• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ahlulbait As Meriwayatkan Hadis Rasulullah Saw

Ahlulbait as tidak seperti para mujtahid dan para imam mazhab (fi kih) yang mereka bersandar kepada pemikiran dan ijtihad mereka di dalam agama Allah Swt. Ahlulbait as tidak

Pustaka

Syiah

boleh disebut sebagai para mujtahid dan pemikir. Karena mujtahid bisa benar dan juga bisa salah di dalam pendapatnya.

Kesempatan-kesempatan yang di dalamnya seorang mujtahid salah dalam menyimpulkan hukum-hukum Allah juga tidak lebih sedikit dari kesempatan-kesempatan yang di dalamnya dia menyimpulkannya secara tepat.

Tentu saja Ahlulbait as tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan para mujtahid dan pemikir karena mereka tidak memiliki satu pandangan (pendapat) pun yang dihasilkan dari berpikir dan ijtihad. Yang mereka lakukan hanyalah menukil hadis Rasulullah saw dan menyampaikan kepada kita semua ajaran yang diwariskan oleh beliau.

Oleh karena itu, setiap pandangan yang disampaikan oleh mereka, baik yang berkaitan dengan akidah dan juga hukum-hukum syariat, sama sekali bukan merupakan hasil pemikiran dan ijtihad mereka. Mereka tidak berijtihad dan berpikir ketika mereka hendak mengemukakan pandangan seperti yang dilakukan oleh para ulama. Yang mereka lakukan tidak lain hanya bersandar kepada sunah Rasulullah saw yang ilmu tentangnya telah diwarisi oleh mereka. Mereka meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw tentang sunah-sunah beliau dengan cara periwayatan yang sama dengan yang digunakan oleh para perawi hadis, yaitu dengan cara estafet hingga sampai kepada Rasulullah saw, atau dengan cara periwayatan secara langsung (tanpa menyebutkan rangkaian sanadnya, atau yang diistilahkan dengan periwayatan irsâl dan hadisnya disebut hadis mursal–penerj). Mereka telah menjelaskan di banyak kesempatan tentang realitas ini, yakni bahwa mereka tidak sedikit pun menambah atau mengurangi sunah Rasulullah saw dan tidak bersandar pada pemikiran dan ijtihad untuk menyimpulkan hukum-hukum fi kih. Semua yang mereka sampaikan tentang dasar-dasar agama (akidah) dan

Pustaka

Syiah

hukum-hukum syariat tidak lain hanya berasal dari sunah dan hadis Rasulullah saw yang ilmunya telah diwarisi oleh mereka.

Berikut ini kami sajikan berapa teks pernyataan mereka yang berkaitan dengan persoalan ini.

a. Tsiqat al-Islam Kulaini meriwayatkan dari Ali bin Muhammad, dari Sahl bin Ziyad, dari Ahmad, dari Umar bin Abdul Aziz, dari Hisyam bin Salim, dari Hammad bin Utsman dan yang lainnya, bahwa mereka semua berkata, “Kami telah mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq) as berkata,

‘Hadisku adalah hadis ayahku, hadis ayahku adalah hadis kakekku, hadis kakekku adalah hadis Husain, hadis Husan adalah hadis Hasan, hadis Hasan adalah Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), hadis Amirul Mukminin adalah hadis Rasulullah, dan hadis Rasulullah adalah fi rman Allah Azza wa Jalla.’”137

b. Tsiqat al-Islam Kulaini ra juga meriwayatkan dari Ali bin Ibrahim, dari Muhammad bin Isa, dari Daud bin Farqad, dari orang yang mendapatkan hadis ini dari Ibnu Syabramah, bahwa dia telah berkata, “Tidak pernah aku menyebutkan sebuah hadis pun yang telah aku dengar dari Ja’far bin Muhammad Shadiq as kecuali hati beliau hampir saja retak. Beliau berkata, ‘Ayahku telah menyampaikan kepadaku hadis dari kakekku, dari Rasulullah saw.’

Kemudian Syabramah berkata, ‘Demi Allah, ayahnya tidak pernah berdusta atas nama kakeknya, dan kakeknya tidak pernah berdusta atas nama Rasulullah saw. Beliau berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang melakukan qiyâs (menyamakan hukum sesuatu dengan hukum sesuatu yang lain disebabkan kemiripannya–

penerj) dia telah celaka dan binasa. Dan barangsiapa

137 Ushûl al-Kâfi : 1/53.

Pustaka

Syiah

yang memberikan fatwa kepada orang-orang tanpa pengetahuan, sementara dia tidak mengetahui hukum yang nâsikh (yang menghapus) dan hukum yang mansûkh, yang muhkam dan yang mutasyâbih, sungguh dia telah celaka dan mencelakakan.’’”138

c. Di dalam kitab Amâli Mufîd, pengarangnya mengatakan,

“Yang mulia Syekh Mufi d bin Muhammad bin Muhammad bin Nu’man berkata kepadaku, ‘Abul Qâshim Ja’far bin Muhammad bin Muhammad Qommi ra mengabarkan kepadaku, ‘Ahmad bin Muhammad bin Isa telah berkata kepada kami, ‘Harun bin Muslim bin Ali bin Asbath telah menyampaikan kepadaku dari Saif bin ‘Umairah, dari Amr bin Syimr, dari Jabir, bahwa dia telah berkata, ‘Aku mengatakan kepada Abu Ja’far as, ‘Jika Anda menyampaikan hadis kepadaku, sebutkanlah juga sanadnya untukku.’ Kemudian beliau berkata, ‘Ayahku telah menyampaikan kepadaku dari kakekku, Rasulullah saw, dari Jibril, dari Allah ‘Azza wa Jalla. Semua hadis yang aku sampaikan kepadamu adalah dengan sanad ini.’ Beliau juga berkata, ‘Hai Jabir, satu hadis yang engkau terima dari seorang (Imam) yang jujur lebih baik bagimu daripada dunia beserta seluruh yang ada di dalamnya.’”139

