• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH BANSI DAN KONTEKS PERKAWINAN MASYARAKAT MINANG KABAU DI KOTA MEDAN

3.7 AcaraAdat Perkawinan Masyarakat Minangkabau .1 Maresek

Prosesi pertama dalam rangkaian pernikahan dalam adat minangkabau adalah dengan adanya pertemuan awal pihak keluarga laki-laki dan keluarga perempuan .prosesi ini dinamakan maresek. Pihak keluarga perempuan mengunjungi pihak keluarga laki-lakitujuanya adalah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud agar ke dua pihak dapat disatukan dalam naungan pernikahanLazimnya dalam tahapan pernikahan ini pihak keluarga yang datang membawa buah-buahanPprosesi ini juga yang menyebutnya dengan manapiak bandua

3.7.2 Maminang dan Batimbang Tando

Maminang berarti menimang adalah prosesi dimana pihak laki-laki mendatangi pihak perempuan untuk meminang perempuan bagi keluarga mereka Sedangkan batimbang tando atau batuka tando berarti bertukar tanda-tanda yang paling umum adalah cincin namun tidak harus menggunakan cincin boleh berupa janji untuk melangsungkan pernikahanpenetapan tanggal pernikahan juga bisa diputuskan pada tahapan ini atau boleh di tunda agar pihak keluargabisa berembuk dan disampaikan ketika sudah mendapat keputusan.

3.7.3 Mamintak Izin dan Mahanta Siriah

Mamintak izina dalah prosesi dimana calon marapulai (mempelai pria) memberi tahu dan memohon izin/doa dari mamak-mamaknya saudara-saudara ayahnya kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan kepada orang-orang lain

yang di hormati dalam keluarganya Hal yang sama dilakukan pula oleh calon anak daro(mempelai wanita) yang di wakili kerabat perempuan yang sudah berkeluarga dalam keluarganyaCalon mempelai pria membawa bungkusan /tas/lainya yang berisi daun nipah dan tembakau-zaman sekarang digantikan dengan rokok.Sementara bagi keluarga calon mempelai wanita akan menyetarakan sirih lengkap,Tiap keluarga dalam kaum mereka di datangi satu persatu dan di sampaikan rencana pernikahanya dan bagaimana perhelatanya.Keluarga yang datang akan memberikan bantuan untuk ikut memikul beban dan biaya pernikahan sesuai kemampuan meskipun hanya satu kg gulapasir.

3.7.4 Malam Bainai

Malam bainaiadalah prosesi dimana diletakan tumbukan halus dan pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku anak daro,Tradisi ini adalah ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanitaTak cukup sampai disitu pertunjukan kasih sayangnya pada beberapa daerah/nagari di Minangkabau calon mempelai wanita juga di iring untuk acara mandi-mandi pada siang atau sore hari sebelum malam bainai,Seiring perkembangan zaman(dan adat) acara mandi-mandi ini di gantisecara simbolok sebelum proses bainai dimana para sesepuh dan kedua orang tua akan memercikan air harum tujuh kembang kepada calon anak daro setelah itu barulah kuku-kuku calon mempelai wanita tadi di berinai.

3.7.5 Babako- Babaki

Babako adalah pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita pihak keluarga ingin memperlihatkan kasih sayang nya dengan cara memikul biaya sesuai dengan kemampuanya Sesuai tradisi,acara ini beberapa hari sebelum acara akad nikah berlangsung. Calon mempelai wanita di jemput untuk di bawa ke rumah keluarga ayahnya lalu para petua memberi nasihat esoknya calon mempelai wanita di arak kembali kerumahnya di iringi keluarga pihak ayah dengan membawa berbagai macam barang bantuan tadi perlengkapan yang di sertakan biasanya berupa sirih lengkap (sebagai kepala adat) nasi kuning singgang ayam (makanan adat) antaran barang yang di perlukan calon mempelai wanita dengan baju bersunting keluar dari kamar diapit kawan sebayanya .acara mandi –mandi secara simbolik mengmercikan airharum tujuh kembang oleh para sepupu dan kedua orng tua selanjutnya kuku calon mempelai wanita di beri inai.

