EPISTEMOLOGI AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN INTEGRATIF
A. Pengertian Epistemologi
1. Agama dan Sunatullah (Hukum Alam) Integratif
Agama dan sunatullah (hukum alam) adalah ketentuan, kepastian, hukum, dan ketetapan Allah SWT. Agama ditentukan oleh Allah SWT untuk manusia. Disebutkan dalam tafsir ilmi ketentuan Allah terbagi dua agama dan sunnatullah, Pertama, Agama, yaitu hukum (peraturan, undang-undang,
kaidah, keputusan) dan ketentuan (ketetapan, kepastian) Allah bagi manusia
yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. agama yang hanya diperuntukkan bagi manusia, manusia dapat memilih untuk taat atau tidak. mereka yang taat akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, dan yang tidak, akan mendapatkan akibat di dunia dan akhirat. Kedua Sunnatullāh, yaitu hukum (peraturan, undang-undang, kaidah, keputusan) dan ketentuan (ketetapan,
kepastian) allah yang berlaku pada seluruh alam dan makhluk-nya sering
disebut juga dengan hukum alam. semua makhluk, baik manusia, binatang, tumbuhan, dan benda anorganik, tunduk dan patuh pada hukum alam yang telah ditetapkan-nya. pada hukum alam atau sunnatullāh semua makhluk tidak ada pilihan kecuali harus tunduk dan patuh.
Esensi agama adalah taat (kepatuhan) dan taslim (kepasrahan/kese la-matan). Orang yang beragama sesuai dengan esensi agama, ia menga malkan ajaran agama dengan penuh taat (kepatuhan) dan taslim (kepas rahan/ keselamatan). Jika pemeluk agama taat dan taslim, akan meng hindarkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan ketaatan dan ketasliman kepada Allah SWT. Ketaatan dalam Islam ada dua macam, yaitu ketaatan yang bersifat
mutlak (pasti/haq) dan ketaatan tidak mutlak. Ketaatan pasti hanyalah kepada Allah dan Rasulullah. Yang dimaksud taat adalah menerima dan menaati segala perintah Allah dan Rasulullah Muhammad SAW dan mengamalkannya secara sadar yang didasarkan atas keimanan dan ketakwaan. Ketaatan yang tidak mutlak/pasti adalah ketaatan selain Allah dan Rasulullah yakni taat sesema makhluk Allah, bahkan dijelaskan dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya: “tidak boleh taat kepada sesama makhluk untuk bermaksiat”. Ajaran Allah dan Rasul-Nya kepada para hamba semuanya membawa maslahat (kebaikan), hikmah (kebijaksanaan), manfaat (berguna), bahkan dikenal sebutan rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang seluruh alam). Karena itu, ketaatan hamba terhadap apa saja yang diperintahkan atau diajarkan Allah dan Rasul-Nya akan membawa kebahagiaan, keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan. Hamba-hamba yang taat sudah barang tentu terhindar dari penyimpangan, pelanggaran, ekstrimisme, radikalisme, dan bahkan terorisme.
Dengan demikian, jika terjadi penyimpangan, pelanggaran, ekstrimisme, radikalisme, dan bahkan terorisme yang dilakukan oleh pemeluk agama, maka bukan karena ajaran agama yang dipeluknya, akan tetapi dikarenakan bagi pemeluk agama itu sendiri. Misalnya akhir-akhir ini lahir gerakan ISIS yang ekstrim berkedok agama, sebenarnya bukan karena agama tetapi justru masalah-masalah politik atau masalah ekonomi dsb, dan secara tegas dan jelas gerakan ISIS tidak dilatarbelakangi dasar-dasar agama.
Sunatullah (hukum alam) esensinya adalah hukum (peraturan,
undang-undang, kaidah, keputusan) dan ketentuan (ketetapan, kepastian) Allah yang
berlaku pada seluruh alam dan makhluk-Nya sering disebut juga dengan hukum alam. Semua makhluk, baik manusia, binatang, tumbuhan, dan benda anorganik, tunduk dan patuh pada hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Pada hukum alam atau sunnatullāh semua makhluk tidak ada pilihan kecuali harus tunduk dan patuh. Sunatullah (hukum alam) dikaji, dipelajari, dipikirkan, diteliti, diobservasi, dieksperimen, dan segala uji coba sehingga melahirkan berbagai ilmu. Hal ini sesuai pendapat Karl R. Popper bahwa persoalan filosofis yang menarik bagi orang yang berpikir adalah persoalan kosmologi: persoalan memahami dunia—termasuk diri kita, dan pengetahuan kita, sebagai bagian dari dunia. Dipercayai bahwa semua ilmu adalah kosmologi. Kosmologi adalah ilmu yang menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan (cabang dari metafisika). Dua ketentuan Allah SWT berupa agama dan sunatullah pada
hakikatnya adalah taat, dan tunduk hanya kepada-Nya. Artinya agama yang diperuntukkan bagi manusia esensinya adalah taat dan taslim karena sama sekali agama bagi manusia tidak ada paksaan bagi manusia untuk memeluk. Hal ini sesuai dengan QS. al-Baqarah/2: 256.
