BAB II LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA
2.5 Agama dan Kepercayaan
Bahasa Kanton merupakan bahasa perdagangan kebanyakan orang-orang Tionghoa yang tinggal di luar negeri - dituturkan oleh hampir 70 juta orang di seluruh dunia, jumlah yang hanya bisa disaingi di luar ole
Sejarah dialek Kanton ini dapat ditarik balik ke zama Han di Tiongkok, dialek Kanton merupakan salah satu dialek bahasa Han tertua yang masih tersisa sekarang ini. Dialek Kanton digunakan secara luas pada zaman Dinasti Tang. Itu makanya anggapan bahwa melafalkan puisi hidup pada zaman Dinasti Tang dengan dialek Kanton adalah lebih cocok daripada melafalkannya dengan ini.
2.5 Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Tionghoa pada umumnya terbagi dalam tiga pemeluk agama, yaitu Kong Hu Cu, Tao dan Buddha. Pada masa Orde Baru, ketiga aliran agama
ini bernaung dalam satu wadah yang disebut dengan Tridharma. Namun saat ini cukup banyak juga orang Tionghoa yang memeluk agama Islam dan Kristen. 2.5.1. Aliran Kepercayaan Tao
Tao merupakan aliran kepercayaan yang berasal dari Tiongkok. Dari data-data yang ada, maka aliran kepercayaan Tao termasuk aliran kepercayaan yang tertua di dunia ini, umumnya diakui sudah ada sejak 7000 tahun yang silam, dan juga merupakan aliran kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar orang Tionghoa, ini tercermin dari tulisan Lu Xun seorang budayawan kondang, dimana beliau menulis bahwa aliran kepercayaan Tao adalah aliran kepercayaan dan akar utama dari kebudayaan Tionghoa.
Aliran kepercayaan Tao selain telah berjasa dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat di Tiongkok selama beribu-ribu tahun. Juga telah memberikan banyak sumbangan terhadap kemajuan sastra, budaya, ilmu astronomi, ilmu pengobatan, filsafat dan cara berpikir masyarakat Tionghoa dimanapun mereka berada.
Pada jaman Fu Xi sekitar tahun 5000 SM, Fu Xi telah menggunakan teori dan perhitungan Ba-Kua (Delapan Penjuru) untuk menjelaskan tentang sistem Astronomi, menentukan hal-hal yang penting yang berhubungan dengan ramalan kehidupan seseorang, serta menentukan cara-cara ritual penyembahan Dewa-Dewi.
Sampai pada jamannya Wang Di (Kaisar Kuning) 2698 SM, mulai dikemukakan teori tentang kaidah-kaidah alamiah dan teori tentang masalah
kehidupan dan kematian. Wang Di juga merupakan tokoh yang pertama menjalankan pemerintahannya berdasarkan ajaran Tao.
Sejak Wang Di sampai 1500 tahun berikutnya, setiap pemimpin yang menggantikan pemimpin lainnya selalu memerintah masyarakatnya dengan teori ajaran Wang Di, antara lain : Menghormati Tian dan menjunjung tinggi Sopan-santun dalam bermasyarakat (Wang Di Zhi Tao / Filsafat ajaran Wang Di).
Pada jaman Dinasti Kerajaan Chow, muncul seorang bijaksana yang mempunyai nama besar yaitu Lao Zi. Beliau pernah bertugas sebagai pejabat yang menjaga dan merawat perpustakaan buku-buku yang dimiliki kerajaan Chow. Karena itu beliau mempunyai kesempatan untuk membaca semua buku-buku dan menguasai teori-teori yang diajarkan oleh Wang Di.
Ini membuat beliau sangat menyanjung keagungan alam yang telah menghidupi semua makhluk hidup, termasuk manusia, namun beliau juga mengajarkan bahwa dibalik semuanya itu pasti ada yang menciptakannya yang bersifat maha Agung; maha Mulia dan maha Esa, hanya saja sulit bagi beliau untuk memberikan sebutan atau nama yang tepat bagi Pencipta Alam Semesta yang maha besar ini.
Akhirnya Lao Zi meminjam kata "Tao", untuk memberi nama bagi "sumber" dari segala sesuatu yang tercipta di alam semesta ini. Menurut Lao Zi, Tao adalah sumber terciptanya segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini. Cara berpikir beliau jauh melampaui jamannya ketika itu, ditambah ajaran-ajarannya yang menjunjung tinggi kebajikan dan menentang kebiadaban, maka
akhirnya ajaran Lao Zi bersama-sama ajaran Wang Di dikenal orang sebagai Ajaran Wang-Lao (Wang-Lao Tao / Filsafat ajaran Wang Di dan Lao Zi) sampai sekarang. Pemujaan terhadap Lao Zi sudah dimulai sejak jaman Dinasti Jin Han, saat itu kegiatan kealiran kepercayaan dan upacara ritual aliran kepercayaan sudah berkembang sedemikian lengkapnya. Pada jaman Han Barat, masyarakat hidup makmur dan sentosa berkat semua pemimpin kerajaan menganut dan menjalankan ajaran Wang-Lao Tao.
