• Tidak ada hasil yang ditemukan

Virtual International Conference of Interreligious and Intercultural Studies Living the New Normal:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Virtual International Conference of Interreligious and Intercultural Studies Living the New Normal: "

Copied!
34
0
0

Teks penuh

It gives me great pleasure to extend to all of you an ongoing book of the 7th International Conference of Interreligious and Intercultural Studies. Universitas Hindu Indonesia would like to say how grateful we are to the scientist, scholar and researcher who contributed to the 7th ICIIS with an insightful theme: Living The New Normal: Achieving Resilience And Ensuring Sustainable Future on September 30, 2021. How credit, religion, tourism, economic, political aspects and also culture in the broad sense can function as support systems in dealing with the new challenges after the experience of hardship with the pandemic that destroyed religious practices, and economic as well as political and cultural aspects of the life.

The transformation of valuable elements from the cultural values ​​that are rooted in the society could be implemented or re-implemented to face a new normal life or even a re-normal life. There are many strategies that could be used, based on the lessons learned from the ill effects of the pandemic, in reviving to a new normal life or even a normal life. The impact of globalization on the preservation of the oral tradition of Susuano I Baru folk songs in the midst of his collective community located in Morosi district.

The role of traditional knowledge in the community of Tenganan traditional village as conservation of natural resources. The effectiveness of the village enterprise program (BUMDes) on the economic development of village communities. Case Study: Tembuku Village, Tembuku District, Bangli Regency). Cognitive memory of treatment and treatment of Gering Sasab Mrana based on Lontar in Bali: an ethnomedical study.

APREVENTIF WABAH COVID-19, SAAT “NYEPI”

Kajian Perspetif Agama Hindu)

Wabah penyakit sudah ada sejak zaman kerajaan Bali, yang tertuang dalam berbagai lontar yang ada di Bali. Seperti yang terdapat dalam lontar-lontar tersebut: 1). Isinya yang tertulis di lontar itu adalah orang miskin yang tertulis di geguritan, dia sudah menikah, mempunyai tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan, yang sulung (Wayan) meninggal, yang tengah (Made) juga meninggal, akibat kematiannya karena penyakit pes (bug minor), ketika wabah penyakit itu terjadi, mereka meninggal disana, keempat laki-laki dan perempuan itu meninggal dalam waktu yang bersamaan. Isi pengusiran Jaya Prana mengungkap penyakit mirip Corona CoVid 19 mewabah di Singaraja pada masa kerajaan, menewaskan empat orang di keluarga I Jaya Prana, termasuk ibu, ayah, saudara laki-laki Wayan, dan saudara perempuan Made.

2). Wabah penyakit terkait Corona CoVid 19 juga terjadi di Lontar Sundarigama dan Seri Jaya Kesun. Entah berapa keturunan nenek moyangnya yang menjadi raja, mereka pun satu dua tahun kemudian terkena wabah dan meninggal, kini giliran calon raja Jaya Kesunu. Dengan mengikuti keputusan Paruman Sulinggih… semoga saja hal tersebut tidak menjadi penyebab mewabahnya penyakit di dunia.

Masyarakat kemudiannya mengalami kekeliruan dan peperangan terus berlaku, dengan pemimpin bermusuhan antara satu sama lain dan wabak penyakit berterusan. Orang ramai dijangkiti pelbagai jenis penyakit, seperti menggigil dan gelisah, yang menyebabkan ramai orang mati. Bermula dari Lontar Jaya Prana Geguritan, Lontar Sudarigama dan Jaya Kesunu, Lontar Aji Swamandala, Lontar Roga Sanghara Bumi dan Lontar Calonarang terdapat perkataan yang serupa dengan Corona Covid 19, wabak yang menyebabkan kematian dalam jumlah besar, seperti “ parah. gebug", empat orang mati bersama, "kasinangkaon-kasinangkaonan" wabak yang tidak diketahui menyebabkan kematian raja-raja, yang memerintah paling lama satu atau dua tahun, gring tiba-tiba mati wang, wabak yang menyebabkan orang mati beramai-ramai. dan tempohnya adalah maksimum satu tahun. Yang pertama terkena penyakit itu ialah kampung pantai seperti muntah-muntah, cirit-birit dan kematian mengejut.

Jadi mewabahnya Corona Covid 19 ini mirip dengan mewabahnya penyakit gerubug gering yang ada di Jawa pada masa pemerintahan Erlangga dan di Bali pada masa pemerintahan Sri Jaya Kesunu. Sedangkan Gerubug Gering yaitu kematian yang disebabkan oleh manusia karena kelalaian dan keegoisan terdapat pada Lontar Sudarigama dan Jaya Kesunu, Lontar Aji Swamandala, Lontar Roga Sanghara Bumi dan Lontar Calonarang. Ucapan yang disampaikan purnawirawan Ketut Nunca ini bermuara pada pencegahan wabah penyakit Sekala dengan mengikuti arahan pemerintah.

