• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ada dan Ketiadaan, atau Imanensi dan Transendens

Dalam dokumen martin suryajaya imanensi transendensi (Halaman 108-113)

A. Via Negativa

I. Jean-Paul Sartre dan Problem Imanensi : Sketsa Awal tentang Pengaruh Eksistensialisme

2. Ada dan Ketiadaan, atau Imanensi dan Transendens

L’Être et le Néant terbit pertama kali pada tahun 1943. Karya ini, sebagaimana kita ketahui, sangat dipengaruhi oleh proyek ontologi fundamental Heidegger. Namun, mesti diingat, Sartre tidak pertama- tama berurusan dengan “pertanyan akan Ada” seperti yang menjadi perhatian Heidegger; apa yang lebih Sartre perhatikan ialah “perta- nyaan akan Ada-nya manusia”. Dengan kata lain, manakala Heidegger berurusan dengan eksistensi manusia sebagai Da-Sein (ada-di sana) se- jauh ini mampu memberikan terang bagi persoalan Ada itu sendiri, Sar- tre justru berhenti pada persoalan eksistensi manusia dalam kaitan de- ngan keber-ada-annya (eksistensi). Sartre, dengan demikian, telah se-

9. Kojève misalnya menulis: “Hasrat adalah kehadiran dari sebuah absensi.” Alexan- dre Kojève, Introduction to the Reading of Hegel disusun oleh Raymond Quenau, diedit dalam edisi bahasa Inggris oleh Allan Bloom, diterjemahkan oleh James H Nichols, Jr. (Ithaca: Cornell University Press), 1996, hlm. 134. Sartre juga menulis: “Thus nothingness is this hole of being, this fall of the in-itself toward the self, the fall by which the for-itself is constituted. […] Human reality is being in so far as within its being and for its being it is the unique foundation of nothingness at the heart of being.” Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness:An Essay on Phenomenological Ontolog y

diterjemahkan oleh Hazel E Barnes (New York: Philosophical Library), 1956, hlm. 78-79.

0

dari mula memelintir apa yang ontologis menjadi antropologis. Pelin- tiran ini ia jalankan dengan aparatus konseptual Hegelian. Pembacaan Hegelian (versi Kojève) atas problematika Heideggerian ini jadi kasat mata dalam penerjemahan atas Dasein menjadi la realité humaine (re- alitas-manusia)10 yang satu-satunya modus eksistensinya, bagi Sartre, adalah être-pour-soi (ada-bagi-dirinya). Yang terakhir inilah yang men- jadi aktor dalam keseluruhan eksposisi teoretis Ada dan Ketiadaan.

Keseluruhan buku tersebut dapat diterangkan dengan ber- tumpu pada oposisi terdasarnya, yakni être-en-soi (ada-pada-dirinya) dan être-pour-soi (ada-bagi-dirinya). Secara kasar dapat dikatakan bahwa yang pertama ialah alam obyektif sementara yang kedua meru- pakan manusia. Kita mulai dari yang pertama. Ada-pada-dirinya adalah “positivitas penuh” (full positivity) tanpa sebersitpun negativi- tas dan oleh sebab itu ia juga tak mengenal keberlainan (otherness).11 Bagi Sartre, ia tak lain merupakan imanensi: “Ia merupakan yang tak

dapat merealisasikan dirinya, suatu airmasi yang tak mampu men-

gairmasi dirinya, sebuah aktivitas yang tak bisa beraksi, sebab ia

terlekat [glued] pada dirinya sendiri.”12 Ia hadir penuh, begitu saja. Oleh sebab itu, Sartre menyebut bahwa “yang pada-dirinya tak me- miliki rahasia; ia solid (massif).”13 Karena ia, pada dirinya, tak ter- penetrasi oleh negasi—yang tak lain merupakan aktivitas kesada- ran—maka ia pun dapat disebut sebagai alam yang pra-relektif. Tak mengandung negativitas, tak mengenal keberlainan, ada-pada-di- rinya ini “tidak eksis sebagai suatu kekurangan”; justru sebaliknya, ia “berlebih” (superluous; de trop).14

Jika benar bahwa drama eksistensial dalam Ada dan Ketiadaan berfokus pada pour-soi ini, maka pemaparan Sartre pada bab II bagian “Immediate Structure of the For-Itself” adalah titik tumpu dari ke- seluruhan teks itu sebab di sana lah terletak pencirian dasar dari ada- bagi-dirinya. Sepenuhnya berkebalikan dengan ada-pada-dirinya, ter-

10. Penggunaan istilah ini telah membayangi teks Ada dan Ketiadaan sejak halaman- halaman awalnya. Lih. Misalnya ibid, hlm. xlviii.

