Wisuda pertama dan kegundahannya
Setelah lulus dari madrasah tsanawiyah, sebagian dari teman-temanku memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah lain, aku pun tadinya mau begitu. Tapi apa daya aku tidak mampu menolak keinginan orang tuaku untuk melanjutkan belajar di tempat yang saya. Niat besar hati ingin keluar, merasakan udara bebas tanpa ada kekurangan dari pihak manapun karena sudah terlalu bosan akan situasi dan keadaaan yang ada. Terlalu banyak tekanan, pergi kesana kemari wajib iin dan dibatasi, makan dibatasi, jajan juga dibatasi. Belajar dari fajar hingga gelap tiba da diatur sedemikian rupa.
“Mah, pak mpih mau kanjut ke sekolah SMK aja ya” bujuk aku memelas
Duh, sayang pih kalau Smp gini ilmu agamanya tanggung, lanjut aja dulu ya tiga tahun sampai lulus sma. Bujuknya dengan penuh harap
T, t, tapiiiii...
Udah sabar dulu aja, jawabnya singkat tanpa memberikan ruang bicara padaku sedikitpun. Padahal aku ingin mengungkapkan segala unek-unek dalam hati yang lama tersimpan dan tak tersampaikan. Tuhan ingin rasanya kabur dari sini, tapi aku tidak berani hanya berusaha taat pada orang tua walau hati terus saja memberontak tanpa ampun.
Perdebatan terus terjadi, begitu juga dengan kawan sejawat yang mendapatkan nasib serupa. Hati ingin bersekolah diluar dan tidak direstui.
Kami mencoba untuk saling menguatkan dan mengambil jalan tengah terbaik. Menangis dan bercerita segala keluh kesah menjadi salah satu cara andalan untuk menghilangkan kegundahan hati. Bahkan ada kawanku yang ingin melanjutkan untuk dipondok dan anehnya tidak diizinkan, bertapa peliknya hidup ini sedangkan kai sebaliknya.
Huft, keluhku tak ada harap
Yaudahlah mau gimana lagi, tapi kita janjinya harus sama-sama sampai akhir nanti wisuda. Ujar salah seorang temanku yang bernasib sama dan saling menguatkan.
Kami berpelukan untuk sekedar menenangkan, kemudian berpikir positif mungkin ini memang jalan terbaik dari sang penguasa alam semesta. Kita sebagai manusia hanya memiliki rencana tentang eksekusinya bagaimana kehendak tuhan dan sebagai manusia harus yakin dan berserah diri kepadanya agar segala urusan dimudahkan.
Padahal aku sadar saat ini bahwa ilmu pengetahuan umum itu tidak kalah pentingnya dengan ilmu agama, menyesal sudah pasti tapi untuk apa?
Semua sudah terjadi. Berlarut-larut dalam sepi memikirkan untuk mengulang kembali waktu mustahil terjadi. Penyesalan memang datang diakhir peristiwa itu terjadi, tapi dari hal ini aku belajar untuk tidak menyia-nyiakan waktu, untuk terus memaksimalkan kesempatan yang ada, dan totalitas dalam segala hal yang mengharuskan hal tersebut.
Dalam acara wisuda itu aku diberikan kesempatan untuk maju kedepan untuk melakukan musabaqah tilawatil quran dengan beberapa kawan lainnya. Aku gugup, demam panggung panas dingin sekujur tubuhku karena takut tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ustad dan ustadzah bahkan audiens yang hadir dikala itu. Benar saja hari itu aku tidak bisa menjawab pertanyaannya aku sangat ingat salah satu santri menyanyikan satu ayat yang sulit pada QS Al-Baqarah : 225 Tentang pernikahan wanita beriman dengan lelaki beriman, perempuan musyrik dengan lelaki musyrik dan larangan lelaki beriman tidak boleh menikahi perempuan musyrik begitupun sebaliknya. aku diam berusaha mengingat ayat tersebut tapi rasanya sulit sekali, dan aku menyerah, ingin menangis kala itu juga dan sedikit kesal kenapa dia bertanya hal yang sulit sekali, aku menangis dalam hati. Dan tidak sadar mataku meneteskan air mata segera dicegah sebelum membasahi pipiku ini. Tidak hanya aku yang lain pun
begitu ada beberapa pertanyaan yang sulit dijawab tapi bedanya mereka cukup rileks tidak dengan aku yang selalu tegang dan takut salah. Salah satu ustadzah mengakhiri MtQ dan mempersilahkan kami untuk turun dari panggung. Kami bergegas turun gak sabaran terutama aku, kemudian mencari-cari dimana ibuku duduk kemudian aku memeluknya dan meminta maaf karena belum bisa melakukan yang terbaik sambil sesenggukan menangis dan sebenarnya aku malu hihi. Aku memeluknya dengan erat. Tapi ibuku meminta untuk segera menghentikan tangis, nanti aja panasnya kalau sudah wisuda sekarang simpan dulu. Malu loh dilihat teman-teman kamu.
