• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Online self-help-based interventions are less effective to reduce depression: A meta-analysis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Online self-help-based interventions are less effective to reduce depression: A meta-analysis"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Intervensi berbasis self-help daring kurang efektif untuk menurunkan depresi: Sebuah meta analisis

Online self-help-based interventions are less effective to reduce depression: A meta-analysis

Alicia1*, Ananta Yudiarso1

1Departemen Psikologi, Universitas Surabaya

Abstract

The increasing number of depressed people in Indonesia has not been matched by the available professionals and services. The development of online technology has encouraged researchers to develop online-based psychological intervention approaches for people to utilize independently (self-help). However, research remains inconsistent regarding the effectiveness of this approach. This study sought to examine the effectiveness of online self-help in reducing depression using a meta-analysis approach. Specifically, we systematically collected and analyzed 16 scientific publications. Findings show that the effectiveness of online self-help interventions in reducing depression is low. This may be due to the influence of several issues, such as the circumstances of the participants and the implementation of the intervention. The results of this study can be taken into consideration for practitioners or for individuals who would like to implement self-help interventions.

Keywords:intervention, self-help, depression, meta-analysis

Abstrak

Meningkatnya angka masyarakat yang depresi di Indonesia belum sebanding dengan tenaga dan layanan profesional yang tersedia. Perkembangan teknologi daring mendorong para peneliti berinisiatif mengembangkan pendekatan intervensi psikologis berbasis daring untuk dapat masyarakat manfaatkan secara mandiri (self-help).

Akan tetapi, penelitian masih menunjukkan adanya inkonsistensi terkait dengan efektivitas pendekatan ini.

Penelitian ini berusaha menelaah efektivitas penggunaan self-help daring dalam mengurangi depresi, dengan pendekatan analisis meta. Secara spesifik, kami mengumpulkan dan menganalisis secara sistematis 16 terbitan ilmiah. Hasil menunjukkan bahwa efektivitas intervensiself-helpdaring terhadap penurunan depresi tergolong rendah. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh beberapa hal, seperti kondisi partisipan dan pelaksanaan intervensi. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan bagi praktisi atau individu yang akan berencana menerapkan intervensiself-helpdaring.

Kata kunci:intervensi,self-help, depresi, meta analisis

MEDIAPSI, 2023,9(2), 140-151, DOI:https://doi.org/10.21776/ub.mps.2023.009.02.901

Received: 17 February 2023. Revised: 20 October 2023 Accepted: 31 October 2023. Published online: 30 Desember 2023 Handling Editor: Omar K. Burhan, Universitas Brawijaya

*Corresponding author: Alicia, Universitas Surabaya E-mail:[email protected]

This work is licensed under a Creative Commons Attribution Noncommercial 4.0. International License.

How to cite this article in accordance with the American Psychological Association (APA) 7thguidelines:

Alicia, Yudiarso, A. (2023). Intervensi berbasis self-help daring kurang efektif untuk menurunkan depresi: Sebuah meta analisis.MediaPsi, 9(2), 140-151.https://doi.org/10.21776/ub.mps.2023.009.02.901

151

(2)

Pendahuluan

Di masa kini, khususnya saat pandemi, penggunaan internet merupakan hal yang sangat umum dan menjadi pondasi dasar bagi kehidupan manusia. Dalam bidang psikologi, penggunaan internet membuat intervensi yang tersedia semakin beragam dan mudah dijangkau oleh banyak orang, salah satunya dengan metode self-help. Pendekatan menolong diri sendiri atauself-helpadalah rangkaian aktivitas yang bervariasi, termasukself-helpdalam bentuk grup dan organisasi (Williams & Whitfield, 2001). Self-help juga dapat dikatakan sebagai salah satu konsepself-careketika digunakan untuk meningkatkan perasaan seseorang ke arah yang lebih positif. Metode self-help yang cukup umum ditemukan adalah melalui media buku danwebsite(Williams & Whitfield, 2001).

