• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONTRAK DAN AKAD GADAI EMAS

C. Akad Gadai Emas

Akad Gadai Emas adalah sebuah produk yang memberikan pembiayaan kepada orang yang membutuhkan akan tetapi salah satu harta dari peminjam uang pembiayaan dijadikan barang jaminan yaitu barang berupa emas kepada yang meminjamkan pembiayaan tersebut, dan ada beberapa pengertian akad Gadai Emas menurut Fatwa DSN-MUI, Pegadaian Syariah dan Bank Syariah.

1. Akad Gadai Emas Menurut Fatwa DSN-MUI

Salah satu bentuk jasa pelayanan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah Rahn, yaitu menahan barang sebagai jaminan atas utang bahwa Bank Syari'ah perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya,

Masyarakat pada umumnya telah lazim menjadikan emas sebagai barang berharga yang disimpan dan menjadikannya objek Rahn sebagai jaminan utang untuk mendapatkan pinjaman uang. agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal itu untuk dijadikan pedoman.

Dengan memperhatkan Surat dari Bank Syariah Mandiri No 3/305/DPM Tanggal 23 Oktober 2001 Tentang Permohonan Fatwa atas Produk Gadai Emas dan Hasil Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Kamis, 14 Muharram 1423 H/28 Maret 2002 M. ditentukan ketentuan yang menetapkan fatwa tentang Rahn emas.

53 Fatwa DSN-MUI No: 26/DSNMUI/III/2002 tentang Rahn Emas

Ketentuan Akad Rahn Emas menurut Fatwa DSN-MUI adalah

1. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat Fatwa DSN nomor:

25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn).

2. Ongkos dan biaya penyimpanan barang (Marhun) ditanggung oleh penggadai (Rahin).

3. Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.

4. Biaya penyimpanan barang (Marhun) dilakukan berdasarkan akad Ijarah.54 Pada dasarnya Pegadaian Syariah berjalan di atas tiga akad transaksi Syariah yaitu:

1. Akad Qardh, Qardh disini merupakan sebagai pemberian pembiayaan kepada Rahin atas jaminan barang yang ditelah digadaikan dan akad Qardh ini sebagai akad pendamping dari Rahn murni.

2. Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Dengan akad ini, pegadaian menahan harta bergerak sebagai jaminan atas utang nasabah.

3. Akad Ijarah. Yaitu, akad pemindahan hak guna atas barang dan/atau jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barangnya sendiri. Melalui akad ini, dimungkinkan bagi pegadaian untuk menarik sewa atas penyimpanan barang bergerak milik nasabah yang telah melakukan akad.

Akad Gadai Syariah juga harus memenuhi syarat dan ketentuan yang menyertainya, meliputi:

54 Fatwa DSN-MUI No: 26/DSNMUI/III/2002 tentang Rahn Emas

1. Akad tidak mengandung syarat fasid/bathil seperti Murtahin mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas.

2. Marhun bih (pinjaman) merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang dirahnkan tersebut. Serta, pinjama itu jelas dan tertentu.

3. Marhun (barang yang dirahnkan) bisa dijual dan nilainya seimbang dengan pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya milik sah penuh dari rahin, tidak terikat dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan baik materi ataupun manfaatnya.

4. Jumlah maksimum dana Rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur.

5. Rahin dibebankan jasa manajemen atas barang berupa biaya asuransi, biaya penyimpanan, biaya keamanan, dan biaya pengelolaan serta administrasi.55 2. Akad Gadai Emas Menurut Bank Syariah

Menurut Bank Syariah Rahn (Mortgage) adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain (bank) dalam hal-hal yang boleh diwakilkan. Atas jasanya, maka penerima kekuasaan dapat meminta imbalan tertentu dan pemberi Amanah.

Gadai Syariah (Rahn) merupakan salah satu alternatif pembiayaan dengan bentuk pemberian uang pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan berdasarkan pada prinsip syariat Islam dan terhindar dari praktek Riba atau penambahan sejumlah uang atau persentase tertentu dari pokok utang pada waktu membayar utang. Rahn adalah Menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Tujuan akad Rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada Bank dalam memberikan

55 Wahyu Aji Wibowo, “Pegadaian Syariah”, (Bogor : Universitas Djuanda, 2019), h. 12.

pembiayaan. Secara sederhana Rahn adalah jaminan hutang atau gadai. Biasanya akad yang digunakan adalah akad Qardh wal Ijarah, yaitu akad pemberian jaminan dari bank untuk nasabah yang disertai dengan penyerahan tugas agar Bank menjaga barang jaminan yang diserahkan.

