑛), 𝑓(π‘π‘˜+11 ), … , 𝑓(π‘π‘˜+1𝑛 ), 𝑓(𝑑11), … , 𝑓(𝑑12π‘›βˆ’1),

𝑓(π‘‘π‘˜+11 ), … , 𝑓(π‘‘π‘˜+12π‘›βˆ’1)

} dengan

𝑓(π‘Žπ‘–) = 𝑖, 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1

𝑓(π‘π‘˜) = 3𝑛(π‘š + 1) + (π‘š + 1) βˆ’ π‘˜, 1 ≀ π‘˜ ≀ π‘š

𝑓(𝑐𝑖𝑗) = {𝑗(π‘š + 1) + (π‘š + 1) + 1 βˆ’ 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 𝑗 ganjil

𝑗(π‘š + 1) + 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 𝑗 genap (2.3) 𝑓(𝑑𝑖𝑙) = {(𝑙 + 𝑛)(π‘š + 1) + 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1, 𝑙 ganjil

(𝑙 + 𝑛 + 1)(π‘š + 1) + 1 βˆ’ 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1, 𝑙 genap Perhatikan bahwa untuk setiap π‘˜ ∈ [1, π‘š], |π‘‹π‘˜| = 6𝑛 + 1 dan

βˆ‘π‘‹π‘˜ = 𝑓(π‘π‘˜) + 𝑓(π‘Ž1) + 𝑓(π‘Žπ‘˜+1) + 𝑓(𝑐11) + 𝑓(𝑐12) + β‹― + 𝑓(𝑐1𝑛) + 𝑓(π‘π‘˜+11 ) + β‹― + 𝑓(π‘π‘˜+1𝑛 ) + 𝑓(𝑑11) + β‹― + 𝑓(𝑑12π‘›βˆ’1) +

𝑓(π‘‘π‘˜+11 ) + β‹― + 𝑓(π‘‘π‘˜+12π‘›βˆ’1)

= 9π‘šπ‘›2+ 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 6𝑛 + 1. (2.4)

Perhatikan nilai βˆ‘π‘‹ berikut.

βˆ‘π‘‹ = (π‘š βˆ’ 1) + (π‘š βˆ’ 1) ( 2(π‘š + 1) + 2(π‘š + 1) + 1 + 4(π‘š + 1) + 4(π‘š + 1) + 1 + β‹― + (3𝑛 βˆ’ 1)(π‘š + 1) + 1) + (3π‘šπ‘›+3𝑛+π‘š)(3π‘šπ‘›+3𝑛+π‘š+1)

2

= 9π‘š2𝑛2+ 6π‘šπ‘› + 9π‘šπ‘›2+ 3π‘š2𝑛 + π‘š (2.5) Berdasarkan persamaan (2.4) dan (2.5), diperoleh

βˆ‘π‘‹

π‘š =9π‘š2𝑛2+6π‘šπ‘›+9π‘šπ‘›2+3π‘š2𝑛+π‘š

π‘š

= 9π‘šπ‘›2+ 6𝑛 + 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 1 = βˆ‘π‘‹π‘˜

βŠŽπ‘–=1π‘š π‘‹π‘˜= 𝑋 (2.6)

|π‘‹π‘˜| =|𝑋|

π‘š

Jadi, 𝑋 adalah multi himpunan π‘š-seimbang.

Lemma 2.1.2: Diberikan π‘š, 𝑛 ∈ 𝑁, π‘š β‰₯ 3. Jika π‘š, 𝑛, 𝑦 genap, maka 𝑋 = (π‘š βˆ’ 1) {π‘š2 + 1,3𝑛(π‘š + 1)} ⊎ (π‘š βˆ’ 1){βŠŽπ‘¦=13π‘›βˆ’2[𝑦(π‘š + 1), 𝑦(π‘š + 1) + 1]} ⊎ [1,3π‘šπ‘› + 3𝑛 + π‘š] merupakan multi himpunan π‘š- seimbang.

