• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANYAKNYA (m3) NILAI (000)Rp. 1. Rumah Tangga 20.425 3.743.018 6.306.511 2. Sosial a. Sosial Umum 393 198.285 203.007 b. Sosial Khusus 99 56.940 69.112

3. Toko, Industri, Perusahaan 285 64.807 161.447 4. Instansi/Kantor Pemerintah 130 72.383 172.994

5. Susut/Hilang - - -

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Madiun

e) Revitalisasi Kawasan

Revitalisasi kawasan dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam produk rencana tata ruang kabupaten madiun, revitalisasi kawasan yang di laksanakan di kabupaten Madiun bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan kawasan-kawasan kritis di tinjau dari sudut lingkungan maupun sosial ekonomi.

Revitalisasi kawasan yang perlu mendapat perhatian karena sifatnya yang strategis adalah kawasan ruang terbuka hijau. Kegiatan dan pelaksanaan revitalisasi kawasan di

II-53

POKJA SANITASI KABUPATEN MADIUN

di sebabkan karena Kecamatan Mejayan adalah ibu kota dari Kabupaten Madiun di mana fungsinya sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan perdagangan dan jasa.

Berdasarkan laporan penyusunan ruang terbuka hijau Kecamatan Mejayan Kabupaten madiun pada tahun 2008, secara umum potensi yang terdapat pada wilayah perencanaan yang berkaitan dengan RTH yang berada di Kecamatan Mejayan adalah sebagai berikut :

Semua ruas jalan memiliki proporsi ruang terbuka antara bangunan dengan jalan yang cukup, sehingga dapat dapat di jadikan sebagai lahan jalur hijau.

Di daerah sepadan sungai sungai juga masih memiliki beberapa luasan lahan yang mencukupi yang dapat di rekomendasikan sebagai suatu hutan kota, kawasan, dan daerah resapan.

Di daerah sepadan rel masih terdapat lahan terbuka yang mencukupi untuk di rekomendasikan sebagai jalur hijau.

Di daerah pertanian maupun tegalan pinggiran pematang sawahnya/tegalannya potensi untuk di tanami pohon mahoni, pisang, pohon turi maupun lainnya sehingga dapat berfungsi sebagai peneduh dan dari sengatan matahari.

Berdasarkan kondisi RTH yang ada di Kecamatan Mejayan maka dapat di tarik beberapa permasalahan pada saat ini, yaitu :

Taman/RTH di pintu gerbang kota yang seharusnya berfungsi sebagai landmark tidak berfungsi karena kondisi RTHnya kurang terawat dan di biarkan terlantar.

Lahan yang di fungsikan sebagai hutan kota di kabupaten madiun dalam hal ini pusat ibukota kabupaten (Kecamatan Mejayan) masih belum optimal sesuai dengan fungsinya, karena jumlah atau kepadatan tanamannya masih sangat kurang jika di katakan sebagai hutan kota.disamping itu lahan yang semestinya menjadi lahan hutan kota bercampur dengan pasar burung.

Jalur hijau di Kecamatan Mejayan masih kurang seragam karena pohon yang seharusnya menjadi ciri kota adalah Pohon Tanjung sehingga masih banyak ruas jalan yang belum seragam dengan penanaman jalur hijaunya.

Fungsi sebagai peneduh yang kebanyakan di fungsikan pada jalur hijau masih belum optimal karena jalur pedestrian sendiri belum ada pada beberapa ruas jalan di Kecamatan Mejayan.

Sempadan sungai dan RTH di sekitar rel masih belum terpenuhi sebagai pembatas, pencegah erosi dan penyerap kebisingan.

