BAB II LANDASAN TEORI
C. Academic Self-Management pada Mahasiswa Asing Fakultas
Tujuan dari dunia pendidikan adalah menghasilkan orang-orang yang mampu untuk mengedukasi diri sendiri, sehingga pelajar harus mampu untuk mengatur hidup sendiri, mengatur tujuan, dan menyediakan penguat untuk diri sendiri. Kehidupan yang penuh dengan tugas-tugas menuntut dibutuhkannya kemampuan untuk melakukan self-management (Kanfer & Gaelick dalam Woolfolk, 2004).
Pola pengajaran di perguruan tinggi yang berbasis student-centered
memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar memanajemen diri sendiri (Dembo, 2004). Salah satu perguruan tinggi dengan peluang tersebut adalah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU berasal dari Indonesia dan luar Indonesia (mahasiswa asing). Mahasiswa asing yang berkuliah di negara lain tentunya akan mengalami penyesuaian akademis dikarenakan mereka dihadapkan dengan lingkungan belajar dan budaya belajar yang baru. Penyesuaian akademis digambarkan sebagai kesesuaian antara mahasiswa dengan lingkungan belajar terutama dalam hal gaya
belajar, kebiasaan belajar, latar belakang pendidikan, budaya, dan keahlian dalam berbahasa (Ramsay, Barker, & Jones, 1999).
Berdasarkan wawancara dengan beberapa mahasiswa asing, terlihat bahwa mahasiswa asing membeli kamus bahasa Indonesia, belajar berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan melengkapi referensi buku bacaan dengan membeli di luar negeri. Hal tersebut merupakan bagian dari perilaku mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU dalam menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang berlaku di perguruan tingginya.
Kunci utama bagi keberhasilan mahasiswa asing dalam dunia pendidikan adalah kemampuan memanajemen diri yang baik dikarenakan pelajar yang sukses akan mengatur diri sendiri atau mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, menciptakan kondisi yang optimal untuk belajar, dan menghilangkan rintangan yang dapat mengganggu proses belajar. Kemampuan tersebut dikenal dengan istilah academic self-management (Dembo, 2004).
Academic self-management adalah strategi-strategi yang digunakan pelajar untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar (Dembo, 2004). Strategi tersebut dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu strategi perilaku (manajemen waktu dan pengaturan lingkungan fisik dan sosial), strategi motivasi (menyusun tujuan dan meregulasi emosi dan usaha), dan strategi belajar cara belajar (belajar dari buku bacaan, belajar dari dosen, mempersiapkan diri untuk ujian dan menjalani ujian) (Dembo, 2004).
Mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU dikatakan menerapkan strategi perilaku ketika mereka mampu memanajemen waktu dan mengatur
lingkungan fisik dan sosial. Manajemen waktu yang baik tercermin dari bagaimana mahasiswa asing tersebut mampu memanfaatkan waktu yang ada secara efektif dan efisien, mereka sering memanfaatkan hari minggu untuk belajar bersama mahasiswa asing. Pengaturan lingkungan fisik dan sosial tercermin dari kemampuan mahasiswa asing dalam menentukan tempat belajar yang tepat, kapan waktunya untuk belajar sendiri atau dengan orang lain (Zimmerman & Risemberg, 1997). Mahasiswa asing membentuk suatu kelompok belajar yang seluruh anggotanya merupakan sesama mahasiswa asing dikarenakan kenyamanan dalam berkomunikasi.
Selain itu, mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU dikatakan menerapkan strategi motivasi ketika mereka menyusun tujuan belajar dan meregulasi emosi dan usaha. Tujuan belajar yang spesifik, proximal, dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi akan mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam belajar (Dembo, 2004). Mahasiswa asing dapat memanajemen emosi melalui self- talk, seperti memberikan kata-kata semangat kepada diri mereka ketika mereka menjumpai kendala di dalam proses belajar.
Terakhir, mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU dikatakan menerapkan strategi belajar cara belajar ketika mahasiswa asing tersebut mampu untuk menentukan strategi belajar seperti apa yang harus diterapkan ketika mereka dihadapkan dengan media belajar yang berbeda, misalnya : belajar dari buku, belajar dari dosen, mempersiapkan diri untuk ujian, dan menjalani ujian (Dembo, 2004). Mahasiswa asing mengeluarkan usaha lebih dalam mempersiapkan diri untuk ujian dikarenakan soal ujian mereka dalam bahasa
Indonesia dan bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak begitu familiar bagi mereka.