Telah banyak penelitian terdahulu yang dilakukan dalam menguji efektivitasself-help pada permasalahan kesehatan mental, khususnya depresi. Hasil yang ditemukan menunjukkan adanya ketidakkonsistenan pada efektivitas self-help terhadap mengurangi tingkat depresi. Contohnya adalah pada penelitian Hoek dkk., (2012) yang mengintervensi remaja depresi dengan self-help. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penurunan pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen yang diberi perlakuanself-help. selain itu, tidak ditemukan peranan intervensi self-helppada kelompok yang diberi perlakuan. Kondisi tersebut menunjukkan kurangnya kekuatan intervensi self-help yang diberikan. Contoh lainnya adalah, penelitian Lüdke dkk., (2017) yang menerapkan intervensi self-help berbasis daring dan juga memiliki tingkat efektivitas rendah. Kendati demikian, masih banyak intervensi berbasis self-help yang dilakukan dengan berbagai metode, mengikuti perkembangan era digital dan dianggap sebagai sesuatu yang efisien. Hal itu menjadi salah satu fokus uji penelitian ini, untuk melakukan analisis secara statistik untuk melihat besar efektivitasself-helpdari beberapa jurnal yang telah diseleksi berdasarkan kriteria tertentu

Definisi dari self-help dalam bidang intervensi adalah klien menerima serangkaian perlakuan atau treatment yang terstandarisasi dan dapat menggunakan metode tersebut untuk menolong dirinya sendiri, tanpa adanya bantuan signifikan dari terapis (Williams &

Whitfield, 2001). Self-help juga dapat diartikan sebagai materi yang tertulis, program komputer, atau metode lain seperti mendengarkan audio dan melihat video, yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman atau menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perkembangan klien maupun kepentingan teraputik. Tujuan dari self-help ini berkaitan dengan bidang psikologi maupun konseling (Williams & Whitfield, 2001).

Self-help secara daring dilakukan dengan adanya sekelompok individu yang berkomunikasi melalui internet secara teratur untuk membantu sama lain. Kelompokself-help juga dapat dipimpin oleh seseorang, namun tidak harus profesional tertentu. Self-helpdapat dilakukan dengan berbagai metode termasuk membaca buku-bukuself-help, yang terpenting adalah melibatkan kemandirian klien. Kunci dari self-help adalah self-guided, yang memberdayakan diri klien untuk mengatasi permasalahan hidup.

Self-help berbeda dengan memberikan edukasi pada klien, karena selain meningkatkan pengetahuan klien, self-help juga meningkatkan keterampilan yang dimiliki klien. Umumnya, klien belajar untuk mengelola diri (self-manage) sehingga kondisi yang dialami klien semakin membaik. Metode self-help harus dideskripsikan dengan detail, sehingga klien dapat memahaminya dan secara mandiri melakukannya (Williams &

Whitfield, 2001). Metode self-help yang cukup banyak diulas dalam penelitian ini menggunakan basis teori Cognitive Behavior Therapy atau CBT, baik implementasi CBT langsung maupun melalui Problem Solving Therapy atau PST. Hal ini disebabkan karena model terapi CBT yang selaras dengan self-help, yaitu memberdayakan klien dengan cara

(3)

mengajarkan strategi efektif untuk melakukan manajemen diri terhadap masalah mereka, sehingga maraknya penggunaanself-helpdengan basis intervensi CBT

Keuntungan dariself-helpadalah dapat diakses dengan kemungkinan penundaan yang minimal dan memakan biaya yang tidak tinggi. Selain itu, self-help mulai popular dan menerima klien dengan berbagai latar belakang gangguan. Self-help juga menjaga privasi klien dan menghindarkan mereka dari stigma formal psikoterapi. Klien juga bisa menggunakan waktu dan tempatnya sendiri untuk menjalankan terapi, sehingga memudahkan klien yang tinggal berjauhan dengan terapis. Self-help juga membantu klien mendapatkan dukungan dan pengetahuan dalam prosesnya (Williams & Whitfield, 2001; APA, 2015)

