1.5. Manfaat Penelitian
2.2.3. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
2.2.3.1. Pengertian
ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi air susu ibu saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim sampai bayi berumur 6 bulan (Roesli, 2005).
2.2.3.2. Manfaat ASI Eksklusif
Manfaat pemberian ASI, khususnya ASI eksklusif bagi bayi, ibu, keluarga, negara, bahkan dunia, sangat banyak untuk disebutkan satu per satu. Manfaat yang terpenting bagi bayi antara lain :
1. ASI merupakan nutrisi (zat gizi) yang sesuai untuk bayi yang mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral, dan vitamin.
2. ASI mengandung zat protektif. Bayi yang mendapat ASI lebih jarang menderita penyakit, karena adanya zat protektif dalam ASI yaitu laktobasilus bifidus, laktofrein, lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibodi, imunitas seluler, tidak menimbulkan alergi.
3. Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan. Waktu menyusu kulit bayi akan menempel pada kulit ibu, kontak kulit yang demikian akan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan bayi kelak.
4. Menyebabkan pertumbuhan yang baik. Bayi yang mendapatkan ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas.
5. Mengurangi kejadian karies dentis. Insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena kebiasaan menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan asam yang terbentuk akan merusak gigi.
6. Mengurangi kejadian maloklusi. Telah dibuktikan bahwa salah satu penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot (Sidi, 2004).
Selain manfaat bagi bayi, pemberian ASI juga bermanfaat bagi ibu, yaitu : 1. Mengurangi pendarahan setelah melahirkan.
2. Mengurangi terjadinya anemia 3. Menjarangkan kehamilan
4. Tidak merepotkan dan hemat waktu 5. Mudah digunakan (portable) dan praktis
6. Mempercepat proses pelangsingan badan si Ibu setelah melahirkan. 7. Menurunkan resiko terkena kanker payudara.
8. Menumbuhkan ikatan kasih sayang antara ibu dan anaknya (Roesli, 2005). Selain manfaat di atas, pemberian ASI eksklusif juga dapat memberikan manfaat bagi negara yaitu akan menghemat pengeluaran negara karena hal-hal berikut :
1. Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan menyusui, serta biaya menyiapkan susu.
2. Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntah mencret dan sakit saluran nafas.
3. Penghematan obat-obatan, tenaga, dan sarana kesehatan.
4. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas untuk membangun negara.
5. Langkah awal untuk mengurangi bahkan menghindari kemungkinan terjadinya generasi yang hilang khususnya bagi Indonesia (Sidi, 2004).
2.2.3.3. Komposisi ASI Eksklusif
Air susu mamalia (makhluk menyusui) spesifik spesies, yaitu disesuaikan secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi setiap jenis mamalia. Karena, demikian khususnya sehingga komposisi, lokasi, jumlah puting susu, dan frekuensi menyusui, semua diciptakan untuk mengoptimalkan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang turunan mamalia tersebut. Demikian juga dengan air susu ibu yang telah disesuaikan dengan kebutuhan bayi (Roesli, 2005).
ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan, hormon, enzim, zat kekebalan, dan sel darah putih. Semua zat ini terdapat secara proporsional dan seimbang satu dengan yang lainnya. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat ini tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.
Komposisi yang terkandung dalam ASI selama ibu menyusui terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Kolostrum
Kolostrum adalah cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti-infeksi dan berprotein tinggi. Kolostrum merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat
yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan berikutnya.
b. ASI transisi (peralihan)
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi ASI yang matang. Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin meningkat, dengan demikian maka volumenya juga semakin meningkat.
c. ASI matang (mature)
ASI matang merupakan ASI yang dikeluarkan sekitar hari ke-14 dan seterusnya, komposisinya relatif konstan (Alkatiri, 2003).
2.2.3.4. Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia
Departemen Kesehatan telah menetapkan kebijakan-kebijakan untuk mendukung pemberian ASI eksklusif enam bulan ditambah dengan pemberian makanan pendamping ASI mulai umur 6 bulan sampai 2 tahun. United Nation International Children Emergency Fund (UNICEF) memberi dukungan kepada Departemen Kesehatan dan mitra kerja lainnya dalam hal :
1. Finalisasi kebijakan nasional mengenai pemberian makanan pada bayi dan balita.
2. Peningkatan alokasi sumber daya, termasuk sumber daya manusia, pendanaan dan pengorganisasian untuk pemberian makanan pada bayi dan balita
3. Memberikan motivasi kepada petugas kesehatan, fasilitas, serta lembaga-lembaga profesi khususnya yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi untuk tidak mengedepankan kebutuhan komersial.