Salah satu faktor yang mempengaruhi academic self-management adalah faktor sosiokultural yaitu ancaman stereotype (Aronson dalam Dembo, 2004).
Aronson (2002) mengatakan bahwa ancaman stereotype dapat membuat pelajar berusaha lebih keras karena pelajar ingin membuktikan bahwa stereotype itu tidak tepat. Hal ini dapat memotivasi mahasiswa asing dalam melakukan academic self- management di dalam proses belajar.
Selain itu, kurikulum Fakultas Kedokteran USU yang berbasis pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menuntut mahasiswa untuk menjadi lebih mandiri (student-centered) di dalam proses belajar. Metode pembelajaran seperti pemutaran film, kuliah, problem based-learning (PBL), belajar mandiri, praktikum, dan skills-lab memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar memanajemen diri (MEU USU dalam Buku Panduan Mahasiswa, 2012).
Metode pembelajaran problem based-learning terkadang menuntut mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU untuk mampu bekerja sama dengan mahasiswa Indonesia dikarenakan mereka berada di dalam satu kelompok. Mahasiswa asing perlu menjaga motivasi belajar mereka ketika menjumpai kendala sewaktu bekerja sama dengan anggota kelompok lain. Perkuliahan dengan bahasa Indonesia membuat mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU belajar untuk memahami bahan kuliah dengan bertanya kepada mahasiswa Indonesia atau dosen.
Academic self-management sangat diperlukan pada mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU agar mereka mampu menghadapi beragam hambatan yang dijumpai di dalam proses belajar. Kebiasaan memanajemen diri dalam proses belajar bagi mahasiswa asing akan berdampak positif terhadap masa depan mahasiswa asing tersebut dikarenakan menurut Dembo (2004), banyak pelajar yang tidak menyadari pentingnya kemampuan memanajemen diri di masa depan.
Tujuan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran USU ialah mendidik mahasiswa melalui pengalaman belajar agar mempunyai pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku professional sebagai dokter umum yang dapat memberikan pelayanan terbaik bagi pasien. Agar tujuan itu dapat tercapai, mahasiswa asing Fakultas Kedokteran USU diharapkan memiliki academic self- management yang tinggi terutama dalam penerapan academic self-management
BAB II
LANDASAN TEORI
A.Academic Self-Management
1. Pengertian academic self-management
Tujuan dari dunia pendidikan adalah menghasilkan orang-orang yang mampu untuk mengedukasi diri sendiri, sehingga pelajar harus mampu untuk mengatur hidup sendiri, mengatur tujuan, dan menyediakan penguat untuk diri sendiri. Kehidupan yang penuh dengan tugas-tugas menuntut dibutuhkannya kemampuan untuk melakukan self-management (Kanfer & Gaelick dalam Woolfolk, 2004).
Salah satu kunci untuk menjadi pelajar yang sukses adalah manajemen diri. Pelajar yang sukses akan mengatur diri sendiri atau mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, menciptakan kondisi yang optimal untuk belajar, dan menghilangkan rintangan yang dapat mengganggu proses belajar (Dembo, 2004). Pelajar dengan self-management yang baik akan melihat pembelajaran akademik sebagai sesuatu yang pelajar lakukan untuk diri sendiri daripada sesuatu yang dilakukan oleh orang lain untuk pelajar (Zimmerman, 1998).
Menurut Woolfolk (2004), self-management adalah manajemen dari perilaku sendiri dan pengambilan tanggungjawab atas tindakan sendiri, serta penggunaan prinsip-prinsip belajar perilaku untuk mengubah perilaku. Pelajar membuat pilihan dan berhadapan dengan konsekuensi, menyusun tujuan dan
prioritas, memanajemen waktu, berkolaborasi dalam proses belajar, dan membangun hubungan yang dapat dipercaya dengan guru dan teman sekelas yang dapat dipercaya (Lewis, 2001; Rogers & Firierberg, 1994 dalam Woolfolk, 2004). Menurut Wong (2009), self-management adalah kemampuan untuk menggunakan strategi agar mampu berhadapan secara konstruktif dan efektif dengan variabel-variabel yang mempengaruhi kualitas dari kehidupan personal. Kemampuan ini mencakup manajemen waktu, motivasi, penyusunan tujuan, manajemen stress, konsentrasi, dan manajemen prokastinasi. Menurut Kanar (2011), self-management adalah kualitas personal dari disiplin diri atau kontrol diri. Orang-orang yang memanajemen diri dengan baik adalah orang-orang yang dapat memotivasi diri sendiri.
