• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti Sebagai Soko Guru Ajaran

BAB II. ASAL-USUL SYEKH SITI JENAR DAN

B. Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti Sebagai Soko Guru Ajaran

Di dalam Serat Wedhatama, sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Backy Syafa’, “Ajaran dan Pemikiran Syaikh Siti Jenar”, disebutkan bahwa jalan untuk

11

mencapai Manunggaling Kawulo Gusti seperti ajaran Siti Jenar dapat diperoleh dengan cara “ Ngelmu Kang Nyata/Ngelmu Luhung/Ilmu Hakikat”.

Adapun jalan untuk mencapai penghayatan manunggal dengan Tuhan dalam Serat Wedhatama dirumuskan menjadi Sembah Catur (Empat macam sembah). Hal ini diungkapkan sebagai berukut :

“ Semengko insun tutur/ Sembah catru supaya lamuntur/ Dhihn raga, cipta, jiwa, rasa kaki/ingkono lamun tinemo/ Tandha nugrahaning Mathan.“Kini kuterapkan empat macam sembah raga, cipta, jiwa dan rasa. Keempatnya apabila berhasil, itu pertanda anugerah Tuhan”.

Keempat macam sembah ini secara berurutan merupakan gubahan dari keempat tingkat dalam pengamalan ajaran tasawuf. Sembah raga adalah Syariat, sembah cipta adalah Tarekat, sembah jiwa adalah Hakikat, sedang sembah rasa adalah Hakikat. Jadi keempatnya adalah gubahan dari syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.

Selanjutnya diterangkan bahwa sembah raga sucinya dengan air dan menjalakan shalat lima waktu dan berpegang aturan syariat. Adapun sembah qalbu (cipta) secinya tanpa air akan tetapi menahan dan mengurangi kridanya hawa nafsu. Kemudian sembah jiwa (hakikat) diterangkan merupakan puncak akhir dari pada laku bathin. Sucinya dengan hati awas dan ingat. Apabila mendapat anugerah Tuhan qalbu akan terbuka ke alam batin dan akan nampak terang benderang. Adapun sembah rasa akan terlaksana tanpa petunjuk apapun, hanya terasa dalam batin. Segala menjadi terang benderang, segala was-was hati telah punah sama sekali, jiwa raganya berserah diri pada takdir Tuhan. 12

12

Cara Syekh Siti Jenar memaparkan pandangannya tampak lebih sesuai logika dan kesadaran hidup orang jawa yang karena itu ajarannya tampak lebih meresap-menyatu di pasar kepercayaan mereka. Nama Syekh Siti Jenar sulit ditemukan di dalam kitab-kitab resmi terbitan Indonesia atau jawa, namun ajarannya begitu populer bagi publik jawa. Ensklopedia Islam yang disusun Departemen Agama pun tidak menyebut tokoh ini ketika menjelaskan panjang lebar tentang sejarah kehadiran wali atau Wali Songo di negeri ini. Nasib Syekh Siti Jenar seperti tokoh-tokoh besar sufi lainnya yang menentang arus kekuasaan politik pada masanya seperti Al-Hallaj.

Salah satu uraian panjang yang dikemukan Syekh Siti Jenar yang akrab bagi wong jawa ialah konsepnya tentang warongko Manjing curigo yang dalam khasanah Islam di kenal dengan wahdatul wujud. Sikapnya yang anti kemapanan yang memang mudah dicapai melalui doktrin-doktrin hukum fiqih atau syariah yang formal dan positifistik telah membuat tokoh ini tak pernah di akui kehadirannya dalam sejarah Islam di Nusantara. Kehadiran Siti Jenar sebagai manusia historis yang pernah hidup dalam bentangan sejarah nasional memang menjadi bahan perdebatan panjang yang tidak pernah berakhir. Namun, pandangan Siti Jenar bukanlah barang asing bagi sejarah pemikiran Islam seperti ia juga tidak asing dalam kesadaran orang jawa.

Kejawen sebagai salah satu bentuk kesadaran keagamaan dan praktek hidup kaum abangan hampir selalu menimbulkan salah paham dan perdebatan di antara para ilmuwan atau para pelakunya sendiri. Kedudukan kejawen sebagai suatu

sistem kepercayaan itu sendiri juga menjadi perbantahan apakah ia merupakan bagian dari kebudayaan orang jawa atau merupakan salah satu bentuk kecerdasan lokal dari praktik Islam yang oleh pihak lain dikatakan sebagai praktik Islam yang belum selesai atau belum sempurna. Sementara yang lain lagi memandang kejawen sebagai suatu lapis tipis kesadaran keagamaan orang jawa yang tak memiliki akar yang kokoh, sehingga mudah berubah bentuk atau mudah bercampur dengan bentuk keagamaan yang bersumber dari beragam agama yang biasa disebut sebagai sinkretisme.

