• Tidak ada hasil yang ditemukan

View/Open

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View/Open"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

Model partisi ini berupaya mengalokasikan kuantitas produksi untuk setiap jenis produk dalam kelompok produk. Xij : Produksi jenis produk i pada periode 1 untuk didistribusikan antar keluarga, (perhatikan bahwa Xi1 merupakan parameter masukan model dan diperoleh dari perencanaan agregat), dan. Total hasil perkiraan yang dihasilkan untuk setiap jenis produk per periode dalam cakrawala perencanaan.

Dalam pendekatan perencanaan produksi hierarkis, tingkat agregat dan hubungan antara jenis produk dan jenis komponen konsisten dan benar-benar mempertimbangkan batasan sumber daya (kapasitas).

Gambar 2. 2 Ikhtisar Pendekatan Perencanaan Produksi  (Sumber : Meal, 1986 dalam Bitran dan Tirupati, 1989, h.5)
Gambar 2. 2 Ikhtisar Pendekatan Perencanaan Produksi (Sumber : Meal, 1986 dalam Bitran dan Tirupati, 1989, h.5)

Peramalan Permintaan (Forecasting)

Konsep Peramalan Permintaan

Suatu metode peramalan yang didasarkan pada penggunaan pola hubungan antara variabel-variabel yang akan diprediksi dengan variabel waktu, suatu deret waktu. Suatu metode peramalan yang didasarkan pada penggunaan analisis pola hubungan antara variabel-variabel yang akan diprediksi dengan variabel-variabel lain yang mempengaruhinya (kausal).

Prosedur Peramalan Permintaan

Metode Simple Average mengambil rata-rata seluruh data dalam grup inisialisasi sebagai perkiraan untuk periode tersebut (T+1). Dalam metode peramalan Single Moving Average, setiap kali muncul nilai observasi baru, maka nilai rata-rata baru dapat dihitung dengan membuang nilai observasi paling awal dan memasukkan nilai observasi terbaru. Metode ini menjelaskan variasi prosedur rata-rata bergerak yang diinginkan untuk mengatasi tren dengan lebih baik.

Implikasi komputasi untuk pemulusan eksponensial dapat dilihat dengan lebih baik jika persamaan tersebut diperluas dengan mengganti F dengan komponen berikut (Makridakis, Wheelwright dan McGee, 1993, p.86). Alasan pemulusan eksponensial linier Brown mirip dengan rata-rata pergerakan linier karena nilai pemulusan tunggal dan ganda tertinggal dari data aktual ketika ada elemen tren. Perhitungannya dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut (Makridakis, Wheelwright dan McGee, 1993, p.94): II.13) Dimana S't adalah nilai pemulusan eksponensial tunggal dan S't adalah nilai pemulusan eksponensial ganda.

Ukuran keakuratan metode peramalan yang dapat digunakan dalam peramalan adalah sebagai berikut (Makridakis, Wheelwright dan McGee, 1993, p.44): . 1) Pengukuran statistik standar. Rata-rata pukulan Mclaughin adalah solusi Anda, rata-rata pukulan digunakan untuk mengukur keakuratan suatu pengukuran. Untuk mengetahui rata-rata pukulan McLaughlin, Anda bisa mendapatkannya dari statistik U Theil dengan cara mengurangi nilai tersebut dengan 4 dan mengalikan hasilnya dengan 100.

Gambar 2. 8 Pola Data Siklis
Gambar 2. 8 Pola Data Siklis

Perencanaan Agregat dan Penjadwalan Produksi Induk (JPI)

Perencanaan Agregat

Pada hakekatnya ukuran ini bukanlah ukuran keakuratan, melainkan ukuran yang dapat digunakan untuk menunjukkan apakah masih terdapat pola sisa pada nilai error setelah diterapkannya model prediksi. Tes Washington Durbin digunakan jika terdapat jumlah pilihan yang sama untuk metode prediksi terbaik. Pengujian ini dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut: .. II.30) . semua produk yang berbagi sumber daya terbatas dari fasilitas yang digunakan, Bedworth dan Bailey, 1987, hal.121).

Metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dalam perencanaan agregat terdiri dari metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode Non Kuantitatif atau Intuitif, hampir di semua organisasi mempunyai tujuan dan pandangan, bagian pemasaran menginginkan keberagaman produk dan buffer stock dalam jumlah banyak. Departemen lebih memilih variasi produk yang sedikit sehingga dapat menghindari biaya set-up yang tidak perlu, sedangkan departemen keuangan berpendapat bahwa semakin sedikit persediaan semakin baik untuk meminimalkan biaya persediaan dan biaya yang dikeluarkan oleh persediaan.

Rasio perputaran digunakan untuk mengendalikan kapasitas produksi, walaupun masih memiliki kelemahan, namun mampu mengendalikan persediaan untuk permintaan yang tidak menentu (Narasimhan dan McLeavy, 1985, p.301). Inti permasalahan perencanaan produksi digambarkan melalui grafik kebutuhan produksi dan proyeksi beban kerja kumulatif (Narasimhan dan McLeavy, 1985, p.301). Metode tabel, metode ini biasanya digunakan untuk menganalisis proses secara umum, metode ini terbagi menjadi tiga jenis yaitu model FIFO (First in First Out), model LIFO (Last in First Out) dan model transportasi (Least Cost) (Narasimhan dan McLeavy, 1985, hal.308).

Disagregasi dan Jadwal Produksi Induk (JPI)

Lebih jauh lagi, model simulasi dapat memperkirakan kebenaran lebih akurat daripada seorang analis di sebagian besar situasi (Fogarty, Blackstone dan Hoffman, 1991, p.67). Di tangan adalah posisi persediaan awal yang secara fisik tersedia dalam stok. Ini adalah jumlah item yang ada dalam stok. Safety stock adalah stok tambahan barang yang direncanakan untuk disimpan dan digunakan sebagai safety stock untuk menutupi fluktuasi perkiraan penjualan, pesanan pelanggan dalam waktu singkat, pengiriman barang untuk pengisian persediaan, dll.

Dalam perencanaan jangka pendek, Jadwal Induk Produksi berfungsi sebagai dasar perencanaan kebutuhan material (MRP), rencana produksi komponen, perencanaan prioritas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dan perencanaan kapasitas produksi jangka pendek. Dalam perencanaan jangka panjang, Jadwal Induk Produksi berfungsi sebagai dasar untuk memperkirakan permintaan jangka panjang yang menjadi dasar perencanaan sumber daya produksi jangka panjang seperti kapasitas produksi dan kapasitas gudang. Gambar 2.9 dan 2.10 menunjukkan bagaimana Jadwal Induk Produksi (MPS) atau Master Production Schedule (MPS) berhubungan dengan berbagai aktivitas lain dalam perencanaan dan pengendalian kapasitas produksi.

Jadwal Induk Produksi dapat memberikan informasi kepada bagian pemasaran kapan penyelesaian produk akan dilakukan, selain dapat menilai kebutuhan kapasitas secara lebih rinci dan menjadi dasar keputusan untuk mengambil tindakan jika permintaan dapat dipenuhi dengan kapasitas normal, dan pada akhirnya memberikan kesempatan kepada manajemen untuk mengevaluasi pencapaian rencana, strategi bisnis dan tujuan lainnya.

Gambar 2. 10  Proses Penjadwalan Produksi Induk (Sumber : Gaspersz, 2001, hal 142)
Gambar 2. 10 Proses Penjadwalan Produksi Induk (Sumber : Gaspersz, 2001, hal 142)

Pendekatan Optimasi Perencanaan Agregat dan Disagreagasi Pejadwalan Produksi Induk (JPI)

Rencana keseluruhan menunjukkan jumlah tenaga kerja dan ukuran produksi dalam bentuk agregat tanpa memperhatikan spesifikasi produk. Jika perusahaan tidak memerlukan safety stock maka target yang harus dipenuhi adalah sesuai dengan permintaan konsumen. Berbeda halnya jika suatu perusahaan membutuhkan safety stock untuk merespon ketidakpastian (baik ketidakpastian permintaan maupun ketidakpastian).