Batasan gangguan kesehatan mental yang ingin diselidiki lebih dalam pada penelitian ini adalah depresi. Gangguan depresi adalah salah satu daricommon mental health disorder atau gangguan kesehatan mental yang umum ditemui. Prevalensi orang yang terkena depresi cukup tinggi, yaitu sekitar 4.4% dari populasi dunia. Depresi mempengaruhi mood atau perasaan seseorang, dengan jangkauan simtom dari ringan hingga berat, dalam jangka waktu bulanan atau tahunan. Depresi berbeda dengan perasaan sedih maupun stres atau takut yang dialami oleh seseorang dalam masa hidup mereka. Secara umum, depresi termasuk gangguan disregulasi mood, major depressive disorder, persistent depressive disorder atau distimia, premenstrual dysphoric disorder, gangguan depresi karena induksi zat atau obat, depresi akibat kondisi medis lainnya, gangguan depresi yang lain dan yang belum diidentifikasi (WHO, 2017).

Metode Partisipan dan desain penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis meta, yaitu penelitian yang menggunakan beberapa studi terdahulu. Proses analisis meta dilakukan secara sistematis dengan hasil kuantitatif sehingga memperoleh kesimpulan yang akurat. Hasil utama dari meta analisis adalah effect size yang menunjukkan besar efektivitas intervensi pada variabel tertentu yang diuji (Retnawati dkk., 2018). Hal yang melandasi meta analisis adalah adanya hasil yang kurang konsisten dari penelitian-penelitian terdahulu, sehingga diperlukan adanya suatu penelitian baru yang menyajikan hasil data secara statistik (Retnawati dkk., 2018).

Meta analisis dapat digunakan untuk uji korelasi maupun uji beda.

Penelitian ini termasuk dalam penelitian dengan data sekunder yang melibatkan kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek yang terlibat dalam 16 jurnal penelitian berasal dari beberapa negara, seperti Switzerland, Norwegia, Belanda, Jerman, Australia, Kanada, Philadelphia, dan Turki. Usia mayoritas subjek penelitian adalah usia dewasa, yaitu lebih dari delapan belas tahun. Tiap penelitian menyesuaikan bahasa instruksi dan modul self-help dengan bahasa yang digunakan pada negara masing-masing.

Prosedur dan pengukuran

Hal pertama yang dilakukan adalah menentukan kriteria jurnal yang akan digunakan.

Dalam penelitian ini, kriteria jurnal yang ditetapkan adalah : (1) tahun terbit jurnal adalah 10 tahun terakhir, (2) intervensi yang digunakan berbasis self-help daring, baik menggunakan aplikasi maupun website, (3) permasalahan yang dialami oleh partisipan penelitian adalah gangguan depresi, dan menggunakan alat ukur untuk mengukur depresi (CDI, PHQ, dll), (4) metode penelitian adalah eksperimen dengan randomized control trial, yang berarti penelitian tersebut melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (control group atau waiting list group), (5) penelitian menyebutkan besar mean, standar deviasi, dan banyak partisipan yang terlibat baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.

(4)

Peneliti mengawali pencarian di platform Google Scholar, yang memuat berbagai penelitian dari website penerbitan jurnal. Kata kunci atau keywords yang digunakan adalah

self-help for depression” dan mengatur rentang tahun mulai tahun 2011 hingga tahun 2021.

Selain itu, peneliti juga mencari jurnal pada platform PubMed menggunakan beberapa keywords untuk melihat kesesuaian hasil pencarian kata kunci dengan kriteria yang telah ditetapkan, seperti “self-help for depression” maupun “internet self-help for depression”.