Menurut Dembo (2004), academic self-management adalah strategi- strategi yang digunakan pelajar-pelajar untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, yang meliputi strategi perilaku (manajemen waktu dan pengaturan lingkungan fisik dan sosial), strategi motivasi (menyusun tujuan dan meregulasi emosi dan usaha), dan strategi belajar cara belajar (belajar dari buku bacaan, belajar dari dosen, mempersiapkan diri untuk ujian, dan menjalani ujian).
Dapat disimpulkan bahwa academic self-management adalah strategi yang digunakan oleh pelajar secara sadar dan didasarkan atas rasa tanggung jawab, baik dalam perilaku tampak maupun tidak tampak, untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajarnya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi academic self-management
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi academic self-management
(Dembo, 2004) adalah :
a. Faktor personal dan sosiokultural
Faktor personal meliputi bagaimana pola belajar di tingkat pendidikan menengah atas dapat dibawa sampai masa kuliah, dan hal ini dapat mempengaruhi bagaimana motivasi, perilaku, dan kelangsungan studi pelajar (Dembo, 2004).
Faktor sosiokultural seperti level sosioekonomi, tingkat pendidikan orang tua, dan harapan orang tua dapat mempengaruhi motivasi dan perilaku pelajar, sebagai contoh : pelajar-pelajar yang merupakan generasi pertama dan etnis minoritas memiliki waktu yang sulit untuk menyesuaikan diri di masa kuliah daripada pelajar generasi kedua atau ketiga (Ratcliff dalam Dembo, 2004).
Sebuah fenomena menarik dari faktor ini adalah ancaman stereotype yang biasanya dialami oleh kelompok minoritas. Ancaman stereotype (Claude Steele (1999) dan Aronson (2002) dalam Dembo, 2004) adalah ketakutan akan melakukan sesuatu, yang secara tidak sengaja akan mengkonfirmasikan sebuah
stereotype. Aronson (2002) mengatakan bahwa ancaman stereotype dapat membuat pelajar berusaha lebih keras karena pelajar ingin membuktikan bahwa
stereotype itu tidak tepat. Pelajar yang lebih mudah terkena ancaman stereotype
biasanya peduli untuk melakukan yang terbaik, memiliki sense of attachment
terhadap kelompok gender atau etnis, memiliki harapan yang tinggi akan terjadinya diskriminasi di lingkungan, dan menganggap intelegensi adalah sesuatu yang stabil.
b. Faktor lingkungan kelas
Faktor di lingkungan kelas meliputi tugas yang diberikan (kuis dan tugas singkat (short assignment)), perilaku instruktur (dukungan yang diberikan kepada mahasiswa), dan metode instruksional (pembentukan kelompok belajar di dalam kelas baik sesama etnis atau dengan etnis lain, tutor) akan mempengaruhi bagaimana perilaku pelajar di dalam kelas. Bukan hanya lingkungan kelas yang mempengaruhi motivasi pelajar, melainkan tanggung jawab pelajar terhadap diri sendiri juga penting (Dembo, 2004).
c. Faktor internal
Faktor internal meliputi tujuan, kepercayaan, perasaan dan persepsi pelajar; yang akan berpengaruh terhadap motivasi di dalam melakukan academic self-management, misalnya jika pelajar menghargai sebuah tugas dan menganggap pelajar dapat menguasainya, maka pelajar cenderung menggunakan strategi belajar yang berbeda, berusaha lebih keras, dan bertahan sampai tugas terselesaikan (Dembo, 2004). Faktor internal terbagi atas :
i. Tujuan
Tujuan dapat mempengaruhi motivasi dalam 5 cara yaitu :
a) Usaha : semakin sulit tujuan yang disusun, semakin kuat usaha yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
b) Durasi atau keteguhan : durasi mempengaruhi konsentrasi pelajar untuk tidak mudah terdistraksi, terinterupsi dan berhenti bekerja ketika tugas belum selesai.
c) Arah untuk atensi : tujuan mengarahkan perhatian pelajar kepada tugas yang ada dan menjauhkan pelajar dari tugas yang tidak penting
d) Perencanaan strategi : menyusun tujuan akan memotivasi pelajar dalam merencanakan strategi, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi bagaimana pelajar akan bertindak.
e) Reference point : merupakan titik evaluasi dimana pelajar akan melakukan evaluasi terhadap performansi dengan cara membandingkan tujuan yang disusun di awal dengan feedback dari performansi. Kepuasan pelajar terhadap hasil evaluasi akan berpengaruh terhadap motivasinya.
