C Muiara Khazanah Islam
2. Śalat-śalat Sunnah Munfarīd
Śalat sunnah munfarīd adalah Śalat yang dilaksanakan secara individu atau sendiri. Adapun śalat sunnah yang dilaksanakan secara munfarīd adalah sebagai berikut:
a. Śalat Rawāib
b. Śalat Tahiyyatul Masjid c. Śalat Isikhārah
Akivitas siswa :
a. Bacalah ketentuan dan tata cara śalat-śalat sunnah munfarīd.
b. Secara berkelompok, lakukan laihan secara berganian sampai dapat memprakikkannya dengan sempurna.
a. Śalat Rawāib
Rawāib berasal dari kata rat’bah, yang arinya tetap, menyertai, atau
terus menerus. Dengan demikian śalat sunnahrawāib adalah śalat yang dilaksanakan menyertai atau mengiringi śalatfar«u, baik sebelum maupun sesudahnya.
Diinjau dari segi hukumnya, śalat rawaib ini terbagi menjadi dua macam, yaitu: Śalat rawāib mu`akkadah dan śalat rawāib gairu
mu`akkad.
1) Śalat rawāib mu`akadah (śalat rawāib yang sangat dianjurkan). Adapun yang merupakan śalat rawāib mu`akkadah yaitu:
• Dua rakaat sebelum śalat Zuhur • Dua rakaat sesudah śalat Zuhur • Dua rakaat sesudah śalat Magrib • Dua rakaat sesudah śalat Isya’ • Dua rakaat sebelum śalat Subuh.
2) Śalat rawāib gairu mu`akkadah (śalat rawāib yang cukup dianjurkan untuk dikerjakan). Adapun yang merupakan śalat sunnah rawāib gairu
mu`akkadah yaitu:
• Dua rakaat sebelum Zuhur (selain dua rakaat yang mu`akkadah) • Dua rakaat sesudah Zuhur (selain dua rakaat yang mu`akkadah) • Empat rakaat sebelum Asar
• Dua rakaat sebelum Magrib.
Jika diinjau dari segi pelaksanaannya, śalat rawāib ini terbagi menjadi dua yaitu :
1. qabliyyah (dikerjakan sebelum śalatfar«u), dan 2. ba’diyyah (dikerjakan setelah śalatfar«u).
Adapun tata cara melaksanakan śalat sunnah rawāib sebagai berikut: 1. Niat menurut waktunya.
2. Dikerjakan idak didahului dengan azan dan iqamah.
3. Śalatsunnahrawaib ini dilaksanakan secara munfarīd (sendirian). 4. Bila lebih dari dua rakaat gunakan satu salam seiap dua rakaat. 5. Membaca dengan suara yang idak dinyaringkan seperi pada saat
melaksanakan śalat Zuhur dan śalat Asar.
6. Śalat dikerjakan dengan posisi berdiri. Jika idak mampu boleh dengan duduk, atau jika masih idak mampu boleh berbaring. 7. Sebaiknya berpindah sedikit dari tempat śalat far«u tetapi tetap
menghadap kiblat.
Contoh tata cara melaksanakan śalat rawāib qabliyyah Zuhur : 1. Berniat śalat rawāib qabliyyah Zuhur
Niat śalat harus dilakukan dengan ikhlas di dalam hai. Jika diucapkan maka bunyi niatnya adalah :
Arinya : “Saya berniat śalat qabliyyah Zuhur dua rakaat karena
Allah Ta’ala.”
2. Takbirātul ihrām
3. Śalat dua rakaat seperi tata cara Śalat pada umumnya. 4. Salam.
b. Śalat Tahiyyatul Masjid
Śalat tahiyyatul masjid adalah śalat sunnah yang dilaksanakan untuk menghormai masjid. Śalat ini disunnahkan bagi seiap muslim keika
memasuki masjid. Śalatsunnah ini merupakan rangkaian adab memasuki masjid.