ِتوُغٰ َّطلٱِب ۡرُفۡكَي نَمَف ِّۚ َغۡلٱ َنِم ُدۡشُّرلٱ َ َّيَبَّت دَق ِۖنيِّلٱ ِف َهاَرۡكِإ ٓ َل
ٌعيِمَس ُ َّللٱَو ۗاَهَل َما َصِفنٱ َل ٰ َقۡثُوۡلٱ ِةَوۡرُعۡلٱِب َكَسۡمَتۡسٱ ِدَقَف ِ َّللٱِب ۢنِمۡؤُيَو
٢٥٦ ٌميِلَع
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.Berdasarkan ayat tersebut dipahami dengan jelas dan tegas bahwa tidak ada paksaan memeluk agama. Karena itu, esensi agama adalah taat dan taslim. Sebagai konsekuensi logis bagi setiap pemeluk agama segala amal perbuatannya sesuai dan cocok dengan agama yang dipeluk dengan penuh kesadaran tanpa adanya paksaan, sehingga agama bagi pemeluknya benar-benar membawa kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan. Sudah barang tentu bagi setiap pemeluk agama berpegang teguh dan mempedomani pada ajaran agama yang dipeluknya sehingga akan melahirkan hidup dan sistem kehidupan yang dirahmati, dicintai, dan diridloi oleh Allah SWT. Dengan keberadaan agama dan pemeluknya yang benar-benar menjunjung tinggi kepatuhan dan ketaatan terhadap segala ajaran agama yang dipeluknya, maka hidup dan sistem kehidupan manusia senantiasa terjaga, terkendali, dari berbagai kerusakan, dan pengrusakan oleh para pemeluk agama itu sendiri. 2. Iman dan Takwa Integratif
Keberadaan agama dan sunatullah (hukum alam)---persoalan kosmologi: persoalan memahami dunia termasuk diri kita, dan pengetahuan kita, sebagai bagian dari dunia--- bahwa semua ilmu adalah kosmologi yaitu ilmu yang menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan (cabang dari metafisika). Selanjutnya sunatullah disebutnya ilmu pengetahuan. Agama
dan ilmu pengetahuan dijadikan pondasi dan pilar dalam hidup dan sistem kehidupan manusia sehingga manusia terhindar dari pemilahan, pemisahan dan bahkan pertentangan agama dan ilmu pengetahuan. Dengan posisi agama dan ilmu pengetahuan tegas dan jelas akan memberikan manfaat besar dalam hidup dan sistem kehidupan manusia, karena manusia tidak pernah mendikotomikan agama dan ilmu pengetahuan, akan tetapi justru manusia senantiasa meng-nondikotomikan atau mengintegrasikan/mentauhidkan agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang hakikatnya menjadi satu keutuhan yang keduanya bersumber dan berasal dari Allah SWT.
Dengan kejelasan agama dan ilmu pengetahuan ini yang keduanya esensinya dari Allah SWT didasarkan kepada iman dan takwa, karena agama tanpa iman dan takwa berarti tidak adanya agama. Agama dan ilmu pengetahuan (ilmu pengetahuan) bagi manusia merupakan kebutuhan asasi. Artinya, kedua hal ini merupakan kebutuhan pokok bagi hidup dan sistem kehidupan manusia. Agama bagi manusia sebagai pedoman, petunjuk, kepercayaan, dan keyakinan bagi pemeluknya untuk hidup sesuai dengan “fitrah” manusia yang dibawa sejak lahir. Kefitrahan manusia di antaranya berupa fitrah agama, fitrah suci, fitrah berakhlak, fitrah kebenaran, dan fitrah kasih sayang.38
Eksistensi agama yang diimani, diyakini dan diamalkan ajarannya akan membawa pemeluknya dalam hidup dan sistem kehidupan lebih baik, tertib, dan berkualitas. Aspek kehidupan meliputi: agama, ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan, olah raga kesenian (orkes), kesehatan, lingkungan hidup dan pertahanan keamanan. Untuk itu, pendekatan dalam pengkajian agama adalah menempatkan ajaran agama sebagai ilmu dan amal sekaligus--bukan agama sebagai ilmu semata sehingga pengkaji “agama Islam” disebutnya islamolog -- sesuai dengan fungsi pokok agama bagi pemeluknya.39 Ilmu pengetahuan yang dimaksud dalam kajian ini adalah ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan (ilmu pengetahuan eksak dalam terminologi modern) maupun ilmu pengetahuan dalam kajian ilmu-ilmu sosial. Menurut Ibnu Khaldun dalam Muqawim, ilmu-ilmu pengetahuan adalah 38 Muhaminin, et.al. Paradigma Pendidikan Islam (Bandung:Rodakarya, 2001), hlm.282