4. Melatih petugas kesehatan mengenai keterampilan konseling untuk pemberian ASI dan MP-ASI
5. Revitalisasi gerakan rumah sakit sayang ibu/sayang bayi, supaya fasilitas pelayanan kesehatan untuk persalinan memenuhi “sepuluh langkah untuk keberhasilan menyusui”
6. Penegakan peraturan perundangan mengenai pengendalian pemasaran susu bayi dan pengganti ASI, serta peraturan perundangan untuk memberi perlindungan terhadap perempuan yang bekerja
7. Sosialisasi kebijakan mengenai pemberian makanan pada bayi dan balita dalam keadaan darurat (Depkes RI, 2005).
2.2.3.5. Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Tentang ASI di Puskesmas
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) dalam Strategi Nasional Peningkatan Pemberian ASI Sampai Tahun 2005 menyatakan bahwa peningkatan pemberian ASI yang meliputi pemberian ASI eksklusif, menganjurkan ibu menyusui sampai bayinya berusia 2 tahun, dengan tidak membuang kolostrum. Hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam peningkatan sumber daya manusia. Target pemerintah tahun 2005 adalah 80% ibu menyusui telah memberikan bayinya ASI eksklusif.
Untuk mencapai hal tersebut di atas Departemen Kesehatan RI (2002) telah menyusun Strategi Nasional yang salah satu sasarannya adalah petugas kesehatan dan masyarakat di wilayah kerja puskesmas. Tujuan umum dari kebijakan pemerintah tentang ASI di Puskesmas adalah meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan meneruskan pemberiannya sampai bayi berusia 2 tahun dengan pemberian secara baik dan benar. Salah satu tujuan khususnya adalah meningkatkan petugas kesehatan di tingkat puskesmas dalam melaksanakan manajemen laktasi dengan sasaran ibu-ibu di wilayah kerja puskesmas. Kegiatan yang dilakukan adalah : 1) Menyusun petunjuk pelaksanaan (juklak), 2) Melengkapi sarana dan prasarana, 3) Melakukan pembinaan, dan 4). Melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 450/Menkes/SK/IV/2004 tanggal 07 April 2004 yaitu :
1. Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) mempunyai kebijakan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas.
2. Melakukan pelatihan bagi petugas kesehatan dalam hal pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.
3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2 tahun, termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi sesar bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisahkan dari bayi atas indikasi medis.
6. Tidak memberikan makanan maupun minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.
7. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.
8. Membantu ibu menyusui semua bayi tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui.
9. Tidak memberikan susu botol atau kompeng kepada bayi yang diberi ASI.
10.Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit, rumah bersalin, sarana pelayanan kesehatan lainnya.
Namun harus juga mendapat dukungan segenap masyarakat dan komitmen yang sungguh-sungguh dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri terutama yang dekat dengan ibu dalam kesehariannya seperti suami, mertua dan lain-lain (Kresnawan, 2003). Keyakinan agama tertentu juga dapat berpengaruh seperti adanya pemberian makanan kurma pada bayi baru lahir karena mengikuti sunah rasul. Mitos-mitos yang berkembang beranggapan bahwa dengan menyusui akan mengurangi
keindahan tubuh si ibu karena payudara ibu menjadi kendor dan tubuh ibu menjadi gemuk (Widodo, 2001)
2.2.3.6. Faktor-Faktor (Determinan) Yang Mempengaruhi Pemberian ASI
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pola menyusui (Kresnawan, 2003; Depkes RI, 2005; Roesli, 2005; Soetjiningsih, 1997) dapat ditinjau dari 3 aspek adalah :
1. Aspek genetik (faktor keturunan)
Faktor yang berasal dari dalam ibu sendiri termasuk di dalamnya umur ibu, keadaan kesehatan ibu, paritas, pemakaian kontrasepsi, psikis ibu dan pengetahuan (Soetjiningsih, 1997). Produksi ASI akan mengalami perubahan pada kenaikan jumlah paritas walaupun tidak bermakna, dimana pada anak pertama jumlah ASI sebanyak 580 ml per 24 jam, anak kedua 654 ml per 24 jam, anak ketiga 603 ml per 24 jam, anak keempat 600 ml per 24 jam, anak kelima 506 ml per 24 jam dan anak keenam 524 ml per 24 jam (Alkatiri, 2003).
