BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2 Adverbial Bahasa Indonesia
4.1.2.1 Adverbial Bahasa Indonesia Yang Penggunaannya
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan adverbial bahasa Indonesia dalam kalimat memiliki kecenderungan lebih bebas dan fleksibel. Namun demikian, ada pula adverbial bahasa Indonesia yang penggunaannya mengikuti aturan gramatikal tertentu sehingga pada kondisi yang umum
diletakkan di bagian kalimat tertentu. Berikut analisis adverbial bahasa Indonesia yang penggunaannya cenderung tetap dalam kalimat.
a. Adverbial yang Terletak di Awal Kalimat
Pada umumnya, sebagian besar adverbial yang menyatakan nada bicara/ intonation, seperti kata “semoga”, “hendaknya”, “mudah-mudahan” dan lain-lain, diletakkan di awal kalimat.
Contoh:
69. Semoga mimpi kita segera terwujud.
70. Hendaknya tidak seorang pun mengulangi hal yang sama.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial yang terutama berupa kata keterangan yang menyatakan nada bicara/ intonation, seperti kata “semoga” dan “hendaknya” pada umumnya selalu berada di awal kalimat sebelum subyek.
Meskipun mayoritas adverbial ini terletak di awal kalimat, namun ada juga adverbial semacam ini, seperti kata “justru”, “seolah-olah” dan lain-lain, yang tidak boleh ataupun tidak sesuai bila diletakkan di awal kalimat.
Contoh:
71. Ini justru merupakan ciri khas manusia. 72. Harga beras seolah-olah tidak terkendali.
Di samping kata-kata di atas, kata keterangan yang menyatakan nada bicara/ intonation lainnya, seperti kata “pun”, “masih saja”, “juga” dan lain-lain penggunaannya cenderung berada di tengah ataupun di akhir kalimat.
Contoh:
73. Ia menulis surat pun tidak. 74. Mereka masih saja sibuk. 75. Saya akan pergi sekarang juga. 76. Saya sekarang juga akan pergi.
Dari keempat contoh di atas (contoh 73 dan 74) dapat terlihat bahwa adverbial seperti kata “pun” dan “masih saja” hanya bisa diletakkan di tengah kalimat, sedangkan kata “juga” bisa diletakkan di tengah maupun di akhir kalimat tepatnya diletakkan di belakang kata yang diterangkan tanpa mengubah maksud yang ingin diutarakan (contoh 75 dan 76).
b. Adverbial yang Terletak di Tengah Kalimat
Adverbial bahasa Indonesia yang cenderung tetap terletak di tengah kalimat antara lain adverbial yang menyatakan:
• Derajat/ tingkat, terutama berupa kata keterangan derajat, seperti “sangat”, “sungguh”, “terlalu”, “agak”, “cukup” dan lain-lain.
Contoh:
77. Gunung Himalaya sangat tinggi. 78. Tugas yang kita hadapi cukup berat.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial derajat, seperti kata “sangat” dan “cukup” pada umumnya selalu berada di tengah kalimat setelah subyek.
• Ruang lingkup, terutama berupa kata keterangan ruang lingkup, seperti “hanya”, “cuma”, dan lain-lain.
Contoh:
79. Ia hanya mengenakan pakaian yang tipis. 80. Saya cuma memiliki seorang anak.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial ruang lingkup, seperti kata “hanya” dan “cuma” pada umumnya selalu berada di tengah kalimat setelah subyek.
• Temporal, terutama berupa kata keterangan temporal, seperti “sedang”, “tengah”, “akan”, “belum”, “masih”, “sudah”, dan lain-lain.
Contoh:
81. Mereka sedang belajar. 82. Musim semi sudah berlalu.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial temporal, seperti kata “sedang” dan “sudah” pada umumnya selalu berada di tengah kalimat setelah subyek.
84. Mereka segera pulang.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial frekuensi, seperti kata “sering” dan “segera” pada umumnya selalu berada di tengah kalimat setelah subyek.