Bukti:

Pertama, untuk setiap π‘˜ ∈ [1, π‘š] bentuk

π‘‹π‘˜ = {𝑓(π‘Ž1), 𝑓(π‘Žπ‘˜+1), 𝑓(π‘π‘˜), 𝑓(𝑐11), … , 𝑓(𝑐1𝑛), 𝑓(π‘π‘˜+11 ), … , 𝑓(π‘π‘˜+1𝑛 ),

𝑓(𝑑11), … , 𝑓(𝑑12π‘›βˆ’1), 𝑓(π‘‘π‘˜+11 ), … , 𝑓(π‘‘π‘˜+12π‘›βˆ’1) } dengan 𝑓(π‘Žπ‘–) = {

𝑖

2; 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1, 𝑖 genap

π‘š 2 +𝑖+1

2 ; 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1, 𝑖 π‘”π‘Žπ‘›π‘—π‘–π‘™

(4)

41 𝑓(π‘π‘˜) = {3𝑛(π‘š + 1) +π‘š

2 +π‘˜+1

2 , 1 ≀ π‘˜ ≀ π‘š, π‘˜ ganjil 3𝑛(π‘š + 1) +π‘˜

2, π‘˜ genap (2.7)

𝑓(𝑐𝑖𝑗) = {𝑗(π‘š + 1) + (π‘š + 1) + 1 βˆ’ 𝑖; 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1, 1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 𝑗 ganjil 𝑗(π‘š + 1) + 𝑖 ; 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1, 1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 𝑗 genap 𝑓(𝑑𝑖𝑙) = {(𝑙 + 𝑛 + 1)(π‘š + 1) + 1 βˆ’ 𝑖; 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1, 1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1, 𝑙 ganjil

(𝑙 + 𝑛)(π‘š + 1) + 𝑖; 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1, 1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1, 𝑙 genap Perhatikan bahwa untuk setiap π‘˜ ∈ [1, π‘š], |π‘‹π‘˜| = 6𝑛 + 1. Selanjutnya, berdasarkan nilai π‘˜, bukti dibagi menjadi dua kasus.

Kasus 1. π‘˜ ganjil

βˆ‘π‘‹π‘˜ = 𝑓(π‘π‘˜) + 𝑓(π‘Ž1) + 𝑓(π‘Žπ‘˜+1) + 𝑓(𝑐11) + 𝑓(𝑐12) + β‹― + 𝑓(𝑐1𝑛) + 𝑓(π‘π‘˜+11 ) + β‹― + 𝑓(π‘π‘˜+1𝑛 ) + 𝑓(𝑑11) + β‹― + 𝑓(𝑑12π‘›βˆ’1) +

𝑓(π‘‘π‘˜+11 ) + β‹― + 𝑓(π‘‘π‘˜+12π‘›βˆ’1) = 9π‘šπ‘›2+ 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 6𝑛 + π‘š Kasus 2. π‘˜ genap

βˆ‘π‘‹π‘˜ = 𝑓(π‘π‘˜) + 𝑓(π‘Ž1) + 𝑓(π‘Žπ‘˜+1) + 𝑓(𝑐11) + 𝑓(𝑐12) + β‹― + 𝑓(𝑐1𝑛) + 𝑓(π‘π‘˜+11 ) + β‹― + 𝑓(π‘π‘˜+1𝑛 ) + 𝑓(𝑑11) + β‹― + 𝑓(𝑑12π‘›βˆ’1) +

𝑓(π‘‘π‘˜+11 ) + β‹― + 𝑓(π‘‘π‘˜+12π‘›βˆ’1) = 9π‘šπ‘›2+ 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 6𝑛 + π‘š

Perhatikan nilai βˆ‘π‘‹ berikut.

βˆ‘π‘‹ = (π‘š βˆ’ 1) (π‘š

2 + 1) +(π‘šβˆ’1)

2 (3𝑛

2) [2(π‘š + 1) + 3𝑛(π‘š + 1)]

+(π‘šβˆ’1)

2 (3nβˆ’2

2 ) [2(π‘š + 1) + 1 + (3𝑛 βˆ’ 2)(π‘š + 1) + 1]

+3π‘šπ‘›+3𝑛+π‘š

2 [3π‘šπ‘› + 3𝑛 + π‘š + 1]

= 9π‘š2𝑛2+ 9π‘šπ‘›2+ 3π‘š2𝑛 + 6π‘šπ‘› + π‘š2 (2.8) Berdasarkan persamaan (2.4) dan (2.5), diperoleh

βˆ‘π‘‹

π‘š =9π‘š2𝑛2+9π‘šπ‘›2+3π‘š2𝑛+6π‘šπ‘›+π‘š2

π‘š

= 9π‘šπ‘›2+ 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 6𝑛 + π‘š = βˆ‘π‘‹π‘˜

βŠŽπ‘–=1π‘š π‘‹π‘˜= 𝑋 (2.9)

|π‘‹π‘˜| =|𝑋|

π‘š

Jadi, 𝑋 adalah multi himpunan π‘š-seimbang.

