218
P- ISSN: 0216–7794 & E-ISSN: 2745–6447 Volume 21 Nomor 2 Juli 2023
PENDIDIKAN RAMAH ANAK DALAM PERSPEKTIF HADITS NABI
Muchlis
1 Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Bima
Corresponding Author: Muchlis, E-Mail: [email protected]
ARTICLE INFO Article history:
Received 28, Januari,
2023 Revised 10, July,
2023
ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk melihat konsep pendidikan ramah anak dalam perspektif hadits nabi. Metode yang dignakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Studi kepustakaan dapat diartikan sebagai sebuah rangkaian kegiatan dengan membaca dan menganalisi serta mengolah bahan penelitian. Hasil dari penelitian adalah bahwa Nabi Muhamamad dalam proses pendidikan kepada sahabatnya, menerapkan konsep pendidikan yang ramah anak. Hal itu dapat dilihat dari aspek: a) membiarkan anak menikmati dunianya, yaitu bermain, b) Pendidik hendaknya berkomunikasi dengan anak sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, c) mengakomodasi pengetahuan dan pengalaman anak dengan penerapan pembelajaran apersepsi.
Kata Kunci: Pendidikan Ramah Anak, Hadits Nabi How to Cite :
DOI :
Journal Homepage :
This is an open acc ess article under the CC BY SA license :
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara1. Pengertian lainnya dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan
1 UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
219
secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama2.
Dalam rangka menghantarkan kesuksesan belajar peserta didiknya, pendidik harus menjamin adanya lingkungan belajar yang aman, nyaman serta terbuka terhadap perkembangan psikologi peserta didik. Sehingga terjadi perubahan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill) pada diri peserta didik. Akan tetapi, pada kenyataannya, peserta didik seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang baik, seperti tindak kekerasan verbal, dan psikis dari guru maupun dari teman sebayanya.
Komitmen Negara untuk menjamin pemenuhan hak Pendidikan anak ditunjukkan dalam Pasal 28 ayat (1) Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, menyebutkan bahwa semua anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan Pendidikan. Kemudian dalam Pasal 29 ayat (1) menekankan bahwa pendidikan bertujuan untuk pengembangan kepribadian, bakat, kemampuan mental dan fisik anak hingga mencapai potensi sepenuhnya; pengembangan sikap menghormati hak-hak asasi manusia; pengembangan sikap menghormati kepada orang tua, kepribadian budaya, bahasa, dan nilai-nilai; penyiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab dalam suatu masyarakat dalam semangat saling pengertian, tenggang rasa, kesetaraan gender, dan persahabatan antar semua bangsa, suku, agama, termasuk anak dari penduduk asli; dan pengembangan rasa hormat pada lingkungan alam3.
Dalam agama Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah memberikan contoh kepada manusia yang bisa dijadikan pelajaran, salah satunya dalam proses pembelajaran. Hal itu dapat diketahui lewat hadits (di samping al-Quran) yang ditinggalkan oleh beliau sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana bentuk pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah, terutama ketika berhadapan dengan anak-anak.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian menggunakan library research yaitu dengan cara mengumpulkan data literasi dengan topik terkait yang dibahas, yaitu pendidikan ramah anak dalam perspektif hadits nabi. Sumber data yang digunakan berasal dari buku, artikel ilmiah, dan penelitian terkait.
selanjutnya akan ditelaah dan ditarik kesimpulan.
PEMBAHASAN
1. Konsep Pendidikan Ramah Anak
a. Pengertian Pendidikan Ramah Anak
Pendidikan ramah anak dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu: 1) adanya proses pendidikan yang masih menjadikan anak sebagai objek dan guru sebagai pihak yang selalu benar, 2) adanya kasus kekerasan (kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran terhadap anak, 3) adanya bentuk hukuman yang tidak mendidik bagi peserta didik seperti mencubit, menjewer, dan membentak dengan suara yang keras4. Oleh karena itu, Anak sebagai peserta didik berhak mendapatkan lingkungan pendidikan yang ramah.