Selain itu pemakaian alat kontrasepsi dapat mempengaruhi produksi ASI, khususnya jenis pil yang mengandung estrogen yang tinggi akan menurunkan produksi ASI, oleh karenanya penggunaan kontrasepsi pada masa laktasi harus menggunakan urutan prioritas mulai dari MOW (Metode Operasi Wanita) atau MOP (Metode Operasi Pria) bila tidak ingin punya anak lagi. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam rahim), suntikan depoprovera, susuk norplant, mini pil dan menggunakan pil kombinasi bila ASI tidak dibutuhkan lagi atau setelah makanan
tambahan diperkenalkan pada bayi dan mengandung estrogen rendah (Soetjiningsih, 1997, Pusdiknakes, 1993).
Keadaan psikis ibu juga sangat menentukan dalam keberhasilan menyusui. Ibu yang mengalami kecemasan akan lebih sedikit mengeluarkan ASI-nya dibandingkan yang tidak. Ibu yang kurang percaya diri tidak yakin bahwa ia mampu menyusui dengan baik adanya tekanan batin, takut kehilangan daya tarik sebagai wanita kesemuanya ini dapat mempengaruhi kegiatan menyusui (Widodo, 2001).
Pengetahuan ibu termasuk keunggulan dalam pemberian ASI serta kerugian yang akan ditimbulkan oleh susu formula yang diberikan pada bayi melalui botol terutama sebelum bayi umur 4-6 bulan sehingga dapat memotivasi mereka untuk memberi ASI. Dengan yang benar dan menguntungkan bagi bayi, ibu dan keluarga. Waktu pemberian ASI pada bayi diperoleh rentang waktu yang lama pada ibu yang mendapatkan pendidikan mengenai ASI, dan ditambah dengan saran-saran dari petugas kesehatan (Roesli, 2005).
2. Aspek lingkungan
Faktor ekstrinsik terdiri dari faktor sosial budaya masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap pemberian ASI. Strata sosial seperti adanya lapisan-lapisan di masyarakat yang digolongkan berdasarkan status ekonomi, kedudukan dan pekerjaan semua ini dapat mempengaruhi pemberian ASI secara eksklusif. Adanya diskriminasi antara anak laki-laki dan perempuan yang berdampak pada
perolehan ASI, ibu lebih mengutamakan menyusui anak laki-laki dari pada anak perempuan karena adanya budaya pengutamaan anak laki-laki (Roesli, 2000). 3. Aspek gaya hidup
Aspek ini merupakan salah satu dari perilaku yang tidak terlepas dari lingkungan sosial budaya dan keadaan si ibu itu sendiri. Mengikuti teman atau orang yang terkemuka yang memberikan susu botol, merasa ketinggalan jaman jika menyusui bayinya adalah merupakan fenomena yang muncul di masyarakat. Faktor-faktor lain yang memperkuat penggunaan susu botol adalah pengaruh kosmetologi, gengsi supaya kelihatan lebih modern dan tidak kalah pentingnya adalah pengaruh dari iklan (Widodo, 2001).
4. Aspek pelayanan kesehatan
Petugas kesehatan memegang peranan penting dalam menyukseskan program ASI eksklusif. Kurangnya tenaga kesehatan dapat menyebabkan kurangnya tenaga yang dapat menjelaskan dan mendorong tentang manfaat pemberian ASI. Namun dapat pula sebaliknya justru petugas kesehatan memberi penerangan yang salah dengan menganjurkan pengganti ASI dengan susu kaleng.
Kebijakan institusi yang tidak menyokong serta nasehat petugas kesehatan yang bertentangan dan menghambat fisiologi laktasi adalah pencetus berakhirnya laktasi. Ketidakacuhan tenaga kesehatan serta program institusi pemerintah yang tidak terarah dan tidak mendukung adalah salah satu penyebab utama penurunan penggunaan ASI. Informasi yang cukup dapat disampaikan melalui berbagai media, namun akan lebih baik informasi ini berasal dari petugas kesehatan. Selain
itu pemberian ASI pertama setelah anak lahir akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Tiga puluh menit setelah lahir anak sebaiknya langsung diperkenalkan dengan ASI karena akan mempengaruhi produksi ASI disebabkan perangsangan terbentuknya ASI (Sidi, 2004).
Semakin cepat dan sering rangsangan tersebut akan memperlancar pengeluaran ASI. Diketahui bahwa bayi yang disusui tiga puluh menit setelah dilahirkan atau sebelumnya akan memungkinkan untuk tidak memberikan makanan pralaktal pada bayi. Tiga puluh menit pertama ini petugas kesehatan penuh berada di sisi ibu dan bayi karena sangat menentukan (Widodo, 2001).