Analisis Data dilakukan menggunakan aplikasi statistik Jamovi. Analisis dilakukan dengan membandingkan mean dan standar deviasi kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan, dan kelompok eksperimen yang menerima perlakuan intervensi self-help untuk menemukan besar effect size. Analisis yang digunakan adalah Cohen’s d effect size dengan tiga kategori yaitu small effect size ketika besar effect size 0.2, medium effect size ketika besarnya 0.5, dan large effect size apabila besarnya lebih dari 0.8 (Lipsey & Wilson dalam Retnawati dkk., 2018).

Model statistik yang digunakan dalam analisis meta adalah randomdan fixed effect.

Random effectdigunakan ketika penelitian-penelitian yang digunakan bervariasi atau dengan kata

lain heterogen. Fixed effectdigunakan ketika penelitian yang dianalisis cenderung homogen atau tidak bervariasi (Retnawati dkk., 2018).

Hasil

Penelitian dilakukan pada enam belas jurnal dari berbagai negara yang berbeda.

Semua penelitian yang terlibat telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.

Hasil heterogenitas pada penelitian ini dapat dilihat dalam nilai I2 sebesar 63.6% (I2<85%).

Hal itu berarti penelitian-penelitian sebelumnya yang digunakan dalam penelitian ini tidak memiliki keberagaman atau variasi pada partisipan, alat ukur, dan metode intervensi yang digunakan. Model yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini adalah fixed effect size model.

Besar effect size pada penelitian ini adalah 0.427 (95%, CI 0.342 sampai dengan 0.513) dengan nilai Z sebesar 9.8 atau dengan kata lain small effect size. Hal itu berarti intervensi self-help daring kurang efektif dalam menurunkan tingkat depresi. Penelitian dengan effect size terbesar ditemukan pada penelitian Berger dkk. (2013) dengan angka d = 1.13 (CI: 0.53-1.72). Sebaliknya, penelitian yang memiliki effect size terkecil adalah penelitian Hoek dkk. (2012) dengan besard= -0.04 (CI: -0.62-0.55). Dari rentangconfidence interval (CI), ada lima penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa intervensi self-help daring tidak efektif dalam menurunkan tingkat depresi, karena perbedaan kelompok kontrol dan kelompok intervensi yang tidak signifikan secara statistik.

(5)

Gambar 1. Forest Plot

Gambar 2. Funnel Plot

Penelitian Berger (2013), menggunakan metodeonline self-help guided, yaitu dengan pendampingan berupa dukungan dari terapis tiap minggu. Treatment dilakukan melalui website “Depresix” selama 10 minggu. Depresix sendiri adalah program berbasis intervensi CBT yang terdiri dari 10 modul. Masing-masing modul berisi kerangka teori dan saran spesifik yang berkaitan dengan topik modul untuk diaplikasikan partisipan pada kehidupan sehari-harinya. Di sisi lain, penelitian Hoek (2012) juga menggunakan metode guided, dengan pendampingan melalui email sebagai reminder dan menjelaskan konten. Intervensi self-helpyang digunakan berbasis PST atauProblem Solving Therapy

Ditemukan bias publikasi pada penelitian ini, karena nilai Egger’s Regression menunjukkan signifikansi (p = 0.028; p<0.05). Selain itu, grafik pada funnel plot juga cenderung kurang simetris. Meski ada penelitian yang memiliki positive finding maupun negative finding, penelitian yang menghasilkanpositive findingjauh lebih banyak.

(6)

Tabel 1

Hasil penelitian

Peneliti Negara Metode Partisipan Skala d Approxi

mate 95%

CI

N Usia

Berger, dkk.

(2013)

Switzerla nd &

Jerman

Website Depressix dengan basis CBT (guided)

51 20-78 BDI 1.13 0.53 -

1.72

Lintvedt, dkk.

(2011)

Norwegia n

Website MoodGy mdan BluePage berbasis CBT dan informasi depresi (unguided )

163 CES-D 0.31 0.00 -

0.62

Hoek, dkk.

(2012)

Belanda Intervensi berbasis problem solving therapy (PST) melalui internet (guided)

45 12-21 CES-D -0.04 -0.62 -

0.55

Ludtke, dkk.