3. HASIL UTAMA

Graf π‘†π‘šβŠ³ 𝐹𝑛 adalah graf yang diperoleh dengan mengambil satu salinan graf bintang dan

m

salinan dari graf kipas 𝐹𝑛, kemudian menempelkan titik ke-𝑖 dari graf kipas ke titik pada graf bintang π‘†π‘š, untuk

i οƒŽ 1, 2,3, ο‚Ό , m

. Berikut diberikan himpunan sisi dan titik dari graf π‘†π‘šβŠ³ 𝐹𝑛.

𝑉(π‘†π‘šβŠ³ 𝐹𝑛) = {𝑣𝑖|1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1} βˆͺ {𝑣𝑖𝑗|1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1}

𝐸(π‘†π‘šβŠ³ 𝐹𝑛) = {π‘’π‘˜|1 ≀ π‘˜ ≀ π‘š} βˆͺ {𝑒𝑖𝑙|1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1,1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1}

(5)

42

Berikut merupakan teorema tentang pelabelan 𝑃2 ⊳ πΉπ‘›βˆ’ajaib super pada graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛.

Teorema 3.1. Graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛 merupakan graf 𝑃2⊳ 𝐹𝑛-ajaib super untuk a. π‘š β‰₯ 3, 𝑛 β‰₯ 3, π‘š, 𝑛 ∈ β„•, 𝑛 bilangan ganjil

b. π‘š β‰₯ 3, 𝑛 β‰₯ 3, π‘š, 𝑛 ∈ β„•, π‘š, 𝑛 bilangan genap Bukti:

Bukti dibagi menjadi dua kasus.

Kasus 1: 𝑛 ganjil

Berikut diberikan fungsi pelabelan graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛 untuk 𝑛 ganjil π‘š, 𝑛 ∈ 𝑁.

𝑓(𝑣𝑖) = 𝑖, 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1

𝑓(π‘’π‘˜) = 3𝑛(π‘š + 1) + (π‘š + 1) βˆ’ π‘˜, 1 ≀ π‘˜ ≀ π‘š

𝑓(𝑣𝑖𝑗) = {𝑗(π‘š + 1) + (π‘š + 1) + 1 βˆ’ 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 𝑗 ganjil

𝑗(π‘š + 1) + 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 𝑗 genap (3.1) 𝑓(𝑒𝑖𝑙) = {(𝑙 + 𝑛)(π‘š + 1) + 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1, 𝑙 ganjil

(𝑙 + 𝑛 + 1)(π‘š + 1) + 1 βˆ’ 𝑖; 1 ≀ i ≀ m + 1, 1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1, 𝑙 genap dengan 𝑓(𝑣𝑖) merupakan fungsi pelabelan titik pada graf bintang, 𝑓(π‘’π‘˜) merupakan fungsi pelabelan sisi pada graf bintang, 𝑓(𝑣𝑖𝑗) merupakan fungsi pelabelan titik pada graf kipas, dan 𝑓(𝑒𝑖𝑙) merupakan fungsi pelabelan sisi pada graf kipas. Berdasarkan Lema 2.1.1, diperoleh 𝑓(π‘Žπ‘–) = 𝑓(𝑣𝑖),𝑓(π‘π‘˜) = 𝑓(π‘’π‘˜), 𝑓(𝑐𝑖𝑗) = 𝑓(𝑣𝑖𝑗), dan 𝑓(𝑑𝑖𝑙) = 𝑓(𝑒𝑖𝑙). Perhatikan bahwa π‘‹π‘˜ merupakan label titik dan sisi dari subgraf 𝑃2⊳ 𝐹𝑛 ke-π‘˜ pada graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛. Menurut Lema 2.1.1, jumlahan label titik dan sisi dari setiap subgraf 𝑃2⊳ 𝐹𝑛 bernilai sama, yakni 9π‘šπ‘›2+ 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 6𝑛 + 1. Selanjutnya, ditunjukkan bahwa fungsi pelabelan yang diberikan merupakan fungsi bijektif. Perhatikan daerah hasil dari partisi masing-masing fungsi

f

berikut.