Sampailah pada jaman Han Timur (Tong Han), ada seorang bernama Zhang Tao Ling yang dengan sungguh-sungguh mempelajari semua ajaran Tao dan ilmu ke-dewaan, beliau juga berhasil membuat pemilahan-pemilahan dan menyusun peraturan-peraturan tentang cara-cara upacara ke aliran kepercayaan Tao, mengajarkan cara-cara bagaimana seharusnya menggambar Hu dan menuliskannya dalam buku-buku yang baku untuk kepentingan pengajaran kepada pengikut atau penganutnya.
Sehingga terbentuklah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berbasis aliran kepercayaan Tao yang pertama sejak itu. Selanjutnya semua kegiatan kealiran kepercayaannya selalu secara resmi menggunakan nama aliran kepercayaan Tao. Pengikut-pengikutnya disebut sebagai umat Tao (Tao Shi).
Zhang Tao Ling juga menggunakan nama lain, selain Aliran kepercayaan
Tao, yaitu Thian Zhi Tao dan terutama aktif di daerah Sichuan, penerusnya juga menyebarkan aliran kepercayaan Tao di daerah Jiang Si di daerah Long Hu San / Gunung Naga Harimau, sebelah selatan dari sungai Zhang Jiang.
Sejak itu aliran kepercayaan Tao selalu mengajarkan umatnya untuk memupuk dan mempunyai sifat-sifat yang jujur, tulus dan belas kasih, serta tidak boleh menyakiti orang lain.
Orang kalau sakit atau bersalah, bila ingin sembuh dan minta pertolongan di dalam aliran kepercayaan Tao, maka diharuskan pertama kali untuk mengakui kesalahannya atau perbuatan tidak baiknya, baru kemudian diberi pengobatan ataupun nasehat bahkan diajak semedi dan mawas diri untuk kesembuhan dirinya. Aliran kepercayaan Tao terutama mengajarkan sifat Qing Jing Wu Wei, suatu sifat dimana orang dianjurkan untuk selalu berusaha berbuat sesuatu demi kepentingan bersama, namun tetap menjaga sikap mental yang tulus tanpa pamrih, selain itu juga selalu mawas diri dalam usahanya mengajak masyarakat supaya mampu menjaga keharmonisan kehidupan masing-masing. Sifat demikianlah yang antara lain ikut mendorong terbangunnya klenteng-klenteng yang bisa dipakai untuk menginap bagi orang-orang yang sedang bepergian jauh, serta menyediakan makanan cuma-cuma bagi yang menginap di sana, ini semua bertujuan untuk melayani dan memudahkan masyarakat pada jamannya, sehingga sangat mendapat dukungan dari segala lapisan masyarakat.
Citra aliran kepercayaan Tao juga pernah menjadi sangat jelek dan ketinggalan jaman, dampaknya terasa sampai kurun waktu yang lama sekali, sekarang ini masih ada sebagian orang terpelajar, yang karena belum mengerti apa sebenarnya Aliran kepercayaan Tao, dengan mudahnya meremehkan aliran kepercayaan Tao sebagai aliran kepercayaan yang bersifat tahyul dan ketinggalan
zaman, sebab pada dasarnya mereka belum bisa membedakan antara Tao Shi dengan dukun.
Syukurlah sesuai dengan kemajuan jaman, akhir-akhir ini semua sudah mulai berubah ke arah yang positif, para umat penganut aliran kepercayaan Tao mulai menyadari kesalahan sikap diamnya selama ini, sehingga dimana-mana umat Tao mulai membenahi diri dan dengan gigih menyebarkan ajaran aliran kepercayaan Tao yang sebenarnya, walaupun masih harus menghadapi banyak kendala di lapangan.
2.5.1.1 Kitab Suci Pada Aliran Kepercayaan Taoisme Kitab suci pada aliran kepercayaan Tao terdiri dari :
1. Dao De Jing
2. Tai Shang Lao Jun Zhen Jing
3.
4.