(2017)

Jerman Intervensi berbasis CBT melalui aplikasi self-help Be Good to Yourself yang dikemban gkan oleh iOS (unguided )

74 18-65 PHQ-9 0.08 -0.37 -

0.54

Edbert, dkk.

(2016)

Jerman Intervensi berbasis evidence- based treatment melalui website Get On Mood

256 ≥18 CES-D 0.89 0.63 -

1.15

(7)

Enhancer (guided) Boele,

dkk.

(2017)

Belanda Intervensi berbasis PST (Problem- Solving Therapy) melalui daring (guided)

63 ≥18 CES-D 0.65 0.14 -

1.16

Smith, dkk.

(2017)

Australia Intervensi berbasis CBT melalui media daring (guided)

81 >18 PHQ-9 0.86 0.39 -

1.32

Kenter, dkk.

(2016)

Belanda Intervensi berbasis PST (Problem Solving Therapy) melalui website (guided)

368 >18 CES-D 0.13 -0.08 -

0.33

Day, McGrath, Wojtowic z (2013)

Kanada Intervensi berbasis CBT melalui media daring (guided)

66 DASS-21 0.55 0.06 -

1.05

Milgrom dkk.

(2016)

Australia Intervensi berbasis CBT melalui website MumMoo dBooster (guided)

43 >18 BDI-II 0.83 0.21 -

1.45

Harrer dkk.

(2018)

Jerman Intervensi berbasis CBT melalui website Get On (guided)

150 ≥18 PSS-4 0.56 0.23 -

0.89

Meller dkk.

(20200

Intervensi berbasis PST (problem solving therapy)

119 ≥18 CES-D 0.33 -.0.03 -

0.69

(8)

melalui internet yang disesuaik an dengan konteks wanita hamil (guided) Roepke

dkk.

(2015)

Philadelp hia

Intervensi berbasis CBT melalui media SmartPho nedan internet (unguided )

40 ≥18 CES-D 0.43 -0.27 -

1.13

Lokman dkk.

(2017)

Belanda Intervensi berbasis CBT, solution-f ocused therapy, mindfulne ss, dan psikologi positif melalui website (unguided )

329 ≥18 IDS-SR 0.42 0.20 -

0.63

Ince dkk.

(2013)

Belanda

& Turki

Intervensi berbasis problem solving dengan media internet:

Alles Onder Controle (Everythi ng under Control) (guided)

56 ≥18 CES-D 0.71 0.17 -

1.25

Bolier dkk.

(2013)

Belanda Intervensi berbasis psikologi positif dengan media daring PsyFit

289 ≥21 CES-D 0.25 0.02 -

0.48

(9)

(unguided ).

Keterangan. N = jumlah partisipan, d =Cohen’s d effect size, CI= Confidence Interval Diskusi

Intervensi self-help memiliki beberapa keuntungan seperti akses yang mudah dan biaya yang cenderung lebih kecil dibandingkan dengan intervensi atau terapi bersama dengan pihak profesional (Bower dkk., 2001). Hasil olah data secara meta analisis yang telah dilakukan bertujuan untuk melihat efektivitas intervensiself-helpdaring. Beberapa penelitian dalam meta analisis ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan apapun, dengan kelompok intervensi yang mendapatkan perlakuan self-help daring selama beberapa waktu tertentu (Berger dkk., 2013; Milgrom dkk,. 2016;

Smith dkk., 2017). Meski demikian, hasil yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan intervensi self-help memiliki dampak yang sangat kecil untuk menurunkan tingkat depresi.

Perbedaan antara kelompok kontrol dan eksperimen secara statistik pada jurnal yang dianalisis dalam meta analisis ini belum menunjukkan adanya signifikansi yang membuat intervensiself-helpsangat efektif untuk menurunkan tingkat depresi.

