Wanprestasi &
Akibat Hukumnya
Jika Debitur tidak melaksanakan prestasinya krn kelalaian atau kesengajaan di sebut keadaan wanprestasi.
Ada 3 macam prestasi (pasal 1234):
1.Memberikan sesuatu 2.Berbuat sesuatu
3.Tidak berbuat sesuatu
Ada 3 bentuk wanprestasi :
1.D tidak memenuhi prestasi sama sekali’
2.D terlambat dalam memenuhi prestasi
3.D berprestasi tidak sebagaimana mestinya
Akibat Hukum wanprestasi
Debitur harus :
1.Mengganti kerugian
2.Benda yang dijadikan obyek dari perikatan sejak saat tidak dipenuhinya kewajiban menjadi tanggung jawab D
3.Jika perikatan itu timbul dari perjanjian yang timbal balik, K dapat meminta pembatalan (pemutusan) perjanjian
K dapat memiliki 5 kemungkinan jika D wanprestasi :
1. Menuntut pembatalan/pemutusan perjanjian 2. Menuntut pemenuhan perjanjian
3. Menuntut penggantian kerugian
4. Menuntut pembatalan dan penggantian kerugian 5. Menuntut Pemenuhan dan penggantian kerugian
Kapan terjadinya wanprestasi :
• Wanprestasi kadang dapat terjadi dengan sendirinya, kadang tidak
• Banyak perikatan yang tdk dengan ketentuan waktu pemenuhan
prestasinya memang dapat segera ditagih, tetapi pembeli juga tidak dapat menuntut pengganti kerugian apabila penjual tidak segera
mungkin mengirim barangnya ke rumah pembeli. Ini diperlukan tenggang waktu yang layak dan ini diperbolehkan dalam praktek.
• Jadi tenggang waktu dalam perjanjian2 yg tdk ditentukan waktunya, wanprestasi tidak terjadi demi hukum, krn tidak ada kepastian kapan ia betul betul wanprestasi.
• Pada perikatan dengan ketentuan waktu kadang2 mempunyai arti lain yaitu: bahwa D tidak boleh berprestasi sebelum waktu itu tiba.
• Jalan keluarnya untuk mendapatkan kapan D itu wanprestasi, UU memberikan upaya hukum dengan suatu “pernyataan lalai “
(ingebrekestelling/sommasi)
• Pernyataan lalai adalah pesan dari K kepada D yg menerangkan kapan selambat lambatnya D diharapkan memenuhi prestasinya.
biasanya diberikan waktu yg banyak bagi D terhitung saat penyataan lalai itu diterima D
• Fungsi pernyataan lalai : ialah merupakan upaya hukum untuk menentukan kapan saat terjadinya wanprestasi
Pernyataan lalai ada yg diperlukan ada yang tidak mengingat adanya bentuk wanprestasi :
1. Apabila D tidak memenuhi prestasi sama sekali, maka pernyataan lali tidak diperlukan, K langsung dapat minta ganti kerugian
2. Dalam hal D terlambat memenuhi prestasinya maka pernyataan lalai diperlukan karena D dianggap masih dapat berprestasi
3. Kalau D keliru dalam memenuhi prestasi, Hoge Raad berpendapat pernyataan lalai perlu, tetapi Meijers berpendapat lain apabila
karena kekeliruan D kemudian terjadi pemutusan perjanjian yg positif, pernyataan lalai tidak perlu.
Pemutusan perjanjian yg positif adalah dg prestasi D yg keliru itu menyebabkan kerugian kepada milik lainnya dari K. Misalnya dipesan jeruk bali dikirim jeruk jenis lain yg sudah busuk hingga menyebabkan jeruk2 lainnya dari K menjadi busuk.