𝑓({𝑣𝑖|1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1}) = [1, π‘š + 1]

𝑓({𝑣𝑖𝑗|1 ≀ 𝑗 ≀ 𝑛, 1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1}) = [π‘š + 2, π‘šπ‘› + π‘š + 𝑛 + 1] (3.2) 𝑓({𝑒𝑖𝑗|1 ≀ 𝑙 ≀ 2𝑛 βˆ’ 1,1 ≀ 𝑖 ≀ π‘š + 1}) = [π‘šπ‘› + π‘š + 𝑛 + 2,3π‘šπ‘› + 3𝑛]

𝑓({π‘’π‘˜|1 ≀ π‘˜ ≀ π‘š}) = [3π‘šπ‘› + 3𝑛 + 1,3π‘šπ‘› + π‘š + 3𝑛]

Daerah asal dan daerah hasil dari partisi masing-masing fungsi berjumlah sama. Selanjutnya 𝑓: 𝑉 βˆͺ 𝐸 β†’ {1,2, … , |𝑉| + |𝐸|}. Banyaknya unsur di daerah asal fungsi

f

adalah |𝑉 βˆͺ 𝐸| = 3π‘šπ‘› + π‘š + 3𝑛, sedangkan banyaknya unsur pada daerah kawan sama dengan banyaknya unsur pada daerah hasil, yakni 3π‘šπ‘› + π‘š + 3𝑛. Akibatnya,

f

fungsi bijektif.

Kasus 2: π‘š dan 𝑛 genap.

Untuk kasus 2, dengan menggunakan Lema 2.1.2 dan cara yang sama pada kasus 1, maka dapat diperoleh fungsi pelabelan yang bijektif dengan jumlahan label titik dan sisi yang sama pada setiap subgraf 𝑃2 ⊳ 𝐹𝑛, yakni = 9π‘šπ‘›2+ 9𝑛2+ 3π‘šπ‘› + 6𝑛 + π‘š.

(6)

43

Berdasarkan kedua kasus di atas, diperoleh bahwa graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛 merupakan graf 𝑃2⊳ 𝐹𝑛 ajaib super untuk π‘š β‰₯ 3, 𝑛 β‰₯ 3 dengan (a) 𝑛 ganjil dan (b) π‘š, 𝑛 genap. ∎

Gambar 3.1. Pelabelan π‘·πŸβŠ³ π‘­πŸ‘ ajaib super pada graf π‘ΊπŸ“βŠ³ π‘­πŸ‘

4. SIMPULAN

Berdasarkan hasil di atas, disimpulkan bahwa graf π‘†π‘š ⊳ 𝐹𝑛 merupakan graf 𝑃2⊳ 𝐹𝑛 ajaib super untuk π‘š β‰₯ 3, 𝑛 β‰₯ 3, π‘š, 𝑛 ∈ β„• dengan (a) 𝑛 ganjil dan (b) π‘š, 𝑛 genap.

Selanjutnya, penulis menyarankan untuk memeriksa pada kasus π‘š ganjil dan 𝑛 genap.

DAFTAR PUSTAKA

[1] G. Chartrand and P. Zhang, A First Course in Graph Theory. Dover Publications, 2012.

[Online]. Available: https://books.google.co.id/books?id=ocIr0RHyI8oC

[2] W. S. Suhadi, M. Novi, and A. P. Ira, β€œThe Metric Dimension of Comb Product Graphs.,” MATEMATIK VESNIK, vol. 69, no. 4, pp. 248–258, 2017.

[3] J. A. Galian, β€œA Dynamic Survey of Graph Labeling,” Electronic Journal of Combinatorics, 2020.

[4] R. W. N. Wijaya, A. S. Fenovcikova, J. Ryan, and T. Kalinowski, β€œH-Supermagic Labelings for Firecrackers, Banana Tress and Flower,” vol. 69, no. 3, pp. 442–451, 2017.

[5] T. K. Maryati, E. T. Baskoro, and A. N. M. Salman, β€œP_h- (super) magic labelings of some trees,” Journal of Combinatorial Mathematics and Combinatorial Computing, vol.

65, pp. 197–204, 2008.

[6] T. K. Maryati, A. N. M. Salman, E. T. Baskoro, J. Ryan, and R. Miller, β€œOn H- supermagic labelings for certain schakles and amalgamations of a connected graph, Util. Math., 83, 333-342.,” Util. Math., vol. 83, pp. 333–342, 2010.

Referensi

Dokumen terkait