Meski menggunakan jenis intervensi dengan media yang beragam, ditemukan tingkat heterogenitas data yang terlibat kurang bervariasi. Hal ini diduga karena semua intervensi yang terlibat menggunakan basis CBT dengan penerapan yang sama, yaitu partisipan mengisi kuesioner, lalu mempelajari edukasi dari media intervensi dan melatih diri untuk menurunkan tingkat depresi yang dialami. Belum ditemukan adanya pertemuan rutin dalam bentuk kelompok dukungan yang menjadi salah satu ciri khasself-help.

Ada beberapa hal yang diduga turut berpengaruh pada hasil tersebut. Pertama adalah komitmen dan motivasi dari partisipan penelitian. Intervensi berbasis self-help sangat bergantung pada komitmen partisipan untuk menyelesaikan rangkaian intervensi, baik dalam bentuk pengisian modul maupun melakukan rangkaian latihan kemampuan yang tersedia pada platform self-help. Ludtke dkk. (2017) juga menyebutkan bahwa penting untuk meningkatkan motivasi seseorang yang sedang menjalani intervensi self-help. Hal ini juga ditunjukkan oleh beberapa penelitian lainnya yang kehilangan beberapa partisipannya selama masa intervensiself-help, khususnya penelitian yang melibatkan adanyafollow-up.

Hal kedua adalah faktor usia partisipan. Intervensi self-helpmemerlukan pemahaman terhadap konten edukasi yang diberikan, serta petunjuk untuk meningkatkan keterampilan yang membantu penurunan tingkat depresi. Bagi beberapa tingkat usia, hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan, khususnya bagi para remaja seperti pada penelitian Hoek dkk. (2012) yang memiliki effect size paling kecil. Faktor selanjutnya adalah kurangnya kemampuan untuk menggunakan gadget dalam mengakses media self-help daring, seperti yang terjadi pada penelitian Heller dkk. (2020). Selain itu, karakteristik dari orang yang mengalami gangguan depresi juga cenderung untuk mudah kehilangan motivasi dan mengalami penurunan secara kognitif. Hal itu membuat orang yang menderita depresi untuk frustasi dan patah semangat dalam menghadapi suatu tantangan, serta lebih memilih aktivitas sederhana untuk meningkatkan mood (Sin dkk. dalam Roepke dkk., 2015).

Dalam beberapa penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, ditemukan adanya perbedaan dalam pelaksanaan intervensi self-help. Beberapa penelitian (selengkapnya lihat Tabel 1) melibatkan adanya pendampingan (guided), yang berarti seseorang menjalani intervensi secara mandiri untuk mengatasi gangguan yang dialaminya, namun mendapatkan pendampingan dalam bentuk pengingat atau reminder di saat-saat tertentu, misalnya saat

(10)

pengerjaan modul, maupun pendampingan dalam bentuk diskusi saat proses self-help berlangsung. Selain itu, ada juga penelitian yang menerapkan self-help tanpa adanya pendampingan (unguided), yang berarti partisipan melakukan intervensi self-help secara mandiri tanpa adanya pendampingan dari pihak profesional. Pang dkk. (2021) menyebutkan bahwa intervensiself-help yang menerapkan adanya komunikasi antara partisipan dan terapis memiliki pengaruh yang lebih kuat untuk menurunkan tingkat depresi. Dalam penelitian ini, jurnal intervensi dengan effect sizebesar juga menggunakan self-help daring dengan metode guided atau pendampingan. Meski demikian, penelitian ini belum bisa mengungkap perbandingan data tersebut lebih lanjut, karena jumlah penelitian yang menggunakan jenis guided jauh lebih banyak daripada yang menggunakan jenis unguided. Di samping itu, asumsi penelitian-penelitian sebelumnya yang homogen menyebabkan tidak adanya moderator yang dapat dilibatkan dalam perhitungan statistik.

