Bu Sin terduduk kembali. Agaknya orang yang menolongnya ini sejak tadi menjaganya di situ dan melihat ia sium-an, baru orang itu pergi sambil meninggalkan tulisan di dekat api dan
pedang. Siapa gerangan orang itu? Kepandaiannya hebat, tidak seperti manusia. Setankah dia? Tiba-tiba ia teringat akan penuturan Suma-kongcu. Apakah setan ini pula yang belasan tahun yang lalu telah menolong kakaknya, Bu Song? Ia merasa menyesal sekali, mengapa
penolongnya itu melaku-kan ini secara bersembunyi sehingga ia sama sekali tidak dapat menduga-duga siapa gerangan penolongnya. Lebih kha-watir lagi hatinya ketika mendapat ke-nyataan bahwa Sian Eng dibawa lari Hek-giam-lo. Ia tidak tahu siapa itu Hek-giam-lo. Tiba-tiba ia teringat. Pernah ia mendengar nama ini disebut orang. Ia mengingat-ingat, lalu terbayang dalam benaknya pengalamannya bersama Lin Lin dan Sian Eng ketika mereka bertiga ber-sembunyi di dalam hutan, di atas pohon besar kemudian mereka terancam oleh It-gan ong. Betapa kemudian ter-dengar suara melengking tinggi yang membuat It-It-gan Kai-ong agaknya lari ketakutan, kemudian orang yang menge-luarkan lengking tinggi tampak punggung-nya dan menyebut-nyebut nama Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni, dan Bu Kek Siansu. Dan sekarang Hek-giam-lo yang disebut-sebut itu telah membawa lari Sian Eng! Siapa dan apa itu Hek-giam-lo ia tidak tahu, akan tetapi melihat namanya, Hek-giam-lo berarti Iblis Maut Hitam!
Bu Sin termenung, bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Lin Lin dibawa lari seorang sakti yang bernama Kim-lun Seng-jin, sekarang Sian Eng dibawa lari Hek-giam-lo. Kedua orang adiknya tidak ia ketahui bagaimana nasibnya dan berada di mana sekarang. Men-cari kakaknya belum juga bertemu, ha-nya mendengar nasibnya yang buruk, di-siksa hampir mati dan lenyap. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Dengan pikiran bingung dan gelisah sekali Bu Sin terpaksa meninggalkan tempat itu, menyusup-nyusup hutan kare-na ia maklum bahwa ia tentu dikejar oleh Suma-kongcu dan sekali lagi terjatuh di tangannya berarti akan hilang nyawanya.
Ke mana lenyapnya Sian Eng yang tadinya berada dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tak dapat bergerak ter-baring di atas dipan? Gadis ini biarpun sudah tak dapat bergerak karena jalan darah thian-hu-hiat tertotok membuatnya lemas kehilangan tenaga, namun ingatan-nya masih berjalan baik dan panca in-deranya tidak terpengaruh. Ia berusaha sedapat mungkin untuk mengumpulkan tenaga lwee-kang untuk membebaskan diri daripada totokan, namun usahanya belum juga berhasil. Hatinya gelisah bukan main melihat kakaknya dikeroyok itu. Tiba-tiba sesosok bayangan nitam berkelebat dan tahu-tahu ia merasa diri-nya diterbangkan dari tempat itu. Demi-kian cepatnya gerakan yang menolongnya sehingga ia tidak dapat melihat orang ataukah setan penolongnya itu. Ia dipondong dan karena masih dalam ke-adaan tertotok, ia tidak dapat meng-gerakkan kepala untuk memandang pe-mondongnya. Pakaian orang ini dari sutera hitam dan ia mengingat-ingat. Tiba-tiba jantungnya berdebar keras. Orang yang dahulu melengking tinggi mengejar It-gan Kai-ong, yang hanya terlihat
punggungnya, juga berpakaian hitam. Orang yang membawa suling dan yang mereka duga adalah Suling Emas, dan juga pem-bunuh orang tua mereka! Celaka, pikirnya, kalau pembunuh orang tuanya, mu-suh besar ini yang sekarang menculiknya pergi, tentu tidak bermaksud baik. Ia tidak tahu dibawa ke jurusan mana, ce-pat sekali larinya seperti terbang saja. Menjelang senja mereka tiba di lereng gunung.