• Pemutusan hukum yang negatif adalah dg prestasi D yg keliru itu tidak menyebabkan kerugian kepada milik lainnya dari K, maka pernyataan lalai diperlukan
• Bentuk2 pernyataan lalai telah ditentukan dalam Pasal 1238 KUH Pdt:
harus disampaikan dengan perintah yaitu dengan exploit dari jurusita, yg penting adalah pemberitahuan dari jurusita yg dilakukan secara
lisan bukan suratnya. (Pasal ini sudah dicabut dengan SEMA no,3 tahun 1963)
“ MA sudah pernah memutuskan, diantara 2 orang Tionghoa, bahwa pengiriman turunan surat gugatan kpd tergugat dapat dianggap
sebagai penagihan oleh krn si tergugat masih dapat menghindarkan terkabulnya gugatan dengan membayar hutangnya sebelum hari
sidang pengadilan.”
kesalahan
• Tidak selalu kalo debitur (D) tidak memenuhi kewajibannya dapat dituntut mengganti kerugian
• D yg tidak dapat memenuhi kewajibannya krn ada kesalahan di sebut wanprestasi,
• D yg tidak dapat memenuhi kewajibannya krn tidak ada kesalahan disebut overmacht (force majeure)
Ada 3 unsur untuk adanya kesalahan :
• 1. Perbuatan yang dilakukan D dapat disesalkan 2. D dapat menduga akibatnya
a) dalam arti yg obyektif, yaitu sebagai manusia normal pada umunya dapat menduga akibatnya.
b) dalam arti yg subyektif, yaitu sebagai orang ahli dapat menduga akibatnya.
3. dapat dipertanggungjawabkan, yaitu D dalam keadaan Cakap.
• Luasnya kesalahan meliputi :
1. kesengajaan : perbuatannya memang diketahui dan dikehendaki 2. kelalaian : tidak mengetahui tetapi hanya mengetahui adanya kemungkinan bahwa akibatnya akan terjadi
• Kesengajaan biasanya disebut juga sebagai “arglist” pasal 1247 , 1248
Pasal 1246 KUHPerdata, maka ganti-
kerugian tersebut terdiri dari 3 unsur yaitu;
i. Biaya, yaitu biaya-biaya pengeluaran atau ongkos-ongkos yang nyata/tegas telah dikeluarkan oleh Pihak.
ii. Rugi, yaitu kerugian karena kerusakan/kehilangan barang dan/atau harta kepunyaan salah satu pihak yang diakibatkan oleh kelalaian pihak lainnya.
iii. Bunga, yaitu keuntungan yang seharusnya diperoleh/diharapkan oleh salah satu pihak apabila pihak yang lain tidak lalai dalam
melaksanakannya.
Pengganti kerugian , bentuk dan unsur2nya
• Pengganti kerugian untuk wanprestasi :
1.Kerugian yg nyata yg timbul dari wanprestasi 2.Hanya dapat diganti dg uang
3.Mengganti kerugian meliputi : biaya, rugi dan bunga
4.Kerugian terdiri dari dua : kerugian yg nyata diderita ( biaya, rugi dan keuntungan yg tidak diperoleh meliputi bunga)
Jumlah pengganti kerugian
• Kecuali kalo pihak2 telah menentukan sendiri jumlah penggantian kerugian atau UU dg tegas menentukan lain, maka jmlh pengganti
kerugian ditentukan sedemikian besarnya shg keadaan kekayaan dari K hrs sama seperti D telah memenuhi kewajibannya
Syarat syarat pengganti kerugian
1. kerugian yg dapat diduga lebih dahulu atau seharusnya dapat diduga lebih dahulu pada waktu perikatan timbul
2. Kerugian yg merupakan akibat langsung dan seketika dari wanprestasi.
Teori sebab akibat :
- teori conditio sine quanon : bahwa akibat dapat ditimbulkan oleh rangkaian peristiwa yg merupakan sebab dari akibat itu
- teori Adequat : bahwa suatu peristiwa dapat menjadi sebab
untuk timbulnya akibat apabila peristiwa itu menurut pengalaman manusia normal memang dapat menimbulkan akibat
Pembatasan2 terhadap kerugian
1. Kerugian hrs dapat diduga terlebih dahulu dan merupakan akibat langsung dari wanprestasi. Syarat ini akan hapus jika ada
kesengajaan dari D
2. Apabila kerugian yg timbul disebabkan oleh wanprestasi dan juga kesalahan dari K, D hanya wajib mengganti kerugian sebagian
3. Kerugian wajib untuk membatasi kerugian itu sepanjang dimungkinkan dan dapat patut diharapkan daripadanya