39 Komaruddin Hidayat, Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. Xiv.
sejumlah ilmu yang dikembangkan hampir sepenuhnya berdasarkan akal dan pengalaman dunia empiris.40
Eksistensi ilmu pengetahuan bagi agama berfungsi sebagai pengokoh, dan penguat agama bagi pemeluknya, karena dengan ilmu pengetahuan mampu mengungkap rahasia-rahasia alam semesta dan seisinya, sehingga akan menambah hidmat dan khusyuk dalam beribadah dan bermu’amalah. Lebih lanjut ilmu pengetahuan bermanfaat untuk mendapatkan kedamaian hidup secara individual dan secara kolektif bermasyarakat, berbangsa bernegara dan bahkan dalam ikut mewujudkan ketertiban dunia. Oleh karena itu, kemanfaatan ilmu pengetahuan luar biasa dan akan menjadikan manusia dekat dengan Tuhan, hidup lebih nikmat, bahagia, dan sejahtera. Dengan ungkapan lain agama dan ilmu pengetahuan bagi manusia akan memperkokoh dan memperkuat hubungan manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Tuhannya, dan bukan sebaliknya. Secara garis besar ada empat macam hubungan manusia
(
ناسنلا ةقلع)
, yaitu: (1) ةقلع ( للاب ناسنلا hubungan manusia dengan Allah), berupaةيدوبع ةقلع
(hubungan peribadatan), (2) نوكلاب ناسنلا ةقلع (hubungan manusia dengan alam), berupaةقلع يرخست
(hubungan pemberdayaan), (3) ناسنلاب ناسنلا ةقلع (hubungan manusia dengan manusia), berupaناسحا و لدع ةقلع (hubungan keadilan dan kebaikan bersama), dan (4) ناسنلا ةقلع ةرخلاو اينلا ةايلاب(hubungan manusia dengan kehidupan dunia-akhirat), berupa ءازج و ةلؤسم ةقلع (hubungan tanggung jawab dan balasan).41Menurut Arnold J. Toynbee42, secara historis agama lebih dahulu adanya dan ilmu pengetahuan tumbuh dari agama. Ini dapat diilustrasikan berikut ini. Secara singkat ilmu pengetahuan yang ditemukan para ahli sumber pokoknya kitab suci. Contoh ilmu pengetahuan Yunani pada awalnya berasal dari mitologi Yunani yang diterjemahkan ke dalam istilah-istilah kekuatan fisik dan batiniah. Sosiologi Marxis merupakan mitologi Yahudi dan Kristen yang agak disamarkan, teori Darwin suatu usaha menilai ciptaan tanpa menggunakan konsep antromosfos ber-Tuhan yang membuat benda-benda 40 Ibnu Khaldun, The Muqaddimah, hlm. 343-398.
41 Asy-Syaikh Khalid Muharram , at-Tarbiyah al-Islamiyal lil Aulad: Manhaj wa Mayadin, (Beirut Libanon: Dar al-Kutub al Ilmiah, 2006), hlm. 9-10.
42 Arnold J. Toynbee, Menyelamatkan Hari Depan Umat Manusia (Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 1988), hlm. 61.
seperti yang dilakukan oleh manusia. Memang diakui ilmu pengetahuan bagi saintis murni mungkin dapat menyebabkan kekosongan agama, yang sebelumnya agama diterima kemudian tidak dipercayai lagi.
Demikian sebaliknya, agama bagi agamawan murni tanpa ilmu penge-tahuan akan menjadikan kemunduran dan kepicikan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan sedemikan pesatnya. Kiranya perlu disimak pernyataan Albert Einstein berbunyi “agama tanpa ilmu buta, dan ilmu tanpa agama lumpuh”. Hubungan agama dan ilmu pengetahuan ibarat dua sisi mata uang tidak bisa berdiri sendiri dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Di samping itu, bila dikaji menurut “fitrah” manusia agama dan ilmu pengetahuan maka kedua hal ini pada hakikatnya sama-sama berasal dari Tuhan. Agama sebagai dasar-dasar petunjuk Tuhan untuk dipatuhi dan diamalkan dalam hidup dan sistem kehidupan manusia, sedangkan ilmu pengetahuan diperolehnya melalui abilitas dan kapasitas atau potensi manusia yang dibawanya sejak lahir.