Jawab ibu sambil bergurau dna terkekeh melihat anaknya yang kian besar tapi tetap saja selalu rapuh di pangkuan ibu, mengungkapkan segala hati yang lara.
Tiba saatnya acara wisuda satu persatu dipanggil maju kedepan dengan prestasi yang dimilikinya tidak terkecuali aku dan beberapa temanku yang memiliki prestasi dibidang akademik yang cukup baik, kami mendapatkan beberapa apresiasi berupa hadiah dan biaya pendidikan. Rasa bahagia bercampur haru turut menyertai lubuk hati wisudawan dan wisudawati.
Setelah berpeluh keringat, menahan ego untuk tidak malas dalam mengerjakan tugas akhir sebegitu banyaknya, kalau memang hasilnya tidak begitu memuaskan terutama hasil nilai ujian ku terutama untuk pelajaran berbasis ilmu pengetahuan umum, parah parah banget ya karena memang aku kurang tertarik untuk mempelajari matematika dan bahasa Inggris hehehe. Tapi ada satu hal menarik yang ingin aku sampaikan bahwa nilai keagamaan ku bisa dibilang cukup baik, alhamdulillah. Pikirku waktu itu setidaknya ada salah satu yang bisa dibanggakan.
Prosesi wisuda sudah berakhir dilanjutkan dengan foto bersama petinggi pondok. Berfoto dengan gaya formal, mengangkat medali, foto gaya bebas bahkan gaya jempol ikut serta. Setelah itu kami dipersilahkan untuk foto bersama sesuai keinginan masing-masing. Aku berfoto dengan beberapa teman dekat ku di pondok terhitung puluhan foto yang tercapture sebagai
kenangan kami di masa depan agar selalu ingat akan perjuangan dan juga drama konflik yang terjadi sebelum acara kelulusan. Tak lupa aku berfoto dengan keluarga, beberapa asatidzah dan adik kelas. Rasa senang, bahagia, sedih juga karena akan berpisah dengan beberapa teman sebab sekolah yang berbeda.
Terjun bebas dan berjalan tanpa arah
Sebuah ironi bukan? Maja terjun payung disini menggambarkan saya yang kebingungan dalam melaksanakan birokrasi organisasi kesiswaan yang cukup rumit dan pabaliut.memasuki jenjang aliyah tentulah sangat berbeda dengan sebelumnya sungguh berbeda sekali belum lagi ditambah dengan tugas akhir yang luar biasa.
Menjadi sebuah kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab bukan hanya aku tapi seluruh santri aliyah akan bergantian memegang jabatan kepemimpinan. Tahun ini merupakan tahun pertamaku untuk bergabung sebagai anggota salah satu staf yaitu minat dan bakat yang mana ketika classmeet nanti tentulah angkatan aku yang memegang kendali acara tersebut, sudah menjadi tradisi setiap tahun pada semester genap dilaksanakan Classmeeting semacam perlombaan atas kelas, diadakan setelah Ujian Tengah semester Genap.
Akun resmi terpilih menjadi sekretaris yang diketuai oleh salah seorang teman ku, dengan segenap usaha kami bersama tim menyusun sega konsep acara. Mulai dari rapat ke rapat, untuk waktu rapat sangat fleksibel dan kebetulan panitia diserahkan kepada angkatanku, jika tidak ada ustad yang mengajar kita manfaatkan untuk rapat atau jika satu hari full tidak ada waktu luang rapat dilaksanakan setelah pulang sekolah atau pada jam istirahat.
Tidak boleh mengeluh sudah menjadi larangan pasti bagi panitia karena sudah diberikan tugas khusus dan harus menuntaskannya.
