• Tidak ada hasil yang ditemukan

View/Open

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View/Open"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Aturan untuk Musibah "Untung"

Oleh E. Saefullah W.

Sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat Sunda (mungkin juga Indonesia) bila kita tertimpa musibah, atau kecelakaan, dan menderita cacat fisik, maka selalu keluar ungkapan "untung". Misalnya, bila kita kecelakaan di jalan raya dan menderita satu kaki patah harus diamputasi, sering kita dengar ungkapan, "Untung hanya satu, bagaimana kalau kedua-duanya?" Atau, meskipun kedua-duanya diamputasi, masih kita dengar, "Untung hanya kaki, bagaimana kalau juga tangan."

Bahkan, kalau sampai meninggal pun, masih kita dengar ungkapan, "Untung meninggal daripada cacat seumur hidup dan menyusahkan keluarganya."

Ungkapan demikian terlontar, entah apakah sebagai penerimaan dengan ikhlas akan "takdir dari Allah"

yang memang tidak mungkin dihindari atau ungkapan "putus asa" menerima "nasib" tanpa usaha memperbaiki keadaan, atau karena tidak tahu harus bagaimana tindakan selanjutnya.

Lebih dari sekadar mengatakan untung, sebenarnya ada hukum yang mengatur soal-soal yang dibilang untung tadi. Baik itu berupa peraturan perundang-undangan nasional maupun konvensi internasional.

Contoh menarik bisa diterapkan dalam sebuah berita di Pikiran Rakyat terbitan Minggu, 13 April 2008.

Di sana diberitakan, rumah milik Hartati (51) di Gang Slamet III No. 87, Kelurahan Samoja, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, tertimpa kaca jendela helikopter operasional Polda Jabar.

Peristiwa itu terjadi Sabtu siang, 12 April 2008. Dikabarkan, atap seng rumah Hartati yang terkena jatuhan jendela helikopter tersebut tidak terlihat penyok. Penghuninya, Hartati, mengaku sempat shock ketika mengetahui benda tersebut adalah kaca jendela helikopter. Kejadian semacam itu sering terjadi juga di sekitar Bandara Soekarno-Hatta, yaitu tertimpa serpihan-serpihan atau bagian tertentu dari pesawat.

Peristiwa tertimpanya orang atau benda, yang berada di darat oleh pesawat jatuh atau benda-benda tertentu dari pesawat, dalam Hukum Udara dikenal dengan third party liability, yaitu tanggung jawab operator pesawat udara terhadap pihak ketiga di darat. Disebut pihak ketiga karena yang jadi korban tidak ada sangkut-pautnya dengan kegiatan penerbangan sebagaimana mestinya, misalnya, awak pesawat atau penumpang. Peraturan yang mengatur hal itu adalah Undang-Undang No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara.

Dalam Pasal 44 UU No. 15/1992 tentang Penerbangan dinyatakan, (1) Setiap orang atau badan yang mengoperasikan pesawat udara bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara, kecelakaan pesawat udara, atau jatuhnya benda- benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan.

Ayat duanya menyebutkan, persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Mengenai jumlah santunan atau ganti rugi kepada korban (pihak ketiga) di darat diatur dalam PP No.

40/1995 tentang Angkutan Udara. Besarnya jumlah santunan atau ganti rugi kepada pihak ketiga ditentukan Rp 40 juta bagi yang meninggal atau luka-luka sebagai akibat pengoperasian, atau kecelakaan pesawat udara, atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan.

Bagi pihak ketiga yang menderita cacat tetap, jumlah ganti ruginya Rp 50 juta. Sementara itu, kerusakan harta benda diberikan ganti rugi sebesar kerugian yang secara nyata diderita berdasarkan penilaian yang layak.

Dalam Hukum Internasional (Hukum Udara Internasional) hal itu diatur dalam Konvensi Roma 1933 jo 1952, yang dalam Pasal 1 ayat (1) alinea pertama menyatakan, "Any person who suffers damage on the

:: repository.unisba.ac.id ::

(2)

surface shall upon proof only that the damage was caused by an aircraft in flight or by any person or thing falling therefrom, be entitled to compensation as provided by this Convention….".

Jadi, setiap orang (termasuk harta bendanya), yang menderita kerugian akibat jatuhnya pesawat atau orang, atau benda yang jatuh dari pesawat, berhak mendapatkan santunan atau ganti rugi.

Kembali kepada kasus jatuhnya kaca jendela helikopter tadi. Andaikata pemilik rumah (Ibu Hartati) menderita kerugian fisik-material maupun mental (mental damage), dia berhak atas santunan atau ganti rugi. "Untung" atap seng yang terkena jatuhan kaca jendela helikopter tadi tidak mengalami kerusakan, suatu "keuntungan" yang benar-benar karena tidak ada kerugian material sedikit pun.

Namun dalam pemberitaan di Pikiran Rakyat dikatakan, ibu Hartati mengaku sempat shock (merasa terkejut atau tergoncang jiwanya). Bila keterkejutan atau goncangan tadi menyebabkan trauma yang berkepanjangan, bahkan untuk memulihkannya harus pergi ke dokter atau psikolog, maka dalam Hukum Udara terdapat ketentuan, korban berhak memperoleh santunan berdasarkan kerugian mental (mental injury atau mental/moral damage) yang besarnya akan ditetapkan berdasarkan pertimbangan hakim atas jumlah yang diajukan oleh pihak korban, ditambah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk pengobatan dan biaya rumah sakit (pengeluaran riil).

Apabila rasa shock ibu Hartati tidak berkepanjangan, tidak mengganggu keadaan jiwanya, peristiwa jatuhnya kaca jendela helikopter tersebut betul-betul sesuai dengan ungkapan, "Untung atap sengnya tidak rusak" dan "Untung shock ibu Hartati tidak berkepanjangan". Atau, "Untung tidak menimpa orang, bagaimana kalau…?" Mungkin kalau sengnya rusak berat pun, pasti akan terdengar ungkapan,

"Untung hanya sengnya, bagaimana kalau menimpa orang" atau untung-untung lainnya.***

Penulis, Rektor Unisba, Guru Besar Hukum Udara dan Ruang Angkasa Unpad dan Unisba.

Sumber:

Pikiran Rakyat, Senin, 21 April 2008

http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=19704

:: repository.unisba.ac.id ::

Referensi

Dokumen terkait

World Education Forum on Education for All di Dakkar, Senegal tahun 2000 dirumuskan bahwa: 1 tahun 2015 anak perempuan, anak-anak dalam keadaan sulit, dan mereka yang termasuk

Pendapatan operasional, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya, meningkat 4,9% menjadi Rp75,2 triliun per 31 Desember 2020, dibandingkan Rp71,6