• Tidak ada hasil yang ditemukan

Volume 5 nomor 2, Oktober 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Volume 5 nomor 2, Oktober 2021"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian perwaliamanatan bersifat mengikat para pihak yang mengadakan perjanjian dan merupakan undang-undang. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963 tentang Badan Hukum Yang Berwenang Memiliki Tanah.

REVITALISASI UPAYA PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF HAK

ASASI MANUSIA

Penyebab Terjadinya Kekerasan Terhadap Perempuan

Faktor internal penyebab kekerasan terhadap perempuan adalah keadaan psikologis dan kepribadian suami sebagai pelaku kekerasan. Kekerasan terhadap perempuan di luar rumah tangga dan di masyarakat pada umumnya berbentuk sanksi sosial dan budaya serta diskriminasi.

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

Kasus kekerasan dalam rumah tangga hingga saat ini belum diberikan legitimasi melalui kekuatan hukum, sejak tahun 2004. Undang-undang ini setidaknya telah memberikan hak dan perlindungan kepada korban dari berbagai jenis kekerasan atau kejahatan yang terjadi dalam rumah tangga.

Kesimpulan

39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886).

PERTANGGUNGJAWABAN TINDAK PIDANA KORPORASI YANG MELAKUKAN KEGIATAN PERTAMBANGAN

Arti Pertanggungjawaban Pidana Korporasi

Kdi tentang urusan pertambangan dimana tersangka atas nama Mohammad Said Bin Achyar melakukan kegiatan penambangan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Brantas Dusun Kolah Desa Wonorejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri yaitu pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 tanpa adanya izin. Izin Usaha Pertambangan, dengan adanya kegiatan penambangan ini mengakibatkan rusaknya wilayah Sungai Berantas karena penambangan dilakukan tanpa petunjuk teknis penambangan. Teori identifikasi ini mencegah tanggung jawab perusahaan atas tindakan orang-orang yang dalam hal ini mewakili perusahaan, seperti direktur dan manajemen inti perusahaan yang menentukan kebijakan perusahaan. Teori ini berbeda dengan Vicarious Liability Theory, yaitu teori vicarious pidana pertanggungjawaban, yaitu tanggung jawab seseorang tanpa ada kesalahan pribadinya, namun bertanggung jawab atas perbuatan orang lain.

Berdasarkan kasus pertambangan yang terjadi di Kediri, pengadilan memberikan putusan terhadap usaha pertambangan dengan menggunakan pengertian teori pertanggungjawaban pidana korporasi yaitu Vicarious Liability, dimana pengurus atau pihak yang memerintahkan agar usaha pertambangan tersebut dilaksanakan. di luar negeri wajib bertanggung jawab atas kegiatan yang dilakukan. Jika dilihat berdasarkan kedua teori pertanggungjawaban pidana korporasi yang telah dijelaskan di atas, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namun jika dapat diterapkan pada pemberian sanksi pidana, dalam hal ini perlu diingat bahwa hukum pidana itu sendiri merupakan Remidium Ultimum atau Dapat dikatakan berbagai pilihan final apabila peraturan lain tidak dapat menyelesaikan suatu perkara sampai hukum pidana digunakan. Jadi, Vicarious Theory sangat penting digunakan sebagai bahan dasar pembuatan aturan dalam merekonstruksi pengaturan pertanggungjawaban pidana bagi korporasi mengingat korporasi adalah badan hukum yang tidak dapat dikenai sanksi pidana, melainkan pengurus, dimana pengurus disini adalah orang-orang yang bertindak. mengatasnamakan korporasi untuk melakukan tindakan atau kegiatan.

Implikasi Pengaturan dalam Perundang-undangan Nasional Di Bidang Pertambangan Bila Terjalin Inkonsistensi Pengaturan Bunyi Pasal Terkait

645 Perbedaan aturan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam sistem hukum dan peraturan di Indonesia, khususnya aturan hukum yang diuraikan dalam tabel di atas, dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan inkonsistensi peraturan, yang dapat menghambat penegakan hukum. Dalam undang-undang lingkungan hidup mengacu pada pertanggungjawaban pidana perusahaan, dalam undang-undang ini penekanannya adalah pada badan hukum atau perusahaan yang melakukan pencemaran lingkungan hidup. Berdasarkan teori peraturan perundang-undangan tersebut, maka perlu adanya keseragaman makna atau kesamaan peraturan agar dapat memberikan kejelasan mengenai pertanggungjawaban pidana perusahaan. Hal ini dimungkinkan untuk mencari kejelasan dan kejernihan makna atau makna dan bersifat kognitif untuk menciptakan tujuan hukum yaitu keadilan, kepastian dan kemaslahatan.

Perlu adanya aturan yang lebih jelas mengenai pertanggungjawaban pidana bagi pengelola perusahaan pertambangan, khususnya aturan mengenai pengurus perusahaan pertambangan yang bertanggung jawab jika suatu tindak pidana dilakukan oleh pengelolanya guna mencapai tujuan. Oleh karena itu, perlu adanya aturan yang lebih jelas dan tegas mengenai pengaturan pertanggungjawaban pidana bagi pengelola perusahaan pertambangan. Membangun kembali rezim pertanggungjawaban pidana bagi operator pertambangan yang juga menyebabkan kerusakan lingkungan/ekologi.