Kelemahan dalam penelitian ini adalah adanya bias publikasi dan kurang beragamnya basis teori dalam metodeself-helpdaring yang dianalisis, sehingga belum dapat dilakukan uji moderator untuk menemukan metode pelaksanaan self-help dengan tingkat efektivitas yang paling baik. Hal itu juga termasuk kurang seimbangnya jumlah antara intervensi self-help jenis guided dan unguided. Selain itu, dalam penelitian ini juga belum diulas secara detail beberapa faktor lain, seperti lama intervensi dan jumlah completer, atau jumlah partisipan yang benar-benar menyelesaikan modul intervensi, serta usia partisipan yang terlibat.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah intervensi berbasis self-help daring memiliki efektivitas yang rendah untuk menurunkan tingkat depresi. Diperlukan pertimbangan tertentu bagi para praktisi yang ingin menerapkan intervensi ini, mengingat hasil effect size yang cukup rendah. Kondisi partisipan dalam memahami intervensi dan metode pelaksanaan menjadi peran yang cukup penting dalam intervensi self-helpdaring. Bagi pihak yang ingin menerapkan intervensi daring self-help, perlu untuk memastikan komitmen dan menjaga motivasi agar berdampak signifikan pada penurunan tingkat depresi.

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah memperbaharui informasi data terkait perbandingan self-help dengan metode guideddan unguided, serta melakukan uji efektivitas terhadap self-help dengan basis teori yang beragam. Diharapkan dengan adanya basis teori yang beragam, uji moderator antar metode self-help dapat dilakukan dan memperkaya analisis efektivitas secara statistik. Selain itu, belum banyak ditemukan penelitian dengan metode self-help di Indonesia, sehingga diperlukan adanya penelitian yang mengadaptasi modul self-help versi Bahasa Indonesia untuk menangani beberapa permasalahan kesehatan mental, khususnya depresi.

Referensi

Berger, T., Hämmerli, K., Gubser, N., Andersson, G., & Caspar, F. (2011). Internet-based treatment of depression: A randomized controlled trial comparing guided with unguided self-help. Cognitive Behaviour Therapy, 40(4), 251–266.

https://doi.org/10.1080/16506073.2011.616531

Boele, F. W., Klein, M., Verdonck-de Leeuw, I. M., Cuijpers, P., Heimans, J. J., Snijders, T.

J., Vos, M., Bosma, I., Tijssen, C. C., & Reijneveld, J. C. (2017). Internet-based guided self-help for glioma patients with depressive symptoms: A randomized controlled trial. Journal of Neuro-Oncology, 137(1), 191–203.

https://doi.org/10.1007/s11060-017-2712-5

Bolier, L., Haverman, M., Kramer, J., Boon, B., Smit, F., Riper, H., & Bohlmeijer, E. (2012).

Internet-based intervention to promote mental fitness in mildly depressed adults:

Design of a randomized controlled trial. JMIR Research Protocols, 1(1).

https://doi.org/10.2196/resprot.1791

(11)

Bower, P., Richards, D., & Lovell, K. (2001). The clinical and cost-effectiveness of self-help treatments for anxiety and depressive disorders in primary care: A systematic review.

Dalam Database of Abstracts of Reviews of Effects (DARE): Quality-assessed Reviews [Internet]. Centre for Reviews and Dissemination (UK).

Day, V., McGrath, P. J., & Wojtowicz, M. (2013). Internet-based guided self-help for university students with anxiety, depression and stress: A randomized controlled clinical trial. Behaviour Research and Therapy, 51(7), 344–351.

https://doi.org/10.1016/j.brat.2013.03.003

Harrer, M., Adam, S. H., Fleischmann, R. J., Baumeister, H., Auerbach, R., Bruffaerts, R., Cuijpers, P., Kessler, R. C., Berking, M., Lehr, D., & Ebert, D. D. (2018).

Effectiveness of an internet- and app-based intervention for college students with elevated stress: Randomized controlled trial. Journal of Medical Internet Research, 20(4).https://doi.org/10.2196/jmir.9293

Heller, H. M., Hoogendoorn, A. W., Honig, A., Broekman, B. F., & van Straten, A. (2020).

