• Tidak ada hasil yang ditemukan

gama Buddha telah menyebar dan berkembang di Kalimantan Barat sejak zaman kemerdekaan. Keberadaan agama Buddha di Kalimantan Barat sama keberadaannya seperti agama Buddha di Indonesia umumnya, namun demikian penyebaran dan perkembangan agama Buddha di Kalimantan Barat pada waktu itu dapat dikatakan mati suri antara ada dan tiada. Perkembangan berikutnya hanya mengikuti tradisi Cina. Artinya yang dikembangkan adalah nilai-nilai tradisional Cina sehingga menimbulkan perspektif bahwa agama Buddha adalah agama orang Cina.

Pada kurun waktu 1990-an agama Buddha di Kalimantan Barat belum mampu menunjukkan eksistensinya secara menonjol karena belum ada pelayanan dari pemerintah secara khusus. Sekitar tahun 1993 terjadi pemisahan secara khusus dengan terpisahnya Pelayanan Bimbingan Masyarakat Hindu dan Pelayanan Bimbingan Masyarakat Buddha. Pada waktu itu Kepala Pembimas Buddha di jabat oleh Ida Bagus Putra Arimbawa.



Wawancara dilakukan dengan tokoh-tokoh kelompok ini, pengikutnya, pemuka agama setempat, dan Kepala Pembimas Agama Buddha. Sedangkan pengamatan dilakukan mengenai pelaksanaan ibadat aliran ini.

Semua informasi, temuan, kenyataan lapangan berupa konsep, aspirasi, saran, dan catatan-catatan yang berhasil dikumpulkan, kemudian dicatat, diseleksi, diklasifikasi, komparasi, interpretasi, dan ditarik beberapa kesimpulan pokok yang bersifat umum dan menyeluruh.

Sampai dengan tahun 1998 keberadaan agama Buddha belum mampu menunjukkan eksistensinya secara nyata, dimana agama Buddha belum mendapat pelayanan secara nyata karena pejabat Plt Pembimas Buddha dijalankan oleh pejabat dari agama Hindu.

Siswa-siswi yang beragama Buddha di sekolah masih banyak yang mengikuti pelajaran agama lain. Hal ini dikarenakan belum ada seorangpun umat Buddha yang telah diangkat oleh pemerintah secara depenitif menjadi pegawai negeri sipil atau guru agama Buddha.

Tahun 1998 didatangkan sorang pegawai Bimas Buddha dari Jakarta (Saiman, S.S) untuk memberikan pelayanan kepada umat Buddha di wilayah Kalimantan Barat, kemudian pegawai tersebut diangkat sebagai Plt Pembimas Buddha. Pada tahun 1999 Plt. Pembimas Buddha menghadap Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin, agar umat Buddha mendapat porsi dalam pengangkatan pegawai. Gubernur menanggapi secara serius permohonan Pembimas Buddha, dan menugaskan Drs. Ignasius Liong sebagai Kepala Biro Kepegawaian untuk mendata dan memberikan formasi pengangkatan guru agama Buddha. Setelah diadakan pendataan dan meneliti kondisi formasi pengangkatan pegawai, maka Kepala Biro memberikan jatah Formasi Guru Agama Buddha sebanyak 18 orang. Ketika itu tenaga yang tersedia baru satu orang, kekurangan 17 orang. Plt Pembimas Buddha mengusulkan kepada Kepala Biro untuk mengadakan seleksi di Jakarta. Kepala Biro menyetujui dan menugaskan kepada Plt Pembimas Buddha, Kepala Dinas Pendidkkan, Kepala Dinas Transmigrasi untuk menyeleksi calon guru agama Buddha di Jakarta.

Bulan Oktober 1999 Surat Keputusan Guru Agama Buddha telah turun, dan Plt. Pembimas Buddha memanggil semua Calon Guru Agama Buddha untuk datang melaksanakan tugas. Mulai

tahun itulah untuk pertama kalinya ada 17 orang guru agama Buddha di Kalimantan Barat, karena yang satu orang mengundurkan diri.

Pada periode 1999 sampai dengan 2006, merupakan periode perjuangan dan tantangan bagi Plt. Pembimas Buddha untuk menata dan mengumpulkan data keagamaan Buddha di seluruh Kalimantan Barat. Periode ini juga sedang hangat-hangatnya reformasi yang diikuti oleh banyaknya pemekaran wilayah. Setelah dilakukan pendataan pada setiap kabupaten/kota maka Plt mengusulkan dengan mendatangi setiap daerah pemekaran, agar dalam pembentukan struktur organisasi di daerah terdapat Kasi/Penyelenggara Bimas Buddha. Usulan tersebut ditembuskan ke Dirjen Bimas Hindu dan Buddha dan Sekjen Departemen Agama. Usulan tersebut dapat dikabulkan sehingga disetiap Kabupaten/Kota pemekaran terdapat Kasi/ Penyelenggara Bimas Buddha.

