BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
B. Pembinaan Akhlak Remaja
1. Akhlaqul Karimah
Adapun jenis-jenis Akhlaqul Karimah itu adalah sebagai berikut:
a. Sifat jujur dan dapat dipercaya b. Sifat yang di senangi
c. Sifat pemaaf d. Sifat manis muka
e. Kebaikan atau berbuat baik
f. Tekun bekerja sambil menundukkan diri (Berzikir kepadanya) 2. Akhlaqul Madzmumah ( Akhlak Tecelah)
Adapun jenis-jenis Akhlaqul Madzmumah itu adalah sebagai berikut:
a. Sifat egoistis
b. Suka obral diri pada lawan jenis yang tidak hak (Melacur) c. Sifat bakhil, kikir (Terlalu cinta harta)
d. Sifat pendusta atau pembohong
e. Gemar meminum-minuman yang mengandung alkohol (Al-Khamar)
f. Sifat penghianat g. Sifat aniaya h. Sifat pengecut
C. Remaja
1. Pengertian remaja
Elizabeth B. dan Hurlock dalam bukunya pisikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (1980: 206 ) menjelaskan bahwa:
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti
“tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” Bangsa primitive-demikian pula orang-orang zaman purbakala-memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan; anak dianggap sudah dewas apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.
Tonra Mahie dkk dalam bukunya Dari Remaja Untuk Remaja (1992:
25) menjelaskan bahwa:
Remaja adalah suatu masa dari umur manusia, yang paling banyak mengalami perubahan, sehingga membawanya pindah dari masa anak-anak menuju kepada masa dewasa. Perubahan –perubahan yang terjadi itu meliputi segala segi kehidupan manusia,yaitu jasmani, rohani, pikiran, perasaan dan sosial, biasanya terjadi pada umur antara 16 tahun dan 20 tahun
Dari pengertian di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa remaja adalah tahap pertumbuhan dari suatu masa yang banyak mengalami perubahan yang membawanya pindah dari masa anak-anak menuju dewasa.
2. Problema remaja
Remaja sebagai individu sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi, yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, remaja memerlukan
bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menetukan arah kehidupannya. Disamping terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan individu tidak selau berlangsung secara mulus atau steril dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur yang linier, lurus atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang di anut, karena banyak faktor yang menghambatnya.
Faktor penghambat ini bisa bersifat internal dan eksternal. Faktor penghambat yang bersifat eksternal adalah yang berasal dari lingkungan.
Iklim lingkungan yang tidak kondusif itu, seperti ketidak stabilan dalam kehidupan sosial politik, krisis ekonomi, perceraian orang tua, sikap dan perlakuan orangtua yang otoriter atau kurang memberikan kasi sayang dan pelecehan nilai-nilai moral atau agama dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Iklim lingkungan yang tidak sehat tersebut, cenderung memberikan dampak yang kurang baik bagi perkembangan remaja dan sangat mungkin mereka akan mengalami kehidupan yang tidak nyaman, stress atau depresi. Dalam kondisi seperti inilah, banyak remaja yang meresponya dengan sikap dan perilaku yang kurang wajar dan bahkan moral, seperti kriminalitas.meminum-minuman keras, penyalahgunaan obat terlarang, tawuran dan pergaulan bebas.
3. Perkembangan Remaja 1. Perkembangan fisik
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Bukan hanya dalam artian psikologis, tetapi juga fisik.
Bahkan, perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna pada saat masa pubertas berakhir, dan juga belum sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja.Terdapat penurunan dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal lebih menonjol dari pada perkembangan eksternal. Hal ini tidak mudah di amati dan di ketahui.
2. Perkembangan sosial
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak di peroleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga melakukan tahap perkembangan sosial.Pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
3. Perkembangan emosi masa remaja
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur tiga belas tahun sampai umur delapan belas tahun, yaitu masa anak duduk di bangku sekolah menengah. Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga atau lingkungannya. Remaja memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna.
Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.
Perkembangan sosial emosional meliputi perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain, dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua, serangan agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu, serta orientasi peran gender dalam masyarakat mereflesikan peran proses sosial-emosional
dan perkembangan remaja (John W. Santrock) dalam bukunya Adolescence Perkembangan Remaja : 2003: 24)
“Tri pusat pendidikan dan problema remaja”
Adapun subjek pengendali dalam masa remaja ini yang sekaligus dapat mengulangi penyimpangan-penyimpangan dari remaja tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pendidikan keluarga
Sebelum anak mengenal sekolah, masyarakat dan lingkungan dimana ia bergaul dengan orang lain terlebih dahulu dalam alam keluarga.