5. Lao Tzu-Zhuangzi menulis tiga buah kitab, yaitu, 1) Tao Te Ching, 2) Daode Jing, dan 3) Zhuangzi
2.5.1.2 Dewa dan Dewi Pada Aliran Kepercayaan Tao
Dalam aliran kepercayaan Tao, Maha Dewa Tai Shang Lao Jun adalah Dewa tertinggi dari semua Dewa Dewi yang ada. Hari besarnya adalah tanggal 15 bulan 5 Imlek. Maha Dewa Tai Shang Lao Jun pernah tiga kali turun ke bumi,
pertama sebagai Ban Ku Shi, kedua turun lagi sebagai Huang Ti, dan ketiga turun kembali sebagai Lao Zi.
Kemudian aliran kepercayaan juga mengenal dewa Er Lang Shen. Er Lang Shen banyak dipuja di Propinsi Sichuan. Beberapa klenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Chengdu yaitu Er Lang Miao, di Guan Xian dengan nama Guan Kou Miao, di Baoning, Ya-an dan beberapa tempat lain dengan nama Er Lang Miao. Kecuali Sichuan, Propinsi Hunan juga memiliki beberapa klenteng Er Lang yang cukup kuno.
Er Lang Shen ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai jubah keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor anjing, kadang-kadang ditambah dengan seekor elang. Dia dianggap sebagai Dewa pelindung kota-kota di tepi sungai dan sering ditampilkan bersama Maha Dewa Tai Shang Lao Jun sebagai pengawal. Bagi umat Tao Er Lang Shen mempunyai kesaktian yang luar biasa untuk menghadapi roh atau setan yang jahat. Hari besarnya diperingati pada tanggal 28 bulan 8 Imlek.
Jiu Tian Xuan Nu merupakan salah satu Dewi Besar Tao. Jiu Tian Xuan Nu adalah Dewi yang sering membantu pahlawan-pahlawan. Dewi Jiu Tian Xuan Nu selalu mengulurkan tangan waktu raja kesatria dan pahlawan-pahlawan sedang mengalami kesulitan, sehingga boleh dikata sebagai "Dewi Membantu". Selain itu Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga mengajarkan cara-cara perang yang kongkrit. Oleh karena itu, ada orang yang menganggap Dewi Jiu Tian Xuan Nu sebagai "Dewi Perang".
Ba Xian (Delapan Dewa / Pat Shien) adalah Dewa-Dewi Tao yang hidup pada masa yang berbeda dan dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka sering dilukiskan pada benda-benda porselen, patung, sulaman, lukisan dan sebagainya.
Dewa-dewi Ba Xian menggambarkan kehidupan yang berbeda, yaitu kemiskinan, kekayaan, kebangsawanan, kejelataan, kaum tua, kaum muda, kejantanan dan kewanitaan. Ba Xian dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan. Kisah Ba Xian menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan, melalui tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Mereka adalah : • • • • • • • • (Sumber: http://id.Wikipedia.org/wiki/tao)
2.5.2 Aliran Kepercayaan Kong Hu Cu
Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam Rujiao yang berarti aliran kepercayaan dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta aliran kepercayaan ini melainkan
beliau hanya menyempurnakan aliran kepercayaan yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran meningkatka memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau aliran kepercayaan Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam aliran kepercayaan Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Aliran kepercayaan Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".
Ajaran falsafah ini diasaskan oleh
Chiang Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak
masih kecil dan terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur 32 tahun, Kong Hu Cu banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak diikuti oleh penganut ajaran ini. Beliau meninggal dunia pada ta
Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.
Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disembah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.
Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang falsafahnya menjadi aliran kepercayaan baru, meskipun dia sebenarnya adalah falsafahnya menjadi sebuah aliran kepercayaan dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.
(Sumber: http://id.Wikipedia.org/wiki/kong _hu_cu)
2.5.3 Agama Buddha
Agama Buddha lahir di negar sekarang, sebagai reaksi terhadap pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara dibawa oleh seorang pengaruhnya dari
Setiap aliran Buddha berpegang kepada karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran Sang Hyang Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yait
(peraturan atau tata tertib para bhikkhu) da metafisika dan psikologi).
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke sorga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan
konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang atau kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
Ada beberapa aliran dalam agama Buddha: 1. 2. 3. 4. 5.
2.6 Sistem Mata Pencaharian
Etnis Tionghoa dikenal sebagai pedagang yang handal. Mereka pada umumnya sukses sebagai pengusaha khususnya di bidang perdagangan. Dapat dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa di Medan merupakan salah satu pemegang perekonomian. Disamping sebagai pedagang terdapat juga karyawan perusahaan swasta, penyedia jasa dan lain sebagainya.