13 Bungkil Kelapa
Menurut SNI (1996) bungkil kelapa adalah hasil ikutan yang didapat dari ekstraksi daging buah kelapa segar/kering. Mutu bungkil kelapa digolongkan dalam 2 tingkat. Kopra merupakan buah kelapa yang dikeringkan dan digunakan sebagai sumber minyak. Pengeringan kelapa tersebut biasanya dilakukan dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan pengering buatan (Woodrof,1979).
Menurut Child (1964) bahwa bungkil kopra masih mengandung protein, karbohidrat, mineral dan sisa-sisa minyak yang masih tertinggal. Karena kandungan protein yang cukup tinggi, maka bungkil kelapa cukup baik apabila digunakan sebagai makanan ternak. Proses pembuatan bungkil ini didapat dilihat pada Gambar 4.
Kelapa
Pengeringan dengan sinar matahari
Penghancuran
Pemasakan pada suhu 115,5 0C
Pengepresan
Minyak Bungkil
Gambar 5. Proses Pembuatan Bungkil Kelapa (Child, 1964)
Bungkil kelapa mengandung lemak yang tinggi maka ketengikan mudah terjadi, sehingga disarankan untuk tidak terlalu lama dalam penyimpanan bungkil ini. Kadar air yang baik untuk menyimpan bungkil ini adalah kurang dari 13% (Suryahadi et al., 1997). Persyaratan mutu bungkil kelapa meliputi kandungan nutrisi dan toleransi aflatoksin. Persyaratan mutu bungkil kelapa menurut SNI dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Persyaratan Mutu Bungkil Kelapa
Jenis Komposisi
A B
Air (%) Maksimum
Protein kasar (%) Minimum Serat Kasar (%) Maksimum Abu (%) Maksimum Lemak (%) Maksimum
Asam Lemak Bebas (% terhadap lemak) Ca (%) P (%) Aflatoksin (ppb) Maksimum 12 18 14 7 12 7 0,05-0,30 0,40-0,75 100 12 16 16 9 15 9 0,05-0,30 0,40-0,75 100
15 METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, mulai bulan Juni-Nopember 2005.
Materi Bahan
Penelitian ini menggunakan bahan pakan sumber protein nabati yang sering digunakan dalm penyusunan ransum di industri pakan yaitu : bungkil kedelai, bungkil sawit dan bungkil kelapa. Bahan pakan yang digunakan merupakan sampel pakan yang diperoleh dari 2 industri, yaitu industri(A) dan industri (B), masing-masing sebanyak 5 kg.
Bungkil kedelai Bungkil sawit Bungkil kelapa Gambar 6. Penampakan Visual Bungkil Kedelai, Bungkil Sawit dan Bungkil
Kelapa Peralatan
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain oven, mistar, segitiga siku-siku, corong plastik, gelas ukur 100 ml dan 1000 ml, kertas karton, alumunium foil, kantong plastik, jangka, stopwatch, pengaduk, pemanas air, kaca pembesar, suntikan, sendok makan, sendok teh dan alat penjepit.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 2 x 3. Faktor pertama adalah industri yang berbeda yaitu industri A dan industri B, faktor kedua adalah jenis bahan yaitu bungkil kedelai,
bungkil kelapa dan bungkil sawit. Setiap perlakuan terdiri atas 4 ulangan. Model matematik yang digunakan sebagai berikut:
Xijk = ì + ái + âj + áâij + åijk Keterangan :
Xijk = X perlakuan Faktor A ke-i Faktor B ke-j ulangan ke-k µ = nilai rata – rata umum
ái = efek faktor A ke-i ßj = efek faktor B ke-j
áßij = efek interaksi faktor A ke-i faktor B ke-j
åijk = eror faktor A ke-i faktor B ke-j ulangan ke-k Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi : • Pengukuran kadar air
• Pengukuran sifat fisik antara lain berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan dan daya ambang.