Dalam keluarga inilah anak mengenal pendidikan pertama kali.Dari pendidikan keluargalah dapat di peroleh seorang anak sebagi modal pengetahuan untuk perkembangan selanjutnya,seperti : mengenal kata dan pengertian, pembentukan pribadi dan juga berbagai suri tauladan yang lainnya.
Perlu kita ketahui bahwa pengetahuan-pengetahuan tersebut sering kali dapat disia-siakan atau tak dapat di dapatkan dengan sepenuhnya oleh anak, hal ini disebabkan bila sang orang tua terlalu hanyut dalam kesibukan-kesibukan sehingga perhatian dan kasih sayang terhadap anak tak sempat diperhatikan orang tua.
b. Pendidikan sekolah
Genangan anak dalam sekolah ini, anak diperhadapkan pada suatu kelompok masyarakat kecil yakni para buru, teman-temanya dan lingkungan sekolah. Dalam hal ini anak dapat memperoleh berbagai
pengasuh dalam lingkungan sekolah tersebut pada perkembaganya.
Dengan pendidikan disekolah dan perhatian orang tua yang memadai remaja dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif di masyarakat.
c. Pendidikan masyarakat
Pendidikan masyarakat dapat dikatakan merupakan suatu alat pendidikan yang penting pula artinya. Biasanya seorang anak bila di rumah dia penurut atau sebaliknya tapi dalam masyarakat suatu saat kepribadian tersebut akan luntur. Di dalam masyarakat seorang anak diperhadapkan oleh berbagai corak pengaruh. Bila lingkungan terdiri dari kelompk-kelompok. Judi, peminum, pergaulan yang serba bebas dan sebagainya, maka kemungkinan dia akan terseret ke dalam kelompok-kelompok tersebut. Demikian juga sebaliknya, bila lingkungan masyarakat baik memungkinkan besar ia bakal jadi baik. Ini namanya pengaruh lingkungan masyarakat. Dalam hal ini kesadaran pribadi dari anak itu sendiri banyak pula artinya. (Tonra Mahie dkk dalam bukunya Dari Remaja Untuk Remaja : 1992 )
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian fileld research (penelitian lapangan ) yaitu peneliti langsung turun kelokasi penelitian untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yaitu untuk memberikan gambaran secara cepat dan tepat tentang masalah yang di teliti yaitu peranan orangtua dalam pembinaan akhlak remaja di Kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo.
B. Lokasi Dan Objek Penelitian
Penelitian ini berlokasi di kelurahan Belawa kecamatan Belawa Kabupaten Wajo, dan yang menjadi objek penelitian adalah Orangtua dan Remaja di kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo.
C. Variabel Penelitian
Dari judul penelitian ini yaitu peranan orang tua dalam pembinaan akhlak remaja di Kelurahan Belawa Kecamatan. Maka variabel dari penelitian ini ada 2 yaitu variabel bebas dan variabel tertikat.
Menurut Sugiyono (1998: 21) dalam bukunya Metode Penelitian Administrasi
1. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang menjadi sebab perubahanya atau timbulnya variabel dependen (terikat)
2. Variabel terikat adalah merupakan variabel yang di pengaruhi atau yang menjadi akibat, karna adanya variabel bebas
Maka variabel dalam penelitian ini ada 2 yaitu variabel bebas dan variabel tertikat.
1. Peranan orang tua yang menjadi variabel bebas (independent variabel)
2. Pembinaan akhlak remaja yang menjadi variabel terikat (dependent variabel)
D. Definisi Operasional Variabel
Dalam rangka memahami secara utuh uraian penulis dalam penelitian yang berjudul “Peranan Orang Tua Dalam Pembinaan Akhlak Remaja di Kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo “ maka penulis terlebih dahulu menjelaskan variabel penelitian yang di maksud sebagai berikut:
1. Peranan orang tua adalah kemampuan orang tua bertanggung jawab dalam kehidupan rumah tangganya untuk menjaga, mendidik, memelihara serta membimbing dan mengarahkan dengan sungguh-sungguh dari tingkah laku atau kepribadian anak sesuai dengan syariat Islam yang berdasarkan pada tuntunan al qur‟an dan sunnah.