Sian Eng sekarang sudah mampu meng-gerakkan kepala karena urat lehernya sudah mulai terbebas daripada totokan, jalan darahnya sudah mulai mengalir kembali. Akan tetapi biarpun ia menengok dan memutar leher, tetap saja ia tidak dapat memandang muka pemondongnya yang berjubah hitam, karena kepalanya berada di punggung orang itu. Ketika ia memandang ke sekitarnya mdalui kedua pundak pemondongnya, ia terkejut dan merasa ngeri. Kiranya mereka telah ber-ada di sebuah tempat kuburan kuno yang amat luas. Agaknya kuburan orang besar, karena selain luas, juga amat indah. Bongpai (batu nisan) besar-besar dan megah berdiri di sana, di dalam ling-kungan pagar tembok dan di sana sini berdiri patung-patung yang terukir indah. Jalan menuju ke batu nisan itu menanjak. Agaknya penolongnya hendak
membawa-nya ke batu nisan itu. Akan tetapi ternyata tidak. Ia dibawa memasuki sebuah terowongan melalui sebuah pintu rahasia di balik batu nisan. Terowongan yang gelap sekali. Tak lama kemudian sampai-lah mereka di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas dan tidak gelap, agaknya sinar matahari dapat masuk ke ruangan ini. Sian Eng dilempar ke atas sebuah bangku panjang, akan tetapi ia tidak terbanting, melainkan jatuh terduduk. Ini kembali membuktikan bahwa penolong atau penculiknya itu adalah se-orang yang amat tinggi
kepandaiannya.
Sian Eng yang sudah dapat bergerak lagi cepat menoleh dan.... gadis itu hampir saja menjerit kalau tidak lekas-lekas menutupi mulut dengan kedua tangannya. Ia hanya duduk dengan mata terbelalak lebar memandang ke depan, kepada orang yang memondongnya tadi. Sehelai demi sehelai bulu di tubuhnya berdiri, dan gadis ini hampir pingsan karena kaget, takut, dan ngeri. Ternyata yang memondongnya tadi bukanlah manusia! Tengkorak hidup! Jubah hitam itu menutup sampai kepalanya, yang tampak hanya muka tengkorak dengan kedua lubang mata yang lebar, lubang hidung yang kecil dan bekas mulut yang amat lebar, masih bergigi. Mengerikan! Di tempat seperti itu, yakni di bawah tanah, bawah kuburan bertemu dengan mahluk seperti ini, benar-berar membutuhkan syaraf membaja untuk tidak menjerit-jerit ketakutan.
Kemudian mahluk itu yang berdiri tak bergerak seperti patung, mengeluarkan suaranya yang terdengar bergema namun seperti dari jauh datangnya, suara yang tidak pantas menjadi suara manusia hi-dup, “Nona datang dari Ting-chun, di kaki Gunung Cin-ling-san puteri Jenderal Kam Si Ek?”
Karena masih dicekam kengerian, Sian Eng belum mampu mengeluarkan suara, hanya mengangguk dan sepasang matanya yang bening itu terbelalak lebar, beberapa kali menelan ludah untuk membasahi ke-rongkongannya yang mendadak menjadi kering sekali.
Mendadak terjadi hal yang aneh dalam pandangan Sian Eng. Mahluk itu, yang kini ia dapat menduga tentulah seorang manusia yang memakai to-peng tengkorak, tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut di depan bangku itu, di mana Sian Eng sudah bangkit berdiri!
