• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adat Nan Sabana Adat (Etika yang Sebenarnya)

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG ETIKA

D. Bentuk-bentuk Etika Minangkabau

1. Adat Nan Sabana Adat (Etika yang Sebenarnya)

Etika di Minangkabau adalah etika yang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan yaitu adat ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah adat Minangkabau “ikan adatnya berair, air adatnya membasahi, pisau adatnya melukai” arti etika yang dimaksud disini adalah perilaku alamiah yang hidup ditengah-tengah masyarakat sehingga menjadi ketetapan yang tidak berubah.26

Adaik (adat) atau etika secara umum diartikan suatu aturan atau perbuatan yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu.27 etika dan budaya Minangkabau yang sering dikatakan sebagai budaya unik di dunia serta hanya satu-satunya budaya dengan etika yang berbeda dengan suku-suku bangsa atau etnis yang ada di Indonesia. etika dan budaya ini merupakan bagian kebudayaan Indonesia yang didukung masyarakat beretnis Minangkabau, baik yang berada di wilayah Minangkabau maupun yang berada di wilayah perantauan, kebudayaan

26 Chairul Anwar, Hukum Adat Indonesia; Meninjau Hukum Adat Minangkabau, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 5-6.

27 Gouzali Saydam, Kamus Lengkap Bahasa Minang Jilid I, (Padang: Pusat Pengkajian Islam Dan Minangkabau, 2004), h. 3.

Minangkabau merupakan salah satu dari dua kebudayaan besar di Nusantara yang sangat menonjol dan memberikan pengaruh.

Pada mulanya budaya dan etika Minangkabau masih bercorak budaya animisme dan Hindu-Budha. Sejak kedatangan para putra Minangkabau yang belajar Islam di Mekah pada akhir abad ke-18, etika dan budaya Minangkabau ini diperjuangkan untuk menjadi adat dan budaya dengan ajaran Islami. Putra Minangkabau ini adalah Haji Piobang, Haji Miskin, dan Haji Sumanik. Dengan dimotori oleh para ulama ini bersama ninik mamak dan cerdik pandai yang semula berkonfrontasi (bertentangan) satu sama lain, akhirnya pada tahun 1830-an mereka bersepakat untuk mengubah etika dan budaya Minangkabau menjadi etika yang islami sebagaimana yang diperjuangkan oleh tiga ulama ini.28

Kesepakatan masyarakat Minangkabau ini ditandai dengan adanya perjanjian di Bukit Marapalam yang sampai sekarang ini dikenal oleh masyarakat Minangkabau sebagai Perjanjian Bukik Marapalam. Setelah mengadakan perundingan tersebut, mereka menghasilkan dokumen bersejarah yang mendasarkan etika dan budaya Minangkabau pada syariat Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis Rasulullah Saw. Dengan adanya kesepakatan ini, etika dan budaya serta segala sesuatu yang berkenaan dengan

28 Musril Zahari, Kekeliruan Pemahaman Hubungan Adat dengan Syarak di Minangkabau, h. 3-4.

kehidupan suku Minangkabau harus sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kesepakatan itu adalah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adaik mamakai, dalam perjalanan waktu dilengkapi dengan ungkapan alam takambang jadi guru, dan syarak nan kawi adat nan lazim. Dengan kata lain, etika Minangkabau bersumber dari ayat qauliyah (al-Qur’an yang diberi penjelasan dengan hadis Rasulullah SAW). Sementara itu, ayat kauniyah dijadikan sebagai salah satu sarana untuk dapat memahami ayat qauliyah. Dengan demikian, semua etika dan budaya di tengah masyarakat Minangkabau yang tidak sesuai dengan ajaran Islam adalah adat jahiliyah dan harus direformasi sehingga bersesuaian dengan ajaran Islam atau syariat Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW.29

Etika adat nan sabana adat ialah segala sesuatu yang telah demikian terjadi menurut kehendak Allah SWT, jadi yang telah merupakan undang-undang alam yang selalu abadi dan tidak berubah-ubah.30

Etika adat nan sabana adat juga dapat diartikan sebagai apa yang ada dalam firman Allah dalam kitab suci al-Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad SAW. Dengan artian adalah bahwa segala yang tertuang dalam al-Qur’an dan Sunah adalah sebagai acuan dasar yang