2. Pembinaan akhlak remaja adalah kemampuan orang tua dalam mendidik anak-anaknya serta memberikan pembinaan dan menanamkan nilai akhlak/budi pekerti pada anak.
E. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan seseorang selalu memerlukan adanya obyek yang dijadikan sebagai sasaran penelitian, obyek itulah yang disebut populasi.
Suharsimi Arikunto (2002:108) dalam bukunya prosedur penelitian suatu pendekatan praktek memberikan pengertian populasi sebagai berikut:
“Populasi adalah kesluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian , maka penelitiannya merupakan penelitian populasi”.
Sedangkan Sugiyono (2013:117) dalam bukunya Metode peneitian pendidikan pendekatan kuantitaf, kualitaif R&D
“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”
Berdasarkan definisi yang telah di kemukakan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa populasi adalah sekumpulan individu atau kelompok yang menjadi sumber data dan informasi yang dibutuhkan peneliti dalam suatu penelitian.
Sehubungan dengan itu maka yang menjadi populasi/objek dalam penelitian ini adalah sebagian masyarakat kelurahan belawa kecematan belawa kabupaten wajo jumlah kepala keluarga adalah sebanyak 684 sedangkan jumlah remaja sebanyak 314, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut:
Tabel I Populasi penelitian
No Objek
Jenis
Laki-Laki Perempuan Jumlah 1
“Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti”
Suharsimi Arikunto dalam bukunya prosedur penelitian menjelaskan, berdasarkan penetapan jika subjeknya kurang dari 100,lebih baik di ambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjenya besar dapat diambil antara 10–15 % atau 20-25% atau lebih. Tergantung setidak-tidaknya dari:
a. Kemampuan peneliti di lihat dari waktu, tenaga dan dana
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data
c. Besar kecilnya resiko yang di tanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar , tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik.
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan 25% karena jumlah populasi sebanyak 684 kepala keluarga, remaja (perempuan 154 dan laki-laki 160) maka yang menjadi sampel populasi adalah 171 orang kepala keluarga dan remaja (perempuan 39 dan Laki-laki 40 ) yang ada dikelurahan belawa kecematan belawa kabupaten wajo.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah random sampling (acak). Menurut Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (2004 : 111) dalam buku Metodologi penelitian
“Teknik random sampling adalah teknik pengambilan sampel di mana semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota”.
Tabel II Sampel penelitian
No Objek
Jenis
Laki-Laki Perempuan Jumlah 1 Kepala kel(KK)
di kel. Belawa
171
2 Remaja di kel.
Belawa
40 39 79
Jumlah 250
Sumber data: Kantor Kelurahan Belawa Kecematan Belawa Kabupaten Wajo 2014
F. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang dapat digunakan dalam penelitian ini untuk mempermudah peneliti dalam melaksanakan dan melakukan penelitian secarah terstuktur dan sistematis dalam pengumpulan data dilapangan, yaitu :
1. Catatan observasi
Menurut Nurkancana (1993:35) menyatakan bahwa observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam satu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati (Rahadjo dan Gudnanto 2003:43)
2. Pedoman wawancara /interview
Menurut Bimo Walgito (1938:68) menjelaskan bahwa interview adalah salah satu metode untuk mendapatkan data anak atau orang dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan (face to face relation). (Rahadjo dan Gudnanto 2003:124)
3. Angket/kuesioner
Angket/kuesioner adalah instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan atau pernyataan secara tertulis yang harus dijawab atau diisi oleh responden sesuai dengan petunjuk pengisianya. (Wina Sanjaya 20013:255)
4.Catatan dokumentasi
adalah cara memahami individu melalui upaya mengumpulkan data, mempelajari dan mengalisis laporan tertulis, dan rekaman
audiovisual dari suatu peristiwa yang terdiri atas penjelasan dan pemikiran yang berhubungan dengan keperluan yang dibutuhkan.