Rukun dari akad Rahn yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa, yaitu : A) Pelaku akad, yaitu Rahin (yang menyerahkan barang), dan Murtahin (penerima

barang)

B) Objek akad, yaitu Marhun (barang jaminan) dan Marhun bih (pembiayaan).

C) Shighah, yaitu Ijab dan Qabul.

Dasar hukum gadai Syariah berlandaskan ayat-ayat Al-Quran, Hadist, Ijma dan para ulama. Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perbankan Syariah yang merupakan subsistem dari sistem Ekonomi Syariah wajib memenuhi asas-asas yang sesuai dengan prinsip Syariah. Terdapat beberapa nilai yang merupakan pilar utama dari akad-akad atau perjanjian berdasarkan prinsip Syariah.56

3. Akad Gadai Emas Menurut Pegadaian Syariah

Gadai (Rahn) secara bahasa artinya bisa Ats-Tsubuut dan ad-Dawaam (tetap dan kekal), dikatakan, Maaun raahinun (air yang diam, menggenang tidak mengalir), atau ada kalanya berarti Al-Habsu dan Luzuum (menahan). Allah SWT berfirman

“Tiap-tiap diri tertahan (bertanggung jawab) oleh apa yang telah diperbuatnya.”

(Al-Muddatsir: 38).

Sedangkan definisi ar-Rahn menurut istilah Syara‟ adalah, menahan sesuatu disebabkan adanya hak yang memungkinkan hak itu bisa dipenuhi dari sesuatu

56 Hutagalung, R, Tesis: “Analisis Tanggung Jawab Murtahin (Penerima Gadai) Dalam Pelaksanaan Akad Rahn Emas”, (Sumatera : Universitas Sumatera Utara Medan, 2015), h. 97.

tersebut. Maksudnya menjadikan Al-Aini (barang, harta yang barangnya berwujud konkrit, kebalikan dari Ad-Dain atau utang) yang memiliki nilai menurut pandangan Syara‟ sebagai Watsiqah (pengukuhan, jaminan) utang, sekiranya barang itu memungkinkan untuk digunakan membayar seluruh atau sebagian utang yang ada. Adapun sesuatu yang dijadikan Watsiqah (jaminan) haruslah sesuatu yang memiliki nilai, maka itu untuk mengecualikan Al-Ain (barang) yang najis dan barang yang terkena najis yang tidak mungkin untuk dihilangkan, karena dua bentuk Al-Ain ini (yang najis dan terkena najis yang tidak mungkin dihilangkan) tidak bisa digunakan sebagai Watsiqah (jaminan) utang.

Dalam kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1150, Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak.

Dimana barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh orang yang mempunyai hutang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai hutang. Apabila ditinjau dari aspek legalitas, PP No. 103 tahun 2000, dan Fatwa-Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama (MUI) yang dapat dijadikan acuan dalam menjalankan pratek gadai sesuai Syariah, yakni Fatwa No.25/DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn (Gadai), yang disahkan pada tanggal 26 Juni 2002, dan Fatwa No. 26 DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn Emas (Gadai).

Memberikan kepada Perum Pegadaian legalitas yang cukup kuat untuk melakukan gadai dengan sistem Syariah, walaupun gadai Syariah belum diatur dalam suatu peraturan perundangan-undangan secara khusus di Indonesia.57

Dalam Pegadaian Syariah yang diutamakan adalah dapat memberikan kemaslahatan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat, dengan tetap menjauhkan praktek Riba, Qimar (spekulasi), maupun Gharar (ketidak pastian), sehingga tidak berimplikasi pada terjadinya ketidakadilan dan kedzaliman pada masyarakat dan nasabah (Rais, 2008). Berdasarkan hasil penaksiran yang telah

57 Wahyu Aji Wibowo, “Pegadaian Syariah”, (Bogor : Universitas Djuanda, 2019), h. 12.

dilakukan, maka proses pemberian pinjaman kredit atau pembiayaan gadai Syariah atau Rahn bisa dilakukan. Dalam Pegadaian Syariah penaksir menghitung angka taksiran marhun juga menggali informasi terkait Rahin. Setelah kedua belah pihak meyakini akan memberikan pinjaman dan Rahin sepakat dengan hasil taksiran Marhun, maka keduanya menandatangani Surat Bukti Rahn (SBR).58

Dokumen terkait