• Tidak ada hasil yang ditemukan

Volume 6 nomor 2, 2022 - E-Jurnal Universitas Narotama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Volume 6 nomor 2, 2022 - E-Jurnal Universitas Narotama"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

Selama ini yang terjadi adalah ketika masyarakat kedapatan memiliki sepeda motor tanpa dokumen, maka pihak berwenanglah yang melakukannya. Hasil analisis transaksi jual beli sepeda motor tanpa dokumen lengkap tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 68 UU No. Pembeli hendaknya berhati-hati dalam melakukan jual beli sepeda motor tanpa dokumen dan wajib meminta jaminan kepada penjual bahwa sepeda motor tersebut benar-benar ada. tidak punya masalah.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dalam melakukan jual beli sepeda motor, Anda dapat melakukan pemeriksaan fisik kendaraan di kantor Samsat setempat.

TINJAUAN YURIDIS PENYELENGGARAAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA SURABAYA

Analisis Validitas Yuridis Materi Muatan Peraturan Daerah Kota Surabaya Dengan Peraturan Perundang Undangan Yang Berlaku

Berdasarkan hasil analisis kecukupan regulasi isi peraturan daerah terkait PDAM dengan peraturan yang lebih tinggi seperti yang telah dijelaskan di atas. Diketahui, setidaknya terdapat 10 (sepuluh) ketidaksesuaian ketentuan dalam Peraturan Daerah tentang PDAM dengan peraturan yang lebih tinggi. Pada bab sebelumnya terungkap bahwa muatan Peraturan Daerah terkait PDAM mengandung muatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Pengaturan permodalan dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya tentang PDAM tidak sesuai dengan peraturan tentang Sumber Permodalan BUMD sebagaimana diatur dalam Pasal 19 PP Nomor 54 Tahun 2017; Ketentuan pengangkatan Dewan Pengawas dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya tentang PDAM tidak sesuai dengan ketentuan pengangkatan Dewan Pengawas yang diatur dalam Pasal 38 PP Nomor 54 Tahun 2017. Ketentuan menjadi Direktur di Daerah Peraturan Kota Surabaya terkait PDAM tidak sesuai dengan syarat menjadi Direktur, sebagaimana diatur dalam Pasal 57 PP Nomor 54 Tahun 2017;.

Akibat hukum dari pertentangan isi peraturan daerah pada perusahaan air minum daerah dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Upaya hukum terhadap konflik substantif peraturan daerah PDAM dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Ketentuan dalam peraturan daerah tentang PDAM harus diubah sesuai dengan peraturan satuan pengendalian internal, komisi audit, dan komisi lainnya, sebagaimana diatur dalam Pasal 79 sampai dengan 87 Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2017.

Diketahui pertentangan antara isi peraturan daerah tentang PDAM dengan peraturan perundang-undangan lebih dari 50% (lima puluh persen). Selain itu, masyarakat juga dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung dengan alasan peraturan daerah tentang PDAM bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

PERLINDUNGAN HUKUM MAHASISWA TERHADAP DEGRADASI NILAI AKREDITASI PROGRAM STUDI DAN

PERGURUAN TINGGI

IN 1 IN THE LAND ACQUISITION UNTUK TANAH ASET DESA SEBAGAI KEKAYAAN ASLI YANG SAH

  • Perencanaan Pengadaan Tanah
  • Persiapan Pengadaan Tanah

Proses selanjutnya setelah pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum adalah pencabutan hak atas tanah sesuai dengan ketentuan yang ada. Izin pengadaan tanah mempunyai batas waktu kegiatan selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) tahun (lihat Pasal 24 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012). Perencanaan pengadaan tanah yang tercantum dalam Dokumen Perencanaan ditentukan oleh instansi yang berwenang (dalam hal ini kepala instansi yang memerlukan tanah atau pejabat yang ditunjuk) yang memerlukan tanah dan diserahkan kepada pemerintah provinsi.12.

Persiapan pengadaan tanah dilakukan oleh gubernur setelah menerima dokumen perencanaan pengadaan tanah dari instansi yang memerlukan tanah. Pelaksanaan pembelian tanah ditangani oleh Kepala Kanwil Landstyrelsen selaku direktur pelaksana pengadaan tanah. Saat ini instansi yang membutuhkan tanah dapat menghasilkan produk mulai dari proses pengadaan tanah, pengadaan tanah hingga pembangunan untuk kepentingan umum secara 3 in 1 dalam konsep pembelian tanah.

Tata cara pengadaan tanah menurut konsep 3 In 1 In The Pengadaan Tanah pertama-tama menyangkut perizinan. Pengumpulan data awal di lokasi rencana pembangunan dilakukan oleh tim penyiapan berdasarkan dokumen perencanaan pengadaan tanah. Pada titik ini, lembaga-lembaga yang membutuhkan tanah dapat menghasilkan produk dari proses pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum.