Periode 2006-2009 merupakan periode penataan organisasi-organisasi keagamaan Buddha. Pada tahun tersebut Plt Pembimas Buddha dilantik sebagai Pejabat Depenitif Pembimas Buddha. Saiman S.S, merupakan pejabat pertama Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, setelah tujuh tahun menjabat sebagai Plt. Pada tahun itu juga diadakan Musda Perwakilan Umat Buddha Provinsi Kalimantan Barat atau DPD WALUBI Provinsi Kalimantan Barat. Terpilih dalam Musda tersebut sdr Herman Limanto dari Madha Tantri (Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia).

Sejak berdirinya WALUBI mulailah tampak kesemarakan kehidupan umat Buddha di Provinsi Kalimantan Barat. Maka mulailah bermunculan organisasi-organisasi agama Buddha. Hingga saat ini di Provinsi Kalimantan Barat terdapat delapan Sampai dengan tahun 1998 keberadaan agama Buddha belum

mampu menunjukkan eksistensinya secara nyata, dimana agama Buddha belum mendapat pelayanan secara nyata karena pejabat Plt Pembimas Buddha dijalankan oleh pejabat dari agama Hindu.

Siswa-siswi yang beragama Buddha di sekolah masih banyak yang mengikuti pelajaran agama lain. Hal ini dikarenakan belum ada seorangpun umat Buddha yang telah diangkat oleh pemerintah secara depenitif menjadi pegawai negeri sipil atau guru agama Buddha.

Tahun 1998 didatangkan sorang pegawai Bimas Buddha dari Jakarta (Saiman, S.S) untuk memberikan pelayanan kepada umat Buddha di wilayah Kalimantan Barat, kemudian pegawai tersebut diangkat sebagai Plt Pembimas Buddha. Pada tahun 1999 Plt. Pembimas Buddha menghadap Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin, agar umat Buddha mendapat porsi dalam pengangkatan pegawai. Gubernur menanggapi secara serius permohonan Pembimas Buddha, dan menugaskan Drs. Ignasius Liong sebagai Kepala Biro Kepegawaian untuk mendata dan memberikan formasi pengangkatan guru agama Buddha. Setelah diadakan pendataan dan meneliti kondisi formasi pengangkatan pegawai, maka Kepala Biro memberikan jatah Formasi Guru Agama Buddha sebanyak 18 orang. Ketika itu tenaga yang tersedia baru satu orang, kekurangan 17 orang. Plt Pembimas Buddha mengusulkan kepada Kepala Biro untuk mengadakan seleksi di Jakarta. Kepala Biro menyetujui dan menugaskan kepada Plt Pembimas Buddha, Kepala Dinas Pendidkkan, Kepala Dinas Transmigrasi untuk menyeleksi calon guru agama Buddha di Jakarta.

Bulan Oktober 1999 Surat Keputusan Guru Agama Buddha telah turun, dan Plt. Pembimas Buddha memanggil semua Calon Guru Agama Buddha untuk datang melaksanakan tugas. Mulai

majelis agama Buddha, yaitu: (1) Mapanbumi (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia); (2) YPSBDI ( Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia); (3) BDNSI ( Buddha Dharma Niciren Sosyu Indonesia); (4) Matrisia (Majelis Tri Dharma Indonesia); (5) LKBI (Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia); (6) Majelis Agama Buddha Kasogatan Indonesia; (7) Madha Tantri (Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia); (8) MAGABUDTHI (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia). Dari delapan majelis tersebut yang terbesar adalah MAPANBUMI yang memiliki ratusan tempat ibadah, dan diantaranya terdapat vihara yang terbesar di Provinsi Kalimantan Barat, sedangkan yang terbesar kedua adalah Majelis Tri Dharma Indonesia (MATRISIA).3 Dalam agama Buddha terdapat beberapa sekte atau aliran diantaranya: Aliran Theravada atau Hinayana atau kendaraan kecil

Sekte ini dianggap yang paling dekat dengan tradisi awal perkembangan Budhisme. Kalangan intelek yang menyukai pola pikir kritis, rasional, dan menyelidik, sangat tepat memilih sekte ini. Aliran Mahayana atau kendaraan besar

Sekte ini dianggap amat dekat dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, karena sekte ini sejak dulu berkembang pesat di Tiongkok. Pembacaan nama Buddha sangat melekat dengan sekte ini. Sesungguhnya sekte ini banyak memiliki sub sekte, tetapi di Indonesia fenomena ini tidak menonjol. Di Indonesia sekte ini pernah berkembang pada masa kejayaan Sriwijaya. Pada saat ini sekte ini dekat dengan tradisi Jawa Kuno. Sedangkan sekte Mahayana yang sekarang berkembang di Indonesia khususnya di