2.2.3.7 Manajemen Laktasi
Manajemen laktasi adalah tatalaksana yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya dimulai pada antenatal, segera setelah bayi lahir, neonatal dan post neonatal (Depkes RI, 2005).
2.2.3.7.1. Manajemen Laktasi yang Dilakukan pada Masa Antenatal
Pada masa ini, setiap ibu hamil datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk periksa kehamilannya maka dilakukan manajemen laktasi dengan urutan sebagai berikut :
a. Pemeriksaan kesehatan atau fisik yang dimulai dengan anamnesa.
b. Pemeriksaan kehamilan dimulai dengan anamnesa, dilanjutkan inspeksi, palpasi dengan Leopold untuk dapat memperkirakan kehamilan, umur kehamilan, posisi
c. Pemeriksaan payudara dilanjutkan perawatan, yang paling penting adalah puting susu, untuk mempersiapkan menyusui apabila sudah melahirkan.
d. Melakukan pemantauan kenaikan berat badan (BB) dengan menimbang BB ibu hamil, yang terpenting adalah kenaikan sebelum dan sesudah hamil sampai pada trimester III. Selama trimester I terjadi kenaikan BB sebesar 0,7-1,4 kg tiap minggu dan selama trimester I dan II kenaikan BB menjadi lebih banyak yaitu 0,35-0,4 kg seminggu. Selama kehamilan kenaikan BB sekitar 7-12 kg.
e. Diberikan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai ASI dan kecukupan gizi. Mengenai ASI misalnya tentang manfaat ASI dan menyusui; cara menyusui yang benar, manfaat rawat gabung, bahaya dari susu formula atau susu botol. Mengenai gizi misalnya tentang makanan ibu hamil, agar memperhatikan kecukupan gizinya dalam makanan sehari-hari, termasuk mencegah kekurangan zat gizi besi. Jumlah makanan sehari-hari perlu ditambah mulai kehamilan trimester II sampai 1-2 porsi dari jumlah makanan pada saat sebelum hamil (Depkes RI, 2001).
2.2.3.7.2. Manajemen Laktasi Saat Segera Setelah Bayi Lahir
Pelaksanaan manajemen laktasi pada masa ini adalah dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar mulai kontak dengan bayi (skin to skin) dan mulai menyusui bayi. Karena saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan, selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu secara naluri. Peran petugas di sini adalah membantu kontak ibu dengan bayi sedini mungkin untuk memberikan rasa aman dan kehangatan.
Sekresi ASI diharapkan akan semakin cepat dengan menyusukan lebih dini. Sekresi ASI akan mudah dengan adanya rangsangan isapan mulut bayi secara refleks. Ada dua refleks yang sangat penting dalam proses laktasi, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran. Kedua refleks ini bersumber dari perangsangan puting susu akibat isapan bayi yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran. Tiga refleks yang lain yang penting dalam mekanisme isapan bayi adalah refleks menangkap (on demand) karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. Sewaktu bayi menyusu, payudara akan memproduksi ASI lebih banyak, demikian halnya bayi yang lapar atau bayi kembar sesuai dengan kebutuhan bayi. Semakin kuat daya isapnya semakin banyak ASI diproduksi. Produksi ASI selalu berkesinambungan setelah payudara disusukan, maka akan terasa kosong dan payudara melunak. Pada keadaan ini ibu tetap tidak akan kekurangan ASI, karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap, ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. Dengan demikian ibu dapat menyusui bayi secara murni 6 bulan, dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun (Depkes RI, 2005).
2.2.3.7.3. Manajemen Laktasi Masa Neonatus
Masa neonatus yaitu masa sebulan (sekitar 28 hari) setelah bayi lahir. Pelaksanaan manajemen laktasi masa neonatus adalah sebagai berikut :
a. Bayi hanya diberi ASI saja (ASI eksklusif) tanpa diberi minuman apapun. b. Ibu selalu dekat dengan bayi atau rawat gabungan.
d. Melaksanakan cara menyusui (melekatkan dan meletakkan) yang baik dan benar e. Bila bayi terpaksa dipisah dari ibu karena indikasi medik, bayi harus tetap
mendapat ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan agar produksi ASI tetap lancar.
f. Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) dalam waktu kurang dari 30 hari setelah melahirkan (Depkes RI, 2005).