Secara konseptual ada dua hal yang penting untuk dipahami yaitu Virus Corona Covid 19 dan Gering Grubug. Untuk mencegah tertular penyakit Covid-19 (repelan), Anda harus menginstal peselat seperti pada gambar di bawah ini. Sumber: Bagikan lewat WA dari Keluarga dan KLungkung. Kembali ke tempat semula, berdoalah agar orang-orang yang ada di rumah tidak terkena wabah para pemimpin di muka bumi ini.

Ketut Sukarnata (45 Th),

34; Dari gambar yang diperoleh, tampak Covid-19 mirip dengan virus corona sindrom pernapasan Timur Tengah. Akibat mewabahnya virus Corana Covid 19 yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi tanggal 25 Maret 2020, dikutip pada 26 Maret 2020, Indonesia mengalami 790 kasus, 58 kematian, dan 31 kasus sembuh. Antisipasi Covid-19 Sedini Mungkin Saat ini, cara terbaik untuk mencegah tertular virus ini adalah dengan melakukan langkah-langkah preventif seperti mencuci tangan dan melengkapi daftar dasar vaksinasi.

Presiden RI Joko Widodo pun mengeluarkan pernyataan lengkap dan final dari Jokowi soal COVID-19: Sejak kita umumkan adanya kasus COVID-19 di awal bulan ini, saya sudah sampaikan ke Menteri Kesehatan. dan kementerian terkait untuk mengambil langkah tambahan guna mengatasi dampak global COVID-19. Kita lihat ada beberapa negara yang sudah lebih dahulu merasakan penyebarannya, ada pula yang sudah menerapkan lockdown dengan segala konsekuensinya, namun ada juga negara yang belum menerapkan lockdown namun sudah mengambil langkah dan kebijakan yang tepat untuk melawan penyebaran COVID-19. Pemerintah terus berkomunikasi dengan WHO, menggunakan protokol kesehatan WHO, dan berkonsultasi dengan pakar kesehatan masyarakat dalam menangani penyebaran COVID-19.

Pemerintah juga telah membentuk gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 yang diketuai oleh Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo. Selain itu, Menteri Keuangan juga telah menerbitkan peraturan dan instruksi pengamanan anggaran yang dibutuhkan seluruh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah serta gugus tugas percepatan penanganan COVID-19. Peraturan ini memberikan landasan hukum agar pihak-pihak terkait dapat menggunakan anggarannya dan mengajukan permintaan anggaran tambahan untuk menghadapi tantangan penyebaran COVID-19.

Dampak pandemi COVID-19 telah menyebabkan perlambatan perekonomian dunia secara masif dan signifikan, termasuk perekonomian Indonesia. Kami ingin ini menjadi gerakan masyarakat agar permasalahan COVID-19 bisa tertangani dengan maksimal. Dalam pidato sehari-hari, dalam pidato Presiden, berbagai keputusan diambil melalui seluruh menterinya untuk serius melawan wabah Corona Covid 19.

Sejak kita mengumumkan adanya kasus COVID-19 pada awal bulan ini, saya telah memerintahkan Menteri Kesehatan dan kementerian terkait untuk mengambil langkah ekstra dalam menangani pandemi global COVID-19. Kita melihat ada beberapa negara yang lebih dulu mengalami penyebaran dibandingkan kita, ada pula yang menerapkan lockdown dengan segala konsekuensi yang menyertainya, namun ada juga negara yang tidak menerapkan lockdown namun mengambil langkah dan kebijakan yang tepat untuk menghambat penyebaran COVID-19. Meski begitu, perbaikan-perbaikan baru telah dilakukan, di setiap langkah, setiap hari selama masa kritis wabah virus Covid-19.

Ahli THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) dan Mpu Bharadah bisa dikatakan sebagai penemu obat anti COVID-19. Hal ini dilakukan pada saat Nyepi baik siang maupun malam untuk menghilangkan rasa bosan, dan mempunyai manfaat yang luar biasa untuk menyembuhkan segala macam penyakit pada tubuh, baik penyakit yang disebabkan oleh manusia, ulat bulu, maupun wabah Covid 19 yang disebabkan oleh alam.

Ilustrasi Virus
Ilustrasi Virus

Gambar

Ilustrasi Virus
Gambar mikroskop elektron pemindai  menunjukkan virus corona Wuhan atau  Covid-19 (kuning) di antara sel manusia  (biru, merah muda dan ungu)

Referensi

Dokumen terkait