Cara berpikir yang mendua inilah yang menyebabkan adanya sikap dan perilaku keagamaan orang jawa yang dapat mengekspresikan emosi keagamaan melalui ajaran dari keyakinan manapun, baik melalui agama-agama monoteis (Ilam dan kristen) maupun dengan cara mengikuti ritual suatu aliran kebatinan tertentu.13

Diluar perdebatan di atas, kasus orang jawa yang merupakan bagian dari penduduk negeri yang majemuk secara budaya dan keagamaan sesungguhnya bisa memberi bahan untuk memahami berbagai praktik keberagaman di kawasan nusantara, terutama di pulau jawa. Mereka, orang jawa itu, umumnya tinggal dan menetap di pulau jawa yang dalam mitologi jawa di percaya sebagai “punjering jagad” atau pusat kosmos dan sebagai pusat kehidupan umat manusia. Secara geografis pusat jagad itu terletak di satu wilayah kecil di sisi selatan jawa tengah, dan yang lebih spesifik lagi menunjukkan kawasan yogyakarta dan solo yang juga di tempatkan sebagai pusat kebudayaan jawa.

13

M. Soehadha, orang jawa memaknai agama, Jogjakarta, PT Kreasi Wacana, Cet 1, 2008, h. 20-21.

Dalam kaitan itu pula pergumulan keberagaman dari agama –agama besar di negeri ini sesudah beberapa abad agama itu merasuk ke wilayah nusantara nampak akan terus berlangsung dalam aras dan dimensi yang tentunya berbeda dari masa ke masa. Salah satu dari banyak hal yaitu tentang pergumulan keberagaman itu ialah hubungan mistisme di dalam semua agama-agama besar tersebut dan dimana posisi kejawen beradan dan akan berada. Niels Mulder, dalam bukunya yang edisi terjemahan Indonesia berjudul Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia, dengan jelas menyatakan adanya kesepadanan antara mistisisme dengan kebatinan dan ilmu jawa kadang dan lebih sering disebut kejawen.

Namun, disaat yang sama ekspansi kolosal orang jawa ke berbagai pulau di wilayah nusantara beserta budaya yang diusungnya, melalui transmigrasi, semakin menghadapi kritik amat tajam. Suatu praktik kekuasaan model Mataraman jawa yang juga mulai digugat sesudah jatuhnya rezim orde baru.

Dilihat dari komunitas pemeluk Islam, agama yang dipeluk mayoritas penduduk di negeri ini, sebenarnya telah masuk dan berkembang di kawasan Nusantara lebih dari 10 abad lalu. Jauh sebelum majapahit runtuh, beberapa komunitas pemeluk Islam, konon bahkan sudah ada di pusat pemerintahan kerajaan besar tersebut. Sejak kerajaan Demak berdiri, lebih lima abad Islam terus berkembang dan menanamkan pengaruhnya dalam beragam aspek kehidupan nasional. Namun, mayoritas penduduk negeri ini tetap bangga dan kukuh untuk meneguhkan diri sebagai orang jawa dengan sistem kepercayaan dan budayanya sendiri.

Sistem kepercayaan orang jawa, yang lebih dikenal sebagai kejawen, oleh sementara pihak di duga telah mengalami kebangkitan di akhir abad ke-20. banyak pihak berpendapat adalah kesalahan besar menganggap orang jawa itu begitu gampang menjadi muslim atau kristen, Budha atau Hindu. Menurut pihak ini, hal itu di sebabkan karena penganjur agama Islam atau kristen gagal memahami kesadaran hidup orang jawa dan kekuatan kejawen.14

Di jawa memang perpaduan antara mistik Islam dengan budaya cukup kental. Bukan sekedar itu saja, bahkan ada aliran kebatinan yang cenderung menggerogoti dan menyerang umat Islam dengan karya-karya kebhatinannya. Sebut saja, misalnya kitab Gatoloco dan Darmogandul, yang menurut T.E. Behrend, menjadi lambang pornografi dan anti Islam dalam sastra jawa prakontemporer. 15

Secara teoritis, sufí atau sufisme memang ditolak oleh berbagai gerakan Islam dan kaum sunni yang dianut mayoritas muslim di dunia. Namun demikian, praktek sufí merupakan fenomena umum yang mudah ditemukan dalam kehidupan mayoritas pemeluk Islam dari strata rakyat kebanyakan di dunia Islam.16

Sufisme berkembang meluas ditengah kekacauan politik yang berubah menjadi gerakan radikal sebagai penerapan syariah sebagai dasar hukum negara ialah wahabisme ketika mendukung kekuasaan Ibnu Saud. Di kemudian hari

14

Abdul Munir Mulkhan, Makrifat Burung Surga dan Ilmu kasampurnaan Syekh Siti Jenar, h. 101-106.

15

Alwi Shihab, Islam sufistik, bandung : Mizan 2001, h. 159-160.

16

Lihat, Abdul Munir Mulkhan, Islam sejati (KH.Ahmad Dahlan dan petani Muhammadiyah) Jakarta, PT. serambi ilmu semesta, cet 1, 2003, h. 98.

wahabisme juga mengintegrasikan beberapa unsur sufisme ke dalam Islam murni syariah tersebut.