The effectiveness of a guided internet-based tool for the treatment of depression and anxiety in pregnancy (mamakits online): Randomized Controlled Trial. Journal of Medical Internet Research,22(3).https://doi.org/10.2196/15172

Hoek, W., Schuurmans, J., Koot, H. M., & Cuijpers, P. (2012). Effects of internet-based guided self-help problem-solving therapy for adolescents with depression and anxiety:

A randomized controlled trial. PLoS ONE, 7(8).

https://doi.org/10.1371/journal.pone.0043485

Kenter, R. M., Cuijpers, P., Beekman, A., & van Straten, A. (2016). Effectiveness of a web-based guided self-help intervention for outpatients with a depressive disorder:

Short-term results from a randomized controlled trial. Journal of Medical Internet Research,18(3).https://doi.org/10.2196/jmir.4861

Lintvedt, O. K., Griffiths, K. M., Sørensen, K., Østvik, A. R., Wang, C. E., Eisemann, M., &

Waterloo, K. (2011). Evaluating the effectiveness and efficacy of unguided internet-based self-help intervention for the prevention of depression: A randomized controlled trial. Clinical Psychology & Psychotherapy, 20(1), 10–27.

https://doi.org/10.1002/cpp.770

Lokman, S., Leone, S. S., Sommers-Spijkerman, M., van der Poel, A., Smit, F., & Boon, B.

(2017). Complaint-directed mini-interventions for depressive complaints: A randomized controlled trial of unguided web-based self-help interventions.Journal of Medical Internet Research,19(1).https://doi.org/10.2196/jmir.6581

Lüdtke, T., Pult, L. K., Schröder, J., Moritz, S., & Bücker, L. (2018). A randomized controlled trial on a smartphone self-help application (be good to yourself) to reduce depressive symptoms. Psychiatry Research, 269, 753–762.

https://doi.org/10.1016/j.psychres.2018.08.113

Milgrom, J., Danaher, B. G., Gemmill, A. W., Holt, C., Holt, C. J., Seeley, J. R., Tyler, M. S., Ross, J., & Ericksen, J. (2016). Internet cognitive behavioral therapy for women with postnatal depression: A randomized controlled trial of Mummoodbooster. Journal of Medical Internet Research,18(3).https://doi.org/10.2196/jmir.4993

Pang, Y., Zhang, X., Gao, R., Xu, L., Shen, M., Shi, H., Li, Y., & Li, F. (2021). Efficacy of web-based self-management interventions for depressive symptoms: A meta-analysis of randomized controlled trials. BMC Psychiatry, 21(1).

https://doi.org/10.1186/s12888-021-03396-8

(12)

Retawati, H., Apino, E., Kartianom, Djidu, H., & Anazifa, R. (2018). Pengantar Analisis Meta. Jogjakarta: Parama Publishing.

Roepke, A. M., Jaffee, S. R., Riffle, O. M., McGonigal, J., Broome, R., & Maxwell, B.

(2015). Randomized controlled trial of SuperBetter, a smartphone-based/internet-based self-help tool to reduce depressive symptoms.

Games for Health Journal,4(3), 235–246.https://doi.org/10.1089/g4h.2014.0046 Smith, J., Newby, J. M., Burston, N., Murphy, M. J., Michael, S., Mackenzie, A., Kiln, F.,

Loughnan, S. A., O'Moore, K. A., Allard, B. J., Williams, A. D., & Andrews, G.

(2017). Help from home for depression: A randomised controlled trial comparing internet-delivered cognitive behaviour therapy with bibliotherapy for depression.

Internet Interventions,9, 25–37.https://doi.org/10.1016/j.invent.2017.05.001

Williams, C., & Whitfield, G. (2001). Written and computer-based self-help treatments for depression. British Medical Bulletin, 57(1), 133–144.

https://doi.org/10.1093/bmb/57.1.133

World Health Organization. (2017). Depression and Other Common Mental Disorders.

Switzerland: WHO Document Production Services

Referensi

Dokumen terkait