LANDASAN TEORI A. Konsep Mahram
4) ADAT NIKAH SUMBANG 1. Pengertian Nikah Sumbang
Nikah secara bahasa berasal dari kata Al-jam’u dan Al-dhammu yang berarti kumpul. Sebuah pengibaratan tentang suatu hubungan intim dan sekaligus tentang akad, atau di dalam syari’at dikenal juga dengan sebutan akad nikah. Nikah secara syaria’at berarti sebuah akad yang mengandung unsur kebolehan untuk bersenang-senang dengan perempuan, dengan cara berhubungan intim (wath’u al-zaujah), menyentuh, mencium, memeluk, dan sebagainya, nikah juga dapat diartikan sebagai
sebuah akad yang telah ditetapkan oleh syari’at yang bertujuan memberikan hak dan wewenang kepada laki-laki untuk bersenang-senang dengan perempuan dengan menghalalkan perempuan bersenang-senang dengan laki-laki, disini ditegaskan bahwa akad memberikan hak kepemilikkan secara khusus kepada seorang laki-laki atas seorang perempuan yang telah dinikahinya, sedangkan menurut ulama Hanafiyah mendefiniskan nikah sebagai, sebuah akad yang memberikan hak untuk bersenang-senang secara sengaja kepada laki-laki atas seorang perempuan yang tidak dilarang untuk dinikahi secara syari’at
Sedangkan nikah menurut Bahasa Indonesia adalah “Perkawinanan” yang berasal dari kata “kawin” yang berarti membentuk suatu keluarga dengan lawan jenis, berhubungan jenis kelamin atau bersetubuh, kata kawin juga digunakan secara umum, untuk tumbuhan, hewan, dan manusia itu sendiri, berbeda dengan kawin, kata nikah hanya digunakan pada manusia karena memilki keabsahan secara nasinal, hukum adat, dan hukum agama, nikah berarti akad arau ikatan, dikarenakan di dalam suatu proses pernikahan terdapat ijab dan kabul yang berarti penyerahan dan penerimaan
Secara terminologi nikah adalah akad serah terima antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bertujuan untuk memuaskan satu sama lain dan untuk membentuk suatu rumah tangga yang sakinah, sebagaimana yang tercantum di dalam pasal 1 undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan
“Pernikahan ialah ikatan lahir batin antaraseorang pria dan seorang wanita sebagi suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal dan berdasrkan ketuhanan Yang Maha Esa”
Kemudian di dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa perkawinan menurut hukum islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan suatu ibadah.
Istilah kata “Sumbang” digunakan untuk menunjukkan sesuaatu perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan yang ada di dalam masyarakat atau perbuatan yang tidak baik menurut pandangan atau penilaian orang banyak, seperti halnya seorang laki-laki yang mendatangi rumah perempuan pada malam hari hingga lewat malam, sehingga mamak dari pihak laki-laki atapun pihak perempuan meresa tersinggung karena dianggap tidak menjaga kemenakannya, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Sumbang” di istilahkan sebagai seseorang yang bersalah tentang adat, melanggar adat, kebiasaan, kesopanan, dan sebagainya.20 Namun yang di fokuskan pada pembahasan ini adalah pengertian dari Nikah Sumbang, Nikah Sumbang merupakan suatu perbuatan yang dilakukan tidak pada tempatnya dan di pandang tidak baik menurut penilaian masyarakat, dan bagi pelakunya bisa dikatakan tidak memiliki rasa malu dan tidak beradat.
2. Macam-Macam Nikah Sumbang
Macam-macamn nikah Sumbang yang tedapat di Desa Semurup terbagi atas 4 antara lain:
20 Ana Retnoningsih dan Suharso, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Semarang: Widya Karya, 2005), hlm. 310.
a. Menikah Telur, merupakan pernikahan yang terjadi dengan mak etek
b. Memecah Mato Sultan, seorang anak perempuan menikah dengan mamak atau pak etek
c. Manungkat Langit, merupakan pernikahan yang terjadi antara seorang anak dengan ayah atau nyantan (kakek) dari si anak tersebut 21
d. Manikam Bumi, pernikahan yang terjadi antara seorang ibu atau nenek dari anak tersebut
Sementara macam-macam nikah sumbang secara umum adalah:
1. Mengawini seseorang yang telah diceraikan oleh sahabat, kerabat, atau tetangga dekat.
2. Mempermadukan perempuan yang sekerabat (selain yang dilarang oleh agama).
3. Mengawini orang yang sedang bertunangan dengan orang lain.
4. Perkawinan yang tidak seizin wali dan mamak.
5. Mengawini anak tiri saudara kandung22
3. Faktor Nikah Sumbang
21 Nurkasdi Dpt, Tokoh Adat, wawancara, Semurup, 14 Januari 2021.
22 Prof. Dr. Yaswirman, Hukum Keluarga, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 143.
Faktor terjadinya nikah sumbang dikarenkahan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Perjodohan
Perjodohan merupakan salah satu yang menjadi sebab sering terjadinya nikah sumbang di Desa Semurup ini, faktor ini terjadi karena adanya keinginan dari orang tua pihak laki-laki dan pihak perempuan untuk tidak melepaskan anaknya dengan anak orang lain, anak orang lain disini adalah yang berada di luar keluarga. Sehingga membiarkan anaknya menikah sesama keluarga saja walaupun dianggap sumbang di dalam masyarakat dan hukum adat asalkan anaknya menikah dalam satu keluarga saja. Seperti yang di sampaikan oleh bapak Firfardian, yang merupakan pelaku Nikah Sumbang, beliau mengatakan bahwa benar pernikahan yang beliau lakukan dengan istri beliau yang sekarang merupakan sebuah perjodohan yang di lakukan oleh orangtua beliau dengan orang tua dari si istrinya, beliau juga mengatakan bahwa keluarga beliau dan keluarga istri beliau melakukan perjodahan ini agar beliau tidak menikah dengan wanita lain yang berasal dari luar keluarga, hal ini dikarenakan pada saat itu beliau telah memiliki pekerjaan sedangkan istri beliau belum memiliki pekerjaan, jadi prinsip yang ada pada kedua orang tua dari pihak saudara Firfardian dan istrinya, biarlah menikah dengan sesama keluarga asalkan tidak menikah dengan wanita yang berasal dari luar keluarga dan tidak jatuh ke tangan orang lain, peristiwa pernikahan demikian menujukkan bahwa mayoritas masyarakat Kerinci
terutamanya di Desa Semurup ini masih memilih menjodohkan anak-anaknya untuk beberapa hal yaitu:
a. Mempertahankan Harta b. Menjaga
2. Suka sama suka (Cinta)
Kemudian faktor kedua ialah cinta, cinta menjadi faktor paling utama dalam sebuah hubungan, dalam hubungan apapun cinta menjadi modal utama untuk terwujudnya suatu hubungan tersebut. Hubungan yang tidak dilandasi dengan cinta tidak akan mampu untuk bertahan lama seperti halnya dalam nikah sumbang ini. Pada ikatan dalam pernikahan sumbang kedua pasangan selain dinikahkan melalui perjodohan mereka juga memiliki rasa cinta antara satu sama lain, karena jika pernikahan ini hanya karena sebuah perjodohan dan tidak dilandasi dengan rasa cinta maka mereka tidak akan pernah menerima satu sama lain dan mereka akan mencari cara agar pernikahan tersebut tidak terjadi.
Sehingga dengan adanya cinta itulah mereka mengesampingkan hukum adat yang berlaku di tengah masyarakat.23
4. Pandangan Ulama Terhadap Nikah Sumbang
23 Firfardian, Pelaku Nikah Sumbang, Wawancara, Semurup, 15 Februari 2021
Menurut Syech H. Muhammad Jamil, merupakan salah satu ulama di Desa Semurup, beliau mengatakan bahwa pernikahan sumbang merupakan suatu pernikahan yang sah menurut hukum islam, karena pernikahan sumbang ini memenuhi semua rukun dan syarat untuk melangsungkan suatu pernikahan, tidak ada bedanya dengan pernikahan biasanya, hanya saja di sebut sumbang dikarenakan menyalahi atauran adat disebabkan pernikahan tersebut terjadi sesama keluarga.
Beliau mengatakan bahwa setiap hal yang dilakukan sesuai dengan aturan syara’
maka itu hukumnya adalah “SAH” akan tetapi di dalam nikah sumbang ini berbeda, sehingga beliau menuturkan bahwa orang adat yang membuat aturan adat mereka masih memilki sifat jahiliyyah dan tidak paham dengan agama24 .
Drs. Aflizar selaku tenaga pendidik di SMAN 4 Sungai Penuh dan juga selaku tokoh ulama di Desa Semurup, beliau mengatakan bahwa nikah sumbang merupakan suatu pernikahan yang sah menurut hukum islam, hanya saja di dalam hukum adat di jadikan suatu pernikahan yang sumbang atau suatu pernikahan yang menyalahi aturan adat dikarenakan pernikahan tersebut terjadi antara orang-orang yang masih dalam satu keluarga, atau pernikahan yang terjadi antara paman dengan cucu perempuannya, beliau juga mengatakan bahwa nikah sumbang ini merupakan perkawinan yang tidak sederajat, sehingga beliau menyimpulkan bahwa pernikahan sumbang ini sah selayaknya pernikahan biasanya hanya saja aturan yang dibuat di
24 Syech Muhammad Jamil, Tokoh Ulama, wawancara, Semurup, 20 Januari 2021
dalam hukum adat merupakan suatu bentuk bahwa orang adat banyak yang belum paham akan agamanya.25
A. Implikasi Nikah Sumbang