2.2.3.7.4. Manajemen Laktasi Selanjutnya (Post Neonatal)
Manajemen laktasi selanjutnya adalah masa post neonatal pada masa setelah 30 hari bayi lahir. Menurut Departemen Kesehatan RI (2001), manajemen laktasi selanjutnya meliputi :
a. Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan atau minuman lainnya.
b. Memperhatikan kecukupan gizi dan makanan ibu menyusui sehari-hari, dimana pada saat menyusui, ibu perlu makanan sebanyak 1,5-2 kali lebih dari biasanya (4-6 piring) dan minum rata-rata 10 gelas sehari (8-12 gelas/hari).
c. Cukup istirahat / tidur siang / berbaring 1-2 jam, menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan ketenangan fisik yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
d. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
e. Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau menyusu, puting lecet, dan lain-lain).
f. Memperhatikan kecukupan gizi makanan bayi, terutama setelah berusia 6 bulan, selain ASI berikan MP-ASI yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas secara bertahap.
2.2.3.7.5. Persiapan Psikologis
Persiapan psikologis ibu untuk menyusui pada saat kehamilan sangat berarti, karena keputusan atau sikap ibu yang positif harus sudah terjadi pada saat kehamilan atau bahkan jauh sebelumnya. Sikap ibu dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: Adat / kebiasaan / kepercayaan menyusui di daerah masing-masing, pengalaman menyusui sebelumnya atau pengalaman menyusui dalam keluarga / kerabat, pengetahuan tentang manfaat ASI, kehamilan diinginkan atau tidak, dukungan dari dokter / petugas kesehatan, teman atau kerabat dekat, terutama pada ibu yang baru pertama hamil (Soetjiningsih, 1997).
Penyuluhan, siaran radio, televisi / video, artikel di majalah / surat kabar dapat meningkatkan pengetahuan ibu, tapi tidak selalu dapat mengubah apa yang dilakukan oleh ibu. Banyak ibu yang mempunyai masalah yang kadang tidak dapat diutarakan, atau tidak dapat diselesaikan oleh dokter / tenaga kesehatan, karenanya seorang dokter / tenaga kesehatan harus dapat membuat ibu tertarik dan simpati serta berusaha mencari seseorang yang dekat atau berperan dalam kehidupan ibu, suami atau anggota keluarga / kerabat yang lain. Dokter / tenaga kesehatan harus dapat memberikan perhatian dan memperlihatkan simpatinya. Langkah-langkah yang harus diambil dalam mempersiapkan ibu secara kejiwaan untuk menyusui adalah
mendorong setiap ibu untuk percaya dan yakin bahwa ia dapat sukses dalam menyusui bayinya, menjelaskan pada ibu bahwa persalinan dan menyusui adalah proses alamiah yang hampir semua ibu berhasil menjalaninya, bila ada masalah maka dokter / tenaga kesehatan akan menolong dengan senang hati (Sidi, 2004).
Peran dokter / tenaga kesehatan dalam mendukung ibu menyusui sangat penting karena dapat memberikan dukungan psikologis pada ibu, sehingga ibu mau dan mampu menyusui bayinya. Hal yang diberikan pada ibu untuk mendukung psikologis ibu adalah :
a. Meyakinkan ibu akan keuntungan ASI dan kerugian susu buatan / formula.
b. Memecahkan masalah yang timbul pada ibu yang mempunyai pengalaman menyusui sebelumnya, pengalaman kerabat atau keluarga lainnya.
c. Mengikutsertakan suami atau anggota keluarga lain berperan dalam keluarga, ibu harus dapat beristirahat cukup untuk kesehatannya dan bayinya sehingga perlu adanya pembagian tugas keluarga (Depkes RI, 2001).
Pelaksanaan manajemen laktasi tersebut dengan melakukan KIE pada ibu, karena KIE merupakan salah satu bentuk pemberian informasi pada ibu yang berkaitan dengan menyusui. Tujuan KIE pada pelaksanaan manajemen laktasi, adalah agar ibu mempunyai bekal pengetahuan tentang menyusui,. Seperti mengetahui cara-cara menyusui yang baik dan benar, tanda-tanda posisi menyusui yang benar, mengeluarkan ASI dengan tangan, mengosongkan payudara dengan pompa, cara menyimpan ASI di rumah, masalah-masalah yang dihadapi ibu menyusui dan cara mengatasinya, serta gizi yang diperlukan pada saat menyusui (Depkes RI, 2005).