BAB VIII HUKUM ASURANSI
A. Pengertian Asuransi Syariah
BAB X
ASURANSI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
A. Pengertian Asuransi Syariah
Pengertian asuransi dalam konteks perusahaan asuransi menurut syariah atau asuransi Islam secara umum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan asuransi konvensional. Diantara keduanya, baik asuransi konvensional maupun asuransi syariah mempunyai persamaan yaitu perusahaan asuransi hanya berfungsi sebagai fasilitator hubungan struktural antara peserta penyetor premi (penanggung) dengan peserta penerima pembayaran klaim (tertanggung).
Secara umum asuransi Islam atau sering diistilahkan dengan takaful dapat digambarkan sebagai asuransi yang prinsip operasionalnya didasarkan pada syariat Islam dengan mengacu kepada Al-‐Qur’an dan As-‐Sunnah.
Dalam menerjemahkan istilah asuransi ke dalam konteks asuransi Islam terdapat beberapa istilah, antara lain “Takaful” (bahasa Arab), ta’min (bahasa Arab) dan Islamic Insurance (bahasa Inggris).
Istilah-‐istilah tersebut pada dasarnya tidak berbeda satu sama lain yang mengandung makna pertanggungan atau saling menanggung.
Namun dalam praktiknya istilah yang paling popular dipergunakan sebagai istilah lain dari asuransi dan juga paling banyak dipergunakan di beberapa Negara termasuk Indonesia adalah istilah takaful. Istilah takaful ini pertama kali dipergunakan oleh Dar Al Mal Al Islam, sebuah perusahaan asuransi Islam di Geneva yang berdiri pada tahun 1983.
Istilah takaful dalam bahasa Arab berasal dari kata dasar kafala-yakfulu-takafala-yatakafalu-takaful yang berarti saling menanggung atau menanggung bersama. Kata takaful tidak dijumpai dalam Al-‐Qur’an, namun demikian ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti misalnya dalam QS. Thaha (20):40 “…hal adullukum ‘ala man yakfuluhu…” yang artinya”… bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?...
B. Landasan Hukum Asuransi Syariah
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa hukum-‐
hukum muamalah adalah bersifat terbuka, artinya Allah SWT, dalam Al-‐Qur’an, dalam Al-‐Qur’an hanya memberikan aturan yang bersifat garis besarnya saja. Selebihnya adalah terbuka bagi mujtahid untuk mengembangkannya melalui pemikirannya selama tidak bertentangan dengan Al-‐Qur’an dan hadits. Al-‐Qur’an maupun hadits tidak menyebutkan secara nyata apa dan bagaimana berasuransi.
Namun bukan berarti bahwa asuransi hukumnya adalah haram
karena ternyata dalam hukum Islam memuat substansi perasuransian secara Islam.
Dari segi hukum positif, hingga saat ini asuransi syariah masih mendasarkan legalitasnya pada UU No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian yang sebenarnya kurang mengakomodasi asuransi syariah di Indonesia karena tidak mengatur mengenai keberadaan asuransi berdasarkan prinsip syariah. Dengan kata lain, UU No. 2 Tahun 1992 tidak dapat dijadikan landasan hukum yang kuat bagi asuransi syariah.
Dalam menjalankan usahanya, perusahaan asuransi dan reasuransi syariah masih menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia yaitu Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 21/DSN-‐
MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah. Fatwa tersebut dikeluarkan karena regulasi yang ada tidak dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan asuransi syariah. Fatwa dari Dewan Syariah Nasional MUI tidak mempunyai kekuatan hukum dalam hukum nasional karena tidak termasuk dalam jenis peraturan perundang-‐undangan di Indonesia. Agar ketentuan dalam Fatwa DSN MUI tersebut memiliki kekuatan hukum, maka perlu dibentuk peraturan perundang-‐undangan yang berkaitan dengan pedoman asuransi syariah.