Analisa Data
Analisis data dilakukan dengan sidik ragam (ANOVA), jika data yang diperoleh berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Kontras Orthogonal (Steel And Torrie (1993).
Prosedur Pengukuran Kadar Air
Setiap sempel yang diperoleh diukur kadar airnya untuk mengetahui kadar air awal. Kadar air diukur dengan menggunakanoven 105o C selama 24 jam sampai bobot stabil.
Pengukuran Sifat Fisik Berat Jenis
Bahan dimasukkan kedalam gelas ukur 100 ml dengan menggunakan sendok teh melalui corong sampai volume 50 ml. Gelas ukur yang telah berisi sempel ditimbang untuk mengetahui beratnya, setelah itu dimasukkan aquades sebanyak 5 ml. Pembacaan volume akhir dilakukan setelah volume tidak berubah lagi.
17 Perubahan volume aquades merupakan volume bahan yang sesungguhnya (Khalil, 1999a).
Bobot Bahan (gram) BJ =
Perubahan Volume aquades (ml) Kerapatan Tumpukan
Metode pengukuran kerapatan tumpukan dengan mencurahkan bahan kedalam gelas ukur 1000 ml, kemudian ditimbang untuk mengetahui beratnya. Pencurahan bahan diusahakan rata permukaan gelas ukur. Pencurahan bahan melalui corong dan menggunakan sendok teh untuk mencurahkan sempel pada posisi yang sama. Setiap pengamatan hindari terjadinya goncangan selama pengukuran. Satuannya adalah kg/m3. Nilai kerapatan tumpukan dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini (Khalil, 1999a).
Berat bahan yang di tempatkan (gram) KT =
Volume ruang yang ditempati (ml) Kerapatan Pemadatan Tumpukan
Besarnya kerapatan pemadatan tumpukan ditentukan dengan cara yang sama seperti penentuan kerapatan tumpukan, tetapi volume dibaca setelah dilakukan pemadatan dengan cara menggoyang - goyangkan gelas ukur dengan tangan sampai volumenya tidak berubah. Satuannya adalah kg/m3 (Khalil, 1999a)
Sudut Tumpukan
Pengukuran sudut tumpukan dilakukan di dalam ruang dengan menjatuhkan bahan pada ketinggian 15 cm melalui corong pada bidang datar dengan menggunakan kertas karton manila berwarna putih yang telah diberi tanda untuk mengukur diameter.
Besarnya sudut tumpukan bahan dapat di tentukan dengan mengukur diameter dasar ( d) dan tinggi tumpukan ( t ).
Besarnya sudut tumpukan dihitung dengan rumus = (Khalil, 1999b) tg ø = t / 0,5 d
Daya ambang bahan diukur dengan menjatuhkan sempel pada ketinggian 3 m dari lantai kemudian diukur lama waktu ( detik ) yang dibutuhkan untuk mencapai lantai dengan menggunakan stopwatch. Lantai tepat jatuh bahan diberi alas alumunium foil untuk meminimumkan kesalahan. Diusahakan bahan jatuh tegak lurus dengan membuat bulatan pada alumunium foil. Untuk meminimumkan pengaruh angin semua lubang yang memungkinkan angin masuk selama pengukuran daya ambang di tutup dengan kertas karton.
Daya ambang diukur dengan rumus : (Khalil, 1999b) Jarak jatuh (m)
Daya Ambang =
19 HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Penelitian
Bungkil kedelai, bungkil kelapa dan bungkil sawit yang digunakan dalam penelitian, berasal dari dua industri yang berlokasi didaerah Bekasi dan Bogor. Ketiga bahan yang digunakan dalam penelitian di ambil dari industri tersebut melalui staf kualiti kontrol untuk pengambilan sampel penelitian. Sampel yang di dapat sebanyak 5 kg, kemudian di bagi menjadi 4 wadah sesuai dengan ulangan perlakuan untuk tiap sampel bahan.