Dimulai dengan rancangan konsep acara, temanya akan seperti apa, kapan waktu dan tempatnya kemudian dilanjutkan dengan penentuan lomba apa saja yang akan digelar nanti serta teknis dari perlombaan tersebut, sejauh ini belum ada masalah yang terlalu serius, semua masih aman terkendali. Tapi sepekan kemudian mulai banyak masalah kecil hingga besar yang menghampiri, bahkan ketua pelaksananya pu ikut merengek enggan menjalankan tugas yang tinggal seujung jari, banyak santri yang iin dan beralasan enggan ikut acara tersebut, masalah pendanaan dan yang lainnya.
Hal itu memang lumrah terjadi tapi yang membuatku sangat gusar adalah perilaku ketua pelaksana itu, hanya mau bekerja semaunya dimintai tolong ini-itu yang sudah menjadi tugasnya dia enggan melakukan. Sampai terjadi perdebatan kecil di antara kami, saling adu mulut, adu siapa yang paling banyak mengerjakan, beradu siapa yang paling lelah, aku mengalah dan menangis karena tidak bisa lagi marah. Kesal? Ya pasti! Siapa lagi yang kan mengajukan permohonan ini selain ketua, memang itu tugas ketua mengkoordinasikan informasi acara kepada petinggi pondok. Sehari-dua hari kami saling diam tak bertanya sedikit pun, menyapa pun tidak. Ketua marah kepadaku begitu pun aku. Beberapa teman menenangkan dan meminta untuk profesional dan menyelesaikan apa-apa yang sudah dimulai. Kami berbaikan walau tak ikhlas hanya demi menyelesaikan acara ini.
Hari itu datang dengan cerianya berikut matahari cerah dan langit biru ikut menyertai. Suara riuh ramai santri, memeriahkan acara. Suara ketukan tiga kali MIC pertanda acara resmi dibuka suara tepukan tangan memenuhi lapangan kali itu semua bersorak senang, pertama karena baru saja selesai Ujian Tengah Semester, Kedua setelah acara ini pertanda akan pulang ke rumah beberapa hari dan yang ketiga boleh mendengarkan musik dari speaker. Di pondok saya dulu mendengarkan musik hanya dimainkan pada acara-acara tertentu itupun musik nasyid selebihnya musik tentang perjuangan, dan lagu pengiring beladiri.
Opening berjalan lancar, berikut juga dengan lomba lainnya, semua panitia dan termasuk ketua yang nyeleneh itu ikut andil mensukseskan acara.
Pembagian hadiah berupa snack dan beberapa plakat menjadi penutup.
Acara selesai dan sukses dilaksanakan. Ucap syukur Alhamdulillah pada yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan limpahan kasih sayangnya.
Setelah acara selesai aku bergegas menghampiri fahri aku meminta maaf kepadanya karena kemarin sudah terlalu keras, juga perkataanku yang kurang baik dan berterimakasih karena sejauh ini sudah banyak membantu, jawabnya singkat iya dan hanya mengangguk, “ada lagi yang mau disampein?” tanyanya malas. Aku menggeleng dan protes dalam hati berharap dia mengucapkan kembali apa yang aku sampaikan. nyatanya tidak aku salah besar, dasar cowok dingin ga punya hati. Rasanya seperti terjun bebas dari jurang-jurang harapan yang tinggi, besok-besok aku tidak akan bersikap seperti ini lagi aku berdoa serius dan memohon dengan amat sangat.
Mau tau apa yang terjadi setelah ini antara kami berdua? Tetap saya dia tidak berbicara sedikitpun kepadaku, raut wajahnya masih sma ketika dia marah pertama kalinya waktu itu, tidak ada sedikitpun senyuman yang tersirat di wajahnya. Aku bertanya lagi yang kemarin salah itu memangnya siapa? Justru harusnya aku dong yang marah besar? Keluhku dalam hati.
Cukup lama dia bersikap seperti itu hampir satu semester kalau tidak salah, tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi toh sudah terjadi.
Dan hari ini fahri adalah salah satu teman terbaikku hahaha, kami menjadi sahabat dan jika bertemu dengannya dan mengingat masa itu kami tertawa terbahak-bahak dan menceritakan sudut pandang kai masing-masing akan hal itu. Semua bisa dijadikan pelajaran untuk selalu teliti dalam bertindak, menuntaskan tanggung jawab, dan berani ambil sikap atas perbuatan yang kita lakukan positif atau negatif. Pada saat itu kami memang terlalu dini untuk mengendalikan masalah terlalu berambisi dan emosi.