Adapun peraturan perundang-‐undangan yang telah dikeluarkan pemerintah berkaitan dengan asuransi syariah:
1. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 246/KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Peraturan inilah yang dapat dijadikan dasar untuk mendirikan asuransi syariah sebagaimana ketentuan dalam Pasal 3 yang
menyebutkan bahwa “setiap pihak dapat melakukan usaha asuransi atau usaha reasuransi berdasarkan prinsip syariah”.
2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal 15-‐
18 mengenai kekayaan yang diperkenankan harus dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.
3. Keputusan Direktur Jenderal Keuangan Nomor Kep.
4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan sistem syariah.
C. Prinsip-Prinsip Asuransi Syariah
Prinsip utama dalam asuransi syariah adalah ta’awanu ‘ala al birr wa al-taqwa (tolong-‐menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa) dan al-ta’min (rasa aman). Prinsip ini menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga yang besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung risiko.
Hal ini disebabkan transaksi yang dibuat dalam asuransi takaful adalah akad takafuli (saling menanggung), bukan akad tabaduli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan.
Para pakar ekonomi Islam mengemukakan bahwa asuransi syariah atau asuransi takaful ditegakkan atas tiga prinsip utama, yaitu:
1. Saling bertanggung jawab, yang berarti para peserta asuransi takaful memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk
membantu dan menolong peserta lain yang mengalami musibah atau kerugian dengan niat ikhlas, karena memikul tanggung jawab dengan ikhlas adalah ibadah. Hal ini dapat diperhatikan dalam hadits-‐hadits berikut:
“maksud hadits:
Kedudukan hubungan persaudaraan dan perasaan orang-‐orang beriman antara satu dengan lain seperti satu tubuh (jasad) apabila satu dari anggotanya tidak sehat, maka akan berpengaruh kepada seluruh tubuh” (HR. Bukhari dan Muslim)
“maksud hadits:
Seorang mukmin dengan mukmin yang lain (dalam suatu masyarakat) seperti sebuah bangunan di mana tiap-‐tiap dalam bangunan itu mengukuhkan bagian-‐bagian yang lain” (HR.
Bukhari dan Muslim).
2. Saling bekerja sama atau saling membantu, yang artinya diantara para peserta asuransi takaful yang satu dengan lainnya saling bekerja sama dan saling tolong-‐menolong dalam mengatasi kesulitan yang dialami karena sebab musibah yang diderita. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. al-‐Maidah ayat 2 yang artinya “Bekerja samalah kamu pada perkara-‐perkara kebajikan dan takwa, dan jagan bekerjasama dalam perkara-‐
perkara dosa dan permusuhan”.
Hadits juga membicarakan perkara seperti ini, diantaranya yaitu:
“maksud hadits:
Sesiapa yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
3. Saling melindungi penderitaan satu sama lain, yang berarti bahwa para peserta asuransi takaful akan berperan sebagai pelindung bagi peserta lain yang mengalami gangguan keselamatan berupa musibah yang dideritanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Quraisy ayat 4 yang artinya: “(Allah) yang telah menyediakan makanan untuk menghilangkan bahaya kelaparan dan menyelamatkan atau mengamankan mereka dari mara bahaya ketakutan.”
Firman Allah QS. al-‐Baqarah ayat 126 yang artinya: “Ketika Nabi Ibrahim berdo’a Ya Tuhanku, jadikan negeri ini aman dan selamat”.
Diantara sabda Rasulullah yang mengandung maksud perlunya saling melindungi adalah:
Maksud hadits:
“sesungguhnya seseorang yang beriman adalah sesiapa yang boleh memberi keselamatan dan perlindungan terhadap harta dan jiwa manusia" (HR. Ibnu Majah).
D. Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah
Dibandingkan asuransi konvensional, asuransi syariah memiliki perbedaan yang mendasar dalam beberapa hal, yaitu:
1. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam.
2. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-‐
menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang
lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tabaduli (jual beli antara nasabah dengan perusahaan).
3. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sector dengan sistem bunga.
4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.
5. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diiklaskan untuk keperluan tolong-‐menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.
6. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-‐apa.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir Muhammad, 2006, Hukum Asuransi Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung.
AM. Hasan Ali, 2004, Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam, Prenada Media, Jakarta