Dij = Permintaan barang j keluarga i barang j he = Biaya pemeliharaan keluarga i barang j Menentukan jumlah barang yang diproduksi a) Menentukan besarnya lot produksi. Hal ini dilakukan dengan memperhitungkan jumlah produk yang tersedia dan jumlah permintaan setiap produk dalam keluarga. Jika jumlah produk yang diharapkan pada akhir periode lebih kecil dari stok cadangan (safety stock), maka seluruh produk dalam keluarga tersebut diproduksi. periode t lebih kecil dari stok cadangan SSij, maka seluruh produk dalam keluarga akan diproduksi.

Jika Ii j, t-1 adalah jumlah stok produk j pada akhir periode t-1 dan jumlah yang diminta adalah Di j, t, maka :. Dij,t = Permintaan produk j pada keluarga i pada periode t. hi = Biaya penyimpanan untuk kelompok produk i Xi = Jumlah unit yang diproduksi dari keluarga i LBi = Batas bawah produksi keluarga i UBi = Batas atas produksi keluarga i Z = Himpunan keluarga yang diproduksi. Plafon diperlukan untuk memastikan bahwa kelebihan persediaan tidak terjadi. Plafon diperlukan untuk memastikan bahwa kelebihan persediaan tidak menumpuk.

Strategi Posisi Produk dalam Lingkungan Manufaktur

Seringkali komponen yang memiliki lead time yang lama direncanakan atau dibuat lebih awal untuk mengurangi waktu tunggu pengiriman ke pelanggan jika pelanggan memesan produk tersebut. Dari tabel 2.1 terlihat bahwa karakteristik lingkungan produksi berbeda untuk make-to-stock, make-to-order dan make-to-order, sehingga dalam merancang jadwal induk produksi (MPS) perlu memperhatikan lingkungan seperti apa yang dirancang untuk JPI. Tiga jenis lingkungan pasar produk yang terkait dengan JPI adalah Make-to-Stock (MTS), Make-to-Order (MTO), dan Assemble-to-Order (ATO).

Lingkungan MTS adalah tipikal perusahaan yang menghasilkan item standar yang relatif sedikit namun relatif akurat yang memerlukan perkiraan.

Tabel 2. 1 Karakteristik dari Lingkungan
Tabel 2. 1 Karakteristik dari Lingkungan

Klasifikasi Strategi Make-to-Stock dan Make-to-Order

Konsep Decopling point

Pentingnya hal ini tidak hanya berkaitan dengan pemisahan jenis kegiatan proses yang berbeda, namun juga berkaitan dengan informasi arus barang, dimana perencanaan dan pengendalian dilakukan. Konsep ini menggambarkan titik penyimpanan utama tempat berlangsungnya pengiriman ke pelanggan dan total persediaan harus mencukupi untuk memenuhi permintaan pada periode tertentu. Karakteristik produk dan permintaan Karakteristik proses dan inventaris Pengiriman menyadari keandalan Waktu tunggu dan biaya untuk fase internal.

Berdasarkan (Hoekstra dan Romme, 1992 dalam van Donk, 2000), terdapat tiga pilihan posisi decoupling point sesuai dengan struktur logistik yaitu make and ship to stock (lokal), make-to-stock (pusat), assemble -sesuai pesanan, dibuat sesuai pesanan, dibeli dan dibuat sesuai pesanan. Pernyataan yang menentukan posisi titik decoupling dijelaskan secara luas dalam dua rangkaian karakteristik produk dan permintaan serta karakteristik proses dan penyimpanan, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Gambar 2. 13 Titik Decoupling Point pada Tahapan Manufaktur  (Sumber: Olhager, 2003)
Gambar 2. 13 Titik Decoupling Point pada Tahapan Manufaktur (Sumber: Olhager, 2003)

Cara penentuan Strategi Penyerahan Produk

Kondisi ini kemudian dianalisis dengan menggunakan RDV, bagian dengan RDV rendah menunjukkan bahwa strategi pengiriman produk MTS dapat diterapkan yang berpotensi mengarah pada situasi assemble to order (ATO). Dengan demikian, meskipun rasio P/D menunjukkan MTO, namun perusahaan akan memilih strategi MTS dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, kebijakan MTO dapat diterapkan, sehingga memaksakan kebijakan pengiriman produk ATO atau MTS.