3.7.6 Manjapuik marapulai

Ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat Minangkabau.calon pengantin pria di jemput dan dibawa kerumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah. Selain itu, dalam acara ini juga akan dilakukan pemberian gelar prusaka kepada calon mempelai pria sebagai simbol kedewasaan. Rombongan dari Rumah keluarga calon mempelai wanita akan menjemput calon mempelai pria dengan membawa perlengkapan sirih lengkap dalam cerana,pakaian pengantin pria lengkap,nasi kuning singgang ayam lauk pauk dan lain-lain.Setelah prosesi sambah mayambah

dan mengutarakan maksud kedatangan,barang-barang di serahkan calon oengantin pria beserta rombongan diharak menuju kediaman calon mempelai wanita.

3.7.7 Penyambutan di Rumah Anak Daro

Tradisi ini di iringi bunyi musik tradisional khas Minang yaitu talempong dan gandang tabuk serta barisan Gelombang Adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat serta disambut pada dara berpakaian adat yang menyuguhkan sirih. Keluarga mempelai wanita memayungi calon mempelai pria di sambut dengan Tari Gelombang Adat Timbal Balik Barisan darah menyambut rombongan dengan sirih lengkap.para sesepuh wanita menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning Sebelum memasuki pintu rumah kaki calon mempelai pria di perciki air sebagai lambang mensuci kan,Lalu berjalan menapaki kain putih menuju tempat berlangsungnya akad.

Gambar 3.6 Tarian Silat Gelombang (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.7 Aziz Manri Chaniago (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.8 Menggiring Pengantin Menuju Pelaminan (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.9Silat Gelombang (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.10 Tarian silat Menyambut pengantin Menuju Pelaminan (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

3.7.8 Akad Nikah

Prosesi akad nikah dilaksanakan sesuai syariat agama islam.Di awali pembacaan ayat suci ijab kabul nasihat perkawinan dan doa,ijab kabul umumnya dilakukan pada jum’at siang

3.7.9 Basandiang Di Pelaminan

Sesudah melakukan akad nikah,maka kedua mempelai akan di tujukan untuk basandiang di rumah anak daro. Anak daro dan marapulai menanti tamu alek salingka alam diwarnai musik di halaman rumah.

Gambar 3.11 Pupuik ole-ole (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.12 Upacara perkawinan Masyarakat Minangkabau (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.13Aziz Mandri Chaniago memainkan Bansi (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.14 Alat Musik Bansi (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

Gambar 3.15 Upacara perkawinan Masyarakat Minangkabau di kota Medan (Dokumentasi Roy Sinaga, 2016)

3.7.10 Tradisi Usai Akad Nikah

Setelah akad nikah, terdapat enam acara adat yang dilaksanakan pada tata acara Minangkabau, yaitu:

a. Mamulangkan tando setelah resmi sebagai suami istri, maka tanda yang diberikan sebagai ikatan janji saat lamaran dikembalikan oleh kedua belah pihak.

b. Melewakan gala marapulai mengumumkan gelar untuk pengantin pria sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria.

c. Balantuang kaniang (mangadu kening) dipimpin oleh sesepuh wanita, pasangan mempelai menyatukan kening mereka. Duduk berhadapan dengan dipisahkan oleh kipas, lalu kipas diturunkan perlahan. Barulah kening pengantin akan bersentuhan.

d. Mangaruak nasi kuning diawali dengan kedua pengantin berebut daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning sebagai tanda hubungan

kerjasama antara suami istri harus saling menahan diri dan saling melengkapi.

e. Bamain Coki permainan tradisional Minang, semacam permainan catur dua orang dengan papan menyerupai halma. Bermaknakan agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan.

f. Tari payung dipercayai sebagai tarian pengantin baru Syair “berbendi-bendi ke sungai tanang” berarti pasangan yang baru menikah mandi ke kolam yang dinamai sungai tanang yang mencerminkan berbulan madu.

Penari memakai payung melambangkan peranan suami sebagai pelindung istri

3.7.11 Manikam Jajak

Satu minggu setelah akad nikah, kedua pengantin pergi ke rumah orang tua serta ninik mamak pengantin pria dengan membawa makanan. Tujuannya untuk menghormati atau memulihkan orangtua serta ninik mamak pengantin pria seperti orang tua dan ninik mamak sendiri.

BAB IV

TRANSKRIP ANALISIS MELODI LAGU PALAYARAN DAN

Dokumen terkait