2 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, cetakan keempat, (Bandung: PT. Alma’arif,
1980), h. 19.
3 Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak, Pedoman Satuan Pendidikan Ramah Anak, (Jakarta, 2021), h. 7
4 Widodo, “Pendidikan Ramah Anak Berbasis Kurikulum Syariah di SD Muhammadiyah Program Khusus Kotta Barat Surakarta”, Al-Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, Vol. 5 No. 1 (September: 2021):
174.
220
Pendidikan ramah anak adalah suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang menutamakan nilai humanistik5. Artinya anak tidak hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran namun juga sebagai subjek pembelajaran.
Pendidikan ramah anak adalah program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, selama anak berada di satuan pendidikan, serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan pengawasan6.
Pendidikan ramah anak adalah pendidikan yang memberikan kemerdekaan siswa dalam belajar. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kebebasan dalam mengeluarkan ide, pendapat, maupun pemikirannya, mengembangkan bakat, minat, dan potensinya tanpa adanya rasa takut dan pembatasan.7
Pendidikan ramah anak adalah pengembangan pembelajaran yang humanistik pada anak dan berusaha mengubah suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan memenuhi atau mendukung hak anak serta memadukan potensi fisik, psikis dan mental anak dengan pendekatan kasih saying baik dalam keluarga, sekolah, masyarakat dan negara8. Pendidikan ramah anak adalah pendidikan yang menjadi tempat yang aman, nyaman, bersih, sehat, ramah, dan menyenangkan bagi setiap peserta didik.
b. Prinsip Pendidikan Ramah Anak
Dalam pembentukan dan pengembangan pendidikan ramah anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menghimbau agar sekolah ramah anak didasarkan pada beberapa prinsip. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut9:
a. Nondiskriminasi, yaitu menjamin kesempatan setiap anak untuk menikmati haknya dalam pendidikan tanpa adanya diskriminasi.
b. Kepentingan terbaik bagi anak, yaitu senantiasa menjadi pertimbangan utama dalam semua keputusan dan tindakan yang diambil oleh pengelola dan penyelenggara pendidikan
c. Hidup, keberlangsungan hidup, dan perkembangan, yaitu menciptakan lingkungan yang menghormati martabat anak dan menjamin pengembangan holistic dan terintegrasi setiap anak
d. Penghormatan terhadap pandangan anak, yaitu mencakup penghormatan atas hak anak untuk mengekspresikan pandangan dalam segala hal yang mempengaruhi anak di lingkungan sekolah
5 Arismantoro, Character Building: Bagaimana Mendidik Anak Berkarakter (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008): 3.
6 Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Panduan Sekolah Ramah Anak, (Jakarta: 2015): 14.
7 Eni Fariyatul Fahyuni dan Nurdyansyah, Konsep Sekolah Ramah Anak Islami, (Sidoarjo: UMSIDA Press), cetakan pertama, 2020: 1.
8 Misnatun, “Pola Pembentukan Karakter Anak Melalui Pendidikan Ramah Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam”, Tadarus: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 5, No. 2, (2016): 6.
http://dx.doi.org/10.30651/td.v5i2.937
9 Deputi Tumbuh Kembang Anak, … h. 14
221
e. Pengelolaan yang baik, yaitu yang menjamin transparansi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hokum di satuan pendidikan
Dalam pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut, penerapan sekolah ramah anak oleh penyelenggara dihimbau untuk merujuk pada 6 komponen penting; 1) kebijakan sekolah ramah anak; 2) pelaksanaan proses pembelajaran yang ramah anak; 3) pendidik dan tenaga kependidikan yang terlatih mengenai hak-hak anak dan sekolah ramah anak; 4) sarana dan prasarana yang ramah anak; 5) partisipasi anak; 6) partisipasi orang tua, lembaga-lembaga masyarakat, dunia usaha, alumni, dan pemangku kepentingan lainnya10.
