Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak isi buku ini, seluruhnya atau sebagian, tanpa izin tertulis dari penerbit. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk berbagi dengan orang lain, meski mereka mungkin mendambakan kehidupan sosial yang damai. Ketika Allah menjamin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diakui-Nya, Dia tetap memperingatkan kita bahwa keyakinan mutlak kita terhadap Islam tidak menghalangi kita untuk melakukan tindakan memaksakan keyakinan kita kepada orang lain.
Dengan apa yang telah saya uraikan di atas, saya sangat senang dengan terbitnya buku ini. Buku ini memberi angin segar di tengah banyak orang yang menjadikan agama sebagai alasan untuk melakukan kekerasan. Buku ini ibarat melantunkan pepatah lama yang diketahui banyak orang, namun makna terdalamnya sering terlupakan: "Jika kamu tidak tahu, kamu tidak akan mencintai."
Sebagai sebuah karya yang dirancang sebagai kado Dies Natalis ke-50 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, buku ini mungkin bisa menjadi kado terindah bagi kita. Namun saya berharap buku ini juga menjadi kado terindah bagi siapa pun yang mendambakan kehidupan sosial keagamaan yang damai.
EPILOG
Teologi Supremasis, Civil Society, dan Kebebasan Beragama
Masyarakat sipil dapat dipahami sebagai masyarakat (warga negara) yang mampu merumuskan hak dan kewajibannya secara mandiri dan bertanggung jawab; Memiliki kemampuan membela dan memerangi kepentingan umum serta mengungkapkannya dalam langkah-langkah konkrit. Dari definisi di atas jelas terlihat bahwa budaya toleran, kritis dan terbuka merupakan bagian integral dari konsep masyarakat sipil. Ketika kita berbicara tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan, maka pembangunan masyarakat sipil yang kuat secara otomatis akan melindungi kebebasan setiap individu dan kelompok untuk memilih keyakinan dan agamanya.
Keterkaitan antara masyarakat sipil dan demokrasi misalnya dapat dilihat pada salah satu fase penting yang melahirkan konsep masyarakat sipil, yaitu Revolusi Perancis yang ditandai dengan penggulingan kekuasaan raja, pengakuan terhadap kekuasaan raja, dan pengakuan terhadap demokrasi. hak-hak rakyat, dan pengakuan kebebasan individu. Hal ini dengan sendirinya menjelaskan keterkaitan antara masyarakat sipil dan demokrasi, karena hanya dalam masyarakat itulah demokrasi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Masyarakat sipil dapat diwujudkan dalam perkumpulan-perkumpulan di ruang publik yang dilandasi oleh kesukarelaan dan independensi yang memungkinkan untuk selalu bernegosiasi dengan kekuasaan negara.3 Menurut Putnam, perwujudan masyarakat sipil adalah perkumpulan atau organisasi yang secara sukarela, mandiri, muncul datang, rasional dan partisipatif. mengenai segala hal yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.
3 Sebagai sebuah perkumpulan, masyarakat sipil harus dibedakan dengan masyarakat politik (organisasi politik, partai atau parlemen) dan masyarakat ekonomi (perusahaan, perusahaan atau organisasi yang bergerak di bidang produksi dan distribusi). Pertama, masyarakat sipil merupakan suatu bentuk organisasi sosial yang memungkinkan setiap individu mewujudkan ambisi politiknya tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Dengan kata lain, masyarakat sipil tidak akan mentolerir otoritarianisme, anarkisme, tirani, dan bentuk kekerasan lainnya.
Tidaklah berlebihan jika melihat masyarakat sipil sebagai jembatan menuju kondisi kebebasan. Lahir untuk melindungi hak-hak individu dari dominasi otoritarianisme negara, konsep masyarakat sipil mengharuskan negara untuk memastikan bahwa setiap warga negara dapat dengan bebas memeluk agama yang diyakininya. 5 Hendro Prasetyo, dkk., Islam & Masyarakat Sipil: Pandangan Umat Islam Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama dan PPIM-IAIN Jakarta, 2002).