Selama penelitian sampel bahan di simpan dalam toples dan dimasukkan dalam lemari pendingin, hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan pada bahan penelitian, sehingga dalam penelitian kualitas bahan tetap terjaga. Perbandingan warna dan tekstur bahan dari industri A dan industri B ditunjukan pada Gambar 7 dibawah ini.
Gambar Bahan dari Industri A
Bungkil Kedelai Bungkil Sawit Bungkil Kelapa
Bungkil Kedelai Bungkil Sawit Bungkil Kelapa Gambar 7. Perbandingan Penampakan Bahan dari Industri A dan Industri B
Kadar Air
Kadar air antara industri A dan industri B yang berbeda pada bahan pakan bungkil sawit, bungkil kedelai dan bungkil kelapa memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01), begitu juga pada perbandingan bahan bungkil sawit, bungkil kedelai dan bungkil kelapa dari dua industri yang berbeda memberikan perbedaan yang sangat nyata. Berdasarkan uji sidik ragam untuk kadar air terhadap industri dapat dilihat pada Table 6.
Tabel 6. Rataan Kadar Air (%) Bahan Pada Perlakuan Industri yang Berbeda
Industri Bahan
Bungkil Kedelai Bungkil Kelapa Bungkil Sawit A B 8,85AC±0,10 11,47BC±0,52 6,78AB±0,14 9,03BB±2,05 5,56BA±0,15 5,29AA±0,37
*) superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) ditandai dengan huruf kecil dan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) ditandai dengan huruf besar.
Bungkil kedelai dan bungkil kelapa dari industri (A) memiliki kadar air yang lebih rendah daripada kadar air dari industri (B), sedangkan pada bungkil sawit dari industri A memiliki kadar air yang lebih tinggi daripada industri B. Rataan kadar air bahan antara kedua industri menunjukkan bahwa bungkil sawit dari industri B menunjukkan nilai terkecil yaitu 5,29%, sedamgkan bungkil kedelai dari industri B munujukkan nilai kadar air bahan terbesar yaitu 11,47%. Industri A mempunyai rataan kadar air bahan yang lebih rendah dibandingkan dengan rataan kadar air bahan pada industri B.
Perbedaan kadar air bahan bungkil sawit, bungkil kedelai dan bungkil kelapa berdasarkan Tabel 6. menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01). Nilai kadar air rata-rata bungkil kedelai lebih tinggi dibandingkan dengan bungkil sawit dan bungkil kelapa dari dua industri. Perbedaan kadar air dari ketiga bahan tersebut mungkin disebabkan oleh tekstur permukaan bahan yang berbeda antara
21 serap bahan terhadap uap air dari luar yang berbeda antara ketiga bahan tersebut, selain kandungan air pada bahan itu sendiri. Bahan baku dalam industri pakan diharapkan mengandung kadar air yang rendah, karena tingginya kadar air dapat mempengaruhi keefisienan dalam penyusunan ransum dan dapat mengakibatkan kerusakan bahan pakan akibat serangan cendawan dan kutu selama proses penyimpanan. Penentuan kadar air bahan berguna dalam pembahasan sifat-sifat fisik bahan pakan tersebut.
Sifat Fisik Ketiga Bahan dari Dua Sumber Industri yang Berbeda Sifat fisik dan tekstur bahan mementukan parameter yang penting untuk merancang alat proses (pengolahan), memenuhi syarat pengemasan, serta kondisi penyimpanan (Wirakartakusumah,1992)
Berat Jenis
Berat jenis adalah perbandingan antara berat bahan terhadap volumenya, satuannya adalah kg/m3. Berat jenis (BJ) memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan, dan penyimpanan. Berat jenis memberikan pengaruh berat terhadap daya ambang dari partikel. Selain itu berat jenis merupakan faktor penentu dari densitas curah. Berat jenis dan ukuran partikel bertanggung jawab terhadap homogenitas penyampuran partikel dan stabilitasnya dalam pencampuran pakan. Berat jenis sangat mempengaruhi tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis pada pabrik pakan, seperti dalam proses pengemasan dan pengeluaran dari dalam silo untuk dicampur atau digiling (Kling and Woehlbier, 1983 dalam Khalil, 1999). Nilai berat jenis berbagai bahan pada industri yang perbeda dapat dilihat pada Tabel 7. dibawah ini.