Dalam tata cara pengambilalihan hak milik atas tanah menurut konsep 3 In 1 Dalam Pengadaan Pengadaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah berkaitan dengan perizinan yang dilakukan. Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2014 terkait Perubahan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Pembelian Tanah Untuk Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

WANPRESTASI DALAM PENGADAAN JASA KONSTRUKSI

Kasus Posisi

Dimulai dari dibukanya pengadaan pekerjaan konstruksi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat hingga pembukaan paket perluasan jalan BTS yang terletak di utara Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara yang kemudian diambil alih oleh PT Tirta Dhea Addonics Pratama e yang kemudian dikukuhkan sesuai Perjanjian Kontrak Harga Satuan Paket Pekerjaan Kertas Bangunan Pelebaran Jalan Bts Kabupaten Konawe Utara. PT Tirta Dhea Addonics Pratama (selanjutnya disebut penggugat) selanjutnya adalah pelaksana jasa konstruksi dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai pengguna jasa konstruksi. Karena proyek tersebut berasal dari Kementerian, maka pengalokasian dananya menggunakan dana APBN dan dalam hal ini tergugat adalah Petugas Pengikatan BTS Kota Kendari - Belalo/Lasolo & Pohara - Wawatobi, Balai Besar Implementasi Nasional Jalan Palu XIV, Ditjen Bia Marga , Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Bahwa pokok permasalahan dalam perkara ini, menurut penggugat sebagaimana dalam gugatannya, adalah tergugat I dan tergugat II membayar uang muka dan syarat-syarat pembayarannya. Menurut penggugat, tergugat IV, tergugat V, tergugat VI, tergugat VII, tergugat VIII, dan tergugat IX tidak memberikan kendali yang cukup terhadap pembayaran uang muka dan pencairan. Berdasarkan fakta-fakta yang ada di persidangan, diketahui bahwa penggugat mengadakan beberapa kontrak tambahan dimana tergugat I, tergugat VIII, dan tergugat IX mengakui adanya hubungan hukum dalam kontrak penyediaan jasa konstruksi.

Bahwa menurut tergugat I, tergugat VIII, dan tergugat IX, pekerjaan pembangunan tersebut dilakukan melalui tergugat II selaku kuasa direksi penggugat. Oleh karena itu, uang muka dan pembayaran kepada Tergugat II adalah sah karena Tergugat II memperoleh kuasa notaris dari Penggugat untuk mengadakan, melaksanakan akad dan membayar seluruh biaya yang timbul.

Karakteristik Wanprestasi

Permasalahan dalam pelaksanaan perjanjian bermula ketika penggugat merasa belum menerima uang titipan dan angsuran, sehingga mendalilkan adanya wanprestasi dalam hubungan kontrak. Hal ini memang bisa diartikan sebagai pelanggaran kontrak. karena kewajibannya belum dipenuhi. Wanprestasi sendiri merupakan kebalikan dari kinerja, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya kewajiban dan tidak terpenuhinya kewajiban sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Namun pada saat eksekusi ternyata angsuran dan uang muka telah diserahkan dan diterima oleh tergugat II selaku kuasa sah direksi penggugat.

Hakikat kekuasaan pengurus adalah tindakan mewakili perseroan di dalam dan di luar kegiatannya berdasarkan penunjukan langsung yang sah. Jadi sifat wanprestasi dalam perkara ini adalah penggugat harus mempunyai kewajiban untuk melaksanakan seluruh pekerjaan sebagaimana tercantum dalam kontrak harga satuan paket pekerjaan konstruksi Pelebaran Jalan Bts Kabupaten Konawe Utara – Pohara Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor: KU. 08.09/PPK-10/MYC /PJNW.II/IX/176 tanggal 15 September 2015 dan penerimaan syarat dan uang muka merupakan suatu hubungan hukum tersendiri antara penggugat dan tergugat II karena perjanjian tersebut merupakan hukum bagi yang tunduk padanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1338 Kitab Hukum Perdata. Selain itu, dalam kontrak umum wajib mencantumkan tata cara pemutusan kontrak dalam keadaan apa pun.

Dalam hal ini mengenai urusan keuangan dan/atau pendanaan negara, melalui Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang perolehan barang dan jasa negara, khususnya Pasal 93 ayat (1) huruf b yang menyatakan bahwa apabila salah satu pihak mengingkari janjinya, maka pihak lain dapat mengakhiri kontrak secara sepihak.7 Oleh karena itu, selain kontrak sebagai dasar hubungan hukum antara penyedia jasa dan pengguna jasa konstruksi, apabila.