c. Ciri-ciri Pendidikan Ramah Anak
Menurut Kristanto11, ada beberapa cici-ciri sekolah ramah anak yang ditinjau dari beberapa aspek:
a. Sikap terhadap murid; perlakuan adil bagi murid laki-laki dan perempuan, cerdas- lemah, kaya-miskin, normal-cacat, anak pejabat-anak buruh, penerapan norma agama, social dan budaya setempat. Serta kasih saying kepada murid, memberikan perhatian bagi mereka yang lemah dalam proses belajar karena memberikan hukuman fisik maupun nonfisik bisa menjadikan anak trauma. Saling menghormati hak-hak anak, baik antara murid, antara tenaga kependidikan, serta antara tenaga kependidikan dengan murid
b. Metode pembelajaran; terjadi proses belajar sedemikian rupa sehingga siswa merasakan senang mengikuti pelajaran, tidak ada rasa takut, cemas dan was-was siswa menjadi lebih aktif dan kreatif serta tidak merasa rendah diri karena bersaing dengan teman siswa lain. Terjadi proses belajar yang efektif yang dihasilkan oleh penerapan metode pembelajaran yang variatif dan inovatif.
c. Proses belajar mengajar didukung oleh media ajar seperti buku pelajaran dan alat bantu ajar / peraga sehingga membantu daya serap murid.
d. Murid dilibatkan dalam berbagai aktifitas yang mengembangkan kompetensi dengan menekankan proses belajar melalui sesuatu (learning by doing, demo, praktek, dan lain- lain)
e. Penataan kelas; murid dilibatkan dalam penataan bangku, dekorasi dan ilustrasi yang menggambarkan ilmu pengetahuan, dan lain-lain.
f. Lingkungan kelas; murid dilibatkan dalam mengungkapkan gagasannya dalam menciptakan lingkungan sekolah (penentuan warna dinding kelas, hiasan, kotak saran, majalah dinding, taman kebun sekolah), tersedia fasilitas air bersih, higienis dan sanitasi, failitas kebersihan dan kesehatan, dan lain-lain.
10 Linda Susilowati, “Persiapan Sekolah Ramah Anak di Salatiga: Pemetaan Kebutuhan dan Identifikasi Masalah dari Perspektif Peserta Didik”, Kritis: Jurnal Studi Pembangunan Interdisipliner, Vol. XXVI No. 1, (2017): 6, https://doi.org/10.24246/kritis.v26i1p1-21.
11 Kristanto, Ismatul Khasanah, dan Mila Karmila, “Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (SRA) Jenjang Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan”, Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1, (2011): 47-48, https://doi.org/10.26877/paudia.v1i1.257.
222 2. Hadits tentang Pendidikan Ramah Anak
اَنَثَّدَح َسُنوُي ُنْب ُرَمُع اَنَثَّدَح ُّي ِرْيَعُّشلا ٍدِلاَخ ُنْب ُدَلْخَم اَنَثَّدَح ُقَحْسِإ يِنَثَّدَح َلاَق ٍراَّمَع َنْبا يِنْعَي ُةَم ِرْكِع
ِم َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ َّاللَّ ىَّلَص ِ َّاللَّ ُلوُسَر َناَك ٌسَنَأ َلاَق َلاَق َةَحْلَط يِبَأ ِنْب ِ َّاللَّ ِدْبَع َنْبا يِنْعَي اًقُلُخ ِساَّنلا ِنَسْحَأ ْن
ُتْلُقَف ٍةَجاَحِل اًم ْوَي يِنَلَس ْرَأَف َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ َّاللَّ ىَّلَص ِ َّاللَّ ُّيِبَن ِهِب يِنَرَمَأ اَمِل َبَهْذَأ ْنَأ يِسْفَن يِف َو ُبَهْذَأ َلَ ِ َّاللَّ َو
ْيَلَع ُ َّاللَّ ىَّلَص ِ َّاللَّ ُلوُسَر اَذِإَف ِقوُّسلا يِف َنوُبَعْلَي ْمُه َو ٍناَيْب ِص ىَلَع َّرُمَأ ىَّتَح ُتْجَرَخَف َلاَق َّلَس َو ِه
ٌضِباَق َم
َنَأ ْمَعَن ُتْلُق َكُت ْرَمَأ ُثْيَح ْبَهْذا ُسْيَنُأ اَي َلاَقَف ُكَحْضَي َوُه َو ِهْيَلِإ ُت ْرَظَنَف يِئاَر َو ْنِم َياَفَقِب َلوُسَر اَي ُبَهْذَأ ا
ُتْمِلَع اَم َنيِنِس َعْسِت ْوَأ َنيِنِس َعْبَس ُهُتْمَدَخ ْدَقَل ِ َّاللَّ َو ٌسَنَأ َلاَق ِ َّاللَّ
َلَ َو اَذَك َو اَذَك َتْلَعَف َمِل ُتْعَنَص ٍء ْيَشِل َلاَق
ُتْكَرَت ٍء ْيَشِل
Telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Khalid Asy Syu'airi berkata, telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Ikrimah -maksudnya Ikrimah bin Ammar- ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ishaq - maksudnya Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah- ia berkata; Anas berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku lalu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pergi."