ii. Kepercayaan
Salah satu bentuk kepercayaan yaitu self-efficacy. Self-efficacy
merupakan prediktor yang akurat dari motivasi pelajar dan perilaku self- managed (Schunk, 1991). Pelajar dengan self-efficacy yang tinggi akan memilih tugas yang lebih sulit, mengeluarkan usaha yang lebih, tidak mudah menyerah, menggunakan strategi belajar yang lebih kompleks, dan mengalami kecemasan yang lebih sedikit terhadap tugas akademik. Semakin tepat persepsi pelajar mengenai self-efficacy, semakin besar kemungkinan penggunaan informasi mengenai persepsi tersebut untuk membuat perubahan di dalam strategi belajar.
iii. Perasaan
Salah satu bentuk perasaan yang akan mempengaruhi pelajar dalam melakukan academic self-management adalah self-worth. Self-worth
sendiri. Menurut Covington (1992), pelajar mempelajari kalau masyarakat menghargai seseorang karena pencapaian yang dibuatnya. Jika pelajar tidak berhasil dalam melaksanakan tugas, maka feedback yang diterimanya berupa kurangnya kemampuan pelajar, munculnya perasaan tidak berharga dan penolakan terhadap diri sendiri. Sebagai akibatnya, ketika pelajar dihadapkan dengan kemungkinan ketidakberhasilan, pelajar akan menghindari situasi atau mengembangkan strategi untuk melindungi diri dari kesimpulan yang menyatakan kalau kemampuan pelajar tidak baik (yang dapat mengancam self-worth), misalnya : membuat tujuan yang tidak realistis (Covington, 1992).
3. Komponen academic self-management
Terdapat 5 komponen di dalam academic self-management yang dapat membantu pelajar mendapatkan kontrol atas proses belajar dan mempromosikan pencapaian akademik (Zimmerman & Risemberg dalam Dembo, 2004) :
a. Motivasi
Motivasi adalah proses internal yang memberikan energi dan arah pada perilaku. Proses internal ini meliputi tujuan, kepercayaan, persepsi dan ekspektasi. Pada saat seorang pelajar mengubah kepercayaan dan persepsi, maka pelajar mengubah motivasinya. Motivasi merupakan komponen penting karena hal tersebut membantu melindungi komitmen pelajar untuk belajar (Dembo, 2004). Beberapa teknik self-management yang bersifat motivasional antara lain :
i. Perencanaan tujuan
Pelajar dengan prestasi yang tinggi melaporkan penggunaan perencanaan tujuan yang lebih sering dan konsisten daripada pelajar dengan prestasi rendah (Zimmerman & Martinez-Pons, 1986).
ii. Self-verbalization atau self-talk
Self-talk merupakan salah satu aplikasi dari penggunaan bahasa di dalam kontrol diri akan motivasi (self-control of motivation) dimana apa yang pelajar katakan kepada diri sendiri adalah faktor yang penting di dalam menetapkan sikap, perasaan, emosi, dan perilaku. Self-talk dapat bersifat memotivasi dan ada juga yang menghambat pelajar di dalam melaksanakan tugas.
iii. Mengatur atau membayangkan hadiah atau hukuman untuk keberhasilan atau ketidakberhasilan di dalam melakukan tugas akademik.
Pelajar yang mampu untuk mengontrol motivasi dengan memberikan diri sendiri, sebuah reward atau hukuman, memiliki performansi akademik yang lebih baik daripada pelajar yang tidak menggunakan teknik ini (Zimmerman & Martinez-Pons, 1986).
b. Metode belajar
Metode belajar adalah strategi yang digunakan oleh pelajar untuk mendapatkan informasi. Pelajar yang berprestasi tinggi akan menggunakan lebih banyak metode belajar daripada pelajar yang berprestasi rendah (Zimmerman & Martinez-Pons, 1988). Menggarisbawahi, meringkas, dan membuat outline adalah
contoh dari metode belajar. Ada banyak metode belajar yang berbeda untuk tugas akademik yang berbeda (Levin, 1986). Beberapa ahli pendidikan (e.g., Paris, 1988) mendeskripsikan dua komponen penting di dalam belajar yaitu keterampilan (strategi belajar) dan keinginan (motivasi untuk menggunakan strategi tersebut).