“Aduhai Sang Puteri.... bertahun-tahun hambamu seluruh rakyat menanti kehadiran Paduka Puteri, bertahun-tahun hamba yang hina mencari dengan susah payah. Akhirnya hamba mendapatkan jejak Jenderal Kam di Ting-chun, akan tetapi Paduka sudah pergi.... ah, siapa duga hamba dapat bertemu dengan Pa-duka di sini. Rakyat telah menanti untuk menjemput Paduka sebagai ratu....” Sampai di sini, si kedok tengkorak itu lalu menangis sesenggukan. Dapat dibayangkan betapa Sian Eng melongo keheranan, bulu tengkuknya berdiri kaku karena ia menganggap bah-wa kedok iblis ini tentulah seorang yang miring otaknya! Akan tetapi suara tangis-an kedok iblis itu demikian mengharukan hati sehingga dalam takutnya Sian Eng ikut terharu dan tak dapat menahan lagi membanjirnya air matanya. Ia ikut pula menangis!
Kedok iblis itu segera membentur-benturkan jidat tengkoraknya ke atas lantai sambil berkata, “Wahai, Paduka Puteri junjungan hamba...., betapa bahagianya hati hamba, betapa bahagianya rakyat kita, setelah bertahun-tahun di-kuasai raja yang tak berhak. Kini Paduka telah muncul, bagaikan Sang Matahari muncul untuk mengusir awan hitam yang gelap. Jangan Paduka khawatir, ada ham-ba Hek-giam-lo yang akan membantu Paduka merampas kembali mahkota dan singgasana yang memang menjadi hak Paduka....”
Tentu saja Sian Eng makin tidak me-ngerti dan menganggap orang yang mi-ring otaknya ini sedang kambuh gilanya maka bicaranya makin tidak karuan. Pada saat itu terdengar suara mirip ta-ngisan yang melengking tinggi menembus sampai ke ruangan di bawah tanah itu. Lapat-lapat terdengar suara memanggil nama Hek-giam-lo disusul maki-makian.
Hek-giam-lo mengangguk-anggukkan kepala tengkoraknya di depan kaki Sian Eng, lalu berkata halus, “Mohon perkenan Paduka untuk menghalau pengacau yang berada di luar
istana.”
Mau tak mau Sian Eng menggigil. Tempat kuburan mengerikan seperti ini dianggap istana dan ia hendak dijadikan ratunya. Celaka! Akan tetapi untuk mem-bantah, ia tidak berani karena maklum bahwa orang gila yang menyeramkan ini memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Ia hanya mengangguk dan agar orang gila itu tidak kecewa dan marah ia berkata lirih, “Pergilah....”
Tampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu Hek-giam-lo telah lenyap dari depannya. Sian Eng menggosok-gosok kedua mata dengan punggung tangan. Mimpikah ia? Ataukah semua itu tadi peristiwa yang benar terjadi? Kalau be-gitu, agaknya bukan manusia si kedok tadi, jangan-jangan memang benar teng-korak hidup. Kalau manusia, masa pandai
menghilang seperti itu?
Di sebelah atas, depan bongpai (batu nisan) yag besar dan megah itu, berdiri seorang wanita yang rambut nya panjang riap-riapan sampai ke kaki. Seorang wa-nita cantik sekali,
rambutnya hitam halus dan mengeluarkan keharuman yang me-wakili taman bunga, baju luarnya putih bersih dari sutera halus. Seorang wanita cantik namun menyeramkan. Sukar me-ngira-ngira usianya. Melihat wajah halus mata jeli bibir merah itu orang akan mengira ia masih amat muda, akan te-tapi sikap, gerak-gerik dan pandang ma-tanya membayangkan kematangan lahir batin di samping watak yang mendirikan bulu roma. Siang-mou Sin-ni (Wanita Sakti Rambut Harum)! Telah kita kenal wataknya yang aneh dan kekejamannya yang melewati batas pada permulaan cerita ini. Ia sekarang berdiri di depan batu nisan besar sambil memaki-maki dengan suara nyaring, diseling lengking tinggi seperti orang menangis.