Pada tahun selanjutnya tugas dan tanggung jawab diorganisasi kian berganti, satu angkatan yang telah melaporkan pertanggungjawabannya di depan masyarakat pondok sudah selesai. Dilanjutkan dengan angkatan selanjutnya aku berdoa untuk tidak satu staff dengan fahri, alhamdulillah terkabulkan. Jangan harap kali ini akan lebih mudah justru sebaliknya. kian hari kian sulit bisa tidak dibarengi rasa syukur dan mawas diri. Dituntut harus percaya diri menggagas ide-ide kreatif dan inovatif. Mungkin untuk kali ini lebih santai dalam menghadapi situasi dan kondisi sudah bisa mengendalikan emosi walau masih dini. Bisa menyampaikan dengan baik hal-hal yang harus diselesaikan dengan segera. Banyak sekali pelajaran yang didapatkan ketika berorganisasi mulai dari negosiasi baik dengan teman sejawat, kakak kelas, ustad bahkan orang lain yang belum dikenal. Pelajaran dari pengalaman adalah hal terbaik yang tidak bisa dilupakan. Pelajaran penuh arti tanpa teori yang mendewasakan diri. Praktek lapangan secara langsung tanpa dan merasakan hal positif negatifnya serta bisa mengambil kesimpulan dari sudut pandang masing-masing.
Di Tahun ketiga dan merupakan tahun terakhir, tak disangka juga tak mau aku menjadi seperti ini. kai ini diberikan tanggung jawab yang cukup besar, jujur aku tak mampu, tida berkuasa, tidak pandai dan bukan orang yang tepat untuk dijadikan sebagai pemimpin. Takut, itu pasti. Berharap yang lain menjadi pemimpin sedangkan aku membantu jalannya kepemimpinan.
Sungguh berat sekali rasanya jika dijalankan seorang diri tanpa bantuan staf dan tim yang kooperatif aku tidak mana mungkin bisa menjalankannya sejauh ini.
Keluhku pada sang illahi rabbi, tentang kegundahan untuk bertanggung jawab atas hal ini. meminta diberikan petunjuk dan tim yang solid untuk mengemban amanah ini satu tahun kedepan hingga pada saatnya waktu wisuda. Karena jujur di akhir masa sekolah ini banyak sekali tugas akhir yang harus diselesaikan seperti perkataanku diawal. Untuk sebuah organisasi dimanapun dan siapapun orangnya pastilah tidak berjalan mulus ada saja
hal-hal yang kurang lebih harus diperbaiki, karena untuk menyatukan pikiran banyak orang tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu adanya seni komunikasi yang kompulsif. Organisasi merupakan sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama dalam melakukan sesuatu.
Laporan pertanggung jawaban sudah diserahkan, tugas akhir seperti karya tulis sudah diuji dengan sidang munaqasyah dan harus direvisi beberapa babnya, laporan-laporan lain sedikit-demi sedikit tuntas dengan sendirinya.
Maksudku tuntas dengan dikerjakan walau terlambat. Ujian akhir berupa ujian nasional dan ujian pondok juga telah selesai walau hasilnya belum terlihat. Debaran hati tak terindahkan takut-takut nilai buruk yang datang, semua bisa ditepis aku juga rekan yang lain berusaha optimis karena usaha tidak akan menghianati hasil. Nilai yang buruk bukan akhir dari segalanya tapi nilai yang baik justru lebih bagus dan mengantarkan kepada hal-hal baik lainnya.
Aula pondok didesain sedemikian rupa, diberikan backdrop bertuliskan AKSARA (Acara Kelulusan dan Semarak Ramadhan) dengan cantikan berhiaskan balon-balon cantik nan indah serta di bagian atasnya bertuliskan HAPPY GRADUATION dengan balon foil berwarna keemasan. Acara wisuda telah selesai dilaksanakan, masa sekolah di pondok juga sudah tuntas, kami berbahagia menyambut dengan suka cita bercampurkan sedih karena berpisah dengan kawan. Masing-masing memilih jalan yang berbeda dalam menentukan tempat kuliah, bekerja, atau menikah. Diakhiri dengan foto bersama setelah itu kami pulang kerumah masing-masing membawa medali wisudah beserta penghargaan lain yang didapat semasa sekolah.