Walaupun sufime ditolak kaum sunni, namun peletak pemahaman sufi juga memberi perhatian serius atas pokok ajaran-ajaran sufisme. Hasan Basri (wafat 728 M), guru pendiri Mu’tazilah dan Asy’ary, sangat mendorong hidup saleh (baca;zuhud) dalam menghadapi pengadilan kiamat yang populer dikalangan penganut sufi. Ibn Taimiyah mengakui sahnya beberapa ajaran Sufisme, termasuk kasyf-nya Al-ghazali, pembela sunni paling masyhur dan tokoh terpenting sufisme sepanjang sejarah Islam.

Gagasan dasar sufisme sebenarnya sama dengan syariah, termasuk tujuan pendekatan diri kepada Tuhan dan pencarian perkenan (keridlaan) Tuhan. Gerakan ini sering dikaitkan dengan pemikiran sufi Abu Hasyim Al Kufi dari Irak, wafat Tahun 770 M. untuk mencapai tujuan itu seorang sufi menempuh jalan (tarekat) yang panjang dan sistematis yang dikenal dengan maqam-maqam.17

Sebagaimana di ketahui, ajaran Syekh Siti Jenar banyak terkait dengan praktek hidup sufi sebagai model kehidupan pemeluk Islam baik dalam berhubungan dengan (menyembah) Tuhan ataupun dalam kerangka hubungan sosial kemasyarakatan. Termasuk dalam hubungan sosial itu berbagai masalah kehidupan politik dan juga ekonomi. Praktik hidup sufi itu sendiri memiliki sejarah panjang, bahkan pada masa jauh sebelum kerasulan Muhammad saw.

Sebagian pemikir Islam (ahli syari’ah) berpendapat bahwa ajaran praktik hidup sufi tidak diketemukan dasar tekstualnya dalam Al-Quran ataupun sunnah.

17

Walaupun demikian juga cukup banyak yang menghubungkan praktik hidup sufi itu dengan perikehidupan Nabi sendiri. Mereka berpendapat bahwa perikehidupan Rasul adalah sebuah contoh kehidupan sufistik itu sendiri.18

Munculnya tasawuf juga bersamaan dengan rekonstruksi kekuasaan Islam yang dengan hebat menguasai hampir seluruh wilayah-wilayah utama dunia. Proses pembentukan sistem kekuasaan ini diikuti oleh pengembangan hukum positif fiqih sebagaimana telah disebutkan. Akibatnya, hampir semua pemikiran lain dinyatakan dilarang kecuali pemikiran yang memperoleh dukungan kekuasaan resmi. Di sinilah pemikiran sufistik mulai mengambil posisi oposisional yang tak kalah kerasnya dengan ketaatan hukum fiqih dalam praktik tarekat.19

Pada saat yang sama, ajaran Syekh Siti Jenar seharusnya dapat diletakkan sebagai media dialog ajaran Islam yang berkembang dengan kepercayaan lama yang selama ini diyakini oleh hampir semua lapisan sosial di bawah sistem politik dan budaya Majapahit. Suatu hal yang dengan keras ditolak oleh Raden fatah dan dewan keagamaan yang dipimpin para wali. Sayangnya, pemikiran dan ajaran Syekh Siti Jenar yang memang cukup bukti menyimpang dari mainstreem atau pola umum sistem keagamaan dan kekuasaan resmi itu kurang disikapi secara jernih.

Walaupun demikian, sikap Syekh Siti Jenar dan para pengikutnya yang tak kalah keras juga harus dijernihkan. Namun jika pemikiran dan ajaran Syekh Siti Jenar itu diletakkan dalam konteks peralihan kekuasaan dan sekaligus peralihan

18

Ibid, h. 29-30.

19

kesadaran budaya ketika itu, mungkin pemikiran Syekh Siti Jenar dapat dikaji secara lebih proporsional. Harus pula disadari bahwa peralihan kekuasaan dan budaya yang terjadi secara mendadak harus menyesuaikan diri dengan sistem keagamaan dan kekuasaan Islam di bawah pemerintahan demak Bintara. Tidak bisa ini dihindari hal ini akan menimbulkan kejutan dan hentakan kesadaran sosial, politik dan ekonomi yang tak mudah bagi seseorang untuk mengambil posisi yang tepat.

Dalam hubungan itulah kajian terhadap pemikiran dan ajaran Syekh Siti Jenar menjadi relevan. Hal ini menjadi semakin strategis di tengah pertumbuhan bangsa yang mayoritas penduduknya umat Islam. Lebih strategis lagi ketika ketika bangsa ini tak lagi dapat menghindar untuk menempatkan diri ditengah percaturan budaya mondial yang semakin mengglobal seperti sekarang ini.20

Ketika ajaran sufi itu dikembangkan Syekh Siti Jenar, kegelisahan para wali, bahkan diantara para elit penguasa kerajaan demak pun muncul. Karena itu, upaya memahami berbagai dimensi ajaran dan kepercayaan sufi itu diharapkan setidaknya bisa mengurangi kesalahpahaman tersebut.21

20

Ibid, h. 32-33.

21

Dokumen terkait