• Kepastian dan ingkaran, terutama berupa kata keterangan kepastian maupun ingkaran, seperti “pasti”, “tidak”, “mesti”, dan lain-lain.
Contoh:
85. Dia tidak datang hari ini. 86. Rapat itu pasti telah dimulai.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial kepastian dan ingkaran, seperti kata “tidak” dan “pasti” pada umumnya selalu berada di tengah kalimat setelah subyek.
Oleh karena keistimewaan adverbial bahasa Indonesia (fleksibilitas yang tinggi), maka adverbial yang terletak di tengah kalimat seperti yang dijelaskan sebelumnya kadangkala bisa mengalami perubahan penggunaan/ posisi seperti berikut:
1) Adverbial yang menyatakan derajat, kadangkala demi menegaskan makna maka bisa terjadi pembalikan/ inversi, sehingga boleh diletakkan di awal kalimat.
Contoh:
87. Sungguh baik ingatan orang tua itu. 88. Lebih baik kamu sendiri yang datang.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial derajat, seperti kata “sungguh” dan “lebih baik”, untuk memberi penegasan pada maksud yang ingin diungkapkan maka penggunaannya menjadi berada di awal kalimat sebelum subyek.
Namun ada sebagian kecil adverbial derajat, seperti “benar”, “sekali”, dan lain-lain, tidak bisa diletakkan di awal kalimat
Contoh:
89. Saya sibuk sekali.
90. Mereka bangun pagi-pagi benar.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial derajat, seperti kata “sekali” dan “benar” selalu berada di tengah ataupun di akhir kalimat setelah kata yang diterangkan.
Terdapat pula beberapa adverbial derajat yang boleh saling bertukar posisi tanpa mengubah makna kalimat.
Contoh:
91. Matahari amat terik. 92. Matahari terik amat.
93. Girang hatinya bukan kepalang. 94. Bukan kepalang girang hatinya.
kata yang diterangkan ataupun di awal kalimat sebelum kata yang diterangkan.
2) Adverbial ruang lingkup “hanya” selain diletakkan di tengah kalimat, juga boleh diletakkan di awal kalimat ketika ingin menegaskan subyek.
Contoh:
95. Hanya ada seorang murid yang tidak datang hari ini. 96. Hanya pakaian tipis yang ia gunakan kemarin.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa untuk menegaskan subyek kalimat, maka adverbial ruang lingkup yakni kata “hanya” diletakkan di awal kalimat sebelum kata yang diterangkan.
Adverbial ruang lingkup “saja” tidak boleh diletakkan di tengah kalimat.
Contoh:
97. Saya punya dua anak saja.
98. Pekerjaan ini dilakukan oleh lima orang saja.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial ruang lingkup “saja” hanya bisa diletakkan di akhir kalimat setelah kata yang diterangkan.
3) Adverbial temporal “lagi” tidak bisa diletakkan di tengah kalimat.
Contoh:
99. Lagi masak nasi, rumahnya terbakar. 100. Lagi makan siang, ia ditelepon oleh ibunya.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial temporal “lagi” hanya bisa diletakkan di awal kalimat sebelum kata yang diterangkan, namun
Adverbial temporal “sudah” lebih fleksibel penggunaannya.
Contoh:
101. Aku sudah selesai berpakaian. 102. Aku selesai berpakaian sudah. 103. Sehari sudah ia tak pulang. 104. Sudah sehari ia tak pulang.
Dari keempat contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial temporal “sudah” bisa diletakkan di awal kalimat sebelum subyek (contoh 104), di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan (contoh 101 dan 103), maupun di akhir kalimat setelah predikat (contoh 102) tanpa mengubah makna kalimat tersebut.
4) Terdapat beberapa adverbial frekuensi yang lebih fleksibel penggunaannya.
Contoh:
105. Ia kadang-kadang menulis buku harian. 106. Kadang-kadang ia menulis buku harian. 107. Kami segera pindah.
108. Kami pindah segera.
109. Setiap sore ia belajar naik sepeda. 110. Ia belajar naik sepeda setiap sore.
kalimat setelah subyek, “segera” boleh diletakkan di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan ataupun di akhir kalimat setelah kata yang diterangkan, “setiap sore” boleh diletakkan di awal kalimat sebelum subyek ataupun di akhir kalimat, dan “berulang-ulang” boleh diletakkan di tengah kalimat setelah ataupun sebelum predikat.