29 Musril Zahari, Kekeliruan Pemahaman Hubungan Adat dengan Syarak di Minangkabau, h.4.

tidak berubah, acuan yang kokoh, dan menyatu. Begitu pula dengan apa yang tertulis di dalam tambo-tambo Minangkabau bahwa setiap tingkah laku masyarakat Minangkabau bersandar kepada aturan etika dan agama.31

Adat nan Sabana Adat merupakan etika Minangkabau paling asli yang menjadi dasar penyusunan untuk tingkat adat-adat lain di bawahnya. Adat nan sabana adat ini didasarkan kepada ajaran agama ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa serta berdasarkan ajaran alam masyarakat Minangkabau, sebuah ajaran yang dipakai sampai sekarang ini yaitu “alam takambang jadi guru” yang kemudian hingga akhirnya menjadi sebuah pegangan dan falsafah hidup orang Minang.32 Seperti disampaikan dalam pepatah Minangkabau, yaitu: “Adaik basandi syarak, Syarak basandi Kitabullah

Syarak mangato, adaik mamakai”.33

Dapat diartikan bahwa dari falsafah hidup yang dipakai oleh orang Minangkabau, harus berdasarkan kepada syarak dan pedoman hidup yang ada dalam kitab Allah (al-Qur’an), pemberlakuan etika yang disesuaikan terhadap syariat sebagai pegangan hidup manusia. Orang Minangkabau dengan benar meyakini bahwa cara terbaik menjalani kehidupan adalah berpedoman kepada ayat qauliyah

31 Musril Zahari, Kekeliruan Pemahaman Hubungan Adat dengan Syarak di Minangkabau, h. 3-4.

32 Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Tambo Alam Minangkabau; Tatanan Adat Warisan Nenek

Moyang Orang Minang, (Bukittinggi: Kristal Multimedia, 2009), h. 148.

Qur’an) dan Hadis Rasulullah sebagai rujukan utama atau sumber primer, serta ayat kauniyah yang dibunyikan dalam masyarakat Minangkabau dengan petatah dan petitih Minang yang berbunyi adat basandi syarak, basandi kitabullah, alam takambang jadi guru, syarak mangato adaik mamakai. Karena pedoman utama orang Minangkabau adalah al-Qur’an dan Hadis.

Syarak yang dimaksud adalah syariat atau ajaran agama Islam. Sementara itu, ayat kauniyah juga dijadikan sebagai rujukan pendukung/sekunder sehingga muncullah ungkapan alam takambang jadi guru. Bahwa manusia harus menjadikan alam semesta yang terkembang atau ayat kauniyah sebagai guru juga merupakan isyarat yang telah diberikan oleh al-Qur’an antara lain dengan firman Allah SWT. Karena itu, orang Minangkabau diharamkan menjadikan hal-hal yang bertentangan dengan syariat dijadikan pedoman dalam kehidupannya segala sesuatu berselisih atau bertentangan dengan ajaran Islam.

Kedudukan syarak adalah kekuatan untuk tegaknya adat di Minangkabau, lalu muncul frasa “syarak nan kawi adaik nan lazim”, hal ini bermakna bahwa aturan adat adalah aturan yang harus disesuaikan dengan aturan syarak, aturan adat haruslah tunduk kepada aturan syarak karena adat itu bersumber dari syarak (syarak nan kawi) dan adat boleh saja berganti atau berubah sepanjang tidak menyalahi syarak (adaik nan lazim). Adat sebagai aturan horizontal sesama

manusia dan segala aturan adat yang tidak sesuai dengan aturan syarak dengan sendirinya harus batal sebab kekuatan syarak (kawi/kuat) adalah di atas kekuatan adat (lazim).34

etika yang dipakai di Minangkabau ada beberapa macam perkara adat, salah satu adat yang menjadi sumber bagi etika lainnya adalah adat yang sebenar adat ini (Adat nan Sabana Adat). Apa yang berlaku dalam adat nan sabana adat itu adalah segala hal yang diterima oleh nabi Muhammad SAW, adat nan sabana adat bersumber dari firman-firman Tuhan dalam kitab suci-Nya.35 Dari sumber-sumber tersebutlah etika atau adat yang sebenarnya disandarkan, sehingga dikatakan:

Adat nan sabana adat Indak lapuak dek hujan Indak lakang dek paneh Kok dicabuik indak mati Kok diasak indak layua.36

(Adat yang sebenar-benarnya adat Tidak lapuk oleh hujan

Tidak lekang oleh panas Jika dicabut tidak mati

34 Saafroedin Bahar, ABS-SBK: Filosofi Hidup untuk Dipraktikkan Bukan Sekedar Konsep,h. 18.

35 Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo,Tambo Alam Minangkabau; Tatanan Adat Warisan Nenek

Moyang Orang Minang, h. 149.

Jika dipindahkan tidak layu.) Adat berdasarkan kepada syarak (syari’at)

Syarak berdasarkan kepada kitabullah (kitab Allah) Syarak mengatakan, adat yang memakai.

Etika adat yang sabana adat yang terdapat dalam ayat-ayat Allah dalam al-Qur’an dan hadis secara tersurat, juga terdapat dalam ayat-ayat Allah yang disampaikan dengan tersirat (tidak tersurat). Ayat-ayat Allah yang tersirat adalah ayat-ayat Allah yang ditebarkan ke dalam alam semesta termasuk diantaranya Sunnatullah atau ketentuan-ketentuan, atau hukum alam yang meliputi jagad raya. Sebab dengan begitu kuatnya adat nan sabana adat ini menjadi landasan utama hukum etika Minangkabau.

Begitupun demikian sebagian besar peradilan etika diambil dan berpedoman dari kitab suci, tidak lepas dari situasi dan kondisi masyarakat dan berdasarkan kebijaksanaan para “cadiak pandai” kaum adat pada masa dahulu. Meskipun pada masa dahulu itu belum ada pendidikan hukum dalam tingkatan yang tinggi disertakan sarana dan prasarana yang mendukung pendidikan tersebut, tetapi para terdahulu sudah dapat menyusun peraturan-peraturan yang diberlakukan untuk masa-masa kedepannya tanpa dapat dirubah (kekal), tanpa ada bukti tertulis di atas kertas, hanya dihapalkan sehingga menjadi pedoman hidup yang kuat bagi orang-orang Minangkabau, dan dari sinilah kiranya masyarakat berpedoman

kepada alam yang melekat pada sebuah pepatah Minangkabau “alam takambang jadi guru”.

Pada masa itu pula lah dirembuk dan ditentukannya istilah-istilah hukum seperti apa-apa yang sah dan batal, halal dan haram, sunah dan wajib, dakwa dan jawab, saksi dan bainah (bukti yang nyata), serta hukum-hukum lainnya yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari bagi orang Minangkabau baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat, beradat dan bernagari, dan sampai kepada hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi setiap masyarakat di Minangkabau.37

Sesuai dengan sumpah satie Bukit Marapalam, masyarakat Minangkabau telah sepakat menjadikan syariat agama Islam menjadi pedoman kuatnya adat di nagari oleh masyarakat Minangkabau. Dalam hal-hal yang terdapat perbedaan atau pertentangan antara kaidah ajaran Islam dengan etika Minangkabau, maka yang diutamakan adalah kaidah ajaran Islam, penyesuaian antara etika Minangkabau dengan kaidah ajaran Islam dilakukan secara damai, bertahap, dan melalui jalan musyawarah untuk mufakat, sehingga pada suatu saat di masa depan syarak akan menjadi adat. Ajaran Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan jati diri dan identitas kultural Minangkabau, yang menjadi rujukan dalam kehidupan pribadi,

37 Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo,Tambo Alam Minangkabau; Tatanan Adat Warisan Nenek

keluarga, suku, dan masyarakat Minangkabau, di Ranah Minang dan di rantau.

Penyesuaian etika dengan syarak ini adalah termasuk bagian dari adat nan sabana adat atau adat nan sabatang panjang, dicabui indak mati, diinjak indak layua, indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh, dan berlaku di seluruh Minangkabau.38

Dokumen terkait