(Rahadjo dan Gudnanto 2003:174) G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini ada beberapa teknik pengumpulan data dalam memperoleh data dari responden diantaranya :
1. Penelitian kepustakaan (library research), yaitu penulis mengumpulkan data dengan jalan membaca buku-buku perpustakaan yang ada hubunganya dengan materi skripsi yang akan di bahas dalam penulisan, pengumpulan data kepustakaan tersebut penulis menggunakan antara lain adalah:
a. Kutipan langsung, yaitu penulis mengutip secara langsung dengan cara tidak menambah atau mengurangi redaksi kalimat dari buku-buku yang telah di kutip
b. Kutipan tidak langsung, adalah mengutip buku dari buku bacaan, penulis mengubah redaksinya dengan memberikan pengertian yang dimaksud berupa ikhtisar maupun dalam bentuk ulasan..
2. Penelitian lapangan (field research), yaitu suatu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam mengumpulkan dan melakukan penelitian langsung di lokasi penelitian atau lapangan tentang objek yang akan di teliti untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubunganya dengan masalah yang ada dalam penelitian ini dengan menggunakan metode-metode yang telah dipersiapkan yaitu:
a. Observasi, yaitu menggunakan pengamatan melalui hasil panca indra secarah langsung pada objek yang diobservasi yaitu dengan mengamati secarah langsung keadaan lapangan yang akan di jadikan tempat penelitian dan berkomunikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek peneliti, Dalam hal ini, dengan menggunakan observasi maka peneliti akan mengamati Keadaan kelurahan belawa, masyarakat dan keadaan Remaja.
b. Wawancara/Interview, yaitu dengan melakukan wawancara langsung terhadap subjek yang menjadi objek yang akan di teliti.
c. Angket/kuesioner, yaitu tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
d. Dokumentasi, yaitu mencatat semua data secara langsung dari refrensi yang membahas tentang objek penelitian.
H. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data maka penulis menggunakan metode sebagai berikut
1. Metode induktif yaitu tekhnik analisis data melaui penjelasan yang bersifat khusus kemudian menarik kesimpulan secara umum.
2. Metode deduktif yaitu tekhnik analisis data melalui melaui penjelasan yang bersifat umum.
3. Metode komparatif yaitu menganalisi data dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain kemudian diinterprestasikan untuk mendapatkan suatu kesimpulan.
Setelah data terkumpul dari berbagai sumber, adapun rumus perhitungan presentase yang digunakan adalah salah satu rumus statistik deskriptif sebagai berikut:
Keterangan:
P = Jumlah persentase
F = Jumlah frekuensi banyak responden N = Jumlah keseluruhan responden
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Kelurahan Belawa 1. Batas wilayah kelurahan belawa
Batas wilayah dapat dilihat di Tabel berikut:
Tabel III
No Batas Desa / Kelurahan
1. Sebelah utara Kelurahan macero
2. Sebelah selatan Desa lautang, Desa Limporilau
3. Sebelah timur KecamatanTana Sitolo
4. Sebelah barat Desa Leppangeng
Sumber Data: Kantor Kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo
Dusun Menge yang merupakan salah satu Dusun yang ada di Kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo yang dihuni oleh penduduk sebanyak KK 684, yang umumnya terdiri dari suku Bugis yang memiliki penduduk 100 % beragama Islam yang di terima secara turun-temurun dari nenek moyang mereka
2. Luas wilayah desa/kelurahan menurut penggunaan
Luas wilayah menurut penggunaanya dari tiap- tiap desa / kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV
No Penggunaan Luas (ha)
1. Pemukiman 11.32
2 Tanah 1,132
3 Persawahan(pengairan) 198,00
4 Perkebunan 233,00
5 Tanaman padi sawah 431.00
6 Tanaman Kacang hijau 19
7 Tanaman jagung 707
Jumlah total 1,600.452
Sumber Data: Kantor Kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo
3. Keadaan Alam dan Iklimnya
Wilayah Dusun Menge Kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo termasuk daerah yang beriklim tropis yaitu dengan dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan November sampai bulan April, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai bulan Oktober. Walaupun kedua
musim ini sering datang tidak tepat pada waktunya, namun tak menjadi masalah bagi masyarakat di Kecamatan Belawa khususnya masyarakat di Kelurahan Belawa, mereka tetap menjalankan mata pencahariannya sebagai petani.