Tabel 7. Rataan Berat Jenis(kg/m3) Bahan Pada Perlakuan Industri yang Berbeda
Bahan
Bungkil Kedelai Bungkil Kelapa Bungkil Sawit A B 1130,23Ab±28,89 1297,65Bb±100,99 966,03AA±23,34 1067,70BA±45,74 1204,55Bb±62,74 1150,78Ab±43,17 *) superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) ditandai dengan huruf kecil dan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) ditandai dengan huruf besar.
Berat jenis bungkil kedelai, bungkil kelapa dan bungkil sawit antara industri A dan industri B menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Nilai rataan berat jenis tertinggi berdasarkan hasil pengamatan dimiliki oleh bungkil kedelai dari industri B, rataan nilai berat jenis pada bungkil kelapa menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap bungkil sawit dan bungkil kedelai. Perbedaan nilai berat jenis selain dipengaruhi oleh perbedaan kandungan nutrisi bahan dalam hal ini nutrisi bahan yang dipengaruhi oleh kadar air juga dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik permukaan partikel.
Berat jenis bungkil kedelai dari industri B pada penelitian ini menunjukkan nilai tertinggi, dibandingkan bungkil sawit dan bungkil kelapa. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh karakteristik permukaan partikel. Bungkil kedelai dilihat dari penampakannya kelihatan kompak dengan rongga antar partikel kecil. Struktur yang padat dan kompak menyebabkan nilai berat jenis bungkil kedelai yang lebih tinggi. Bungkil kelapa memiliki nilai berat jenis yang paling kecil, hal ini diduga karena kandungan air yang terdapat dalam bungkil kelapa rendah. Sehingga daya tarik antar partikel sejenis (kohesi) pada bungkil kelapa lebih kecil dari pada daya tarik dari partikel lain (adesi). Hal ini menyebabkan rongga antar partikel besar dan kurang kompak.
Rataan nilai berat jenis bungkil kedelai dan bungkil kelapa pada industri A lebih kecil jika dibandingkan nilai rataan berat jenis pada industri B, sedangkan nilai berat berat jenis bungkil sawit pada industri A lebih besar daripada nilai berat jenis bungkil sawit pada industri B. Perbedaan nilai ini diduga selain dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik permukaan bahan juga dipengaruhi oleh kandungan air yang terdapat dalam bahan. Pada Tabel 6. yang menunjukkan bahwa nilai kadar air bungkil sawit pada industri A lebih tinggi daripada nilai kadar air pada industri B. kadar air yang rendah menyebabkan kohesivitas rendah sehingga rongga antar partikel besar dan kurang kompak, hal ini menyebabkan nilai berat jenis bungkil sawit pada industri B lebih rendah.
Porositas adalah rasio antara kerapatan tumpukan dengan berat jenis. Porositas ini menunjukkan besarnya volume ruang antar partikel di dalam suatu tumpukan pakan. Porositas ini memegang peranan penting misalnya dalam mencapai
23 di dalam tumpukan bahan (Chung dan Lee, 1985 dalam Khalil, 1999a). ditambahkan pula oleh Kling dan Woehlbier (1983), dalam Khalil (1999a) menyatakan bahwa Pakan atau ransum yang terdiri atas partikel yang perbedaan berat jenisnya cukup besar, maka campuran ini tidak stabil dan cenderung mudah terpisah kembali. Oleh karena itu, keadaan ini tidak diinginkan dalam proses pembuatan pakan campuran (ransum). Gambar 8. di bawah ini menunjukkan interaksi antara jenis bahan pada industri yang berbeda.
Gambar 8. Interaksi Jenis Bahan dengan Industri yang Berbeda pada Sifat Fisik Berat Jenis
Kerapatan Tumpukan
Kerapatan tumpukan merupakan perbandingan antara berat bahan dengan volume ruang yang ditempati, dengan satuan kg/m3 (Khalil, 1999a). Densitas curah berpengaruh terhadap daya campur dan ketelitian penakaran secara otomatis, begitu juga dengan berat jenis (Kling and Woehlbier, 1983 dalam Khalil 1999a). Sifat ini juga berperan penting dalam perhitungan volume ruang yang dibutuhkan oleh suatu bahan dengan berat tertentu seperti dalam pengisian alat pencampur, elevator dan juga silo.
Tabel 8. Rataan Kerapatan Tumpukan (kg/m3) Bahan Pada Perlakuan Industri yang Berbeda.
Industri Bahan
Bungkil Kedelai Bungkil Kelapa Bungkil Sawit A B 622,50AB±5,00 542,50BB±17,08 617,50AC±9,75 460,00BC±0 665,00AA±5,77 590,00BA±16,33 *) superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) ditandai dengan huruf kecil dan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) ditandai dengan huruf besar. 0 200 400 600 800 1000 1200 1400
B ungk il K edelai B ungk il K elapa B ungk il S awit
Indus tri A Indus tri B
Data kerapatan tumpukan bungkil sawit, bungkil kedelai dan bungkil kelapa dari dua industri yang berbeda disajikan pada Tabel 8. Bungkil kedelai, bungkil sawit, dan bungkil kelapa dari industri yang berbeda mempunyai kerapatan tumpukan yang sangat nyata (P<0,01) berbeda. Bungkil kedelai, bungkil kelapa dan bungkil sawit dari industri A mempunyai kerapatan tumpukan lebih besar daripada bungkil kedelai, bungkil sawit dan bungkil kelapa dari industri B. Tingginya nilai kerapatan tumpukan bahan dari industri A pada penelitian ini diperkirakan karena kadar air dan kohesifitas bahan.
Kerapatan tumpukan pada ketiga bahan yang berbeda menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01). Berdasarkan pengamatan Rataan nilai kerapatan tumpukan yang paling tinggi terdapat pada bungkil sawit dari industri A yaitu 665,00 g/l, dibandingkan nilai rataan kerapatan tumpukan yang terdapat pada bungkil kelapa dan bungkil kedelai. Kerapatan tumpukan dipengaruhi oleh intensitas gaya kohesi. Selanjutnya Peleg dan Bagley (1983) dalam Prambudi (2001) menjelaskan bahwa tepung yang halus serta mengandung kadar air yang rendah seperti seperti krimer kopi memiliki gaya kohesi yang rendah. Dari Tabel 6. dapat dilihat bahwa bungkil sawit memiliki kandungan air yang rendah oleh karena itu bungkil sawit memiliki daya kohesi yang rendah, sehingga hal ini menyebabkan bungkil tersebut bebas bergerak. Nilai kerapatan tumpukan rendah dapat disebabkan karena rendahnya kadar air dalam bungkil yang diukur (wijayanti, 2000).
Menurut Ruttloff (1981) dalam Khalil (1999a) pencampuran bahan dengan ukuran partikel yang sama tetapi mempunyai perbedaan kerapatan tumpukan yang besar (lebih dari 500 kg/m3) akan sulit dicampur dan campurannya akan mudah terpisah kembali. Pakan yang memiliki KT yang rendah (kurang dari 450 kg/m3) waktu jatuh atau waktu mengalir lebih lama dan dapat ditimbang lebih teliti dengan alat penakar otomatis, baik volumetrik maupun gravimetrik. Gambar 9. di bawah ini menunjukkan interaksi antara jenis bahan pada industri yang berbeda.
300 400 500 600 700 Industri A Industri B
25 Gambar 9. Interaksi Jenis Bahan dan Industri yang Berbeda pada Kerapatan
Tumpukan Kerapatan Pemadatan Tumpukan
Kerapatan pemadatan tumpukan adalah perbandingan antara berat bahan dengan volume yang ditempati bahan setelah melalui proses pemadatan seperti penggoyangan (Khalil, 1999a). Nilai kerapatan pemadatan tumpukan pada industri yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 9. dibawah ini.
Tabel 9. Rataan Kerapatan Pemadatan Tumpukan (kg/m3) Bahan Pada Perlakuan Industri yang Berbeda
Industri Bahan
Bungkil Kedelai Bungkil Kelapa Bungkil Sawit A B 747,50Aa±9,57 697,50Ba±15,00 742,50Aa±9,57 602,50Ba±9,57 822,50Aa±9,57 797,50Ba±18,93 *) superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) ditandai dengan huruf kecil dan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) ditandai dengan huruf besar.
Nilai kerapatan pemadatan tumpukan berbagai bahan dari industri A lebih tinggi dari pada industri B penunjukkan pengaruh yang sangt nyata (P<0,01). Nilai kerapatan pemadatan tumpukan tertinggi dicapai oleh bungkil sawit pada industri A kemudian bungkil kedelai, dan bungkil kelapa. Dengan adanya proses pemadatan maka partikel-partikel dipaksa untuk mengisi celah-celah yang kosong (Peleg dan Bagley, 1983 dalam Prambudi, 2001). Kejadian tersebut erat hubungannya dengan sifat kohesifitas bahan, apabila suatu bahan mempunyai sifat kohesifitas yang tinggi maka partikel bahan tersebut akan sulit mengisi celah kosong yang tersedia. Gambar 10. di bawah ini menunjukkan interaksi antara jenis bahan pada industri yang berbeda. 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
B ungk il K edelai B ungk il K elapa B ungk il S awit
Indus tri A Indus tri B
Gambar 10. Interaksi Jenis Bahan dengan Industri yang Berbeda pada Sifat Fisik Kerapatan Pemadatan Tumpukan
Gambar 10. menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis bahan dengan industri yang berbeda. Hasil pengamatan pada Tabel 9. menunjukkan bahwa nilai rataan kerapatan tumpukan pada bahan pakan yang berbeda memperlihatkan perbedaaan yang tidak nyata. Perbedaan kandungan air tidak nyata berpengaruh terhadap nilai kerapatan pemadatan tumpukan pakan hijauan. Akan tetapi pada kelompok pakan yang lain, kerapatan pemadatan tumpukan cenderung menurun dengan meningkatnya kandungan air (Khalil, 1999a).
Sudut Tumpukan
Sudut tumpukan merupakan sudut yang dibentuk jika bahan dicurahkan dari suatu tempat pada bidang datar yang akan bertumpukan dan terbentuk suatu gundukan menyerupai kerucut antara bidang datar dan kemiringan tumpukan yang terbentuk jika bahan dicurahkan serta menunjukkan kebebasan bergerak dari suatu partikel dari suatu tumpukan bahan (Pratomo, 1976). Semakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbentuk semakin kecil. Pergerakan partikel yang ideal ditunjukkan oleh ransum dengan sudut tumpukan 200-500 (Ruttloff, 1981 dalam Khalil 1999b).
Pratomo (1976) menambahkan bahwa kegunaan praktis dari sifat sudut tumpukan ini adalah di dalam pemindahan dan pengangkutan bahan karena akan mempengaruhi kapasitas belt conveyor dan alat material handling lainnya. Sifat tersebut juga penting untuk menentukan derajat kemiringan dari dasar suatu gudang penyimpanan bahan untuk keperluan pengosongannya oleh gaya gravitasi.
Hasil pengamatan sudut tumpukan bungkil kedelai, bungkil kelapa dan bungkil sawit berkisar antara 24,100 - 42,190. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bungkil kedelai dari industri A mempunyai sudut tumpukan yang lebih kecil yaitu 24,100,sedangkan bungkil kedelai dari industri B mempunyai sudut tumpukan lebih
27 kelapa yang mempunyai sudut tumpukan 31,510 dari industri A dan 37,600 dari industri B. Rataan Sudut tumpukan ketiga bahan dari industri A lebih rendah dari pada industri B. Rataan nilai sudut tumpukan bahan dari dua industri yang berbeda menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) berbeda, hal ini dapat dilihat pada Tabel 10. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kadar air bahan, karena bahan yang memiliki sudut tumpukan tinggi umumnya memiliki kadar air yang tinggi (Qomariyah,2004).
Berdasarkan analisa sidik ragam dapat dilihat pada Tabel 10. bahwa Perbedaan bahan pakan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) antara bungkil kedelai dengan bungkil kelapa dan bungkil sawit, begitu juga dengan bungkil kelapa dan bungkil sawit menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. Rata-rata sudut tumpukan paling besar adalah bungkil sawit pada industri B yaitu 42,190, sedangkan sudut tumpukan terendah adalah pada bungkil kedelai industri A, hal ini karena pengaruh kadar air dan kohesifitas yang berbeda. Bungkil kedelai mengandung kadar air bahan yang lebih tinggi daripada bungkil sawit, tetapi memiliki sudut tumpukan yang lebih kecil, hal ini mungkin karena kandungan kimia bahan yang berbeda. Karena selain dipengaruhi kadar air dan ukuran partikel bahan, kohesifitas juga dipengaruhi oleh kandungan kimia bahan seperti lemak dan serat kasar. Sudut tumpukan ini berhubungan dengan kohesivitas (hubungan antar partikel sejenis). Jika sudut tumpukan besar maka kohesivitasnya besar. Selain itu sudut tumpukan juga merupakan metode cepat untuk mengukur laju aliran/daya luncur suatu bahan (Carr, 1976 dalam Qomariah 2004)
Tabel 10. Rataan Sudut Tumpukan (0) Bahan Pada Perlakuan Industri yang Berbeda
Industri Bahan
Bungkil Kedelai Bungkil Kelapa Bungkil Sawit A B 24,10AA±1,09 35,18BA±1,69 31,51AB±2,02 37,60BB±2,35 36,61AC±1,13 42,19BC±1,40 *) superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) ditandai dengan huruf kecil dan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) ditandai dengan huruf besar.
Hasil pengamatan sudut tumpukan bungkil kedelai, bungkil kelapa dan bungkil sawit berkisar antara 24,100 - 42,190. Sudut tumpukan kurang dari 350
memiliki kebebasan bergerak yang baik, sedangkan sudut tumpukan 350 – 450 memiliki kebebasan bergerak yang sedang (Peleg and Bagley, 1983 dalam Prambudi, 2001). Fenomena yang terjadi erat kaitannya dengan kohesifitas bahan. Hasil rataan sudut tumpukan pada bungkil sawit dan bungkil kelapa menandakan bahwa bungkil sawit dan bungkil kelapa memiliki gaya kohesi yang lebih tinggi daripada gaya kohesi bungkil kedelai. Gaya kohesi yang tinggi menyebabkan partikel-partikel yang dicurahkan tidak bebas bergerak, disebabkan oleh gaya tarik menarik anterpartikel bahan sejenis. Faktor tersebut menyebabkan terbentuknya sudut repost yang besar. Bungkil kedelai memperlihatkan kebebasan bergerak partikel yang tinggi, yang ditandai oleh rendahnya sudut repost yang terbentuk, pada saat dicurahkan terjadi pergerakan partikelnya yang cepat sehingga sudut tumpukan yang terbentuk menjadi landai. Gambar 11. di bawah ini menunjukkan interaksi antara jenis bahan pada industri yang berbeda.
Gambar 11. Interaksi Jenis Bahan dengan Industri yang Berbeda pada Sifat Fisik Sudut Tumpukan.
Daya Ambang
Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu partikel bahan jika