3 (Saiman, S.S, Agenda Kerja Pembimas Buddha Kanwil Departemen Agama Prov

Pontianak diadopsi dari Mahayana orang Tionghoa. Ciri khas Mahayana adalah keterbukaan/penerimaan yang amat besar terhadap tradisi setempat. Sehingga tidak mengherankan kalau secara statistik, sekte ini memiliki penganut paling besar di Kota Pontianak. Bagi yang menyukai terhadap hal-hal yang praktis dan tradisi dalam ajaran agama Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

Tantrayana

Sekte ini paling berkembang di Tibet. Hal-hal yang tampak gaib dimata awam adalah ciri khas sekte ini. Sekte ini terbagi dalam sub-sub sekte.Bagi mereka yang senang mendalami kegaiban dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini. Tri Dharma

Sekte ini didirikan oleh kaum Buddhis yang selain kagum terhadap ajaran Buddha, juga amat terbuka terhadap filsafat Khonghucu, dan kepercayaan Taoisme. Banyak kaum terpelajar yang tetap kental memelihara dengan kuat tradisi Tionghoa, memilih sekte ini.

Maitreya

Sekte ini dari Taiwan. Banyak yang menganggap sekte ini telah menyimpang dari ajaran Buddha yang sesungguhnya, karena adanya misi keselamatan tunggal dari Buddha Maitreya, yaitu Buddha yang akan datang. Untuk mengikuti sekte ini, seseorang sangat dianjurkan bervegetarian dan menyebarkan misi Maitreya. Tata cara/upacara sembahyang sangat ditekankan dalam sekte ini. Perkembangan lebih lanjut dari sekte ini menghadirkan banyak sub sekte, di mana sub sekte yang satu cendrung mengklaim dirinya sebagai sekte yang paling benar.

majelis agama Buddha, yaitu: (1) Mapanbumi (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia); (2) YPSBDI ( Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia); (3) BDNSI ( Buddha Dharma Niciren Sosyu Indonesia); (4) Matrisia (Majelis Tri Dharma Indonesia); (5) LKBI (Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia); (6) Majelis Agama Buddha Kasogatan Indonesia; (7) Madha Tantri (Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia); (8) MAGABUDTHI (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia). Dari delapan majelis tersebut yang terbesar adalah MAPANBUMI yang memiliki ratusan tempat ibadah, dan diantaranya terdapat vihara yang terbesar di Provinsi Kalimantan Barat, sedangkan yang terbesar kedua adalah Majelis Tri Dharma Indonesia (MATRISIA).3 Dalam agama Buddha terdapat beberapa sekte atau aliran diantaranya: Aliran Theravada atau Hinayana atau kendaraan kecil

Sekte ini dianggap yang paling dekat dengan tradisi awal perkembangan Budhisme. Kalangan intelek yang menyukai pola pikir kritis, rasional, dan menyelidik, sangat tepat memilih sekte ini. Aliran Mahayana atau kendaraan besar

Sekte ini dianggap amat dekat dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, karena sekte ini sejak dulu berkembang pesat di Tiongkok. Pembacaan nama Buddha sangat melekat dengan sekte ini. Sesungguhnya sekte ini banyak memiliki sub sekte, tetapi di Indonesia fenomena ini tidak menonjol. Di Indonesia sekte ini pernah berkembang pada masa kejayaan Sriwijaya. Pada saat ini sekte ini dekat dengan tradisi Jawa Kuno. Sedangkan sekte Mahayana yang sekarang berkembang di Indonesia khususnya di

3 (Saiman, S.S, Agenda Kerja Pembimas Buddha Kanwil Departemen Agama Prov

Niciren

Niciren sebagai sebuah sekte berasal dari Jepang. Sekte ini menggunakan sutra-sutra yang terdapat dalam Sadharmapundarika Sutra, yang merupakan bagian dari Kitab Suci Tri Pitaka. Sekte ini berbeda dengan sekte-sekte agama Buddha yang ada, perbedaannya bahwa sekte ini dalam ritual peribadatannya tidak menggunakan bentuk patung atau rupang. Altar yang merupakan obyek persembahan disebut Gohonson. Satya Buddha

Sekte Satya Budha didirikan oleh Master Lu Sheng Yen, seorang bangsa Amerika keturunan Tionghoa. Ajaran Lu Sheng Yen merupakan pengalaman-pengalaman spritual beliau seputar ajaran Buddha dan kepercayaan Taoisme.4

Jumlah penganut agama Buddha di Provinsi Kalimantan Barat berjumlah 376.785 jiwa. Penganut terbanyak di Kota Pontianak sebanyak 120.251 jiwa (23%), kedua di Kota Singkawang sebanyak 82.887 jiwa (48%), sedangkan penganut yang paling sedikit terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu sebanyak 286 jiwa, Kabupaten Melawi sebanyak 453 jiwa.5

4 dikutip dari Saiman S.S, Pesona Kehidupan Beragama, 2009, hal 171-174

III