• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akad Jual Beli Borongan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Jual Beli Borongan

3. Akad Jual Beli Borongan

Salah satu prinsip muamalah adalah ‘an-taradin atau asas kerelaan para pihak yang melakukan akad. Rela merupakan persoalanbatin yang sulit diukur kebenarannya, maka menifesasi dari suka sama suka iti diwujudkan dalam bentuk akad. Secara bahasa akad adalah:

ْنِم ، اًيِوَنْعَم ْمَأ اًيِّسِح اَطْبِر َناَكءاَوَس ،ِءْيَّشلا فاَرْطَأ َْيَْ ب ُطْبَّرلا

ِْيَْ بِناَج ْنِم ْوَأ ٍدِحاَو ٍبِناَج

“Ikatan antara ujung-ujung sesuatu, baik ikatan itu secara nyata atau

maknawi yang berasal dari satu sisi atau dua sisi”.21

Makna ikatan antara ujung-ujung sesuatu pada pengertian akad secara bahasa adalah ikatan antara satu pembiaraan atau dua pembicaraan. pengertian akad secara istilah terbagi pada pengertian umum dan khusus. Akad dalam pengertian umum menurut fuquha Malikiyah Syafi’iyah, dan Hanabiah adalah:

ِفْقَوْلااَك ٍةَدِرفْنُم ٍةَداَرِإِب ىِرَدَص ٌءاَوَس ،ِهِلْعِف ىَلَع ُءْرَمْلا َمَزَع اَم ُّلُك

ةراج لااو ِعْيَ بْلاَك ِهِىاَشْنإ ِفِ ِْيَْ تَداَرِإ َلَِإ َجاَتْحِا ْمَأ قلاطلاو اربلااو

نهرلاو ليكوتلاو

“Segala yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya baik bersumber

dari keinginan satu pihak seperti waqaf, pembebasan, thalaq, atau bersumber dari dua pihak, seperti jual beli, ijarah, wakalah, dan rahn”.22

Pengertian akad dalam makna khusus adalah: “Ikatan antara ijab

dan kabul dengan cara yang disyariatkan yang memberikan pengaruh terhadap objeknya”23

Memberikan pengaruh pada definisi ini maksudnya adalah memberikan akibat hukum yakni berpindahnya barang menjadi milik pembeli dan uang menjadi milik penjal pada akad jual beli. Dengan demikian akad merupakan ikatan antara ijab dan kabul yang menunjukkan adanya kerelaan para pihak dan memunculkan akibat hukum terhadap objek yang diakadkan.

Apabila kita melihat jual beli borongan, akad borongan menurut

Mali-kiyah diperbolehkan jika barang tersebut bisa ditakar, ditimbang atau

secara borongan tanpa ditimbang, ditakar atau dihitung lagi, namun dengan beberapa syarat yang dijelaskan secara rinci oleh kalangan

Mali-kiyah.24

Ulama Malikiyah mensyaratkan jual beli borongan sebagai berikut: a. Objek jual beli harus bisa dilihat dengan mata kepala ketika sedang

melakukan akad. Ulama Hanafiyah, Syafi`iyah dan Hanabilah sepakat

22 Ibid., h. 46

23 Ibid.

24Afzalur Rahman. Doktrin Ekonomi Islam, alih bahasa Soerayo dan Nastagin, Jilid 4, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1996), h. 70.

dengan syarat ini. Dengan syarat ini maka gharar dan jahalah dapat dieliminasi.

b. Penjual dan pembeli tidak mengetahui secara jelas kadar objek jual beli baik dari segi takaran, timbangan ataupun hitunganya. Imam Ahmad menyatakan, jika penjual mengetahui kadar objek transaksi, maka ia tidak perlu menjualnya secara al-jizāfu dengan kondisi ia mengetahui kadar transaksi, maka jual beli sah dan bersifat lazim namun makruh

tanzih.