5) Terdapat beberapa adverbial kepastian maupun ingkaran, terutama yang bermakna ingkaran, boleh diletakkan di awal kalimat.
Contoh:
113. Takkan ada yang datang lagi. 114. Tak usah terlalu banyak bicara. 115. Jangan bergerak!
Dari ketiga contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial ingkaran “takkan”, “tak”, dan “jangan” bisa diletakkan di awal kalimat sebelum subyek atau kata yang diterangkan.
c. Adverbial yang Terletak di Akhir Kalimat
Berbeda halnya dengan adverbial bahasa Mandarin yang hanya bisa diletakkan di awal atau di tengah kalimat, penggunaan adverbial bahasa Indonesia boleh terletak di akhir kalimat. Pada umumnya, adverbial bahasa Indonesia yang diletakkan di akhir kalimat yakni adverbial tempat (termasuk pengertian ruang lainnya). Adverbial ini terutama berupa frase preposisi, seperti “di”, “dari”, “ke”, dan “dalam”.
116. Ia tinggal tak jauh dari sini.
117. Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial tempat yang mengandung kata “dari” dan “dalam” pada umumnya diletakkan di akhir kalimat.
Adverbial tempat “dari” yang letaknya di akhir kalimat boleh dipindahposisikan ke tengah kalimat tepatnya di belakang kata yang diterangkan, bentuk semacam ini tidak akan mempengaruhi maknanya semula.
Contoh:
118. Ia tinggal dari sini tak jauh.
119.Pasukan bergerak ke timur dari barat. 120. Pasukan bergerak dari barat ke timur.
Dari ketiga contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial tempat “dari” bisa dipindahkan letaknya dari akhir kalimat menjadi ke tengah kalimat setelah predikat, selain itu makna yang terdapat di antara kedua kalimat tidak berubah (contoh 116 dengan 118, contoh 119 dengan 120).
Kadangkala demi menegaskan nada bicara/ intonation, adverbial tempat diletakkan di awal kalimat. Namun khusus kata-kata “ke” dan “dari” justru tidak bisa diletakkan di awal kalimat.
Contoh:
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial tempat yang mengandung kata “dalam” bisa diletakkan di awal kalimat dan diikuti dengan tanda baca koma (,).
4.1.2.2 Adverbial Bahasa Indonesia yang Penggunaannya Cenderung Bebas
Sesuai dengan sifatnya yang fleksibel, penggunaan beberapa adverbial bahasa Indonesia dalam kalimat cenderung bebas letaknya. Adverbial bahasa Indonesia yang penggunaannya cenderung bebas antara lain adverbial yang menyatakan makna:
a. Situasi/ kondisi, terutama yang berupa:
• Kata sifat yang direduplikasi, boleh diletakkan di awal kalimat maupun akhir kalimat.
Contoh:
123. Ku pegang balon erat-erat. 124. Erat-erat ku pegang balon itu.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa kata “erat-erat” bisa diletakkan di awal kalimat sebelum subyek maupun di akhir kalimat tanpa mengubah makna kalimat.
• Kata sifat, boleh diletakkan di tengah kalimat maupun akhir kalimat.
Contoh:
125. Kereta berjalan cepat. 126. Ia rajin bekerja.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa kata sifat “cepat” bisa diletakkan di akhir kalimat, sedangkan kata “rajin” bisa diletakkan di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan.
Apabila dalam suatu kalimat terdapat kata kerja transitif maupun kata kerja yang berakhiran “-nya”, maka adverbial kondisi diletakkan di depan kata kerja tersebut.
Contoh:
127. Dokter berhasil melakukan operasi itu. 128. Rakyat masih sangat sengsara hidupnya.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa kata sifat “berhasil” dan “sengsara” diletakkan di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan.
