• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aceh Pada Masa Pemerintahan Prof. Habibie

SEJARAH PEMERINTAHAN ACEH DALAM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

C. Aceh Pada Masa Pemerintahan Prof. Habibie

Gejolak yang bersifat kedaerahan sebenarnya bukanlah fenomena baru. Namun demikian, pergolakan politik di daerah-daerah yang terjadi pasca orde baru, tidak dapat dipisahkan dari dimulainya era keterbukaan politik sampai dengan berakhirnya rezim otoritarian yang dipimpin oleh Soeharto sejak tahun 1966. Hakikat pergolakan di tingkat lokal (daerah), bersumber pada akumulasi kekecewaan rakyat terhadap arah dan kecenderungan pembangunan yang eksploitatif dan memarjinalkan peran dan kontribusi rakyat lokal di dalamnya di satu pihak, serta mengabaikan rasa keadilan masyarakat di lain pihak.171

Untuk merespon tuntutan masyarakat di daerah, Presiden Habibie mulai merubah sistem otonomi yang semua bersifat sentralisasi menjadi desentralisasi. Otonomi daerah merupakan suatu peristiwa yang menimbulkan perubahan mendasar terkait hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, sekaligus mengubah perilaku sebagian masyarakat Indonesia yang sebelumnya hanya terpokus pada satu pusat kekuasaan, yakni pemerintah pusat di Jakarta. Pentingnya desentralisasi dalam otonomi daerah dapat disejajarkan dengan proses demokratisasi yang terjadi begitu drastis pada tahun 1998.

Desentralisasi memang merupakan konsekuensi logis dari munculnya kehidupan demokrasi di Indonesia, sejak berakhirnya rezim orde baru. Kedua proses tersebut bahkan mempunyai beberapa kesamaan

      

171

Syamsudin Haris, Desentralisasi & Otonomi Daerah, Cetakan Kedua (Jakarta: LIPI Press, 2005) hlm 67.

110

yang tidak terbantahkan lagi. Keduanya berlangsung pada saat perekonomian nasional sedang berada dalam kondisi sangat parah, setelah mengalami krisis di tahun 1998. Keduanya juga berlangsung dalam skala yang besar dan terjadi dalam masa yang singkat, bahkan hampir tanpa masa transisi yang memadai.172

Setelah Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden pada tanggal 21 Mei 1998, seketika itu pula muncul gerakan massa terbuka yang menyuarakan sikap anti militer dan anti Jakarta. Di tengah situasi politik yang tidak berpihak pada TNI dan di tengah derasnya tuntutan penggungkapan tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan TNI di Aceh pada massa pemerintahan Soeharto, Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Jenderal Wiranto berusaha untuk meraih kembali kepercayaan publik dengan mencabut status Daerah Operasi Militer/DOM di Aceh pada tanggal 7 Agustus 1998. Di samping mencabut status DOM di Aceh, Jenderal Wiranto juga meminta maaf atas perilaku individu TNI selama masa DOM.173 Pada waktu itu pula, Presiden Habibie datang ke Aceh dan secara resmi berpidato di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di hadapan masyarakat Aceh, Presiden Habibie meminta maaf kepada seluruh rakyat Aceh atas tindak-tindakan pemerintah Indonesia sebelumnya, terlebih bagi aparat keamanan, dan

      

172

Ni’matul Huda, Desentarlisasi Asimetris (Yogyakarta: Bahan Pelengkap Mata Kuliah Hukum Otonomi Daerah Pada Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 2014), hlm 206.