Rekonstruksi Pengaturan Pertanggungjawaban Pidana pada pelaku usaha Pertambangan yang Menyebabkan Kerugian Pada Lingkungan/ Ekologi serta

Tindak pidana 647 dapat diterapkan jika dalam peraturannya sendiri tidak jelas mengenai pertanggungjawaban pidana kepada siapa pengelola tambang harus bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau kejahatan yang dilakukan dalam kegiatan penambangan yang diakibatkannya. Rekonstruksi pengaturan pertanggungjawaban pidana bagi pelaku usaha pertambangan ini memang merupakan jawaban atas dasar bahwa perkara tersebut pada hakikatnya berkaitan dengan kesesuaian pengaturan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan dengan nilai kepastian hukum yang adil. Berdasarkan hal-hal penting yang diatur mengenai pertanggungjawaban pidana pengelola tambang, maka rekonstruksi harus diwujudkan dalam peraturan perundang-undangan.

Secara keseluruhan aturan pertanggungjawaban pidana pengurusan pelaku perusahaan pertambangan dalam peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan belum menjelaskan secara jelas dan konkrit mengenai sanksi yang diberikan baik kepada perusahaan maupun pelaku perusahaan pertambangan dengan nilai kepastian hukum yang wajar, karena aturan tersebut harus mampu. untuk mengakomodir perlindungan hak asasi manusia khususnya bagi para korban yang merasa dirugikan oleh kegiatan pertambangan, diperlukan upaya rekonstruksi agar tercipta rezim pertanggungjawaban pidana bagi pengelola tambang dengan tujuan hukum yaitu keadilan, keselamatan dan kemanfaatan. Rekonstruksi rezim pertanggungjawaban pidana bagi pelaku pertambangan yang harus didasarkan pada kepastian hukum yang adil, karena aturan harus mampu mewujudkan perlindungan hak asasi manusia, khususnya bagi korban kejahatan yang dilakukan oleh pelaku pertambangan. Pertanggungjawaban pidana perusahaan dalam perkara pertambangan di luar titik koordinasi yang diperbolehkan dalam izin produksi perusahaan pertambangan, sekalipun orangnya (pengurus perusahaan) tidak melakukan tindak pidana secara pribadi dan tidak mempunyai kesalahan dalam arti biasa, dapat dimintai pertanggungjawaban.

KEWENANGAN NOTARIS BERDASARKAN UNDANG- UNDANG NOMOR 2 ITAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN

AKTE IKRAR WAKAF

Kewenangan Notaris Dalam Membuat Akte Ikrar Wakaf Berdasarkan Undang Undang Jabatan Notaris

Pembuat Akta Ikrar Wakaf atau disingkat PPAIW menurut Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf adalah pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh Menteri Agama Republik Indonesia untuk membuat Akta Ikrar Wakaf (AIW). . Pejabat Pembuat Akta Janji Wakaf atau disingkat PPAIW berdasarkan ketentuan umum Undang-Undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 adalah pejabat yang berwenang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk membuat Akta Janji Wakaf (AIW). Kewenangan tersebut harus dilihat secara nyata dalam penggunaan notaris dalam menjalankan jabatannya, kecuali mereka adalah pejabat pemerintah dan pegawai negeri sipil yang melakukan akta gadai wakaf.

Petugas penyiapan dokumen gadai wakaf atau disingkat PPAIW sesuai dengan ketentuan umum undang-undang no. 41 Tahun 2004 tentang wakaf adalah pejabat yang berwenang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk menyusun dokumen ikrar wakaf (AIW). Notaris tidak berwenang membuat akta gadai atas vakuf tanah. Yang berwenang adalah pejabat yang membuat akta gadai wakaf atau disingkat PPAIW sesuai dengan ketentuan umum Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, yaitu pejabat yang berwenang ditunjuk oleh Menteri. pecahan untuk pembuatan akta ikrar wakaf (AIW). 41 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pembuat Akta Ikrar Wakaf adalah Pejabat Ikrar Wakaf (PPAIW), bukan notaris.

KEWENANGAN MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS WILAYAH TERHADAP PEMBERIAN IZIN PENYITAAN AKTA

MINUTA KEPADA PENYIDIK

Dengan adanya Dewan Kehormatan Notaris, maka perlindungan terhadap Notaris dalam urusan kenotariatan pada hakekatnya kembali terjalin. Majelis Kehormatan Notaris (“MKN”) adalah suatu badan yang mempunyai “wewenang mengarahkan Notaris” dan berkewajiban memberikan persetujuan atau penolakan untuk kepentingan penyidikan dan perkara di pengadilan, memfotokopi catatan dan mengundang Notaris untuk menghadiri pemeriksaan di bidangnya. berkenaan dengan akta-akta atau catatan-catatan notaris yang berada dalam penguasaan notaris. Namun apabila pencatatan surat itu tidak memuat dan tidak memuat rahasia negara, maka ketua pengadilan negeri setempat pada prinsipnya dapat dengan izin khusus mengizinkan pencatatan surat itu untuk diambil.