4. Orbital Letak Desa/ kelurahan
Tabel V
No Orbitasi dan jarak tempuh Keterangan
1. Jarak dari desa ke ibu kota kecamatan 0,9 km 2. Jarak dari desa ke ibukota kabupaten 47,2 km
3. Jarak ke ibukota propinsi 240 Km
B. Peranan Orang Tua Dalam Pembinaan Akhlak Remaja di kelurahan Belawa Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo
Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membina dan mendidik remaja serta menanamkan nilai-nilai akhlak/budi pekerti, sikap mental yang baik yang ditanamkan sejak kecil kepada remaja sehingga memberikan contoh yang baik dalam bergaul, menghormati orang tua serta tidak membawa remaja ke hal-hal kejahatan atau kehal yang bersifat negatif. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak dalam mengembangkan fitrah beragama remaja. Perilaku remaja tergantung pada pemikiran dan perlakuan orang tua terhadap didikan untuk remaja serta lingkungan. Peran Orang tua dalam mendidik
remaja mempunyai pengaruh besar yaitu tingkah lakunya yang diberikan contoh oleh kedua orang tuanya merupakan peran dalam pembentukan akhlak dan pembinaan kepribadian seorang remaja.
Menurut penuturan pak Tamrin salah seorang dari orang tua remaja menyatakan bahwa:
“Sebagai orang tua peranan dalam pembinaan akhlak terhadap remaja yaitu dengan memberikan pembinaan moral dan keagamaan, memberikan arahan tentang akhlak terpuji yang harus di miliki oleh seorang remaja agar terhindar dari hal-hal yang merusak masa depan remaja serta memberikan pencerahan kepada remaja agar selalu dapat di peringati mengenai penyuluhan obat terlarang, meminum-minuman keras dan merokok. Sebagai orang tua memberikan pendidikan akhlak di dalam keluarga dengan contoh teladan yang baik dari orang tua, dan membatasi waktunya keluar rumah pada malam hari serta senantiasa mendorong ikut dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan kegiatan-kegiatan yang membawanya ke hal-hal yang bersifat positif agar tidak terpengaruh pada lingkungan luar dan pergaulan bebas” (Wawancara 20 juli
“Berilah peringatan (didiklah) keluargamu yang terdekat”
Orang tua dalam hal ini pak Tamrin berharap agar remaja setelah diberikan pembinaan akhlak kepada remaja. Akhlak yang dimaksud di sini adalah ketika remaja di suruh melakukan sesuatu maka remaja harus mendengarkan dan mematuhinya. Untuk memberikan arahan arahan tersebut pak Tamrin menggunakan waktu senggang, sambil bercanda
kepada remaja. remaja juga di nasehati agar tidak terpengaruh pada lingkungan dan bergaul dengan orang-orang luar serta tidak terjerumus kepada perilaku-perilaku kenakalan remaja serta menjalankan sholat.
Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pernyataan remaja tentang Peranan Orang Tua Dalam Pembinaan Akhlak Remaja pada Tabel berikut.
TABEL VI
Distribusi frekuensi Pernyataan remaja mengenai orang tua menyuruh remaja mengucapkan salam ketika hendak memasuki Rumah
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1 Selalu 51 65%
2 Kadang- kadang 28 35%
3 Tidak pernah - -
Jumlah 79 100%
Sumber data: Angket nomor 1 tahun 2015
Berdasarkan Tabel di atas, dapat di lihat 51 remaja atau 65%
menyatakan bahwa orang tua selalu menyuruh remaja mengucapkan salam ketika hendak memasuki rumah, dan 28 remaja atau 35%
menyatakan bahwa orang tua kadang- kadang menyuruh remaja mengucapkan salam ketika hendak memasuki rumah.
TABEL VII
Distribusi frekuensi pernyataan mengenai orang tua menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja di rumah.
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1 Selalu 59 75,%
2 Kadang- kadang 19 24%
3 Tidak pernah 1 1%
Jumlah 79 100%
Sumber data: Angket nomor 2 tahun 2015
Berdasarkan Tabel di atas, dapat di lihat 59 remaja atau 75%
menyatakan bahwa orang tua selalu menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja di rumah, 19 remaja atau 24%
menyatakan bahwa orang tua kadang- kadang menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja di Rumah, dan 1 atau 1% remaja menyatakan orang tua tidak pernah menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja di rumah.
menyatakan bahwa orang tua kadang- kadang menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja di Rumah, dan 1 atau 1% remaja menyatakan orang tua tidak pernah menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari kepada remaja di rumah.