Perlindungan Hukum apabila terjadi wanprestasi dalam pengadaan jasa konstruksi

Secara hukum, jika ada suatu perbuatan hukum khususnya yang berkaitan dengan jasa konstruksi yang melibatkan instansi pemerintah harus mengutamakan aspek etika dan memberdayakan pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan jasa konstruksi oleh pemerintah untuk menghindari dan mencegah terjadinya kebocoran keuangan pemerintah. Kenyataannya, jika terjadi wanprestasi dalam kontrak pekerjaan umum yang melibatkan keuangan dan/atau pendanaan pemerintah, maka upaya hukum yang tepat adalah upaya represif yang bertujuan untuk mencegah terkurasnya keuangan pemerintah dan memastikan kontrak tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. . , yang berdasarkan ketentuan alinea pertama Pasal 92 Keputusan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, yang mengatur bahwa salah satu pihak dapat memutuskan kontrak secara sepihak jika terjadi wanprestasi mengenai dokumen kontrak. Dan apabila pihak yang bersalah melakukan wanprestasi dapat dipidana sampai dengan dicabutnya izin sebagai pengguna jasa konstruksi, sebagaimana diatur dalam alinea kedua Pasal 42 Undang-Undang Jasa Konstruksi.

Untuk penyelesaian sengketa konstruksi dari pasal 88 ayat (1) undang-undang no. 2 Tahun 2017, penyelesaiannya didasarkan pada asas dasar pertimbangan untuk mencapai mufakat. Jika penyelesaiannya tidak tertulis dalam kontrak, maka para pihak dapat membuat kesepakatan tertulis mengenai prosedur sengketa yang ingin mereka pilih. Menurut penulis, alternatif terbaik dalam menyelesaikan perselisihan adalah dengan menyelesaikannya melalui mediasi melalui proses peradilan.

Dalam hal ini proses peradilannya bersifat privat atau perdata, sehingga akan ada proses mediasi. Dalam proses ini para pihak yang bersengketa bertemu dan memilih win-win solution dengan kesepakatan yang diserahkan kepada hakim. Perlindungan hukum dalam hal tidak dibayarnya pengadaan jasa konstruksi adalah, dalam hal ini perlindungan harus ditujukan kepada kepentingan umum yaitu penyelamatan keuangan negara dalam hal ini proyek pengadaan Kementerian Umum. Pekerjaan dan Perumahan Rakyat. .

Pengawasan kementerian dan/atau lembaga terhadap pembelian barang dan jasa harus ditingkatkan sebagai bentuk perlindungan hukum preventif. Hal ini penting karena dalam hal ini terdapat beberapa addendum kontrak yang menghambat kemajuan pekerjaan konstruksi.

ANALISIS YURIDIS NOTARIS MELAKUKAN PROMOSI MEDIA ELEKTRONIK TERKAIT KODE ETIK NOTARIS

Kode Etik

Kode etik profesi merupakan produk etika terapan karena dihasilkan berdasarkan penerapan pemikiran etis pada suatu profesi. Kode etik profesi merupakan hasil pengaturan diri profesi yang bersangkutan, dan merupakan perwujudan nilai-nilai moral yang hakiki, yang tidak dapat dipaksakan dari luar. Kode etik profesi hanya akan efektif jika dijiwai dengan cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam lingkungan profesi itu sendiri.

Setiap kode etik profesi selalu ditulis dengan tertib, rapi, lengkap, bebas kesalahan, dengan bahasa yang baik, sehingga menarik perhatian pembaca dan menyenangkan hati. Idealisme yang terkandung dalam kode etik profesi tidak sesuai dengan fakta yang melingkupi profesi, sehingga harapan sangat jauh dari kenyataan. Cukup menggelitik para profesional untuk beralih ke kenyataan dan mengabaikan idealisme kode etik profesi.

Kode etik profesi merupakan seperangkat standar moral yang tidak disertai sanksi yang keras, karena pelaksanaannya hanya didasarkan pada kesadaran profesional. Tampaknya, kekurangan ini memberikan peluang bagi para profesional yang lemah imannya untuk menyimpang dari kode etik profesinya. Kode etik profesi merupakan seperangkat prinsip profesi yang dijabarkan sedemikian rupa sehingga kewajiban profesional anggota kelompok profesi dan masyarakat yang ada, baru, atau yang akan datang dapat diketahui dengan pasti.

Dengan dibuatnya kode etik profesi, anggota kelompok profesi atau wakil masyarakat dapat mengontrol agar anggota kelompok profesi memenuhi kewajiban profesinya sesuai dengan kode etik profesi. Perlunya pendidikan kode etik notaris secara berkala bagi para notaris yang mempunyai praktik untuk selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Referensi

Dokumen terkait