Padahal dalam hatiku aku ingin pergi melaksanakan perintah perintah Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian aku pergi hingga aku melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar, namun tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memagang kerah bajuku dari belakang sambil tertawa. Beliau bersabda: "Wahai Anas kecil, pergilah sebagaimana yang aku pesan tadi." Aku menjawab, "Baik, ya Rasulullah. Aku akan pergi."
Anas berkata, "Demi Allah, aku telah membantu beliau selama tujuh atau sembilan tahun.
Namun aku tidak pernah mendapati beliau mengomentari perbuatanku 'Kenapa kamu lakukan begini dan begini'. Atau sesuatu yang aku tinggalkan; 'Kenapa tidak kamu melakukan begini dan begini! (HR. Abu Dawud)
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud, tepatnya dalam kitab; Adab, bab; Akhlak dan Kesantunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, nomor hadits 4143.
3. Konsep Pendidikan Ramah Anak dalam Hadits
Berdasarkan hadits tersebut di atas, maka kandungan pendidikan ramah anak dapat diaplikasikan antara lain:
a. Dunia anak adalah bermain
Anas bin Malik menceritakan “Kemudian aku pergi hingga aku melewati anak- anak yang sedang bermain di pasar”. Dalam hadits ini memberikan kesan bahwa Rasulullah tidak menyuruh anak-anak untuk berhenti bermain, itu artinya bahwa beliau membiarkannya. Pembiaran itu menunjukkan makna bahwa bermain itu adalah diperbolehkan.
Dunia anak adalah bermain. Karena dengan bermain, anak akan mempelajari banyak hal, juga merupakan bagian yang sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Bermain merupakan salah satu cara untuk
223
menstimulasi kecerdasan anak, di mana ia bisa mengoptimalkan berbagai jenis kemampuannya. Beberapa manfaat bermain bagi anak12, antara lain:
1) Mendapatkan kegembiraan dan hiburan; kegembiraan atau emosi yang positif sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak dan pembentukan karakternya. Kehidupan anak-anak yang dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan akan menjauhkan anak dari stress. Hal ini bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental, juga dapat meningkatkan prestasi akademis mereka
2) Mengembangkan kecerdasan intelektual; hal ini karena dengan bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar, anak dapat belajar tentang bentuk, warna, suara, tekstur, fenomena alam, dunia satwa, dunia flora, suhu, cahaya, dan sebagainya.
3) Mengembangkan kemampuan motorik halus anak; kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan, seperti menggunting, melipat, menarik garis, mewarnai dan menggambar. Kemampuan motorik halus yang berkembang dengan baik, anak akan dapat menulis dengan baik
4) Mengembangkan kemampuan motorik kasar anak; motorik kasar adalah gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antara anggota tubuh, menggunakan otot-otot besar sebagian atau seluruh anggota tubuh. Misalnya berjalan, berlari, melompat, dan mengayunkan tangan
5) Meningkatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi; sejumlah permainan menuntut anak untuk berkonsentrasi penuh ketika memainkannya. Hal ini bermanfaat untuk melatih konsentrasi anak. Konsentrasi sangat dibutuhkan oleh anak untuk keberhasilan belajar dan penyelesaian berbagai tugas.