Sebuah perjalanan
Dibalik kesuksesan seseorang pasti ada satu dua hal yang mentriger dia untuk lebih keras dalam berusaha. Sebut saja keadaan, kondisi, dan situasi yang merubah pola pikir saya, serta merubah jalan hidup saya. Tidak ada sosok yang spesifik beberapa hanya mengantarkan saja untuk merubah jalan hidup. Sejatinya hidup akan lebih bermakna jika kita sadar, menyadari bahwa hidup yang stagnan tidak bertahan lama. Serupa halnya dengan air yang mengalir dan air yang diam ditempat. Air yang mengalir akan menemukan banyak hal hal menarik dan ya akan kembali jernih sedangkan air yang diam ditempat sehari dua hari masih tetap sama memang rasanya, warnanya, dan tampilannya tapi untuk jangka waktu yang panjang apakah tetap sama? Tentu tidak air yang diam akan berubah warna, rasa dan baunya. Tidak kembali jernih dan menyegarkan bagi siapa yang mengambilnya.
Setiap makhluk harus bertumbuh dan berkembang sejatinya memang begitu bahkan kita sedari bayi mengalami pertumbuhan sejak dalam buaian sampai menjadi tuan-puan penikmat dunia.
Saat keadaan genting, langit pun ikut mendung, hati dirundung pilu sebab tida ada lagi yang ingin mendengarkan keluh kesahku. sahabat?
Teman sejawat? aku tidak sanggup menceritakannya atau bahkan keluarga?
mereka menolak halus. Aku menyinggung sedikit tentang kuliah aku juga yang enggan menceritakannya lagi. Berjuang mendaftar ke sana kemari dengan uang saku hasil mengabdi Sisa uang tiga ratus ribu aku siapkan untuk mendaftarkan diri. hari itu hati terkahir pendaftaran online, aku menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat dadakan, tanpa persiapan yang matang. Beberpa bmemang sudah ada ditangan karna sebelumnya aku mendaftar tapi tertolak kini sisanya menyiapkan video portofolio sebagai syarat pelengkap pendaftaran, aku memberanilan diri bismillah. Semua kuserahkan pada yang maha Kuasa. Siang malam aku berdoa bersikud denganeminta yang terbaik di minggu pertama sebelum aku ditolak, aku
menangis terisak setelah membaca email dari pihak terkait kalau aku belum bisa menjadi salah satu bagian dari mereka. mataku sembab, sebab tak ada tempat berpijak, ibuku tak peduli. ya beliau memang cuek tak pernah menunjukkan sayangnya dihadapanku tidak tahu kalau aku pergi mungkin sebaliknya, memberanikan diri untuk mengisi portofolio pendaftaran dengan selengkap mungkin, aku cantumkan link video serta mengupload beberapa berkas dalam bentuk pdf, sebagai salah satu persyaratan. Sudah pasrah dan tidak banyak berharap lolos alhamdulillah tidak pun alhamdulillah.
Malam itu ditengah keterbatasn diri, mala teralkhir pula pendaftran dan besok akan ditutup. Tapat pukul 23.00 semua berkas sudah terkirim, aku bernapas lega bergegas kekamar mandi untuk sikat gigi dan melanjutkan tidur untuk hari esok yang lebih cerah lagi.
Sebelum mendaftar ke kampus ini bulan-bulan sebelumnya bahlkan semenja wisuda 2019 lalu aku bersama yang lain juga mengisi formulir melalui pendaftararan lain dikampus yang lain dan hasilnya belum dizinkan untuk berkuliah, kemudian salah seorang ustad meminta kami kurang lebih tiga orang teman seangkatanku untuk mengabdi di pondok selama setahun.
Kami meng-iyakan dan menjalani masa pengabdian. Suka duka pasti ada dan bahkan lebih banyak dari sebelumnya karena peristiwa tersebut proses pendewasaan diri unutk menghadapi dunia dikemudian hari.
10 september 2020 adalah pengumuman kelulusan mahasiswa di kampus tersebut yang bisa diakses pada web kampus, takut, cemas dan dag-dig dug sampai aku tak berani membuka smartphone pastilah disana banyak kawanku yang menanyakan atau bahakan banyak juga yang lolos.
Tepat pukul empat baru saja turun hujan suara nya cukup besar terkadang membuatku bergidik takut ditambah lagi dengan pengumuman kelulusan.