Dalam konteks ini, penting untuk menjelaskan konsep ruang publik dan ruang domestik untuk melihat di mana letak agama dan di mana letak kekuasaan negara. Ruang publik merupakan ruang dimana setiap orang, tanpa memandang agama, suku, ras atau golongan, dapat bersaing secara bebas dan terbuka. Sedangkan ruang privat merupakan ruang dimana seseorang dapat hidup dalam dirinya sendiri tanpa adanya campur tangan pihak lain.
Otoritas koersif adalah otoritas yang mempunyai kemampuan untuk memaksa orang lain, dimana ketidaktaatannya dapat dikenakan sanksi atau hukuman. Jatuhnya rezim otoriter Orde Baru sebenarnya merupakan akibat dari menguatnya masyarakat sipil dan gerakan demokratisasi di akhir kekuasaan Orde Baru.8 Gerakan ini pada akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan Soeharto.
DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Perbandingan Agama: Dialog, Dakwah dan Misi.” Dalam studi perbandingan agama di Indonesia dan Belanda. Al-Ruju' ila al-Qur'an: Dari Ketidaktahuan Fundamentalisme Menuju Pencerahan Hermeneutik." Kembali ke Al-Qur'an, Menafsirkan Makna Zaman. JIMM: Pemberontakan Pemuda Melawan Aktivisme, Kitab Suci dan Orientasi Struktural di Muhammadiyah .” Di http://us.f364.
Mewujudkan Dunia Damai: Kajian Sejarah Gagasan Pluralisme Agama dan Nasionalisme di Barat,” dalam Jurnal Hukum Islam dan Wacana Kemanusiaan. Pendahuluan: Perdamaian melalui Transformasi Konflik Damai, Pendekatan Transenden.” Dalam Buku Pegangan Studi Perdamaian dan Konflik Menuju Teologi Pembebasan Agama." dalam John Hick (ed), Mitos Keunikan Umat Kristen: Menuju Teologi Agama Pluralistik.
Memahami Konsep Kalimah Sawa’ dan Relevansinya dengan Pluralisme.” dalam Al-Afkar: Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin. Urgensi Baca Ulang Al-Qur’an: Menemukan Kembali Kebenaran Agama”, Dalam Kembali ke Al-Quran, Menafsirkan Maknanya waktu. Menjadi Muslim Pluralistik: Perjuangan Mencari Kebenaran dan Tuhan.” Dalam Muhammadiyah Progresif: Manifesto Pemikiran Pemuda.
Konflik Etnis di Indonesia Penyebabnya dan Pencarian Solusinya.” Dalam Konflik Etnis di Asia Tenggara. Pendahuluan: Islam Liberal dan Konteks Islamnya.” dalam Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu.
KONTRIBUTOR
Kunawi Basyir saat ini menjabat sebagai Kepala Jurusan Ilmu Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Gelar doktor diperolehnya dari UIN Sunan Ampel Surabaya dengan judul disertasi “Kerukunan Sosial Keagamaan dalam Masyarakat Multikultural (Studi Konstruksi Sosial Kerukunan Beragama Muslim-Hindu di Denpasar Bali)”. Lulusan Pondok Modern Gontor, dosen ini meraih gelar master dari Universitas al-Azhar Kairo dan PhD dari UIN Sunan Ampel Surabaya.
Abdul Kadir Riyadi adalah dosen Program Studi Aklaq Tasawwuf Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Menyelesaikan pelatihan doktoral bidang pemikiran Islam pada Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel dengan predikat Cum Laude pada tahun 2008. Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur CPB (Center for Peacebuilding) UIN Sunan Ampel Surabaya.
Selain mengajar di Fakultas Adab dan Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, beliau juga aktif dalam kepengurusan PCNU Surabaya sebagai Wakil Rais Syuriah dan mengajar santrinya di Pondok Pesantren An-Nur Surabaya.
DAFTAR INDEKS
IGCI 20 Ilahi 93