• Frase “dengan”, boleh diletakkan di awal kalimat maupun akhir kalimat.
Contoh:
129. Dengan cepat kami menyelesaikan tugas itu. 130. Kami menyelesaikan tugas ini dengan cepat.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “dengan” bisa diletakkan di awal kalimat maupun akhir kalimat tanpa mempengaruhi makna kalimat semula.
• Frase “secara”, sebagian besar diletakkan di akhir kalimat, sebagian kecilnya lagi diletakkan di awal kalimat.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “secara” bisa diletakkan di akhir kalimat atau di awal kalimat yang diikuti dengan tanda baca koma (,).
• Frase Predikat-Obyek, boleh diletakkan di tengah maupun di akhir kalimat.
Contoh:
133. Ayah bekerja membanting tulang.
134. Anna memaksakan diri bekerja kembali hari ini.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “membanting tulang” bisa diletakkan di akhir kalimat, sedangkan frase “memaksakan diri” bisa diletakkan di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan.
• Kalimat idiom serta frase lainnya, boleh diletakkan di awal maupun di akhir kalimat.
Contoh:
135. Jangan bertingkah seperti kura-kura dalam perahu.
136. Laksana harimau kehilangan giginya, ia tidak berani berbicara sepatah kata pun.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa idiom “seperti kura-kura dalam perahu” bisa diletakkan di akhir kalimat, sedangkan idiom “laksana harimau kehilangan giginya” bisa diletakkan di awal kalimat yang diikuti tanda baca koma (,) sebelum subyek.
Contoh:
137. Pada tanggal 5 Februari, saya berulang tahun. 138. Saya berulang tahun pada tanggal 5 Februari.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “pada tanggal 5 Februari” bisa diletakkan di akhir kalimat maupun di awal kalimat yang diikuti dengan tanda koma (,) namun tidak mempengaruhi makna kalimat. Terdapat pula adverbial momentum yang boleh diletakkan di tengah kalimat.
Contoh:
139. Saya pukul 5 pagi sudah sampai di sini. 140. Mereka pagi ini telah berangkat ke Jakarta.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “pukul 5 pagi” dan “pagi ini” bisa diletakkan di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan.
c. Periode waktu, kadangkala diletakkan di awal maupun di tengah kalimat. Adverbial ini terutama berupa kata keterangan waktu.
Contoh:
141. Telah lama saya menunggu. 142. Saya telah lama menunggu.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “telah lama” bisa diletakkan di awal kalimat sebelum subyek maupun di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan.
143. Ia mondar-mandir berjam-jam. 144. Mereka berhenti sebentar.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa kata “berjam-jam” dan “sebentar” bisa diletakkan di akhir kalimat setelah kata yang diterangkan. d. Kuantitas, kadangkala diletakkan di tengah maupun akhir kalimat. Adverbial
ini terutama berupa frase yang menyatakan kuantitas.
Contoh:
145. Kami makan sehari tiga kali. 146. Kami sehari tiga kali makan.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “sehari tiga kali” boleh diletakkan di akhir kalimat setelah kata yang diterangkan maupun di tengah kalimat sebelum kata yang diterangkan.
e. Cara, metode, dan alat, kadangkala diletakkan di awal maupun di akhir kalimat. Adverbial ini terutama berupa frase “dengan”, frase “secara”, frase “ber…kan”.
Contoh:
147. Ia mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana. 148. Dengan cara yang sederhana, ia mampu menyelesaikan masalah.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “dengan cara yang sederhana” bisa diletakkan di akhir kalimat maupun di awal kalimat yang diikuti dengan tanda baca koma (,) sebelum subyek.
Contoh:
149. Dengan keuletan dan kegigihan, kita pasti bisa berhasil. 150. Kita pasti bisa berhasil dengan keuletan dan kegigihan.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “dengan keuletan dan kegigihan” bisa diletakkan di akhir kalimat maupun di awal kalimat yang diikuti dengan tanda baca koma (,) sebelum subyek.
g. Alasan, kadangkala diletakkan di awal maupun di akhir kalimat. Adverbial ini terutama berupa kata “karena”, “dengan”, “akan”, dan lain-lain.