6) Meningkatkan kemampuan anak untuk memecahkan masalah; banyak sekali permainan yang menuntut anak memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan berpikir logis untuk memenangkan atau menyelesaikan permainan. Kemampuan menyelesaikan masalah dan berpikir logis sangat diperlukan anak untuk menguasai berbagai materi pelajaran disekolah dan menyelesaikan berbagai problem yang anak-anak hadapi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan hingga anak dewasa nanti.
7) Mendorong spontanitas pada anak; anak-anak sedemikian spontan dan dituntut untuk berpikir dan bertindak cepat ketika bermain jenis-jenis permainan tertentu. Hal ini terutama untuk permainan yang bersifat kompetisi
8) Mengembangkan kemampuan sosial anak; dalam permainan yang dilakukan bersama- sama, anak-anak belajar bersosialisasi dan interaksi dengan teman-teman sepermainan.
Dari sosialisasi dan interaksi dengan teman-teman ketika bermain anak-anak belajar mengenai kesabaran, empati, toleransi, kemandirian, kepercayaan diri, kejujuran, cara mengembangkan komunikasi, keberanian, kompetisi, dan mengenal aturan-aturan
12 Asep Ardiyanto, “Bermain Sebagai sarana Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini”, Jendela Olahraga, Volume 2 Nomor 2, (2017): 37-38, https://doi.org/10.26877/jo.v2i2.1700.
224
9) Sebagai media untuk mengungkapkan pikiran; melalui berbagai permainan, anak-anak dapat mengekspresikan diri dengan lebih leluasa. Anak dapat menjadi apa saja atau memerankan tokoh apa pun. Anak dapat mengungkapkan pikiran akan cita-cita, pemahaman akan dunia, atau imajinasi
10) Untuk kesehatan; banyak permainan yang menuntut anak untuk menggerakkan tubuh dengan sangat intens. Aktivitas ini berguna untuk menguatkan otot-otot dan menyehatkan tubuh . dengan banyak beraktivitas fisik, anak-anak juga dapat terhindar dari resiko mengalami obesitas dan berbagai dampak buruk yang menyertainya.
11) Tentu saja orang tua atau tenaga pendidik juga harus melakukan pengawasan terhadap kegiatan bermain bagi anak-anak.
b. Berkomunikasi dengan anak sesuai dengan tingkat kemampuan mereka
Bahasa komunikasi yang digunakan oleh Nabi disesuaikan dengan tingkat kemampuan lawan bicaranya yang dalam hadits disebutkan adalah Anas bin Malik yang masih kecil. Hal itu terlihat dari penggalan percakapan dalam hadits “"Wahai Anas kecil, pergilah sebagaimana yang aku pesan tadi." Aku menjawab, "Baik, ya Rasulullah. Aku akan pergi." Hal yang menarik dari komunikasi Nabi adalah beliau tidak bertanya, “apakah kamu sudah melaksanakan perintahku?”. Akan tetapi beliau berkata, “pergilah sebagaimana yang aku pesan tadi”. Redaksi pertanyaan ini tentu saja sudah disesuaikan dengan tingkat usia dan pemahaman lawan bicara beliau yaitu Anas bin Malik yang masih kecil.
Dalam pendidikan kita mengenal teori perkembangan kognitif yang merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga dewasa, menurut Piaget perkembangan yang berlangsung melalui empat tahap, yaitu: a) tahap sensori (sensori motor), ini terjadi pada usia 0-2 tahun. b) tahap praoperasional, ini terjadi pada usia 2-7 tahun. c) tahap operasi konkrit, ini terjadi pada usia 7-11 tahun. d) tahap operasi formal, ini terjadi pada usia 11 tahun-dewasa13.
Teori perkembangan kognitif ini memberikan gambaran bahwa anak (manusia) memiliki perkembangan kognitif dan proses berpikir yang berbeda-beda dan bertingkat.