“Hek-giam-lo, tengkorak busuk bau bangkai! Keluarlah jangan sembunyi seperti cacing tanah! Kalau kau tidak lekas ke-luar, lihat saja kau! Batu nisan yang bagus-bagus ini kubikin remuk. Hendak kulihat apakah kau masih tidak akan muncul!”
Tentu saja ucapan ini membikin marah Hek-giam-lo yang tepat muncul dari sebuah lubang di depan batu nisan se-telah membuka penutup lubang itu dari bawah. Orang biasa tentu akan kaget setengah mati dan lari terkencing-kencing ketakutan kalau melihat mahluk seperti Hek-giam-lo tiba-tiba muncul dari lubang di depan batu nisan itu. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni bukanlah orang biasa. Ia segera menyambut munculnya Hek-giam-lo dengan makian sambil menudingkan telunjuk kirinya yang runcing dan tangan kanan bertolak pinggang.
“Hek-giam-lo tengkorak busuk! Hayo lekas kauserahkan padaku surat yang kaucuri dari gerombolan It-gan Kai-ong si jembel tua bangka!”
Hek-giam-lo tidak menjawab akan tetapi segera melompat keluar dan meng-hadapi Siang-mou Sin-ni dengan marah. “Sin-ni, antara kita sudah terdapat saling pengertian, karena jalan hidup kita tidak bersimpangan. Kau tahu bahwa aku harus membela negaraku, surat itu amat penting bagi negaraku. Kerajaan Sung selalu memusuhi Khitan, dan sekarang, setelah aku menemukan kembali Puteri Mahkota calon ratu, surat itu terlebih penting. Dengan
memperlihatkannya kepada Kerajaan Sung, tentu mempererat hubungan antara Khitan dan Sung. Mau apa kau pinta surat itu?”
“Tengkorak busuk! Kaukira hanya kau seorang yang mau mengambil peran se-bagai patriot pembela bangsa dan negara? Cih, bangsa Khitan, perantau tak tentu tanah airnya, berlagak patriot segala! Surat itu adalah surat persekutuan antara Nan-cao dan Hou-han. Apa sangkut-paut-nya dengan Khitan? Dan kau harus tahu bahwa aku adalah pembela Hou-han. Surat itu harus kudapatkan kembali dan kuserahkan kembali kepada yang berhak yaitu Kerajaan Hou-han atau Nan-cao yang wajib menerimanya. Biarpun untuk itu aku harus mengadu ilmu dengan patriot-patriot Khitan, aku tidak akan un-dur setapak pun!”
“Hemmm, kau perempuan mau main politik segala? Siang-mou Sin-ni, namamu cukup terkenal sebagai seorang di antara Thian-te Liok-koai. Lebih baik kaupertahankan nama itu dan ja-ngan mencampuri urusan negara. Urusan ini adalah bagian laki-laki.”
laki-laki? Hayo kembalikan!” Siang-mou Sin-ni menggertak dan rambut-rambut hitam panjang di kepalanya itu sudah bergoyang-goyang. Rambutnya me-rupakan senjatanya yang paling ampuh dan memang rambutnya itulah yang amat ditakuti di dunia kang-ouw. Bagi wanita biasa, agaknya rambut yang hitam pan-jang halus dan harum itu akan menjadi kebanggaan dan akan disukai banyak orang, terutama kaum pria. Akan tetapi rambut Siang-mou Sin-ni yang harum ini merupakan cengkeraman-cengkeraman maut yang entah sudah menewaskan nya-wa beberapa banyak orang!
“Sin-ni, kau tahu aturan antara kita. Surat ini kudapatken dengan jalan meng-gunakan kepandaian, tentu saja tidak mungkin kuberikan kepadamu begini saja.”