c. Jual beli dilakukan atas sesuatu yang dibeli secara partai bukan per satuan. Akad al-jizāfu diperbolehkan atas sesuatu yang bisa ditakar atau ditimbang, seperti biji-bijian dan sejenisnya. Jual beli al-jizāfu tidak bisa dilakukan atas pakaian, kendaraan, yang dapat dinilai persatuannya.

d. Objek transaksi bisa ditaksir oleh orang yang memiliki keahlian penaksiran. Akad al-jizāfu tidak bisa dipraktikkan atas objek yang ditaksir. Madzhab Syafi`iyah sepakat atas syarat ini.

e. Objek akad tidak boleh terlalu banyak sehingga sulit untuk ditaksir juga tidak terlalu sedikit sehingga mudah diketahui kuantitasnya.

f. Tanah yang dipakai sebagi penimbunan objek transaksi harus rata, sehingga kadar objek transaksi bisa ditaksir. Jika kondisi tanah menggunung maka kemungkinan kadar objek transaksi dapat berbeda. Jika kondisinya tidak rata maka keduannya memiiki hak khiyar.

g. Tidak diperbolehkan mengumpulkan jual beli barang yang tidak diketahui kadarnya secara jelas, dengan barang yang diketahui kadarnya secara jelas, dalam satu aqad.25

Seperti dijelaskan firman Allah dalam surat al An‘am/6:152:

.

..



















































Artinya: “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan

adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”.26

Sementara dalam ayat yang lain yaitu QS. al-Isra’/17: 35

























Artinya: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar,

dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”.27

Berdasarkan kedua ayat di atas menjelaskan bahwa dalam jual beli para pedagang sebaiknya melakukan dengan cara yang baik yang sesuai dengan syariat Islam, berlaku adil dan jujur dalam jual beli terutama untuk barang atau benda yang yang ditimbang. Hal ini sangat perlu dilakukan

25Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 147

26Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya., h. 117

agar berkurangnya tanggapan negatif masyarakat mengenai pedagang yang tidak jujur dan selalu mencari untung sebanyak banyaknya dengan cara yang tidak sesuai syariat Islam.

Hukum nasional telah mengatur bahwa perjanjian dapat dipahami bahwa perjanjian, perikatan, kontrak dengan adanya akad tersebut asas kebebasan berkontrak. Saat akad disepakati dan ditandatangani oleh para pihak, maka akad mengikat para pihak yang bersangkutan, dan mengikat diri dalam akad tersebut, yang dikenal dengan asas pacta sunt servanda yaitu KUHPerdata pasal 1338-1340 yang berbunnyi:

Pasal 1338 Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang-undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undangundang. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.28

Pasal 1339 Persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di dalamnya, melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifatnya persetujuan dituntut berdasarkan keadilan, kebiasaan, atau undang-undang. 29

28Subekti, Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (Jakarta: Pt Balai Pustaka, 2014), h, 342

Pasal 1340 Persetujuan hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Persetujuan tidak dapat merugikan pihak ketiga; persetujuan tidak dapat memberi keuntungan kepada pihak ketiga selain dalam hal yang ditentukan dalam pasal 1317.30

Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah yang dikenal dengan istilah Al-Hurriyah dalam Buku II tentang Akad Bab II Pasal 21 ayat 10-12 yang berbunyi:31

Ayat 10 Itikad baik; akad dilakukan dalam rangka menegakkan kemaslahatan, tidak mengandung unsur jebakan dan perbuatan buruk lainnya.

Ayat 11 Sebab yang halal tidak bertentangan dengan hukum, tidak dilarang oleh hukum dan tidak haram.

Ayat 12 Al-Hurriyah (kebebasan berkontrak). Selanjutnya jual beli borongan diketahui sebagai bentuk akad khusus karena dibuat atas dasar itikad baik dengan tidak bertentangan dengan hukum

Perundang-Undangan

Dokumen terkait