Maka dalam hal ini orang yang sudah dewasa (orang tua, tenaga pendidik), hendaklah menggunakan bahasa dan pengajaran yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Jangan sampai disimpulkan bahwa anak tidak memahami apa yang disampaikan, padahal bahasa yang digunakan belum mampu diserap dengan baik oleh anak. Dalam hal ini, juga ada salah satu mahfuzhat (kata mutiara) yang relevan:
مهلوقع ردق ىلع سانلا اوبطاخ
“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat akal pikiran mereka”
c. Penerapan Pembelajaran Apersepsi
Rasulullah mengajarkan kepada pendidik untuk menerapkan pola pembelajaran apersepsi, di mana beliau awalnya mengutus Anas bin Malik untuk suatu keperluan, namun
13 Leny Marinda, “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Problematikanya pada Anak Usia Sekolah Dasar”, An-Nisa’: Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Vol. 13, No.1 (April 2020): 121-126, https://doi.org/10.35719/annisa.v13i1.26.
225
ditengah perjalanan Anas bin Malik berhenti untuk menyaksikan anak-anak yang sedang bermain. Kemudian Rasulullah yang menyaksikan kejadian tersebut menghampiri Anas bin Malik untuk pergi sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi. Hal itu dipahami dari penggalan hadits “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku lalu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pergi." Padahal dalam hatiku aku ingin pergi melaksanakan perintah perintah Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian aku pergi hingga aku melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar, namun tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memagang kerah bajuku dari belakang sambil tertawa.
Beliau bersabda: "Wahai Anas kecil, pergilah sebagaimana yang aku pesan tadi." Aku menjawab, "Baik, ya Rasulullah. Aku akan pergi."
Salah satu komponen penting dalam pembelajaran adalah pendahuluan. Pada bagian ini, sebelum guru menyampaikan materi pembelajaran perlu diketahui tingkat kesiapan siswa. Komponen tersebut dikenal dengan istilah apersepsi. Dalam setiap proses awal kegiatan pembelajaran, apersepsi memiliki peranan yang penting dalam menciptakan kondisi kesiapan belajar secara fisik maupun mental. Apersepsi pada prinsipnya adalah kegiaran pendahuluan atau pembuka pelajaran dengan tujuan untuk membangkitkan minat belajar siswa. Pemberian apersepsi juga bertujuan untuk memberikan gambaran tentang materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Oleh karena itu, sebelum memulai kegiatan pembelajaran, guru hendaklah terlebih dahulu menghubungkan materi pelajaran terdahulu yang sudah dikuasai oleh siswa atau dari pengalaman dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Sehingga pada akhirnya akan berdampak pada tumbuhnya sikap antusias serta rasa ingin tahu siswa untuk mengikuti setiap rangkaian kegiatan pembelajaran14. Salah bentuk apersepsi adalah dengan menggunaan pertanyaan. Kalimat Tanya akan mendorong peserta didik untuk aktif, antusias dan sungguh-sungguh untuk mendengarkan penjelasan guru terhdap jawaban atas pertanyaan.
Apersepsi dapat dilakukan denan cara mengawali pelajaran dengan informasi yang aktual atau berupa permainan. Termasuk diantaranya adalah dengan membacakan berita terbaru, cerita lucu, buku terbaru, film atau tebak-tebakan sederhana. Kegiatan ini dapat dilakukan selama lima sampai sepuluh menit. Ketika peserta didik sudah merasa terhibur, maka pelajaran bisa dimulai15.
PENUTUP
Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Dalam rangka menghantarkan kesuksesan belajar peserta didiknya, pendidik harus menjamin adanya lingkungan belajar yang aman, nyaman serta terbuka terhadap perkembangan psikologi peserta didik. Sehingga terjadi perubahan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan
14 Fariz Pangestu Al-Muwattho’, “Pengaruh Pemberian Apersepsi Terhadap Kesiapan Belajar Siswa Pada
Pelajaran Akuntansi Kelas XI SMA Islamiyah Pontianak”, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, Vol.