Sambil berkata demikian, Hek-giam-lo sudah mengeluarkan sabitnya, juga tangan kirinya mengeluarkan sehelai surat yang ia rampas dari tangan Suma Boan tanpa diketahui orangnya. Melihat surat itu di tangan Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni mengeluarkan lengking tangis yang menggetarkan kalbu, rambutnya seakan-akan hidup menyambar untuk merampas surat sedangkan sebagian rambutnya yang lain lagi menyambar ke arah jalan darah di dada, leher, pangkal lengan dan pergelangan yang maksudnya selain merobohkan lawan juga merampas sabit!
“Uhhh!” Hek-giam-lo membentak, surat itu sudah lenyap di saku bajunya lagi dan sabitnya hilang, berubah menjadi sinar putih yang menyilaukan mata, tubuhnya menjadi bayangan hitam yang bergulung-gulung dengan sinar sabitnya. Pada detik-detik berikutnya, Hek-giam-lo dan Siang-mou Sin-ni sudah saling terjang dengan ganas sehingga terjadilah perkelahian yang luar biasa. Kalau kebetulan ada orang melihat pertempuran ini, tentu mengira bahwa iblis-iblis kuburanlah yang sedang bertanding ini. Kadang-kadang mereka bertanding di atas lantai depan batu bisa, kadang-kadang dengan gerakan ringan dan cepat keduanya
berlompatan dan berkejaran di atas bongpai (batu nisan), melayang di antara pohon-pohon untuk kembali ke lantai lagi, melanjutkan pertandingan yang amat hebatnya.
Namun keduanya sama kuat. Perta-hanan masing-masing terlampau kokoh dan rapat sehingga sukar bagi mereka untuk mencari lubang dan memasuki serangan mematikan.
“Hi-hik, tengkorak busuk. Mana pela-jaranmu dari Bu Kek Siansu? Untuk apa kaurampas setengah kitabnya? Hayo ke-luarkan, kulihat jurus-jurusmu adalah yang dulu juga, sudah lapuk dan kuno!” ejek Siang-mou Sin-ni.
Hek-giam-lo mendengus dan memutar sabitnya. “Kau merampas alat tetabuhan khim untuk apa pula? Tidak perlu cere-wet, rampaslah suratmu kakau kau me-mang becus!”
“Keparat, hari ini Hek-giam-lo mam-pus di tanganku!” Siang-mou Sin-ni mem-perhebat gerakannya dan kini mereka bertanding lebih seru lagi, berusaha mencari kemenangan dengan mengeluarkan jurus-jurus mematikan.
Sementara itu, Sian Eng ketika melihat dirinya ditinggalkan sendiri oleh Hek-giam-lo, segera timbul keberaniannya. Kesempatan baik sekali untuk melarikan diri. Cepat ia melompat turun dari atas bangku panjang, menyambar pedangnya yang tadi dibawa pula agaknya oleh Hek-giam-lo, dan berjalanlah ia melalui lorong di bawah tanah yang gelap. Seberapa kali ia salah jalan. Kiranya lorong itu mempunyai banyak jalan simpangan yang menyesatkan. Setelah meraba sana, merayap ke sini, akhirnya Sian Eng berhasil melihat sinar matahari melalui sebuah lubang. Pengharapannya menebal dan cepat ia merayap ke arah sinar itu yang ternyata masuk dari sebuah lubang yang cukup besar. Ia mengerahkan gin-kang dan melompat keluar dari lubang.
Sejenak kedua matanya silau dan ter-paksa ia berdiri sambil memejamkan mata. Baru saja keluar dari tempat gelap ke tempat terang memang amat menyi-laukan mata, hampir ia tak dapat percaya apa yang dilihatnya. Ternyata ia telah berada di depan batu-batu nisan besar dan di situ berkelebatan dua orang yang sedang bertanding dengan hebat dan aneh. Yang seorang adalah Hek-giam-lo, yang mempergunakan sebuah sabit yang mengerikan. Orang ke dua adalah seorang wanita cantik sekali, akan tetapi cara bertempur wanita itu aneh karena
wanita itu selalu menggunakan rambutnya yang panjang dan gemuk hitam sebagai senjata! Sian Eng tidak tahu apa yang harus dilakukannya menghadapi pertandingan itu. Hek-giam-lo dianggapnya seorang miring otak yang menganggap dia sebagai seorang Puteri calon ratu, akan tetapi ia masih tidak tahu apakah iblis hitam itu mengandung niat baik ataukah buruk terhadap dirinya. Adapun wanita cantik yang bertempur melawan Hek-giam-lo itupun ia tidak kenal, tidak tahu pula mengapa bertempur melawan Hek-giam-lo. Oleh karena ini, Sian Eng tidak mem-pedulikan pertempuran itu dan mendapat-kan kesempatan baik ini ia segera me-larikan diri.