Kecamatan Mejayan memiliki perbandingan antara area terbangun dengan area tidak terbangun adalah 24,9% : 75,1%. Dengan perbandingan tersebut dapat di ketahui bahwa pada Kecamatan Mejayan masih dimungkinkan adanya pengembangan untuk Kawasan terbangunnya sebesar 45,1%. Prosentase tersebut dapat di optimalkan dengan penanaman pohon untuk kawasan yang masih kosong agar peran dari tata hijaunya dapat berfungsi sebagai suatu penyeimbang bagi perkembangan suatu kawasan. Namun demikian pembangunan pada kawasan ini harus ada kontrol dari pemerintah kota agar ruang terbuka hijaunya agar tetap di optimalkan.

2.6. Agropolitan

Kawasan agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang mampu melayani, mendorong, menarik dan menghela kegiatan pembangunan agribisnis hinterland-nya. Kawasan agropolitan terdiri dari kota tani (desa dengan fasilitas kota) sebagai pusat kegiatan agroindustri (hilir), pusat pelayanan agribisnis serta kawasan desa pemasok bahan baku yang berupa produksi primer pertanian dalam arti luas (pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan dan perikanan).

Pengembangan kawasan agropolitan digerakkan dan difasilitasi oleh pemerintah dirancang secara bottom up dilaksanakan lintas sektor maupun sub sektor, lintas kawasan, daerah maupun wilayah dengan seoptimal mungkin melibatkan peran para stokeholder,

shareholder dan stakeholder lainnya. Kabupaten Madiun sesuai dengan visi dan misinya

telah mengidentifikasi dan menetapkan bahwa wilayah Kecamatan Geger – Delopo – Dagangan – Kebonsari (Gedangsari) merupakan area atau site calon kawsasan agropolitan yang akan dikembangkan secara progresif dengan tahapan rencana yang matang dan berkesinambungan dengan tujuan akhir peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan kebijakan Kabupaten Madiun (RTRWK) Kecamatan Geger – Delopo – Dagangan – Kebonsari merupakan kawasan prioritas bagi pengembangan agribisnis dan agrowisata daerah. Kawasan prioritas merupakan kawasan yang berpotensi namun memiliki permasalahan untuk dikembangkan. Masalah pengembangan Kecamatan Geger – Dolopo – Dagangan – Kebonsari bersifat internal dan eksternal. Berdasarkan data eksisting (Penyebaran Potensi Agro Kabupaten Madiun Tahun 2001) diperoleh gambaran bahwa kecamatan-kecamatan yang tergabung dalam kawasan Gedangsari memiliki sumber daya alam yang berlimpah namun belum direncanakan pengelolaannya. Calon kawasan

II-55

POKJA SANITASI KABUPATEN MADIUN

agropolitan Gedangsari ternyata memiliki kegiatan agribisnis yang membanggakan, seperti agribisnis tanaman pangan, hortikultura peternakan dan perkebunan. Dengan akan dibukanya jalur yang menghubungkan antara obyek wisata air terjun Sedudo Kabupaten Nganjuk ke Telaga Ngebel Kabupaten Madiun, maka pengembangan obyek wisata tersebut akan menjadi pendukung pengembangan Kawasan Agropolitan Gedangsari.

Seperti umumnya daerah pedesaan dengan kegiatan utama di sektor pertanian. Kecamatan – kecamatan di Kawasan Gedangsari secara internal memiliki kelemahan atau kendala berupa : produk primer belum dikembangkan nilai tambahnya (agroindustri), sumberdaya tenaga terampil terbatas, permodalan terbatas, pemasaran masih tradisional. Masih sangat sedikit investor yang mencoba menanamkan modal karena terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Perencanaan pengelolaan/pengembangan/pengusahaan Kawasan Agropolitan Gedangsari perlu dilakukan dengan memperhatikan kehendak para

stakeholder.

Kompleksitas permasalahan dan pentahapan pembangunan merupakan latar belakang dari penyusunan rencana pengembangan Kawasan Agropolitan Kabupaten Madiun. Produk Master Plan Pengembangan Kawasan Agropolitan Kabupaten Madiun berupa konsep, rencana serta Rencana Program Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2006 – 2011.

Dokumen terkait