173

111

menjanjikan berbagai program dan rencana kerja untuk membangun dan memperbaiki kembali keadaan di Aceh.174

Cara dan pendekatan untuk menyelesaikan konflik di Aceh bervariasi menurut pola pemerintahan masing-masing. Pemerintahan Orde Baru yang sentaralistik (otoriter) lebih mengedepankan pendekatan militernya (security approach). Sementara pemerintahan Presiden Habibie (awal reformasi), berusaha mengubah cara resolusi konflik di Aceh dengan pendekatan berbeda, yaitu dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), antara lain: mencabut DOM (Daerah Operasi Militer), memberikan amnesti kepada mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan memberikan bantuan kesejahteraan bagi anak yatim dan janda korban konflik. Serta memberikan kesempatan kepada anak-anak mantan anggota GAM untuk menjadi pegawai negeri.175

Tidak hanya itu, Presiden Habibie pun memulihkan status Istimewa Aceh dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Keistimewaan tersebut meliputi bidang Agama, Adat, Pendidikan dan Peran Ulama.176

Sebelum undang-undang mengenai keistimewaan bagi Aceh diberikan oleh Presiden Habibie, undang-undang mengenai keistimewaan bagi Aceh ini telah dibahas dalam sidang umum MPR tahun 1999, yang

      

174

Alyasa Abubakar, op. Cit., hlm 14. 175

Darmansjah Djumala, op. Cit., hlm 39. 176

112

telah dirumuskan ke dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, kebijakan menyangkut pembangunan daerah. Dalam kebijakan itu MPR menetapkan ketentuan khusus salah satunya Daerah Istimewa Aceh. Dalam keterangan pemberian status khusus itu disebutkan:

“Dalam rangka pengembangan otonomi daerah di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta untuk menyelesaikan secara adil dan menyeluruh permasalahan di daerah yang memerlukan penanganan segera dan bersungguh-sungguh.” untuk Daerah Istimewa

Aceh, ditetapkan bahwa: Mempertahankan integritas bangsa dalam

wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menghargai sosial budaya masyarakat Aceh, melalui penetapan Aceh sebagai daerah otonomi khusus “yang diatur dengan undang-undang”.

Apabila dicermati keputusan untuk menentukan Aceh sebagai daerah otonomi khusus, maka ada beberapa kata kunci yang harus diperhatikan:

Pertama, mempertahankan integritas bangsa, dalam wadah Negara

Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan masyarakat Aceh. dan ketiga, pemberlakuan daerah otonomi khusus itu diatur dengan undang-undang. Ketiga kata kunci tadi yang menjadi perhatian pemerintah pusat dalam penanganan penyelesaian permasalahan di Aceh.177

Dapat disimpulkan, pada masa pemerintahan Presiden Habibie, cara yang ditempuh untuk menyelesaikan konflik di Aceh dilakukan dengan jalan damai (kesejahteraan). Di mulai dari pencabutan status DOM di Aceh, melakukan permintaan maaf kepada masyarakat Aceh atas tindakan DOM, memberikan amnesti bagi mantan anggota GAM, memberikan santunan bagi para anak-anak dan janda korban DOM,

      

177

113

memberikan kesempatan bagi anak-anak korban DOM untuk menjadi pegawai negeri, hingga diberikannya kembali status Keistimewaan Aceh yang dahulu pernah di kesampingkan oleh pemerintah orde baru, dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Akan tetapi, karena Undang-Undang Keistimewaan bagi Aceh yang telah diberikan oleh Presiden Habibie tersebut belum menyentuh secara menyeluruh pokok permasalahan di Aceh, maka UU Keistimewaan itu pun ditolak oleh masyarakat Aceh. Karena tuntutan masyarakat Aceh pada waktu itu tidak sekedar mengembalikan Keistimewaan di bidang Agama, Adat, Pendidikan dan Peranan Ulama saja, melainkan ada tuntutan baru yakni tuntutan ekonomi.

Akan tetapi, secara keseluruhan apa yang telah dilakukan oleh Presiden Habibie dalam menyelesaikan konflik di Aceh telah cukup baik dalam upaya penyelesaian konfliknya. Meski otonomi khusus yang telah diberikannya di tolak oleh masyarakat Aceh. Namun setidaknya apa yang telah dilakukan oleh Presiden Habibie, telah mengurangi rasa sakit hati (dendam) masyarakat Aceh terhadap pemerintah pusat Indonesia terdahulu.

114

D. Aceh Pada Masa Pemerintahan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus