BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
3. Adaptasi Kurikulum (Kurikulum Fleksibel)
pembelajaran yang ramah anak 5 Penataan kelas yang ramah anak 6 Asesmen
7 Pengadaan dan pemanfaatan media pembelajaran adaptif
8 Penilaian dan evaluasi pembelajaran
3. Daftar Dokumentasi
Daftar dokumentasi digunakan untuk membantu peneliti dalam menentukan dokumen yang diperlukan sebagai sumber informasi atau data. Berikut merupakan instrumen dari studi dokumentasi berupa daftar dokumen dalam penelitian ini.
Tabel 3.5 Daftar Dokumen
No Aspek Daftar Dokumen Keterangan
Ada Tidak
1.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang mengakomodasikan semua anak
Petunjuk Teknis/Juknis PPDB
2. Identifikasi Formulir PPDB 3. Adaptasi Kurikulum (Kurikulum Fleksibel) RPP Kelas IV RPP Kelas V RPP Kelas VI 4.
Merancang bahan ajar dan kegiatan pembelajaran yang ramah anak
Langkah Kegiatan RPP Kelas IV Langkah Kegiatan RPP Kelas IV Langkah Kegiatan RPP Kelas IV
5. Penataan kelas yang ramah anak
Foto Ruang Kelas IV Foto Ruang Kelas V Foto Ruang Kelas VI
6. Asesmen Lembar Asesmen
7.
Pengadaan dan
pemanfaatan media pembelajaran adaptif
Foto Ruang Kelas IV Foto Ruang Kelas V Foto Ruang Kelas VI
8. Penilaian dan evaluasi pembelajaran
Lampiran Soal Evaluasi Kelas IV
Lampiran Soal Evaluasi Kelas V
Lampiran Soal Evaluasi Kelas VI
F. KREDIBILITAS DAN TRANSFERABILITAS
Bandur (2016) mengatakan bahwa kendala yang dialami pada penelitian kualitatif adalah mewujudkan penelitian yang kredibel, dapat dipercaya, dan dapat berlaku di tempat lain. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Sementara itu, Sugiyono (2011) mengatakan bahwa guna mendapatkan data yang dapat dipercaya, perlu adanya serangkaian pengujian seperti uji kredibilitas, uji transferabilitas, uji dependabilitas, dan uji konfirmabilitas.
1. Uji Credibility (Kredibilitas)
Sugiyono (2011) mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, uji kredibilitas dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan lanjutan,
peningkatan keajegan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check. Bandur (2016) berpendapat bahwa data dianggap kredibel jika peneliti mempercayai bahwa data yang dikumpulkan oleh peneliti merupakan data yang sesuai fakta di lapangan dan melakukan analisis dengan tepat. Emzir (2012) menambahkan bahwa penelitian tersebut dapat dipercaya dengan melihat dari sudut pandang narasumber karena bertujuan untuk mendeskripsikan suatu peristiwa dari sudut pandang narasumber. Dengan kata lain, orang yang dapat menilai bahwa hasil penelitian tersebut bersifat kredibel adalah narasumber itu sendiri.
Dalam uji kredibilitas ini, peneliti melakukan triangulasi. Triangulasi menurut Denzin (dalam Gunawan, 2013) mengatakan bahwa triangulasi adalah penggabungan dari beberapa teknik untuk mengkaji suatu peristiwa atau gejala tertentu. Sugiyono (2011) menambahkan bahwa triangulasi adalah proses pengecekan informasi dari beberapa sumber, dengan beberapa cara, dan waktu.
Pada penelitian ini menggunakan tiga jenis triangulasi yakni triangulasi sumber, triangulasi teknik pengambilan data, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber menurut Gunawan (2013) adalah kegiatan mencari kebenaran informasi dari beberapa sumber dalam memperoleh data. Dalam melakukan penelitian, sumber penelitian yaitu kepala sekolah, guru kelas IV, guru kelas V, dan guru kelas VI. Triangulasi teknik pengambilan data menurut Sugiyono (2011) adalah proses menguji kredibilitas data dengan membandingkan data kepada sumber yang sama dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda. Pada penelitian ini menggunakan tiga teknik dalam mengumpulkan data yakni dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Terakhir, triangulasi waktu menurut Sugiyono (2011) adalah pengecekan kredibilitas data dengan berbagai teknik dalam waktu yang berlainan. Pada penelitian ini, peneliti melakukan kegiatan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi pada waktu yang berbeda.
2. Uji Transferability (Transferabilitas)
Lincoln dan Guba (dalam Bandur, 2016) berpendapat bahwa transferabilitas berhubungan dengan hasil analisis data penelitian dapat diterapkan pada penelitian yang lain. Sugiyono (2011) mengatakan bahwa transferability atau transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif. Di mana, peneliti harus menyusun laporan dengan memberikan penjelasan yang rinci atau mendetail, jelas, runtut, dan dapat dipercaya, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk diaplikasikan pada pada penelitian selanjutnya. Penelitian ini dikatakan telah melalui uji transferabilitas apabila hasil penelitian ini digunakan sebagai acuan pada penelitian lain.
3. Pengujian Depandability (Dependabilitas)
Sugiyono (2011) mengatakan bahwa dependabilitas biasa disebut dengan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, uji dependabilitas dilakukan dengan membuat kajian mengenai kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Sesuai dengan pernyataan tersebut, Bandur (2016) menegaskan bahwa penelitian dapat dipercaya atau tidak melalui tahap pengujian ini, yaitu pada pengujian dependabilitas. Peneliti melakukan uji dependabilitas dengan mengkaji hasil penelitian dengan membandingkan hasil triangulasi sumber, triangulasi teknik pengambilan data, dan triangulasi waktu.
4. Pengujian Confirmability (Konfirmabilitas)
Sugiyono (2011) menuturkan bahwa pelaksanaan uji konfirmability atau konfirmabilitas dalam penelitian kualitatif merupakan uji obyektivitas data hasil penelitian. Penelitian dapat dikatakan obyektif apabila hasil penelitian sama dengan pandangan banyak orang atau dengan kata lain disetujui banyak orang. Begitu pula dengan Bandur (2016) yang mengatakan bahwa uji konfirmabilitas pada penelitian kualitatif yaitu berkaitan dengan keyakinan atau rasa percaya terhadap hasil penelitian mengenai suatu hal atau peristiwa. Bukan sekedar analisis dan intepretasi peneliti sehingga bersifat subjektif. Uji konfirmabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber yakni dari kepala sekolah, guru kelas IV, guru kelas V, dan guru kelas VI.
G. TEKNIK ANALISIS DATA
Creswell (2014) mengatakan bahwa analisis data pada penelitian kualitatif terdiri dari beberapa bagian yang memungkinkan peneliti untuk menganalisis data dengan mengintrepetasikan informasi berupa teks atau gambar. Sugiyono (2011) menambahkan bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai sejak peneliti belum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data milik Miles dan Huberman di mana dalam aktivitas analisis data yang dilakukan yaitu berupa data reduction, data display, dan conclusion drawing atau verification.
1. Data Reduction atau Reduksi Data
Sugiyono (2011) mengatakan bahwa reduksi data merupakan proses atau kegiatan berpikir kritis yang membutuhkan kemampuan dan kedalaman pengetahuan yang tinggi. Bandur (2016) mengatakan bahwa reduksi data yaitu proses koding analitis terhadap data yang telah diperoleh. Selama kegiatan koding, peneliti mengkategorikan data menjadi data utama dan data pendukung untuk dilakukan intepretasi dan verifikasi selanjutnya. Pada penelitian ini, peneliti melakukan reduksi data wawancara dan observasi. Setelah hasil wawancara dan observasi diperoleh, peneliti melakukan pengkategorian atau pengelompokan hasil ke dalam delapan aspek sekolah inklusi. Kemudian, peneliti menyimpulkan masing-masing hasil wawancara dan observasi yang telah dikategorikan (reduksi data).
2. Data Display atau Penyajian Data
Sugiyono (2011) mengatakan bahwa seusai data dilakukan reduksi, maka proses selanjutnya yaitu menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar komponen, dan lain sebagainya. Emzir (2012) turut menambahkan bahwa perlu adanya penyajian data agar dapat diakses secara langsung, sehingga peneliti dapat melihat apa yang terjadi dalam penelitian dan dapat membantu dalam membuat kesimpulan. Di mana pada penelitian ini, peneliti melakukan penyajian data berupa data wawancara dan observasi. Data wawancara dan observasi yang telah direduksi kemudian
disejajarkan dalam satu tabel guna mempermudah peneliti dalam mengakses data penelitian.
3. Conclusion Drawing atau Verification
Sugiyono (2011) mengatakan bahwa langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman adalah dengan melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Jika peneliti datang kembali ke lapangan untuk memastikan kesimpulan yang telah disusun dan dinyatakan valid dan reliabel, maka kesimpulan yang telah disusun bersifat kredibel. Bandur (2016) mengatakan bahwa setelah melakukan kegiatan intepretasi dan kegiatan analisis data, maka peneliti dapat menarik kesimpulan. Setelah kesimpulan dibuat, peneliti melakukan verifikasi mengenai penelitian yang dilakukan. Kesimpulan disusun dengan membandingkan dan merangkum data penelitian yang telah diperoleh. Setelah itu, peneliti melakukan verifikasi data dengan membandingkan hasil triangulasi sumber, triangulasi teknik pengambilan data, dan triangulasi waktu.
46 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menjelaskan mengenai deskripsi penelitian, hasil penelitian, pembahasan, dan triangulasi. Di mana pemaparan mengenai masing-masing bagian tersebut adalah sebagai berikut.
A. Deskripsi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD “Harapan Mulia” di mana SD “Harapan Mulia” dahulu merupakan sekolah dasar reguler yang pernah menangani ABK tipe low vision berat yang hanya dapat melihat satu titik jarum saja. Sekolah kemudian melapor ke dinas pendidikan dan mengatakan bahwa sekolah sedang menangani ABK. Kemudian, tidak berselang lama sekolah mendapatkan Surat keputusan (SK) dari pemerintah yang menunjukkan bahwa SD “Harapan Mulia” adalah salah satu sekolah dasar inklusi di Kabupaten Bantul. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Juli 2017. Pengambilan data penelitian menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur sehingga peneliti dapat mengembangkan pertanyaan selama kegiatan wawancara berlangsung. Di mana yang menjadi subjek penelitian adalah kepala sekolah, guru kelas IV, guru kelas V, dan guru kelas VI SD “Harapan Mulia”. Objek yang diteliti berupa permasalahan sekolah inklusi yang terjadi di kelas atas SD “Harapan Mulia”. Peneliti mengawali kegiatan penelitian dengan mengurus perijinan dari pihak prodi PGSD Universitas Sanata Dharma yang ditujukan kepada SD “Harapan Mulia. Selanjutnya, setelah mendapatkan izin dari SD “Harapan Mulia”, peneliti segera menyusun proposal dan instrumen penelitian yang berguna sebagai acuan atau pedoman dalam melakukan penelitian. Selanjutnya, setelah instrumen penelitian selesai disusun, peneliti berdiskusi kepada teman dan orang yang mengerti akan pendidikan inklusi yakni kepada dosen pembimbing. Setelah itu, peneliti memulai kegiatan penelitian dimulai pada saat kegiatan PPDB dengan melakukan observasi di SD “Harapan Mulia”. Selama di sekolah (lapangan), peneliti melakukan diskusi secara spontan
kepada guru dan kepala sekolah di mana beberapa diantaranya merupakan informasi atau data yang dapat digunakan sebagai data penelitian.
Berikut ini merupakan tabel jadwal wawancara di SD “Harapan Mulia” yang telah dilakukan oleh peneliti.
Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Wawancara
No Hari, Tanggal Waktu Narasumber
1 Senin, 3 Juli 2017 07.00-09.15 WIB Guru Kelas VI 2 Senin, 2 November 2017 08.00-09.00 WIB Guru Kelas IV 3 Senin, 2 November 2017 09.00-10.00 WIB Guru Kelas V 4 Selasa, 7 November 2017 08.00-09.30 WIB Kepala Sekolah 5 Sabtu, 11 November 2017 07.30-09.30 WIB Guru Kelas VI
Kegiatan wawancara dilakukan sebanyak lima (5) kali dengan narasumber yakni kepala sekolah, guru kelas IV, guru kelas V, dan guru kelas VI. Beberapa diantaranya terdapat diskusi secara spontan oleh peneliti dengan beberapa narasumber.
Berikut ini merupakan tabel jadwal observasi di SD “Harapan Mulia” yang telah dilakukan oleh peneliti.
Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Observasi
No Hari, Tanggal Waktu Hal yang Diamati
1 Senin, 3 Juli 2017 07.00-09.15 Kegiatan PPDB 2 Selasa, 4 Juli 2017 07.00-10.00 Kegiatan PPDB
3 Selasa, 14 November 2017 07.15-11.00 Kegiatan Tryout Kelas VI 4 Rabu, 15 November 2017 07.30-08.30 Kegiatan Pembelajaran Kelas V 5 Rabu, 15 November 2017 10.00-11.00 Kegiatan Pembelajaran Kelas IV
Kegiatan observasi dilaksanakan sebanyak lima kali. Hal-hal yang diamati yakni kegiatan PPDB, kegiatan tryout kelas VI, kegiatan pembelajaran kelas V, dan kegiatan pembelajaran kelas IV.
B. Hasil Penelitian
Pada bagian ini, peneliti menuliskan data hasil penelitian berupa data wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Pada hasil wawancara, peneliti menggunakan kode yang menunjukkan narasumber, waktu wawancara, dan baris pada verbatim. Berikut ini merupakan hasil penelitian yang telah diperoleh.
1. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang Mengakomodasi Semua Anak
Peneliti melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam mencari informasi atau data mengenai kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Selama melakukan kegiatan observasi, peneliti mendapatkan informasi bahwa sekolah membuat organisasi kepanitiaan PPDB yang terdiri dari guru kelas I dan beberapa guru lain tanpa menyertakan GPK, konselor, ataupun psikolog. Di mana selama kegiatan PPDB berlangsung, SD “Harapan Mulia” menerima semua calon peserta didik baru yang telah memenuhi syarat.
Ketika melakukan wawancara terhadap guru kelas IV yang mengatakan, “Gini kan kita semua saat PPDB itu semua anak diseleksi lewat umur saja, tidak langsung tes atau seperti apa itu kan tidak boleh” (WI.GKIV.02112017.1-3). Kepala sekolah mengungkapkan, “Kalau sini dapat menangani, ya ditangani di sini, tetapi kalau sini kok nggak bisa menangani, masih kelas I itu yang dua tahun berturut-turut ini saya alihkan ke SLB...” (WI.KS.07112017.8-13).
Kepala sekolah menambahkan, “Lha iya, panitia penerimaan siswa baru, wonten. Boten wonten GPK, konselor, napa psikolog. Kan biasanya di SD wis ora muluk-muluk mung berdasarkan umur” (WI.KS.07112017.1-4). Guru kelas V pun turut menuturkan,“Ya, nanti kan ditunjuk, sekretarisnya siapa, ning ya sik paling utama bu guru kelas I” (WI.GKV.02112017.1).
Dalam hal mempersiapkan sarana dan prasarana, guru kelas V berpendapat, “Enggak, Mbak. Soalnya kan belum tahu. Pada saat penerimaan siswa baru kan belum tahu itu termasuk yang mana to, slow learner atau tunagrahita, itu kan belum tahu. Jadi ya belum, fasilitasnya,
belum memperhatikan fasilitasnya, itu dereng” (WI.GKV.02112017.1-5). Guru kelas IV mengatakan, “Kalau misalnya untuk anak yang misalnya untuk disabilitas itu kan mungkin untuk pendukung kamar mandi atau untuk fasilitas umum itu kita bisa sediakan seperti kursi roda tapi kan di sini cenderung lebih banyak ke slow learner sebenarnya. Jadi lebih ke pendukung proses pembelajaran saja” (WI.GKIV.02112017.20-25). Kepala sekolah melengkapi, “Syukur nek dapat mengusahakan pak GPK niku wau” (WI.KS.07112017.9-10).
Guru kelas V mengatakan, “Ada beasiswa inklusi to, Mbak, terus ya nanti ditambah BOS. Iya, Mbak. Tambahane sama buat operasional to itu. Tapi ya kuwi mau, Mbak, nganggo BOS kuwi mau operasionale. Nek beasiswa inklusi kan hanya berapa orang padahal jumlah ABK lebih banyak dan yang keluar dari sana hanya enam belas atau berapa. Kurang ya BOS. Operasional setiap harinya ya BOS” (WI.GKV.02112017.1-8). Lalu, guru kelas VI melengkapi, “Kalau beasiswa yang diberikan ketika itu yang diberikan ya yang berhak menerima dan kadang ada anak yang misalnya sepuluh, misalnya tidak mendapat semua. Misalnya yang mendapat cuma lima itu kita dengan musyawarah dengan wali kita katakan kita bagikan ke semua walaupun nanti yang tanda tangan hanya lima misalnya, karena apa? Ya, kasihan yang lima. Itu kita musyawarahkan dengan wali, yang tadi minta ini minta itu kita sekolah punya kebijakan untuk memotivasi siswa agar semua siswa itu mampu menyelesaikan setidaknya selesai di sini” (WI.GKVI.11112017.10-20). Sedangkan guru yang lain memiliki pendapat yang sama dengan pernyataan-pernyataan tersebut.
Pada aspek PPDB ini, peneliti melakukan studi dokumentasi berupa petunjuk teknis (juknis) kegiatan PPDB SD “Harapan Mulia”. Berdasarkan Peraturan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bantul Tahun Pelajaran 2017/2018 pada Bab III pasal 8 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa TK, SD, dan SMP wajib menerima calon peserta didik baru Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK) dan sekolah berkewajiban untuk mengusahakan sarana dan prasarana beserta guru pendamping khusus yang memadai.
2. Identifikasi
Berdasarkan kegiatan observasi yang dilakukan, peneliti memperoleh hasil bahwa panitia PPDB melakukan identifikasi sederhana berupa identifikasi usia, jarak rumah dengan sekolah, dan riwayat penyakit yang diderita oleh calon peserta didik baru. Pada kegiatan wawancara, guru kelas IV mengatakan, “Kalau kelas I, bu guru kelas I selama ini dengan jelas observasi ya, pengamatan selama setengah semester. Itu kita bisa lihat kan dari observasi setiap hari kemudian apa, penilaian tugas-tugas itu kan kelihatan sekali anak yang pandai sama anak yang belum bisa itu kan sangat ketara sekali. Terus kemudian secara lisan dan kemudian diamati pergaulan dengan teman-temannya hanya seperti itu” (WI.GKIV.02112017.1-8). Guru kelas VI menambahkan, ”Kalau kita curigai dia itu memang dia punya kebutuhan khusus ya kita ikutkan asesmen” (WI.GKVI.11112017.1-2). “Bukan seperti itu saja, kita hanya sebatas mencurigai. Selain itu, kita mengundangkan yang ahlinya apakah betul saya mencurigai anak ini? Oh, ternyata betul, sehingga kita akan mengetahui bahwa ini slow learner, ini C, dan sebagainya” (WI.GKVI.11112017.23-27). Di mana guru lain memiliki persamaan pendapat, sehingga peneliti tidak mencantumkan semua hasil wawancara. Setelah mempelajari dokumen berupa formulir PPDB dapat diketahui bahwa terdapat identifikasi sederhana saat pelaksanaan PPDB yang dituangkan pada syarat-syarat PPDB.
3. Adaptasi Kurikulum (Kurikulum Fleksibel)
Peneliti tidak dapat mengamati aspek ini secara langsung, sehingga pada aspek adaptasi kurikulum yang fleksibel tidak diperoleh data dengan menggunakan teknik observasi. Pada kegiatan wawancara, guru kelas V mengungkapkan, “Nek kurikulum khusus ki belum punya, Mbak. Dadi mung
nganggo kurikulum pemerintah, terus Kurikulum 2013 ini” (WI.GKV.02112017.1-3). Begitu pula dengan kepala sekolah yang mengatakan, “Tapi sementara kurikulumnya masih seperti yang umum itu, Mbak, tapi nanti pelaksanaannya langsung guru yang bersangkutan mungkin. Iya, dikurangi indikatornya” (WI.KS.07112017.1-4), “Pokoknya wis guru yang pegang peranan, GPK hanya membantu” (WI.KS.07112017.16-17). Guru kelas VI melengkapi, “Tetapi, pada pelaksanaannya kita le membuat berarti RPP kita kan tambah panjang, akan tambah banyak terutama di pemecahan indikator. Dulu juga pernah dibuat seperti itu, pernah membuat, kita juga bisa kok membuat wong sudah dilatih, tapi kalau sudah mentok di kelas VI nggak laku lagi itu. Hanya pembelajarannya berlaku “Kamu latihannya mulai dari rendah dulu, dari mudah dulu, yang paling ini dulu terus nanti ke yang sedang sampai yang sulit.” Nah, yang sulit itu baru setara dengan yang lain, makanya yang lain itu ngejar ujian. Akhirnya saya di kelas VI tidak saya bintangi lagi, saya hafal “Oh, ABK pemahaman setiap harinya harus demikian” (WI.GKVI.11112017.20-33). Narasumber lain pun memiliki persamaan pendapat dengan pernyataan di atas.
Peneliti melakukan studi dokumentasi dengan mempelajari dokumen RPP kelas IV, kelas V, dan kelas VI. Di mana hasil yang diperoleh yakni guru kelas IV merancang perangkat pembelajaran berupa RPP dengan menggunakan Kurikulum 2013. Guru menyusun RPP dengan memperhatikan ABK yaitu guru melakukan modifikasi indikator dengan menyederhanakannya agar sesuai dengan kemampuan ABK. Lalu, guru kelas V merancang RPP dengan mengacu Kurikulum 2013, di mana guru tidak melakukan modifikasi pada bagian indikator bagi ABK. Sedangkan guru kelas VI menyusun RPP mengacu pada KTSP, di mana guru tidak melakukan modifikasi pada bagian indikator pembelajaran untuk ABK.
4. Merancang Bahan Ajar dan Kegiatan Pembelajaran yang Ramah Anak