11. Ibid, hlm. lxvi 12. Ibid, hlm. lxv. 13. Ibid, hlm. lxvi. 14. Lih. Ibid.

dapatlah ada-bagi-dirinya. Yang terakhir ini tak lain daripada negativitas itu sendiri. Ia mendeterminasi dirinya, menjadikan dirinya eksis, se- cara negatif sebagai bukan pada-dirinya. Aksinya, dengan demikian, adalah mediasi-diri via negasi atas yang-lain; eksistensi ada-bagi-di- rinya sepenuhnya dikonstitusikan oleh negasi internal. Dan terhadap pertanyaan tentang apa yang memungkinkan mekanisme ini, Sartre memberikan antisipasi jawaban: kekurangan (manque).15 Itulah nucleus dari manusia (realité humaine alias Dasein Sartrean) dan segala bentuk negativitas. Ada-pada-dirinya itu sendiri tak pernah kekurangan;

alam pra-relektif cuma hadir penuh secara positif. Manusia lah yang

mengintrodusir kekurangan ke dalam dunia. Namun, tulis Sartre, “re- alitas-manusia yang mana kekurangan muncul di dunia mestilah pada dirinya merupakan suatu kekurangan. Sebab kekurangan hanya mun- cul melalui kekurangan.”16 Atau, untuk mengatakan hal yang sama: kekurangan mengandaikan dan diandaikan oleh manusia.

Ekuasi antara manusia dan kekurangan ini dijalankan Sartre dengan mengacu pada fakta tentang eksistensi hasrat. Hasrat adalah hasrat sejauh ia kekurangan (akan obyek-hasrat); ia eksis sejauh ia ti- dak sepenuhnya eksis; atau, untuk memparafrasekannya dalam termi- nologi Kojève: hasrat adalah presensi dari absensi. Mendahului Lacan, Sartre bahkan telah menulis bahwa “hasrat adalah kekurangan-akan- ada (lack of being).”17 Jika manusia (yang bagi Sartre sinonim dengan hasrat) senantiasa kekurangan, maka apa yang kurang itu tak lain adalah ada-pada-dirinya yang tak lain adalah positivitas absolut alias kepenuhan. Terdapat suatu “pada-dirinya yang hilang” (missing in-itself) yang melekat di jantung bagi-dirinya, sesuatu yang konstitutif terha- dap ada-nya bagi-dirinya qua bagi-dirinya. Dengan semangat inilah Sartre lantas membuka paragraf selanjutnya:

15. “Of all internal negations, the one which penetrates most deeply into being, the one who constitutes in its being the being concerning which it makes the denial along with the being which it denies—this negation is lack.” Ibid, hlm. 86.

16. Ibid. hlm. 87.

17. Ibid, hlm. 88. Bdk. Lacan yang mengatakan bahwa modus eksistensi hasrat adalah

Itulah asal-usul transendensi. Realitas-manusia adalah pelam- pauan dirinya sendiri menuju apa yang ia kurang […] Realitas- manusia bukanlah sesuatu yang eksis pertama-tama untuk ke- mudian kekurangan ini atau itu; ia eksis pertama kali sebagai kekurangan dan dalam koneksi langsung-sintetis dengan apa yang ia kurang. Maka peristiwa murni di mana realitas manusia tegak berdiri sebagai sebuah kehadiran di dunia dipahami di- rinya sebagai kekurangannya sendiri. […] Realitas-manusia adalah pelampauan tanpa henti menuju sebuah koinsidensi dengan dirinya sendiri yang tak pernah tercapai. […] Namun Ada yang kepadanya realitas-manusia melampaui dirinya bu- kanlah suatu Allah yang transenden; ia ada pada jantung re- alitas-manusia; ia adalah realitas-manusia itu sendiri sebagai totalitas.18