c. Penggunaan waktu
Penggunaan waktu menjadi bagian yang penting di dalam self- management dikarenakan ada hubungan positif antara manajemen waktu dengan pencapaian akademik. Penggunaan waktu mempengaruhi self-management
dimana pelajar yang memiliki kesulitan dalam mengatur waktu tidak berkesempatan untuk menyusun perencanaan jangka panjang, yang dapat digunakan dalam mempertimbangkan pentingnya tugas yang berbeda dan bagaimana tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik (Zimmerman, Bonner, & Kovach, 1996). Kebanyakan pelajar tidak mengetahui bagaimana cara memanfaatkan waktu yang ada secara efektif dan efisien.
d. Lingkungan fisik dan lingkungan sosial
Kemampuan untuk merestruktur lingkungan fisik dan lingkungan sosial untuk memenuhi kebutuhan pelajar adalah komponen penting di dalam self- management. Restrukturisasi lingkungan fisik mencakup pencarian tempat belajar yang tenang atau bebas dari gangguan. Self-management dari lingkungan sosial berhubungan dengan kemampuan pelajar di dalam menentukan kapan waktu untuk bekerja sendiri atau dengan orang lain, atau kapan untuk mencari bantuan
dari instruktur, tutor, teman sebaya, atau sumber nonsosial seperti buku (Dembo, 2004).
e. Performansi
Performansi merupakan hal yang penting dikarenakan dengan memonitor performansi, pelajar dapat melihat apakah terjadi kesenjangan antara tujuan awal yang direncanakan dengan performansi yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar pelajar dapat memperbaiki proses belajar dan perilaku belajar (Dembo,2004). 4. Strategi dari academic self-management
Menurut Dembo (2004), strategi dari academic self-management dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:
a. Strategi perilaku
Strategi perilaku meliputi : i. Manajemen waktu
Tujuan dari manajemen waktu adalah untuk memastikan kalau semua tugas penting telah terlaksana. Ada beberapa strategi dalam memanajemen waktu :
a) Membuat jadwal belajar
b) Belajar di lingkungan yang bebas dari distraksi dan interupsi c) Mengatur jam istirahat di dalam proses belajar
d) Rencanakan secara spesifik hal-hal yang akan dilakukan di setiap waktu e) Menyusun alternatif kegiatan yang akan dilakukan ketika waktu belajar
yang dimiliki berlebihan
g) Membuat prioritas tugas
h) Kerjakan tugas dari mata pelajaran yang tidak disukai i) Kerjakan tugas sedini mungkin
j) Bawalah kalender setiap saat dan tuliskan pertemuan apapun setelah dibuat
Beberapa alat bantu yang dapat dipakai dalam memanajemen waktu yaitu kalender semester, daftar tugas mingguan yang menjadi prioritas, dan daftar tugas mingguan.
ii. Pengaturan lingkungan fisik dan sosial
Manajemen dari lingkungan sosial meliputi kemampuan untuk menentukan kapan pelajar harus bekerja sendiri atau dengan orang lain, atau kapan waktunya untuk mencari bantuan dari instruktur, tutor, teman sebaya dan sumber nonsosial seperti buku referensi, buku bacaan tambahan, atau internet (Zimmerman & Risemberg, 1997).
Lingkungan fisik dan sosial merupakan distraktor eksternal di dalam proses belajar (Dembo, 2004). Ada beberapa cara untuk mengurangi distraktor eksternal:
a) Menciptakan lingkungan belajar yang minim distraksi b) Melengkapi materi yang dibutuhkan untuk belajar c) Mengendalikan level suara kebisingan
d) Duduk di barisan depan kelas
e) Mengurangi interupsi, misalnya : dengan memasang tanda “Ujian
f) Protes ketika gangguan muncul.
Kelompok belajar merupakan salah satu bentuk dukungan sosial di dalam lingkungan belajar. Penelitian oleh Johnson & Johnson (1987) menyatakan pembelajaran berbasis kooperatif dapat meningkatkan pencapaian akademik yang lebih baik, kemampuan berpikir yang lebih baik, dan meningkatkan hubungan pertemanan.
b. Strategi motivasi
Strategi motivasi meliputi : i. Menyusun tujuan
Perencanaan tujuan meliputi proses membuat standar untuk performansi. Tujuan dapat bersifat jangka pendek, jangka panjang maupun jangka panjang sekali (Dembo, 2004). Tujuan membantu memotivasi perilaku tetapi tujuan tidak dapat menyelesaikan semua tugas, dikarenakan kualitas dari performansi juga dipengaruhi oleh faktor nonmotivasional seperti kemampuan, latihan, dan resources (Reeve, 1996). Tujuan membantu pelajar untuk menjadi waspada (aware) terhadap nilai dan menentukan apa yang ingin dilakukannya. Sebagai hasilnya, tujuan akan mempengaruhi sikap, motivasi, dan proses belajar.
Schunk (1991) mengatakan efek dari tujuan terhadap perilaku tergantung dari tiga properti : kespesifikan, proximity, dan tingkat kesulitan. Tujuan yang spesifik membantu pelajar menentukan jumlah usaha yang dibutuhkan untuk sukses dan mengarah pada perasaan puas ketika tujuan itu tercapai. Tujuan proximal merupakan tujuan yang dekat atau tujuan yang akan
tercapai dan meningkatkan motivasi terhadap pencapaiannya. Persepsi pelajar mengenai mudah atau sulitnya tugas akan mempengaruhi jumlah dari usaha yang perlu dikeluarkan untuk menyelesaikan tugas.
ii. Meregulasi emosi dan usaha
Emosi akademik mempengaruhi proses belajar dan pencapaian. Emosi positif meningkatkan kontrol akan proses belajar, sedangkan emosi negatif mengarah pada perilaku yang lebih pasif. Emosi akademik pelajar berpengaruh terhadap proses belajar, kontrol diri, dan pencapaian akademik (Pekrum, Goetz, Titz, & Perry, 2002).
Self-talk menjadi komponen utama dalam menentukan emosi. Self-talk
berfungsi sebagai motivator yang dapat memicu pelajar untuk menjadi produktif atau tidak produktif di dalam belajar (Dembo, 2004). Self-talk
mempengaruhi kognisi (pemikiran) dan emosi, dan akhirnya mengarahkan perilaku. Orang atau kejadian tidak secara langsung mempengaruhi reaksi emosional seseorang melainkan self-talk yang dihasilkan pelajar sehubungan dengan kejadian merupakan penyebab utama dari sikap dan emosi (Dembo, 2004). Self-talk yang negatif dapat diubah dengan cara menulis dan mengulang secara terus menerus pernyataan positif yang secara langsung membuktikan kalau self-talk yang negatif tidak benar (Bourne, 1995).
c. Strategi belajar cara belajar
i. Belajar dari buku bacaan
Teknik menggarisbawahi bacaan merupakan teknik yang kurang efektif dikarenakan informasi yang dibaca tidak akan tersimpan di dalam ingatan jangka panjang (Dembo,2004). Pembaca yang baik akan menggunakan beberapa strategi dalam memahami dan mengingat apa yang dibaca, berikut ini adalah beberapa strategi tersebut (Dole, Duffy, Roehler, & Person, 1991) :
a) Menentukan poin-poin penting : pembaca yang baik akan mengambil intisari (poin penting) dari bacaan.
b) Meringkas informasi : pembaca yang baik akan meringkas informasi dengan mengulang semua ide di bacaan atau bab, membedakan antara informasi yang penting dan tidak penting, dan kemudian menggabungkan ide untuk menciptakan kalimat yang merepresentasi bahan yang sedang dipelajari.
c) Membuat kesimpulan : pembaca yang baik akan membuat kesimpulan dari bacaan yang dibaca.
d) Memuculkan pertanyaan : ketika membaca, pembaca yang baik dapat menimbulkan pertanyaan dan berusaha menjawab pertanyaan tersebut. e) Memonitor pemahaman : pembaca yang baik tahu apa yang harus
dilakukan dan bagaimana cara melakukannya ketika pelajar tidak memahami bacaan.
ii. Belajar dari dosen
Belajar dari dosen akan berbeda dengan belajar dari buku dimana ketika belajar dari buku, pelajar dapat mengontrol kecepatan dari informasi yang
masuk ke otak; sedangkan sewaktu belajar dari dosen, dosen yang menjadi kunci di dalam menyalurkan informasi sehingga dibutuhkan teknik belajar yang dapat membantu pelajar untuk mendapatkan informasi dari dosen. Salah satunya adalah dengan membuat catatan. Pelajar yang membuat catatan dan mengulangnya ketika keluar dari kelas akan mempelajari lebih banyak informasi daripada pelajar yang tidak membuat catatan (Kiewra, 1989). iii.Mempersiapkan diri untuk ujian
Pelajar dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dengan menyusun rencana belajar. Rencana belajar yang efektif meliputi apa, kapan, dan bagaimana materi belajar perlu direview; mengorganisasikan dan