Kondisi RDV yang tinggi bukan menjadi alasan untuk menggunakan kebijakan MTS yang mendorong persediaan berlebihan. Dengan demikian, cara produsen menyikapi kondisi pasar dan permintaan didasarkan pada strategi penyediaan produk (Olhager) sebagai berikut. Jika pasar menuntut waktu pengiriman yang singkat, akan ada tekanan pada produsen untuk mempersingkat waktu tunggu guna memenuhi strategi pemilihan lebih banyak produk. Perusahaan yang secara aktif mengurangi waktu tunggu dapat menciptakan peluang dimana kecepatan pengiriman dapat dicapai untuk memenangkan pesanan, setidaknya di pasar tertentu untuk produk tertentu (Hayes dan Wheelwright, 1984 dalam Olhager). Jika permintaan terlalu tinggi untuk menggunakan kebijakan MTS, inventaris harus ditentukan pada titik tertentu dalam rantai nilai produksi internal.

RDV biasanya bertepatan dengan volume permintaan yang tinggi (volume produk lebih tinggi, fluktuasi permintaan relatif lebih rendah).

Industri Farmasi

Kapsul cangkang lunak biasanya terdiri dari unit bulat atau silinder yang terbuat dari gelatin (gel lunak) dan dapat dibuat plastis dengan penambahan senyawa poliol (sorbitol atau gliserol). Proses primer merupakan tahapan proses produksi bahan aktif dan komponen dasar obat melalui proses kimia dan biokimia yang kompleks. Bahan aktif dan eksipien obat ditimbang, dicampur, diproses dan dikemas untuk menghasilkan produk jadi.

Pengolahan produk tunggal, yaitu proses produksi satu jenis produk pada waktu tertentu untuk menghindari kontaminasi antar jenis produk yang berbeda. Operasi pembersihan, ketika ada perubahan proses untuk produk yang berbeda, untuk menghindari polusi, diperlukan lebih sedikit pembersihan untuk situasi kelompok produk yang sama dan lebih banyak pembersihan jika situasi penggunaan bahan baku tidak sama. Proses produksi dan pengemasan selalu menghasilkan produk yang seidentik mungkin (sesuai persyaratan mutu) baik untuk batch yang diproduksi maupun yang akan diproduksi.

Risiko kontaminasi silang ini dapat timbul dari debu, uap, cipratan atau organisme yang tidak terkontrol dari bahan atau produk yang diolah, dari residu yang tertinggal pada peralatan dan pada pakaian kerja operator. Kenakan pakaian pelindung yang sesuai di area dimana produk dengan risiko kontaminasi silang ditangani. Semua bahan awal dan bahan pengemas yang dikembalikan ke gudang penyimpanan harus didokumentasikan dengan baik (BPOM, 2006).

Gambar 2. 16 Supply Chain Industri Farmasi  (Sumber: Venditti, 2010)
Gambar 2. 16 Supply Chain Industri Farmasi (Sumber: Venditti, 2010)

Gambar

Gambar 2. 1 Proses Perencanaan Hirarkis
Gambar 2. 2 Ikhtisar Pendekatan Perencanaan Produksi  (Sumber : Meal, 1986 dalam Bitran dan Tirupati, 1989, h.5)
Gambar 2. 3 Gambaran Konseptual Sistem Perencanaan Hirarkis Satu Tahap (Sumber : Meal, 1986 dalam Bitran dan Tirupati, 1989, h.8)
Gambar 2. 4 Tahapan Utama dalam Sistem Produksi dan Distribusi  (Sumber : Meal, 1986 dalam Bitran dan Tirupati, 1989, h.21)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Effective Use of Zoned-In Intervention Core Components Short Term Outcomes Zoned –In Environmental Change Zoned –In Skills Instruction SAFE approach for instruction in SEL Skills