Dalam sepenggal paragraf yang nantinya terus menghantui dan mem-

bayangi formulasi teoritis para ilsuf Prancis sesudahnya inilah Sartre

meletakkan inti argumentasi dari traktat Ada dan Ketiadaan. Manusia (alias pour-soi alias hasrat alias negativitas) tak lain merupakan gerak transendensiasi imanen menuju kepenuhan yang disebut Sartre sebagai totalitas. Kita sebut sebagai transendensiasi imanen sebab gerak pelam- pauan-diri ini tak pernah sepenuhnya mencapai obyek-hasrat yang di- maksud, ia tetap imanen dalam gerak pelampauan itu sendiri. Dalam arti inilah Sartre secara Hegelian menyebut realitas-manusia sebagai “kesa- daran yang tak berbahagia”.19 Intuisi ini kembali muncul sebagai ka- limat penghabisan dari bab terakhir sebelum kesimpulan:”Manusia adalah gairah yang sia-sia.”20 Lalu apa sesungguhnya hakikat dari telos pelampauan-diri itu, Sartre bertanya, apakah ia merupakan sesuatu yang ada di dalam kesadaran alias pour-soi atau di luarnya? Jawaban yang Sartre berikan: ia muncul ke dunia bersamaan dengan kesa- daran dan secara sekaligus berada pada jantung kesadaran dan di lu- arnya: “ia merupakan transendensi absolut di dalam imanensi absolut.”21 Dengan demikian, telos realisasi hasrat itu berada di dalam manusia itu

18. Ibid, hlm. 89. 19. Ibid, hlm. 90. 20. Ibid, hlm. 615. 21. Ibid, hlm. 91.

sendiri, imanen terhadapnya, namun sebagai sesuatu yang tak per- nah dapat direngkuh sepenuhnya—ia tetap transenden. Inilah skema formal yang menjadi panggung tempat keseluruhan drama eksistensi manusia digelar: khōrismos antara Ada (alias en-soi) dan Ketiadaan (pour-soi), antara imediasi dan mediasi, antara imanensi dan transen- densi—sebuah oposisi yang masih menghantui ilsafat Prancis, lebih dari separuh abad kemudian, sampai hari ini.

***

Ada dan Ketiadaan tak pelak lagi merajai jagad ilsafat di Pran- cis dan dunia hingga akhirnya digeser oleh teks-teks penulis post- strukturalis pada akhir dekade 60-an. Ia menandai sebuah zaman, itu jelas. Namun ia juga memungkinkan sebuah zaman yang baru untuk

lahir. Walaupun para ilsuf poststrukturalis kerapkali mengesamping-

kan ilsafat Sartre sebagai suatu bentuk humanisme populer, tak dapat dipungkiri bahwa apa yang mengeram di dalam teks Ada dan Ketiadaan

juga diteruskan diam-diam oleh para ilsuf poststrukturalis: penekan- an pada transendensiasi yang bertolak dari sejenis kekurangan. Untuk mengambil contoh yang paling jelas: Derrida juga memakai skema transendensiasi-atas-kekurangan ini di dalam elaborasinya mengenai différance yang sesungguhnya tak lain adalah gerak mediasi tanpa sin- tesa yang bertolak dari fakta hilangnya petanda transendental, dari suatu kekurangan azali yang tak terekuperasikan.

Terdapat empat legenda mengenai Prometheus: Menurut yang pertama, ia diikat pada bebatuan di Kaukasus karena mengumbar rahasia para dewa kepada manusia, dan para dewa mengirimkan elang- elang untuk memakan hatinya, yang senantiasa tum- buh kembali.

Menurut yang kedua, Prometheus, yang tersayat oleh rasa sakit terpatuk paruh, menyorongkan dirinya dalam-dalam ke bebatuan hingga ia menjadi satu de- ngannya.

Menurut yang ketiga, kejahatannya dilupakan dalam jangka ribuan tahun, dilupakan oleh para dewa, elang-elang, dilupakan oleh dirinya sendiri.

Menurut yang keempat, segalanya menjadi re- sah oleh hal-hal tanpa arti. Para dewa menjadi resah, elang-elang menjadi resah, dan luka tertutup dengan resah.

Di sana tetap terdapat bongkahan batu yang tak terjelaskan. Legenda mencoba menjelaskan yang tak terjelaskan. Sebagaimana itu muncul dari substrat kebenaran yang pada gilirannya berakhir dalam keti- dakjelasan.

—Franz Kafka, Prometheus22

22. Franz Kafka, The Complete Stories diedit oleh Nahum N Glatzer (New York: Schocken Books), 1995, hlm. 432.

II. Blanchot dan Imanensi Sebagai Pasivitas:

Dalam dokumen martin suryajaya imanensi transendensi (Halaman 108-113)