d. Hurr Amuli meriwayatkan di dalam kitab Wasâil al-Syî’ah dari Musa bin Ja’far bin Thawus di dalam kitab al-Ijâzât, bahwa dia telah berkata, “Di antara yang telah kami riwayatkan dari kitab Hafsh bin al-Bukhtari adalah bahwa dia telah mengatakan, ‘Aku telah berkata kepada Abu Abdillah as, ‘Kami mendengar hadis dari Anda atau dari ayah Anda, tetapi kami tidak mengetahui sanadnya.’

138 Ushûl al-Kâfi : 1/43.

139 Amâli al-Mufîd: hal. 26.

Pustaka

Syiah

Kemudian beliau berkata, ‘Hadis yang telah engkau dengar dariku riwayatkanlah dari ayahku, dan hadis yang telah kamu dengar dariku riwayatkanlah dari Rasulullah saw.’’”140 e. Di dalam kitab Bashâir Darajât: Ibrahim bin Hasyim telah

meriwayatkan dari Yahya bin Abi Imran, dari Yunus dan Anbasah yang berkata, “Seorang lelaki telah bertanya kepada Abu Abdillah tentang suatu persoalan, lalu beliau pun menjawabnya. Kemudian lelaki itu berkata, ‘Jika memang demikian, apa (hadis) yang mendasarinya?’ Beliau menjawab, ‘Bagaimanapun jawaban tentang sepersoalan ini itu adalah dari Rasulullah saw. Karena kami sama sekali tidak berkata dengan pendapat (pemikiran) kami.’”141 f. Tsiqat al-Islam Kulaini meriwayatkan dari Ali bin Muhammad

bin Isa, dari Yunus, dari Qutaibah yang berkata, “Seorang lelaki telah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq) as tentang sebuah persoalan, lalu beliau menjawab persoalan itu. Kemudian lelaki itu berkata, ‘Apakah Anda berpendapat begini dan begitu disertai dengan dalil yang mendasarinya?’ Beliau menjawab, ‘Cukuplah bagimu (jawabanku). Apa yang aku katakan sebagai jawaban atas persoalan ini adalah dari Rasulullah saw. Kami bukan orang-orang yang boleh dikatakan kepada mereka, ‘Apakah Anda berpendapat dalam suatu persoalan?’”142

g. Di dalam kitab Bashâir Darajât, pengarangnya mengatakan,

“Ya’kub bin Yazid telah meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Abi Umair, dari Amr bin Adzinah, dari Fudhail bin Yasar, dari Abu Ja’far (Imam Muhammad Baqir) as, bahwa beliau berkata, ‘Jika kami berbicara dengan

140 Wasâil al-Syî’ah: 3/380.

141 Bashâir al-Darajât: hal. 86.

142 Ushûl al-Kâfi : 1/58.

Pustaka

Syiah

pendapat kami, niscaya kami tersesat seperti halnya orang-orang sebelum kami. Akan tetapi kami berbicara dengan bimbingan Tuhan kami yang telah Dia jelaskan kepada Nabi-Nya, lalu beliau (Nabi saw) menjelaskannya kembali kepada kami.’”143

h. Di dalam kitab yang sama, dikatakan: Ahmad bin Muhammad telah meriwayatkan kepada kami dari Husain bin Sa’id, dari Fudhail bin Yasar, dari Ja’far Shadiq as, bahwa beliau telah berkata, “Penjelasan dari Tuhan kami yang Dia telah menjelaskannya kepada Nabi-Nya saw, kemudian Nabi saw menjelaskannya kepada kami. Sungguh jika tidak demikian, niscaya kami akan seperti umumnya manusia.”144

i. Dikatakan juga di dalam kitab yang sama: Abdullah bin Amir telah meriwayatkan kepada kami dari Abdullah bin Muhammad Hajjal, dari Daud bin Abi Yazid bin Ahwal, dari Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq) as yang berkata,

“Sungguh jika kami memberikan fatwa kepada orang-orang dengan pendapat dan keinginan kami, tentu kami tergolong orang-orang yang celaka. Akan tetapi fatwa-fatwa kami adalah warisan Rasulullah saw yang berupa dasar-dasar ilmu pengetahuan yang kami saling mewarisinya dari ayah-ayah kami dan kakek-kakek kami yang kemudian kami mengumpulkannya, sebagaimana orang-orang mengumpulkan emas dan perak mereka.’”145 j. Di dalamnya juga disebutkan: Hamzah bin Ya’la meriwayatkan

kepada kami dari Ahmad bin Nadhir, dari Amr bin Syimr, dari Jabir, dari Abu Ja’far (Imam Muhammad Baqir) as yang

143 Bashâir al-Darajât: hal. 85.

144 Bashâir al-Darajât: hal. 86.

145 Bashâir al-Darajât: hal. 85.

Pustaka

Syiah

berkata, “Hai Jabir, sungguh jika kami berbicara kepada kalian dengan pemikiran dan keinginan kami, niscaya kami tergolong orang-orang yang celaka. Akan tetapi kami berkata kepada kalian dengan hadis-hadis yang kami kumpulkan dari Rasulullah saw, sebagaimana mereka mengumpulkan emas dan perak mereka.”146