7 No. 2, (2018): 3, http://dx.doi.org/10.26418/jppk.v7i2.24076.
15 Aprisanti lusita, Buku Pintar Menjadi Guru Kreatif, Inspiratif, dan Inovatif. Yogyakarta: Araska. 2011.
h. 13.
226
keterampilan (skill) pada diri peserta didik. Pendidikan tersebut dikenal dengan istilah pendidikan ramah anak.
Islam sebagai agama yang sempurna memberikan petunjuk atas segala segi kehidupan manusia, di antaranya adalah persoalan pendidikan. Rasulullah sebagai Nabi juga menjalankan proses pendidikan yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi umat pada saat itu. Akan tetapi prinsip umum dari proses pendidikan tersebut masih relevan untuk diaplikasikan dalam pendidikan di masa yang sekarang bahkan di masa yang akan datang. Di antara contoh proses pendidikan Rasulullah adalah pendidikan yang ramah anak. Sebagaimana yang dipahami dalam hadits tersebut di atas, pendidikan ramah anak yang diterapkan Rasulullah itu tercermin dalam;
a) membiarkan anak menikmati dunianya, yaitu bermain, b) Pendidik hendaknya berkomunikasi dengan anak sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, c) mengakomodasi pengetahuan dan pengalaman anak dengan penerapan pembelajaran apersepsi.
Penerapan pendidikan ramah anak ini hendaknya menjadi perhatian bagi setiap pelaksana pendidikan, baik itu di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di sekolah. Sehingga pada akhirnya bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual.
DAFTAR PUSTAKA
Arismantoro. Character Building: Bagaimana Mendidik Anak Berkarakter. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008.
Asep Ardiyanto. “Bermain Sebagai sarana Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini”, Jendela Olahraga, Volume 2 Nomor 2, (2017). https://doi.org/10.26877/jo.v2i2.1700.
D. Marimba, Ahmad. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Cetakan Keempat, Bandung: PT.
Alma’arif, 1980.
Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak, Pedoman Satuan Pendidikan Ramah Anak. Jakarta, 2021.
Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Panduan Sekolah Ramah Anak, Jakarta, 2015.
Fariyatul Fahyuni, Eni dan Nurdyansyah. Konsep Sekolah Ramah Anak Islami. (Sidoarjo:
UMSIDA Press), cetakan pertama, 2020.
Kristanto, Ismatul Khasanah, dan Mila Karmila, “Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (SRA) Jenjang Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan”, Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1, (2011): 47-48, https://doi.org/10.26877/paudia.v1i1.257.
Lusita, Aprisanti. Buku Pintar Menjadi Guru Kreatif, Inspiratif, dan Inovatif. Yogyakarta:
Araska, 2011.
Marinda, Leny. “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Problematikanya pada Anak Usia Sekolah Dasar”, An-Nisa’: Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Vol. 13, No.1 (April 2020): 121-126, https://doi.org/10.35719/annisa.v13i1.26.
Misnatun, “Pola Pembentukan Karakter Anak Melalui Pendidikan Ramah Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam”, Tadarus: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 5, No. 2, (2016): 6.
http://dx.doi.org/10.30651/td.v5i2.937.
227
Pangestu Al-Muwattho’, Fariz. “Pengaruh Pemberian Apersepsi Terhadap Kesiapan Belajar Siswa Pada Pelajaran Akuntansi Kelas XI SMA Islamiyah Pontianak”, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, Vol. 7 No. 2, (2018): 3, http://dx.doi.org/10.26418/jppk.v7i2.24076.
Susilowati, Linda. “Persiapan Sekolah Ramah Anak di Salatiga: Pemetaan Kebutuhan dan Identifikasi Masalah dari Perspektif Peserta Didik”, Kritis: Jurnal Studi Pembangunan Interdisipliner, Vol. XXVI No. 1, (2017): 6, https://doi.org/10.24246/kritis.v26i1p1-21.
UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Widodo, “Pendidikan Ramah Anak Berbasis Kurikulum Syariah di SD Muhammadiyah Program Khusus Kotta Barat Surakarta”, Al-Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, Vol.
5 No. 1. September: 2021.