Akan tetapi Sian Eng benar-benar keliru kalau dia mengira bahwa dua orang itu tidak melihatnya dan tidak tahu bah-wa ia melarikan diri. Dua orang itu ada-lah orang-orang sakti yang tentu saja melihat dia keluar dari lubang tadi. Be-lum jauh Sian Eng melarikan diri, Hek-giam-lo mendengus.
“Sin-ni, lain waktu kita lanjutkan. Aku harus mengejar dia.”
“Hik-hik, tinggalkan dulu surat itu, baru aku memberi ampun padamu!”
Sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar sepenuh tenaga, namun dengan mu-dah Siang-mou Sin-ni mengelak dan mem-balas dengan sambaran rambutnya.
“Keparat kau! Aku perlu sekali dengan gadis itu!” kembali Hek-giam-lo berkata, minta pertandingan dihentikan.
“Aku pun perlu sekali dengan surat itu. Sebelum kauserahkan kepadaku, jangan harap kau bisa mendapatkan gadis itu. Hi-hik.”
Kewalahan Hek-giam-lo menghadapi lawannya yang selain pandai bertempur, juga amat pandai berdebat ini. “Nah, kaumakanlah suratmu!” Hek-giam-lo sudah mengeluarkan surat itu dan melemparkannya ke arah Siang-mou Sin-ni, kemudian melompat jauh untuk mengejar Sian Eng.
Adapun Siang-mou Sin-ni melihat menyambarnya benda putih, segera ditangkapnya dan ia terkekeh girang melihat bahwa benda itu memang benar merupakan surat persekutuan antara Pemerintah Nan-cao dan Pemerintah Hou-han. Sambil tersenyum manis ia memasukkan surat itu ke dalam saku jubahnya, kemudian bersenandung lirih dan membalikkan tubuh hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh, matanya memandang ke arah sebuah di antara jajaran patung yang kebetulan berada di depannya. Sebuah patung sebesar patung seorang sastrawan kuno. Wajah patung itu amat -halus buatannya, seperti manusia hidup saja.
“Ih, tampan juga kau!” Siang-mou Sin-ni tersenyum. “Sayang kau hanya batu, tidak punya darah dan daging. Ih, mata-mu terlalu tajam, lebih baik lehermu kupatahkan sebelum aku pergi.”
Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya, segumpal rambut panjang me-nyambar ke arah leher patung. “Plakkk!” Rambut itu terpental kembali dan leher patung tidak apa-apa. Jangankan patah, gempil pun tidak.
Sepasang mata jeli bening itu ter-belalak. Biasanya, hantaman rambutnya akan mampu
memecahkan batu hitam, masa sekarang mematahkan leher patung saja tidak kuat? Sekali lagi ia meng-gerakkan kepala, kini setengah rambutnya semua menyambar, merupakan gumpalan yang cukup besar.
“Plakkk!” Kali ini tubuh Siang-mou Sin-ni tergetar karena kekuatan yang ia pergunakan tadi lebih besar sehingga ketika terpental, lebih hebat pula terasa olehnya.
Wanita ini berubah wajahnya. Matanya melirik ke arah patung itu, lalu kepada patung-patung lain yang berjajar di situ. Kalau semua patung itu sekuat ini, agak-nya memiliki kesaktian,