Contoh:
151. Karena kelelahan, ia ketiduran. 152. Ia ketiduran karena kelelahan.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa frase “karena kelelahan” bisa diletakkan di akhir kalimat maupun di awal kalimat yang diikuti dengan tanda baca koma (,) sebelum subyek.
h. Tujuan, kadangkala diletakkan di awal maupun di akhir kalimat. Adverbial ini terutama berupa kata “untuk”, “bagi”, “dengan maksud untuk”, “demi”, dan lain-lain.
Contoh:
153. Demi keselamatan bersama, kami mengungsi. 154. Kami mengungsi demi keselamatan bersama.
Dari paparan penggunaan adverbial dalam kalimat bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia di atas, penulis menemukan persamaan bahwa adverbial bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia sama-sama boleh digunakan di awal kalimat dan di tengah kalimat.
Contoh:
155. 桌桌子子 上上 放 着 几本 典。
zhuōzi shàng fàng zhe jǐ běn cídiǎn. meja atas meletakkan beberapa kamus
Di atas meja diletakkan beberapa kamus.
156. 他 很很 喜 种 花。
tā hěn xǐhuan zhè zhòng huā. dia sangat suka ini jenis bunga Ia sangat menyukai bunga ini.
157. Di atas meja diletakkan beberapa kamus. 158. Ia sangat menyukai bunga ini.
Dari contoh-contoh di atas, terlihat jelas bahwa adverbial bahasa Mandarin bisa diletakkan di awal kalimat maupun di tengah kalimat (contoh 155 dan 156), sama halnya dengan penggunaan adverbial dalam kalimat bahasa Indonesia (contoh 157 dan 158).
Selain itu, baik dalam bahasa Mandarin maupun bahasa Indonesia, penggunaan adverbial bahkan kadang bisa bergeser ke depan maupun ke belakang dari kata yang diterangkan.
Contoh:
159. 今今天天 上午上午 妹妹 去 上。
jīntiān shàngwǔ mèimei qù shàngkè.
hari ini pagi adik pergi masuk kelas Adik pagi ini pergi ke sekolah.
160. 妹妹 今天今天 上上午午 去 上。 mèimei jīntiān shàngwǔ qù shàngkè.
adik hari ini pagi pergi masuk kelas Adik pagi ini pergi ke sekolah.
161. Adik pagi ini pergi ke sekolah. 162. Pagi ini adik pergi ke sekolah. 163. Adik pergi ke sekolah pagi ini.
Dari contoh-contoh di atas dapat terlihat jelas bahwa penggunaan adverbial jīntiān shàngwǔ [今天上午] dalam kalimat bahasa Mandarin bisa berpindah posisi dari awal kalimat ke tengah kalimat, namun perubahan posisi ini tidak mengubah makna kalimat (contoh 159 dan 160). Demikian juga halnya dengan penggunaan adverbial “pagi ini” dalam kalimat bahasa Indonesia dari tengah kalimat ke awal
4.2 Perbedaan Penggunaan Adverbial dalam Kalimat Bahasa Mandarin
dengan Bahasa Indonesia
Selain persamaan seperti yang diuraikan sebelumnya, penulis menemukan pula beberapa perbedaan penggunaan adverbial dalam kalimat bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Penggunaan adverbial dalam kalimat bahasa Mandarin secara keseluruhan cenderung tetap, maksudnya secara umum adverbial bahasa Mandarin hanya boleh terletak di awal kalimat atau di tengah kalimat dan tingkat fleksibilitasnya cukup rendah, sedangkan penggunaan adverbial dalam kalimat bahasa Indonesia ada yang tetap posisinya yakni adverbial hanya boleh terletak di awal kalimat, di tengah atau di akhir kalimat, dan ada pula yang cenderung bebas posisinya (tingkat fleksibilitasnya cukup tinggi).
Contoh:
164. 我我来来, 篇 作文 写 的 真 好。
duì wǒ lái shuō, zhè piān zuòwén xiě de zhēn hǎo.
menurut saya ini karangan menulis sangat baik
Menurut saya, karangan ini ditulis dengan sangat baik.