Pada saat kita hendak masuk ke masjid, disunnahkan untuk mendahulukan kaki kanan seraya berdoa :
Arinya : “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan bukakanlah pintu
rahmat-Mu untukku”.
Jika kita sudah masuk ke dalam masjid, hendaklah sebelum duduk kita mengerjakan śalat sunnah dua rakaat. Adapun tata caranya sebagai berikut :
1) Berniat śalat tahiyyatul masjid. Niat śalat harus dilakukan dengan ikhlas di dalam hai. Bunyi niatnya kalau diucapkan sebagai berikut :
Arinya : “Saya berniat śalat sunnah tahiyyatul masjid dua rakaat
karena Allah ta’ala. Allahu Akbar.”
2) Setelah berniat dilanjutkan dengan takbiratul ihrām, membaca doa
ititāh, surahal-Fāihah, dan seterusnya sampai salam.
Cukup mudah, bukan? Saatnya kalian untuk berlaih mengamalkan ibadah-ibadah sunnah. Śalat tahiyyatul masjid ini merupakan salah satu bentuk ibadah sunnah yang idak sulit untuk dilaksanakan.
c. Śalat Isikhārah
Śalat isikhārah adalah śalat dengan maksud untuk memohon petunjuk Allah Swt. dalam menentukan pilihan terbaik di antara dua pilihan atau lebih. Śalat isikharah sebenarnya hampir sama dengan śalat hajat. Bedanya kalau śalat isikharah tertuju pada suatu keinginan atau cita-cita yang sudah nampak adanya, tetapi masih ragu-ragu dalam menentukan pilihannya. Sedangkan śalat hajat tertuju pada sebuah keinginan yang belum kelihatan akhir dan tujuannya.
Waktu yang terbaik dalam melaksanakan śalat isikhārah ini adalah saat mulai pertengahan malam yang akhir, sebagaimana waktu śalat tahajjud. Śalat isikhārah dikerjakan sebagaimana śalat biasa dan setelah selesai śalat dilanjutkan dengan membaca doa isikharah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah.
Śalat isikhārah hukumnya adalah sunnah mu`akkadah bagi orang yang sedang membutuhkan untuk menentukan pilihan. Adapun tata cara melaksanakan śalat isikhārah sebagai berikut :
1) Bangun pada waktu pertengahan malam dan berwu«u.
2) Melaksanakan śalat isikhārah dengan diawali niat. Niat śalat harus dilakukan dengan ikhlas di dalam hai. Adapun bunyi niatnya jika diucapkan sebagai berikut:
Arinya : “ Saya berniat śalat sunnah isikhārah dua rakaat karena
Allah Ta’ala.”
3) Pada rakaat pertama setelah membaca surah al-Fāihah kemudian membaca surah al-Kāirun. Bacaan surah al-Kāirun boleh lebih dari satu kali, yakni iga, tujuh, atau sepuluh kali.
4) Pada rakaat kedua setelah membaca surah al-Fāihah kemudian membaca surah al-Ikhlās. Bacaan surahal-Ikhlās boleh lebih dari satu kali, yakni iga, tujuh, atau sepuluh kali.
5) Setelah śalat dua rakaat, dilanjutkan dengan membaca doa isikhārah yang diajarkan Nabi Muhammad saw. sebagai berikut :
Arinya : “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikan dalam urusanku dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kepasian dengan kudrat- Mu. Aku memohon keutamaan-Mu Yang agung, Bahwasannya Engkau Maha Kuasa, sedangkan aku idak berdaya. Engkau mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, engkau mengetahui segala hajatku berupa..., jika
itu baik bagiku dalam agama dan kehidupanku serta dampaknya di dunia
dan akhirat, maka jadikanlah ia untukku, berkailah dalam meraihnya, serta mudahkan ia untukku. Engkaupun mengetahui jika urusan ini buruk
bagiku, baik dalam urusan agamaku, kehidupanku dan dampaknya di
dunia dan akhirat, maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya, kemudian tetapkanlah kebaikan untukku di mana saja aku berada. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala perkara, kemudian Engkau