Penyidik ​​mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat tempat berita acara akta Notaris itu berada, atau kepada Notaris yang bersangkutan. Salah satu kewenangan Dewan Kehormatan Notaris Daerah adalah menyetujui atau menolak permohonan pemberian persetujuan terhadap fotokopi risalah akta dan/atau surat-surat yang dilampirkan pada berita acara akta atau protokol Notaris dalam tahanan Notaris, untuk diambil alih. dasar keputusan rapat Dewan Kehormatan Notaris Daerah. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk keperluan perkara pidana, penyitaan Berita Acara Notaris pada dasarnya hanya dapat dilakukan dengan izin khusus dari Ketua Pengadilan Negeri setempat dan persetujuan atas pencatatan Berita Acara atau Notaris. . berita acara Ketua Dewan Kehormatan Notaris Daerah sesuai dengan wilayah kerja Notaris.

KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KOTA SURABAYA DALAM RANGKA PEMENUHAN KESEJAHTERAAN

Andiani Oktavia Safitri 2 , Unggul Satato 3 , dan Muda Dzikrillah Haq 4 Universitas Narotama Surabaya

Kontak erat dengan orang-orang dari negara/wilayah yang terkonfirmasi adanya penularan lokal Covid-19. Yakni Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Stabilitas Perekonomian Pada Masa Pandemi Covid-19. Pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah.

678 dan mereka yang terdampak Covid-19, agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga di masa Covid-19. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya Muhammad Munif mengatakan, pihaknya mendukung penuh upaya pemerintah Kota Surabaya dalam mencegah penyebaran Covid-19. Maka peran yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah mengeluarkan kebijakan untuk menekan dan mencegah penyebaran Covid-19.

RELAKSASI KREDIT PERBANKAN BAGI PELAKU USAHA DALAM MASA PANDEMI COVID 19

Relaksasi Pemerintah Dalam Pemberian Kredit Masa Pandemi 19

Kredit lancar adalah kredit yang siklus pembayarannya selalu tepat waktu, baik pokok maupun bunganya; Kredit dalam perhatian khusus adalah kredit yang siklus pembayaran tunggakan pokok dan/atau bunganya kurang dari 90 hari; Kredit diragukan adalah kredit yang siklus pembayarannya menunggak pokok dan/atau bunga lebih dari 180 hari;

Kredit macet adalah kredit yang siklus pembayarannya menunggak pokok dan bunga lebih dari 270 hari; Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa Covid-19 menyebabkan krisis ekonomi dan keuangan global. Pemerintah, Bank Indonesia, OJK dan otoritas terkait harus bekerja sama untuk memitigasi risiko Covid-19 di sektor perekonomian.

Keberadaan Bank Dalam Segi Ekonomi Masa Pandemi 19

Nasabah pelaku usaha yang usahanya terganggu akibat Covid-19 mendapat bantuan usaha dan konsultasi dari staf bank yaitu Relationship Manager (RMs) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kinerja perbankan berdasarkan kebijakan pemerintah dalam menangani Covid-19 Salah satu faktor penentu keberhasilan sistem perekonomian di Indonesia adalah sektor perbankan yang merupakan jantung dari sistem perekonomian Indonesia. Hal itu dilakukan untuk tetap menjaga roda perekonomian meski sempat menyusut akibat pandemi Covid-19.

698 Khusus kepada dunia usaha, OJK memberikan insentif kepada debitur yang terdampak penyebaran Covid-19 di perbankan. Restrukturisasi 699 didasarkan pada penilaian dampak terhadap debitur yang bersangkutan. Bank akan menentukan jenis restrukturisasi sesuai dengan dampak terhadap usaha debitur akibat Covid-19. Perkembangan penyebaran Covid-19 secara global selalu meningkat dan Indonesia termasuk salah satu negara yang terkena dampak Covid-19.

Saran

Melihat kondisi perekonomian seperti ini, kinerja perbankan mungkin akan sedikit menurun setidaknya pada tahun depan. Covid-19 tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan, namun juga menimbulkan guncangan di seluruh sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial. Indonesia sendiri tidak menerapkan lockdown, namun menerapkan Physical Distancing, yaitu memusatkan seluruh aktivitas di negara sendiri.

Analisis Sektor Keuangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Wilayah Jawa: Pendekatan Model Levine", Jurnal Etikonomi Vol. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Bank (Studi Empiris Industri Perbankan di Bursa Efek Indonesia)", Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Vol. Analisis Kinerja Bank Swasta Nasional Dalam Devisa dan Devisa di Indonesia", Jurnal Ekonomi Modern, Volume 5, Nomor 2, Juni 2009.

Referensi

Dokumen terkait