165. 他 已已 二十八 了。
tā yǐjīng èrshíbā suì le. dia telah dua puluh delapan tahun Dia telah berusia 28 tahun.
167. Saya belum menyelesaikan tugas ini. 168. Ayah duduk di teras rumah.
169. Mereka kemarin pergi ke kebun binatang. 170. Kemarin mereka pergi ke kebun binatang. 171. Mereka pergi ke kebun binatang kemarin.
Dari beberapa contoh di atas dapat terlihat bahwa adverbial bahasa Mandarin hanya boleh terletak di awal kalimat (contoh 164) atau di tengah kalimat (contoh 165), sedangkan adverbial bahasa Indonesia boleh terletak di awal kalimat (contoh 166), di tengah kalimat (contoh 167) atau di akhir kalimat (contoh 168). Selain itu, dapat terlihat pula bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat keistimewaan yaitu ada beberapa adverbial yang penggunaannya dalam kalimat cenderung fleksibel yaitu bisa berubah posisi di dalam kalimat (contoh 169, 170 dan 171).
Dalam bahasa Indonesia, terdapat adverbial yang penggunaannya di akhir kalimat yakni adverbial tempat (termasuk pengertian ruang lainnya), sedangkan dalam bahasa Mandarin tidak ada adverbial yang penggunaannya di akhir kalimat.
Contoh:
172. Kami datang dari Bandung.
173. 在操在操 他 一起 做 体操。
zài cāochǎng tāmen yīqǐ zuò tǐcāo.
Dari kedua contoh di atas dapat terlihat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat adverbial yang penggunaannya di akhir kalimat yakni adverbial tempat (contoh 172), sedangkan dalam bahasa Mandarin tidak terdapat adverbial yang penggunaannya di akhir kalimat. Adverbial tempat dalam bahasa Mandarin penggunaannya hanya di awal kalimat (contoh 173).
Adverbial bahasa Mandarin yang terletak di awal kalimat menyatakan 6 (enam) jenis makna: relasi (konjungsi luar kalimat), keterkaitan/ dampak, evaluasi (penilaian subyek/ pembicara), lingkungan (syarat, alasan/ sebab, landasan, ruang lingkup), waktu (titik waktu dan periode), serta tempat. Sedangkan adverbial bahasa Indonesia yang tetap terletak di awal kalimat hanya menyatakan 1 (satu) jenis makna: nada bicara.
Adverbial bahasa Mandarin yang terletak di tengah kalimat menyatakan 10 (sepuluh) jenis makna: relasi (relevansi dalam kalimat), evaluasi (penilaian obyek), waktu (penunjuk waktu dan pembatasan waktu), ruang lingkup (cakupan kuantitas), derajat/ tingkat, negasi, repetisi, situasi/ keadaan, cara/ modus (analogi, perbandingan, metode, alat/ tool, bahan, gabungan/ joint, obyek sasaran, asal, pendekatan, arah, tiruan suara atau tindakan/ trace), serta karakteristik. Sedangkan adverbial bahasa Indonesia yang tetap terletak di tengah kalimat menyatakan 5 (lima) jenis makna: derajat/ tingkat, ruang lingkup, temporal, frekuensi, serta kepastian dan ingkaran.
Meskipun dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia sama-sama terdapat penggunaan adverbial di tengah kalimat, namun masih dapat dijumpai
Contoh:
174. 他 一家人 么么 情情。 tāmen yījiā rén zhème rèqíng. mereka satu keluarga amat ramah
subyek adverbial kata yang diterangkan Mereka sekeluarga amat ramah.
175. Mereka sekeluarga amat ramah.
subyek adverbial kata yang diterangkan 176. Mereka sekeluarga ramah amat.
subyek kata yang diterangkan adverbial
Dari contoh-contoh di atas, terlihat jelas bahwa adverbial bahasa Mandarin di tengah kalimat penggunaannya hanya bisa sebelum kata yang diterangkan (contoh